Vol. No. Desember 2025: 423Ae438 https://doi. org/10. 22146/kawistara. https://jurnal. id/kawistara/index ISSN 2088-5415 (Prin. | ISSN 2355-5777 (Onlin. Submitted: 12-07-2025. Revised: 24-11-2025 . Accepted:02-01-2026 The Journal of Social Sciences and Humanities Makna Aktivitas Repost TikTok bagi Gen Z dalam Mengekspresikan Diri dan Membangun Self-Image The Meanings of Reposting Activities on TikTok for Gen-Z in Self Expression and Self-Image Rachma Aulia Hantarti1* Vani Dias Adiprabowo2 Universitas Ahmad Dahlan *Corresponding author: 2200030306@webmail. ABSTRACT The development of communication technology has transformed the way Generation Z express themselves and construct their self-image in digital spaces. Social media platforms such as TikTok have become a primary medium for building digital identity, including uses of repost feature. This study aims to uncover the meaning behind the phenomenon of TikTok reposting among Generation Z and its relation to self-image construction. The study is grounded in Alfred SchutzAos social phenomenology, which distinguishes between because motive . easons based on past experience. and in order to motive . eflective future-oriented purpose. Using a qualitative approach with a phenomenological method, this study understands the subjective meaning of reposting from the actors perspectives, through in-depth interviews with ten Generation Z informants who are active TikTok The findings reveal that the because motive is driven by emotional catharsis, expression of feelings, and resonance with lived experiences through content that represents their emotions. Meanwhile, the in order to motive relates to the goal of building a digital identity: gaining social validation, sending symbolic codes, maintaining account aesthetics, strengthening personal branding, and affirming self-image. Reposting activity is shown to be more than just a technical action, but rather a meaningful communicative practice to reinforce oneAos existence in digital spaces. ABSTRAK Perkembangan teknologi komunikasi telah mengubah cara Generasi Z mengekspresikan diri dan membentuk citra diri di ruang digital. Media sosial seperti TikTok menjadi medium utama dalam membangun identitas digital, salah satunya melalui fitur repost. Penelitian ini bertujuan mengungkap pemaknaan di balik fenomena aktivitas repost TikTok oleh Generasi Z dan hubungannya dengan pembentukan self-image. Studi ini berlandaskan teori fenomenologi sosial Alfred Schutz yang membedakan because motive . lasan berbasis pengalaman masa lal. dan in order to motive . ujuan reflektif masa depa. Pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi digunakan untuk memahami makna subjektif tindakan repost dari perspektif pelaku, melalui wawancara mendalam pada sepuluh informan Generasi Z yang aktif di TikTok. Temuan menunjukkan bahwa because motive didorong oleh kebutuhan katarsis emosional, ekspresi perasaan, dan resonansi pengalaman hidup melalui konten yang dirasa mewakili Sementara in order to motive terkait tujuan membangun identitas digital: memperoleh validasi sosial, mengirim kode simbolik, menjaga estetika akun, memperkuat personal branding, dan menegaskan selfimage. Aktivitas repost terbukti bukan sekadar teknis, tetapi praktik komunikasi bermakna untuk memperkuat eksistensi diri di ruang digital. KEYWORDS Generation Z. Repost TikTok. Self-Image. Self-Expression KATA KUNCI Generasi Z. Repost TikTok. Self Image. Ekspresi Diri. PENGANTAR identitas diri di era digital. Di era digital yang Perkembangan teknologi informasi dan fundamental dalam cara individu berinteraksi, saling terhubung, media sosial berperan membentuk identitas digital melalui cara individu menampilkan diri di ruang maya CopyrightA 2025 Rachma Aulia Hantarti. Vani Dias Adiprabowo. This article is distributed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International license. Jurnal Kawistara is published by the Graduate School of Universitas Gadjah Mada. Media lain ke dalam feed pribadi pada akun mereka. sosial telah berkembang menjadi salah satu Fitur ini pertama kali diperkenalkan secara ruang utama bagi masyarakat modern untuk resmi pada Mei 2022, setelah melalui tahap mengekspresikan diri, membentuk citra diri uji coba sebelumnya. yang diinginkan, dan memperoleh pengakuan Penelitian (Wicaksana & Adiprabowo, 2. dari lingkaran sosialnya. Fenomena ini sangat terlihat pada Generasi Z. Generasi ini dikenal sosial memiliki makna yang lebih kompleks sebagai digital natives, yaitu individu yang dibandingkan sekadar memberikan tanda sejak kecil telah terbiasa dengan kehadiran suka atau komentar. Divaliani dan Nurhakim internet, gawai, dan aplikasi digital (Akhmad . menemukan bahwa repost merupakan et al. , 2. tindakan selektif yang tidak dilakukan secara Data We Are Social 2023 mencatat bahwa Indonesia memiliki 167 juta pengguna nilainilai, perasaan, hingga