Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan Volume 4. Nomor 3. Desember 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. DOI: https://doi. org/10. 55606/jurrikes. Available Online at: https://prin. id/index. php/JURRIKES Penatalaksanaan Fisioterapi Dengan Infra Red Dan Chest Physiotherapy Pada Asma Bronchiale Innandita Pertiwi1*. Suci Amanati2 Program Studi Fisioterapi. Universitas Widya Husada. Semarang Email: innanditapertiwi5@gmail. com1*, suci. amanati@uwhs. Alamat: Jl. Subali Raya No. Krapyak. Kec. Semarang Barat. Kota Semarang. Jawa Tengah Korespondensi penulis: innanditapertiwi5@gmail. Abstract. Asthma is a non-communicable lung disease, with symptoms such as shortness of breath, wheezing and repeated coughing. Attacks can last for only a few minutes, hours, days or up to several weeks. The therapy given in this case using Infra red aims to relax the respiratory muscles and also improve blood circulation. Chest physiotherapy includes a nebulizer which aims to deliver drugs in the form of gas that can be inhaled by the patient's respiratory tract. Postural Drainage aims to drain mucus from various segments in the lungs to the larger airways with the help of gravity. Tappotement aims to divert sputum from the lungs. Works This Scientific Writing is a case study, raising patient cases and collecting data through the physiotherapy process. The modality provided is Infra red and Chest physiotherapy. The results showed significant improvements after six therapy Cough intensity decreased from frequent to no cough, while shortness of breath reduced from moderate to none. Auscultation revealed that wheezing and ronchi sounds, initially present in both lungs, eventually Additionally, thoracic expansion improved, and the respiratory rate, initially 32 breaths per minute, decreased to 24 breaths per minute, approaching normal levels. In conclusion the combination of Infrared therapy and Chest physiotherapy is effective in managing Bronchial Asthma, particularly in reducing sputum production, improving thoracic expansion, and normalizing breathing patterns. This therapy can serve as a supportive approach in pediatric physiotherapy for respiratory disorders caused by inflammation and mucus accumulation. Keywords: Bronchial Asthma. Infrared. Chest physiotherapy. Abstrak. Asma merupakan penyakit paru yang tidak menular, dengan gejala berupa serangan sesak, napas berbunyi . dan batuk berulang. Serangan dapat berlangsung hanya selama beberapa menit, jam, hari atau sampai beberapa minggu. Terapi yang diberikan pada kasus ini dengan menggunakan Infra red bertujuan untuk merelaksasikan otot-otot pernapasan dan jugamemperlancar sirkulasi darah. Chest physiotherapy meliputi nebulizer yang bertujuan untuk menghantarkan obat dalam bentuk gas yang dapat dihirup oleh saluran pernapasan Postural Drainage bertujuan untuk mengalirkan mucus dari berbagai segmen dalam paru menuju ke saluran napas yang lebih besar dengan bantuan gravitasi. Tappotement bertujuan untuk mengalihkan sputum dari paru-paru. Karya Tulis Ilmiah ini bersifat studi kasus, mengangkat kasus pasien dan mengumpulkan data melalui proses fisioterapi. Modalitas yang diberikan adalah Infra red dan Chest physiotherapy. Berdasarkan penatalaksanaan fisioterapi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa setelah enam sesi terapi, terjadi perbaikan signifikan pada pasien. Intensitas batuk menurun