CAKRAWALA MEDIKA: JOURNAL OF HEALTH SCIENCES https://publikasi. id/inde php/cmj VOL. 01 NO. JUNI HUBUNGAN PARITAS DAN HIPERTENSI PADA KEHAMILAN TERHADAP KEJADIAN ASFIKSIA NEOANTORUM DI RSUD. DR. SOEDJONO SELONG TAHUN 2021 Elza Febriany Kusuma1. Adib Ahmad Shammakh2. Baiq Novaria Rusmaningrum3. Ananta Fittonia Benvenuto4 1,2,3,4 Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar Mataram Email: elzakusuma14@gmail. Received:08-03-2023. Revised: 29-05-2023. Accepted: 20-06-2023 Abstract Neonatal asphyxia is one of the causes of morbidity and mortality in newborns. Neonatal asphyxia is a condition in which the baby cannot breathe spontaneously and regularly. Asphyxia in NTB Province is the second most common cause of neonatal death after LBW. Parity and hypertension in pregnancy can be risk factors for neonatal asphyxia. This study was conducted to determine the relationship between parity and hypertension in pregnancy on the incidence of neonatal asphyxia at the RSUD. Dr. Soedjono Selong in 2021. This study used an observational quantitative analytic method with a cross sectional study research design. The sampling technique used purposive sampling and obtained a sample of 108 respondents. The data collection technique uses a checklist with secondary data. The data obtained were analyzed with the Chi-Square correlation test. The significance value limit is (P-value <0. The results of bivariate analysis based on parity obtained a p-value of 0. -value <0. and based on hypertension in pregnancy a p-value of 0. -value <0. It was found that there was a significant relationship between parity and hypertension in pregnancy with the incidence of neonatal asphyxia at RSUD. Dr. Soedjono Selong in 2021. Keywords : parity, hypertension in pregnancy, asphyxia neonatorum. Abstrak Asfiksia neonatorum merupakan salah satu dari penyebab morbiditas dan mortalitas pada bayi baru lahir. Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi dimana bayi tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur. Asfiksia di Provinsi NTB merupakan penyebab kematian neonatal kedua terbanyak setelah BBLR. Paritas dan hipertensi pada kehamilan dapat menjadi faktor risiko terhadap kejadian asfiksia neonatorum. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan paritas dan hipertensi pada kehamilan terhadap kejadian asfiksia neonatorum di RSUD. Dr. Soedjono Selong tahun 2021. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif analitik observasional dengan desain penelitian cross sectional study. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dan didapatkan sampel sebanyak 108 responden. Teknik pengumpulan data menggunakan Checklist dengan data sekunder. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji kolerasi Chi-Square. Batas nilai signifikasi adalah (P-value < 0,. Hasil analisis bivariat berdasarkan paritas didapatkan nilai p-value 0,016 ( p-value < 0,. dan berdasarkan hipertensi pada kehamilan nilai p-value 0,000 ( p-value < 0,. Didapatkan adanya hubungan yang signifikan antara paritas dan hipertensi pada kehamilan dengan kejadian asfiksia neonatorum di RSUD. Dr. Soedjono Selong tahun 2021. Kata Kunci : paritas, hipertensi, kehamilan, asfiksia neonatorum. E-ISSN 2985-4237 P-ISSN 2985-4. CAKRAWALA MEDIKA: JOURNAL OF HEALTH SCIENCES https://publikasi. id/inde php/cmj PENDAHULUAN Asfiksia neonatorum merupakan salah satu dari penyebab morbiditas dan mortalitas pada bayi baru lahir dan paling sering terjadi pada periode segera setelah lahir dan membutuhkan resusitasi dan intervensi segera (Lubis, 2. Asfiksia merupakan keadaan dimana kandungan oksigen berkurang dan kandungan karbon dioksida yang berlebih akibat adanya gangguan pertukaran gas dan transport oksigen dari ibu ke janin (Batubara, 2. Bayi yang kekurangan oksigen akan mengalami