identitas diri yang internet, dengan 139 juta di antaranya aktif ingin ditampilkan pengguna kepada publik menggunakan media sosial, mayoritas di Temuan ini menunjukkan bahwa antaranya berasal dari Generasi Z. Hal ini repost dapat dipandang sebagai strategi menunjukkan bahwa media sosial telah representasi diri yang memiliki dimensi menjadi bagian integral dari kehidupan simbolik dalam komunikasi interpersonal di seharihari mereka. Bagi Generasi Z, media media sosial (Divaliani & Nurhakim, 2. sosial bukan lagi sekadar sarana hiburan. Fitur ini menjadi sarana strategis dalam tetapi telah bertransformasi menjadi arena membentuk self-image dan menunjukkan penting dalam komunikasi interpersonal, ekspresi diri secara tidak langsung. Generasi ini dikenal sebagai kelompok yang tumbuh identitas digital. Kehadiran media sosial dalam ekosistem digital, dan menjadikan media sosial sebagai medium utama untuk perasaan, opini, dan nilai diri melalui membangun citra diri serta berkomunikasi dengan komunitas (Publicuho et al. , 2. dengan citra yang ingin mereka tampilkan. Dalam kerangka fenomenologi sosial Fenomena ini dikatakan sebagai bentuk Alfred Schutz . , tindakan sosial individu strategi personal branding, yaitu upaya sadar dapat dipahami melalui dua dimensi motivasi, untuk menampilkan identitas diri melalui yaitu because motive dan inorderto motive. kurasi aktivitas, gaya hidup, dan selera yang konsisten di platform digital (Vielar, 2. Because motive merujuk pada alasan tindakan yang berakar pada pengalaman masa lalu Salah satu perilaku yang menarik untuk serta stok pengetahuan individu tentang ulang atau merepost konten, terutama pada platform yang populer seperti TikTok. Fitur inorderto motive mengacu pada orientasi sadar terhadap tujuan sosial atau emosional repost di TikTok memungkinkan pengguna yang ingin dicapai melalui tindakan saat ini untuk membagikan ulang video dari kreator (Goettlich, 2. Perspektif ini relevan untuk Kawistara. Vol. No. Desember 2025: 423Ai438 menjelaskan perilaku repost yang dilakukan sosial, atau klip video, serta membagikan Generasi Z, di mana mereka secara selektif ulang konten serupa, juga memperlihatkan memilih konten yang mewakili perasaan, strategi Generasi Z untuk memotivasi diri, nilai, atau pesan tertentu untuk disampaikan, menenangkan pikiran, sekaligus memberi sekaligus memperkuat citra diri yang mereka pengaruh positif kepada lingkaran sosial bangun di ruang digital. Fitur repost sendiri Dengan demikian, repost tidak hanya menawarkan cara yang cepat, praktis, dan berperan sebagai sarana komunikasi simbolik, efisien untuk menyampaikan pesan tanpa tetapi juga sebagai mekanisme regulasi harus memproduksi konten orisinal. Lebih jauh, tindakan merepost juga terkait erat mental dan memperkuat selfimage mereka di dengan upaya memelihara resilience mental, ruang digital. Berdasarkan uraian tersebut, yaitu kemampuan individu untuk tetap penelitian ini bertujuan untuk mengungkap tangguh secara psikologis, mempertahankan makna aktivitas repost pada media sosial optimisme, serta menjaga harga diri di bagi Generasi Z dalam konteks ekspresi tengah tekanan emosional dalam interaksi diri dan pembentukan selfimage. Penelitian sosial digital (Adhim & Rohmadani, 2. ini diharapkan dapat mengisi kesenjangan Penelitian sebelumnya juga menunjukkan dalam kajian sebelumnya yang lebih banyak bahwa penggunaan media sosial, termasuk TikTok, oleh mahasiswa dipengaruhi oleh orisinal, dengan memberikan pemahaman dimensi motivasi yang melatarbelakanginya. Pada dimensi because motive, mahasiswa komunikasi simbolik, personal branding, dan menggunakan TikTok karena pengalaman katarsis emosional di ruang digital. mengikuti tren, mengisi waktu luang, hingga memperluas jejaring pertemanan. Sementara itu, pada dimensi inorderto motive, mahasiswa memanfaatkan TikTok dengan orientasi pada tujuan masa depan, seperti meningkatkan rasa percaya diri, creator, atau menggunakan platform ini untuk promosi demi mendukung kebutuhan ekonomi (Agustha & Wirawanda, 2. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan TikTok bukan hanya sekadar hiburan spontan, tetapi juga strategi sadar untuk mencapai tujuan personal, sosial, maupun ekonomi dalam kerangka pembentukan identitas diri. Kebiasaan membaca dan menyimpan kutipan motivasional dari buku, unggahan media Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi fenomenologi sosial Alfred Schutz. Pendekatan ini bertujuan untuk memahami makna subjektif tindakan sosial dari perspektif pelaku dalam konteks dunia kehidupannya, dengan menekankan dua dimensi motif, yaitu because motive . lasan masa lalu yang mendorong tindaka. dan inorderto motive . ujuan yang ingin dicapai melalui tindaka. (Lomanto, 2. Metode ini dipilih karena sesuai untuk menggali secara mendalam pengalaman subjektif serta makna simbolik yang diberikan Generasi Z pada aktivitas repost TikTok