JURNAL BASICEDU Volume 9 Nomor 6 Tahun 2025 Halaman 1840 - 1849 Research & Learning in Elementary Education https://jbasic. org/index. php/basicedu Ketidakmerataan Partisipasi Siswa Sekolah Dasar dalam Projek P5: Analisis Literatur Sistematis Sukainah Ibnata Imran1A. Nazwa Fiodela2. Aqillah Nafizah Herly3. Rita Kurnia4 Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas Riau. Indonesia1,2,3 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Riau. Indonesia4 E-mail: sukainah. ibnata3514@student. id1, nazwa. fiodela0366@student. nafizah5318@student. id3 rita. kurnia@lecturer. Abstrak Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. di satu sisi memiliki potensi untuk menumbuhkan kolaborasi, kreativitas, dan kesadaran moral, fakta empiris menunjukkan adanya ketidakmerataan partisipasi siswa dalam pelaksanaannya di tingkat sekolah dasar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesenjangan partisipasi siswa sekolah dasar dalam P5 melalui Systematic Literature Review (SLR) dengan pendekatan berbasis kepustakaan. Sebanyak 26 artikel ilmiah nasional dan internasional yang relevan, diterbitkan antara tahun 2021 hingga 2025, dianalisis untuk mengidentifikasi faktor-faktor struktural, pedagogis, dan sosial yang memengaruhi partisipasi tersebut. Penelitian ini merupakan sintesis pertama yang memetakan disparitas partisipasi siswa sekolah dasar dalam pelaksanaan P5 dari perspektif struktural, pedagogis, dan sosial. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa sekolah dengan fasilitas memadai, kompetensi guru yang kuat dalam pembelajaran berbasis proyek terdiferensiasi, serta dukungan aktif dari orang tua cenderung memiliki keterlibatan siswa yang lebih merata. Sebaliknya, sekolah yang menghadapi keterbatasan sumber daya dan bimbingan guru yang kurang memadai cenderung mengalami tingkat partisipasi yang lebih rendah. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa pelaksanaan P5 yang berkeadilan tidak hanya membutuhkan rancangan kurikulum yang baik, tetapi juga dukungan sistemik bagi guru dan komunitas sekolah. Implikasi dari penelitian ini menekankan pentingnya pengembangan profesional guru secara berkelanjutan, pemerataan sumber daya pendidikan, serta penguatan kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat lokal agar P5 dapat mewujudkan tujuannya secara holistik. Kata Kunci: Kesetaraan. Kolaborasi. Partisipasi siswa. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Siswa sekolah dasar Abstract While the Pancasila Student Profile Strengthening Project (P. has the potential to foster collaboration, creativity, and moral awareness, empirical evidence indicates unequal student participation in its implementation at the elementary school This study aims to analyze the gap in elementary school student participation in P5 through a Systematic Literature Review (SLR) with a library-based approach. A total of 26 relevant national and international scientific articles, published between 2021 and 2025, were analyzed to identify structural, pedagogical, and social factors influencing such participation. This study is the first synthesis to map disparities in elementary school student participation in P5 implementation from structural, pedagogical, and social perspectives. The review results indicate that schools with adequate facilities, strong teacher competencies in differentiated project-based learning, and active parental support tend to have more equitable student engagement. Conversely, schools facing limited resources and inadequate teacher guidance tend to experience lower levels of participation. This gap suggests that equitable implementation of P5 requires not only sound curriculum design but also systemic support for teachers and the school community. The implications of this research emphasize the importance of continuous teacher professional development, equitable distribution of educational resources, and strengthening collaboration between schools, families, and local communities so that P5 can achieve its goals holistically. Keywords: Equality. Collaboration. Student Participation. Pancasila Student Profile Strengthening Project (P. Elementary School Students Copyright . 2025 Sukainah Ibnata Imran. Nazwa Fiodela. Aqillah Nafizah Herly. Rita Kurnia A Corresponding author : Email : sukainah. ibnata3514@student. DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. ISSN 2580-3735 (Media Ceta. ISSN 2580-1147 (Media Onlin. Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1841 Ketidakmerataan Partisipasi Siswa Sekolah Dasar dalam Projek P5: Analisis Literatur Sistematis Ae Sukainah Ibnata Imran. Nazwa Fiodela. Aqillah Nafizah Herly. Rita Kurnia DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. PENDAHULUAN Pendidikan adalah usaha yang disadari dan terencana untuk menciptakan suasana belajar serta proses pembelajaran yang aktif mengembangkan potensi siswa untuk memiliki potensi spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan. Pada umumnya pembelajaran di sekolah berfokus pada penyelesaian materi dan tujuan pembelajaran, sehingga mampu mengembangkan potensi diri mereka, serta membentuk budi pekerti yang baik (Bharoto & Wakhudin, 2. Pada tahun 2020. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membahas rencana strategis untuk pada pembelajaran periode 2021-2024 dan menyebutkan istilah Profil Pelajar Pancasila. Seiring berjalan waktu nama tersebut diganti dengan sebutan P5 alias Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Visi pendidikan Indonesia adalah menciptakan Indonesia yang maju, mandiri dan memiliki kepribadian sendiri melalui pengembangan pelajar yang memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, mandiri, iman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, serta berakhlak mulia, gotong royong dan memiliki kebudayaan yang global (Rahayuningsih, 2021: p. Pada kurikulum merdeka, dengan dukungan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, proyek ini diharapkan dapat menciptakan generasi yang berjiwa kreatif, unggul secara akademik, dan beretika sesuai nilainilai Pancasila. Berjalannya P5 di sekolah jenjang tinggi hingga jenjang rendah menjadi bahan observasi dalam penelitian Berdasarkan hasil telaah oleh beberapa peneliti terdahulu pada jenjang sekolah dasar, ditemukan bahwa partisipasi siswa dalam P5 belum merata khususnya pada partisipasi gotong royong. Idealnya, seluruh peserta didik berpartisipasi aktif dalam setiap tahapan proyek, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga Partisipasi aktif ini menjadi indikator penting keberhasilan proyek berbasis karakter, karena nilai-nilai Pancasila hanya dapat tertanam melalui keterlibatan langsung dalam proses belajar yang kolaboratif. Akan tetapi, berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi siswa dalam P5 belum merata. Analisis kesenjangan . ap analysi. menunjukkan disparitas. hasil penelitian memperlihatkan keberhasilan P5 yang tinggi di sekolah unggulan, berbanding terbalik dengan keterbatasan pelaksanaan dan rendahnya tingkat partisipasi di daerah kurang sumber daya. Fenomena ini tampak dari adanya perbedaan tingkat keaktifan antar siswa dalam satu kelas maupun antar sekolah, serta perbedaan dalam pelaksanaan tema proyek yang menonjolkan dominasi kelompok tertentu (Widaningsih. Syobar, & Puspita, 2. Ketidakmerataan partisipasi siswa tersebut dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor, seperti kemampuan komunikasi, dukungan guru, perbedaan latar belakang sosial-ekonomi, kepercayaan diri, hingga pola manajemen proyek yang diterapkan oleh sekolah atau instansi. Selain itu, kesiapan guru dalam mengelola proyek berbasis karakter turut memberi dampak sejauh mana siswa dapat dilibatkan secara optimal. Menurut Solfiah. Risma. Kurnia. Zulkifli. Satria, & Eriani . , guru dianggap sebagai komponen penting dalam rangka pencapaian hasil belajar yang maksimal. Dalam beberapa penelitian ditemukan bahwa guru masih berfokus pada penyelesaian produk akhir proyek, sementara proses kolaborasi dan refleksi siswa belum mendapat perhatian yang memadai. Akibatnya, sebagian siswa hanya terlibat secara pasif, bahkan sekadar mengikuti arahan tanpa memahami makna dari kegiatan yang dilakukan (Salsabila. Fithri, & Berlian, 2. Permasalahan ketidakmerataan partisipasi ini menjadi penting untuk dikaji lebih dalam, mengingat tujuan utama P5 bukan sekadar menghasilkan proyek, tetapi membangun karakter dan keterampilan abad ke-21 melalui pengalaman langsung. Apabila partisipasi tidak merata, maka nilai-nilai seperti gotong royong, tanggung jawab, dan kemandirian yang diharapkan tumbuh dalam diri siswa tidak akan tercapai secara optimal. Uraian tentang pentingnya penelitian ini dikuatkan dengan dasar teoritis dari literatur internasional, khususnya konsep educational equity dan participation parity (UNESCO, 2. yang menekankan bahwa setiap siswa harus memiliki kesempatan yang adil untuk berpartisipasi penuh dalam proses pendidikan. Teori ini juga menyampaikan penekanan akan pentingnya kesetaraan akses, proses, dan hasil dalam pendidikan. Dalam konteks Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. , teori ini menjelaskan