TELEKONTRAN. VOL. NO. OKTOBER 2020 TELEKONTRAN, VOL. NO. OKTOBER 2020 DOI : 10. 34010/telekontran. p-ISSN : 2303 Ae 2901 e-ISSN : 2654 Ae 7384 Perancangan Sistem Pelaporan Status Perbaikan pada Konveyor dengan Studi Kasus di PT. Pupuk Kujang Design of Reporting System Status of Conveyor Repair with Case Studies at PT. Pupuk Kujang Rezky Candra Nugraha. Yusrila Yeka Kerlooza Program Studi Teknik Elektro. Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Komputer Indonesia Jl. Dipati ukur No 112. Bandung Email: rezkycandra25@gmail. Abstrak Ae Konveyor atau bisa disebut ban berjalan merupakan suatu alat yang banyak digunakan di berbagai macam industri. Umumnya konveyor digunakan sebagai alat pembawa bahan-bahan industri dari titik A menuju titik B untuk dilakukan pengolahan. Pada penelitian ini difokuskan untuk membuat suatu sistem proteksi pada konveyor di industri yang berguna untuk memberikan informasi lokasi terjadinya status perbaikan ban berjalan. Alat ini akan menambah keamanan pada saklar kabel darurat yang sudah ada pada Alat ini berfungsi untuk memberikan tanda atau node lokasi terjadinya status perbaikan pada Alat ini akan mengirimkan suatu sinyal darurat berupa serial addressing, dan sinyal tersebut akan dikirimkan menuju komputer operator supaya operator dapat mengetahui lokasi terjadinya perbaikan Target dari pengujian ini yaitu alat ini dapat digunakan di PT Pupuk Kujang yang memiliki 3 jalur Pada penelitian ini jarak transmisi data dengan menggunakan RS-485 dapat berhasil dilakukan dengan jarak sepanjang 2453m tanpa cacat, ketika melebihi jarak tersebut maka sinyal akan cacat bahkan tidak terkirimkan datanya. Waktu pengiriman data rata-rata dari 3 jalur konveyor sebesar 1047,7ms. Hasil akhir dari penelitian ini yaitu alat ini mampu mengirimkan sinyal lokasi perbaikan apabila digunakan untuk menangani studi kasus konveyor di PT Pupuk Kujang. Kata Kunci : Konveyor. Transmisi Data. RS485. Saklar Kabel Darurat Abstract - A conveyor or conveyor belt is a tool that is widely used in various industries. Generally, conveyors are used as a means of conveying industrial materials from point A to point B for processing. This research is focused on making a conveyor protection system in the industry which is useful for providing information on the location of the repair status of conveyor belts. This tool adds safety to the existing pull cord switches on the conveyor. This tool serves to provide a sign or node where the repair status occurs on the conveyor. This tool will send an emergency signal in the form of serial addressing, and the signal will be sent to the operator's computer so that the operator can find out the location of the conveyor repair. The target of this test is that this tool can be used at PT Pupuk Kujang which has 3 conveyor lines. In this study, the data transmission distance using the RS-485 can be successfully carried out with a distance of 2453m without defects, when it exceeds that distance the signal will be disabled and even the data cannot be transmitted. The average data delivery time from the 3 line conveyors is 1047. 7 ms. The final result of this research is that this tool can send a repair location signal when used to handle case studies of conveyors at PT Pupuk Kujang. Keywords: Conveyor. Data transmission. RS485. Pull Cord Switch PENDAHULUAN Latar Belakang Sistem konveyor merupakan suatu sistem yang sudah sangat banyak digunakan di industri. Sistem konveyor sudah memiliki sistem keamanan dan keselamatan yang canggih namun perlu pengembangan dari sistem tersebut demi menciptakan suatu sistem keselamatan pada konveyor yang lebih baik lagi. Konveyor di industri umumnya memiliki ukuran yang panjang dan digunakan untuk mengirim bahan material produksi dari titik A ke titik B . Konveyor harus memiliki sistem keselamatan dan sistem pengaman TELEKONTRAN. VOL. NO. OKTOBER 2020 yang baik untuk menjamin