Vol. 6, No. 1, Juni 2025, pp 127-135 https://doi.org/10.36590/jagri.v6i1.1489 http://salnesia.id/index.php/jagri jagri@salnesia.id, e-ISSN: 2746-802X Penerbit: Sarana Ilmu Indonesia (salnesia) ARTIKEL PENGABDIAN Sosialisasi Penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) pada Wanita Usia Subur (WUS) Socialization of the Use of Long-Term Contraceptive Methods (LTCM) in Women of Reproductive Age (WRA) Dahniar1, Arisna Kadir1*, Hasnaeni1 1 Program Studi Kebidanan, STIKes Nani Hasanuddin, Makassar, Indonesia Abstract Long-term contraceptive methods (LTCM) are methods designed to prevent pregnancy over a long period of time. According to WHO (2019), of the 1.9 billion women of childbearing age (15-49 years) in the world, around 1.1 billion require family planning services. There are 406 million modern contraceptive users, consisting of 159 million IUDs, 23 million implants, 74 million injections, and 150 million pills. This activity aimed to increase Women of Reproductive Age (WRA) knowledge about LTCM through socialization. The activity began with the licensing process, preparation of leaflet media containing LTCM information and scheduling of implementation. The activity was carried out at the integrated health post in the Bara-Barayya Health Center working area on June 28, 2024 assisted by a coordinating midwife and cadres with 23 WRA participants. The socialization carried out included pre-tests and post-tests, delivery of material on the types, benefits, risks, and how to use LTCM, as well as interactive discussions and questions and answers to encourage active participation of participants. Evaluation was carried out to measure the increase in knowledge. Before socialization, 18 (78,3%) had good knowledge, 5 (21,7%) had poor knowledge. After socialization, 21 (91,3%) had good knowledge and only 2 (8,7%) had poor knowledge. In conclusion, there was an increase in knowledge after socialization. Continued support and attention are needed so that the use of LTCM P is effective in regulating pregnancy spacing and preventing unwanted pregnancies. WRA are advised to continue to increase their knowledge of contraceptive methods. Keywords: socialization, women, contraceptive Article history: PUBLISHED BY: Sarana Ilmu Indonesia (salnesia) Address: Jl. Dr. Ratulangi No. 75A, Baju Bodoa, Maros Baru, Kab. Maros, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia Submitted 20 Februari 2025 Revised 14 Juni 2025 Accepted 25 Juni 2025 Email: info@salnesia.id, jagri@salnesia.id Phone: +62 85255155883 127 Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. 6, No.1, Juni 2025 Abstrak Metode kontrasepsi jangka panjang merupakan metode yang dirancang mencegah kehamilan dalam jangka waktu yang panjang. Menurut WHO (2019), 1,9 miliar wanita usia subur (15-49 tahun) di dunia, sekitar 1,1 miliar membutuhkan layanan KB. Terdapat 406 juta pengguna kontrasepsi modern, terdiri 159 juta IUD, 23 juta implant, 74 juta suntik, dan 150 juta pil. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan WUS tentang MKJP melalui sosialisasi. Kegiatan diawali proses perizinan, penyusunan media leaflet yang memuat informasi MKJP dan penjadwalan pelaksanaan. Kegiatan dilaksanakan di posyandu wilayah kerja Puskesmas BaraBarayya pada tanggal 28 Juni 2024 dibantu bidan koordinator dan kader dengan jumlah peserta WUS sebanyak 23 orang. Sosialisasi yang dilakukan meliputi pre-test dan post-test, penyampaian materi tentang jenis, manfaat, risiko, dan cara penggunaan MKJP, serta diskusi interaktif dan tanya jawab untuk mendorong partisipasi aktif peserta. Evaluasi dilakukan untuk mengukur peningkatan pengetahuan. Sebelum sosialisasi, sebanyak 18 (78,3%) berpengetahuan baik, 5 (21,7%) berpengetahuan kurang. Setelah sosialisasi, sebanyak 21 (91,3%) berpengetahuan baik dan hanya 2 (8,7%) berpengetahuan kurang. Kesimpulannya, terdapat peningkatan pengetahuan setelah sosialisasi. Diperlukan dukungan dan perhatian yang berkelanjutan agar penggunaan MKJP efektif dalam mengatur jarak kehamilan dan mencegah kehamilan yang tidak diinginkan. WUS disarankan terus meningkatkan pengetahuan tentang metode kontrasepsi. Kata Kunci: sosialisasi, wanita, kontrasepsi *Penulis Korespondensi: Dahniar, email: dahniarniabila@gmail.com This is an open access article under the CC–BY license Highlight: • • Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta terhadap MKJP, dari 78,3% berpengetahuan baik sebelum sosialisasi menjadi 91,3% setelah sosialisasi. Ini menegaskan efektivitas kegiatan edukasi dalam meningkatkan kesadaran dan pengetahuan WUS mengenai jenis, manfaat, dan risiko MKJP. Kegiatan yang melibatkan ceramah, diskusi interaktif, serta dukungan bidan dan kader mampu menciptakan keterlibatan peserta secara aktif. Hal ini menjadi kunci keberhasilan penyuluhan karena memperkuat pemahaman dan motivasi dalam memilih metode kontrasepsi yang efektif dan berkelanjutan. PENDAHULUAN Metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) adalah metode kontrasepsi yang efektif untuk menurunkan angka kelahiran. Metode kontrasepsi jangka panjang merupakan kontrasepsi yang digunakan dalam jangka waktu lebih dari dua tahun, efektif dan efisien tujuan menjarangkan kelahiran lebih dari tiga tahun atau mengakhiri kehamilan pada pasangan yang sudah tidak ingin tambah anak lagi. Jenis metode yang termasuk ke dalam MKJP adalah kontrasepsi mantap pria dan wanita (tubektomi/MOP dan vasektomi/MOW), alat kontrasepsi bawah kulit (AKBK)/implant dan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR)/IUD (Suryanti et al., 2019). 128 Dahniar1 et al. Vol. 6, No. 1, Juni 2025 Menurut WHO (2023) antara 1,1 miliar dari 1,9 miliar wanita subur (usia 15-49) di seluruh dunia tahun 2021 yang membutuhkan, keluarga berencana saat ini adalah pengguna Keluarga Berencana (KB) IUD/AKDR terbaru sebanyak 159 juta akseptor, 23 juta implant/AKBK akseptor, hingga 74 juta suntikan KB akseptor dan hingga 150 juta pil akseptor (Ramadhani et al., 2023). Menurut data di Indonesia akseptor MOW sebanyak 3,46%, MOP sebanyak 0,21%, IUD sebanyak 8,94%, suntik sebanyak 53,34%, implant sebanyak 10,75%, pil sebanyak 18,74%, Kondom sebanyak 2,44%, metode kalender sebanyak 1,43% sehingga persentase Pasangan Usia Subur (WUS) yang menggunakan alat kontrasepsi seperti IUD dan Implan untuk menunda atau mencegah kehamilan di Indonesia tahun 2023 mencapai 55,5% (BPS, 2023). Menurut data dari Provinsi Sulawesi Selatan akseptor KB aktif tahun 2023 yaitu 46,63 persen, akseptor AKDR sebanyak 6,46 persen, MOW 1,71 persen, MOP 0 persen, Kondom 1,63 persen, Implant 20,08 persen, Suntik 49,07 persen, Pil 19,46 persen, metode kalender 0,75 persen (BPS, 2023). Berdasarkan data BPS (2023) yaitu Sensus penduduk 2023 tercatat penduduk Indonesia pada bulan Desember 2023 sebanyak 278,696 juta jiwa. Hasil sensus penduduk 2020 jika dibandingkan dengan sensus penduduk 