https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3a047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. DIALEKTIKA PEMIKIRAN AL-GHAZALI DAN KURIKULUM PAI KONTEMPORER DALAM PENDIDIKAN AKHLAK Alfin Siregar Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan alfinsiregar88@gmail. Ahmad Ryan Htb Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan ryanahmat10@gmail. Article History: Received: Agustus 31 , 2025. Accepted: September 13, 2025. Published: Oktober 18, 2025. Abstract. This study explores Al-GhazaliAos perspective on moral education and its relevance to the contemporary Islamic Religious Education (PAI) curriculum. The main problem addressed is the lack of integration between classical moral values and the modern education system. The purpose of this research is to examine Al-Ghazali's concept of moral education and analyze its alignment with current PAI curriculum The method employed is qualitative descriptive through literature study. Data were collected from Al-Ghazali's works, classical Islamic literature, and recent PAI curriculum The research finds that Al-Ghazali's emphasis on soul development, self-restraint, and habitual good deeds remains highly relevant in shaping studentsAo character today. The contemporary PAI curriculum can enhance its effectiveness by incorporating Al-GhazaliAos ethical-sufistic principles. These findings affirm the significance of preserving Islamic scholarly heritage to address current moral challenges in education Keywords: Abstrak. Penelitian ini membahas pandangan Al-Ghazali tentang pendidikan akhlak serta relevansinya dengan kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) kontemporer. Masalah utama dalam penelitian ini adalah kurangnya integrasi nilai-nilai akhlak klasik ke dalam sistem pendidikan modern. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali konsep pendidikan akhlak menurut Al-Ghazali serta menganalisis kesesuaiannya dengan pendekatan kurikulum PAI masa kini. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan dari karya-karya AlGhazali, literatur keislaman klasik, dan dokumen kurikulum PAI terbaru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep pendidikan akhlak Al-Ghazali, yang menekankan pada pembentukan jiwa, pengendalian nafsu, dan pembiasaan amal baik, memiliki nilai relevansi tinggi dalam membentuk karakter peserta didik di era modern. Kurikulum PAI kontemporer dapat memperkuat efektivitasnya dengan mengintegrasikan prinsipprinsip etika sufistik Al-Ghazali. Temuan ini menegaskan pentingnya pelestarian warisan keilmuan Islam dalam menjawab tantangan moral pendidikan saat ini. Children with Special Needs. Educational Strategies. Inclusive Education. 639 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 Dialektika Pemikiran Al-Ghazali Dan Kurikulum Pai Kontemporer Dalam Pendidikan Akhlak | Alfin Siregar. Ahmad Ryan Htb PENDAHULUAN Pendidikan pembentukan karakter individu yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Dalam konteks ini, pemikiran Imam Al-Ghazali menjadi rujukan utama karena menekankan integrasi antara ilmu duniawi dan spiritual serta pentingnya penerapan nilai-nilai akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Al-Ghazali merumuskan konsep pendidikan akhlak yang mencakup tiga aspek utama, yaitu aspek personal, hubungan sosial, dan aspek spiritual. Pendekatan pembentukan karakter melalui latihan berulang dan pembiasaan (Ike Widyastuti dan Dartim, 2. Penelitian-penelitian dalam sepuluh tahun terakhir menunjukkan bahwa konsep pendidikan akhlak menurut Imam Al-Ghazali masih sangat relevan untuk dikembangkan dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) kontemporer, terutama dalam menghadapi tantangan era digital dan globalisasi yang membawa pengaruh budaya dan teknologi yang kompleks. (Abdul Harits, 2. menekankan pentingnya metode keteladanan dan pembiasaan dalam pendidikan akhlak Al-Ghazali yang sesuai dengan konteks modern, sementara (Nazila Mumtaza Zamhariroh, dkk, 2. menegaskan relevansi pemikiran Al-Ghazali dalam menyeimbangkan aspek intelektual dan spiritual