JURNAL KONVERGENSI ISSN: 2528-0546 REPRESENTASI PERAN IBU DALAM FILM NGERI-NGERI SEDAP: ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES REPRESENTATION OF MOTHER'S ROLE IN AuNGERI-NGERI SEDAP MOVIEAy: A ROLAND BARTHES SEMIOTICS ANALYSIS Misyka Zahra1. Naufal Habib Ramadhan2. Rayhan Salman Al Farisi3. Erik Ardiyanto4 1,2,3 Program Studi Ilmu Komunikasi. Universitas Paramadina Jl. Raya Mabes Hankam No. Kav 9. Setu. Kec. Cipayung. Kota Jakarta Timur. Daerah Khusus Ibukota Jakarta 16680 Email korespondasi: misyka. zahra@students. ABSTRACT The film "Ngeri-Ngeri Sedap" (Missing Hom. portrays the dynamics of a Batak family entangled in a conflict between parents and their children who are reluctant to return home. This film offers a depiction of shifting values and roles within a contemporary Batak family. This study aims to analyze the role of the mother in the film using Roland Barthes' semiotic approach. Through an analysis of dialogues between characters, it is found that the mother (Mak Dom. not only acts as the guardian of household harmony but also demonstrates courage in challenging stereotypes and fighting for her rights as a woman. Mak Domu represents a modern Batak woman who is independent, critical, and dares to voice her opinion. This research uses a descriptive qualitative research method which is more directed towards an in-depth analysis of the object under study. The results of this study reveal that the movie AuNgeri-Ngeri SedapAy offers a new interpretation of the role of mothers in Batak families, which is no longer limited to domestic tasks, but also active in making decisions and determining the direction of the family. The research also shows that the movie reflects a transformation in gender roles in society, where the mother is not only a supporting figure, but also an agent of change in the family. Thus, the movie does not only function as entertainment, but also as a medium of social reflection that raises important issues related to the role of family, tradition, and modernity in today's Indonesian society. Keywords: Ngeri-Ngeri Sedap. Missing Home, mother's role, semiotics. Roland Barthes. Batak family, gender. ABSTRAK Film "Ngeri-Ngeri Sedap" menampilkan dinamika keluarga Batak yang diwarnai konflik antara orang tua dan anak-anak mereka yang enggan pulang kampung. Film ini menawarkan gambaran tentang pergeseran nilainilai dan peran dalam keluarga Batak kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran ibu dalam film tersebut dengan menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Melalui analisis dialog antar tokoh, ditemukan bahwa ibu (Mak Dom. tidak hanya berperan sebagai penjaga keharmonisan rumah tangga, tetapi juga menunjukkan keberanian dalam menentang stereotip dan memperjuangkan hak-haknya sebagai perempuan. Mak Domu merepresentasikan perempuan Batak modern yang mandiri, kritis, dan berani menyuarakan pendapat. Penelitian ini, menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif yang mana lebih mengarah kepada analisis mendalam terhadap suatu objek yang diteliti. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa film "Ngeri-Ngeri Sedap" menawarkan pemaknaan baru tentang peran ibu dalam keluarga Batak, yang tidak lagi terbatas pada tugas-tugas domestik, tetapi juga aktif dalam mengambil keputusan dan menentukan arah keluarga. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa film ini mencerminkan sebuah transformasi dalam peran gender dalam masyarakat, di mana ibu tidak hanya sebagai figur pendukung, tetapi turut menjadi agen perubahan dalam keluarga. Dengan demikian, film ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media refleksi sosial yang mengangkat isu-isu penting terkait peran keluarga, tradisi, dan modernitas dalam masyarakat Indonesia saat ini. Kata Kunci: Ngeri-Ngeri Sedap, peran ibu, semiotika. Roland Barthes, keluarga Batak, gender PENDAHULUAN Film memiliki peran yang sangat penting dalam dunia komunikasi. Sebagai media massa, film menjadi saluran utama untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat luas. Keunikan film terletak pada kemampuannya memadukan gambar dan suara, sehingga pesan yang disampaikan lebih mudah dipahami dan diingat. Salah satu alasan mengapa film begitu Jurnal Konvergensi Vol. 5 No. 2 (JuliAeDesember 2. Hal: 155-167 Representasi Peran Ibu Dalam Film Ngeri-Ngeri Sedap: Analisis Semiotika Roland Barthes Misyka Zahra. Naufal Habib Ramadhan. Rayhan Salman Al Farisi. Erik Ardiyanto digemari masyarakat adalah karena film menawarkan hiburan yang menarik. Namun, dibalik unsur hiburannya, film juga sarat akan Film dapat merepresentasikan berbagai aspek kehidupan, mulai dari sejarah, budaya, hingga realitas sosial yang ada di masyarakat. Seperti yang diungkapkan Alfiyatun . , "Film adalah bagian dari bentuk komunikasi massa yang sering digunakan sebagai sarana dalam menggambarkan realitas kehidupan sosial di masyarakat". Pernyataan ini menunjukkan bahwa film memiliki kekuatan untuk merefleksikan dan bahkan mempengaruhi cara pandang kita terhadap dunia. Melalui alur cerita, karakter, dan setting yang disajikan, film dapat membentuk opini, menanamkan nilai-nilai, dan mempengaruhi perilaku khalayak. Oleh karena itu, film bukan hanya sekadar media hiburan, tetapi juga media yang memiliki potensi besar dalam membentuk realitas sosial. Sobur . menjelaskan bahwa film merupakan representasi dari realitas yang dikonstruksi melalui kode, konvensi, dan ideologi kebudayaan. Artinya, film tidak hanya sekedar menampilkan realitas apa adanya, tetapi juga memberikan interpretasi dan makna tertentu terhadap realitas tersebut. Lebih lanjut. Setiawan et al. menegaskan bahwa film mampu menciptakan sensasi, persepsi, dan atensi yang melibatkan manusia dalam berbagai level, mulai dari individu hingga massa. Hal ini menunjukkan bahwa film memiliki potensi yang sangat besar dalam mempengaruhi cara pandang dan perilaku Salah satu genre film yang menarik untuk dikaji adalah film bertema keluarga. Silvanari . menyoroti keunggulan film keluarga dalam menyampaikan pesan-pesan kehidupan sosial sehari-hari, selain kemampuannya dalam menghasilkan emosi tawa dan Film "Ngeri-Ngeri Sedap" film bertema keluarga yang sempat mencuri perhatian publik dan kritikus dengan kisah keluarga Batak yang diangkat dari novel karya Bene Dion Rajagukguk. Kesuksesan film ini terbukti dengan jumlah penonton yang mencapai 2,8 juta sejak penayangan perdananya pada 2 Juni 2022. Tidak hanya meraih popularitas, "Ngeri-Ngeri Sedap" juga mendapatkan pengakuan di kancah nasional dengan memenangkan berbagai penghargaan bergengsi. Bahkan, film ini berhasil menembus ajang internasional dengan menjadi perwakilan Indonesia di Academy Awards ke-95 pada Maret 2023 (Ilmi, 2. Keunikan "Ngeri-Ngeri Sedap" dalam menampilkan dinamika keluarga Batak yang kental dengan budaya dan tradisi menjadikan film ini menarik untuk dikaji lebih dalam. Jurnal Konvergensi Vol. 5 No. 2 (JuliAeDesember 2. Hal: 155-167 Representasi Peran Ibu Dalam Film Ngeri-Ngeri Sedap: Analisis Semiotika Roland Barthes Misyka Zahra. Naufal Habib Ramadhan. Rayhan