JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis https://journal. id/index. php/jawamiulkalim/index Salat Isyraq dan Duduk Setelah Salat Subuh: Analisis Hadis tentang Kesahihan dan Praktiknya The Ishraq Prayer and Post-Fajr Sitting: A Hadith-Based Analysis of Authenticity and Practice Arfana. Nur Afni A. a Institut Agam Islam STIBA Makassar. Indonesia. Email: arfan@stiba. b Institut Agam Islam STIBA Makassar. Indonesia. Email: nur. afni@stiba. Abstract This study examines the hadiths concerning remaining seated after the Fajr prayer until sunrise and performing two units of prayer afterward, commonly known as the Ishraq prayer. It focuses on two main issues: the authenticity of the related hadiths and whether the Ishraq prayer constitutes an independent act of worship or is part of the Duha prayer. Employing a qualitative library research method, the study utilizes takhrij and isnad-matan analysis on hadiths collected from the Kutub al-TisAoah and other major hadith sources. The findings indicate that the hadiths regarding remaining seated after Fajr and performing two units of prayer after sunrise are thabit and authentic when considered separately. However, the narrations linking both acts with the specific virtue of earning a reward equivalent to Hajj and AoUmrah remain disputed due to weaknesses in their chains of transmission. Thus, the Ishraq prayer should not be viewed as a distinct form of worship but rather as an early-time Duha prayer. Both practices are authentically established when performed independently, while claims of special merit require cautious scholarly consideration in hadith evaluation. Keywords: ishraq prayer. Duha prayer, sitting after Fajr Abstrak Penelitian ini membahas hadis-hadis tentang duduk setelah salat Subuh hingga terbitnya matahari dan salat dua rakaat setelahnya yang dikenal sebagai salat isyraq. Kajian difokuskan pada dua pokok masalah: validitas hadis-hadis yang menjadi dasar kedua amalan tersebut, serta kedudukan salat isyraq apakah merupakan ibadah tersendiri atau bagian dari salat duha. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka dengan metode takhrij dan analisis sanad-matan terhadap hadis-hadis terkait yang terdapat dalam kutub al-tisAoah dan sumber-sumber hadis lainnya. Hasil kajian menunjukkan bahwa hadis-hadis tentang duduk setelah salat Subuh hingga terbit matahari serta hadis-hadis tentang salat dua rakaat setelah matahari meninggi adalah tsabit dan sahih secara terpisah. Adapun riwayat yang mengaitkan keduanya dalam satu rangkaian dengan keutamaan pahala setara haji dan umrah masih diperselisihkan derajatnya karena sebagian besar sanadnya lemah. Dengan demikian, salat isyraq tidak merupakan ibadah yang berdiri sendiri, melainkan salat duha yang dilaksanakan pada awal waktunya. Kedua amalan tersebut tetap memiliki dasar yang sahih untuk diamalkan secara terpisah, sementara klaim keutamaan khususnya perlu disikapi dengan kehati-hatian ilmiah dalam penilaian hadis. Kata kunci: salat isyraq, salat duha, duduk setelah Subuh Article Info: How to cite: Received: 9 July 2025 Revised: 10 August 2025 Accepted: 1 September 2025 Published: 30 September 2025 Arfan. Nur Afni A. AuSalat Isyraq dan Duduk Setelah Salat Subuh: Analisis Hadis tentang Kesahihan dan PraktiknyaAy. JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis 3. No. : 124-140. doi: 10. 36701/jawamiulkalim. JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 124-140 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. PENDAHULUAN Salah satu amalan yang tersebar di tengah kaum muslimin adalah duduk di tempat salat setelah Subuh hingga matahari terbit, lalu melaksanakan dua rakaat salat yang dikenal sebagai salat isyrAq. Amalan ini dinisbatkan kepada Nabi melalui beberapa riwayat yang menyebutkan keutamaannya, bahkan disetarakan dengan pahala haji dan Namun, ketika ditelusuri secara hadis, muncul perbedaan dalam penilaian derajat hadis-hadis tersebut. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang validitas riwayat, kekuatan sanad dan matan, serta sejauh mana ia dapat dijadikan dasar untuk menetapkan masyriyyah amalan tersebut. Oleh karena itu, perlu dilakukan telaah ilmiah terhadap hadis-hadis tersebut guna menilai tingkat keterpercayaannya dan dampaknya terhadap hukum serta praktik ibadah. Rumusan masalah dalam tulisan ini mencakup dua hal pokok: pertama, bagaimana validitas hadis-hadis yang berkaitan dengan duduk di tempat salat setelah Subuh hingga terbitnya matahari. dan kedua, bagaimana kedudukan hadis tentang salat dua rakaat setelah matahari terbit, serta apakah salat tersebut merupakan ibadah tersendiri yang disyaratkan untuk dirangkaikan dengan duduk sebelumnya, ataukah ia termasuk salat duha yang tidak bergantung pada amalan duduk tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan validitas hadis-hadis yang berkaitan dengan duduk di tempat salat setelah Subuh hingga terbitnya matahari, serta menilai kedudukan hadis tentang salat dua rakaat setelah matahari terbit. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengklarifikasi apakah salat tersebut merupakan ibadah tersendiri yang bergantung pada amalan duduk sebelumnya, ataukah ia termasuk dalam cakupan salat duha yang berdiri sendiri tanpa harus dirangkaikan dengan duduk setelah Subuh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif dan kritis terhadap hadis, baik dari sisi sanad maupun matan. Kajian terhadap sanad dilakukan dengan menelusuri para perawi dalam rantai transmisi, menilai status keadilan dan dhab-nya, serta mengidentifikasi bentuk kelemahan jika ada. Sedangkan kajian matan dilakukan dengan menimbang kesesuaian teks hadis terhadap kaidah-kaidah umum dalam syariat, korelasi antar riwayat, dan keharmonisan dengan realitas amalan Penelitian ini juga menggunakan pendekatan komparatif terhadap pendapat para ulama, baik dalam bidang hadis maupun fikih, guna memperoleh tarjih yang lebih kuat dalam memahami masyrAoiyyah duduk setelah Subuh dan salat isyrAq. Beberapa penelitian sebelumnya telah mengangkat tema salat isyrAq dari berbagai perspektif, seperti skripsi di Masjid al-Muhajirin yang menyoroti pemahaman masyarakat terhadap istilah dan pelaksanaan salat isyrAq secara sosiologis,1 serta tesis di Pesantren Nurul Azhar Sidrap yang meneliti dampak amalan ini terhadap akhlak kedisiplinan 2 Sementara itu, sebuah skripsi juga telah menganalisis kualitas hadis salat isyrAq dan perbedaan pendapat ulama mengenai kesamaan waktu dengan salat duha. 3 Namun. Muhammad Dawam Dzikrulloh Marthafajr. AuPemahaman Terhadap Hadis Shalat Sunnah Syuruq Di Masjid Al-Muhajirin Cisaranten Kulon Arcamanik Bandung: TelaAoah Kualitas Dan Makna HadisAy (UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2. Hendri Noleng. AuPelaksanaan Shalat Sunnat Isyraq Dalam Pembentukan Akhlak Kedisiplinan Santri Di Pondok Pesantren Nurul Azhar SidrapAy (IAIN Parepare, 2. Binto Khalimatuzzahro. AuStudi Terhadap Hadis Salat Isyraq: Analisis Kualitas Dan PemahamanAy (UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, 2. 125 | Arfan. Nur Afni A. Salat Isyraq dan Duduk Setelah Salat Subuh: Analisis Hadis tentang Kesahihan dan Praktiknya JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 124-140 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. seluruh karya tersebut belum secara menyeluruh mengkaji validitas seluruh hadis terkait duduk setelah Subuh dan salat isyrAq, maupun mengaitkannya secara kritis dengan persoalan tarjih, istilah fikih, dan kehati-hatian dalam menjadikan hadis daif sebagai landasan amaliah rutin. Oleh karena itu, artikel ini hadir dengan pendekatan yang lebih komprehensif melalui analisis sanad, matan, serta peta ijtihad ulama klasik dan kontemporer, sekaligus menawarkan pembacaan ilmiah terhadap relasi antara duduk dan salat tersebut dalam rangka menetapkan derajat amaliahnya secara bertanggung jawab. PEMBAHASAN Duduk IsyrAq Istilah duduk isyrAq atau jalsah al-isyrAq tidak ditemukan penjelasan eksplisit mengenai siapa yang pertama kali memperkenalkannya. Tidak terdapat penamaan ini secara langsung dalam kitab-kitab hadis atau atsar dengan susunan istilah tersebut. Kemungkinan besar istilah ini muncul dari praktik para ulama salaf atau hasil ijtihad ulama belakangan dalam menjelaskan kebiasaan duduk setelah salat Subuh hingga terbitnya matahari. Adapun istilah salat isyrAq telah disebutkan secara eksplisit dalam sebuah riwayat dalam al-MuAojam al-Kabr karya al-abarAn dari Ibn AoAbbas, a A { aaEe a a aO OA:aA aaIac a aNa eEOaa AaI ea aO aI aNO Ca eOEaNA s ca aI e aI aA A aac aacae aaI acaIAU}AeE ea aCA a aA CAUAA a eA aEIA:AEA s A Aa aOAUAOE NEEa AEacO NEE EaO aN OEacI E EaO NA s aA a aEA ca A AUAA A Aa aEaacI aIeaUAO a a eAIa sA a AaI a aA a a a a ae a a a a a a a e a a a a eAaNI s aIA 4 a aa a a AuaaE a Ee a aA a aEA AeE eaCA ca A a aOAUAIO Aa aONA a A Aa aCAUAacOA a A aNNAUA aaO acaI aNI sA:AEA a aA aac Ca aI AAUa a AAEacO EA Artinya: Ibn AbbAs berkata: Dahulu aku melewati ayat ini namun tidak mengetahui maksudnya, yaitu firman Allah: Audi waktu sore dan waktu isyrAqAy (Q. Ad: . , hingga Ummi HAn binti Ab Alib menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah pernah masuk ke rumahnya, lalu beliau meminta air wudhu dalam bejana, dan aku melihat bekas adonan masih ada di dalamnya. Lalu beliau berwudhu, kemudian bangkit dan menunaikan salat duha. Setelah itu beliau bersabda. AoWahai Ummu HAn, inilah salat isyrAq. Ao Riwayat ini juga disebutkan dalam Majma al-ZawAid. Al-Haitsami menyebutkan bahwa di dalam sanadnya terdapat ajjAj bin Nar, yang dinilai lemah oleh Ibn al-Madn dan sejumlah ulama, namun dianggap tsiqah oleh Ibn Man dan Ibn ibbAn. Fahd al-AoAmmari dalam AhkAm Jalsah al-IsyrAq berkata. AuSemua hadis yang disebutkan di dalamnya penamaan salat isyrAq datang dari jalur-jalur yang semuanya tidak lepas dari kelemahan. Ibn Hajar merajihkan jalur yang diriwayatkan dari Ibn Abbas, di mana beliau berkata dalam al-Kasysyaf. AoIni hadis mauquf, inilah yang lebih tepat. AoAy6 SulaimAn bin Aumad Abu al-QAsim Al-abarAni. Al-MuAojam Al-Kabr. Cet. II . l-QAhirah: Maktabah Ibn Taimiyyah, 1. , vol. 25, h. Abu al-asan Nr al-Dn AoAli bin Abu Bakr Al-Haiami. MajmaAo Al-ZawAid Wa ManbaAo AlFawAid . l-QAhirah: Maktabah al-Qudsi, 1. , vol. 2, h. Fahd bin YauyA Al-AoAmmAr. Bugyah Al-MusytAq F AukAm Jalsah Al-IsyrAq (DAr Ibn Jauz, ), h. 126 | Arfan. Nur Afni A. Salat Isyraq dan Duduk Setelah Salat Subuh: Analisis Hadis tentang Kesahihan dan Praktiknya JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 124-140 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. Namun demikian, tidak menjadi masalah apabila istilah salat isyrAq digunakan dalam literatur dan pembahasan keagamaan, meskipun tidak terdapat penamaan yang langsung berasal dari Nabi . Hal ini serupa dengan istilah salat tarawih yang juga tidak secara eksplisit dinisbahkan kepada Rasulullah dalam bentuk penamaan tersebut, namun tetap diterima secara luas oleh umat Islam. Sebab, penamaan seperti ini bersifat istilahi, yang bertujuan untuk mempermudah identifikasi dan pembahasan sebuah amal ibadah Para ulama sepakat bahwa duduk di tempat salat setelah salat Subuh hingga terbitnya matahari adalah amalan yang disunnahkan. Bahkan, sebagian ulama telah menukil adanya ijmak atas kesunnahanny. 