sebagai sarana ekspresi diri dan pembentukan selfimage. Objek penelitian ini adalah aktivitas repost Rachma Aulia Hantarti. Vani Dias Adiprabowo Ai Makna Aktivitas Repost TikTok bagi Gen Z . dimaknai Pendekatan ini menekankan pentingnya sebagai sarana komunikasi simbolik untuk keterlibatan langsung peneliti dalam dunia mengekspresikan diri sekaligus membangun kehidupan partisipan melalui pengamatan citra diri di ruang digital. Fokus penelitian fenomena dan dialog kontekstual untuk diarahkan pada motif subjektif di balik tindakan repost, baik yang bersifat sebab , 2. Wawancara dilakukan secara . ecause motiv. maupun tujuan . norderto daring melalui aplikasi WhatsApp untuk Subjek penelitian adalah sepuluh orang informan Generasi Z berusia 19 -23 Wawancara berlangsung antara tahun di Yogyakarta yang aktif menggunakan 45 menit hingga satu jam, tergantung pada fitur repost TikTok. Pemilihan informan dilakukan secara purposive dengan kriteria: masing informan dalam menjelaskan praktik aktif menggunakan TikTok lebih dari lima repost mereka. Selain itu, peneliti juga jam per hari, pernah atau rutin melakukan melakukan observasi digital terhadap akun repost, serta memiliki akun publik yang TikTok para informan . engan persetujua. , dapat diamati. Berdasarkan kriteria tersebut, diperoleh enam informan perempuan dan dengan konten yang benar-benar mereka empat laki-laki, sebagaimana disajikan pada Observasi ini memberikan konteks Tabel 1. tambahan mengenai motif dan pemaknaan TikTok Generasi Z Tabel 1. Daftar Informan Gen Z di Yogyakarta Inisial Usia Frekuensi Repost/ Minggu 22 tahun 19 tahun 20 tahun 21 tahun 20 tahun 21 tahun 22 tahun 23 tahun 22 tahun 21 tahun 7-10 kali 10-15 kali 4-7 kali 5-8 kali 4-7 kali 2 kali 3-5 kali 2 kali 5-8 kali 3-5 kali Sumber: Peneliti, 2025 Pengumpulan data merujuk pada Creswell . tentang circle of data collection yang merekomendasikan kombinasi wawancara, observasi, dan pencatatan reflektif sebagai pendekatan triangulasi untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam dan valid. Kawistara. Vol. No. Desember 2025: 423Ai438 (Rasid informan terhadap aktivitas repost TikTok. Data dianalisis dengan menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman yang terdiri dari tiga tahap, yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Bingham, 2. Pada tahap reduksi, peneliti menyeleksi kutipan wawancara yang relevan untuk masing-masing tema. Selanjutnya, data disajikan dalam bentuk narasi tematik yang mengelompokkan motif repost ke dalam dua dimensi utama yang menjadi fokus penelitian (Maulana et al. , 2. Akhirnya, peneliti menarik kesimpulan berdasarkan pola-pola makna yang muncul dari praktik repost dengan temuan dari studi terdahulu. Untuk menggunakan teknik triangulasi sumber dan teknik pemeriksaan kredibilitas data melalui . ember chec. Selain itu, observasi digital order-to motives (Zulvi, 2. Pola tersebut terhadap konten akun TikTok juga digunakan tampak ketika pengguna TikTok merasakan untuk mendukung validitas narasi wawancara. AurelateAy terhadap sebuah klip yang secara terutama dalam mengonfirmasi motif dan emosional merefleksikan kondisi batin atau visualisasi konten yang mereka pilih untuk situasi hidup mereka, lalu memilih untuk Dengan demikian, kombinasi teknik membagikan ulang video tersebut sebagai pengumpulan dan analisis data ini mampu bentuk proyeksi pengalaman personal. Dalam menjelaskan secara mendalam bagaimana kerangka because motive Alfred Schutz, stok fitur repost TikTok digunakan oleh Generasi pengetahuan biografis segala pengalaman Z sebagai medium ekspresi membangun citra emosional dan narasi yang pernah dialami diri di ruang digital. pelaku mengarah pada keinginan spontan untuk membagikan ulang konten yang PEMBAHASAN Sesuai dengan metode analisis Miles Bagi Generasi Z, fitur repost TikTok dan Huberman yang dikembangkan dalam pendekatan fenomenologi oleh Kuswarno, menciptakan konten baru, mereka hanya proses analisis dilakukan melalui tiga tahapan perlu memilih ulang video yang telah utama: reduksi data, penyajian data, dan tersedia, yang dianggap mampu mewakili Peneliti perasaan mereka. Sebagai instrumen katarsis mereduksi data dengan menyeleksi kutipan emosional atau yang biasa dikenal sebagai wawancara yang relevan berdasarkan tema- proses melepaskan emosi yang terpendam, tema yang muncul (Kuswarno, 2. Data repost menyediakan saluran aman bagi awal yang diperoleh kemudian dikodekan dan dikelompokkan ke dalam dua tema perasaan tanpa harus mengungkapkannya besar sesuai fokus penelitian. Rangkuman secara verbal. Banyak informan menyatakan identitas semua informan serta pernyataan kunci mereka terkait dua aspek utama studi membangun citra atau meraih pengakuan fenomenologi Alfed Schutz: because motive publik, melainkan untuk merelaksasi diri dan dan in order to motive, sebagai berikut: memperoleh kelegaan batin, seperti yang