dalam pendidikan Islam kontemporer. Studi-studi kualitatif dan library research lainnya juga menggarisbawahi bahwa integrasi ilmu agama dan duniawi dalam pendidikan akhlak mampu menjadi solusi atas tantangan moral di era modern. Oleh karena itu, kurikulum PAI modern perlu mengadaptasi nilai-nilai akhlak Al-Ghazali agar dapat membentuk individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga berakhlak mulia dan bertanggung jawab sosial dalam menghadapi kompleksitas zaman digital dan 640 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3a047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. Namun, terdapat kekosongan atau kelemahan dalam penerapan konsep pendidikan akhlak menurut Al-Ghazali dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) saat ini, terutama terkait dengan kemampuan adaptasi terhadap perubahan zaman dan kebutuhan pembelajaran yang inovatif, tanpa menghilangkan nilai-nilai dasar dalam Islam. Banyak kurikulum yang belum menyeluruh sesuai dengan ajaran Al-Ghazali, sehingga dibutuhkan kajian yang lebih mendalam dan menyeluruh untuk mengatasi kekurangan tersebut. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengkaji pendidikan akhlak dari sudut pandang Al-Ghazali serta kaitannya dengan kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) masa kini. Fokus penelitian ini adalah pada cara konsep dan metode pendidikan akhlak yang dikemukakan Al-Ghazali dapat diintegrasikan secara efektif ke dalam kurikulum modern, guna membentuk insan kamil yang memiliki akhlak mulia dan keimanan yang kuat. Hipotesis yang diajukan menyatakan bahwa penerapan konsep pendidikan akhlak AlGhazali dalam kurikulum PAI kontemporer berpotensi meningkatkan kualitas pembentukan karakter peserta didik secara menyeluruh dan mampu beradaptasi dengan dinamika zaman. METODOLOGI PENELITIAN Pendekatan penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan . ibrary researc. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengkaji konsep pendidikan akhlak menurut pandangan Imam Al-Ghazali serta menelaah keterkaitannya dengan kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) masa kini. Sumber data primer diperoleh dari kitab Ihya Ulum ad-Din, khususnya pada jilid ketiga dan keempat yang membahas tentang sifat-sifat tercela dan terpuji dalam Sementara itu, data sekunder diambil dari berbagai buku, jurnal ilmiah, dan referensi lain yang relevan dengan pendidikan akhlak dan metode Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi serta telaah pustaka, yang kemudian dianalisis menggunakan pendekatan 641 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 Dialektika Pemikiran Al-Ghazali Dan Kurikulum Pai Kontemporer Dalam Pendidikan Akhlak | Alfin Siregar. Ahmad Ryan Htb deskriptif kualitatif melalui metode analisis isi . ontent analysi. , dengan tujuan untuk mengidentifikasi serta membandingkan pemikiran Al-Ghazali terkait konsep pendidikan akhlak. Penelitian ini juga menelaah faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi penerapan metode pendidikan akhlak, serta menggambarkan langkah-langkah konkret yang diterapkan oleh Al-Ghazali seperti metode ceramah, diskusi, keteladanan, pembiasaan, latihan, dan pendekatan spiritual seperti takhalli, tahalli, dan tajalli. Oleh karena itu, studi ini tidak hanya membahas aspek teoritis, tetapi juga menyajikan prosedur serta model pendidikan akhlak yang berpotensi untuk diintegrasikan ke dalam pengembangan kurikulum PAI kontemporer. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsep pendidikan akhlak menurut Al-Ghazali memiliki relevansi yang kuat dengan kebutuhan pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) kontemporer. Secara kualitatif, analisis terhadap kitab Ihya Ulum ad-Din dan literatur pendukung mengungkapkan bahwa Al-Ghazali menekankan pentingnya pembentukan karakter melalui tiga metode utama, yaitu keteladanan . , pembiasaan . , dan latihan rohani . akhalli, tahalli, dan Metode ini tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotorik, sehingga mampu membentuk individu yang berakhlak mulia secara holistik. Penelitian ini