dari sering sekali menjadi tidak batuk, sementara derajat sesak napas berkurang dari sesak sedang menjadi tidak ada sesak. Pemeriksaan auskultasi menunjukkan suara wheezing dan ronchi yang awalnya terdengar akhirnya menghilang. Selain itu, ekspansi sangkar thoraks meningkat, dan frekuensi pernapasan yang awalnya 32 kali/menit turun menjadi 24 kali/menit, mendekati normal. Kombinasi Infra red dan Chest physiotherapy efektif dalam menangani Asma Bronchiale, terutama dalam mengurangi sputum, meningkatkan ekspansi thoraks, dan menormalkan pola pernapasan. Terapi ini dapat menjadi pendekatan suportif dalam fisioterapi anak dengan gangguan pernapasan akibat inflamasi dan akumulasi sputum. Kata kunci: Asma Bronchiale. Infra red. Chest physiotherapy. LATAR BELAKANG Asma merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menyerang sistem pernapasan dan menjadi permasalahan kesehatan global, baik di negara maju maupun berkembang. Penyakit ini dapat terjadi pada semua kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga orang Received: Juni 13, 2025. Revised: Juni 27, 2025. Accepted: Juni 30, 2025. Online Available: Juli 02, 2025 Penatalaksanaan Fisioterapi Dengan Infra Red Dan Chest Physiotherapy Pada Asma Bronchiale Gejala klinis asma meliputi sesak napas, batuk berulang, dan napas berbunyi . yang bersifat episodik dan dapat berlangsung dari beberapa menit hingga beberapa minggu (Amanati et al. , 2. World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa jumlah penderita asma secara global telah mencapai 300 juta orang dan diproyeksikan meningkat menjadi 400 juta pada Selain itu, sekitar 250. 000 kematian setiap tahunnya disebabkan oleh komplikasi asma, menjadikannya salah satu dari lima besar penyebab kematian di dunia (Nurani et al. Di era modern, penyebab utama asma tidak lagi terbatas pada faktor genetik, melainkan semakin didominasi oleh faktor lingkungan seperti paparan polusi udara, asap rokok, tungau debu, bulu hewan, serta infeksi virus. Gaya hidup tidak sehat, rendahnya aktivitas fisik, dan pola makan buruk turut memperparah angka kejadian, khususnya pada anak-anak dan remaja. Penatalaksanaan asma tidak hanya bergantung pada farmakoterapi, tetapi juga melibatkan intervensi non-farmakologis, termasuk fisioterapi. Fisioterapi merupakan layanan profesional yang bertujuan untuk memelihara dan memulihkan fungsi gerak tubuh melalui pendekatan manual, latihan fisik, serta penggunaan alat mekanik dan elektroterapi (Permenkes. Dalam kasus gangguan respiratori, fisioterapi berperan penting dalam membantu mengurangi obstruksi saluran napas, mengeliminasi sekret, serta meningkatkan efisiensi Beberapa modalitas fisioterapi yang terbukti bermanfaat pada pasien asma bronchiale antara lain terapi Infra red, nebulizer, dan teknik Chest physiotherapy seperti postural drainage dan tappotement. Nebulizer merupakan metode inhalasi yang mengantarkan obat dalam bentuk aerosol ke saluran napas dan banyak digunakan dalam manajemen bronkospasme (Nurani et , 2024. Setiawati, 2. Sementara itu, terapi Infra red menghasilkan efek termal yang menstimulasi vasodilatasi pembuluh darah, meningkatkan aliran darah, mengurangi spasme otot pernapasan, serta membantu relaksasi otot-otot dada (Amin et al. , 2. Teknik postural drainage dan tappotement bertujuan untuk mengeluarkan sekret dari bronkus, memperbaiki ventilasi paru, dan mendukung kerja otot pernapasan (Siregar & Aryayuni, 2019. Hanafi & Arniyanti, 2. Meskipun efektivitas masing-masing modalitas telah banyak diteliti, masih terbatas kajian yang secara spesifik membahas kombinasi Infra red dan Chest physiotherapy dalam konteks penatalaksanaan asma bronchiale, khususnya pada pasien dengan gejala obstruksi dan penumpukan sekret. Oleh karena itu, penting untuk meninjau peran intervensi tersebut sebagai bagian dari upaya komprehensif dalam menangani gejala respiratori. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan Ae VOLUME. NOMOR. 3 DESEMBER 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. Berdasarkan latar belakang tersebut, tulisan ini bertujuan untuk mengkaji penatalaksanaan fisioterapi dengan modalitas Infra red dan Chest physiotherapy pada pasien asma bronchiale sebagai salah satu pendekatan pendukung dalam meningkatkan kualitas KAJIAN TEORITIS Penatalaksanaan berasal dari kata AutataAy yang berarti aturan atau sistem, dan AulaksanaAy yang berarti pelaksanaan atau pengaturan. Dengan demikian, penatalaksanaan dapat diartikan sebagai pengaturan suatu sistem secara sistematis (KBBI, 2. Dalam konteks fisioterapi, pendekatan sistematis ini diwujudkan melalui kombinasi berbagai modalitas terapi untuk mencapai hasil klinis yang optimal, salah satunya dalam manajemen pasien dengan asma Asma bronchiale merupakan penyakit inflamasi kronis pada saluran napas yang ditandai oleh obstruksi jalan napas yang bersifat reversibel dan hiperresponsivitas bronkus terhadap berbagai stimulus (GINA, 2022. Djojodibroto, 2. Proses patologis ini melibatkan spasme otot polos bronkus, edema mukosa, dan hipersekresi mukus akibat aktivasi sistem imun, terutama sel mast dan eosinofil, serta pelepasan mediator inflamasi seperti histamin dan leukotrien (Anas et al. , 2019a. Markiewicz et al. , 2. Secara klinis, hal ini menyebabkan gangguan ventilasi, peningkatan kerja napas, hingga retensi karbon dioksida (Patel, 2. Salah satu pendekatan fisioterapi yang digunakan dalam penatalaksanaan asma adalah terapi Infra red (IR). IR merupakan bentuk energi elektromagnetik dengan panjang gelombang 700Ae4. 000 yI yang bersifat termal (Dentatama, 2. Terapi IR memiliki efek fisiologis berupa peningkatan vasodilatasi, relaksasi otot, dan penurunan nyeri akibat stimulasi reseptor termal dan sirkulasi lokal (Laswati et al. , 2. Dalam konteks asma. IR dapat membantu meredakan spasme otot pernapasan dan meningkatkan perfusi jaringan paru, sehingga berkontribusi pada peningkatan efisiensi pertukaran gas. Selain IR, pendekatan lainnya adalah Chest physiotherapy (CPT), yang mencakup teknik nebulizer, postural drainage, dan tappotement atau clapping (Mustafa & Nahdliyyah, 2. Nebulizer digunakan untuk mengubah obat menjadi partikel aerosol yang langsung terdistribusi ke saluran napas, terutama bronkodilator, yang berfungsi meredakan bronkospasme (Najiah, 2. Postural drainage dilakukan dengan menempatkan pasien dalam posisi tertentu agar sputum dapat berpindah dari perifer ke saluran napas utama. Penatalaksanaan Fisioterapi Dengan Infra Red Dan Chest Physiotherapy Pada Asma Bronchiale Sementara itu, tappotement adalah teknik perkusi ritmis pada dinding dada yang merangsang mobilisasi sputum agar mudah dikeluarkan. Struktur sistem pernapasan manusia terdiri dari saluran napas atas . idung, faring, larin. dan bawah . rakea, bronkus, alveol. , serta didukung oleh otot pernapasan utama seperti diafragma dan otot interkostal