kesimpulan/verifikasi. Because Motive: Kepuasan yang Dirasakan Setelah Mengekpresikan Diri Melalui Konten yang di-Repost Because motives merujuk pada tindakan aktor sosial yang didorong oleh pengalaman kebiasaan atau sikap yang membentuk pola perilakunya di masa kini. Motif ini menjadi dasar bagi seseorang dalam merancang rencana tindak lanjut dalam rangkaian in- diungkap oleh informan SH: AuTiap hari aku repost video TikTok, wkwkwk, seru soalnya kayak represent my feelings tanpa aku harus ngomong, karena aku benerbener tipe orang yang gak bisa cerita ke siapapun. Ay (SH) Ungkapan informan SH menegaskan bahwa informan SH secara aktif sering menggunakan fitur repost yang ada pada aplikasi TikTok dan hasilnya difungsikan Rachma Aulia Hantarti. Vani Dias Adiprabowo Ai Makna Aktivitas Repost TikTok bagi Gen Z . sebagai jurnal visual yang seakan merekam citra diri. Di era modern. Generasi Z sering dan melepaskan emosi sehari- hari tanpa ada ekspektasi ataupun umpan balik sosial kehidupan yang sempurna agar mendapat selain untuk kepuasan diri sendiri. Dalam praktiknya, videovideo yang sering di- sebaya atau fenomena yang disebut social repost meliputi qoutes motivasi, video opini seseorang, lirik musik dengan suasana sedih, identitas digital. Pada tahap perkembangan atau video random dengan balutan dark psikososial ini, kebutuhan akan pengakuan jokes atau jenis humor yang membahas topik berakar pada pencarian ego identity, yaitu sensitif, tabu, dan tragis seperti kematian upaya individu untuk memahami siapa atau penderitaan (Dueyas et al. , 2. Ketika dirinya dan bagaimana ingin dipersepsikan tombol repost ditekan, informan merasakan orang lain. Dalam konteks online, kebutuhan validasi personal: konten itu AumengertiAy ini termanifestasi melalui fenomena social beban emosional mereka. Dengan demikian, comparison, di mana individu berlomba perasaan relate bukan hanya penyebab tindakan, tetapi juga landasan subjektif bagi ekspresi diri yang higienis secara psikologis. dari lingkaran sebaya. Untuk itu, mereka Penelitian berjudul The SelfAcConcept of Generation Z Users of the Tik Tok Application in Rokan Hulu Regency (Mustaqimmah & Sari, 2. menunjukkan bahwa pengguna Generasi Rokan Hulu menggunakan TikTok sebagai sarana untuk merenungi diri, menerima pujian dan kritik, serta terdorong Aoingin memperbaiki diriAo, yang secara jelas berhubungan dengan konsep selfreflection. Fitur repost TikTok memungkinkan Generasi Z untuk melakukan selfreflection dan selfcare emosional secara instan, sesuai dengan konsep Schutz bahwa pemahaman atas tindakan sosial hanya mungkin dicapai subjektif yang dimiliki pelaku dalam lifeworld mereka (Vargas, 2. Dorongan Psikologis dengan cara mengkurasi aktivitas, gaya hidup, dan selera secara konsisten di media social (Pyrez-Torres, 2. Di dalam kerangka because motive Alfred Schutz, dorongan membangun self-image ini lahir dari stok tentang bagaimana mereka melihat diri sendiri dan bagaimana mereka ingin dilihat orang lain. Fitur repost TikTok menyediakan konten terpilih yang mencerminkan nilai, preferensi, atau gaya hidup mereka, tanpa harus memproduksi video orisinal yang memerlukan waktu dan keterampilan teknis yang tinggi. Dengan sekali ketuk. Gen Z dapat membagikan cuplikan tren fashion, tips produktivitas, atau kutipan inspiratif dari sebuah branding pribadi yang ingin Generasi Z, lahir pada kurun 1995Ae mereka proyeksikan. Lebih jauh, repost 2010, tumbuh sebagai digital natives yang tidak lagi sekadar mengekspresikan mood, sangat bergantung pada media sosial untuk tetapi menjadi instrumen personal branding berinteraksi, berekspresi, dan membangun yang strategis. Konten yang dipilih para Kawistara. Vol. No. Desember 2025: 423Ai438 informan menegaskan organisasi estetika satu dorongan utama dalam strategi personal feed, konsistensi topik, dan keterkaitan branding yang dijalankan oleh Generasi Z, yang memanfaatkan media sosial tidak hanya Aufashion enthusiastAy, advocateAy, sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai atau Auknowledge seekerAy. Melalui repost medium untuk membentuk citra diri yang beberapa informan Gen Z berusia 19Ae23 dapat diterima dan diakui oleh jaringan pertemanan sebaya (Vielar, 2. Dengan bahwa aktivitas posting ulang menjadi cara demikian, fitur repost TikTok berperan untuk menampilkan identitas diri. Seperti ganda: sebagai media ekspresi emosional dan disampaikan oleh informan ZA, sebagai alat konstruksi identitas digital yang Auselfcare Yogyakarta AuInilah saya, dengan nilai dan gaya hidup yang saya junjung. Ay (ZA) Kebutuhan akan validasi sosial turut memperkuat motivasi ini. Validasi . ike, komentar, shar. berfungsi sebagai cermin sosial yang memperkuat persepsi positif terhadap diri sendiri, seperti diungkap informan AL: dipersepsikan otentik dan terverifikasi oleh In Order To: Tujuan Gen Z dalam Mengekspresikan Diri Melalui Fitur Repost TikTok Dalam kerangka