bahwa partisipasi siswa yang Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1842 Ketidakmerataan Partisipasi Siswa Sekolah Dasar dalam Projek P5: Analisis Literatur Sistematis Ae Sukainah Ibnata Imran. Nazwa Fiodela. Aqillah Nafizah Herly. Rita Kurnia DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. merata merupakan indikator utama tercapainya pendidikan yang inklusif dan berkeadilan. Prinsip ini menuntut agar setiap siswa memperoleh dukungan sesuai kebutuhannya agar dapat berpartisipasi penuh dalam proses Dalam konteks P5, teori ini relevan untuk menjelaskan ketidakmerataan partisipasi siswa sebagai bentuk ketidakadilan pendidikan yang perlu diatasi melalui kebijakan dan praktik pedagogis yang lebih inklusif. Dalam teori Fraser . juga dikatakan bahwa. AuKeadilan tercapai jika setiap individu memiliki kondisi yang memungkinkan mereka berpartisipasi sebagai mitra yang setaraAy. Kata AuKeadilanAy bukan merujuk pada hasil akhir, tetapi proses social yang memungkinkan setiap individu bekerja secara setara. Ketimpangan dalam partisipasi muncul ketika terdapat hambatan dalam bentuk ketimpangan distribusi sumber daya . , kurangnya pengakuan terhadap identitas tertentu . , serta keterbatasan ruang representasi dalam pengambilan keputusan . Dalam konteks pendidikan, teori ini memberikan kerangka untuk memahami bahwa partisipasi siswa yang tidak merata merupakan manifestasi dari ketidakadilan sosial di ruang belajar. Oleh sebab itu, perlu dilakukan telaah sistematis terhadap hasil-hasil penelitian yang telah ada guna memperoleh gambaran menyeluruh mengenai faktor penyebab, pola keterlibatan siswa, serta strategi yang telah diterapkan untuk mengatasi ketimpangan partisipasi dalam pelaksanaan P5 di sekolah (Nabila. Habibah. Nanda. Humaira. Mutmainah, & Pratiwi, 2. Kajian sistematis (Systematic Literature Review atau SLR) dipilih dalam penelitian ini karena memungkinkan peneliti untuk menelusuri, mengumpulkan, dan menganalisis berbagai publikasi ilmiah yang relevan secara terstruktur dan objektif. Pendekatan ini tidak hanya memetakan temuan-temuan utama dari penelitian sebelumnya, tetapi juga mengidentifikasi kesenjangan penelitian . esearch ga. yang masih perlu Sementara penelitian sebelumnya banyak membahas implementasi P5 secara umum, kontribusi kebaruan . penelitian ini adalah fokus pada ketimpangan partisipasi siswa antar-konteks sekolah dasar dan memetakannya berdasarkan faktor struktural, pedagogis, dan sosial melalui pendekatan SLR. Melalui SLR, penelitian ini akan menghimpun sumber-sumber ilmiah dari berbagai jurnal nasional terakreditasi maupun internasional yang membahas implementasi P5, dengan fokus utama pada partisipasi siswa sekolah dasar (Ramadhan. Latifah. Anam, & Supriyanto, 2. Dalam konteks teoretis, partisipasi siswa dapat dipahami sebagai keterlibatan aktif individu dalam kegiatan pembelajaran yang memberikan ruang untuk berpendapat, bekerja sama, dan bertanggung jawab terhadap proses serta hasil belajar. Teori partisipasi dalam pendidikan menjelaskan bahwa keterlibatan aktif siswa akan meningkatkan rasa memiliki terhadap proses pembelajaran dan mendorong terbentuknya karakter Oleh karena itu, pemerataan partisipasi bukan hanya persoalan teknis pelaksanaan proyek, melainkan juga persoalan pedagogis yang berkaitan dengan keadilan dan kesempatan belajar (Rahmania. Zulaiha, & Oktori, 2. Berbagai penelitian terdahulu menunjukkan variasi dalam implementasi P5. Sebagian besar sekolah telah melaksanakan proyek dengan tema-tema kontekstual seperti gaya hidup berkelanjutan, kearifan lokal, dan kewirausahaan, namun masih ditemukan perbedaan kualitas pelaksanaan antar sekolah. Dalam beberapa kasus, siswa yang memiliki kemampuan akademik tinggi cenderung lebih dominan dalam proses perencanaan dan presentasi, sedangkan siswa dengan karakter lebih pendiam atau kurang percaya diri hanya berperan sebagai pelaksana teknis. Selain itu, kurangnya bimbingan guru dalam proses refleksi menyebabkan sebagian siswa tidak memahami nilai karakter yang ingin dicapai dari kegiatan tersebut (Ramadani. Sakina. Zendrato. Putri, & Sitepu, 2. Fenomena tersebut memperkuat pentingnya evaluasi terhadap sejauh mana proyek P5 benar-benar memberikan kesempatan partisipasi yang merata kepada seluruh siswa. Ketidakmerataan partisipasi bisa berdampak pada kesenjangan pengalaman belajar, sehingga tujuan pembentukan Profil Pelajar Pancasila tidak dapat diwujudkan secara menyeluruh. Melalui kajian sistematis ini, peneliti berupaya mengidentifikasi pola umum dari hasil penelitian terdahulu, menelaah faktor-faktor yang