Raden Roro Shinta A, dkk IDENTIFIKASI POSSIBLE SARCOPENIA MELALUI TES CALF CIRCUMFERENCE PADA AKTIVITAS FISIK USIA REMAJA Raden Roro Shinta Arisanti1. Natalia Yuwono2. Erik Jaya Gunawan3. Dharma Sultan4. Adi Putra Wijaya5 Fakultas Kedokteran. Universitas Ciputra. Surabaya CitraLand CBD Boulevard. Made. Kec. Sambikerep. Surabaya. Jawa Timur 60219 Email : shinta. arisanti@ciputra. ABSTRAK Aktivitas fisik merupakan aktivitas gerak yang melibatkan fisik melalui unsur anggota gerak berupa otot, otot kecil maupun otot besar. Sarkopenia merupakan penurunan progresif pada massa dan kekuatan otot, yang biasanya terjadi selama penuaan, adalah sindrom yang secara langsung dipengaruhi oleh aktivitas fisik. Tujuan utama dari tinjauan sistematis dan meta-analisis ini adalah untuk identifikasi possible sarcopenia melalui tes calf circumference pada tingkat aktivitas fisik usia remaja. Penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif. Sampel yang digunakan adalah siswa dari SMA Surabaya Barat dan mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Ciputra, dengan rincian 40 siswa dengan rentang usia antara 1416 tahun dan 67 mahasiswa dengan rentang usia antara 17-23 tahun. Hasil penelitian yang telah diperoleh didapat dari 67 orang mahasiswa, 14 orang pria dengan presentase 21% dikategorikan normal, sedangkan 8 orang pria dengan persentase 12% dikategorikan possible sarcopenia. Dari 67 orang, 27 orang wanita dengan presentase 40% dikategorikan normal, sedangkan 18 orang wanita dengan persentase 27% dikategorikan possible sarcopenia. Sedangkan dari 40 orang siswa, 20 orang pria dengan presentase 50% dikategorikan normal, sedangkan 9 orang pria dengan persentase 23% dikategorikan possible sarcopenia. Dari 40 orang, 6 orang wanita dengan presentase 15% dikategorikan normal, sedangkan 5 orang wanita dengan persentase 13% dikategorikan possible sarcopenia. Dapat disimpulkan ada potensi incidence-rate . ingkat kejadia. pada usia remaja dan tes calf circumference bisa dijadikan acuan sebagai alat ukur seseorang mengalami potensi sarkopenia. Saran bagi individu yang melakukan aktivitas fisik, berilah aktivitas pembebanan pada kegiatan olahraga. Otot akan berkontraksi dan beradaptasi dengan baik sehingga otot akan lebih kuat dan massa otot akan lebih besar. Kata kunci: aktivitas fisik, calf circumference, identifikasi, remaja, sarcopenia ABSTRACT Physical activity is a movement activity that involves the physical through elements of the limbs in the form of muscles, small muscles or large muscles. Sarcopenia is a progressive decrease in muscle mass and strength, which usually occurs during aging, is a syndrome that is directly influenced by physical Calf circumference is a measurement test to see the circumference of the calf. The main objective of this systematic review and meta-analysis was to identify possible sarcopenia through calf circumference testing at the physical activity level of adolescents. This study is a quantitative study. The samples used were students from West Surabaya High School and students from the Ciputra Faculty of Medicine, with details of 40 students with an age range between 14-16 years and 67 students with an age range between 17-23 years. The results of the study that have been obtained were obtained from 67 students, 14 men with a percentage of 21% were categorized as normal, while 8 men with a percentage of 12% were categorized as possible sarcopenia. Of the 67 people, 27 women with a percentage of 40% were categorized as normal, while 18 women with a percentage of 27% were categorized as possible sarcopenia. While of the 40 students, 20 men with a percentage of 50% were categorized as normal, while 9 men with a percentage of 23% were categorized as possible sarcopenia. Of the 40 people, 6 women with a percentage of 15% were categorized as normal, while 5 women with a percentage of 13% were categorized as possible sarcopenia. It can be concluded that there is a potential incidence rate in adolescence and the calf circumference test can be used as a reference as a measuring tool for someone experiencing the potential for sarcopenia. Advice for individuals who do physical activity, give them loading activities in