2010, memperlihatkan penambahan jumlah penduduk sebanyak 32,56 juta jiwa atau rata-rata sebanyak 3,26 juta setiap tahun. Dari tahun 2010 sampai 2020 laju pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1,25% per tahun (Arbatika et al., 2024). Menurut Kemenkes (2021) salah satu faktor berdampak pada peningkatan Angka Kematian Ibu adalah risiko 4 terlalu (terlalu muda melahirkan di bawah usia 21 tahun, terlalu tua melahirkan di atas 35 tahun, terlalu dekat jarak kelahiran kurang dari 3 tahun dan terlalu banyak jumlah anak lebih dari 2 tahun). Persentase ibu meninggal yang melahirkan berusia di bawah 20 tahun dan di atas 35 tahun yaitu 33% dari seluruh kematian ibu, apabila program KB dapat dilaksanakan dengan baik, kemungkinan 33% kematian ibu dapat dicegah melalui penggunaan kontrasepsi (Arbatika et al., 2024). Menurut Batubara (2024) menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan WUS sebelum dan sesudah dilakukan sosialisasi KB MKJP dalam upaya peningkatan pengetahuan WUS tentang KB MKJP. Sedangkan, menurut Andriani dan Laili (2019) menunjukkan bahwa berdasarkan hasil tanya jawab pra penyuluhan, didapatkan bahwa 8 peserta (42,1%) mengerti tentang macam-macam metode kontrasepsi sederhana dan modern, sedangkan pada hasil evaluasi pasca penyuluhan didapatkan 19 peserta (100%) mengerti tentang macam-macam metode kontrasepsi sederhana dan modern. Puskesmas Pattingalloang di Makassar dijadikan lokasi Sosialisasi merupakan pusat layanan Kesehatan yang strategis dan memiliki aksebelitas tinggi bagi WUS di daerah tersebut. Tingkat pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang MKJP masih perlu ditingkatkan sehingga di harapkan kegiatan ini dapat memberikan informasi yang relevan dan bermanfaat. Dengan banyaknya pasangan yang belum sepenuhnya memahami manfaat dan pilihan metode tersebut sehingga adanya program ini yang dilaksanakan setiap bulan menjadi rutinitas pelayanan Kesehatan, diharapkan dapat mengurangi unmet need dan meningkatkan partisipasi dalam program keluarga berencana serta mendukung Kesehatan reproduksi yang lebih baik di komunitas lokal. Kegiatan ini sejalan dengan upaya pemerintah meningkatkan akses dan pemahaman masyarakat mengenai kontrasepsi, mengurangi angka kelahiran yang tidak diinginkan. Dengan meningkatnya pengetahuan dan kesadaran tentang MKJP di harapkan dapat mendorong lebih banyak perempuan memilih metode kontrasepsi yang efektif dan berkelanjutan, sehingga dapat menurunkan angka kesuburan dan 129 Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. 6, No.1, Juni 2025 meningkatkan kualitas Kesehatan reproduksi. Selain itu, kontribusi dalam mencapai target RPJMN yang menekan pentingnya pengendalian populasi dan peningkatan kesehatan ibu dan anak. Dengan sosialisasi WUS tentang manfaat dan pilihan MKJP, program ini berpotensi mengurangi angka kematian ibu dan bayi serta mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) terkait kesehatan dan kesejahteraan, diharapkan dapat tercipta kesadaran kolektif yang lebih baik dalam masyarakat mengenai pentingnya perencanaan keluarga yang akan mendukng pembangunan sosial dan ekonomi yang berkelanjutan. METODE Kegiatan Pengabdian Masyarakat ini dilaksanakan oleh Dosen Program Studi DIII Kebidanan STIKES Nani Hasanuddin bersama tim yang melibatkan mahasiswa Kebidanan. Pelaksanaan kegiatan ini bertempat di Posyandu wilayah kerja Puskesmas Bara-Baraya, Makassar pada tanggal 28 juni 