frekuensi nafasnya akan semakin cepat, apabila ini berlangsung lama maka gerakan nafas akan berhenti dan denyut jantung mengalami penurunan. Asfiksia neonatorum ini dapat terjadi pada masa kehamilan, persalinan atau dapat terjadi setelah lahir ( Agustin, 2. Asfiksia diklasifikasikan berdasarkan dari derajat keparahan yakni asfiksia ringan, asfiksia sedang, dan asfiksia berat (Aslam, 2. World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa sekitar 3% dari sekitar 120 juta bayi yang lahir setiap tahun di negara berkembang mengalami asfiksia. Kejadian asfiksia adalah 1-6 per 1000 kelahiran di negara maju dan 510 per 1000 kelahiran di negara berkembang (Gading. Data WHO . dari 120 juta bayi yang dilahirkan, terdapat 3,6 juta bayi . %) yang mengalami asfiksia, dan hampir 1 juta bayi asfiksia . ,78%) yang meninggal. Asfiksia khususnya di Indonesia menurut hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017 menunjukkan bahwa angka kematian neonatal sebesar 15 000 kelahiran hidup (Kemenkes RI. Berdasarkan data profil kesehatan Indonesia tahun 2019 menunjukkan penyebab tertinggi kematian neonatal di Indonesia adalah bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) yaitu sebesar 7. ,3%) dan diikuti oleh bayi baru lahir dengan asfiksia yaitu sebesar 5. ,0%), merupakan penyebab kematian neonatal VOL. 01 NO. JUNI kedua terbanyak setelah BBLR (Kemenkes RI, 2. Di NTB, kasus kematian neonatal tertinggi di Kabupaten Lombok Timur, dimana pada tahun 2014 kasus asfiksia sebanyak 62 kasus diposisi kedua sebagai penyebab kasus kematian neonatal. Berdasarkan data yang ada di Rumah Sakit Umum Daerah R. Dr. Soedjono Selong pada pada tahun 2020 sebanyak 1. 485 kasus, dan pada tahun 2021 yaitu total 2. 233 kasus, peningkatan yang sangat signifikan. Faktor risiko asfiksia neonatorum dikelompokkan menjadi beberapa faktor salah satunya faktor ibu. Faktor ibu antara lain usia ibu, pekerjaan, perdarahan antepartum, anemia serta hipertensi pada kehamilan dan paritas (Fitriana, 2. Paritas ibu sangat mempengaruhi terjadinya asfiksia neonatorum. Paritas merupakan jumlah kehamilan yang memperoleh janin yang dilahirkan. Paritas yang rendah . aritas sat. lebih beresiko karena ibu belum siap secara medis maupun secara Paritas yang tinggi memungkinkan persalinan yang dapat menyebabkan terganggunya transport O2 dari ibu ke janin (Wulandari, 2. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Wahyuni mengenai Hubungan Faktor Ibu Dengan Kejadian Asfiksia Di Rsud Kota Bogor, didapatkan bahwa tidak ada hubungan antara jumlah paritas ibu dengan kejadian asfiksia (Wahyuni, 2. Hal tersebut tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Elvina, bahwa ada hubungan antara paritas dengan kejadian asfiksia (Vina, 2. Selain berpengaruh terhadap terjadinya asfiksia yaitu akibat hipertensi yang dialami ibu selama kehamilan. Hipertensi dalam kehamilan adalah kenaikan tekanan darah yang terjadi saat kehamilan berlangsung dan biasanya pada bulan terakhir kehamilan atau lebih setelah 20 minggu usia kehamilan pada wanita yang sebelumnya normotensif, tekanan darah mencapai nilai 140/90 E-ISSN 2985-4237 P-ISSN 2985-4. 156 CAKRAWALA MEDIKA: JOURNAL OF HEALTH SCIENCES https://publikasi. id/inde php/cmj mmHg. Di Indonesia, hipertensi kehamilan masih merupakan salah satu penyebab kematian ibu berkisar 15% sampai 25%, sedangkan kematian bayi antara 45% sampai 50% (Anggraini, 2. Hipertensi meningkatknya tekanan darah disebabkan oleh meningkatnya hambatan pembuluh darah perifer akan mengakibatkan sirkulasi utero-plasenta kurang baik. Vasokonstriksi pembuluh darah mengakibatkan kurangnya suplai darah ke plasenta, gangguan pertukaran gas antara oksigen dan asfiksia neonatorum (Agustin et al. , 2. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Gilang et al. , menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara hipertensi pada kehamilan dengan kejadian asfiksia Hal tersebut tidak sejalan karena pada penelitian yang dilakukan Dita et al. , mengatakan bahwa terdapat hubungan antara hipertensi dalam kehamilan dengan kejadian asfiksia (Dita et , 2. Asfiksia yang berlangsung terlalu lama dapat menimbulkan perdarahan otak, (Nurjayanti, 2. Dampak lebih buruk dari asfiksia bisa mengancam jiwa ibu dan bayi itu sendiri (Handayani, 2. Tingginya kasus asfiksia di Rumah Sakit Umum Dr. Soedjono Selong dari tahun 2020 yaitu 1. 485 menjadi 2233 kasus pada tahun 2021 yang memperlihatkan bahwa terjadinya peningkatan yang signifikan satu tahun terakhir. Berdasarkan dari data dan penjelasan tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang AuHubungan Paritas dan Hipertensi Pada Kehamilan Terhadap Kejadian Asfiksia Neonatorum di Rumah Sakit Umum Dr. Soedjono Selong Tahun 2021Ay METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif analitik observasional dengan rancangan penelitian yang VOL. 01 NO. JUNI digunakan adalah cross sectional study. Penelitian ini dilakukan di RSUD. Dr. Soedjono Selong. Lombok Timur. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang melahirkan di RSUD. Dr. Soedjono Selong Tahun 2021. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Sampel yang diperoleh menggunakan rumus Slovin sebanyak 108 responden. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan instrumen penelitian berupa rekam medis. Data yang menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat dengan computer software yaitu Software Statistical Package for The Social Sciences Version 24 (SPSS v. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Tabel 1. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Usia Frekuensi < 20 tahun Persentase (%) 20-35 tahun >35 tahun Total Berdasarkan tabel di atas, dari 108 sampel, didapatkan responden dengan usia < 20 tahun berjumlah 10 orang . 3%), usia 2035 tahun berjumlah 66 orang . 1%), dan usia > 35 tahun berjumlah 32 orang . Tabel 2. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Pendidikan Frekuensi Persentase (%) SMA SMP Tidak sekolah Total E-ISSN 2985-4237 P-ISSN 2985-4. CAKRAWALA MEDIKA: JOURNAL OF HEALTH SCIENCES https://publikasi. id/inde php/cmj VOL. 01 NO. JUNI Berdasarkan data yang diperoleh dari 108 responden berdasarkan tingkat pendidikan didapatkan responden Perguruan tinggi berjumlah 16 orang. 8%). SMA berjumlah 27 orang . 0%). SMP berjumlah 28 orang . 9%). SD berjumlah 34 orang . dan tidak sekolah berjumlah 3 orang . 8%). Tabel 3. Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan Berdasarkan data yang diperoleh dari 108 sampel, didapatkan responden dengan paritas berisiko yaitu berjumlah 70 orang . dan paritas tidak berisiko berjumlah 38 orang . 2%). Tabel 5. Analisis Univariat Berdasarkan Kejadian Hipertensi Pekerjaan Frekuensi PNS Wiraswata Petani IRT Total Hipertensi Tidak Hipertensi Total Persentase (%) Berdasarkan data yang diperoleh dari 108 sampel, didapatkan responden dengan pekerjaan PNS berjumlah 8 orang . 4%), Wiraswasta berjumlah 8 orang . 4%), Petani berjumlah 7 orang . 5%) dan Ibu rumah tangga (IRT) berjumlah 85 orang . 7%). Tabel 4. Analisis Univariat Berdasarkan Paritas Paritas Frekuensi Persentase (%) Berisiko Tidak Beresiko Total Hipertensi Frekuensi Persentase (%) Berdasarkan data yang diperoleh dari 108 mengalami hipertensi pada kehamilan berjumlah 41 orang . 0%), dan yang tidak mengalami hipertensi pada kehamilan berjumlah 67 orang . 0%). Tabel 6. Analisis Univariat Berdasarkan Kejadian Asfiksia Asfiksia Frekuensi Persentase (%) Asfiksia Tidak Asfiksia Total Berdasarkan data yang diperoleh dari 108 sampel, didapatkan bayi yang mengalami asfiksia berjumlah 54 bayi . 0%), dan bayi yang mengalami asfiksia berjumlah 54 bayi . 