Salman Al Farisi. Erik Ardiyanto Ngeri-Ngeri Sedap menceritakan kisah Pak Domu (Arswendi Beningswar. dan Mak Domu (Tika Panggabea. yang merupakan orang tua dari empat orang anak. Empat anak tersebut adalah Sarma E. Purba (Gita Bhebhita Butar-buta. Domu (Boris Boki. Gabe (Lolo. , dan Sahat Purba (Indra Jege. suku Batak menganut sistem patrilineal, suatu adat masyarakat yang mengatur alur keturunan berasal dari pihak ayah. "Ngeri-Ngeri Sedap" mengajak kita menyelami kehidupan sebuah keluarga Batak yang tinggal di kawasan Danau Toba. Film ini menampilkan kerinduan seorang ibu yang mendambakan kepulangan anak-anaknya yang telah lama merantau. Namun, di balik kerinduan tersebut, terdapat konflik antara orang tua dan anak yang dipicu oleh perbedaan pandangan hidup. Ketiga anak laki-laki dalam keluarga ini memilih untuk menentukan jalan hidup mereka sendiri, sementara sang ayah berharap mereka mengikuti tradisi dan keinginan keluarga. Film ini dengan apik menggambarkan pergulatan antara generasi tua dan muda dalam menjaga keseimbangan antara budaya Batak yang kental dengan keinginan individu. Akar konflik dalam film ini berasal dari sikap keras kepala Pak Domu, seorang ayah yang konservatif dan terlalu terikat dengan adat Batak. Ketidakmampuannya untuk mendengarkan dan memahami pilihan hidup anak-anaknya menimbulkan benturan yang cukup tajam di dalam keluarga. Film ini menunjukkan bagaimana perbedaan pandangan antar generasi dan kekokohan dalam memegang tradisi dapat menjadi sumber konflik dalam sebuah keluarga. Dalam film ini, menggambarkan dinamika gender dalam keluarga Batak yang masih kental dengan sistem patriarki. Marga dan kepemimpinan rumah tangga didominasi oleh laki-laki, sementara perempuan memiliki ruang gerak yang terbatas. Mak Domu, sebagai representasi perempuan Batak, digambarkan sebagai figur yang patuh dan tunduk pada keputusan suami. Ia bahkan rela mengikuti pilihan yang bertentangan dengan keinginannya sendiri. Film ini seolah menegaskan stereotip bahwa perempuan bertanggung jawab penuh atas pengasuhan anak, sementara laki-laki menjadi kepala keluarga yang memiliki kekuasaan penuh. Perselisihan dan konflik merupakan bagian tak terpisahkan dari dinamika keluarga. Konflik bisa terjadi antara orang tua dan anak, suami dan istri, bahkan antar saudara. Soekanto . mendefinisikan konflik sebagai perbedaan atau pertentangan yang muncul karena adanya perbedaan kepentingan dan usaha untuk mencapai tujuan dengan menentang pihak lain. Konflik dalam keluarga merupakan hal yang wajar dan tidak Jurnal Konvergensi Vol. 5 No. 2 (JuliAeDesember 2. Hal: 155-167 Representasi Peran Ibu Dalam Film Ngeri-Ngeri Sedap: Analisis Semiotika Roland Barthes Misyka Zahra. Naufal Habib Ramadhan. Rayhan Salman Al Farisi. Erik Ardiyanto dapat dihindari karena setiap individu dalam keluarga memiliki kebutuhan, keinginan, dan pandangan yang berbeda-beda. Di masyarakat modern, anggapan tradisional tentang peran dan fungsi gender semakin dipertanyakan. Realitas menunjukkan bahwa laki-laki tidak selalu kuat dan perempuan tidak selalu lemah. Namun, stereotip gender masih melekat kuat dalam struktur sosial kita. Laki-laki seringkali diharapkan untuk menunjukkan sifat-sifat maskulin seperti kuat, rasional, dan logis, sementara perempuan dikaitkan dengan sifat-sifat feminin seperti lemah lembut, emosional, dan pasif. Stereotip ini membatasi kebebasan individu dalam mengekspresikan diri dan mengembangkan potensi mereka sepenuhnya. Film, sebagai media komunikasi massa yang memiliki jangkauan luas dan mampu "Ngeri-Ngeri Sedap" adalah salah satu contoh film yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan dan nilai-nilai tertentu kepada audiensnya. Haryati . menjelaskan merepresentasikan berbagai aspek realitas masyarakat. Melalui adegan-adegan yang ditampilkan, film dapat menjadi sumber pendidikan informal yang menyampaikan pesan dan nilai-nilai tertentu, termasuk ideologi dan pandangan politik para pembuatnya. Oleh karena itu, film memiliki kekuatan untuk mempengaruhi cara pandang dan pola pikir Film pada hakikatnya adalah bentuk komunikasi yang disajikan melalui interaksi antar pemeran dalam sebuah alur cerita. Alur cerita dalam film memiliki peran krusial, tidak hanya untuk menyampaikan pesan dan nilai-nilai yang merefleksikan realitas sosial, tetapi juga untuk membantu penonton memahami makna dan pesan moral yang terkandung di dalamnya (Kiki 2. Film drama keluarga, yang saat ini banyak digemari, menawarkan alur cerita yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Konflik-konflik rumit yang dihadapi oleh sebuah keluarga dalam film tersebut menawarkan pelajaran berharga bagi penonton, dan kebahagiaan yang dirasakan di akhir cerita memberikan sebuah resolusi dan harapan. METODE PENELITIAN Penelitian merupakan suatu cara yang digunakan dalam mengumpulkan serta menganalisis informasi untuk menambah pemahaman kita terhadap suatu topik atau objek yang Jurnal Konvergensi Vol. 5 No. 2 (JuliAeDesember 2. Hal: 155-167 Representasi Peran Ibu Dalam Film Ngeri-Ngeri Sedap: Analisis Semiotika Roland Barthes Misyka Zahra. Naufal Habib Ramadhan. Rayhan Salman Al Farisi. Erik Ardiyanto diteliti, dalam penelitian memberikan pengetahuan yang dimana penelitian tersebut mempunyai kontribusi pada informasi yang mengenai suatu permasalahan. Dalam penelitian ini, kami menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif yang mana lebih mengarah kepada analisis mendalam terhadap suatu objek yang diteliti. Penelitian kualitatif menekankan pada suatu proses analisis dari proses berpikir secara induktif yang mempunyai hubungan antar fenomena yang diteliti dan selalu menggunakan logika ilmiah. Penelitian kualitatif adalah sebuah metode yang dipakai untuk mengungkapkan suatu permasalahan yang terjadi dalam kehidupan sosial, yaitu kehidupan kerja di pemerintah, swasta, masyarakat, organisasi kepemudaan, perempuan, olahraga, seni maupun budaya, yang nantinya dapat dijadikan sebagai suatu kebijakan yang dapat dilaksanakan untuk kesejahteraan bersama (Gunawan, 2014:80-. Lainnya menurut menurut (Moleong . dalam Irwan 2. , pendekatan deskriptif kualitatif yaitu pendekatan penelitian dimana data-data yang dikumpulkan berupa katakata, gambar-gambar dan bukan angka. Data-data tersebut dapat diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, foto, video tape, dokumentasi pribadi, catatan, atau memo dan dokumentasi lainnya. Pada penelitian ini, data-data yang kami peroleh berasal dari kata-kata yang telah kami rangkum dari film AuNgeri-ngeri SedapAy. Untuk mengkaji lebih dalam mengenai data yang kami miliki, penelitian ini menggunakan suatu pendekatan analisis semiotika Roland Barthes, yang dimana pendekatan ini berperan untuk mengkaji representasi peran ibu dalam film Ngeri-ngeri Sedap . Pendekatan ini dipilih karena semiotika Barthes memungkinkan peneliti untuk menggali makna yang tersembunyi di balik tanda-tanda visual dan verbal dalam teks film, serta bagaimana tanda tersebut membentuk representasi sosial dan budaya terkait peran ibu. Melalui pendekatan ini, diharapkan dapat terungkap dua tingkat