menghambat pemerataan partisipasi, serta Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1843 Ketidakmerataan Partisipasi Siswa Sekolah Dasar dalam Projek P5: Analisis Literatur Sistematis Ae Sukainah Ibnata Imran. Nazwa Fiodela. Aqillah Nafizah Herly. Rita Kurnia DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. merumuskan rekomendasi konseptual bagi peningkatan kualitas pelaksanaan P5 di tingkat sekolah dasar (Khotrunada & Widiyanah, 2. Dengan demikian, penelitian ini memiliki urgensi untuk memberikan gambaran ilmiah yang komprehensif mengenai implementasi P5 dari perspektif partisipasi siswa. Kajian ini juga diharapkan dapat memperkaya literatur mengenai pembelajaran berbasis proyek dan pendidikan karakter di Indonesia. Selain itu, hasil analisis sistematis dapat menjadi acuan bagi guru, kepala sekolah, maupun pengambil kebijakan dalam merancang strategi pelaksanaan P5 yang lebih inklusif dan partisipatif (Tasya. Ratomi, & Poniam, 2. Berdasarkan seluruh uraian yang disajikan, penelitian ini mengidentifikasi fokus permasalahannya pada dua aspek penting, yang dirumuskan untuk menggali: . Apa saja faktor-faktor penyebab ketidakmerataan partisipasi siswa dalam pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. di sekolah dasar, serta . Bagaimana strategi yang ditemukan dalam berbagai penelitian dapat diterapkan untuk meningkatkan pemerataan partisipasi siswa dalam Projek P5. Sejalan dengan perumusan masalah tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab ketidakmerataan partisipasi siswa dalam pelaksanaan P5 dan menganalisis strategi efektif yang ditawarkan dalam berbagai hasil penelitian terdahulu untuk meningkatkan pemerataan keterlibatan siswa secara keseluruhan. Secara teoretis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memperluas pemahaman mengenai dinamika partisipasi siswa dalam konteks pembelajaran berbasis proyek karakter. Sedangkan secara praktis, penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pendidik dan pembuat kebijakan dalam mengembangkan model pelaksanaan P5 yang lebih adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada pemerataan partisipasi siswa di sekolah dasar (Liza, 2. METODE Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan pendekatan studi Pemilihan metode ini didasarkan pada tujuan penelitian yang berfokus untuk menelaah secara mendalam berbagai hasil penelitian terdahulu mengenai ketidakmerataan partisipasi siswa sekolah dasar dalam pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Pendekatan studi pustaka memungkinkan peneliti untuk menghimpun, mengevaluasi, dan mensintesis data dan temuan dari berbagai sumber ilmiah secara sistematis, sehingga dapat memberikan pemahaman yang menyeluruh tentang faktor-faktor yang memengaruhi tingkat partisipasi siswa dalam program tersebut. Sumber data dalam penelitian ini berasal dari artikel ilmiah, jurnal terakreditasi nasional dan internasional, prosiding seminar, serta laporan penelitian yang relevan dengan topik kajian. Data diperoleh melalui penelusuran literatur pada beberapa basis data utama seperti Google Scholar. DOAJ. Garuda, dan Sinta. Artikel yang dipilih dibatasi pada publikasi antara tahun 2021 hingga 2025 untuk memastikan bahwa data yang dianalisis mencerminkan kondisi terkini implementasi P5 di sekolah dasar. Proses penelitian diawali dengan identifikasi fokus permasalahan yang menitikberatkan pada isu ketidakmerataan partisipasi siswa dalam implementasi P5. Setelah itu, dilakukan pencarian literatur dengan menggunakan kata kunci seperti Aupartisipasi siswaAy. AuProjek Penguatan Profil Pelajar PancasilaAy. AuketidakmerataanAy, dan Ausekolah dasarAy. Dari hasil penelusuran awal diperoleh sebanyak 60 artikel ilmiah yang berpotensi relevan dengan topik penelitian. Seluruh artikel tersebut kemudian diseleksi melalui tahapan penyaringan judul, abstrak, dan isi teks untuk menentukan kesesuaiannya dengan fokus penelitian. Alur seleksi artikel dilakukan secara bertahap menyerupai Model PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyse. untuk menjamin transparansi dan keterulangan proses. Kriteria inklusi ditetapkan bagi karya ilmiah yang membahas secara eksplisit partisipasi siswa dalam kegiatan proyek P5, pelaksanaan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila di sekolah dasar, serta permasalahan yang berkaitan dengan ketidakmerataan, keterlibatan, atau kesenjangan partisipasi. Sementara itu, artikel yang tidak relevan dengan konteks pendidikan dasar atau tidak menyajikan data empiris mengenai partisipasi siswa dikeluarkan dari proses