Proceedings Series on Physical & Formal Sciences. Volume 5 Prosiding Seminar Nasional Fakultas Pertanian dan Perikanan ISSN: 2808-7046 Prevalensi Ketahanan Pangan dan Hubungannya dengan Kejadian Stunting pada Rumah Tangga di Daerah Rawan Pangan Elya Sugianti1. Berliana Devianti Putri2. Henny Hidayanti3. Anas Buanasita4 Bidang Sosial dan Kependudukan. Badan Riset dan Inovasi Daerah Provinsi Jawa Timur. Surabaya Fakultas Vokasi. Universitas Airlangga. Surabaya Jurusan Gizi. Politeknik Kesehatan Surabaya. Surabaya ARTICLE INFO Article history: DOI: 30595/pspfs. Submited: 05 Mei, 2023 Accepted: 21 Mei, 2023 Published: 04 Agustus, 2023 Keywords: Ketahanan Pangan. Rawan Pangan. Stunting. Crosectional ABSTRACT Pandemi Covid-19 telah menyebabkan berbagai krisis beberapa tahun terakhir ini. Tidak hanya krisis kesehatan, tetapi juga krisis ekonomi. Rumah tangga di daerah rawan pangan kemungkinan memiliki dampak yang lebih serius akibat Pandemi Covid-19. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis besaran ketahanan pangan rumah tangga di daerah rawan pangan dan menganalisis hubungannya dengan kejadian stunting. Desain cross sectional digunakan pada penelitian ini. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Probolinggo. Sampang dan Lamongan. Sebanyak 456 rumah tangga terlibat pada penelitian ini. Teknik sampling menggunakan simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara responden dan pengukuran anthropometri. Analisis data dengan distribusi frekuensi dan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 26,3% rumah tangga tahan pangan. Sebanyak 73,7% rumah tangga mengalami berbagai tingkatan rawan pangan, yaitu 37,7% rawan pangan ringan, 26,1% rawan pangan sedang, dan 9,9% rawan pangan berat. Stunting lebih banyak ditemukan pada rumah tangga tahan pangan. Ketahanan pangan tidak berhubungan dengan kejadian stunting pada balita . = 0,. Perlunya kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kemandirian pangan dan edukasi perbaikan pola asuh pada rumah tangga di daerah rawan pangan. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Corresponding Author: Elya Sugianti Badan Riset dan Inovasi Daerah Provinsi Jawa Timur Email: sugiantielya@gmail. PENDAHULUAN Pandemi Covid-19 telah mengakibatkan berbagai krisis baik di Indonesia maupun di negara-negara seluruh dunia. Tidak hanya krisis kesehatan, tetapi juga krisis ekonomi. Sebagai respon terhadap Pandemi Covid-19, beberapa kebijakan diterapkan untuk menekan laju penyebaran virus seperti pemberlakuan jam malam, pembatasan jarak sosial, penutupan pasar, sekolah dan tempat wisata, serta pembatasan perjalanan (Elias & Jambor, 2. Namun, beberapa kebijakan ini menyebabkan dampak negatif seperti peningkatan jumlah kemiskinan (Sumner et al. , 2020. Suryahadi et al. , 2. , hilangnya pekerjaan dan penurunan pendapatan (Hamadani et al. , 2020. Kang et al. , 2021. Kansiime et al. , 2. Rumah tangga miskin, berpendapatan dan berpendidikan rendah serta penggangguran merupakan kelompok terdampak yang paling parah akibat pandemi Covid-19 (Bukari et al. , 2021. Kansiime et al. , 2021. Elias & Jambor, 2. Kelompok rumah tangga ini sangat rentan mengalami kerawanan pangan dan gizi (Bukari et al. , 2021. Kansiime et al. , 2. Dalam jangka panjang, kerawanan pangan pada rumah tangga Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 ISSN: 2808-7046 terutama yang memiliki balita dapat menimbulkan masalah gizi pada balita. Beberapa penelitian menemukan bahwa kerawanan pangan dapat menyebabkan stunting (Mahmudiono et al. , 2018. Agho et al. , 2019. Yang et , 2019. Moradi et al. , 2. Jawa Timur merupakan provinsi di Indonesia yang memiliki 22 kecamatan rawan pangan. Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan dapat memperburuk krisis pada rumah tangga rawan pangan di Jawa Timur. Mengkaji besaran ketahanan pangan dan mengkaitkan dengan masalah gizi stunting penting dilakukan guna merumuskan kebijakan efektif dalam menekan tingginya krisis pangan di daerah rawan pangan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis besaran ketahanan pangan di daerah rawan pangan dan mengkaitkan dengan kejadian stunting. METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan di desa rawan pangan Kabupaten Probolinggo. Sampang, dan Lamongan pada bulan Juli-Agustus 2022. Penelitian berjenis kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Populasi penelitian adalah semua rumah tangga yang memiliki balita usia 6-24 bulan di desa rawan pangan. Adapun sampel penelitian berjumlah 456 rumah tangga yang dipilih secara simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan mewawancarai responden dengan kuesioner terstruktur. Pengukuran panjang badan balita dilakukan dengan menggunakan infantometer board. Variabel usia dikategorikan menjadi tiga, yaitu < 25 tahun, 25-35 tahun, dan > 35 tahun. Pendidikan dikategorikan menjadi dua, yaitu rendah apabila lama sekolah responden O 9 tahun, dan tinggi apabila lama sekolah responden > 9 tahun. Status pekerjaan dibagi menjadi dua kategori, yaitu bekerja dan tidak bekerja. Besar keluarga dikelompokkan menjadi dua, yaitu kecil apabila jumlah anggota keluarga O 4 orang, dan besar apabila jumlah anggota keluarga > 4 orang. Ketahanan pangan dibagi menjadi empat kategori, yaitu tahan pangan, rawan pangan ringan, rawan pangan sedang, dan rawan pangan Status gizi dibagi menjadi dua, yaitu stunting apabila nilai z-score < -2SD, dan normal apabila nilai zscore Ou -2SD. Data dianalisis secara univariat dengan distribusi frekuensi dan bivariat dengan uji chi-square. Penelitian ini sudah mendapat persetujuan dari Komisi Etik Poltekkes Kemenkes Surabaya dengan nomor: EA/1206/KEPK-Poltekkes_Sby/V/2022. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Tabel 1 menunjukkan bahwa responden lebih banyak berusia 25-35 tahun . ,4%). Hampir semua responden berpendidikan rendah . ,3%). Sebagian besar responden tidak bekerja . ,7%). Responden lebih banyak berasal dari keluarga yang memiliki jumlah anggota keluarga kategori besar . ,2%). Variabel Usia saat ini < 25 tahun 25-35 tahun >35 tahun Pendidikan Rendah Tinggi Status pekerjaan Bekerja Tidak bekerja Besar keluarga Kecil (O 4 oran. Besar (> 4 oran. Tabel 1. Karakteristik responden Frekuensi Prevalensi Ketahanan Pangan dan Distribusinya berdasarkan Karakteristik Sosiodemografi Tabel 2 menunjukkan bahwa sebanyak 26,3% rumah tangga tahan pangan dan sebanyak 73,7% rumah tangga mengalami berbagai tingkatan kerawanan pangan. Prevalensi rawan pangan total pada penelitian ini . ,7%) lebih kecil dibandingkan dengan penelitian di Nigeria, 87% (Ibukun & Adebayo, 2. dan Bangladesh, 90% (Das et al. , 2. Namun, lebih besar dibandingkan dengan penelitian di Ghana, 69,04% (Bukari et al. , 2. dan Bangladesh, 69,4% (Hamadani et al. , 2. Kerawanan pangan sedang dan berat sebesar 36% pada penelitian ini. Sejumlah penelitian menemukan prevalensi yang lebih tinggi dibandingkan penelitian ini (Ibukun & Adebayo, 2021. Bukari et al. , 2021. Hamadani et al. , 2020. Elsahoryi et al. , 2020. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 ISSN: 2808-7046 Rahman et al. , 2. Sebaliknya, penelitian di Peru menemukan prevalensi yang lebih rendah daripada temuan penelitian ini (Canari-Casano et al. , 2021. Curi-quinto et al. , 2. Perbedaan prevalensi ini diduga karena perbedaan akses pangan (Benites-zapata et al. , 2. , perbedaan pasokan pangan (Das et al. , 2. , dan perbedaan skala pengambilan data (Aguiar et al. , 2. Rumah tangga rawan pangan lebih banyak pada responden yang berusia 25-35 tahun (Tabel . Sebanding dengan penelitian terdahulu, prevalensi rawan pangan juga lebih banyak ditemukan pada usia 25-34 tahun (Benites-zapata et al. , 2021. Men & Tarasuk, 2021. Lauren et al. , 2. Penelitian yang dilakukan oleh Elsahoryi et al. juga menemukan bahwa responden yang berusia antara 18-30 tahun berisiko lebih tinggi mengalami kerawanan pangan dibandingkan dengan usia di atas 45 tahun. Pada penelitian ini, usia > 35 tahun memiliki prevalensi rawan pangan yang paling rendah dibandingkan dengan kisaran usia lainnya. Beberapa penelitian menemukan kecenderungan penurunan prevalensi seiring dengan peningkatan usia (Benites-zapata et , 2021. Men & Tarasuk, 2021. Kent et al. , 2. Hal ini diduga karena responden yang berusia lebih muda memiliki pendapatan lebih sedikit (Benites-zapata et al. , 2. , memiliki pengalaman lebih sedikit mendapatkan sumberdaya (Shahzad et al. , 2. , dan minim pengalaman dalam menerapkan coping strategies untuk menekan kerawanan pangan (Das et al. , 2. Rumah tangga rawan pangan lebih tinggi pada responden yang berpendidikan rendah (Tabel . Penelitian di Amerika Serikat juga menemukan hasil serupa (Parekh et al. , 2. Pendidikan rendah memiliki peluang terbatas dalam mendapatkan pekerjaan sehingga memiliki pendapatan lebih kecil dan akses pangan tidak memadai (Kundu et al. , 2. , serta rentan terhadap krisis (Giacoman et al. , 2. Responden yang tidak bekerja lebih banyak ditemukan pada rumah tangga rawan pangan (Tabel . Hasil penelitian ini sebanding dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Parekh et al. bahwa peluang rawan pangan lebih tinggi pada responden yang tidak bekerja dibandingkan dengan rekan mereka yang Hal ini diduga karena responden yang tidak bekerja kurang berkontribusi dalam pengadaan makanan sehingga apabila terjadi krisis, rumah tangga yang memiliki pendapatan kecil lebih rentan rawan pangan. Beberapa penelitian menemukan bahwa kerentanan rawan pangan mengalami peningkatan ketika terjadi krisis pada rumah tangga yang memiliki anggota keluarga yang tidak bekerja/ pengangguran (Giacoman, 2021. Men & Tarasuk, 2021. Parekh et al. , 2. Tabel 2 menunjukkan bahwa rawan pangan ditemukan lebih banyak pada keluarga dengan jumlah anggota besar (> 4 oran. Penelitian di Yordania (Elsahoryi et al. , 2. Bangladesh (Kundu et al. , 2. , dan Pakistan (Shahzad et al. , 2. juga menemukan bahwa semakin besar jumlah anggota keluarga, kemungkinan rawan pangan semakin tinggi. Hal ini karena keluarga dengan jumlah anggota banyak memiliki tekanan lebih besar dalam memenuhi kebutuhan pangan dan kebutuhan lainnya untuk semua anggota keluarga (Shahzad et al. Curi-quinto et al. , 2. Oleh karenanya, keluarga dengan ukuran besar lebih rentan rawan pangan. Tabel 2. Distribusi tingkatan ketahanan pangan berdasarkan karakteristik sosiodemografi Variabel Tahan Rawan pangan Rawan pangan Rawan pangan berat Total Usia saat ini < 25 tahun 25-35 tahun >35 tahun Pendidikan Rendah Tinggi Status