7 Di antara dalil yang menunjukkan sunnahnya duduk isyrAq adalah: Pertama, hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dari SimAk bin arb, a a A a aEeI aEa A:aACa eE aaEa a aI a a A aE aI aE O aCA. A aEaOAUA IaIA:AEA a acaENA a AOI I eI aIA a a a AOE NEEA aa a a a U e a a aEacO NEEa aEaeON aO aEac aI CA aa e a a A AaOae a aO aIAUA aOaEIaO Oaa a acaO aIA. A Ca aIA ca AAEaO Aa aONA a aAEacO OA e A Aauaa aEa a EAUAA e AEAe a a aO Eea aa aac aeEa a EA a AacIA a AacIA a a aI a eaEA A a aEO aI aOOaa a ac aIA e aA AaOAUANEaOac aA a e Artinya: Aku berkata kepada JAbir bin Samurah: AuApakah engkau biasa duduk bersama Rasulullah ?Ay Ia menjawab. AuYa, sering. Beliau tidak bangkit dari tempat salatnya setelah salat Subuh hingga matahari terbit. Apabila matahari telah terbit, beliau Mereka . ara sahaba. biasa berbincang, bahkan sampai membahas perkara jahiliah, lalu mereka tertawa dan beliau pun tersenyum. Ay Dalam riwayat lain disebutkan: ca a AEIO AEO NEE EON OEI aE aI ua ca A a aIUA ca AIA a A aA aIA e AA acaENa aac aeEa a EA a AacIA a aEO Ee aA ea aEA Artinya: AuSesungguhnya Nabi apabila selesai salat Subuh, beliau duduk di tempat salatnya hingga matahari terbit dengan sempurna. Al-QAs IyAs, sebagaimana dikutip oleh al-Nawaw dalam Syaru auu Muslim a aA OO eCAUAEEaA O eaNE EeaEe aI O eAEaOaIaA Aac a aac aeEa aA a AA aO aI a aEA a AE Ee aOCe aEaO E eE a aOEA a a a ca AaNN aIacU aE aIA e AEA a AacIA Artinya: AuIni adalah sunnah yang diamalkan oleh para salaf dan ahli ilmu. Mereka mengisi waktu tersebut dengan zikir dan doa hingga matahari terbit. Ay Al-Nawaw menambahkan: UsmAn bin Muuammad SyaA Al-Bakri Al-DimyAi. IAoAnah Al-Alibn alA al AlfAe Fatu AlMun (DAr al-Fikr, 1. , vol. 2, h. Muslim bin al-ajjAj Abu al-usain al-Qusyairi Al-NaisAbri, auu Muslim (Bairt: DAr IuyA al-TurA al-AoArabi, n. ), vol. 2, h. Al-NaisAbri, vol. 2, h. Abu Zakariya Muuy al-Dn Yauya bin Syaraf Al-Nawawi. Al-MinhAj Syaru auu Muslim Bin Al-ajjAj. Cet. II (Bairt: DAr IuyA al-TurA al-AoArabi, 1. , vol. 15, h. 127 | Arfan. Nur Afni A. Salat Isyraq dan Duduk Setelah Salat Subuh: Analisis Hadis tentang Kesahihan dan Praktiknya JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 124-140 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. a a aON aA AEAe a aOaIaE aaIa eaIEa a aN aI aaEe Oa aE eI a eUA ca AE eE a a e aA a ae e Artinya: AuDi dalamnya terdapat anjuran untuk berdzikir setelah salat Subuh dan tetap berada di tempat salat selama tidak ada uzur. Ay Al-Dahlaw dalam ujjatullAh al-BAlighah menegaskan: a ca AEIaca Aa aON eaEEaO a IO a aA a aEA AeE eaCA ca a AEAaE uaaEA ea a a Artinya: AuSunnah dalam hal ini adalah duduk di tempat salat hingga waktu salat isyrAq. Ay Sementara itu, al-Dasq dalam Asyiyah al-Dasq alA al-Syaru al-Kabr menukil AII AEO EA aA I OE aA IAaEN OE NEE ac E EI OAEO EIO EI EN O A AOI IIO IIO IIOA Artinya: AuBarang siapa salat Subuh berjemaah, lalu duduk di tempat salatnya berdzikir kepada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia salat dua rakaat, maka baginya pahala haji dan umrah sempurna, sempurna, sempurna. Ay Beliau mengomentari: aE OIO ECE AO N EAE EOIA Artinya: AuMaka tidak selayaknya orang yang berakal melewatkan keutamaan yang agung Ay Komentar serupa juga disampaikan oleh al-Ulaisy dalam Minau al-Jall yang menekankan pengulangan sabda Nabi tersebut sebagai bentuk penegasan untuk mendorong amal: A AaE OIO ECE II IAN II N EAE EOIAUAEN EON EAaE OEaEI aE EO EEOA Artinya: AuNabi mengulanginya tiga kali sebagai bentuk penegasan dorongan . ntuk mengamalkanny. , maka tidak sepatutnya seorang berakal menghalangi dirinya dari keutamaan yang besar ini. Ay Demikian pula Ibn al-Aj al-MAlik dalam al-Madkhal mencatat kebiasaan para salaf: A AuaII EIO aA INI aA NOI EOCIO EaIIAUAE O uaE I O INI aA ONI EA OEAA A OOI NEI aA IE OO EOO EIEAUAIIOI AaE aEIA Aumad bin AoAbd al-Raum al-SyAh Wal AllAh Al-Dahlaw, ujjat AllAh Al-BAlighah. Cet. (Bairt: DAr al-Jl, 2. , vol. 2, h. Muuammad bin Aumad bin Arafah Al-Dasq. Asyiyah Al-Dusq alA Al-Syaru Al-Kabr LiAumad Al-Dardr alA Mukhtaar Khall. Cet. IV (Bairt: DAr al-Fikr, n. ), vol. 1, h. Muuammad bin Aumad Al-Ulaisy. Minau Al-Jall Syaru Mukhtaar Khall. Cet. I (Bairt: DAr al-Fikr, 1. , vol. 1, h. Ab Abd AllAh Muuammad bin Muuammad al-Abdar al-FAs al-MAlik Ibn al-Ajj. AlMadkhal. Cet. IV . l-QAhirah: DAr al-TurA, n. ), vol. 1, h. 128 | Arfan. Nur Afni A. Salat Isyraq dan Duduk Setelah Salat Subuh: Analisis Hadis tentang Kesahihan dan Praktiknya JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 124-140 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. Artinya: Tidakkah engkau perhatikan kebiasaan mereka dalam wirid-wirid setelah Subuh dan Ashar? Mereka tetap berada di masjid pada dua waktu tersebut seakan-akan menanti salat Jumat, dan terdengar dari mereka di masjid seperti suara lebah . arena banyaknya ziki. Ay Di antara keutamaan duduk di tempat salat setelah melaksanakan salat Subuh adalah mendapatkan salawat dari para malaikat. Sebagaimana disebutkan dalam Musnad Aumad dari AA bin al-SAib: a aAEA ca a AEEa aI aO aOCa eA UA a Ee aI e a aA a aA CAUAA ca A aEaO a ae aA ca AE eea aIA ca Aa eI aa a e aIA a eA a aEA:AEA U A aOaN aO aEAUAAEO Ee aA eaA a A a:AEA a a A a A:AOEA AAEacO NEEa aEaeO aN aO aEac aIA a aAE aE aI eaOaa EA a A uaaE Aa aA a e a AE Aa aCA a A Ea eO Ca eIA:AA a ea aCEA a AOE NEEA a a a e a A aEOUc Oa aCA ca a A Au aI eIA:AOEA A EEac aN acIAUaA EEac aN acI e aA e EaNA:aE aeI aEaeO aNA a AOa aCA e caEA a A aOAUaA aEaeON Ee aIaE aEA a Ua acaENA a A a aIA a aEO Ee aA ea aac aEA AyaA EEac aN acI e aeeNAUaA EEac aN acI e aA e EaNA:aE aeI aEaeO aNA ca A aOaI eI OaeI a a aAUaAe aeeNA e caEA a A aOAUaA aEaeON Ee aIaE aEA a aAEAaEA Artinya: Dari Aa bin al-Saib, dia berkata: Saya masuk menemui Ab Abd al-RaumAn alSulam, saat itu ia telah menunaikan salat Subuh dan masih duduk di masjid. Maka aku berkata. AoJika engkau bangkit menuju tempat tidurmu tentu itu lebih lembut Ao Ia menjawab. AoAku mendengar Al berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda: Barang siapa salat Subuh lalu duduk di tempat salatnya, maka para malaikat akan bersalawat kepadanya. Dan salawat mereka adalah: Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, rahmatilah