fenomenologi sosial, inorderto motive dipahami sebagai orientasi sadar individu terhadap tujuan yang ingin AuIya bangett, karena aku gamau dicapai melalui tindakannya, yaitu bagaimana keliatan orang yang suka ngeluh dan seseorang merencanakan sebuah tindakan memang ingin dinilai perempuan yang sebagai sarana untuk mewujudkan aspirasi punya value dengan repost konten yang sosial, emosional, atau identitas diri yang edukatif informatif, tapi aku repost diinginkan (Febrina et al. , 2. Berbeda memang lebih buat sharing sih. Ay (AL) dengan because motive, yang berangkat dari pengalaman masa lalu atau kebiasaan yang menegaskan bahwa because motive dalam sudah tertanam dalam stok pengetahuan lingkup self image tak lepas dari dorongan individu, inorderto motive lebih menyoroti psikologis untuk diterima dan diakui. Konten yang direpost bukan sekadar pilihan acak, dilakukan dengan kesadaran akan hasil atau melainkan perwujudan stok pengalaman nilai dampak yang diharapkan terjadi di masa kini diri yang ingin ditampilkan, sekaligus upaya atau mendatang. mendapatkan pengakuan peer-to-peer. Istilah Pemaknaan Pernyataan peer-to-peer mengacu pada pola interaksi perilaku Gen Z saat menggunakan media setara antarindividu dalam lingkaran sosial sosial, khususnya melalui fitur repost TikTok. yang sama, seperti di antara teman sebaya. TikTok di mana individu berusaha menampilkan diri media baru yang secara jejaring sosial untuk mendapatkan pengakuan dan validasi memungkinkan pengguna untuk tidak hanya dari kelompok tersebut. Dalam konteks media mengonsumsi, juga mendistribusikan ulang sosial, pengakuan peer-to-peer menjadi salah konten secara cepat dan luas (Novitasari & Rachma Aulia Hantarti. Vani Dias Adiprabowo Ai Makna Aktivitas Repost TikTok bagi Gen Z . Adiprabowo, 2. Ketika mereka memilih motivasi yang lebih dalam, baik untuk diri untuk membagikan ulang konten yang sendiri maupun untuk memberi pengaruh dianggap mewakili perasaan, pikiran, atau nilai positif pada orang lain. Dengan demikian, yang ingin ditunjukkan, tindakan tersebut repost TikTok bagi Gen Z menjadi tindakan bukan semata-mata refleksi dari pengalaman sadar yang diarahkan untuk mencapai efek emosional masa lalu sebagaimana dijelaskan psikologis dan sosial tertentu sesuai dengan oleh because motive, melainkan wujud nyata orientasi in order to motive yang dapat inorderto motive, di mana tindakan repost terbagi ke dalam beberapa reflektif, seperti menjadi strategi sadar untuk menyampaikan kode emosional dan motivasi diri. Kode Emosional dan Sosial panjang, mereka cukup menekan tombol Salah satu tujuan paling nyata dari repost adalah fungsinya sebagai AukodeAy emosional nonverbal. Bagi Gen Z, yang hidup di tengah budaya komunikasi digital yang cepat dan serba visual, repost menjadi cara halus untuk menyampaikan pesan kepada orangorang tertentu tanpa harus menuliskannya secara eksplisit. Berdasarkan wawancara, para informan berusia 19Ae23 tahun memanfaatkan mereka alami, seperti ketika suatu konten dianggap mewakili perasaan mereka atau dapat menjadi pengingat Informan DN, misalnya, menjelaskan bahwa ia memposting ulang sebuah video di TikTok sebagai kode tersirat untuk seseorang sekaligus sebagai pemantik motivasi bagi teman-temannya. yang ia tujukan ke teman-temannya secara tidak repost untuk memproyeksikan perasaan. AuSaya senang ada fitur repost karena pikiran, atau kode halus ke teman-teman saya bisa menunjukkan video yang saya Tindakan ini menegaskan apa yang suka ke temanteman yang follow akun diharapkan in order to motive tidak hanya saya, ngode seseorang, dan saya repost mencerminkan suasana hati saat itu, tetapi karena relate juga. Ay (DN) juga menyampaikan aspirasi sosial dan Secara konseptual AungodeAy yang dimaksud membangun citra diri di ruang digital sesuai dengan tujuan sosial yang ingin mereka Generasi Z tumbuh bersama kemajuan teknologi digital dan akses tak terbatas pada smartphone serta aplikasi media sosial. Kebiasaan harian mereka sangat dipengaruhi oleh gadget, dari bangun tidur hingga tidur kembali, layar ponsel menjadi interface utama mereka dengan dunia sosial. Dalam konteks ini. TikTok dinilai memiliki algoritma personalisasi yang sangat peka terhadap pola interaksi pengguna sehingga secara konsisten aplikasi ini dapat menyajikan konten yang relevan secara emosional dan tematis. Setiap ketukan AulikeAy dan durasi menonton video membantu algoritma memahami preferensi, sehingga For Your Page menampilkan video yang sering AurelateAy dengan pengalaman Fitur repost TikTok kemudian muncul sebagai saluran ekspresif yang alamiah bagi Gen Z. Alihalih harus membuat Kawistara. Vol. No. Desember 2025: 423Ai438 oleh DN mempertegas bahwa repost bukan tengah tekanan interaksi digital. Dalam sekadar berbagi konten, melainkan juga alat konteks ini, aktivitas membagikan atau komunikasi rahasia yang hanya dipahami mengunggah konten yang