eksternal (Rohman, 2015. Decramer, 2016. Crilly et al. , 2. Mekanisme respirasi normal terdiri dari fase inspirasi, yang dipicu oleh kontraksi diafragma dan otot interkostal sehingga menurunkan tekanan alveolar dan menarik udara ke paru-paru, dan fase ekspirasi, yang bersifat pasif akibat relaksasi otot dan elastisitas jaringan paru (Malik. Namun, pada pasien asma, terjadi peningkatan resistensi saluran napas sehingga proses ekspirasi menjadi tidak efisien, menyebabkan air trapping dan peningkatan kerja napas (GINA. Evaluasi terhadap intervensi fisioterapi pada pasien asma dilakukan melalui observasi pola napas, pengukuran ekspansi toraks, dan auskultasi suara napas tambahan seperti wheezing (Herawati & Wahyuni, 2. Salah satu parameter penting adalah perbedaan lingkar toraks saat inspirasi dan ekspirasi yang normalnya lebih dari 3 cm, serta keberadaan penggunaan otot bantu napas. Beberapa penelitian sebelumnya telah meneliti secara terpisah efektivitas IR maupun Chest physiotherapy dalam pengelolaan pasien asma bronchiale. Misalnya. Kuswardani et al. menunjukkan bahwa penggunaan IR dapat mengurangi ketegangan otot pernapasan dan memperbaiki kenyamanan napas pasien. Sementara itu. Mustafa & Nahdliyyah . menyimpulkan bahwa Chest physiotherapy mampu mempercepat mobilisasi sputum dan meningkatkan kapasitas vital paru. Namun, hingga saat ini masih terbatas studi yang menilai dampak sinergis dari kombinasi dua modalitas tersebut dalam satu protokol intervensi Padahal, pendekatan multimodal dalam fisioterapi sangat penting, terutama pada kasus kronik seperti asma bronchiale yang memiliki banyak aspek gangguan, baik obstruksi mekanis, gangguan sekresi, maupun peningkatan tonus otot. Kombinasi IR dan CPT berpotensi memberikan hasil klinis yang lebih baik dibandingkan intervensi tunggal karena mencakup relaksasi otot, peningkatan ventilasi, dan pengeluaran sekret secara simultan. Dengan dasar tersebut, maka penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi efektivitas terapi gabungan Infra red dan Chest physiotherapy terhadap fungsi pernapasan pasien asma bronchiale. METODE PENELITIAN Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan Ae VOLUME. NOMOR. 3 DESEMBER 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus tunggal yang bertujuan mengevaluasi efektivitas penatalaksanaan fisioterapi menggunakan kombinasi Infra red dan Chest physiotherapy . ebulizer, postural drainage, dan tappotemen. pada pasien anak dengan asma bronchiale. Studi ini dilakukan secara longitudinal observasional selama enam hari perawatan fisioterapi di Balkesmas Wilayah Semarang pada bulan Februari 2025. Subjek penelitian adalah seorang anak perempuan berusia 3 tahun 9 bulan yang didiagnosis asma bronchiale oleh dokter spesialis anak. Pemilihan subjek didasarkan pada kriteria inklusi, yaitu: . pasien dengan diagnosis klinis asma bronchiale, . usia 2Ae5 tahun, . tidak memiliki riwayat penyakit jantung, kelainan neuromuskular, atau keterlambatan tumbuh kembang. Sementara itu, kriteria eksklusi adalah pasien dengan kondisi tidak stabil, demam tinggi (>37,5AC), atau riwayat intoleransi terhadap terapi panas atau vibrasi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui pengkajian fisioterapi meliputi anamnesis, observasi, pemeriksaan fisik . nspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultas. , serta pengukuran ekspansi dada menggunakan pita ukur . idline metho. Alat dan