sports activities. The muscles will contract and adapt well so that the muscles will be stronger and the muscle mass will be greater. Keywords: physical activity, calf circumference, identification, adolescents, sarcopenia Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Raden Roro Shinta A, dkk PENDAHULUAN Aktivitas fisik merupakan aktivitas gerak yang melibatkan fisik melalui unsur anggota gerak berupa otot, otot kecil maupun otot besar (Distefano and Goodpaster, 2. Diyakini, aktivitas gerak dapat meningkatkan kondisi kebugaran tubuh seseorang dan kualitas hidup manusia, termasuk menghindari Seiring perkembangan dan banyaknya jenis penyakit tersebut, pentingnya aktivitas fisik tetap teratur yang sangat penting untuk tubuh yang sehat. Secara khusus, aktivitas fisik yang teratur untuk usia dini, remaja, maupun lansia memainkan peran penting dalam menurunkan risiko penyakit jantung koroner, obesitas, diabetes tipe 2, hipertensi, penyakit pembuluh darah perifer, kolesterol tinggi, osteoporosis, osteoartritis, dan penyakit paru obstruktif kronik (Pagano et al. , 2. Meskipun aktivitas mungkin memiliki dampak tidak langsung pada beberapa aspek kesehatan, namun memiliki dampak langsung pada kualitas dan kuantitas otot. Sarkopenia merupakan penurunan progresif pada massa dan kekuatan otot, yang biasanya terjadi selama penuaan, adalah sindrom yang secara langsung dipengaruhi oleh aktivitas fisik . on Haehling et al. , 2. Identifikasi seseorang mengalami sarkopenia, dilihat melalui penilaian massa otot yang telah diagnosis sarkopenia utama. Menurut Evans et al. bahwa indeks massa otot rangka apendikular harus menjadi indikator utama, dan titik batas ditetapkan dua standar deviasi di bawah rata-rata kelompok usia muda atau remaja. Artinya, identifikasi bisa dilakukan sejak usia muda atau remaja. Usia remaja bisa saja terindikasi mengalami pra-sarkopenia meski aktivitas fisik sudah dilakukan secara teratur dan terukur (Kummer et al. , 2. Pengukuran langkah awal dalam penentuan indikasi sarkopenia bisa dilihat mulai dari indeks massa tubuh . e Vries et , 2. Meskipun pengukuran ini selalu dinyatakan dalam istilah relatif . assa otot dalam kilogram dibagi tinggi badan dalam meter kuadrat, menghasilkan kg/m. , banyak nama berbeda telah disarankan, apendikular, indeks massa bebas lemak, indeks massa otot rangka relatif, dan indeks massa otot, dan terkadang massa otot rangka sendiri berfungsi sebagai indikator sarkopenia (Rooks et al. , 2. Computed tomography (CT) dan magnetic resonance imaging (MRI) adalah standar maksimal untuk mengukur massa otot dalam Dual-energy X-ray absorptiometry (DXA) adalah metode alternatif yang biasa digunakan untuk penelitian dan penggunaan klinis. Namun, analisis impedansi biolistrik (BIA) telah ditemukan sebagai alternatif yang relevan (Chen et al. , 2. Pengukuran kekuatan otot dan pengukuran kinerja fisik sebagai metode tambahan untuk mendiagnosis sarkopenia. Penelitian yang dilakukan oleh Chen et al. sebelumnya telah menunjukkan bahwa ketidakaktifan fisik berkontribusi terhadap perkembangan Penelitian lain yaitu yang dilakukan Bernabei et al. telah Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Raden Roro Shinta A, dkk menunjukkan bahwa aktivitas fisik meningkatkan kekuatan otot dan massa otot pada orang dewasa yang lebih tua. Oleh karena itu, hubungan yang kuat telah muncul antara aktivitas fisik dan prevalensi sarkopenia yang lebih rendah. Secara khusus, latihan ketahanan umumnya dianggap sebagai tindakan pencegahan terbaik untuk mencegah sarkopenia. Namun, penelitian di rentang usia remaja dengan aktivitas fisik yang berbeda-beda belum pernah diteliti. Meskipun banyak tinjauan dan meta-analisis telah merangkum efek intervensi individual atau gabungan . isalnya, suplementasi nutris. pada sarkopenia, tinjauan sistematis dan meta-analisis tentang efek aktivitas fisik yang didefinisikan sebagai aktivitas umum yang membutuhkan lebih banyak energi daripada laju metabolisme istirahat . isalnya, berolahraga, berjalan, bekerja sebagainy. pada sarkopenia belum dipublikasikan (Evans et al. , 2. Oleh karena itu, tujuan utama dari tinjauan sistematis dan meta-analisis ini adalah untuk identifikasi possible sarcopenia melalui tes calf circumference pada tingkat aktivitas fisik usia remaja. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode penelitian Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 18-23 Oktober 2024 di Universitas Ciputra Surabaya. Target/Subjek Penelitian Sampel yang digunakan adalah siswa dari SMA Surabaya Barat dan mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Ciputra. Sampel yang digunakan sebanyak 40 siswa dengan rentang usia antara 14-16 tahun dan 67 mahasiswa dengan rentang usia antara 17-23 tahun. Prosedur Pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan kuesioner dalam bentuk google form dan melakukan tes pengukuran sebagai standar pengukuran variabel yang dites. Data. Instrumen. Pengumpulan Data Teknik Pengambilan data kuesioner pada sampel penelitian menggunakan standar IPAQ (International Physical Activity Questionnair. Untuk Sarcopenia, kuesioner yang digunakan adalah standar Sarc-f. Tes pengukuran fisik circumference . ingkar beti. dan tes handgrip . enggunakan alat handgrip Kriteria cc<34 pria. <33cm untuk wanita atau sarc-f >4 ditambah grip strength < 28 pria atau <18 wanita. Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Raden Roro Shinta A, dkk Tabel 2. Hasil analisis data siswa IPAQ SAR- CC Score Handgrip Score Gambar 1. Algoritma prosedur penelitian untuk mengetahui sarkopenia (Chen et al. , 2. Jumlah Mean Nilai Maksimal Nilai Minimal Teknik Analisis Data Hasil data yang diperoleh kemudian dianalisis data menggunakan SPSS IBM. Data yang telah didapat kemudian diambil persentasenya, persentase sampel normal dan persentase sampel yang mengalami kemungkinan sarkopenia. HASIL PENELITIAN PEMBAHASAN DAN Tabel 1. Hasil analisis data mahasiswa IPAQ SAR- CC Score Kategori Hasil analisis data pada Tabel 1. menjelaskan bahwa rata-rata mahasiswa IPAQ-Score sebesar 1297. SARF Score sebesar 1. 6, tes calf circumference sebesar 34 cm dan handgrip rata-rata 23. Jenis Frekuensi Persentase Kelamin Normal Tabel 3. Persentase mahasiswa dengan kategori normal dan possible sarcopenia Handgrip Score Jumlah Mean Nilai Maksimal Nilai Minimal Hasil analisis data pada Tabel 2. menjelaskan bahwa rata-rata mahasiswa IPAQ-Score sebesar 2322. SARF Score sebesar 1. 1, tes calf circumference 1 cm dan handgrip rata-rata Pria Wanita Possible Pria sarcopenia Wanita Gambar 2. Diagram persentase mahasiswa normal dan possible sarcopenia Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Raden Roro Shinta A, dkk Tabel 3 dan Gambar 2 menunjukkan dan menggambarkan persentase pada 67 mahasiswa dengan rentang usia antara 1723 tahun, terdapat perbedaan antara yang normal dengan yang possible sarcopenia. Dari 67 orang, 14 orang pria dengan presentase 21% dikategorikan normal, sedangkan 8 orang pria dengan persentase 12% dikategorikan possible sarcopenia. Dari 67 orang, 27 orang wanita dengan presentase 40% dikategorikan normal, sedangkan 18 orang wanita dengan persentase 27% dikategorikan possible Tabel 4. Persentase siswa dengan kategori normal dan possible sarcopenia Kategori Jenis Frekuensi Persentase Kelamin Normal Pria Wanita Possible Pria sarcopenia Wanita Gambar 3. Diagram persentase siswa normal dan possible sarcopenia Tabel 4 dan Gambar 3 menunjukkan dan menggambarkan persentase pada 40 siswa dengan rentang usia antara 14-16 tahun, terdapat perbedaan antara yang normal dengan yang possible sarcopenia. Dari 40 orang, 20 dikategorikan normal, sedangkan 9 orang pria dengan persentase 23% dikategorikan possible Dari 40 orang, 6 orang wanita dengan presentase 15% dikategorikan normal, sedangkan 5 orang wanita dengan persentase 13% dikategorikan possible sarcopenia. Usia remaja namun beda usia lebih muda juga berdampak pada kriteria possible sarcopenia. Namun, ini juga dipengaruhi dengan aktivitas fisik yang dilakukan oleh sampel dan faktor Tes calf circumference lebih mengutamakan massa otot yang lebih besar, terutama anggota gerak bagian bawah . kstrimitas inferio. sebagai penopang tubuh. Ketidakaktifan fisik merupakan faktor sekunder utama yang memengaruhi penurunan massa dan kekuatan otot (Lobo et al. , 2. Ketidakaktifan fisik yang disebabkan oleh istirahat yang tidak terkontrol menyebabkan beberapa adaptasi otot yang