dia. Dan barang siapa menanti salat, maka para malaikat pun bersalawat kepadanya dengan doa yang sama. Ay Selain itu, dalam Musnad Aumad, dari Ab UmAmah disebutkan keutamaan duduk berdzikir setelah Subuh dan Ashar: aca AOEA ca AA A aO aaNEaEaNa aac aeEa aAUa aNA a aEacO NEEa aEaeO aN aO aEac aI CA a AaI a aA ca A AuaEa eI aCe a a ae aE aA:AEA e A aOAUaA aOa aEacaNAUacEEA a AacEEA a A aOAUaea aNA a a a aa a a ca aA uA UAA ca a e A aOI eI a e Ee aAUAOEA a AA a aac a e aA e A EA a A AUAA e AEA a AaE I eI a eI ea aC aCaa a eIO eaO a eEa a I eI aOEa u ea a AacIA a AacIA a aa a s a a ca aA uA AyAOEA ca a a a AaE I eI a eI ea aC eaa a Ca I eI aOEa u ea Artinya: Bahwa Rasulullah bersabda. AuDuduk berdzikir menyebut Allah, bertakbir, memuji, bertasbih, dan bertahlil hingga matahari terbit lebih aku cintai daripada memerdekakan dua budak atau lebih dari keturunan IsmAl. Dan duduk . setelah salat Ashar hingga matahari tenggelam lebih aku cintai daripada memerdekakan empat budak dari keturunan IsmAl. Ay Tuntunan Nabi menunjukkan bahwa duduk setelah salat Subuh dilakukan hingga matahari telah terbit dengan terang dan sempurna. Dalam auu Muslim dari JAbir bin Samurah disebutkan: Abu AoAbdillAh Aumad bin Muuammad al-SyaibAni Ibn anbal. Musnad Aumad, ed. SyuAoaib alArna. Cet. I (Muassasah al-RisAlah, 2. , vol. 2, h. Ibn anbal, vol. 36, h. 129 | Arfan. Nur Afni A. Salat Isyraq dan Duduk Setelah Salat Subuh: Analisis Hadis tentang Kesahihan dan Praktiknya JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 124-140 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. ca a AacEEa aEaeO aN aO aEacI aE aI ua ca AA A a aIUA ca AAEacOA ca aI EIA a A a aIA a AacOA e AA acaENa aac aeEa a EA a AacIA a aEO Ee aA ea aEA Artinya: AuSesungguhnya Nabi apabila salat Subuh, beliau duduk di tempat salatnya hingga matahari terbit dengan sempurna . Ay Demikian pula dalam Musnad Aumad terdapat lafaz serupa: aca AOEA ca a AacEEa aEaeO aN aO aEacI ua a AaE aI a aA ca AAEacOA a A a aIA a AacEEA e AA acaENa aac aeEa a EA aA a eIaA a AacIA a aA aEAUaEO Eea aA Artinya: AuRasulullah apabila telah menunaikan salat al-ghadAh (Subu. , beliau tetap duduk di tempat salatnya hingga matahari terbit dengan elok dan terang. Ay Istilah uasanan dan uasnA dalam dua hadis tersebut menunjukkan bahwa waktu duduk dianjurkan berakhir ketika matahari benar-benar muncul dengan cahaya yang jelas dan tidak samar. Maka dari itu, mengikuti sunnah Nabi, seorang muslim dianjurkan untuk tetap berada di tempat salatnya sampai waktu tersebut tiba. Salat IsyrAq Berkenaan dengan salat sunah yang dilaksanakan setelah terbitnya matahariAi yang dikenal dengan sebutan salat isyrAq atau salat syurqAiulama berbeda pendapat. Sebagian berpendapat bahwa ia merupakan salat tersendiri yang berdiri sebagai ibadah mandiri, sementara yang lain memandang bahwa salat isyrAq tidak lain adalah salat duha itu sendiri. Pendapat pertama menyatakan bahwa salat isyrAq merupakan salat tersendiri, berbeda dari salat duha. Pendapat ini dipegang oleh: Al-auAw dari mazhab anaf,20 Al-Dahlaw,21 Al-MubArakfr,22 MullA Al al-QAr,23 zahir ucapan sebagian MAlikiyyah,24 pendapat muktamad dalam mazhab SyAfi, yang dipilih oleh al-GhazAl,25 dirajihkan oleh al-Suy, al-b, dan Ibn al-AllAn,26 serta dinukil oleh al-Haitam dari Ibn ajar al-AsqalAn dan dari al-Raml sebagai qaul lain dari beliau. Al-NaisAbri, auu Muslim, vol. 2, h. Ibn anbal. Musnad Aumad, vol. 34, h. AoAli bin Muuammad al-Mulla al-Harawi Al-QAri. MirqAh Al-MafAtu Syaru MisykAh AlMaAbu. Cet. I (Bairt: DAr al-Fikr, 2. , vol. 5, h. Aumad bin Muuammad bin IsmAl Al-auAw. Asyiyah Al-auAw alA MarAq Al-FalAu Syaru Nr Al-sAu, ed. Muuammad Abd al-Azz Al-KhAlid. Cet. I (Bairt: DAr al-Kutub al-Ilmiyyah, 1. , vol. 1, h. Al-Dahlaw, ujjat AllAh Al-BAlighah, h. 2, h. Ab al-AoAlAAo Muuammad AoAbd al-RaumAn binAbd al-Raum Al-MubArakfri. Tuufah AlAuwai Bi-Syaru JAmi Al-Tirmii (Bairt: DAr al-Kutub al-Ilmiyyah, n. ), vol. 2, h. Al-QAri. MirqAh Al-MafAtu Syaru MisykAh Al-MaAbu, vol. 3, h. Al-Dasq. Asyiyah Al-Dusq alA Al-Syaru Al-Kabr Li-Aumad Al-Dardr alA Mukhtaar Khall, vol. 1, h. Abu al-AoAbbAs SyihAb al-Dn Aumad bin Idrs al-MAliki Al-QarAfi. AnwAr Al-Burq Fi Anwa Al-Furq (AoAlam al-Kutub, n. ), vol. 1, h. Ab Amid Muuammad bin Muuammad Al-GazAli. IuyAAo AoUlm Al-Dn (Bairt: DAr alMarifah, n. ), vol. 1, h. Muuammad Al bin Muuammad Ibn AllAn. Dall Al-FAliun Li-uruq RiyAs Al-Aliun. Cet. IV (Bairt: DAr al-Marifah, 2. , vol. 6, h. Aumad bin Muuammad bin Al bin ajar Al-Haitami. Tuufah Al-MuutAj F Syaru Al-MinhAj (Mir, 1. , vol. 2, h. 130 | Arfan. Nur Afni A. Salat Isyraq dan Duduk Setelah Salat Subuh: Analisis Hadis tentang Kesahihan dan Praktiknya JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 124-140 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. Dalil-dalil pendapat ini antara lain: Hadis dalam Sunan al-Tirmi dari Anas bin MAlik s A AII AEacO Eea aa a aIA:AOE NEEa AEO NEE EON OEIA caA aA a AE a aA a aACA aa a ea e A aac Ca a a Oa e aE a NEEa aac aeEa a EA a AacIA 28 s a e aEacO eE aA A a acI s a acI s a acIA:AOE NEEa AEO NEE EON OEIA a AE a aA a aA CA:AEA a aA CA. AsAa a a ac s aOa eI aA e aAIO aEIA e A EaNa aEA a a Artinya: "Rasulullah bersabda: AoBarang siapa salat Subuh berjamaah, lalu duduk berdzikir kepada Allah hingga matahari terbit, kemudian salat dua rakaat, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah. Ao Rasulullah bersabda: AoSempurna, sempurna, sempurna. AoAy Al-Tirmi menilai hadis ini sebagai uasan garb. Adapun al-MubArakfr dalam Tuufat al-Auwadz menyebutkan bahwa dalam sanad hadis ini terdapat Ab ZhilAl, seorang 29 Namun, hadis ini memiliki syawAhid yang menguatkannya. Dalam al-Mujam al-Kabr al-abarAn meriwayatkan dari Ab UmAmah: s A AII AEacO AaEa Eea aa a aIA:AOE NEEa AEO NEE EON OEIA A Oa e aE a NEEa aac aeEa aA a AE