prosedur pengukuran ini mengacu pada standar yang digunakan dalam fisioterapi pediatrik (Herawati & Wahyuni. Selain itu, dilakukan juga evaluasi fungsi respirasi menggunakan pengamatan frekuensi napas, auskultasi suara napas tambahan, dan skor intensitas batuk secara klinis setiap hari (T1AeT. Prosedur terapi terdiri dari dua modalitas utama, yaitu Infra red dengan durasi 15 menit pada jarak 45 cm ke dada, serta Chest physiotherapy yang mencakup pemberian nebulizer . ulmicort dan salbutamo. , postural drainage, dan tappotement. Setiap sesi intervensi disesuaikan dengan kondisi pasien dan dilakukan sesuai pedoman praktik fisioterapi anak. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif longitudinal, dengan membandingkan perubahan kondisi pasien dari hari pertama hingga hari ke-6. Evaluasi dilakukan terhadap lima indikator utama, yaitu: . frekuensi batuk, . derajat sesak napas, . frekuensi pernapasan, . suara napas tambahan . heezing dan ronch. , dan . ekspansi sangkar Perubahan parameter dievaluasi untuk mengetahui dampak intervensi fisioterapi secara klinis. Penelitian ini telah memperoleh persetujuan etik institusional dari pihak Balkesmas Wilayah Semarang. Selain itu, telah dilakukan informed consent dari orang tua pasien Penatalaksanaan Fisioterapi Dengan Infra Red Dan Chest Physiotherapy Pada Asma Bronchiale sebelum tindakan fisioterapi dilakukan. Penelitian ini juga mengikuti prinsip etika penelitian anak dan mematuhi protokol keselamatan dalam prosedur intervensi pediatrik. HASIL DAN PEMBAHASAN Pasien An. G, usia 3 tahun 9 bulan, didiagnosis Asma Bronchiale dengan problem fisioterapi meliputi gangguan fungsi dan struktur tubuh berupa batuk terus-menerus, penumpukan sputum di lobus atas paru kanan dan kiri, suara napas abnormal . heezing dan ronch. , sesak napas, serta penurunan ekspansi sangkar thoraks. Hambatan juga ditemukan pada aktivitas harian seperti tidur, makan, dan minum, serta sedikit gangguan partisipasi akibat keluhan yang dirasakan. Intervensi fisioterapi yang diberikan terdiri dari infra red dan Chest physiotherapy berupa nebulizer, postural drainage, dan tappotement. Terapi dilakukan selama 6 sesi pada tanggal 6Ae12 Februari 2025. Berikut hasil evaluasi yang telah dicapai oleh pasien setelah dilakukan tindakan fisioterapi hingga 6 kali kunjungan terapi. Evaluasi Intensitas Batuk dengan Inspeksi Hasil evaluasi intensitas batuk dengan inspeksi setelah dilakukan 6 kali kunjungan terapi didapatkan bahwa intensitas batuk pasien menjadi berkurang. Intensitas batuk pasien menjadi berkurang karena jumlah sputum di dalam saluran napas pasien yang Berkurangnya sputum disebabkan karena adaya upaya pembersihan jalan napas Berikut merupakan tabel evaluasi intensitas batuk. Tabel. 1 Evaluasi Intensitas Batuk Kunjungan Tanggal 6 Februari 2025 7 Februari 2025 8 Februari 2025 10 Februari 2025 11 Februari 2025 12 Februari 2025 Skor Intensitas Batuk* Keterangan Sering sekali Sering Sering Jarang-jarang Jarang-jarang Tidak batuk Postural drainage adalah teknik manual untuk mengalirkan sekret dari paru ke saluran napas atas melalui pengaturan posisi sesuai segmen paru. Terapi ini efektif membantu Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan Ae VOLUME. NOMOR. 