Persona: Jurnal Psikologi Indonesia Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. ISSN. Website: http://jurnal. untag-sby. id/index. php/persona Volume 6. No. Desember 2017 Volume 6. No. Desember 2017 PERBEDAAN TINGKAT PROKASTINASI PADA MAHASISWA DITINJAU DARI METODOLOGI PEMBELAJARAN Aliffia Ananta Aliffia@untag-sby. Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Abstract Procrastination is a deliberate deliberate postponement and does other unnecessary work. Prokrastinya many experienced by students and influential on learning outcomes so it is important to be studied. This study aims to determine the level of student academic procrastination in terms of learning methods used by lecturers. Learning method in this research is Teacher Centered Learning (TCL) and Student CenteredLlearning (SCL). Subjects in this study as many as 150 students taken by purposive sampling, 75 subjects were students who got TCL method and 75 subjects were students who got SCL method. Data collection is done by using procrastination scale. Procrastination Scale consists of 16 items that have the validity of Ou 0. 03 with reliability of 0. The result of the research shows that there is no difference of academic procrastination between students who get TCL learning method with students who get SCL learning method. Key Words: Procrastination. Teacher Centered Learning. Student Centered Learning Abstrak Prokrastinasi adalah tindakan penundaan yang berulang-ulang secara sengaja dan mengerjakan pekerjaan lain yang tidak diperlukan. Prokrastinya banyak dialami oleh mahasiswa dan berpengaruh terhadap hasil belajar sehingga penting untuk diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat prokrastinasi akademik mahasiswa ditinjau dari metode pembelajaran yang digunakan oleh dosen. metode pembelajaran yang dimaksud dalam penelitian ini adalah Teacher Centered Learning (TCL) dan Student CenteredLlearning (SCL). Subjek dalam penelitian ini sebanyak 150 mahasiswa yang diambil secara purposive sampling, 75 subjek adalah mahasiswa yang mendapat metode TCL dan 75 subjek adalah mahasiswa yang mendapat metode SCL. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan skala prokrastinasi. Skala Prokrastinasi terdiri dari 16 item yang memiliki validitas Ou 0. 03 dengan reliabilitas sebesar 0,805. Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya perbedaan prokrastinasi akademik antara mahasiswa yang memperoleh metode pembelajaran TCL dengan mahasiswa yang memperoleh metode pembelajaran SCL. Kata Kunci: Prokrastinasi. Teacher Centered Learning. Student Centered Learning. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia E-mail Address: jurnalpersona@untag-sby. Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Aliffia Ananta | 25 Aliffia Ananta Volume 6. No. Desember 2017 Pendahuluan Siswa, pelajar ataupun mahasiswa merupakan aset Bangsa yang dapat dikembangkan di kemudian hari untuk membangun sebuah Bangsa dan Negara yang lebih baik. Oleh karena itu dalam mengembangkan para pelajar dan mahasiswa, diperlukan sebuah pembekalan yang nantinya dapat mereka gunakan dimasa yang akan datang, pembekalan tersebut dapat berasal melalui lembaga-lembaga pendidikan baik yang formal maupun informal salah satunya melalui pembelajaran di Perguruan Tinggi. Pembelajaran di Perguruan Tinggi adalah pembelaran pedagogi. Weimer . alam Wright, 2. mengungkapkan dengan bergesernya pengajaran menjadi LearnerCentered akan membawa mahasiswa kepada kesuksesan serta meningkatnya job satisfaction pada dosen yang didukung dengan literatur pedagodi yaitu adanya pengakuan bahwa domain afektif dan kognitif menentukan efektivitas kelas. Di fakultas psikologi Untag Surabaya, kurikulum student centered learning mulai dilaksanakan semenjak tahun 2015. Pada buku panduan penyusunan kurikulum pendidikan tinggi yang diterbitkan oleh Kementrian Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi tahun 2016 tertulis bahwa dalam proses pembelajaran strategi pembelajaran harus dipertimbangkan pada kesesuaian dalam memberikan capaian pembelajaran lulusan. Pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa menjadi prinsip utama, sedangkan prinsip pembelajaran lain akan melengkapi . anduan penyusunan kurikulum pendidikan tinggi, 2. Dapat diketahui bahwa dengan kurikulum ini mahasiswa menjadi pusat pembelajaran. Mahasiswa menjadi tokoh utama dalam proses pembelajaran dan dosen menjadi fasilitator serta motivator. Berbeda dengan kurikulum sebelumnya dimana mahasiswa lebih banyak menerima informasi. Interaksi yang terjadi pada kurikulum student centered learning menitik beratkan pada method of inquiry dan discovery. Mahasiswa juga dituntut untuk menunjukkan kinerja kreatif yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor secara utuh . anduan penyusunan