juga membandingkan hasil temuan dengan studi sebelumnya, seperti yang dilakukan oleh (Abdul Harits, 2. dan (Nazila Mumtaza Zamhariroh, dkk, 2. yang menegaskan bahwa pendidikan akhlak Al-Ghazali sangat relevan untuk mengatasi tantangan moral di era digital dan globalisasi. Perbedaan utama terletak pada bagaimana penelitian ini mengintegrasikan konsep-konsep tersebut secara lebih mendalam ke dalam konteks kurikulum PAI modern, dengan menyesuaikan metode pembelajaran agar lebih adaptif dan inovatif tanpa mengabaikan nilai-nilai 642 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3a047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. Tabel 1 di bawah ini menunjukkan hasil penilaian aspek-aspek pendidikan akhlak menurut perspektif Al-Ghazali yang diadaptasi dalam kurikulum PAI kontemporer berdasarkan studi literatur dan analisis isi. Aspek Pendidikan Akhlak Skor Islam Keteladanan (Uswa. Pembiasaan (Muroqoba. Latihan Rohani (Takhalli. Tahalli. Tajall. Integrasi Aspek Kognitif Integrasi Aspek Afektif Integrasi Aspek Psikomotorik Rata-Rata Dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa semua aspek pendidikan akhlak yang dikaji memiliki skor tinggi, menunjukkan tingkat relevansi yang Hal ini menegaskan bahwa penerapan metode pendidikan akhlak Al-Ghazali dalam kurikulum PAI tidak hanya memungkinkan pembelajaran yang komprehensif tetapi juga mampu membentuk karakter peserta didik sesuai tuntutan zaman. Selain itu, hasil penelitian ini memperkuat teori pendidikan karakter yang menekankan pentingnya keseimbangan antara aspek intelektual dan Penambahan latihan rohani yang menjadi ciri khas pendidikan AlGhazali memberikan nilai tambah yang belum banyak diintegrasikan dalam kurikulum PAI saat ini. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan modifikasi kurikulum PAI dengan memasukkan metode-metode pendidikan akhlak Al-Ghazali secara sistematis agar dapat menghasilkan insan kamil yang berakhlak mulia dan mampu menghadapi tantangan globalisasi. Konsep Dasar Pendidikan Akhlak Menurut Al-Ghazali Pendidikan akhlak menurut Imam Al-Ghazali adalah proses pembentukan karakter dan moral yang berlandaskan nilai-nilai Islam secara menyeluruh, meliputi aspek spiritual, intelektual, dan sosial. Dr. Zainal Efendi Hasibuan menekankan bahwa Al-Ghazali memandang 643 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 Dialektika Pemikiran Al-Ghazali Dan Kurikulum Pai Kontemporer Dalam Pendidikan Akhlak | Alfin Siregar. Ahmad Ryan Htb pendidikan akhlak sebagai inti dari pendidikan Islam yang bertujuan mencapai kesucian jiwa melalui tiga tahap utama, yaitu takhalli . embersihan jiwa dari sifat tercel. , tahalli . enghiasan jiwa dengan sifat terpuj. , dan tajalli . anifestasi akhlak mulia dalam tindakan nyat. (Nopita Suriyani Harahap. Sehat Sultoni Dalimunthe dan Zainal Efendi Hasibuan, 2. Al-Ghazali memandang akhlak sebagai inti kepribadian seorang muslim dan menempatkan pendidikan akhlak sebagai usaha sentral dalam membentuk manusia paripurna. Menurut Al-Ghazali, pendidikan akhlak adalah proses menghilangkan kebiasaan buruk yang bertentangan dengan syariat, agar manusia terbiasa dengan akhlak mulia. Ia membagi pendidikan akhlak kepada dua tujuan utama: mendekatkan diri kepada Allah SWT dan berbuat baik kepada sesama manusia dalam bermuamalah (Yoke Suryadarma dan Ahmad Hifdzil Haq, 2. Dalam kerangka Al-Ghazali, pendidikan akhlak terdiri atas beberapa komponen esensial: Pengetahuan tentang mana yang baik dan buruk, yang menjadi landasan moral. Kemampuan untuk mengimplementasikan pengetahuan tersebut dalam tindakan nyata. Kesadaran diri yang kritis terhadap kondisi akhlak sendiri, termasuk kelemahan dan kekuatan jiwa. Kecenderungan hati yang diarahkan untuk memilih kebaikan secara Komponen ini menuntut keterpaduan antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam pembentukan karakter (Najmi Faza, 2. Metode Pembentukan Akhlak Al-Ghazali mengembangkan metode pendidikan akhlak yang bersifat ganda: 644 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3a047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. Metode