2024, dimulai pukul 09.00 WITA sampai selesai dengan jumlah peserta 23 Wanita Usia Subur (WUS) terdiri dari umur 30 sampai 45 tahun, Pendidikan SD sampai S1 dengan status sudah menikah yang dihadiri oleh Bidan dan kader yang bertugas di wilayah tersebut. Pelaksanaan kegiatan ini dimulai dari tahap perizinan, dilanjutkan dengan penentuan jadwal kegiatan, Bidan coordinator yang akan mendampingi acara pelaksanaan kegiatan beserta kader sekaligus menentukan tempat atau lokasi pelaksanaan. Selanjutnya Tim Dosen Program Studi DIII Kebidanan melakukan pre-test dan post-test masing-masing jumlah soal 20 nomor kepada WUS dengan instrument pre test mengukur pemahaman dan pengetahuan tentang metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) dilanjutkan memberikan sosialisasi atau materi berupa ceramah selama 25 menit, diskusi 50 menit, kemudian hasil evaluasi pasca sosialisasi atau post-tes mengenai tingkat pengetahuan baik dan kurang Wanita Usia Subur (WUS). HASIL DAN PEMBAHASAN Puskesmas Bara-Barayya adalah suatu unit layanan kesehatan yang terletak di wilayah kota makassar tepatnya Jl Abubakar Lambogo No.143, Bara-Baraya, Kec. Makassar, Kota Makassar yang menaungi 6 kelurahan. Letaknya yang berada di wilayah padat penduduk mengharuskan petugas Kesehatan yang bekerja di puskesmas untuk selalu mengoptimalkan pelayanannya kepada masyarakat. Masyarakat harus mengetahui bahwa mengatur jarak kehamilan dan kelahiran anak sangat penting untuk diketahui mengingat risiko angka kematian ibu dan bayi sangat meningkat di Indonesia. Kesadaran wanita usia subur, terutama yang telah menikah, disarankan menggunakan kontrasepsi untuk pengaturan kehamilan. Tabel 1. Distribusi frekuensi sosialisasi penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) pada wanita usia subur (WUS) sebelum diberikan pengetahuan Sebelum Pengetahuan n % Baik 18 78,3 Kurang 5 21,7 Total 23 100 Sumber: Data primer, 2024 130 Dahniar1 et al. Vol. 6, No. 1, Juni 2025 Berdasarkan Tabel 1 diketahui bahwa sosialisasi penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) pada wanita usia subur (WUS) sebelum diberikan pengetahuan baik sebanyak 18 (78,3%) dan memiliki pengetahuan kurang sebanyak 5 (21,7%). Tabel 2. Distribusi frekuensi sosialisasi penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) pada wanita usia subur (WUS) sesudah diberikan pengetahuan Sesudah Pengetahuan n % Baik 21 91,3 Kurang 2 8,7 Total 23 100 Sumber: Data primer, 2024 Berdasarkan Tabel 2 diketahui bahwa sosialisasi penggunaan MKJP pada WUS sesudah diberikan menunjukkan pengetahuan yang baik sebanyak 21 (91,3%) dan memiliki pengetahuan kurang sebanyak 2 (8,7%). Tabel 1 dan 2 menunjukkan bahwa sebelum dan sesudah pemberian sosialisasi tersebut menunjukkan peningkatan persentase pengetahuan. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi berkontribusi positif terhadap pengetahuan peserta mengenai MKJP. Pengetahuan adalah hasil dari tahu, yang menurut orang penginderaan pada objek tertentu. Penemuan saat ini muncul melalui lima indera manusia yaitu penglihatan, pendengaran, bau, rasa dan sentuhan. Sejalan dengan penelitian Jumetan et al. (2022) bahwa mayoritas subjek memiliki tingkat pengetahuan kurang (38%), sedangkan subjek dengan tingkat pengetahuan baik adalah sebanyak 33%. Beberapa penelitian yang bertujuan mengukur pengetahuan tentang penggunaan layanan keluarga berencana di antara wanita usia subur yang memiliki sedikit pengetahuan