a aA a aACA aa a a ea a aA aac aEAUAA Aa a a ac s aOa eIaA e A a e AEA a aA Ie aCEAUA aac Ca aI Aa aaE a aeE aa eIOAUAA a AacIA Artinya: Rasulullah bersabda: AoBarang siapa salat Subuh berjamaah, lalu duduk berdzikir kepada Allah hingga matahari terbit, kemudian bangkit dan salat dua rakaat, maka ia kembali dengan pahala haji dan umrah. AoAy Hadis ini dinilai uasan oleh al-Munir dalam al-Targhb wa al-Tarhb31 dan Ibn ajar al-Haitam dalam al-FatAwA al-Fiqhiyyah al-KubrA32 Ibn ibbAn meriwayatkan dari Ab Hurairah: a a A A A aI aaOeIaAUaAOE NEEA a A aO a aA:AE a a UEA a A Aa aCAUaO Ee aEacA e AOIa aOA a a a Aa aA a AOE NEE AEO NEE EON OEI a eU Aa eaa aIO EeaIA a A aII N a Ee AUUA OaE eaaI aIaOIAUUA CaOsI a aEacA a A! Aa aCA UA aEacA e A AuaaE A:AE AEO NEE EON OEIA a a a a e e a Aa eA ea a e a a e acaaE eI a aa aa a AO eaaI aIaOIU aII N a Ee A UaEacO Aa aON Eea aA ca A a a UE a aOA a Aa a aI aOA ea a e a a a e Aa a aeON a a aA AAUA aac aa acI aE uaaE Ee aI eAUaAOaNA a ac Cac A Au33aAOIA a a e A Aa aC e AUAac aOA e aE EA a a a a A aO eaa aI EeaIAUaA Ee aEacA Artinya: Rasulullah pernah mengirim suatu pasukan. Mereka mendapatkan harta rampasan dalam jumlah besar dan kembali dengan cepat. Lalu seseorang berkata: AoWahai Rasulullah, belum pernah kami melihat pasukan yang lebih cepat kembali dan Abu Aosa Muhammad bin Isa Al-Tirmii. Sunan Al-Tirmii. Cet. II (Mir: Muafa al-BAbi alalabi, 1. , vol. 1, h. Al-MubArakfri. Tuufah Al-Auwai Bi-Syaru JAmi Al-Tirmii, vol. 3, h. Al-abarAni. Al-MuAojam Al-Kabr, vol. 8, h. AoAbd al-AoAzim bin AoAbd al-Qawi bin AoAbd Allah Abu Muhammad Zaki al-Din al-Mundziri. AlTarghib Wa Al-Tarhib Min Al-Hadits Al-Syarif. Cet. i (Mesir. Beirut: Maktabat Mustafa al-Babi al-Halabi / Dar IhyaAo al-Turats al-AoArabi, 1. , vol. 1, h. Syihab al-Din Ahmad bin Hajar al-Makki al-Haitami. Al-Fatawa Al-Kubra Al-Fiqhiyyah. Tanpa tahun. Cet. tidak disebut (Makkah: al-Maktabah al-Islamiyyah, n. ), vol. 1, h. Abu Hatim Muhammad bin Hibban bin Ahmad al-Tamimi al-Busti. Sahih Ibn Hibban: AlTaqasim Wa Al-AnwaAo. Cet. I (Beirut: Dar Ibn Hazm, 1. , vol. 1, h. 131 | Arfan. Nur Afni A. Salat Isyraq dan Duduk Setelah Salat Subuh: Analisis Hadis tentang Kesahihan dan Praktiknya JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 124-140 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. lebih besar ganimahnya daripada pasukan ini. Ao Maka Rasulullah bersabda: AoMaukah kalian aku beritahu tentang pasukan yang lebih cepat kembali dan lebih besar ganimahnya dari itu? Yaitu seseorang yang berwudu di rumahnya, lalu memperbagus wudunya, kemudian berangkat ke masjid dan salat di dalamnya salat Subuh, lalu menyusulnya dengan salat dhahwah. Maka ia telah kembali lebih cepat dan memperoleh ganimah yang lebih besar. AoAy Al-NasAAo meriwayatkan dalam al-Sunan al-Kubra dari Al: aA aE aC e a AaEAUAIOA a aE aI IA a e aA Ca e eI s eaO eIAUA aI eI aIeEaa aNA:A Oa eaIAUAacIA ca aa a e AO NEE AEO NEE EON OEI ua aEa EA 34 s a e aEacO eE aA a a a e AEe aA AAEacO eaa a aaE aA a AacOA a A aac uaa ea aA a EAUA aac aOae aN aEAUAIOA a a AA I eI aI ea Artinya: Nabi Allah apabila matahari telah beranjak naikAiyakni dari tempat terbitnyaAi sekitar ukuran satu atau dua tombak, sebagaimana jarak antara waktu salat Ashar dari arah terbenamnya, beliau salat dua rakaat. Kemudian beliau menunggu hingga waktu duha meninggi, lalu beliau salat empat rakaat. Ay Al-IrAq dalam Takhrj AuAdts al-IuyA menyebut bahwa al-Tirmi telah menghasankannya,35. Hadis ini juga dinilai uasan oleh al-AlbAn dalam al-Silsilah alSahihah36. Dalam MirqAh al-MafAtu disebutkan bahwa hadis ini merupakan na yang menyatakan perbedaan antara salat isyrAq dan salat duha. ImAm Muslim meriwayatkan dalam Sauu-nya dari Ab UmAmah bahwa Rasuluullah bersabda, a ca AA aIA AcIA ca aEA a e eA aac aCAUAEAe aA a eaAIO aeEa a A a A aac a eaA a Aaua acaIa aeEa a A a AA aEA e AEAaE aac aeEa a EA ea AIO Ca eA a AacIA sa a s a AOU ac Oa aC acEA a eA aac aCA. AE acE aa acEI aA AA eA ca AA aE Aaua acIA a AEAaEa aI e aNA a caA aA. AacA e a a a a AOU aeeIA a A aOOIa Oa e a a aNEa Ee aEAAUAaeOaIA a aAEAaEa I eNOU aeIOU ac A s a a a ca A aIA a e AAE aO Ee aA a a a a e a a a ca AA aE Aaua acIA a aA Aauaa aCe a aE Ee aA eOa AA. AEAaE Aaua acI OIa a e a a a aNI aacIA sa a s a ca AA aIA AacA a e eac aCA a eaA A a A Aaua acaIa a e aA a AEAaE aac a e aA e A EA a AcI aeOaI aOOIa Oa e a a aNEa Ee aEAA ea AIO Ca eA a AacIA Artinya: AuSalatlah salat Subuh, kemudian tahanlah diri dari salat hingga matahari terbit dan Karena ia terbit di antara dua tanduk setan, dan pada saat itu orangorang kafir sedang bersujud kepadanya. Kemudian salatlah, karena salat saat itu disaksikan dan dihadiri . leh malaika. hingga bayangan benda berdiri tegak Kemudian tahanlah diri dari salat, karena saat itu Jahannam dinyalakan. Jika bayangan mulai condong . e arah bara. , maka salatlah, karena salat saat itu disaksikan dan dihadiri hingga engkau salat Ashar. Setelah itu, tahanlah diri dari Abu AoAbd al-RaumAn Aumad bin SyuAoaib Al-NasAi. Al-Sunan Al-Kubra. Cet. I (Bairt: Muassasah al-RisAlah, 2. , vol. 1, h. Abu al-Fadl Zain al-Din AoAbd al-Rahim bin al-Husain bin AoAbd al-Rahman bin Abi Bakr bin Ibrahim al-AoIraqi. Al-Mughni Auan Haml Al-Asfar Fi Al-Asfar Fi Takhrij Ma Fi Al-IhyaAy Min Al-Akhbar. Cet. I (Beirut: Dar Ibn Hazm, 1. , h. Abu AoAbd al-RaumAn Muuammad NAir al-Dn bin al-Aj Nu Al-AlbAni. Silsilah Al-Auad Al-auuah. Cet. I (Maktabah al-MaAoArif, 1. , vol. 1, h. Al-QAri. MirqAh Al-MafAtu Syaru MisykAh Al-MaAbu, vol. 4, h. Al-NaisAbri, auu Muslim, vol. 2, h. 132 | Arfan. Nur Afni A. Salat Isyraq dan Duduk Setelah Salat Subuh: Analisis Hadis tentang Kesahihan dan Praktiknya JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 124-140 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. salat hingga matahari terbenam, karena ia terbenam