Jurnal Peduli Masyarakat Volume 6 Nomor 3. September 2024 e-ISSN 2721-9747. p-ISSN 2715-6524 http://jurnal. com/index. php/JPM EDUKASI PENTINGNYA PERAN KELUARGA TERHADAP PEMBERIAN MP-ASI SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN STUNTING PADA MASA GOLDEN AGE PADA ANAK DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KUTA Hasrun Ningsih*. Ismiati. Fuji Khairani Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Qamarul Huda. Jl. Badruddin. Bagu. Lombok Tengah. Nusa Tenggara Barat 83371. Indonesia *ningsihhasruncantik@gmail. ABSTRAK Dalam praktiknya masih banyak masyarakat Indonesia yang memberikan MP-ASI kurang dari enam bulan. Hal inilah yang menyebabkan tingginya insiden infeksi seperti diare, infeksi saluran napas, alergi hingga gangguan pertumbuhan. Tingginya kejadian infeksi berdampak pada menurunnya kesehatan bayi balita sehingga kebutuhan gizi tidak optimal yang berujung pada kasus stunting. Salah satu penyebab tingginya kasus stunting di Indonesia adalah kurangnya pengetahuan ibu tentang kebutuhan gizi anaknya. Oleh karena itu, diperlukan upaya promotif dan preventif dengan memberikan edukasi pentingnya pemberian MPASI khususnya pada masa Golden Age usia 6-24 bulan agar masalah stunting tidak menjadi masalah yang selalu menghantui kesehatan anak di Indonesia. Kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk mengedukasi Peran Keluarga Terhadap Pemberian MP-ASI Sebagai Upaya Pencegahan Stunting Pada Masa Golden AGE Pada Anak di Wilayah Kerja Puskesmas Kuta. Metode yang dilakukan dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini berupa pemberian penyuluhan seputar MPASI dilanjutkan dengan sesi diskusi untuk mengetahui pemahaman pentingnya pemberian MP-ASI dalam memenuhi kebutuhan gizi bayi untuk menvegah stunting. Peserta pengabdian masyarakat ini sebanyak 30 ibu yang memiliki anak usia 6 bulan24 bulan dan datang ke posyandu Dusun Mengalung dengan hampir 90% ibu belum memahami pentingnya MP-ASI namun setelah diberikan edukasi pemahaman ibu dapat dilihat secara aktif Membahas dan memecahkan masalah ibu dalam memenuhi kebutuhan gizi anak. Pengabdian kepada masyarakat berupa pemberian edukasi kepada ibu balita dilakukan dengan baik dan peserta aktif berdiskusi dalam kegiatan Kedepannya diharapkan pengabdian masyarakat dapat dilakukan dengan mempraktikkan pembuatan MPASI. Kata kunci: golden age. MP-ASI. pengetahuan ibu. EDUCATION ON THE IMPORTANCE OF THE FAMILY'S ROLE IN ROVIDING MP-ASI AS AN EFFORT TO PREVENT STUNTING DURING THE GOLDEN AGE OF CHILDREN IN THE WORKING AREA OF THE KUTA PUSKESMAS ABSTRACT In practice, there are still many Indonesians who give MP-ASI for less than six months. This is what causes a high incidence of infections such as diarrhea, respiratory infections, allergies to growth disorders. The high incidence of infection has an impact on the declining health of babies under five so that nutritional needs are not optimal which leads to stunting cases. One of the causes of the high number of stunting cases in Indonesia is the lack of maternal knowledge about the needs of mothers. This community service activity is to educate the Role of Families in the Provision of MP-ASI as an Effort to Prevent Stunting During the Golden AGE Period for Children in the Kuta Health Center Work Area. The method carried out in this community service activity is in the form of providing counseling about complementary foods followed by a discussion session to find out the importance of providing MP-ASI in meeting the nutritional needs of babies Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group to prevent stunting. The participants of this community service were 30 mothers who had children aged 6 months-24 months and came to the Mengalung