kurikulum pendidikan tinggi, 2. Mahasiswa yang belajar dengan kurikulum student centered learning secara umum lebih dibebaskan untu melakukan berbagai penemuan dan belajar secara mandiri. Salah satu cara yang digunakan untuk merangsang mahasiswa dapat lebih belajar secara mandiri adalah dengan pemberian tugas dalam berbagai bentuk. Pemberian tugas pada dasarnya adalah hal yang umum terjadi pada Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. Page | 76 Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. Volume 6. No. Desember 2017 proses pembelajaran yang dilalui oleh mahasiswa baik yang belajar melalui kurikulum teacher centered learning maupun student centered learning, namun mengingat tujuan dari student centered learning yang menitikberatkan pada proses pembelajaran secara mandiri dan dosen bertindak sebagai fasilitator maka tugas yang diberikan dianggap memiliki beban yang berbeda. Berdasarkan wawancara sederhana yang dilakukan, terdapat mahasiswa yang merasa bahwa kurikulum student centered learning banyak sekali memberikan tugas meskipun mahasiswa mampu menyelesaikan serta mengikuti kurikulum student centered learning dengan sesuai target dan deadline yang telah ditetapkan. Wawancara sederhana yang dilakukan pada mahasiswa yang belajar dengan kurikulum teacher centered learning mengungkapkan bahwa mereka mendengar dari adik tingkat bahwa kurikulum student centered learning memberikan banyak tugas sehingga mereka merasa beruntung tidak mendapat tugas sebanyak mahasiswa dengan kurikulum student centered learning. Dalam penyelesaian tugas-tugas akademik terdapat perilaku penundaan penyelesaian tugas. Penundan penyelesaian tugas terjadi karena berbagai alasan seperti batas waktu penyelesaian masih lama, ada hal lain yang lebih diutamakan meskipun hal tersebut tidak memiliki urgensi, bekerja, dll. Perilaku penundaan disebut dengan Prokrastinasi pada pendidikan disebut prokrastinasi akademik. Menurut Steel, 2007 . alam Nela Regar dan Ide Bagus, 2. Prokastinasi adalah menunda dengan sengaja kegiatan yang diinginkan walaupun individu mengetahui bahwa perilaku penundaannya tersebut menghasilkan dampak buruk untuk masa depannya. Menurut Solomon dan Rothblum, 1984 . alam Nela Regar, 2. , kerugian yang dihasilkan melalui perilaku prokastinasi adalah tugas yang tidak terselesaikan atau terselesaikan namun hasilnya tidak maksimal karena mendekati deadline. Prokrastinasi adalah penundaan penyelesaian tugas, namun prokrastinasi dapat termanifestasi dapam bentuk: kurangnya kecepatan, baik dalam niat maupun perilaku, perbeadaan antara niat dan perilaku, dan lebih memilih persaingan. Berdasarkan uraian sebelumnya, maka peneliti ingin mengetahui tingkat prokrastinasi pada mahasiswa ditinjau dari metodologi pembelajaran. Hal ini dilakukan karena prokrastinasi umum terjadi pada mahasiswa baik yang belajar dengan kurikulum Aliffia Ananta | 77 Aliffia Ananta Volume 6. No. Desember 2017 teacher centered learning maupun pada mahasiswa yang belajar dengan kurikulum student centered learning. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif komparatif. Penelitian komparatif merupakan penelitian yang bersifat membandingkan suatu persamaan atau perbedaan suatu variabel tertentu pada dua kelompok. Dalam penelitian ini peneliti membandingkan prokrastinasi pada kelompok mahasiswa yang belajar dengan menggunakan kurikulum Teacher Center Learning dengan Student Center Learning. Variabel dalam penelitian ini adalah prokrastinasi akademik, sebagai variabel terikat . ependent variabl. dan Metode pembelajaran (Teacher Center Learning dan Student Center Learnin. sebagai variabel bebas (Independent Variabl. Prokrastinasi adalah menunda dengan sengaja kegiatan yang diinginkan walaupun individu mengetahui bahwa perilaku penundaannya tersebut menghasilkan dampak buruk untuk masa depannya. Metode Teacher Center Learning adalah metode pembelajaran dimana dosen mendapatkan porsi lebih banyak untuk mengelolah kelas. Metode Student Center Learning adalah metode pembelajaran yang memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada mahasiswa untuk belajar secara mandiri, dosen hanya bertindak sebagai fasisilator. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Psikologi yang sedang menempuh pembelajaran dengan kurikulum techer center learning dan student center learning, berjumlah 150 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan purposive sampling dengan pertimbangan peneliti ingin memperoleh data mengenai fenomena dari kelompok-kelompok tertentu yaitu kelompok mahasiswa yang yang menempuh pembelajaran dengan kurikulum Techer Center Learning dan Student Center Learning. Kriteria yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah subjek telah menempuh pendidikan minimal 1 tahun sehingga telah beradaptasi dengan kurikulum yang berlaku. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan skala prokrastinasi. Skala prokrastinasi yang diberikan didasarkan pada enam aspek prokastinasi akademik yaitu. keyakinan psikologis mengenai kemampuan, gangguan dalam perhatian, faktor sosial dalam prokrastinasi, kemampuan mengelola waktu, inisiatif personal, dan kemalasan Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. Page | 78 Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. Volume 6. No. Desember 2017 (McCloskey & Scielzo, 2. Skala Prokrastinasi terdiri dari 16 item dengan validitas Ou 03 dan memiliki reliabilitas sebesar 0,805. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji komparasi Independent Sample T Test dengan bantuan program SPSS For Windows. Hasil Hasil analisis data menggunakan uji komparasi Independent Sample T Test untuk mengetahui perbedaan prokrastinasi antara mahasiswa yang belajar dengan metode pembelajaran berbasis kurikulum teacher center learning dengan student center learning diperoleh taraf signifikansi sebesar p=0. >0. Hal ini menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat prokrastinasi pada mahasiswa yang belajar dengan kurikulum teacher center learning dengan student center learning. Rata-rata . prokrastinasi pada mahasiswa yang belajar dengan kurikulum Teacher Center Learning adalah 35,4933 dengan standar deviasi 5,21270 sedangkan ratarata . prokrastinasi pada mahasiswa yang belajar dengan kurikulum Student Senter Learning adalah 33,2667 dengan standar deviasi 5,19182. Kedua kelompok mahasiswa yang menempuh pendidikan dengan kurikulum Teacher Center Learning dan Student Center Learning mengalami prokrastinasi sehingga tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada tingkat prokrastinasi. Pembahasan Mahasiswa yang menempuh pendidikan dengan kurikulum Teacher Center Learning dan Student Center Learning melakukan prokrastinasi selama menempuh Berdasarkan pada teori yang mengungkap enam aspek prokastinasi akademik yaitu. keyakinan psikologis mengenai kemampuan, gangguan dalam perhatian, faktor sosial dalam prokrastinasi, kemampuan mengelola waktu, inisiatif personal, dan kemalasan (McCloskey & Scielzo, 2. tidak dapat dilihat atau dibedakan berdasarkan pada kurikulum yang dilakukan di perguruan tinggi selama mahasiswa menempuh pendidikan. Berdasakan pada pengertian aspek keyakinan psikologis mengenai kemampuan, menunjukkan bahwa mereka yang melakukan prokrastinasi memiliki keyakinan bahwa mereka mampu bekerja dibawah tekanan. Jika tidak terdapat Aliffia Ananta | 79 Aliffia Ananta Volume 6. No. Desember 2017 signifikasi perbedaan mahasiswa yang belajar dengan kurikulum teacher centered learning dan student center learning maka dapat disimpulan mahasiswa dari kedua metode belajar tersebut sama-sama memiliki keyakinan terhadap kemampuan yang Pada aspek gangguan dalam perhatian menunjukkan bahwa mahasiswa dari kedua kurikulum mudah teralihkan perhatiannya serta mengerjakan hal yang lain daripada mengerjakan tugas apa yang seharusnya ia kerjakan. Pada aspek faktor sosial dalam prokrastinasi adalah mahasiswa dari kedua kurikulum lebih banyak meluangkan waktu untuk terjun ke dalam lingkungan sosial. Pada aspek kemampuan mengelola waktu kedua kelompok mahasiswa sama-sama memiliki kekurangan dalam melakukan manajemen waktu. Kedua kelompok sama-sama kurang memiliki dorongan dari dalam diri dalam memulai menyelesaikan pekerjaannya seperti yang terungkap dalam aspek inisiatif personal. Kedua kelompok mahasiswa baik yang belajar dengan kurikulum teacher centered learning dan student centered learning sama-sama memiliki kecenderungan menghindari tugas seperti yang diungkapkan aspek kemalasan. Simpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: . Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara prokrastinasi pada mahasiswa yang belajar dengan kurikulum teacher centered learning dan student centered learning. Rata-rata . prokrastinasi pada mahasiswa yang belajar dengan kurikulum teacher center learning adalah 35,4933 dengan standar deviasi 5,21270 sedangkan rata-rata . prokrastinasi pada mahasiswa yang belajar dengan kurikulum student center learning adalah 33,2667 dengan standar deviasi 5,19182. Berikut merupakan saran bagi peneliti selanjutnnya: . Dalam penelitian ini tidak dibedakan antara jenis kelamin ataupun kegiatan lain yang mereka miliki selain kuliah sehingga diharapkan dalam penelitian selanjutnya dapat dibedakan antara jenis kelamin maupun mahasiswa yang sedang bekerja. Penelitian selanjutnya dapat menambahkan variabel lain selain prokrastinasi sehingga data yang diperoleh menjadi lebih kaya. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. Page | 80 Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. Volume 6. No. Desember 2017 Referensi