keselamatan karyawan yang sedang bekerja dan material yang dibawa oleh konveyor tersebut. Pada saat ini sistem konveyor memiliki suatu sistem keselamatan yang bernama pull cord switch. Sistem ini dirasa kurang baik dalam menangani keadaan darurat dikarenakan hanya mematikan catu daya terpusat tanpa mengirimkan informasi lainnya terkait keadaan di konveyor tersebut . Penelitian tentang sistem pelaporan status perbaikan pada ban berjalan perlu dilakukan dikarenakan pada sistem sebelumnya pull cord switch hanya mematikan daya terpusat saja. Perlu dibuat suatu inovasi sistem untuk memberikan informasi terjadinya lokasi sistem error atau keadaan darurat di konveyor tersebut. Lalu sistem tersebut mengirimkan lokasi sinyal darurat dengan menggunakan transmitter sehingga sinyal darurat tersebut dapat dilihat, dipantau, dan dikendalikan dari tempat yang jauh . Dengan memasang alat ini, segmen atau daerah terjadinya status perbaikan dapat terbaca dan dikirimkan menuju operator, sehingga ketika ada perbaikan atau maintenance pada conveyor, pihak operator dapat mengetahui bahwa sedang terjadi perbaikan conveyor pada daerah tersebut dan diharapkan untuk tidak menghidupkan conveyor hingga status perbaikan tersebut telah selesai. Untuk mengirimkan sinyal darurat tersebut yang disesuaikan kondisi di lapangan maka digunakan protokol komunikasi kabel RS-485. Penggunaan kepraktisan yaitu tidak perlu memikirkan jalur kabel . Namun apabila digunakan pada jalur konveyor maka akan mengakibatkan gangguan atau noise, karena akan terganggu oleh medan elektromagnetik dan penghalang yang lainnya. Dengan menggunakan protokol komunikasi kabel RS-485, meskipun melibatkan jalur kabel, memiliki ketangguhan terhadap gangguan elektromagnetik dan penggunaan protokol RS-485 sudah sangat umum digunakan oleh industri untuk melakukan komunikasi antar perangkat. Protokol RS-485 merupakan unit interface yang terbuat dari IC MAX485 dan perangkat sirkuit lainnya. RS-485 biasa digunakan untuk pengiriman dan penerimaan data yang bersifat serial. Sistem komunikasi RS485 menggunakan sistem master-slave terdistribusi jaringan . Protokol ini mampu menangani pengiriman data dengan menggunakan kabel sejauh lebih dari 1200m dan memiliki maksimal perangkat 32 node. Penggunaan protokol RS-485 sudah banyak digunakan untuk mengirimkan data pada sistem di industri . Berdasarkan latar belakang tersebut maka penelitian ini akan membuat suatu sistem pelaporan status perbaikan pada konveyor dengan memanfaatkan arduino dan modul transmitter RS485. Modul tersebut akan disebar di sepanjang jalur konveyor dan dipasang di jarak-jarak tertentu pada Modul ini akan mengirimkan sinyal darurat apabila terjadi penekanan tombol darurat. Lalu akan mengirimkan data serial addressing dari lokasi penekanan tombol menuju server yang akan dimonitor oleh operator. Sehingga apabila terdapat keadaan darurat atau error pada konveyor, maka pihak operator akan mengetahui lokasi error Diharapkan dengan pihak operator mengetahui lokasi terjadinya error dan status perbaikan pada konveyor, operator tidak menghidupkan konveyor sampai status tersebut berubah menjadi siap. State of Art Penelitian Perancangan yang akan dibuat akan menggunakan mikrokontroler arduino sebagai pemrosesan data dan RS-485 sebagai transmitter komunikasi data antar node dengan server. Dengan mikrokontroler arduino sebagai pemrosesan data sudah sangat mampu menangani kondisi di lapangan dan memiliki harga yang relatif terjangkau, arduino juga merupakan open source dan dapat mudah diprogram. Penggunaan protokol RS-485 juga sudah sangat mampu untuk menangani kondisi di lapangan khususnya di PT. Pupuk Kujang dengan transmisi pengiriman data yang mampu mencapai lebih dari 1,2km dan jumlah node hingga 32 perangkat. Adapun penelitian-penelitian sebelumnya tentang transmisi data menggunakan protokol komunikasi lainnya. Penelitian pertama yaitu