menurun, termasuk pengurangan volume dan kekuatan otot, yang lebih parah pada subjek yang usianya lebih tua daripada yang usia yang lebih muda (Dioh et al. Gangguan ini tidak sepenuhnya pulih pada individu yang usianya lebih tua setelah masa pemulihan 14 hari yang mencakup dukungan nutrisi dan olahraga. Sebaliknya, gaya hidup dengan aktivitas fisik dapat mengurangi sarkopenia dan mencegah penumpukan lemak tubuh serta Aktivitas fisik berupa latihan ketahanan . meningkatkan hipertrofi otot dan meningkatkan kekuatan serta kinerja fisik (McLeish et al. , 2. Ini mencakup perbaikan signifikan atau pencegahan penurunan ukuran otot, kekuatan otot, kualitas otot, dan kinerja Mekanisme perbaikan fungsi otot yang disebabkan oleh Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Raden Roro Shinta A, dkk Latihan ketahanan secara akut meningkatkan sintesis protein otot hingga 72 jam, dan meskipun subjek yang lebih tua memiliki tingkat sintesis protein otot yang lebih rendah dibandingkan dengan individu yang lebih muda, respons proporsional otot terhadap latihan juga serupa (Hymylyinen et , 2. Latihan juga dapat mencegah infiltrasi jaringan adiposa intermuskular yang berkaitan dengan usia dan meningkatkan fungsi saraf dan pembuluh darah pada subjek yang lebih tua . Tingkat peningkatan massa otot dan kekuatan sebagai respons terhadap latihan ketahanan terbukti bervariasi menurut usia Peningkatan massa dan kekuatan otot setelah latihan ketahanan pada individu yang usianya lebih tua menunjukkan bahwa beradaptasi dengan beban mekanis (Snedden et al. , 2. Peningkatan sifat kontraktil serat otot tunggal juga telah diamati pada individu yang lebih tua setelah latihan aerobik dan latihan ketahanan, tetapi peningkatan ini telah terbukti berkurang pada subjek yang usianya lebih tua . on Haehling et al. , 2. Meskipun respons otot terhadap latihan secara umum konsisten, tingkat responsnya sangat bervariasi. Peningkatan respon otot terjadi pada semua jenis kelamin, namun peningkatan massa serta kekuatan otot setelah latihan, relatif lebih besar pria daripada wanita (Evans. Hellerstein, et al. , 2. Meskipun mekanisme respon otot yang menurun terhadap latihan fisik pada usia yang lebih tua, kemungkinan ada beberapa faktor yang berperan, yang memerlukan penyelidikan sistematis yang lebih menyeluruh. KESIMPULAN Dapat disimpulkan ada potensi incidence-rate . ingkat kejadia. pada usia remaja dan tes calf circumference bisa dijadikan acuan sebagai alat ukur seseorang mengalami potensi sarkopenia. Hasil penelitian yang telah diperoleh didapat Dari 67 orang mahasiswa, 14 orang pria dengan presentase 21% dikategorikan normal, sedangkan 8 orang pria dengan persentase 12% dikategorikan possible sarcopenia. Dari 67 orang, 27 orang wanita dengan presentase 40% dikategorikan normal, sedangkan 18 orang wanita dengan persentase 27% dikategorikan possible Sedangkan dari 40 orang siswa, 20 orang pria dengan presentase 50% dikategorikan normal, sedangkan 9 orang pria dengan persentase 23% dikategorikan possible sarcopenia. Dari 40 orang, 6 orang dikategorikan normal, sedangkan 5 orang dikategorikan possible sarcopenia. Data yang diperoleh dari peneliti dapat dijadikan acuan bahwa olahraga yang bersifat ketahanan . dan kekuatan dapat meningkatkan massa otot agar mengurangi resiko sarkopenia. Usia muda atau remaja perlu dikontrol kembali untuk gaya hidup lebih sehat dan perbanyak aktivitas fisik dalam bentuk olahraga. SARAN Rekomendasi bagi individu yang akan melakukan aktivitas fisik, berilah aktivitas pembebanan pada kegiatan Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Raden Roro Shinta A, dkk Otot akan berkontraksi dan beradaptasi dengan baik sehingga otot akan lebih kuat dan massa otot akan lebih besar. UCAPAN TERIMA KASIH Peneliti mengucapkan banyak terima kasih kepada siswa-siswa di SMA Surabaya wilayah barat dan juga mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra Surabaya yang telah banyak membantu sebagai sampel penelitian. Peneliti ucapkan terima kasih kepada teman sejawat yang ada di Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra Surabaya yang telah banyak membantu dalam pembuatan proposal penelitian hingga pembuatan artikel penelitian. DAFTAR PUSTAKA