analisis. Setelah proses seleksi yang ketat, diperoleh 26 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan dijadikan sumber utama dalam analisis. Artikel yang memenuhi Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1844 Ketidakmerataan Partisipasi Siswa Sekolah Dasar dalam Projek P5: Analisis Literatur Sistematis Ae Sukainah Ibnata Imran. Nazwa Fiodela. Aqillah Nafizah Herly. Rita Kurnia DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. kriteria kemudian dianalisis lebih lanjut melalui proses ekstraksi data, yaitu dengan mencatat informasi penting dari setiap publikasi. Pengelolaan sitasi dan ekstraksi data dibantu oleh perangkat lunak Zotero untuk memastikan konsistensi dan memudahkan manajemen data penelitian. Tahap berikutnya adalah sintesis data. Seluruh hasil temuan penelitian terdahulu dianalisis menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Proses ini dilakukan dengan menafsirkan secara mendalam setiap hasil penelitian dan membandingkannya untuk menemukan pola, kecenderungan, dan perbedaan antar studi. Teknik analisis tematik digunakan untuk mengelompokkan data ke dalam tema-tema utama yang muncul, seperti bentuk partisipasi siswa, faktor-faktor yang menyebabkan ketidakmerataan, peran guru dan lingkungan sekolah, serta strategi peningkatan partisipasi siswa. Analisis tematik ini dilakukan melalui coding manual, dengan fokus pada pengkategorian temuan ke dalam tiga domain utama: struktural, pedagogis, dan sosial-relasional. Setiap tema kemudian dibahas secara naratif agar dapat memberikan gambaran menyeluruh tentang kondisi pelaksanaan P5 di sekolah dasar. Untuk memastikan keterulangan dan keabsahan . penelitian, seluruh tahapan pelaksanaan SLR dijelaskan secara rinci. Peneliti juga melakukan validasi temuan dengan cara membandingkan hasil dari berbagai sumber dan melaksanakan triangulasi data antar penulis . eer checkin. selama proses coding tematik untuk memverifikasi konsistensi kategorisasi. Dengan demikian, penelitian ini menghasilkan sintesis pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Peluang Partisipasi dan Kendala Awal Implementasi Dari wawasan yang diperoleh melalui studi pustaka terhadap berbagai penelitian P5 di tingkat sekolah dasar, ditemukan bahwa siswa SD dalam banyak kasus mendapatkan peluang yang cukup besar untuk memilih tema proyek sesuai minat dan kebutuhan mereka. Misalnya, penelitian Implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. SD Negeri 1 Bantul mengungkap bahwa siswa mempunyai kebebasan memilih tema tema atau isuAaisu sehingga mereka bisa melakukan aksi nyata sesuai isu terkini yang relevan dengan kehidupan (Handoko et al. , 2. Selain itu, dalam studi Analisis Implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dalam Kurikulum Merdeka Siswa Kelas V SDN Sidomulyo Rembang, ditemukan bahwa langkahlangkah proyek seperti identifikasi kebutuhan awal, perencanaan proyek, penjadwalan, evaluasi, dan supervisi dilakukan dengan baik oleh guru dan pihak sekolah (Prasetyo et al. , 2. Namun demikian, tidak semua sekolah mampu melibatkan siswa secara merata. Studi Implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Terhadap Pembelajaran Karakter Pada Siswa Inklusi Di SD Negeri Unggulan Mongisidi I Makassar menunjukkan bahwa meskipun siswa inklusi diberikan ruang untuk ikut dalam P5, terdapat hambatan seperti keterbatasan guru pendamping khusus dan kurangnya fasilitasi teknologi pendukung sehingga peran siswa inklusi masih terbatas (Rosmiati et al. , 2. Selain itu, penelitian di SDN 3 Tanjung tentang implementasi P5 kelas II juga menemukan kendala yang signifikan di tingkat kelas awal, termasuk kendala komunikasi tema proyek dan kesiapan siswa kecil, walaupun secara keseluruhan siswa tetap terlibat dalam berbagai aktivitas proyek (Agustiani et al. , 2. Faktor Dukungan dan Hambatan Eksternal Dimensi karakter yang dikembangkan melalui P5, seperti kemandirian dan kreativitas siswa, terbukti tumbuh optimal ketika guru memberikan stimulus berupa proyek dengan tantangan kontekstual (Nurbani et al. Faktor eksternal . truktural dan relasiona. muncul sebagai penentu signifikan karena sifat P5 yang berbasis proyek kontekstual, yang menuntut adanya sumber daya dan dukungan di luar ruang kelas Dari telaah literatur, dapat dipastikan bahwa keberhasilan penumbuhan karakter dan partisipasi aktif siswa sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal, yang dapat dibagi menjadi dukungan struktural dan relasional. Faktor pendukung . muncul dari kesiapan sekolah dan lingkungan relasional. Secara struktural, dukungan Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1845 