0%). Tabel 1. Analisis Bivariat Paritas Dengan Asfiksia Neonatorum Paritas Asfiksia Ne natorum Asfiksia Berisiko 0,016 Tidak Beresiko 57% 1. E-ISSN 2985-4237 P-ISSN 2985-4. CAKRAWALA MEDIKA: JOURNAL OF HEALTH SCIENCES https://publikasi. id/inde php/cmj VOL. 01 NO. JUNI Berdasarkan hasil analisis bivariat dari 108 sampel, didapatkan ibu dengan paritas berisiko yang melahirkan bayi dengan asfiksia sebanyak 41 orang . 9%) dan ibu dengan paritas berisiko yang melahirkan bayi yang tidak asfiksia sebanyak 29 orang . 7%). Sedangkan ibu dengan paritas yang tidak berisiko yang melahirkan bayi asfiksia sebanyak 13 orang . 1%) dan ibu dengan paritas yang tidak berisiko yang melahirkan bayi tidak asfiksia sebanyak 25 orang . 3%). Berdasarkan hasil analisis bivariat yang dilakukan pada 108 sampel dengan uji Chi Square, didapatkan P-value = 0,016 (Pvalue < 0,. yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara paritas terhadap kejadian asfiksia neonatorum di RSUD Dr. Soedjono Selong Tahun 2021 Tabel 2. Analisis Bivariat Tekanan Darah Dengan Asfiksia Neonatorum Asfiksia Neonatorum Hipertensi Hipertensi Tidak Hipertensi Asfiksia Tidak Asfiksia Total Berdasarkan hasil analisis bivariat dari 108 sampel, didapatkan ibu yang mengalami hipertensi pada kehamilannya yang melahirkan bayi dengan asfiksia sebanyak 36 orang . 7%) dan ibu yang mengalami hipertensi pada kehamilannya yang melahirkan bayi tidak asfiksia sebanyak 5 orang . 3%). Sedangkan ibu yang tidak mengalami hipertensi pada kehamilan yang melahirkan bayi asfiksia sebanyak 18 orang . 3%) dan ibu yang tidak mengalami hipertensi pada kehamilannya yang melahirkan bayi tidak asfiksia sebanyak 49 orang . 7%). Pada uji Chi Square, didapatkan P-value = 0,000 (P-value < 0,. yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara hipertensi pada kehamilan terhadap kejadian asfiksia neonatorum di RSUD Dr. Soedjono Selong Tahun 2021. P-Value 0,000 30 % 1. Pembahasan Penelitian mengetahui hubungan paritas dan hipertensi pada kehamilan terhadap kejadian asfiksia neonatorum di RSUD. Dr. Soedjono Selong Tahun 2021. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan rancangan penelitian yang digunakan adalah cross sectional study. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan Sampel yang diperoleh menggunakan rumus Slovin sebanyak 108 responden. Cara kerja pada penelitian ini adalah sebelum melakukan penelitian, peneliti melakukan pengambilan sampel dengan cara purposive sampling sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan oleh peneliti. E-ISSN 2985-4237 P-ISSN 2985-4. CAKRAWALA MEDIKA: JOURNAL OF HEALTH SCIENCES https://publikasi. id/inde php/cmj VOL. 01 NO. JUNI Setelah semua data terkumpul, peneliti melakukan analisis data dengan uji statistik yaitu analisis univariat untuk mendeskripsikan masing-masing variabel dan analisis bivariat untuk mengetahui adanya hubungan antara variabel dependen dan variabel independen. Analisis statistik yang digunakan adalah uji korelasi Chi-Square. tahun dan berdasarkan hasil Uji chi-square didapatkan adanya hubungan antara usia ibu saat melahirkan dengan kejadian asfiksia pada bayi baru lahir. Hal ini juga sejalan dengan penelitian Kurniati . bahwa usia ibu hamil dibawah 20 tahun atau diatas 35 tahun berisiko 1,118 kali melahirkan bayi dengan asfiksia neonatorum (Syarif, 2. Karakteristik responden berdasarkan usia, didapatkan hasil tertinggi yaitu pada responden dengan usia 20-35 tahun. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar usia responden merupakan usia reproduktif dan masa yang dianjurkan bagi seorang wanita untuk hamil dan melahirkan yang aman, karena rahim dan bagian tubuh lainnya sudah benarbenar siap untuk menerima kehamilan, juga pada umur tersebut biasanya wanita sudah merasa siap untuk menjadi ibu (Syarif, 2. Karakteristik responden berdasarkan riwayat pendidikan, didapatkan hasil tertinggi yaitu pada responden yang menempuh pendidikan sampai SD. Putri . mengemukakan bahwa tingkat pendidikan ibu mempengaruhi tingkat pemahaman dan kesadaran ibu hamil tentang pentingnya Ibu yang memiliki tingkat pendidikan rendah, memiliki kemampuan menyerap informasi lebih kecil tentang kesehatan ibu dan janin selama masa kehamilan dibandingkan dengan ibu yang berpendidikan tinggi. Tingkat pendidikan merupakan faktor yang tidak secara langsung meningkatkan risiko kejadian asfiksia Hasil penelitian ini sejalan dengan Syalfina . yang menyatakan bahwa secara statistik terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan ibu dengan kejadian asfiksia neonatorum (Rohana. Kehamilan di bawah usia 20 tahun dapat menimbulkan komplikasi kehamilan dan persalinan termasuk lahirnya bayi dengan Hal ini disebabkan karena wanita yang hamil muda belum bisa memberikan suplai makanan dengan baik dari tubuhnya ke janin di dalam rahimnya. Pada usia muda organ-organ reproduksi seorang wanita belum sempurna secara keseluruhan dan belum siap secara mental menjadi ibu dan menerima Kehamilan di usia tua . i atas 35 tahu. akan menimbulkan kecemasan terhadap kehamilan dan persalinan serta alat-alat reproduksi serta kondisi kondisi fisik ibu sudah mengalami kemunduran dalam menjalankan fungsinya sehingga dapat meningkatkan Selain itu, pada usia tua dapat terjadi insufisiensi plasenta sehingga nutrisi dan oksigen untuk janin tidak bisa disalurkan secara optimal oleh plasenta, yang mengakibatkan janin dalam uterus bisa mengalami hipoksia dan berlanjut menjadi asfiksia neonatorum. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rosi Kurnia Sugiharti . didapatkan bayi asfiksia sebagian besar terjadi pada ibu yang memiliki usia beresiko yaitu < 20 dan >35 Karakteristik pekerjaan, didapatkan hasil tertinggi yaitu responden sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT). Pekerjaan merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko kejadian asfiksia Aktivitas yang dilakukan ibu hamil dapat mempengaruhi kerja otot dan peredaran darah. Peredaran darah dalam tubuh ibu hamil mengalami perubahan seiring dengan bertambahnya usia kehamilan akibat adanya tekanan dari pembesaran rahim. Semakin bertambahnya usia kehamilan semakin bertambah beban kerja jantung dalam rangka memenuhi kebutuhan selama proses Wanita pekerja pada saat hamil tetap boleh bekerja seperti biasa akan tetapi harus sering beristirahat seiring dengan pertambahan umur kehamilan. Kerja fisik pada E-ISSN 2985-4237 P-ISSN 2985-4. 160 CAKRAWALA MEDIKA: JOURNAL OF HEALTH SCIENCES https://publikasi. id/inde php/cmj saat hamil yang terlalu berat dan terlalu lama melebihi 3 jam perhari dapat berakibat Kelelahan menyebabkan lemahnya korion amnion sehingga timbul ketuban pecah dini yang pada kondisi ini juga berkaitan dengan kejadian asfiksia neonatorum (Syalfina, 2. Analisis univariat berdasarkan paritas, didapatkan hasil tertinggi yaitu pada responden dengan paritas yang beresiko. Paritas menunjukan jumlah anak yang pernah dilahirkan viable . oleh seorang ibu. Primipara adalah seorang wanita yang melahirkan janin untuk pertama kali sedangkan multipara adalah wanita yang melahirkan janin lebih dari satu kali. Hasil penelitian Kusmiyati . menunjukkan bahwa primipara merupakan faktor risiko yang mempunyai hubungan kuat terhadap mortalitas asfiksia, sedangkan paritas Ou 4, secara fisik ibu mengalami kemunduran untuk menjalani kehamilan (Syarif, 2. Analisis univariat berdasarkan tekanan darah, didapatkan hasil tertinggi yaitu pada responden yang tidak mengalami hipertensi. Hipertensi Dalam Kehamilan (HDK) adalah suatu keadaan yang ditemukan sebagai komplikasi medik pada wanita hamil dan sebagai