perancangan transmisi data menggunakan komunikasi nirkabel Wi-Fi dengan menggunakan ponsel pintar. Penelitian ini digunakan untuk bel pemanggil perawat pada rumah sakit. Penggunaan komunikasi nirkabel Wi-Fi dengan menggunakan ponsel pintar memang akan sangat effisien dan ringkas, dan mampu mengirimkan data . Penggunaan ponsel pintar dan Wi-Fi untuk mengirimkan sinyal darurat, sangat kurang baik dikarenakan perangkat tersebut memiliki harga yang mahal dan akan mudah rusak apabila digunakan di industri. TELEKONTRAN. VOL. NO. OKTOBER 2020 Penelitian lain yaitu penggunaan komunikasi GSM dan Internet untuk mengirimkan sinyal Penelitian ini digunakan pada X-IGENT Panic Button kota Bandung. Pada penelitian ini sinyal darurat akan dikirimkan ketika dalam keadaan darurat seperti warga kota mengalami kekerasan atau menjadi korban kejahatan. Aplikasi ini akan mengirimkan sinyal darurat tersebut menuju Bandung Command Center . Pada penelitian ini sistem sudah dapat mengirimkan sinyal darurat dengan baik, akan tetapi pada penggunaannya di industri tentunya sinyal GSM akan banyak mengalami noise dan gangguan. Lalu pada keadaan di industri, konveyor akan ditempatkan di kondisi yang susah penerimaan sinyal GSM. Penggunaan komunikasi nirkabel akan menawarkan kemudahan dan kepraktisan karena tidak perlu memikirkan jalur kabel. Pada penelitian-penelitian sebelumnya, dapat terlihat perbedaan dalam hal kasus yang diambil. penggunaan komunikasi nirkabel sudah sangat bisa digunakan untuk mentransmisikan data serial. Perlu diingat apabila digunakan di industri, komunikasi nirkabel akan mengalami berbagai macam gangguan karena akan terganggu oleh medan-medan elektromagnetik yang ada di mesin industri atau penghalang yang lainnya. Tujuan Tujuan dari penelitian ini yaitu membuat suatu modul pengiriman data serial addressing yang akan digunakan untuk melaporkan status perbaikan ban berjalan di PT. Pupuk Kujang dan kemudian sinyal tersebut akan di kirimkan menuju operator untuk memberitahu operator lokasi status perbaikan ban berjalan tersebut. Modul ini akan disebar di berbagai titik di sepanjang jalur conveyor mengikuti modul pull cord switch yang sudah ada sebelumnya, untuk kemudian digunakan oleh karyawan ketika terdapat kerusakan atau error pada lokasi tersebut. Ketika tombol darurat ditekan oleh karyawan, mikrokontroler akan mengolah data dan akan mengirimkan sinyal darurat tersebut menggunakan protokol RS-485 menuju operator. Sistematika Penulisan Sistematika diorganisasikan sebagai berikut. Pada bagian perancangan perangkat keras dan perangkat lunak pada sistem. Terdapat juga blok diagram dan flowchart dari sistem keseluruhan modul transmisi RS-485. Pada bagian hasil akhir akan berisikan persentase keberhasilan transmisi berdasarkan jarak dengan menggunakan pemodelan hambatan dan waktu latensi pengiriman data serial dari masing-masing node menuju server. Bagian kesimpulan akan membahas kesimpulan dan saran II. METODOLOGI Penelitian ini akan merancang suatu modul yang isinya terdapat mikrokontroler arduino dan transmitter RS-485. Terdapat 7 buah modul komunikasi yang digunakan untuk mengirimkan sinyal darurat. Masing-masing modul memiliki alamatnya sendiri sehingga pada saat sinyal darurat ditampilkan di HMI operator maka alamat tersebut tidak akan tertukar atau salah alamat. Di Gambar 1 terdapat blok diagram keseluruhan sistem. terdapat modul node dan modul slave atau Modul node tersebut digunakan untuk mengirimkan sinyal darurat di masing-masing lokasi conveyor yang sudah ditentukan dan modul slave digunakan sebagai server untuk menerima sinyal darurat dari node dan kemudian diolah menjadi tampilan di layar. Untuk pengiriman data digunakan protokol RS-485 yang saling terhubung antara satu dengan yang lainnya secara serial. Komunikasi antara node dengan dengan slave pada penelitian ini akan menggunakan metode komunikasi half duplex atau komunikasi data