makna yang ada dalam film: makna denotatif . akna litera. dan konotatif . akna simbolik dan ideologi. HASIL DAN PEMBAHASAN Peran Mak Domu pada film ini memiliki kedudukan yang sangat penting, tidak hanya sebagai karakter tetapi juga sebagai pembawa pesan sosial dan budaya yang lebih luas tentang peran perempuan dalam masyarakat dan keluarga Batak. Untuk memperjelas identifikasi masalah yang telah diuraikan diatas, maka diambil 4 scene pada film AuNgeri-ngeri SedapAy terkait makna dari percakapan yang disampaikan Mak Domu sebagai caranya untuk mengekspresikan dirinya kepada anak-anak beserta keluarganya, yang telah dianalisis dengan menggunakan teori Semiotika Roland Barthes, sebagai berikut : Jurnal Konvergensi Vol. 5 No. 2 (JuliAeDesember 2. Hal: 155-167 Representasi Peran Ibu Dalam Film Ngeri-Ngeri Sedap: Analisis Semiotika Roland Barthes Misyka Zahra. Naufal Habib Ramadhan. Rayhan Salman Al Farisi. Erik Ardiyanto Tabel No Scene Denotasi Konotasi Mitos Pak Domu dan mak Domu diatas kasur terlihat Pada adegan ini Pak Domu meminta bantuan Mak Domu untuk berbicara kepada anak-anaknya agar mau pulang Mak Domu akhirnya Pak Domu untuk ke Jakarta bertemu langsung dengan anakAy nya namun Pak Domu menolak ajakan itu dengan alasan Dalam adegan ini terlihat sifat ayah (Pak Dom. yang masih bersifat gengsi dan tidak rela untuk menurunkan ego pribadinya nya untuk bertemu langsung dengan anak-anaknya. Pak Domu masih beranggapan bahwa anaklah yang harus datang ke orang tua. Namun, disisi lain sikap Mak Domu yang rela untuk ke Jakarta untuk menemui anakanaknya. Peran Ibu dalam adegan ini jelas mencoba menerobos pakempakem yang telah lama ada pada budaya tersebut bahwa seorang perempuan juga memiliki hak berargumen dan Pembahasan : Pak Domu : Au. engan nada khawati. Mak, kek mana biar anak-anak mau pulang?Ay Mak Domu : Au. enatap Pak Dom. Minta maaflah kau. Ay Pak Domu: Au. uaranya meningg. Udah gila kau? Kalau aku minta maaf, berarti aku setuju dengan keputusan mereka!Ay Mak Domu: Au. engerutkan dah. Jadi maumu kek mana?Ay Pak Domu: AuKau harus bikin mereka mau pulang, datang ke pesta opungnya. Biar ga malu kita. Sekalian kau ngomong langsung, kalau ngomong langsung mereka pasti dengar, ga ngelawan. Ay Jurnal Konvergensi Vol. 5 No. 2 (JuliAeDesember 2. Hal: 155-167 Representasi Peran Ibu Dalam Film Ngeri-Ngeri Sedap: Analisis Semiotika Roland Barthes Misyka Zahra. Naufal Habib Ramadhan. Rayhan Salman Al Farisi. Erik Ardiyanto Mak Domu: Au. enggelengkan kepal. Cari ribut aja kau. Ay Pak Domu: Au. elembutkan nad. Bantulah mak, kek mana biar mereka mau pulang. Ay Mak Domu: AuKan udah aku bilang, ke Jawa kita jumpai mereka, ajak pulang. Ay Pak Domu: Au. engan nada kesa. Lah kok malah orang tua yang ngemis ke anak? Gimana harga diriku?Ay Mak Domu: Au. engan nada pasra. Kalau kau gengsi, biar aku yang berangkat sendiri. Ay Pak Domu: Au. engan nada kera. Kubilang ga boleh ya ga boleh!Ay Mak Domu: Au. engan nada tingg. Ga pedulilah aku sama maumu!Ay Adegan tersebut mengungkapkan dinamika peran ibu dalam keluarga Batak yang tidak selalu tradisional dan patuh pada suami. Mak Domu menunjukkan keberanian untuk menentang suami dan memperjuangkan keinginannya, sekaligus menjaga keharmonisan keluarga. Hal ini mencerminkan pergeseran nilai dan peran ibu dalam masyarakat modern. Meskipun pada awalnya ia mencoba mencari jalan tengah, pada akhirnya ia menentang Pak Domu dan menunjukkan keinginan serta pendiriannya. No. Scene Denotasi Konotasi Mitos Pak Domu dan Mak Domu Pak Domu menyinggung Mak Domu yang bangun