dirasa relevan dimaknai sebagai strategi untuk memotivasi emosional atau pengalaman yang serupa. diri sendiri, menenangkan pikiran, dan Dalam kerangka Schutz, tindakan ini jelas menunjukkan kendali atas emosi mereka. mencerminkan in-order-to motive, yaitu Fitur sebuah upaya sadar yang dilakukan individu karena kutipan atau pesan motivasi dapat tidak hanya untuk memastikan pesan yang langsung muncul di linimasa mereka untuk ingin disampaikan dapat diterima dengan diakses kembali, dan dapat ditujukan untuk baik, tetapi juga untuk mencapai tujuan relasional yang lebih mendalam berupa terjalinnya hubungan emosional dengan informan DM ungkapkan: pihak lain (Goettlich, 2. Tindakan sosial ini dipahami tidak hanya sebagai cara untuk memperoleh hasil yang bersifat praktis, tetapi juga sebagai cara untuk membangun makna bersama, mempererat keterhubungan antarpelaku, dan memenuhi kebutuhan akan pengakuan serta kelekatan emosional dalam interaksi sosial. AuSebagai pengidap ACL, aku lebih gunain repost sebagai penyemangat, motivasi. Aku biasa repost kontenkonten yang relate dan senasib dengan aku karena bisa memotivasi aku buat sembuh. Ay (DM) Ungkapan ini memperlihatkan dimensi reflektif tindakan repost: adanya tujuan psikologis yang ingin ia capai bagi dirinya Motivasi Diri dan Dukungan Sosial Bagi sebagian Gen Z, repost juga berfungsi sebagai sumber motivasi diri sekaligus cara berbagi energi positif kepada orang lain. Kebiasaan mereka membaca dan menyimpan kutipan motivasional baik dari buku, kalimat yang mereka temukan di media sosial, atau klip merupakan bentuk upaya memelihara mental resilience atau yang biasa dipahami sebagai kemampuan individu untuk tetap tangguh secara psikologis, mempertahankan sikap optimis, dan menjaga harga diri ketika menghadapi tekanan emosional (Adhim & Rohmadani, 2. Inorderto motive pada Gen Z tidak hanya berorientasi pada tujuan sosial, tetapi juga merupakan bentuk kesadaran diri untuk sendiri dan juga sebagai bentuk dukungan sosial kepada orang lain yang mungkin mengalami hal serupa. Dalam kerangka Schutz, inilah esensi in order to motive: orientasi ke depan yang terencana dan bermakna bagi pelaku dalam mengekspresikan perasaan secara tidak langsung. Bagi sebagian besar Gen Z yang memiliki kepribadian introvert atau merasa tidak nyaman mengekspresikan AuberbicaraAy lingkungannya tanpa harus terlibat secara Gen Z dapat menunjukkan apa yang mereka rasakan, pikirkan, atau sukai tanpa harus menghadirkan suara atau wajah mereka dalam konten. Informan OK dengan kecenderungan introvert menjelaskan: menjaga ketangguhan mental mereka di Rachma Aulia Hantarti. Vani Dias Adiprabowo Ai Makna Aktivitas Repost TikTok bagi Gen Z . AuAku sering banget pakai fitur repost In Order To: Repost Dapat Membentuk TikTok. Personal Branding dan Identitas Digital Senang aja ada fitur repost itu tanpa kita harus ngepost sesuatu di akun kita Ay (OK) Hasil TikTok platform personal branding yang tidak kalah strategis dibandingkan Instagram, karena selain memungkinkan pembuatan konten orisinal dan penataan biodata profil. TikTok menggambarkan bahwa repost memberi menawarkan beragam fitur seperti hashtag ruang aman bagi mereka untuk tetap challenge, duet, stitch, dan repost yang mana pembaraharuan ini memudahkan para melalui komunikasi tidak langsung, sambil penggunanya terkhusunya Gen Z untuk Orientasi menegaskan identitas digitalnya (Felix et al. tindakannya tetap jelas: ingin dipahami Keunikan algoritma TikTok yang secara tanpa harus mengorbankan privasi atau dinamis menampilkan video berdasarkan pola interaksi membuat pengguna mudah mereka rasakan. Secara keseluruhan, hasil menemukan cuplikan gaya hidup, kutipan ini menunjukkan bahwa bagi Gen Z, fitur inspiratif, atau tren budaya pop yang relate repost TikTok bukan sekadar mekanisme teknis dalam aplikasi, tetapi merupakan instrumen strategis untuk mengekspresikan dengan selera dan nilai pribadi mereka. Melalui mekanisme repost. Gen Z tidak hanya memanfaatkan konten orisinal, tetapi juga identitas emosional dan sosial mereka. AumengkurasiAy sajian video pilihan untuk Dalam kerangka in order to motive, tindakan membangun citra diri, memperoleh validasi repost diarahkan untuk mencapai tujuan sosial, serta menyampaikan pesan emosional spesifik: menyampaikan kode emosional, atau motivasional secara cepat dan autentik. memupuk motivasi diri, berbagi dukungan sosial, dan tetap terhubung dengan audiens tanpa tekanan membuat konten orisinal. Gen Z memanfaatkan algoritma TikTok yang adaptif untuk menemukan konten yang sesuai dengan keadaan mental mereka saat ini, lalu memilih untuk me-repostnya sebagai representasi diri yang cepat. Dengan demikian, repost menjadi sarana penting bagi mereka untuk menegaskan keberadaan diri, mengekspresikan aspirasi, dan memperkuat ikatan sosial secara autentik di era digital. Dalam kerangka in order to motive Alfred Schutz, aktor