dua arah bergantian. Pada metode ini komunikasi saling bergantian menunggu gilirannya dan tidak bisa digunakan secara bersamaan . Dalam perancangan sistem agar sistem dapat bekerja dengan baik dan benar dibutuhkan beberapa elektronika dan komponen penunjang. Agar pembacaan mudah dipahami maka terdapat diagram alir kerja sistem, yang terdapat di Gambar Pada diagram alir ini dijelaskan cara kerja sistem mulai dari penekanan tombol darurat untuk memberikan masukan sinyal darurat dari mikrokontroler node. Kemudian setelah sinyal darurat diproses oleh mikrokontroler node, sinyal tersebut akan dikirimkan menuju server melewati jalur kabel yang sudah disediakan. Jalur kabel tersebut tentunya akan melewati node-node Akan tetapi masing-masing node sudah memiliki pengalamatannya sendiri, sehingga ketika ada node yang mengirimkan serial addressing, node yang lain akan mengabaikan sinyal tersebut. Setelah sinyal darurat dari node tersebut diterima oleh arduino slave yang bertindak TELEKONTRAN. VOL. NO. OKTOBER 2020 sebagai server, sinyal tersebut akan diolah menjadi indikator darurat yang akan menyalakan lampu dan Terdapat juga indikator HMI atau human machine interface yang berfungsi untuk mengawasi, mengontrol, dan memberikan informasi visual koordinat lokasi penekanan tombol . Setelah sinyal sudah terkirim menuju server, maka server akan mengirimkan balasan sinyal menuju node yang menirimkan sinyal darurat, yang fungsinya untuk menginformasikan bahwa sinyal sudah terkirim dengan baik. Pada sistem ini seperti seperti komunikasi yang baik maka apabila salah satu node sedang mengirimkan sinyal darurat, maka node yang lain tidak boleh mengirimkan sinyal darurat karena akan mendapatkan gangguan, dan menyebabkan arduino node tidak dapat mengirimkan data serial dengan baik dan benar. Untuk transmisi data dengan variansi jarak yang terdapat pada masing-masing jalur conveyor, digunakan metode hambatan kabel. Penggunaan metode hambatan kabel disini yaitu dengan menggunakan resistor potensiometer sebagai alat bantu metode untuk hambatan berdasarkan jarak. Digunakan potensiometer memiliki variasi tahanan yang beragam dan sangat cocok digunakan untuk memodelkan hambatan jarak ini. Berikut merupakan rumus dari hambatan kabel yang akan berdasarkan jarak transmisi data. Untuk tahanan jenis pada penelitian ini digunakan kabel tembaga dengan ukuran 0. ycIycuya ycy Gambar 1. Blok Diagram Sistem Dimana : L = Panjang kabel dalam meter R = hambatan dalam ohm A = luas penampang dalam m2 p = Tahanan spesifik atau tahanan jenis dengan satuan Em Dengan menggunakan metode ini maka tidak diperlukan lagi kabel dengan ukuran yang sangat panjang untuk memodelkan jarak di lapangan. Cukup menggunakan potensiometer dan mengatur nilai tahanan pada potensiometer untuk memodelkan kabel dengan variasi jarak. Gambar 2. Diagram Alur Sistem Keseluruhan i. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengujian akan berfokus pada pengujian keberhasilan transmisi data berdasarkan jarak melalui metode hambatan kabel, waktu latensi atau waktu pengiriman data dari node menuju server, dan pengujian pada indikator HMI. Pengujian ini bertujuan untuk melihat kemampuan transmisi data pada protokol RS-485 berdasarkan jarak dan kecepatan transfer data pada protokol RS-485. TELEKONTRAN. VOL. NO. OKTOBER 2020 Pengujian Transmisi Data Berdasarkan Jarak Pengujian transmisi data berdasarkan jarak akan menguji seberapa besar jarak protokol RS-485 dalam mentransmisikan data. Pada pengujian jarak transmisi data, akan digunakan resistor potensiometer untuk memasukkan nilai hambatan yang sudah sebanding dengan hambatan pada panjang transmisi data dan sudah dihitung Adapun tabel pengujian transmisi data berdasarkan jarak terdapat pada Tabel I. Tabel I. Keberhasilan Transmisi Data Berdasarkan Jarak dengan Menggunakan Metode Hambatan Kabel Hambatan Jarak Keberhasila Keberhasila (E) x n Transmisi