penyebab morbiditas dan mortalitas pada ibu dan janin. Secara umum HDK dapat didefinisikan sebagai kenaikan tekanan darah sistolik > 140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik > 90 mmHg yang diukur paling kurang 6 jam pada saat yang berbeda. Hipertensi dapat mempengaruhi janin karena meningkatknya tekanan darah disebabkan oleh meningkatnya hambatan pembuluh darah perifer akan mengakibatkan sirkulasi uteroplasenta Vasokonstriksi pembuluh darah mengakibatkan kurangnya suplai darah ke plasenta, gangguan pertukaran gas antara oksigen dan karbondioksida yang mengakibatkan asfiksia neonatorum (Agustin et al. , 2. VOL. 01 NO. JUNI Analisis univariat berdasarkan apgar score, didapatkan hasil pada bayi yang tidak mengalami asfiksia berjumlah 54 bayi dan bayi yang mengalami asfiksia berjumlah 54 bayi. Hasil tersebut menunjukan bahwa hampir sebagian bayi yang dilahirkan mengalami Asfiksia neonatorum adalah keadaan gawat bayi yang tidak dapat bernafas spontan dan teratur, sehingga dapat meurunkan oksigen dan makin meningkatkan karbon dioksida yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut (Sari 2. Asfiksia dapat terjadi karena komplikasi yang menyertai ibu dan janin selama kehamilan atau selama proses persalinan mengalami gangguan atau tidak (Permatasari, et al. , 2. Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil penelitian dan diolah menggunakan program SPSS 24, hasil analisis Bivariat hubungan paritas terhadap kejadian asfiksia neonatorum menunjukkan nilai P-value 0,016 ( P- value < 0,. yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara paritas terhadap kejadian asfiksia neonatorum di RSUD. Dr. Soedjono Selong tahun 2021. Hal tersebut sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa kehamilan dan persalinan yang mempunyai risiko adalah anak pertama dan anak keempat atau lebih. Ibu yang baru pertama kali melahirkan cenderung mengalami kesulitan dibandingkan dengan ibu yang sudah pernah melahirkan, hal ini disebabkan karena ibu dengan paritas primipara akan mengalami kesulitan saat persalinan karena otot-ototnya masih kaku dan belum elastis sehingga memberikan tahanan yang jauh lebih besar yang akan mempengaruhi lamanya persalinan sehingga menyebabkan bayi mengalami asfiksia. Selain itu, paritas 1 berisiko karena ibu belum siap secara medis . rgan reproduks. maupun secara mental. Sedangkan pada anak keempat atau lebih karena adanya kemunduran daya jaringan yang sudah berulang kali diregangkan kehamilan, sehingga nutrisi yang dibutuhkan janin berkurang, dinding rahim dan dinding perut kendor E-ISSN 2985-4237 P-ISSN 2985-4. CAKRAWALA MEDIKA: JOURNAL OF HEALTH SCIENCES https://publikasi. id/inde php/cmj kekenyalan sudah kurang sehingga dapat memperpanjang proses persalinanan. Hasil penelitian Kusmiyati . menunjukkan bahwa primipara merupakan faktor risiko yang mempunyai hubungan kuat terhadap mortalitas asfiksia, sedangkan paritas > 4, secara fisik ibu mengalami kemunduran untuk menjalani Keadaan tersebut memberikan predisposisi untuk terjadi perdarahan, plasenta previa, ruptur uteri, dan solusio plasenta yang dapat berakhir dengan terjadinya asfiksia bayi baru lahir (Sukarni, 2. Penelitian yang di lakukan oleh Darmiati et , . di RSIA Sitti Khadijah 1 Makassar yang menunjukkan adanya hubungan antara paritas dengan kejadian asfiksia neonatorum. Penelitian tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan Elvina . menunjukkan ada pengaruh antara paritas dengan kejadian asfiksia neonatorum pada bayi baru lahir. Tetapi hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Wahyuningsih . di Rumah Sakit Islam Surakarta yang menyatakan tidak terdapat hubungan antara paritas dengan kejadian asfiksia neonatorum. Pada penelitian Mardiyaningrum . hasil penelitiannya juga menunjukan tidak ada hubungan paritas dengan kejadian asfiksia neonatorum. Tidak adanya hubungan antara paritas dengan kejadian asfiksia neonatorum pada penelitian tersebut dimungkinkan adanya pengaruh faktor lain yang lebih kuat mempengaruhi kejadian asfiksia neonatorum (Elvina, 2. Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil penelitian dan diolah menggunakan program SPSS 24, hasil analisis Bivariat hubungan hipertensi pada kehamilan terhadap kejadian asfiksia neonatorum menunjukkan nilai P-value 0,000 ( P-value < 0,. yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara hipertensi pada kehamilan dengan kejadian asfiksia neonatorum. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang mengemukakan bahwa hipertensi yang diderita akan mempengaruhi janin karena meningkatknya tekanan darah disebabkan oleh meningkatnya hambatan pembuluh darah perifer akan VOL. 01 NO. JUNI mengakibatkan sirkulasi utero-plasenta kurang baik, keadaan ini menimbulkan gangguan lebih berat terhadap insufiensi plasenta dan berpengaruh pada gangguan pertumbuhan janin, gangguan pernafasan (Agustin et al. Hipertensi dapat menyebabkan terjadinya vasokonstriksi pembuluh darah sehingga suplai darah ke plasenta menjadi terganggu dan terjadi hipoksia janin. Hipoksia janin adalah gangguan pertukaran gas antara oksigen dan karbondioksida sehingga terjadi asfiksia neonatorum. Hipoksia janin yang terjadi terus menerus menyebabkan persalinan maupun pasca persalinan beresiko asfiksia ( Agustin et al. , 2. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh anggraini . didapatkan p-value = 0,000, sehingga pvalue (<0,. yang menyatakan ada hubungan antara hipertensi pada ibu bersalin dengan kejadian asfiksia pada bayi baru lahir di RSUD Dr. Abdul Moeloek Bandar Lampung Tahun 2014 (Agustin et al. , 2. Tetapi hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Sri Wahyuni et al. bahwa dari hasil P value sebesar 1,000 lebih besar dari 0,05 yang berarti tidak ada hubungan antara hipertensi dalam kehamilan dengan kejadian asfiksia (Agustin et al. , 2. PENUTUP Simpulan Berdasarkan hasil penelitian hubungan paritas dan hipertensi pada kehamilan terhadap kejadian asfiksia neonatorum di RSUD. Dr. Soedjono Selong Tahun 2021 dengan jumlah sampel 108, maka dapat disimpulkan bahwa : Berdasarkan hasil analisis karakteristik responden, sebagian besar usia ibu pada rentang usia 20-35 tahun sebanyak 66 orang . 6%) , pendidikan ibu sebagian besar adalah SD yaitu sebanyak 34 orang . ,5%), pekerjaan ibu sebagian besar adalah IRT sebanyak 85 orang . 7%). Ibu RSUD. Dr. Soedjono Selong tahun 2021 berdasarkan paritas didapatkan sebagian E-ISSN 2985-4237 P-ISSN 2985-4. 162 CAKRAWALA MEDIKA: JOURNAL OF HEALTH SCIENCES https://publikasi. id/inde php/cmj besar merupakan paritas yang beresiko yaitu sebanyak 60 orang . 8%). Ibu yang melahirkan di RSUD. Dr. Soedjono Selong tahun 2021 sebagian besar tidak menderita hipertensi yaitu sebanyak 67 orang . 0%). Terdapat hubungan yang signifikan antara neonatorum di RSUD. Dr. Soedjono Selong Tahun 2021 dengan nilai P-value= 0,016 . - value < 0,. Terdapat hubungan yang signifikan antara hipertensi pada kehamilan terhadap RSUD. Dr. Soedjono Selong Tahun 2021 dengan nilai P-value = 0,000 (P-value < 0,. Saran Berdasarkan kesimpulan penelitian di atas, ada beberapa saran yang dapat disampaikan yaitu: Disarankan bagi peneliti selanjutnya, dapat memformulasikan faktor-faktor lainnya sehingga pengaruh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini bisa diketahui secara rinci dan menambah jumlah sampel untuk mengurangi kemungkinan terjadinya Bagi masyarakat umum khususnya ibu, dapat menambah pengetahuan dan wawasan serta dapat menjadi sumber informasi untuk memeriksakan diri apabila memiliki faktor resiko terjadinya asfiksia pada bayi yang akan dilahirkan. DAFTAR PUSTAKA