Ketidakmerataan Partisipasi Siswa Sekolah Dasar dalam Projek P5: Analisis Literatur Sistematis Ae Sukainah Ibnata Imran. Nazwa Fiodela. Aqillah Nafizah Herly. Rita Kurnia DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. infrastruktur yang memadai dan ketersediaan sumber daya menjadi krusial. Secara relasional, kolaborasi yang kuat antar guru, serta keterlibatan orang tua dan lingkungan rumah, merupakan penentu signifikan dalam mendorong partisipasi. Misalnya, penelitian Implementasi P5 di SD Negeri 4 Banda Aceh menunjukkan bahwa faktor pendukung seperti dukungan infrastruktur, kolaborasi antar guru, dan keterlibatan orang tua memiliki pengaruh kuat terhadap keberhasilan pengembangan karakter mandiri (Ahadiyah & Wisuda, 2. Begitu pula pada penelitian Analisis Implementasi Projek P5 di SDN Sidomulyo Rembang, kegiatan praktis seperti menanam sayuran membantu siswa berpartisipasi aktif, menunjukkan efektivitas dukungan fasilitas kontekstual (Prasetyo et al. , 2. Sebaliknya, hambatan eksternal muncul karena adanya kesenjangan struktural dan pedagogis yang membatasi pemerataan. Hambatan paling dominan adalah kendala fasilitas fisik sekolah dan kurangnya pelatihan guru dalam mendesain proyek yang menantang namun tetap inklusif dan dapat diikuti oleh semua siswa (Ahadiyah & Wisuda, 2. Studi di Sekolah Dasar menunjukkan bahwa kesiapan sekolah menjadi faktor pembatas utama, terutama di daerah dengan sarana minim, di mana keterlibatan orang tua dan kesiapan sekolah menjadi kendala meskipun peningkatan berpikir kritis terjadi (Khairunnisa et al. , 2. Oleh karena itu, ketidakmerataan partisipasi muncul karena siswa di sekolah dengan keterbatasan sumber daya . isik dan non-fisi. cenderung memiliki akses terbatas pada pengalaman proyek yang berkualitas, yang pada akhirnya mengakibatkan partisipasi yang tidak merata atau pasif. Dinamika Gotong Royong dan Dokumentasi Proyek Dimensi gotong royong terbukti cukup berhasil diintegrasikan melalui proyek P5 yang konkret. Contohnya, penelitian oleh Rahayu et al. menunjukkan bahwa penerapan PjBL dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila mampu menumbuhkan nilai gotong royong melalui tiga aspek utama: kolaborasi antar siswa, kepedulian terhadap sesama anggota kelompok, dan kegiatan berbagi pengalaman selama proyek berlangsung . 57Ae. Hasil observasi dan wawancara menunjukkan bahwa siswa lebih aktif berpartisipasi ketika mereka diberi peran konkret dalam tim proyek, sementara partisipasi cenderung menurun ketika proyek bersifat individualistik atau tidak dimonitor secara rutin oleh guru. Selain itu, studi Analisis Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Dalam Menumbuhkan Kesadaran Kebersihan Lingkungan melalui Dimensi Gotong Royong pada Siswa Kelas IV di SD Negeri Tepisari 02 menemukan bahwa proyek lingkungan sederhana yang dilakukan di dalam sekolah mampu memotivasi hampir semua siswa kelas IV untuk ikut dalam aktivitas gotong royong, walaupun beberapa siswa mengalami kesulitan dalam partisipasi karena perbedaan motivasi dan beban tugas rumah (Utami & Mahendra, 2. Pada aspek perencanaan dan pendokumentasian, temuan memperlihatkan bahwa banyak sekolah melaksanakan tahap persiapan dan pelaporan dengan baik, tetapi dokumentasi fisik atau pelaporan akhir proyek masih belum optimal. Contohnya dalam penelitian Evaluasi Program Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. di SD Negeri Ledok 01 Salatiga, pelaksanaan projek melibatkan peserta didik dan guru secara aktif, dan pendokumentasian serta laporan proyek melalui rapor projek dilakukan, meskipun observasi menunjukkan bahwa beberapa dokumen fisik dan laporan akhir aspek projek masih belum lengkap (Aryani & Indarini, 2. Di samping itu, penelitian Implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila SD Negeri 1 Bantul mencatat bahwa aktivitas proyek berlangsung sesuai tema-tema isu kontemporer, tetapi pelaporan hasil dan refleksi siswa kadang terbatas pada diskusi kelas tanpa dilengkapi publikasi atau pameran hasil projek (Handoko et al. , 2. Pembahasan Analisis Komparatif Kesenjangan Partisipasi (Lokal vs. Globa. Masalah ketidakmerataan partisipasi ini bukan hanya tantangan lokal P5, tetapi juga masalah pedagogis yang bersifat global dalam implementasi Project Based Learning (PBL). Banyak pendidik secara internasional menghadapi kesulitan dalam menumbuhkan kolaborasi di antara siswa, termasuk isu terkait "dinamika kelompok, partisipasi yang tidak setara . nequal participatio. , dan kendala waktu" (Yamada, 