Percobaan melainkan data dapat terkirim tetapi pada pada percobaan 10x pengiriman data terdapat sinyal loss atau noise yang menyebabkan data tidak terkirim Pada jarak 2710m protokol RS-485 sudah tidak dapat mengirimkan data dengan benar, melainkan data yang cacat dikarenakan sinyal loss dan hambatan jarak terlalu besar. Lalu pada jarak 2721m sampai seterusnya, protokol RS-485 sudah tidak dapat mengirimkan data dikarenakan hambatan jarak sudah terlalu besar dan protokol RS-485 sudah tidak mampu mengirimkan data jika hambatan jaraknya sudah sebesar itu. Untuk perbedaan transmisi data yang berhasil dan tidak berhasil atau terdapat cacat dan noise terdapat di Gambar 3. Gambar 3. Transmisi Berhasil, . Transmisi Cacat Pada percobaan kali ini pengujian transmisi data dilakukan sebanyak 10x percobaan. Untuk mencari nilai persentase keberhasilan transmisi maka digunakan rumus sebagai berikut Di Gambar 3 terdapat perbedaan antara transmisi yang berhasil dikirimkan dan transmisi yang cacat. Pada pengujian ini digunakan arduino node dengan serial addressing P1. Apabila transmisi berhasil maka read address pada server akan menampilkan serial P1-1 untuk sinyal on dan P1-0 untuk sinyal off. Adapun pengujian alatnya, untuk pengujian alat terdapat di Gambar 4. ycEycyceycyceycuycycaycyce ycoyceycayceycEaycaycycnyco = yayceycayceycEaycaycycnycoycaycu ycNycycaycuycycnycoycnycycn yaycycoycoycaEa ycOycycn yaycuycayca X 100% Sebagai contoh. Pada pengujian no 2 dengan menggunakan rumus persentase keberhasilan transmisi maka akan didapatkan nilai X 100% = 100% ycEycyceycyceycuycycaycyce yayceycayceycEaycaycycnycoycaycu = Pada Tabel I dapat dilihat bahwa pada jarak transmisi data sejauh 0m Ae 2453m transmisi data terkirim 100% tanpa cacat. Lalu pada jarak 2640m Ae 2686m pengiriman data tidak bisa terkirim 100% benar dikarenakan pada rentang jarak ini RS-485 sudah tidak dapat mengirimkan data 100% benar. Gambar 4. Pengujian Jarak Menggunakan Hambatan Kabel Pada pengujian di Gambar 4 digunakan 2 buah arduino, 2 buah RS-485, 2 buah potensiometer, dan 1 buah tombol tekan. Terdapat 2 buah arduino dan 2 buah RS-485 yang berfungsi sebagai arduino node dan arduino server. Lalu terdapat 2 buah potensiometer yang berfungsi sebagai tahanan TELEKONTRAN. VOL. NO. OKTOBER 2020 untuk jalur kabel A dan kabel B. Tombol tekan berfungsi sebagai input sinyal darurat yang terdapat pada arduino node. Ketika sinyal darurat yang diinputkan dengan menekan tombol tersebut, arduino node akan mengirimkan serial addressing menuju server dengan media kabel dan melewati pemodelan jarak dari kabel. Pengujian Waktu Latensi Transmisi Data Pengujian waktu latensi diperlukan untuk mengukur kecepatan transmisi data antara master dengan node. Pengujian waktu latensi ini memiliki perbedaan jarak antara node 1 dengan node Untuk pengujian waktu latensi arduino node menuju arduino server menggunakan jarak yang sudah ditentukan sebelumnya berdasarkan data di lapangan. Untuk data pengujian waktu latensi terdapat pada Tabel II. ycOycaycoycyc yaycaycyceycuycycn = ycOycaycoycyc ycNyceycycnycoyca Oe ycOycaycoycyc yaycnycycnyco . = 10083903 Oe 10082857 = 1046 ycoyc Tabel II. Pengujian Waktu Latensi Node Jarak Node Server . Waktu Latensi RataRata . Keberhasilan Transmisi Pengujian transmisi data tersebut memiliki variasi jarak berdasarkan kondisi di lapangan yang ada pada PT. Pupuk Kujang. Pada pengujian kali ini dilakukan 10x pengujian. Untuk kode serial addressing AuSAy, digunakan pada line 1 conveyor yang terdapat 2 buah arduino node untuk mengirimkan sinyal darurat. Untuk kode serial addressing AuRAy, digunakan untuk line 2 conveyor yang terdapat 4 buah node. Untuk kode serial addressing AuPAy, digunakan untuk line 3 conveyor yang terdapat 3 buah node. Adapun pengukuran waktu latensi menggunakan software LabView yang terdapat di Gambar 5. Untuk pengujian waktu latensi dari node menuju server dengan