pekerjaan Bekerja Tidak bekerja Besar keluarga Kecil (O 4 oran. Besar (> 4 oran. Hubungan ketahanan pangan rumah tangga dengan kejadian stunting pada balita Tabel 3 menunjukkan bahwa kejadian stunting lebih tinggi pada rumah tangga tahan pangan. Hal ini diduga karena kompleknya penyebab stunting. Stunting tidak hanya diakibatkan oleh kemiskinan dan keterbatasan akses pangan (Afework et al. , 2. , akan tetapi juga akibat pola asuh yang salah seperti praktek pemberian makan (Bukusuba et al. , 2017. Cruz et al. , 2. dan pencarian perawatan kesehatan. Selain itu. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 ISSN: 2808-7046 stunting juga disebabkan oleh asupan zat-zat gizi mikro yang tidak memadai (Agho et al. , 2. Pada rumah tangga tahan pangan, kemungkinan perhatian yang kurang kepada anak dalam hal pemberian makan dan praktek perilaku kesehatan telah menyebabkan anak mengalami stunting. Kontras dengan penelitian ini, beberapa penelitian terdahulu menemukan bahwa kejadian stunting lebih tinggi pada keluarga rawan pangan (Afework et , 2021. Bukusuba et al. , 2017. Ahamada & Sunguya, 2022. Masrin et al. , 2. Ketahanan pangan tidak berhubungan dengan kejadian stunting pada penelitian ini . =0,. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan di Palestina (Bilbeisi et al. , 2. Namun, bertentangan dengan penelitian di Ethiopia (Afework et al. , 2021. Betebo et al. , 2. Rwanda (Agho et al. , 2. dan Uganda (Bukusuba et al. , 2. Perbedaan hasil penelitian ini diduga karena perbedaan kelompok usia yang menjadi sampel penelitian. Rentang usia balita pada penelitian ini adalah antara 6-24 bulan, sementara kejadian stunting pada usia 24-59 bulan tidak terdeteksi pada penelitian ini. Beberapa penelitian menemukan masih tingginya kejadian stunting pada balita usia di atas 24 bulan (Betebo et al. , 2017. Abeway et al. , 2018. Imam et al. , 2021. Chowdhury et al. , 2. Betebo et al. menemukan bahwa anak-anak kelompok usia 36-47 bulan memiliki peluang stunting 2 kali yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak kelompok usia 6-11 bulan. Sementara penelitian di Ethiopia menemukan peluang stunting 4 kali lebih tinggi pada usia 24-59 bulan dibandingkan usia 6-24 bulan (Abeway et al. , 2. Tabel 3. Hubungan ketahanan pangan dengan kejadian stunting Tingkatan Stunting Normal ketahanan pangan Tahan pangan Rawan pangan ringan Rawan pangan sedang Rawan pangan berat Total p-value 0,122 SIMPULAN Prevalensi tahan pangan pada rumah tangga di daerah rawan pangan sebesar 26,3% dan 73,7% rumah tangga mengalami berbagai tingkat kerawanan pangan. Rumah tangga rawan pangan lebih tinggi pada responden dengan usia 25-35 tahun, berpendidikan rendah, tidak bekerja, dan berasal dari keluarga dengan ukuran besar (> 4 oran. Prevalensi stunting lebih tinggi pada rumah tangga tahan pangan. Ketahanan pangan tidak berhubungan dengan kejadian stunting pada penelitian ini. Perlunya kebijakan pemerintah untuk meningkatkan ketahanan pangan pada rumah tangga di daerah rawan pangan serta mengedukasi ibu balita dengan praktek baik dalam pemberian makan dan perawatan kesehatan. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih ditujukan kepada Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah Provinsi Jawa Timur yang sudah mendukung pelaksanaan penelitian ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan. Dinas Kesehatan. Puskesmas, dan Desa lokasi penelitian serta semua pihak yang sudah mendukung kelancaran pengambilan data di lapangan. DAFTAR PUSTAKA