sosial mempertimbangkan konsekuensi masa depan dari tindakannya, dalam hal ini bagaimana repost dapat Bagi Generasi Z, repost TikTok tidak hanya menyalurkan emosi, tetapi juga berfungsi sebagai instrumen strategis untuk merancang citra diri dengan dua tujuan utama sebagai berikut: Validasi Sosial Validasi sosial seperti bentuk perhatian, dukungan, dan pengakuan dari teman sebaya merupakan dorongan reflektif yang sangat Kawistara. Vol. No. Desember 2025: 423Ai438 penting bagi Gen Z dalam membangun selera masing-masing individu. Repost tidak dilakukan secara sembarangan, tetapi dipilih (Fernyndez-Zabala et al. , 2. DT = 1. dengan cermat agar konten yang muncul Repost dipilih agar konten yang mereka di linimasa mereka menarik keterlibatan bagikan memancing interaksi . ike, komentar, audiens melalui tanda suka, kolom komentar, shar. , yang kemudian berfungsi sebagai serta fitur berbagi, sekaligus menegaskan umpan balik untuk memperkuat selfesteem, kesan estetik yang ingin mereka tunjukkan seperti yang diungkap informan ZA berikut kepada orang lain. Hal ini selaras dengan apa yang diungkapkan informan OK terkait AuJujur, kadang aku merasa apa yang aku repost sebenarnya untuk memvalidasi Biar teman atau orang yang mem-posting . video TikTok dalam menajaga personal kepoin akunku tahu kalau seleraku itu AuAku sendiri merasa video yang aku yang begini jadi aku lumayan perhatiin repost aku seleksi dari segi tampilan self image aku di TikTok. Ay (ZA) sampai katakatanya sih, karena aku Kutipan ZA di atas mewakili bahwa mau bangun image aesthetic ketika Gen Z menggunakan repost sebagai sinyal orang tahu akun TikTokku. Ay (OK) sosial mereka dalam memilih konten yang Pernyataan dari informan OK di atas sesuai selera agar audiens merespons, lalu memperlihatkan bahwa bagi sebagian Gen Z, tampilan akun TikTok adalah semacam digital sebagai bukti pengakuan identitas mereka. gallery yang mencerminkan selera, nilai, dan Sejalan kepribadian mereka. Dalam hal ini, tindakan repost menjadi salah satu cara paling praktis platform sebagai ruang untuk menampilkan dan minim risiko untuk mengkurasi tampilan diri, mendapatkan resonansi dari orang lain, akun yang rapi, selaras, dan menyenangkan dan menegaskan rasa keterikatan (Tirocchi, secara visual. Fenomena ini menunjukkan 2. , sehingga repost berfungsi sebagai alat bahwa tujuan Gen Z dalam melakukan repost penguatan identitas dan validasi sosial. tidak hanya sebatas menyuarakan emosi Gen Z Fraser atau membagikan pesan tertentu, juga Menjaga Citra Diri Dalam to motive Alfred Schutz, tindakan sosial selalu diarahkan pada tujuan reflektif yang ingin dicapai pelaku di masa depan. Bagi Generasi Z, salah satu tujuan utama mereka dalam melakukan repost TikTok adalah untuk membangun aesthetic selfimage, yakni citra diri yang tampak rapi, konsisten, dan bernilai seni di mata audiens digital sesuai dengan sebagai sarana untuk menunjukkan selera pribadi terhadap kerapian dan estetika tata linimasa akun mereka. Dengan memilih konten yang menurut mereka indah secara visual, bermakna, atau bernuansa tertentu. Gen Z berupaya memastikan bahwa siapa pun yang mengunjungi profil mereka akan menangkap citra diri yang sesuai harapan. Misalnya, mereka ini dinilai sebagai pribadi dengan selera yang terjaga, autentik, dan Rachma Aulia Hantarti. Vani Dias Adiprabowo Ai Makna Aktivitas Repost TikTok bagi Gen Z . Dengan demikian, motif membangun Pada dimensi because motive, pengalaman aesthetic selfimage ini merupakan manifestasi emosional masa lalu menjadi dasar bagi nyata dari in order to motive Schutz: tindakan tindakan repost. Informan ZA. DN. SH, yang dilakukan dengan sadar, terarah, dan dan OK mengungkapkan bahwa repost merupakan cara yang paling sederhana untuk mendapatkan pengakuan dan memperkuat mengekspresikan perasaan AurelateAy terhadap identitas diri di ruang digital. video yang ditemukan di linimasa mereka. Fenomenologi memandang pengalaman subjektif sebagai pusat pemaknaan tindakan Dalam pandangan Alfred Schutz, tindakan sosial tidak hanya merupakan saat ini, melainkan hasil tafsir aktor atas pengalaman masa lalu . ecause motiv. dan tujuan yang ingin dicapai di masa depan . n order to motiv. Apa yang semula hanya secara sosial ketika ditampilkan dalam interaksi digital, termasuk di media sosial seperti TikTok. Proses penafsiran inilah yang menjembatani perubahan makna tersebut Perasaan relate yang dialami informan lahir dari stok pengetahuan biografis sebagai Generasi Z. Latar belakang pengalaman tersebut memunculkan keinginan informan untuk membagikan konten yang dirasakan sesuai dengan suasana hati mereka. AuTiap hari aku repost video TikTok A kayak Aorepresent my feelingsAo tanpa aku harus ngomong. Ay (SH) Pernyataan informan di atas menunjukkan bagaimana repost menjadi semacam katarsis emosional, sebuah cara untuk meluapkan perasaan tanpa harus berbicara secara verbal. Hal ini