2. Tantangan Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1846 Ketidakmerataan Partisipasi Siswa Sekolah Dasar dalam Projek P5: Analisis Literatur Sistematis Ae Sukainah Ibnata Imran. Nazwa Fiodela. Aqillah Nafizah Herly. Rita Kurnia DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. ini dapat menciptakan frustrasi bagi guru dan berdampak pada keengganan mereka untuk menerapkan strategi kolaboratif yang inklusif. Penelitian kualitatif tentang persepsi guru di Bangladesh menunjukkan bahwa kompleksitas dan tantangan yang dihadapi guru dalam memfasilitasi kolaborasi meliputi isu penting seperti manajemen waktu . ime managemen. dan tingkat keterlibatan siswa . tudent engagement level. (Hossain & Al Younus, 2. Secara afektif, tantangan di tingkat siswa juga berakar pada kecemasan untuk berbagi ide . nxiety to share idea. dan ketidakpercayaan terhadap rekan tim, yang sering menghambat kontribusi penuh dalam proyek (Marini et al. , 2. Temuan global ini memperkuat kesimpulan bahwa kegagalan pemerataan partisipasi dalam P5 berakar pada kendala pedagogis dan manajemen proyek di tingkat guru, yang menuntut adanya peningkatan kapasitas guru secara spesifik. Memperkuat temuan global tersebut, sintesis literatur P5 menunjukkan bahwa partisipasi siswa di sekolah dasar menunjukkan variasi signifikan antar satuan dan antar kelas. Pada sekolah yang memiliki sarana memadai dan guru yang mampu memfasilitasi proyek kolaboratif, hampir sebagian besar siswa dapat berkontribusi aktif dalam proyek yang relevan dengan konteks (Rahayu et al. , 2. Sementara itu di sekolah dengan keterbatasan fasilitas, beban kerja guru yang tinggi, atau kurangnya pendampingan, hanya sebagian siswa yang benar-benar aktif terlibat. (Handoko et al. , 2. Modifikasi Teori: Dari Kapasitas Menuju Keterlibatan Relasional Dalam kerangka teori, temuan ini konsisten dengan pendekatan Auaccess-motivation-capacityAy dalam studi partisipasi: . akses, yaitu siswa harus memiliki sarana dan waktu untuk ikut proyek. motivasi, yakni adanya dukungan guru, relevansi tema, dan kegairahan siswa. kapasitas, yaitu guru harus memiliki keterampilan mendesain proyek baik dan memfasilitasi kerja tim. Tanpa akses atau kapasitas yang memadai, keinginan . saja tidak cukup untuk keterlibatan yang merata. Namun, dari hasil analisis, muncul kebutuhan untuk memodifikasi teori partisipasi di konteks P5: partisipasi dalam P5 bukan hanya soal keterlibatan aktivitas proyek, tetapi juga soal dimensi sosial-relasional. Artinya, partisipasi sejati terjadi ketika siswa tidak hanya Auterlibat secara fisikAy tetapi juga sebagai anggota tim yang saling mendukung, peduli, dan aktif bertukar gagasan. Oleh karena itu, teori Auaccess-motivation-capacityAy perlu diperluas menjadi Auaccess-motivation-capacity plus relational engagementAy dalam konteks proyek pendidikan karakter seperti P5. Sebagai tambahan, hasil penelitian juga memunculkan teori modifikasi bahwa faktor kebijakan sekolah . ukungan kepala sekolah, alokasi waktu, modul proyek fleksibe. berfungsi sebagai mediator dalam hubungan antara kapasitas guru dan partisipasi siswa. Artinya, kapasitas guru yang tinggi belum serta merta menjamin partisipasi merata jika kebijakan sekolah menghambat, misalnya jika guru tidak diberi waktu atau fasilitas untuk Sehingga, model konseptual yang diusulkan dari penelitian ini adalah: Kebijakan Sekolah memoderasi pengaruh Kapasitas Guru terhadap Partisipasi Siswa dalam proyek P5. Hubungan Antarvariabel dan Implikasi Model Konseptual Analisis menunjukkan bahwa pembentukan nilai gotong royong terwujud melalui aktivitas proyek Artikel oleh (Rahayu et al. , 2. menjelaskan bahwa penggunaan PjBL (Project Based Learnin. dalam pembelajaran Pancasila efektif dalam menumbuhkan tiga elemen inti dari dimensi gotong royong: kolaborasi, kepedulian, dan berbagi. Peneliti memperoleh temuan ini melalui observasi kelas, wawancara dengan guru dan siswa, serta dokumentasi proses proyek. Dalam praktik proyek, siswa bekerja dalam tim, saling membantu ketika menemui kesulitan, dan berbagi pengalaman atau ide agar anggota tim lebih produktif (Rahayu et al. , 2. Lebih jauh, temuan-temuan lain dalam literatur mendukung bahwa keterbatasan sumber daya fisik dan non-fisik menjadi hambatan utama pemerataan partisipasi. Misalnya, studi di SD Negeri 64/IV Kota Jambi mencatat bahwa keterbatasan ruang kelas, alat pendukung, dan waktu proyek menjadi kendala dalam melibatkan semua siswa secara setara (Wahyuni. Utami. Indriyani. Nabela, 2. Metode Systematic Literature Review (SLR) memungkinkan identifikasi tren dan pola dari banyak penelitian, tetapi