mengambil contoh pengujian dari node P1, menggunakan rumus sebagai berikut. Gambar 5. Pengujian Waktu Latensi Pada pengujian waktu latensi untuk node P1 menghasilkan waktu transfer data sebesar 1046ms. Untuk pengujian node lainnya sama seperti pengujian node pada P1, hanya berbeda-beda waktu terima dan waktu kirimnya dan menyebabkan hasil pengujiannya akan berbedabeda. Berdasarkan hasil dari penelitian lain yang menyebutkan bahwa dengan mengirimkan data dari master menuju beberapa slave dapat dilakukan dengan protokol RS-485 ini. Penelitian ini melakukan percobaan dengan 4 way handshake transmisi data dan data tersebut dapat dikirimkan dengan baik menggunakan protokol RS-485 . Pengujian Indikator Pada HMI Pada pengujian kali ini akan menguji indikator HMI apabila arduino server sudah menerima data indikator darurat. Pengujian ini menguji sistem pada komputer server dan menguji keaktifan indikator darurat pada HMI apabila terdapat indikator darurat yang terdeteksi pada server. Pada pengujian kali ini akan menguji seluruh node untuk mengirimkan sinyal darurat menuju server. Pengujian ini akan menguji sebanyak 6 arduino node sebagai pemrosesan dan masukan sinyal darurat dan satu buah arduino server sebagai receiver atau penerima sinyal darurat yang dikirimkan oleh arduino node. Cara pengujian pada indikator HMI yaitu dengan cara menekan tombol yang ada pada arduino node lalu penekanan tombol tersebut akan diproses oleh arduino node sebagai sinyal darurat. Arduino node akan mengirimkan sinyal tersebut menuju arduino server melalui protokol komunikasi RS-485. Setelah arduino server menerima masukan sinyal darurat berupa serial addressing, lalu akan muncul indikator darurat yang akan ditampilkan di komputer server. TELEKONTRAN. VOL. NO. OKTOBER 2020 Pengujian node per node untuk tampilan HMI terdapat di Gambar 6. Gambar 8. Pengujian Indikator HMI pada Line 2 Conveyor Gambar 6. Pengujian Node per Node untuk Tampilan pada HMI Pada pengujian pertama, dilakukan pengujian transfer data pada line 1 conveyor. Pada pengujian kali ini arduino node dengan serial addressing AuS1Ay akan dikirimkan menuju server. Ketika server menerima serial addressing AuS1Ay maka indikator darurat pada server untuk line 1 node 1 conveyor akan menyala merah. Adapun tampilan indikator HMI line 1 terdapat di Gambar 7. Pada pengujian kedua, dilakukan pengujian transfer data pada line 2 conveyor. Pada pengujian kali ini arduino node dengan serial addressing AuR3Ay akan dikirimkan menuju server. Ketika server menerima serial addressing AuR3Ay maka indikator darurat pada server untuk line 2 node 3 conveyor akan menyala merah. Adapun tampilan indikator HMI line 2 terdapat di Gambar 8. Pada pengujian ketiga, dilakukan pengujian transfer data pada line 3 conveyor. Pada pengujian kali ini arduino node dengan serial addressing AuP1Ay akan dikirimkan menuju server. Ketika server menerima serial addressing AuP1Ay maka indikator darurat pada server untuk line 3 node 1 conveyor akan menyala merah. Adapun tampilan indikator HMI line 3 terdapat di Gambar 9. Gambar 9. Pengujian Indikator HMI pada Line 3 Conveyor Untuk pengujian node lainnya digunakan cara yang sama, hanya saja serial addressingnya berbeda-beda sesuai dengan node masing-masing. Indikator HMI akan menyala apabila serial address sudah didaftarkan terlebih dahulu pada sistem Lalu sinyal tersebut akan diolah menjadi indikator darurat yang akan ditampilkan pada komputer server atau HMI. IV. KESIMPULAN Perancangan sistem pelaporan status perbaikan konveyor sudah dapat bekerja dengan baik. Transmisi data pada protokol RS-485 dapat digunakan sejauh 2453m tanpa cacat dan waktu transmisi data atau waktu latensi dari node menuju server memiliki waktu rata-rata sebesar 1047. dan indikator pada komputer server atau HMI sudah dapat bekerja dengan baik menampilkan indikator darurat pada seluruh jalur konveyor yang DAFTAR PUSTAKA