mendukung hasil penelitian Divaliani & Nurhakim . , yang menemukan bahwa media sosial menjadi wadah bagi generasi muda untuk melepaskan beban psikologis Selain Temuan penelitian ini menunjukkan ekspresi emosional, motif lain yang muncul bahwa fitur repost TikTok telah berkembang dari pengalaman masa lalu adalah dorongan menjadi medium strategis bagi Gen Z dalam psikologis untuk membangun citra diri. mengekspresikan identitas emosional dan Validasi sosial dari orang lain melalui like. Hal ini sejalan dengan penelitian yang komentar, atau sekadar pandangan orang lain menunjukkan bahwa media sosial TikTok terhadap akun mereka memperkuat persepsi memberi ruang bagi generasi muda untuk diri yang positif, sebagaimana pernyataan mengekspresikan diri, menyampaikan ide, informan di bawah ini: dan membangun identitas digital melalui konten yang mereka unggah (Wahyuni & Fajarini, 2. Motif di balik penggunaan fitur repost oleh Gen Z dapat dilihat melalui dua dimensi utama dalam kerangka Schutz: because motive dan in order to motive. Kawistara. Vol. No. Desember 2025: 423Ai438 AuBiar teman atau orang yang kepoin akunku tahu kalau seleraku itu yang begini,Ay (ZA) Pernyataan bagaimana tindakan repost dilandasi oleh pengalaman masa lalu mereka tentang bagaimana mereka ingin dipersepsi oleh aesthetic self-image Mereka secara sadar mengkurasi konten yang di-repost agar feed temuan yang menyebut bahwa media sosial mereka tampak rapi, estetis, dan konsisten adalah Augaleri digitalAy di mana identitas diri dikonstruksi dan dikurasi secara sadar, proyeksikan kepada orang lain. Akun TikTok sekaligus menjadi sarana bagi pengguna dipandang sebagai Augaleri digitalAy yang mencerminkan selera, nilai, dan gaya hidup, merefleksikan pengalaman hidup mereka sehingga tindakan repost menjadi strategi melalui unggahan yang dipilih secara selektif personal branding yang cepat dan efisien. (Putri & Pratiwi, 2. Secara keseluruhan, temuan penelitian ini Hal Sementara order to motive, tindakan repost dilakukan dengan tujuan-tujuan reflektif yang ingin dicapai di masa depan. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa salah satu tujuan paling umum adalah menyampaikan AukodeAy emosional kepada orang lain. Para Informan menyebut tindakan ini sebagai AukodeAy, yaitu cara nonverbal untuk menyampaikan pesan perasaan kepada audiens tertentu melalui konten yang di-repost. Ungkapan seperti AukodeAy menunjukkan bagaimana repost tidak hanya menjadi sarana berbagi konten, tetapi juga alat komunikasi yang bersifat implisit, yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang berada pada kanal emosi yang sama. Selain itu, tindakan repost juga dimaknai sebagai upaya untuk memotivasi diri sendiri sekaligus berbagi energi positif kepada memperkuat pandangan bahwa tindakan repost TikTok bagi Gen Z bukanlah sekadar kebiasaan teknis atau impulsif, melainkan Dalam kerangka fenomenologi Schutz, tindakan repost dapat dipahami sebagai hasil dari pengalaman emosional dan sosial masa lalu . ecause motiv. , sekaligus sebagai upaya sadar untuk mencapai tujuan reflektif di masa depan . n order to motiv. Dengan memanfaatkan algoritma TikTok Gen Z memilih konten yang selaras dengan kondisi psikologis mereka, kemudian me-repost-nya sebagai representasi diri yang otentik. Praktik ini menunjukkan bahwa repost TikTok telah menjadi instrumen penting dalam strategi komunikasi diri Gen Z, baik sebagai katarsis emosional, sebagai alat komunikasi tersirat, orang lain. Sebagaimana diungkap oleh sebagai cara berbagi motivasi, maupun salah satu informan yang berjuang melawan konten-konten yang ia repost memberinya harapan dan branding yang estetis dan konsisten. dukungan psikologis. Media sosial dikatakan SIMPULAN mendukung manajemen emosi pengguna Penelitian melalui penyebaran pesan positif (Yuan et al. TikTok bagi Generasi Z melalui pendekatan Tujuan lainnya yang cukup penting bagi sebagian informan adalah membangun Alfred Schutz, mengkaji dua dimensi motif sosial: because Rachma Aulia Hantarti. Vani Dias Adiprabowo Ai Makna Aktivitas Repost TikTok bagi Gen Z . motive dan in order to motive. Hasil penelitian informan, misalnya dengan melibatkan Gen Z menunjukkan bahwa aktivitas repost TikTok dari berbagai daerah, kelas sosial, atau latar budaya yang berbeda untuk mendapatkan yang sarat makna personal dan sosial. Pada gambaran yang lebih komprehensif. Selain dimensi because motive, tindakan repost dipengaruhi oleh pengalaman emosional dan mengombinasikan pendekatan fenomenologi biografis yang mereka alami di masa lalu, dengan teori lain, seperti dramaturgi atau seperti kebutuhan menyalurkan perasaan uses and gratifications, untuk memperkaya yang tidak dapat diungkap secara langsung, analisis mengenai bagaimana praktik repost membentuk identitas dan relasi sosial di Gen Z ruang digital. konten yang dirasa relevan. Sementara itu, pada dimensi in order DAFTAR PUSTAKA