terlalu siang. Akan tetapi mewajarkan dirinya sendiri yang bangun di siang hari karena ia bukan seharusnya bangun Masyarakat beranggapan bahwa perempuan dalam keluarga tidak boleh bangun siang karena pemalas dan tidak mengurus keluarga. Gambar 2. Menit 17. Pembahasan : Pak Domu : Au. engan nada mengeje. Masih hidup rupanya kau, ku kira sudah mati!Ay Mak Domu : Au. enatap Pak Domu dengan kesa. Kenapa kaulah pak, gak lucu!Ay Pak Domu : AuYang lucu itu, bangun jam segini, mamak-mamak pula, bikin malu. Ay Mak Domu : AuKenapa rupanya kalau mamak-mamak? Kau pun sering bangun jam segini, kalau bapak-bapak boleh?Ay Pak Domu : AuYa bapak-bapak gapapalah, mamak-mamak kan ngurus rumah. Ay Mak Domu : AuOh enak kali, bapak-bapak bisa suka-suka. Ay Jurnal Konvergensi Vol. 5 No. 2 (JuliAeDesember 2. Hal: 155-167 Representasi Peran Ibu Dalam Film Ngeri-Ngeri Sedap: Analisis Semiotika Roland Barthes Misyka Zahra. Naufal Habib Ramadhan. Rayhan Salman Al Farisi. Erik Ardiyanto Pak Domu : AuJadi bapak-bapak lah kau!Ay Mak Domu : AuGila kau!Ay Pak Domu : AuKau yang gila!Ay Mak Domu : AuDari dulu kau yang gila!Ay Pak Domu : AuKau yang gila!Ay (Keduanya saling melotot dengan kesa. Pak Domu menyindir Mak Domu yang bangun pagi. Ia menganggap tidak pantas bagi seorang ibu rumah tangga untuk bangun di jam yang sama dengan bapak-bapak. Mak Domu membela diri dan mempertanyakan standar ganda Pak Domu. Ia merasa diperlakukan tidak adil karena Pak Domu juga sering bangun pagi. Terjadi perselisihan antara Pak Domu dan Mak Domu tentang peran dan kebebasan masing-masing. Pak Domu menganggap perempuan memiliki tugas rumah tangga dan tidak seharusnya memiliki kebebasan seperti laki-laki. Perselisihan keduanya mencerminkan konflik antara nilai-nilai patriarki dan kesetaraan Pak Domu berpegang pada norma tradisional, sementara Mak Domu menginginkan perubahan dan pengakuan atas hak-haknya. Mitos tentang "perempuan sebagai pengurus rumah Mak Domu diharapkan fokus pada tugas-tugas domestik dan tidak memiliki kebebasan di luar rumah. Mak Domu berani menentang suaminya dan memperjuangkan hak-haknya. tidak takut untuk menyuarakan pendapatnya dan menunjukkan ketidaksetujuannya terhadap perlakuan Pak Domu. No. Scene Denotasi Konotasi Mitos Mak Domu dan Pak Domu bertengkar. Pak Domu tidak mau dirumah sehingga Mak Domu meminta pak Domu untuk Seorang istri boleh suami apabila suami kedua belah pihak. Gambar 3. Menit 20. Pembahasan : Dialog pertengkaran yang terjadi antara Mak Domu dan Pak Domu yang tengah bersandiwara didepan anaknya : Mak Domu : AuKalau tak mau diatur, hidup sendiri!Ay Pak Domu : AuYa sudah, aku bisa hidup sendiri!Ay Jurnal Konvergensi Vol. 5 No. 2 (JuliAeDesember 2. Hal: 155-167 Representasi Peran Ibu Dalam Film Ngeri-Ngeri Sedap: Analisis Semiotika Roland Barthes Misyka Zahra. Naufal Habib Ramadhan. Rayhan Salman Al Farisi. Erik Ardiyanto Mak Domu : AuApa maksudmu? Kau mau pisah?Ay Pak Domu : AuKalau iya, kenapa?Ay Mak Domu : AuYa sudah, ceraikan saja aku!Ay Dari percakapan dalam adegan ini, menunjukkan adanya ketimpangan peran dalam rumah tangga, di mana Pak Domu, meskipun mungkin merasa bahwa ia berhak untuk berbuat sesuka hati, gagal untuk menyadari pentingnya kerjasama dalam pernikahan. Sementara itu. Mak Domu yang sudah lelah dengan perilaku suaminya, memilih untuk mengeluarkan ultimatum yang ekstrim yaitu meminta perceraian sebagai bentuk ekspresi dari rasa tidak dihargai dan putus asa. No. Scene Denotasi Konotasi Mitos Pak Domu menjemput Mak Domu di rumah ibu Mak Domu Mak Domu memberi Domu jika ingin harus