di antara dua tanduk setan, dan pada saat itu orang-orang kafir sedang bersujud kepadanya. Ay Ibn Ab Syaibah meriwayatkan dalam al-Muannaf dari MsA bin aluah, ia AEe aa AaOa aa aA ca a a AA acaENa aeOA a A aE Oaeca a aac eaAUAAEacOA a aE aI aEe aa Oae A a AA a A a aIA Artinya: aluah biasa tetap duduk di tempat salatnya, tidak beranjak hingga tiba waktu alsubuah, lalu ia melaksanakannya. Lafaz al-subuah dalam riwayat ini dapat dipahami sebagai bentuk amalan salat sunnah secara umum, sehingga tidak secara tegas menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah salat isyrAq atau salat duha. Namun demikian, makna tersebut dapat dipertegas dengan merujuk pada hadis-hadis lain yang secara lebih jelas menjelaskan praktik salat yang dilakukan setelah terbitnya matahari. Dengan demikian, riwayat ini tetap memberikan indikasi adanya kesinambungan amalan antara duduk setelah salat Subuh dan pelaksanaan salat sunnah pada waktu terbit matahari, meskipun penentuan jenis salatnya memerlukan penguat dari riwayat-riwayat lain yang lebih eksplisit. Al-Baihaq meriwayatkan dalam Syuab al-mAn dari al-asan bin Al, bahwa Rasulullah bersabda: AII AEO EA a C aA aIEN OE NEE OE ac E EI a CI AAEO EIO I NEE EOA AEI I EAN O INA Artinya: Barang siapa salat Subuh, kemudian duduk di tempatnya berdzikir kepada Allah Aoazza wa jalla hingga matahari terbit, lalu berdiri dan salat dua rakaat, maka Allah mengharamkan api neraka untuk menyentuh atau memakannya. Ay Al-Khal berkata dalam Ru al-BayAn: A EOE OIE I OEOI EC II C ECOE u EO OA EOCA. AaOEI EOAOC IO EOOIO ONIOA A OEcI I OE OCA. AO EEO AaE OE EO EO EO NO EOC IEO IO EO EI OONEA aE EC NO I A EI C I O OCN NO OE OC AaE EO aE EO OAA AE u AaE EA OA EO AaE OIO I AEO ac O EI E OOA EN aeOA AOC I ON EI OAEO EA u AA EI ACOEN EON EaEI (NN AaE EC) I IOI aIA AC aEI aE OCN OI IOI aI O a OE OCNA Artinya: Dapat dilakukan penggabungan antara dua riwayat dengan dua cara. Pertama, bisa Abu Bakr bin Abu Syaibah al-AoAbsi Ibn Abi Syaibah. Al-KitAb Al-Muannaf Fi Al-AuAd Wa Al-AAr. Cet. I (RiyAs: Maktabah al-Rusyd, 1. , vol. 5, h. Abu Bakr Ahmad bin al-Husain al-Bayhaqi. SyuAoab Al-Iman. Cet. I (Beirut: Dar al-Kutub alAoIlmiyyah, 1. , vol. 3, h. IsmaAoil Haqqi bin Mustafa al-Istanbuli al-Hanafi al-Khalwati Abu al-Fida. Ruh Al-Bayan. Tanpa tahun. Cet. tidak disebut (Beirut: Dar al-Fikr, n. ), vol. 8, h. 133 | Arfan. Nur Afni A. Salat Isyraq dan Duduk Setelah Salat Subuh: Analisis Hadis tentang Kesahihan dan Praktiknya JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 124-140 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. jadi yang dimaksud dengan AoisyrAqAo adalah dari kata asyraqa al-qawm . akni masuk dalam waktu terbi. , yaitu awal terbitnya matahari, dan ini tidak menunjukkan salat duha yang berada di pertengahan waktu antara terbit matahari dan zawAl. Kedua, awal waktu salat isyrAq adalah ketika matahari telah meninggi satu tombak, dan akhir waktunya adalah awal waktu salat duha. Maka salat duha di waktu pagi sejajar dengan salat Ashar di waktu sore. Oleh karena itu, tidak sepantasnya salat dilakukan hingga matahari benar-benar putih dan bersinar penuh, sebagaimana salat Ashar dilakukan saat matahari telah menguning. Maka sabda beliau Aoini adalah salat isyrAqAo bisa bermakna bahwa ia adalah isyrAq dilihat dari sisi akhir waktunya, atau ia adalah salat duha dilihat dari sisi awal waktunya. Ay Pendapat kedua menyatakan bahwa salat isyrAq adalah salat duha itu sendiri. Tidak ada salat khusus yang dinamakan salat isyrAq secara terpisah dari salat duha. Ini merupakan pendapat Ibn AbbAs sebagaimana dalam Syaru Mukhtaar Khall42, zahir dari mazhab MAlikiyyah sebagaimana dalam al-BayAn wa al-Taul43, sebagian dari kalangan SyAfiiyyah seperti dalam Tuufat al-MuutAj44. FatAwA al-Raml45, dan al-FatAwA karya al-Haitam,46 Juga terdapat dalam mazhab anAbilah sebagaimana disebut dalam KasysyAf al-QinA. 47 Pendapat ini juga dipilih oleh sejumlah ulama seperti al-SyaukAn dalam Fatu al-Qadr48. Ibn BAz dalam FatAwA Ibn BAz49, dan Ibn Utsaimn dalam FatAwA Ibn Utsaimn. Dalil-dalil pendapat ini: Tidak ditemukan dalil yang sahih mengenai salat isyrAq sebagai salat tersendiri. Semua riwayat yang menyebutnya dinilai daif. Meskipun demikian, pandangan ini tidak bersifat mutlak, sebab terdapat beberapa hadis yang menunjukkan pelaksanaan salat pada waktu terbitnya matahari, yang oleh sebagian ulama dinilai sahih atau minimal hasan. Hal ini menunjukkan bahwa dasar pelaksanaan salat pada waktu isyrAq masih memiliki landasan hadis yang layak dipertimbangkan dalam kerangka kesunnahan umum salat pada awal waktu duha. Dalam Sauu Muslim dari SimAk bin arb disebutkan: Al-Ulaisy. Minau Al-Jall Syaru Mukhtaar Khall, vol. 2, h. Abu al-Walid Muhammad bin Ahmad bin Rushd al-Qurtubi. Al-Bayan Wa Al-Tahsil Wa AlSyarh Wa Al-Tawjih Wa Al-TaAolil Li MasaAoil Al-Mustakhrajah. Cet. II (Beirut: Dar al-Gharb al-Islami, 1. , vol. 17, h. Al-Haitami. Tuufah Al-MuutAj F Syaru Al-MinhAj, vol. 2, h. Syihab al-Din Ahmad bin Hamzah al-Ansari al-Ramli al-SyafiAoi. Fatawa Al-Ramli. Tanpa tahun. Cet. tidak disebut (Tanpa tempat: al-Maktabah al-Islamiyyah, n. ), vol. 1, h. al-Din Ahmad bin Hajar al-Makki al-Haitami. Al-Fatawa Al-Kubra Al-Fiqhiyyah, vol. 1, h. Mansur bin Yunus bin Idris al-Buhuti. Kasyaf Al-QinaAo Auan Matn Al-Iqna,Ay Tanpa nomor cetakan (Riyadh: Maktabat al-Nasr al-Hadithah, 1. , vol. 1, h. Muuammad bin AoAli bin Muuammad Al-SyaukAni. Fatu Al-Qadr. Cet. I (Bairt: DAr Ibn Kar, 1. , vol. 4, h. AoAbd al-AoAziz bin AoAbd Allah bin AoAbd al-Rahman bin Baz. MajmuAo Fatawa Wa Maqalat MutanawwiAoah. Tanpa tahun. Cet. tidak disebut . l-Riyadh: RiAoasat Idarat al-Buhuth al-AoIlmiyyah wa alIftaAo bi al-Mamlakah al-AoArabiyyah al-SuAoudiyyah, n. ), vol. 11, h. Muhammad bin Shalih bin Muhammad al-AoUtsaimin. MajmuAo Fatawa Wa Rasail Fadhilat AlSyaikh