Hamlet posyandu with almost 90% of mothers not understanding the importance of MP-ASI but after being given education on mothers' understanding, they can be seen actively discussing and solving mothers' problems in meeting children's nutritional needs. Community service in the form of providing education to mothers under five was done well and participants actively discussed in the activity. In the future, it is hoped that community service can be carried out by practicing the making of complementary foods. Keywords: golden age. mother's knowledge. mp-asi. PENDAHULUAN Stunting berkaitan erat dengan pertumbuhan. Pertumbuhan menjadi salah satu tolok ukur dalam menentukan status gizi dan kesehatan anak. Pada dua tahun pertama kehidupan balita mulai muncul rasa kepekaan terhadap lingkungan yang berlangsung singkat dan tidak dapat diulang sehingga disebut sebagai masa emas. Setiap orang tua perlu memperhatikan kebutuhan gizi anaknya karena masalah gizi dapat dipengaruhi oleh faktor tidak langsung yang berasal dari orang tua yaitu kurangnya pengetahuan orang tua terkhusus ibu mengenai pentingnya kebutuhan gizi anak (Sari & Kumorojati, 2. Kurangnya pengetahuan ibu mengenai pemberian makanan pendamping dan masih adanya kebiasaan yang merugikan kesehatan seperti pemberian susu kental manis bagi bayi balita dapat menyebabkan anak rentan terkena penyakit khususnya infeksi (Yunita et al. , 2. Masalah ini tentu berpengaruh terhadap pertumbuhan fisik maupun mental Anak stunting biasanya terlihat lebih pendek dan kurus dibandingkan teman-teman sebayanya yang sehat, serta kurang berprestasi saat usia sekolah dikarenakan kecerdasannya terganggu (Isni & Dinni, 2. Salah satu upaya penanganan stunting yang dapat langsung dilakukan dengan masalah gizi adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI) dan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI). Pada periode golden age, pemberian makanan lain sebagai pendamping ASI diberikan pada bayi atau anak mulai usia 6-24 bulan. Syarat MP-ASI yang baik adalah tepat waktu pemberian, mengandung gizi lengkap dan seimbang, dan benar cara pemberian (Anandita & Gustina, 2. Pada tahun 2017, sekitar 150,8 juta balita . ,2%) di dunia mengalami stunting. Berdasarkan data pemantauan Status Gizi (PSG), selama tiga tahun terakhir angka kejadian balita pendek memiliki prevalensi tertinggi dibandingkan dengan masalah gizi lainnya seperti gizi kurang dan gizi lebih. Hal ini didukung oleh data World Health Organization (WHO) yang menyatakan bahwa Negara Indonesia termasuk ke dalam negara ketiga dengan prevalensi stunting tertinggi di regional Asia Tenggara. Prevalensi angka stunting pada balita pada tahun 2000 sebesar 27,5%. Pada tahun 2016 mengalami peningkatan sebesar 29,6% (Kemenkes, 2. Dalam upaya penanganan stunting di Indonesia, pemerintah sendiri sudah menargetkan Program Penurunan Stunting menjadi 14% pada tahun 2024 mendatang. Memenuhi target tersebut merupakan sebuah tantangan besar bagi pemerintah dan rakyat Indonesia di tengah pandemi ini. Terlebih lagi, aktivitas di Pos Pelayanan Terpadu (Posyand. kurang maksimal saat ini. Padahal. Posyandu adalah tonggak utama pemantau tumbuh kembang balita pada lingkup wilayah yang lebih kecil. (Setiawan. Machmud, & Masrul, 2. Di Indonesia sendiri, akses terhadap makanan bergizi seimbang belum merata. Padahal faktor utama terjadinya stunting adalah kurangnya asupan gizi anak pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Pertumbuhan otak dan tubuh berkembang pesat pada 1000 HPK yang dimulai sejak janin hingga anak berumur dua Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group Pemenuhan gizi pada tahap tersebut sangat penting agar tumbuh kembang anak dapat (Setiawan. Machmud, & Masrul, 2. Pola asuh