bersama anakanaknya. Pada yang kental akan perempuan selalu berada pada posisi adegan ini posisi ibu . ak Dom. memilik daya tawar . dengan harus dipenuhi oleh pak Domu. Pesan ini bahwa perempuan tidak selalu ada pada Gambar 4. Menit 1. Pembahasan : Dengan meminta pak Domu untuk datang bersama anak-anaknya. Mak Domu seolah ingin menegaskan bahwa pentingnya tanggung jawab bersama dalam keluarga. Ini bukan hanya tentang perbaikan hubungan antara mereka berdua, tetapi juga soal peran Pak Domu sebagai figur ayah yang ikut bertanggung jawab dalam kehidupan anak-anak mereka. Mak Domu ingin menunjukkan bahwa keluarga bukan hanya masalah hubungan suami istri, tapi juga melibatkan kesejahteraan dan perhatian kepada anak-anak. Langkah yang diambil oleh mak Domu ini ingin memastikan bahwa pak Domu sudah siap kembali berkomitmen dan mengesampingkan kepentingan pribadinya . Jurnal Konvergensi Vol. 5 No. 2 (JuliAeDesember 2. Hal: 155-167 Representasi Peran Ibu Dalam Film Ngeri-Ngeri Sedap: Analisis Semiotika Roland Barthes Misyka Zahra. Naufal Habib Ramadhan. Rayhan Salman Al Farisi. Erik Ardiyanto Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan, masyarakat masih sering menganggap bahwa peran ibu dalam rumah tangga hanya sebatas mengurus rumah dan Budaya patriarki juga terlihat dalam film Ngeri-Ngeri Sedap yang mana memperlihatkan dengan jelas bahwa laki-laki . ak Dom. memiliki kedudukan yang dominan, cenderung berkuasa tanpa memikirkan kepentingan pihak-pihak lainnya dalam keluarga terutama peran ibu yakni mak Domu. Dalam film ini, mak Domu selalu menjadi perempuan yang tidak berdaya, harus selalu mengikuti kemauan serta aturan yang dimiliki suaminya, sehingga ia pun seolah tidak memiliki hak untuk mengeluarkan pendapat maupun berbuat sesuai yang ia inginkan. Padahal, peran ibu dalam keluarga juga menjadi faktor penyeimbang keharmonisan, memberi masukan dan arahan terkait keputusan yang diambil untuk keluarga yang nantinya akan berdampak baik atau buruk. Uraian di atas juga menunjukan adanya stereotip pada perempuan dalam keluarga. Stereotip . merupakan sebuah keyakinan atau kepercayaan atau asosiasi yang mengaitkan sekelompok orang dengan sifat atau karakteristik tertentu (Kassin,dkk. , 2008 dalam Maryam, 2019 : . Lainnya menurut (Annisa, dkk, 2023 dalam Bahry 2. yakni pada umumnya stereotip adalah sangkaan atau pandangan seseorang terhadap suatu kelompok yang bukan berdasarkan realita melainkan pendapat dari mulut ke mulut. Stereotip yang muncul dalam keluarga, terutama yang melibatkan peran perempuan, seringkali berdampak pada pembatasan ruang gerak dan kebebasan, khususnya dalam mengambil keputusan atau mengekspresikan pendapat. Dalam konteks film Ngeri-Ngeri Sedap, karakter mak Domu menggambarkan peran perempuan yang terkungkung dalam konstruksi sosial, bahwa ibu hanya berfungsi sebagai pengurus rumah tangga dan pengasuh anak, tanpa diberikan peran yang lebih signifikan dalam pengambilan keputusan keluarga. Padahal, peran ibu sangat penting dalam memberikan dan menjaga stabilitas emosional, mengarahkan nilai-nilai keluarga, serta mempengaruhi perkembangan sosial dan emosional anak-anak. Oleh karena itu, pembatasan peran ibu adalah salah satu bentuk ketidakadilan gender yang masih berlaku dalam masyarakat. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan, masyarakat masih sering menganggap bahwa peran ibu dalam rumah tangga hanya sebatas mengurus rumah dan Budaya patriarki juga terlihat dalam film Ngeri-Ngeri Sedap yang mana memperlihatkan dengan jelas bahwa laki-laki . ak Dom. memiliki kedudukan yang dominan. Jurnal Konvergensi Vol. 5 No. 2 (JuliAeDesember 2. Hal: 155-167 Representasi Peran Ibu Dalam Film Ngeri-Ngeri Sedap: Analisis Semiotika Roland Barthes Misyka Zahra. Naufal Habib Ramadhan. Rayhan Salman Al Farisi. Erik Ardiyanto cenderung berkuasa tanpa memikirkan kepentingan pihak-pihak lainnya dalam keluarga terutama peran ibu yakni mak Domu. Dalam film ini, mak Domu selalu menjadi perempuan yang tidak berdaya, harus selalu mengikuti kemauan serta aturan yang dimiliki suaminya, sehingga ia pun seolah tidak memiliki hak untuk mengeluarkan pendapat maupun berbuat sesuai yang ia inginkan. Padahal, peran ibu dalam keluarga juga menjadi faktor penyeimbang keharmonisan, memberi masukan dan arahan terkait keputusan yang diambil untuk keluarga yang nantinya akan berdampak baik atau buruk. Uraian di atas juga menunjukan adanya stereotip pada perempuan dalam keluarga. Stereotip . merupakan sebuah keyakinan atau kepercayaan atau asosiasi yang mengaitkan sekelompok orang dengan sifat atau karakteristik tertentu (Kassin,dkk. , 2008 dalam Maryam, 2019 : . Lainnya menurut (Annisa, dkk, 2023 dalam Bahry 2. yakni pada umumnya stereotip adalah sangkaan atau pandangan seseorang terhadap suatu kelompok yang bukan berdasarkan realita melainkan pendapat dari mulut ke mulut. Stereotip yang muncul dalam keluarga, terutama yang melibatkan peran perempuan, seringkali berdampak pada pembatasan ruang gerak dan kebebasan, khususnya dalam mengambil keputusan atau mengekspresikan pendapat. Dalam konteks film Ngeri-Ngeri Sedap, karakter mak Domu menggambarkan peran perempuan yang terkungkung dalam konstruksi sosial, bahwa ibu hanya berfungsi sebagai pengurus rumah tangga dan pengasuh anak, tanpa diberikan peran yang lebih signifikan dalam pengambilan keputusan keluarga. Padahal, peran ibu sangat penting dalam memberikan dan menjaga stabilitas emosional, mengarahkan nilai-nilai keluarga, serta mempengaruhi perkembangan sosial dan emosional anak-anak. Oleh karena itu, pembatasan peran ibu adalah salah satu bentuk ketidakadilan gender yang masih berlaku dalam masyarakat. Film "Ngeri-Ngeri Sedap" tidak hanya menyajikan komedi yang menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan sosial yang kuat tentang peran perempuan dan dinamika keluarga Batak. Melalui karakter Mak Domu, film ini menampilkan representasi peran ibu Batak modern yang berani, mandiri, dan kritis. Mak Domu tidak hanya menjadi sosok penjaga keharmonisan rumah tangga, tetapi juga menunjukkan kekuatan dalam menentang hak-haknya. Film ini merefleksikan dan mempertanyakan kembali peran gender dalam keluarga dan masyarakat, serta mengapresiasi perubahan sosial yang memberikan ruang bagi perempuan untuk lebih Jurnal Konvergensi Vol. 5 No. 2 (JuliAeDesember 2. Hal: 155-167 Representasi Peran Ibu Dalam Film Ngeri-Ngeri Sedap: Analisis Semiotika Roland Barthes Misyka Zahra. Naufal Habib Ramadhan. Rayhan Salman Al Farisi. Erik Ardiyanto UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih peneliti ucapkan kepada berbagai pihak yang telah menyukseskan penelitian Mas Erik Ardiyanto selaku dosen pengampu mata kuliah Aukapita selektaAy yang senantiasa membantu memberi masukan, membimbing penulis selama proses penulisan sehingga dapat tersusun tulisan ilmiah ini. Berkat bantuan dari beliau, penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik. Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu mensukseskan penelitian ini hingga selesai. Semoga penelitian ini berguna dan bermanfaat bagi seluruh masyarakat. REFERENSI