3 DESEMBER 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. membersihkan jalan napas dan menurunkan frekuensi batuk (Gerhanawati et al. , 2023. Maesaroh & Nahdhliyyah, 2023. Fitriananda, 2. Evaluasi Derajat Sesak Napas dengan Inspeksi dan Respiratory Rate Setelah dilakukan tindakan fisioterapi sebanyak 6 kali kunjungan terapi, didapatkan hasil evaluasi berupa pengurangan tingkat sesak napas yang dirasakan oleh pasien yang ditinjau dari jumlah respiratory rate dan inspeksi. Sesak napas berkurang karena pemberian terapi nebulizer dan infra red. Berikut merupakan grafik evaluasi sesak napas. Respiratory Rate Grafik. 1 Evaluasi Sesak Napas Terapi nebulizer bertujuan mengurangi spasme bronkial dan mengencerkan sekret dengan mengubah obat cair menjadi uap yang mudah dihirup, sehingga membantu membersihkan jalan napas (Putri & Soemarno, 2015. Kuswardani et al. , 2017. Amanati et , 2. Kandungan Salbutamol dan Ipratropium Bromide berfungsi sebagai bronkodilator dan mukolitik, meskipun memiliki efek samping yang perlu diperhatikan. Nebulisasi terbukti efektif menurunkan sesak napas pada pasien gangguan paru (NaAoima & Prasetya, 2. Sementara itu, infrared bekerja melalui efek termal yang meningkatkan vasodilatasi dan aliran darah, membantu mengurangi spasme otot pernapasan dan meningkatkan relaksasi otot (Kuswardani et al. , 2017. Prodyanatasari, 2. Sputum serta suara wheezing dan ronchi dengan stetoskop Hasil evaluasi pemeriksaan sputum serta suara wheezing dan ronchi dengan stetoskop setelah 6 kali kunjungan terapi didapatkan hasil bahwa sputum dan suara wheezing dan ronchi berkurang pada segmen lobus atas paru-paru kanan dan kiri. Berkurangnya sputum serta suara wheezing dan ronchi tersebut dikarenakan adanya pemberian tindakan fisioterapi dada berupa postural drainage dan tappotement. Berikut tabel yang menunjukkan hasil evaluasi sputum serta suara wheezing dan ronchi dengan Penatalaksanaan Fisioterapi Dengan Infra Red Dan Chest Physiotherapy Pada Asma Bronchiale Tabel 2. evaluasi sputum serta suara wheezing dan ronchi dengan stetoskop Kunjungan Tanggal 6 Februari 2025 7 Februari 2025 8 Februari 2025 10 Februari 2025 11 Februari 2025 12 Februari 2025 Hasil Terdapat sputum dan suara wheezing serta ronchi pada segmen medial paru-paru kanan dan kiri Terdapat sputum dan suara ronchi pada segmen medial paru-paru kanan dan kiri Sputum dan suara ronchi berkurang pada segmen medial paru-paru kanan dan kiri Sputum dan suara ronchi berkurang pada segmen medial paru-paru kanan dan kiri Sputum dan suara ronchi berkurang pada segmen medial paru-paru kanan dan kiri Sputum dan suara ronchi sudah tidak terdengar pada segmen medial paru-paru kanan dan kiri Postural drainage merupakan bagian dari Chest physiotherapy yang efektif membantu mengeluarkan sputum, memperbaiki ventilasi, dan mencegah penumpukan sekret. Teknik ini juga berperan dalam meningkatkan fungsi otot napas dan mencegah kolaps paru, sehingga mendukung optimalisasi pertukaran oksigen (Widiastuti et al. , 2022. Nurmayanti et al. , 2. Ekspansi Sangkar Thoraks Hasil evaluasi pemeriksaan Antopometri (Ekspansi Sangkar Thorak. dengan midline setelah dilakukan 6 kali kunjungan terapi didapatkan peningkatan ekspansi sangkar thoraks Sangkar thoraks pasien mampu mengembang dan mengempis secara optimal karena hambatan pada saluran napas berupa sputum dan sesak napas sudah berkurang. Oleh sebab itu, jalan napas pasien menjadi lancar dan pergerakan sangkar thoraks menjadi Dalam hal ini, fisioterapis menggunakan modalitas infrared dan Chest Berikut grafik yang menunjukkan hasil pemeriksaan Antopometri (Ekspansi Sangkar Thorak. dengan midline Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan Ae VOLUME. NOMOR. 