orang tua dan peran keluarga juga berperan penting dalam mencegah stunting. Oleh karena itu, perlu digencarkan penyuluhan kepada masyarakat mengenai bahaya stunting dan cara Sehingga kelak ketika sudah menjadi orang tua diharapkan masyarakat dapat berperan dalam mencegah stunting sejak dini. Sehingga, prevelensi stunting di Indonesia tidak berada di angka mengkhawatirkan lagi. (Schmid et al. , 2018. Setiawan et al. , 2. Berdasarkan data Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS, 2. menginformasikan bahwa angka kejadian stunting secara nasional rata-rata sebesar 30,8%, di NTB sebesar 33,49%. Tingginya angka kejadian stunting dan gizi buruk tersebut menunjukkan bahwa kondisi kesehatan balita di NTB sangat memprihatinkan dan diperlukan perhatian yang serius karena akan berimbas pada kualitas generasi penerus dan kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa 1 . dari 3 . anak di NTB rentan mengalami stunting dan gizi buruk (Asmawatui, et al, 2. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk mengedukasi Peran Keluarga Terhadap Pemberian MP-ASI Sebagai Upaya Pencegahan Stunting Pada Masa Golden AGE Pada Anak di Wilayah Kerja Puskesmas kuta. METODE Metode pelaksanaan pengabdian masyarakat ini berupa edukasi Kesehatan Edukasi Pentingnya peran Keluarga Terhadap Pemberian MP-ASI Sebagai Upaya Pencegahan Stunting Pada Masa Golden AGE Pada Anak Pelaksanaan kegiatan diawali dengan koordinasi antara Tim Gizi Puskesmas Kuta dan bidan serta para Kader Posyandu . setelah itu penentuan waktu pelaksanaan disepakati bersama dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan posyandu rutin setiap awal bulan dan bertempat di Posyandu. Tim Gizi Puskesmas Kuta memberikan edukasi MP-ASI untuk ibu yang bersedia hadir, pasangan kader posyandu berpartisipasi dalam menyediakan makanan bergizi tambahan bagi bayi balita yang hadir untuk menimbang. Kegiatan edukasi MP-ASI ini diawali dengan penimbangan bayi dan pencatatan hasil pada buku KIA, diakhiri dengan pemberian edukasi MP-ASI sekaligus pemberian materi penyuluhan mengenai MP-ASI. Ibu balita yang diberikan oleh dosen universitas qamarul huda bagu dengan supervisi Tim Gizi Puskesmas Kuta mengenai jenis MP-ASI sesuai umur anak dengan memanfaatkan bahan pangan yang mudah didapatkan atau berada di lingkungan sekitar Masyarakat kuta yang termasuk daerah pesisir pantai. Setelah pemberian materi edukasi selesai, dilakukan sesi diskusi melalui tanya jawab bersama pemateri dan Tim Gizi Puskesmas untuk mengetahui sejauh mana ibu memahami materi edukasi yang di berikan dan menyelesaikan masalah yang dialami ibu dalam memenuhi kebutuhan gizi anaknya. Diharapkan setelah mendapatkan pengetahuan tersebut ibu dapat melaksanakan edukasi selama dirumah dan bayi/balita mendapatkan MP-ASI sesuai dengan tahapan perkembangan, serta tumbuh kembang bayi/balita tersebut dapat berjalan baik sesuai dengan tahapan umurnya. Selain itu, diharapkan para orang tua lebih aktif menimbang anaknya di Posyandu agar terpantau tumbuh kembangnya dalam buku KIA. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan Edukasi Pentingnya Peran keluarga terhadap pemberian MP-ASI ini berada di dusun mengalung tepatnya dilaksanakan di Posyandu mengalung RT 00/RW 00, yang dilaksanakan pada tanggal 20 juni 2024. Adapun peserta yang menjadi sasaran berjumlah 45 ibu bayi/balita tetapi yang hadir sebanyak 20 ibu bayi/balita didampingi oleh bidan desa, kader dan Tim Gizi dari Puskesmas Sengkol. Pemateri edukasi MP-ASI dari tim Tim Gizi Puskesmas sebanyak 2 Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group narasumber dibantu oleh kader untuk mengkoordinir Prodi SI Kebidanan Fakultas KesehatanUniversitas Qamarul Huda Badaruddin Bagu . Sebelum melakukan kegiatan