pembelajaran praktis seperti ceramah, tanya jawab, hafalan, pemberian hadiah dan hukuman, keteladanan, latihan berulang, pembiasaan, dan diskusi. Metode pendidikan rohani yang meliputi tiga tahap utama, yaitu: Takhalli . engosongkan hati dari sifat tercel. Tahalli . emperindah hati dengan sifat terpuj. Tajalli . erangnya hati dengan cahaya ilah. (Abdul Harits, 2. Metode ini menuntut proses mujahadah . erjuangan jiw. dan riyadah . atihan spiritua. yang intensif agar perubahan akhlak dapat terjadi secara mendalam dan permanen (Musyarofah, 2. Metode pendidikan yang digunakan Al-Ghazali meliputi keteladanan . , pembiasaan . , latihan . , serta pengajaran langsung yang terintegrasi dengan nilai-nilai QurAoan dan Hadis (Khalifatul Ulya. Dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) Dr. Zainal menggarisbawahi pentingnya mengadopsi prinsipprinsip pendidikan akhlak Al-Ghazali untuk membentuk peserta didik yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga memiliki ketahanan moral dan spiritual yang kokoh. Hal ini sangat relevan untuk menghadapi tantangan globalisasi dan perkembangan teknologi yang dapat mengancam moral generasi muda. Penelitian yang dilakukan di MIN 1 Yogyakarta menunjukkan bahwa penerapan metode pendidikan akhlak Al-Ghazali, seperti metode keteladanan dan pembiasaan, efektif dalam pembelajaran akidah dan akhlak, serta sejalan dengan kurikulum Merdeka yang mengedepankan pembentukan karakter dan nilai-nilai sosial (Anis Fajar Fitria, dkk, 2. Penelitian yang dilakukan di MIN 1 Yogyakarta menunjukkan bahwa penerapan metode pendidikan akhlak Al-Ghazali, seperti metode keteladanan dan pembiasaan, efektif dalam pembelajaran akidah dan akhlak, serta sejalan dengan kurikulum Merdeka yang mengedepankan pembentukan karakter dan nilai-nilai sosial. Dalam penelitiannya. Zainal 645 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 Dialektika Pemikiran Al-Ghazali Dan Kurikulum Pai Kontemporer Dalam Pendidikan Akhlak | Alfin Siregar. Ahmad Ryan Htb Efendi Hasibuan menganalisis secara mendalam metode pendidikan akhlak yang diajukan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad. Penelitian ini menggunakan metode takhrij teks untuk mengkaji berbagai metode pendidikan akhlak yang meliputi metode nasihat, pembiasaan, dan Zainal Efendi Hasibuan menyimpulkan bahwa kitab tersebut tidak hanya didik dalam pembentukan perilaku baik, tetapi juga sebagai pedoman bagi pendidik dan umat Muslim dalam mendidik jiwa agar lebih mengutamakan kepentingan syariat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Temuan ini memperkuat relevansi metode pendidikan akhlak Al-Ghazali dalam pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) kontemporer, khususnya dalam menanamkan nilai-nilai moral dan spiritual secara sistematis dan berkelanjutan (Nopita Suriyani Harahap. Sehat Sultoni Dalimunthe dan Zainal Efendi Hasibuan, 2. Tujuan utama pendidikan akhlak menurut Al-Ghazali adalah mencapai kesempurnaan insani . l-insan al-kami. yang tercapai dengan menyelaraskan antara aspek jasmani dan rohani. Pendidikan akhlak diarahkan untuk membawa individu mendekat kepada Allah . aqarrub ila Alla. dan membangun hubungan sosial yang harmonis berdasarkan nilainilai keadilan, kasih sayang, dan tanggung jawab. Kesempurnaan ini bukan hanya aspek individu, tetapi juga sosial dan spiritual (Munshorif. Relevansi Pemikiran Al-Ghazali dengan Kurikulum PAI Kontemporer Integrasi Ilmu dan Akhlak Pemikiran Al-Ghazali menegaskan bahwa ilmu tanpa amal adalah tidak sempurna. Kurikulum PAI kontemporer harus menyeimbangkan pengajaran teori agama dengan pengamalan nilai-nilai akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, pembelajaran Aqidah Akhlak tidak hanya mengajarkan konsep, tetapi juga mengintegrasikan praktik sosial dan refleksi diri sehingga peserta didik mampu menerapkan nilai-nilai tersebut secara nyata (Muhammad Ikhsan Ghozali dan Zamroni, 2. 646 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3a047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. Pemikiran Abu Hamid Al-Ghazali . 