3 DESEMBER 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. Inspirasi Ekspirasi Grafik 2 Evaluasi Ekspansi Sangkar Thoraks Axilla Berdasarkan grafik tersebut dapat diketahui bahwa pengukuran ekspansi sangkar thorax pada axilla saat T1-T6 bertambah dari 50 cm menjadi 51 cm untuk lingkar inspirasi dan bertambah dari 49 cm menjadi 50 cm untuk lingkar ekspirasi. Inspirasi Ekspirasi Grafik 3 Evaluasi Ekspansi Sangkar Thoraks ICS 4-5 Berdasarkan grafik tersebut dapat diketahui bahwa pengukuran ekspansi sangkar thorax pada costa saat T1-T6 bertambah dari 48 cm menjadi 50 cm untuk lingkar inspirasi dan bertambah dari 47,5 cm menjadi 49 cm untuk lingkar ekspirasi. Inspirasi Ekspirasi Grafik 4 Elavuasi Ekspansi Sangkar Thoraks Proc. Xypoid Penatalaksanaan Fisioterapi Dengan Infra Red Dan Chest Physiotherapy Pada Asma Bronchiale Berdasarkan grafik tersebut dapat diketahui bahwa pengukuran ekspansi sangkar thorax pada processus xyphoideus saat T1-T6 bertambah dari 47,5 cm menjadi 50 cm untuk lingkar inspirasi dan lingkar ekspirasi 47 cm menjadi 49 cm. Nebulizer berperan sebagai modalitas tambahan untuk melembapkan saluran napas, meningkatkan ekspansi thoraks. Chest physiotherapy, seperti postural drainage dan tappotement, membantu mengeluarkan lendir, memperbaiki ventilasi, dan meredakan Kombinasi terapi ini efektif meningkatkan fungsi pernapasan dan mengurangi spasme otot napas akibat batuk atau sesak (Mustafa & Nahdliyyah, 2019. Wulandari et al. Chest physiotherapy atau fisioterapi dada berfungsi untuk membantu mengeluarkan sputum atau lendir yang berlebihan dari saluran napas, sehingga mempermudah pergerakan udara dalam paru-paru. Teknik yang digunakan dalam terapi ini meliputi postural drainage, dan tappotement. Dengan adanya pengurangan sekresi lendir yang menyumbat bronkus, pasien dapat bernapas dengan lebih baik, yang pada akhirnya meningkatkan ekspansi Terapi ini terbukti mampu menurunkan jumlah sputum yang keluar dan mengurangi suara wheezing serta crackles yang terdengar melalui auskultasi paru (Mustafa & Nahdliyyah, 2. Menurut penelitian Wulandari tahun 2024 mengatakan bahwa ketika sesak napas atau batuk terjadi maka otot-otot pernapasan akan mengalami spasme (Wulandari et al. , 2. KESIMPULAN DAN SARAN Fisioterapi memiliki peran penting dalam penanganan asma bronchiale. Pada kasus An. G usia 3 tahun 9 bulan, ditemukan gangguan berupa batuk menetap, penumpukan sputum, suara napas abnormal . heezing dan ronch. , sesak napas, serta penurunan ekspansi thoraks. Intervensi menggunakan infra red dan Chest physiotherapy selama enam kali kunjungan menunjukkan hasil signifikan, ditandai dengan hilangnya batuk, berkurangnya sekret dan suara napas abnormal, penurunan derajat sesak, serta peningkatan ekspansi thoraks. Pasien disarankan membatasi aktivitas berat, menghindari polusi udara, serta mengurangi konsumsi makanan dan minuman pencetus. Fisioterapis perlu memberikan terapi sesuai standar prosedur dan mengikuti perkembangan ilmu fisioterapi agar intervensi lebih tepat sasaran. Keluarga diharapkan berperan aktif dalam mendukung keberhasilan terapi melalui pengawasan aktivitas anak dan penerapan pola hidup sehat. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan Ae VOLUME. NOMOR. 3 DESEMBER 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. UCAPAN TERIMAKASIH