penyuluhan , tim melakukan koordinasi terlebih dahulu dengan Bidan Puskesmas dan Kader Posyandu untuk menyiapkan tempat pelaksanaan dan undangan kepada peserta. Media edukasi dalam pengabdian ini berupa leafleat dan vidio yang disusun oleh pelaksana pengabdian Selanjutnya, pelaksanaan kegiatan edukasi pentingnya MP-ASI pada tanggal 20 Juni 2024. Fokus materi kegiatan pengabdian masyarakat mengenai pemberian MP-ASI berdasarkan standar WHO yang tepat sesuai usia untuk mencegah stunting pada masa golden MP-ASI adalah makanan yang diberikan pada bayi mulai umur 6 bulan untuk memenuhi kebutuhan energi dan nutrisi lain, yang tidak dapat dicukupi oleh ASI. Pemberian makanan tambahan harus memperhatikan jumlah dan macam makanan tersebut. Selain itu harus disesuaikan dengan kebutuhan menambah dan melengkapi nutrien, serat dan selera bayi. Pemberian makanan yang berkualitas dan berkuantitas sangat penting untuk pertumbuhan bayi (Sucianingsih et al. , 2. Makanan pendamping ASI (MP-ASI) merupakan makanan lain yang selain ASI. makanan tambahan mulai diberikan pada balita usia 6 bulan- 24 bulan. Pada usia ini MP-ASI sangat penting untuk menambah energi dan zat gizi yang diperlukan. Kenyataanya di lapangan msih banyak ibu yang memberikan MP-ASI pada bayinya meskipun umurnya masih belum mencapai 6 bulan. Padahal apabila memberikan MP-ASI terlalu dini, bayi akan minum ASI lebih sedikit dan ibupun memproduksi lebih sedikit, hingga akan lebih sulit untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi. (Dona T, 2. Berdasarkan Hasil penelitian MP-ASI dengan kejadian balita stunting menunjukkan hasil bahwa usia balita saat pertama kali mendapat MP-ASI memiliki hubungan signifikan dengan status stunting pada balita dengan korelasi mendapatkan hasil -0,182 artinya semakin tepat usia pemberian MP-ASI pada balita semakin rendah risiko terjadinya stunting. Anak yang tidak diberikan bentuk MP-ASI sesuai dengan usianya akan mudah terkena diare dan berisiko Apabila kejadian terus-menerus maka akan berdampak pada pola pertumbuhan karena infeksi mempunyai kontribusi terhadap penurunan nafsu makan sehingga akan mempengaruhi pertumbuhan anak. Jumlah MP-ASI yang diberikan pada balita, meskupun secara kuantitas sudah sesuai standar namun jika kualitasnya kurang baik atau tidak beragam , balita akan mengalami deficit terhadap zat gizi tertentu, sehingga tetap mempengaruhi proses pertumbuhan balita (Mustamin, 2. Berdasarkan hasil penelitian bahwadi temukan hubungan antara riwayat pemberian MP-ASI dengan status stunting menandakan bahwa pemberian MP-ASI dengan tepat sesuai usia berpeluang 1,568 kali tumbuh tidak stunting dari pada balita yang diberikan MP-ASI tidak tepat. (Dewi R, 2. Stunting menggambarkan keadaan gizi kurang yang kronis dan memerlukan waktu lama bagi anak untuk pulih kembali dengan penatalaksanaan segera sehingga status gizi balita menjadi indikator gizi, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Mengenali faktor predesposisi penting untuk mencegah terjadinya stunting. MP-ASI penting untuk diberikan dalam menopang kecukupan gizi balita sejak usia 6 bulan sementara tingkat pendidikan ibu berperan penting dalam cara asuh ibu dan pengetahuan mengenai kebutuhan asupan nutrisi yang diperlukan oleh (Amanda, 2. Menurut Hanum . dampak stunting berkaitan dengan morbiditas dan mortalitas, penurunan perkembangan kognitif, motorik. Bahasa dan meningkatkan pengeluaran biaya kesehatan, selain itu meningkatkan risiko obesitas, penurunan kesehatan Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group reproduksi, penurunan kecerdasan, kapasitas belajar, kemampuan dan kapasitas kerja. Berdasarkan WHO . terdapat beberapa faktor yang menyebabkan kejadian stunting pada balita yaitu: rumah tangga dan