8-1111 M), seorang ulama besar dalam dunia Islam klasik, tetap relevan dan signifikan dalam menjawab tantangan pendidikan Islam kontemporer. Ia menempatkan pendidikan sebagai sarana untuk pembentukan pribadi yang utuh berilmu dan berakhlak. Dalam karya monumentalnya Ihya Ulum al-Din. Al-Ghazali menyampaikan bahwa ilmu bukanlah tujuan akhir, melainkan alat untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaiki akhlak (Abu Hamid AlGhazali, 2. Dalam konteks kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) masa kini, konsep ini sangat penting. Kurikulum tidak hanya bertujuan mengembangkan aspek kognitif keagamaan seperti hafalan ayat dan hadis, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai moral dan spiritual dalam Pendidikan harus membentuk manusia yang baik, bukan sekadar manusia yang tahu (M. Amin Abdullah, 2. Al-Ghazali menekankan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari prestasi akademik, melainkan juga dari kebersihan hati, keluhuran akhlak, dan kecintaan kepada kebaikan (Alwi Shihab, 2. Pentingnya integrasi ilmu dan akhlak tercermin dalam pembagian ilmu menurut Al-Ghazali menjadi dua kategori: ilmu fardhu Aoain dan ilmu fardhu kifayah. Ilmu fardhu Aoain seperti akidah, ibadah, dan akhlak wajib dikuasai oleh setiap individu Muslim karena menyangkut keselamatan pribadi di dunia dan akhirat. Sedangkan ilmu fardhu kifayah seperti matematika, kedokteran, dan teknologi diperlukan dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat. Konsep ini mengajarkan bahwa ilmu dunia dan akhirat tidak perlu dipisahkan, justru harus bersinergi dalam kerangka tujuan hidup Islami (Mulyadhi Kartanegara, 2. Pandangan Al-Ghazali sangat cocok dengan pendekatan integratif dalam kurikulum PAI saat ini, yang menggabungkan antara pengetahuan agama, ilmu umum, dan nilai-nilai karakter. Ini sejalan dengan visi pendidikan nasional Indonesia yang menekankan penguatan karakter religius, nasionalis, gotong royong, integritas, dan kemandirian melalui 647 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 Dialektika Pemikiran Al-Ghazali Dan Kurikulum Pai Kontemporer Dalam Pendidikan Akhlak | Alfin Siregar. Ahmad Ryan Htb (Kementerian Pendidikan Kebudayaan, 2. Selain itu, pemikiran Al-Ghazali juga mendorong guru untuk berperan sebagai pembimbing spiritual . , bukan sekadar pengajar Guru ideal menurut Al-Ghazali adalah sosok yang mampu menjadi teladan dalam ilmu dan akhlak, serta tulus dalam mendidik peserta didik demi kebaikan akhirat mereka (Syamsul Arifin, 2. Ini memperkuat gagasan bahwa pendidikan Islam harus diarahkan pada pencapaian insan kamil . anusia paripurn. yang berdaya pikir, berdaya cipta, dan berakhlak mulia. KESIMPULAN Kesimpulan Pendidikan Akhlak Perspektif Al-Ghazali dan Relevansinya dengan Kurikulum PAI Kontemporer adalah bahwa pemikiran Al-Ghazali menawarkan model pendidikan akhlak yang holistik dan sangat relevan untuk dijadikan dasar pengembangan kurikulum PAI masa kini. Al-Ghazali menekankan pentingnya keseimbangan antara aspek intelektual, spiritual, dan moral dalam pendidikan, yang bertujuan membentuk individu tidak hanya cerdas secara akademis tetapi juga berakhlak mulia dan berkarakter kuat. Konsep pendidikan akhlak AlGhazali yang meliputi tahapan takhalli . embersihan jiwa dari sifat tercel. , tahalli . enghiasan jiwa dengan sifat terpuj. , dan tajalli . anifestasi akhlak mulia dalam tindakan nyat. dapat diintegrasikan secara sistematis dalam kurikulum PAI kontemporer untuk menjawab tantangan era digital dan Temuan ini memperkuat teori pendidikan karakter yang mengedepankan integrasi ilmu pengetahuan dan iman, serta menegaskan pembentukan jiwa dan perilaku yang berorientasi pada nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, model pendidikan akhlak Al-Ghazali dapat dijadikan dasar pengembangan metode pembelajaran yang partisipatif, berorientasi pada 648 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3a047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. pembiasaan dan keteladanan, serta mampu membentuk peserta didik yang berdaya saing dan beretika dalam konteks modern. REFERENSI