tentang akses pelayanan kontrasepsi ditingkatkan melalui pemberian edukasi agar terhindar dari kehamilan yang tidak diinginkan (Mandira et al., 2020; Kusumasari et al., 2022). Sosialisasi penggunaan MKJP pada WUS sangat penting untuk meningkatkan pemahaman dan penerimaan terhadap metode ini. Pendekatan yang digunakan terbukti efektif dalam menurunkan angka kelahiran dan memberikan perlindungan jangka panjang terhadap risiko kehamilan. Ini melibatkan peran peserta aktif dan dukungan kader bidan yang sangat krusial. Kader bidan berfungsi sebagai penghubung informasi dan motivator, sementara partisipasi peserta aktif meningkatkan keberhasilan program dan pemahaman tentang manfaat MKJP. Gambar 2 menunjukkan pemaparan materi MJKP. Tantangan pelaksanaan seperti keterbatasan waktu WUS yang memiliki kesibukan sehari-hari sehingga sulit untuk menghadiri sesi sosialisasi. Sehingga hal ini dapat mengurangi jumlah peserta yang hadir dan menghambat penyebaran informasi yang efektif. Respon peserta yang kadang menunjukkan bervariasi terhadap informasi yang di sampaikan. Beberapa orang mungkin merasa ragu atau skeptis terhadap efektifitas MKJP yang dapat menghambat penerapan metode MKJP. Keterbatasan alat ukur dan metode evaluasi dapat menjadi kendala. Tanpa data yang akurat, sulit untuk menilai dampak dari program sosialisasi dan melakukan perbaikan yang diperlukan. Layanan KB dan Kespro mencapai hasil maksimal jika WUS memiliki pengetahuan yang cukup tentang keluarga berencana, tetapi jika mereka memiliki pengetahuan rendah tentang penggunaan kontrasepsi modern akan berdampak pada alat kontrasepsi. Penggunaan kontrasepsi adalah salah satu upaya untuk mengendalikan 131 Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. 6, No.1, Juni 2025 tingkat kelahiran dan untuk menekang pertumbuhan populasi yang paling efektif. Implementasinya dikejar untuk memberikan manfaat terbaik dari semua metode kontrasepsi yang tersedia dan ditawarkan kepada masyarakat dengan meminimalkan efek samping dan gejala. Kontrasepsi dapat dibagi menjadi dua jenis antara lain MKJP dan metode kontrasepsi jangka pendek/bukan non-MKJP. Mengenai pencegahan kehamilan, alat dan obat-obatan ini memiliki tingkat kemanjuran yang lebih tinggi dari pada non-MKJP (SDKI, 2018). Indikator meliputi delapan alat modern/metode kontrasepsi antara lain: kondom, pil, suntikan KB, implan/AKBK, IUD/AKBK, MOP, MOW, dan MAL (metode amenoire laktasi) (Dumilah dan Aryani, 2023). Gambar 1. Pemaparan materi sosialisasi penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) pada wanita usia subur (WUS) Kegiatan pendidikan kesehatan ini diharapkan wanita usia subur mendapatkan informasi mengenai alat kontrasepsi sehingga dapat mencegah angka kehamilan yang tidak direncanakan (Sari et al., 2024). Menurut penelitian meningkatkan promosi mengenai alat kontrasepsi MKJP dan bekerja sama dengan pihak terkait, seperti Adab keluarga berencana dan Pemberdayaan Perempuan Kota Langsa dan tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat untuk meningkatkan cakupan MKJP (Yulizar et al., 2022). Gambar 2. Wanita usia subur (WUS) beserta bidan, kader, dosen dan mahasiswa Kebidanan Penyuluhan terkait penggunaan MKJP dapat meningkatkan kesadaran dan minat 132 Dahniar1 et al. Vol. 6, No. 1, Juni 2025 para wanita usia subur untuk memilih menggunakan metode kontrasepsi jangka panjang serta memahami banyaknya manfaat dari penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang tersebut (Anggriani et al., 2024). Hal ini sejalan dengan pengabdian masyarakat kami bahwa MKJP memiliki banyak faktor seperti umur, pendidikan, biaya, dukungan suami sehingga kesadaran wanita usia subur untuk menggunakan MKJP perlu dukungan dan minat yang kuat agar dapat mengatur jarak kehamilan dan mencegah kehamilan dini. Menurut Anggraeni et al. (2024) penggunaan MKJP dapat meningkatkan kesadaran dan minat para wanita usia subur untuk memilih menggunakan metode kontrasepsi jangka panjang serta memahami banyaknya manfaat dari penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang tersebut. Hasil penelitian Kaafi dan Nuwahyuni (2021) menunjukkan bahwa subjek berumur lebih tua, yang bekerja, memiliki jaminan kesehatan, jumlah anak lebih banyak, pendidikan kepala keluarga, pekerjaan kepala keluarga, dan yang bertempat tinggal di pedesaan memiliki peluang lebih tinggi dalam penggunaan MKJP. Simanjuntak dan Hasibuan (2024) menunjukkan ada hubungan antara umur, pendidikan, pengetahuan, sikap ibu, status pekerjaan, sumber informasi, dan dukungan suami, serta peran petugas kesehatan dengan penggunaan MKJP di wilayah kerja Puskesmas Glugur Kota Medan. Suryanti (2019) menyatakan bahwa faktor yang berhubungan dengan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang wanita usia subur yaitu pengetahuan, umur, dan partisipasi suami. KESIMPULAN Sebelum di berikan sosialisasi penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) pada wanita usia subur (WUS) pengetahuan peserta masih kurang 5 (21,7%) dan sesudah di berikan persentase pengetahuan peserta baik meningkat 21 (91,3%). Peningkatan ini menunjukkan pentingnya sosialisasi dalam memberikan informasai yang tepat dan relevan mengenai MKJP. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, membantu pengaturan jarak kehamilan, dan mencegah kehamilan yang tidak direncanakan. Dengan pengetahuan yang lebih baik WUS dapat membuat keputusan yang lebih berbasis informasi dan bertanggungjawab terkait tentang kesehatan reproduksi wanita. Kegiatan ini dapat direplikasi di wilayah kerja puskesmas lain untuk mendukung peningkatan cakupan MKJP. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terimakasih tak terhingga kepada Puskesmas Bara-Barayya beserta Koordinator bidan, tim bidan dan kader yang telah memfasilitasi kami pada pelaksanaan kegiatan ini sehingga berjalan dengan lancar. DAFTAR PUSTAKA Andriani R.A.D., Laili U., 2019. Sosialisasi Metode Kontrasepsi Sederhana dan Modern Pada Wanita Usia Subur. Jurnal Pengabdian Masyarakat Ipteks 5(1), 39-42. https://doi.org/10.32528/pengabdian_iptek.v5i1.2158 Anggriani, Y., Komalasari, K., Isnaini, M.I., Agustina, R., Putri, N.A., Umar, M.Y., Ayu, J.D., Wardani, P.K., Karini, E.J.A., 2024. Penyuluhan tentang Penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) pada Wanita Usia Subur. Jurnal Inovasi dan Terapan Pengabdian Masyarakat 4(1), 25-30. 133 Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. 