Muhammad Bin Shalih Al-AoUtsaimin. Cet. I (Riyadh: Dar al-Wathan - Dar al-Thurayya, 1. , vol. 14, h. 134 | Arfan. Nur Afni A. Salat Isyraq dan Duduk Setelah Salat Subuh: Analisis Hadis tentang Kesahihan dan Praktiknya JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 124-140 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. aca AOEA a eACaEA AOI aI eIA a acEEa aEaeO aN aO aEac aI CA a A a aA ca AAEacOA a A a aEeIA:aA aEaa a e aI a a A aE aI aE Oa aCAUA aE UOAUA Ia a eIA:AEA a AacEEA a A aaEA UA aOaEIaO Oaa a acaO aIAUA Ca aIA ca AAEaO Aa aONA a a acaENa EacO OA a AaIA e A Aauaa aEa a EAUAA e AEAe a a aO Eea aa aac aeEa a EA a AacIA a AacIA a aOe aO aI a aI a eaEA A a aEO aI aOOaa a ac aIA e aA AaOAUANEaOac aA a a a e Artinya: Aku berkata kepada JAbir bin Samurah: Apakah engkau biasa duduk bersama Rasulullah ? Ia menjawab: Ya, sering. Beliau tidak bangkit dari tempat salatnya yang beliau salat Subuh di situ sampai matahari terbit. Setelah matahari terbit, barulah beliau bangkit. Para sahabat kala itu berbincang, bahkan kadang tentang perkara jahiliah, lalu mereka tertawa dan Nabi pun tersenyum. Ay Dalam riwayat lain disebutkan: ca a AaE aI ua A a aIUA a A aA aIA e AA acaENa aac aeEa a EA a AacIA a aA aEAUAAEO Ee aA eaA Artinya: Nabi apabila selesai salat Subuh, beliau duduk di tempat salatnya hingga matahari terbit dengan terang dan jelas. Ay Hadis ini menunjukkan bahwa Nabi hanya duduk setelah salat Subuh hingga matahari terbit, lalu bangkit, dan tidak terdapat riwayat bahwa beliau melakukan salat pada waktu Demikian pula tidak dinukil dari para sahabat bahwa mereka melakukannya. Meksi demikian, hal tersebut tidak menunjukkan bahwa salat isyrAq tidak Banyak amalan yang secara qauliyah disyariatkan oleh Nabi, tetapi beliau tidak melakukannya sendiri karena sebab tertentu, seperti khawatir memberatkan umat atau karena sibuk dengan amalan lain yang lebih utama. Contohnya adalah umrah di bulan RamasAn dan puasa enam hari di bulan SyawwAl. Dalam Sauu al-BukhAr. Aisyah berkata: aca AOEA a A aEaO EIA UAacA a Aua eI aE aI a aA ca AAEacOA ca A aOaN aO aaOAUAacEEa aEaeO aN aO aEac aI EaOa aa Ee a aI aEA a A a eOaa a eI Oa eA aAUA a eI Oa e aI aE aNA a AacEEA a ca AacEEa AEacOA a ca acO CA a a aNA a AaOaI aac a a aA a ca AOEA a AacEEa aEaeON aO aEac aI ae aa EA a A aOuacI aEAUAA Artinya: Sesungguhnya Rasulullah sering kali meninggalkan suatu amal padahal beliau menyukainya, karena khawatir akan diwajibkan atas umatnya. Dan beliau tidak pernah salat sunah duha sama sekali. Namun aku sendiri mengerjakannya. Ay Ibn ajar menjelaskan dalam Fatu al-BAr. AuYang tampak adalah bahwa apa yang diperintahkan, dianjurkan, dan diwasiatkan oleh Nabi itu lebih utama. Adapun beliau sendiri, bisa jadi meninggalkannya karena ada yang lebih menyibukkan beliau, atau sekadar untuk menunjukkan kebolehannya. Ay54 Di samping itu, sebagian pensyarah hadis menafsirkan kata aAIA a aA( CAbangki. dalam hadis di atas sebagai berdiri untuk salat, bukan untuk keluar dari masjid. Dalam MirqAh Al-NaisAbri, auu Muslim, vol. 2, h. Al-NaisAbri, vol. 2, h. Muuammad bin IsmAAol Al-BukhAr. Sahh Al-BukhAr. Cet. I (Dar Tauq al-Najah, 1. , vol. 1, h. Al-Afie Abu al-Fasl Aumad bin AoAli bin ajr Al-AoAsqalAni. Fatu Al-BAri Syaru auu AlBukhAri (Bairt: DAr al-MaAorifah, 1. , vol. 4, h. 135 | Arfan. Nur Afni A. Salat Isyraq dan Duduk Setelah Salat Subuh: Analisis Hadis tentang Kesahihan dan Praktiknya JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 124-140 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. al-MafAtu, disebutkan bahwa makna AubangkitAy di sini bisa dimaknai bangkit untuk 55 Akan tetapi, menafsirkan lafaz A AuaEaEIaCIAdengan makna bangkit untuk salat adalah takwil terhadap lafaz mujmal tanpa ada qarnah yang jelas, sehingga mengarahkannya kepada satu makna tertentu tanpa murajjih adalah bentuk tahakkum yang tidak dapat diterima. Tidak ada penamaan alAh al-isyrAq dalam nas-nas syariat secara eksplisit. Memang tidak ditemukan penamaan alAt al-isyrAq secara eksplisit dalam nas-nas Namun, ketiadaan penamaan secara langsung tidak berarti meniadakan keberadaan ibadah tersebut. Dalam disiplin hadis dan fikih, tidak disyaratkan bahwa suatu ibadah harus memiliki penamaan khusus dari Nabi untuk dapat dinilai sah atau Banyak amalan yang dikenal luas di kalangan umat Islam memiliki dasar pelaksanaan yang sahih meskipun penamaannya muncul belakangan, seperti istilah salat tarawiu. Dengan demikian, validitas salat yang dilakukan pada waktu isyrAq tidak bergantung pada penamaan khususnya, melainkan pada keberadaan dalil-dalil yang menunjukkan pelaksanaannya. Dalam Muannaf Ibn Ab Shaybah dari MujAhid disebutkan: a ca AA AacOA e A aaI aIA e aI a aa aEIA a A Ia eOaIa EA e A uaa aEa a EA a AacIA Artinya: Aisyah, apabila matahari telah terbit, ia tidur pada waktu duha. Ay Riwayat ini sering dijadikan dasar oleh sebagian pihak untuk menunjukkan bahwa Aisyah tidak menunaikan salat pada waktu tersebut, padahal beliau adalah istri Nabi. Namun, penafsiran semacam ini tidak serta-merta menunjukkan penolakan terhadap disyariatkannya salat isyrAq atau salat duha. Aisyah memang dikenal dalam beberapa riwayat tidak menyaksikan sebagian amalan Nabi yang diriwayatkan oleh sahabat lain, seperti persoalan kencing sambil berdiri, padahal perbuatan tersebut sahih dari beliau. Karena itu, tidak diketahuinya suatu amalan oleh seseorang tidak dapat dijadikan bukti bahwa amalan tersebut tidak ada. Dalam kaidah ilmu hadis, keterangan orang yang mengetahui lebih didahulukan daripada orang yang tidak mengetahui. Selain itu, konteks kehidupan Aisyah juga perlu diperhatikan. sebagian besar hadis tentang duduk setelah salat Subuh hingga terbitnya matahari berkaitan dengan praktik jamaah di masjid, sedangkan Aisyah tidak termasuk dalam kalangan yang ikut salat Subuh berjamaah. Hal ini