temuan spesifik Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1847 Ketidakmerataan Partisipasi Siswa Sekolah Dasar dalam Projek P5: Analisis Literatur Sistematis Ae Sukainah Ibnata Imran. Nazwa Fiodela. Aqillah Nafizah Herly. Rita Kurnia DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. eperti keterlibatan gotong royong melalui PjBL) diperkuat oleh studi empiris khusus . eperti penelitian oleh (Rahayu et al. , 2. Dengan demikian, pembahasan menggabungkan generalisasi dari literatur luas dan kedalaman wawasan dari studi kasus. Model konseptual yang diusulkan adalah: Kebijakan Sekolah memoderasi pengaruh Kapasitas Guru terhadap Partisipasi Siswa dalam proyek P5. Berdasarkan sintesis seluruh temuan, disimpulkan bahwa model konseptual yang lebih tepat adalah: Kebijakan Sekolah memoderasi pengaruh Kapasitas Guru terhadap Partisipasi Siswa dalam proyek P5. Ini menjelaskan bahwa kapasitas guru yang tinggi belum tentu menjamin partisipasi merata jika kebijakan sekolah menghambat . isalnya, guru tidak diberi waktu atau fasilitas yang memada. Secara keseluruhan, pembahasan ini menegaskan bahwa ketidakmerataan partisipasi siswa dalam P5 disebabkan oleh interaksi kompleks faktor akses, motivasi, kapasitas, dan kualitas relasional antar siswa, dalam bingkai kebijakan sekolah. Oleh karena itu, penelitian ini menyarankan bahwa upaya peningkatan partisipasi merata harus melibatkan intervensi ganda: memperkuat kapasitas guru . elalui pelatihan PjBL, manajemen tim proyek, evaluasi kolaborati. , memperbaiki sarana dan modul fleksibel, serta memastikan bahwa kebijakan sekolah mendukung integrasi proyek dalam jadwal pembelajaran secara realistis. Hal tersebut dapat dijabarkan dalam tiga strategi utama. Pertama, peningkatan kapasitas guru melalui pelatihan desain proyek kolaboratif berbasis konteks lokal dan evaluasi reflektif (Rahayu et al. , 2. Kedua, penguatan kebijakan sekolah yang menyediakan waktu khusus dan dukungan fasilitas agar kegiatan proyek tidak dianggap beban tambahan (Prasetyo et al. , 2. Ketiga, pelibatan komunitas belajar, orang tua, dan lingkungan sekitar untuk menciptakan suasana belajar yang inklusif dan memperluas pengalaman sosial siswa (Ahadiyah & Wisuda, 2. Ketiga strategi ini berfungsi saling melengkapi: kapasitas guru mendorong pelibatan aktif, kebijakan sekolah memberi ruang struktural, dan dukungan lingkungan memperkuat motivasi serta rasa memiliki siswa terhadap proyek yang dijalankan. KESIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa disparitas partisipasi siswa sekolah dasar dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. disebabkan oleh interaksi kompleks antara keterbatasan sumber daya sekolah, kompetensi guru dalam fasilitasi proyek, dan dukungan lingkungan belajar. Meskipun model Project Based Learning (PjBL) terbukti berhasil mendorong kolaborasi dan memperkuat nilai gotong royong, ketidakmerataan tetap terjadi di sekolah yang kekurangan fasilitas dan bimbingan guru yang kurang optimal. Secara teoretis, kajian ini berkontribusi dengan memperluas kerangka partisipasi menjadi access-motivation-capacity plus relational engagement, menegaskan bahwa partisipasi yang merata membutuhkan tidak hanya keterlibatan fisik tetapi juga dimensi sosial-relasional . aling mendukung dan bertukar gagasa. Implikasi praktisnya menekankan perlunya pengembangan profesional guru secara berkelanjutan dan pemerataan sumber daya. Sebagai arah penelitian lanjutan, direkomendasikan untuk melakukan penelitian tindakan empiris guna menguji efektivitas model intervensi peningkatan kapasitas implementasi guru dan mengembangkan kerangka evaluasi P5 yang holistik untuk mengukur proses partisipasi yang merata. UCAPAN TERIMA KASIH Rasa syukur yang sangat besar penulis ucapkan kepada Allah Subhanahu Wa TaAoala untuk semua anugerah dan pemberian-Nya yang membuat penelitian AuKetidakmerataan Partisipasi Siswa Sekolah Dasar dalam Projek P5: Analisis Literatur SistematisAy dapat diselesaikan dengan baik. Penulis juga berterima kasih kepada kedua orang tua kami, selaku pemberi semangat dan dukungan penuh atas karya ilmiah yang kami Tak lupa juga penulis berterima kasih terhadap ibu Prof. Dr. Rita Kurnia. Ed. atas bimbingan dan arahannya dalam penyusunan artikel jurnal ini hingga dapat selesai. Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1848 Ketidakmerataan Partisipasi Siswa Sekolah Dasar dalam Projek P5: Analisis Literatur Sistematis Ae Sukainah Ibnata Imran. Nazwa Fiodela. Aqillah Nafizah Herly. Rita Kurnia DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. DAFTAR PUSTAKA