6, No.1, Juni 2025 https://doi.org/10.35721/jitpemas.v4i1.90 Arbatika, A., Suryadi, I., Fahriani, M., 2024. Hubungan Paritas dan Pengetahuan dengan Penggunaan Kontrasepsi Implant di Wilayah Kerja Puskesmas Muara Rupit Kabupaten Musi Rawas Utara. Jurnal Ilmiah Multidisiplin Keilmuan 2(8), 61-70. https://journal.mandiracendikia.com/index.php/mdi/article/view/986 Batubara, K.S.D., 2024. Sosialisasi KB MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka Panjang) Bagi Wus (Wanita Usia Subur) Di Desa Kelong Kecamatan Bintan Pesisir Kabupaten Bintan Tahun 2022. Jurnal Pengabdian Masyarakat Anugerah Bintan (JPMAB), 5(1), 21-28. https://ejurnal.anugerahbintan.ac.id/index.php/JPMAB/article/view/393 (BPS) Badan Pusat Statistik., 2023. Profil Statistik Kesehatan Indonesia. BPS RI, Jakarta. Dumilah, R., Aryani, H.R., 2023. Pemanfaatan Layanan Keluarga Berencana oleh Wanita Usia Subur di Masa Pendemi Covid-19. Indonesia Health Issue 2(2), 121-125. https://inhis.pubmedia.id/index.php/inhis/article/view/49 Jumetan, M.A., Weraman, P., Junias, M., 2022. Determinan Penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) di Wilayah Kerja Puskesmas. Journal of Telenursing 4(1), 215-224. https://journal.ipm2kpe.or.id/index.php/JOTING/article/view/3464 Kaafi, F., Nurwahyuni, A., 2021. Determinan Pemilihan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) pada Wanita Usia Subur di Provinsi Jawa Tengah: Analisis Data Susenas 2018. Jurnal Kajian dan Pengembangan Kesehatan Masyarakat 1(2), 161-172. https://jurnal.umj.ac.id/index.php/AN-NUR/article/view/8637 (Kemenkes) Kementerian Kesehatan., 2021. Profil Kesehatan Inndonesia 2020. Kementerian Kesehatan RI, Jakarta. Kusumasari, R.V., Kurniati, F.D., Suib, S., Riyadi, M.E., 2022. Upaya Menunda Kehamilan di Masa Pandemi Covid 19 melalui Edukasi Keluarga Berencana. Gemakes Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat 2(1), 1-8. Https://Doi.Org/10.36082/Gemakes.V2i1.387 Mandira, T.M., Fitriani, D., Ardi, N.B., Veri, V., Selvia, A., 2020. Edukasi Program Keluarga Berencana pada Wanita Subur Selama Masa Pandemi Covid 19. Jurnal Abdi Masyarakat 1(1), 108-112. https://openjournal.wdh.ac.id/index.php/JAM/article/view/83 Ramadhani, A.R., Nurhayati, N., Suchi, A.S., 2023. Asuhan Kebidanan pada Ny. A Akseptor KB Suntik Depo Medroxyprogesterone Acetate (DMPA) dengan Amenorea. Window of Midwifery Journal 4(2), 152-160. https://garuda.kemdikbud.go.id/documents/detail/4248009 Sari, L.A., Susilawati, E., Hernita, M., 2024. Penyuluhan dan Pemberian Buku Digital Panduan Pelayanan Keluarga Berencana di Masa Covid-19 pada Wanita Usia Subur. Journal of Community Engagement, 5(1), 149-156. Https://Doi.Org/10.47679/Ib.2024664 (SDKI), Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia., 2018. Survei Demografi Dan Kesehatan Indonesia 2017: Kesehatan Reproduksi Remaja. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Jakarta. Simanjuntak, V.A., Hasibuan, R., 2024. Faktor Penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Jurnal Kebidanan Malakbi 5(2), 66-77. https://doi.org/10.33490/b.v5i2.786 Suryanti, Y. (2019). Faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang wanita usia subur. Jambura Journal of Health 134 Dahniar1 et al. Vol. 6, No. 1, Juni 2025 Sciences and Research, 1(1), 20-29. https://doi.org/10.35971/jjhsr.v1i1.1795 Yulizar, Y., Rochadi, R.K., Sembiring, R., Nababan, D., Sitorus, M.E.J., Windra, T., 2022. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Partisipasi PUS dalam Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) di Kecamatan Langsa Timur Tahun 2021. Jurnal Kesehatan Masyarakat 6(1), 113-124. https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/prepotif/article/view/2736 (WHO) Wordl Health Organization. Family planning/contraception methods [Internet]. 2023. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/familyplanning-contraception 135