menjelaskan mengapa beliau tidak menyaksikan langsung amalan tersebut. Hadis tentang salat isyrAq dianggap lemah karena menyebut pahala yang terlalu besar, yakni seperti pahala haji dan umrah. Sebagian ulama menilai bahwa hadis-hadis tentang salat isyrAq lemah karena menyebutkan pahala yang sangat besar, yaitu setara dengan pahala haji dan umrah. Penilaian ini didasarkan pada kaidah umum dalam kritik matan, di mana penyebutan ganjaran luar biasa untuk amalan ringan sering kali menjadi indikasi adanya kelemahan dalam riwayat. Namun, pandangan tersebut tidak dapat dijadikan alasan mutlak untuk menolak keseluruhan riwayat. Dalam kerangka teologis, karunia Allah bersifat luas dan tidak dapat diukur dengan pertimbangan rasional semata. Selain itu, banyak hadis sahih Al-QAri. MirqAh Al-MafAtu Syaru MisykAh Al-MaAbu, vol. 7, h. Ibn Abi Syaibah. Al-KitAb Al-Muannaf Fi Al-AuAd Wa Al-AAr, vol. 5, h. 136 | Arfan. Nur Afni A. Salat Isyraq dan Duduk Setelah Salat Subuh: Analisis Hadis tentang Kesahihan dan Praktiknya JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 124-140 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. lain yang juga menyebut amalan ringan dengan pahala besar, seperti zikir tertentu yang nilainya setara sedekah atau pembebasan budak. Lebih dari itu, sejumlah ulama hadis menilai bahwa sebagian riwayat tentang salat isyrAq mencapai derajat sahih atau hasan, sehingga tetap dapat diterima sebagai dasar anjuran amalan. Hadis-hadis yang ada menunjukkan bahwa salat isyrAq tidak lain adalah salat Dalam Sunan Ab DAwd disebutkan: a AEA a ac OA a AA aIIA a A aE Oa aCAUAacOA a AA acaENa A aA a EaNAUAOE uaacE a e UOA a a a e ca aEA a e a AA aA a AIO OaeIA a AaI eI Ca a a aA aIA a AAE aO aeE a ea EA 57 a A a eEa a aI eI aa a Eea eA e aA aOua eI aEIAUaONA Artinya: Barang siapa duduk di tempat salatnya setelah salat Subuh hingga ia salat dua rakaat salat duha, tidak berkata kecuali yang baik, maka diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan. Ay Dari pembahasan di atas dapat dipahami bahwa dua amalan tersebutAiduduk setelah salat Subuh dan salat dua rakaat setelah terbitnya matahariAi, maka masingmasing memiliki dasar yang sahih dari Nabi. Duduk di tempat salat hingga matahari terbit merupakan amalan yang tsabit sebagaimana diriwayatkan dalam Sauu Muslim dari SimAk, dari JAbir bin Samurah. Demikian pula, pelaksanaan salat dua rakaat setelah matahari meninggi juga sahih dan dikenal sebagai bagian dari salat duha, sebagaimana terdapat dalam sejumlah hadis dari Ab ar. Ab Hurairah, dan sahabat lainnya. Adapun penggabungan kedua amalan tersebut dalam satu rangkaian dengan keutamaan khusus berupa pahala setara haji dan umrah, maka landasannya berasal dari hadis-hadis yang dipersoalan kesahahihannya. Karena itu, amalan duduk setelah Subuh dan salat dua rakaat setelah terbit matahari tetap dapat diamalkan secara terpisah berdasarkan dalil sahih yang mendukung masing-masing, tanpa harus menetapkan keutamaan khusus yang tidak didukung oleh riwayat kuat. Dari pembahasan di atas juga penulis cenderung kepada pandangan bahwa salat isyrAq tidak menunjukkan ibadah yang terpisah dari salat duha, melainkan merupakan salat duha yang dilaksanakan pada awal waktunya. Penjelasannya: . Hukum asal ibadah adalah tawaqquf, sehingga tidak boleh menetapkan adanya ibadah baru kecuali dengan dalil yang jelas. Seandainya salat isyrAq benar-benar merupakan salat tersendiri yang tidak termasuk dalam cakupan salat duha, maka mestinya telah ada riwayat yang kuat dan banyak dalam penukilannya, karena ia termasuk perkara yang layak untuk diriwayatkan secara jelas. Dalil-dalil yang menunjukkan adanya salat isyrAq dipahami sebagai bentuk tabyn al-mujmal, dan bukan sebagai ibadah yang berbeda secara hakikat. KESIMPULAN Berdasarkan analisis sanad dan matan terhadap hadis-hadis yang berkaitan dengan duduk setelah salat Subuh dan salat dua rakaat setelah terbitnya matahari, dapat disimpulkan bahwa riwayat tentang masing-masing amalan secara terpisah adalah tsabit SulaimAn bin al-AsyAoa Al-SijistAni Abu DAwd. Sunan Abi DAwd (Bairt: al-Maktabah alAoAriyyah, n. ), vol. 2, h. 137 | Arfan. Nur Afni A. Salat Isyraq dan Duduk Setelah Salat Subuh: Analisis Hadis tentang Kesahihan dan Praktiknya JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 124-140 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. dan sahih dari Nabi, sedangkan hadis-hadis yang mengaitkan keduanya dalam satu rangkaian dengan keutamaan tertentu masih diperselisihkan karena sebagian besar sanadnya lemah. Dengan demikian, duduk setelah salat Subuh hingga matahari terbit dan salat dua rakaat setelahnya merupakan dua amalan sunnah yang sahih secara terpisah, namun tidak memiliki dalil kuat yang menjadikannya satu kesatuan ibadah khusus. Salat yang dikenal sebagai salat isyrAq pada hakikatnya adalah salat duha yang dilaksanakan pada awal waktunya, bukan ibadah tersendiri yang berdiri independen dari salat duha. REKOMENDASI Penulis merekomendasikan agar dalam menyikapi amalan duduk setelah salat Subuh dan salat sunnah setelah terbit matahari, setiap penuntut ilmu bersikap moderat dan tidak tergesa-gesa mengingkari suatu amalan selama masih memiliki dasar riwayat yang dapat dipertimbangkan dalam ruang ijtihad ulama. Perbedaan dalam penilaian hadis merupakan bagian dari kelapangan dan hendaknya disikapi dengan ilmiah. Setiap muslim dianjurkan untuk tetap bersemangat mengamalkan kedua amalan ini secara terpisah karena keduanya sahih dan memiliki dasar yang kuat, tanpa harus menetapkan keutamaan khusus yang belum pasti. Para pengajar dan penceramah juga diharapkan menyampaikan amalan ini dengan penjelasan yang seimbang, menunjukkan keutamaannya berdasarkan riwayat yang ada tanpa memaksakan penggabungan antara keduanya apabila tidak ditopang oleh dalil yang sahih. DAFTAR PUSTAKA