keluarga. kurangnya makanan tambahan atau komplementer. pemberian ASI dan faktor infeksi Kegiatan Pengabdian Masyarakat Langkah-langkah yang diterapkan pada kegiatan pengabdian masyarakat ini adalahsebagai . Persiapan Dosen dan bidan dari Puskesmas Kuta menyiapkan Leafleat dan materi PPT edukasi MP-ASI yang mengacu pada buku pendampingan pendidikan pemberian makanan bayi dan anak berstandar Kementerian Kesehatan yang diawali mengenai tahapan tumbuh kembang anak, penjelasan mengenai MP-ASI dan tahapan pembuatannya, beserta kebutuhan nutrisi pada anak sesuai dengan usianya, diakhiri dengan cara-cara pengolahan MP- ASI yang bisa diberikan pada anak. Leafleat dibagikan kepada peserta, dan PPT disempaikan saat pelaksanaan edukasi. Pelaksanaan Awal Kegiatan dimulai dengan melakukan pengisian presensi kemudian melakukan penimbangan rutin, pengukuran tinggi badan, dan Panjang badan, pengisian buku KMS, imunisasi bagi bayi balita yang terlewat jadwal imunisasi, dan pembagian makanan tambahan berupa pisang, bubur kacang hijau dan kue. Kegiatan Inti Kegiatan inti adalah pemberian edukasi berupa penyuluhan dengan metode ceramah dan diskusi mengenai pentingnya MP-ASI pada ibu bayi balita dengan leafleat Pemberian MP-ASI pada Bayi dan Anak yang disediakan oleh dosen QAMARUL Huda Bdaruddin Bagu. Pemberian edukasi ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman ibu mengenai pemberian MP-ASI sesuai usia anak berdasarkan standar WHO. Kegiatan ini berjalan dengan lancar dan teratur karena dibantu oleh kader yang mengkoordinasikan kegiatan dengan pembagian tugas yang Saat sesi diskusi para orang tua juga aktif bertanya dan menyampaikan kesulitan yang dialami dalam memenuhi kebutuhan gizi anaknya. Hasilnya ibu lebih memahami mengenai pemberian MP-ASI yang benar dan bersedia untuk memantau tumbuh kembang anaknya dengan rajin datang ke posyandu. Gambar 1. Pemberian Edukasi Tentang MP-ASI oleh Dosen dan bidan Puskesmas Kuta Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group . Diskusi dan tanya jawab Pada tahap ini peserta mengajukan beberapa pertanyaan seputar materi MPASI. Selain itu, pada sesi ini membahas keresahan dan kesulitan ibu selama memenuhi kebutuhan gizi anaknya untuk mencari solusi alternatif dan efektif yang bisa dilakukan. Gambar 2. Tanya jawab Edukasi Tentang MP-ASI oleh Dosen dan bidan Puskesmas Kuta Evaluasi Kegiatan Setelah dilakukan penyuluhan berupa edukasi mengenai pentingnya MPASI di masa golden age, keberhasilan kegitan penyuluhan dapat dilihat dari beberapa aspek, berikut ini: Target jumlah peserta penyuluhan dapat dikatakan sangat baik. Dimana peserta yang hadir sebanyak 20 orang peserta dinatarnya adalah ibu Ae ibu yang memiliki balita usia 6 bulan Ae 24 bulan. Ketercapaian Tujuan edukasi Berdasarkan sesi Tanya jawab dan diskusi yang sudah dilakukan hamper 92% peserta aktif bertanya dan berani mau menyampaikan kekhawatiran atau kesulitan dalam pemberian kebutuhan gizi anaknya. Penguasaan Mater Kemampuan peserta dalam menguasi materi bisa dikatakan baik . %). Penyampaian materi oleh Dosen Qamarul Huda badaruddin Bagu dibantu oleh bidan melalui media audio visual, ceramah, diskusi dan pemberian leafleat dinilai mampu menambah pengetahuan dan pemahaman tentang pemberian MPASI pada bayi yang sebelumnya memiliki pemahaman yang kurang. Rencana Tindak Lanjut Pada pelaksanaan kegiatan selanjutnya, ketercapaian tujuan penyuluhan bisa ditingkatkan melalui pemberian pelatihan yang berkelanjutan agar lebih terukur tingkat pemahaman terhadap penyuluhan yang sudah diberikan. Selain itu, lebih diupaya promotif agar semua sasaran bisa terjangkau dan kesehatan bayi balita bisa lebih meningkat. Salah satu upaya promotif yang dapat dilakukan untuk mencegah stunting di masa golden age yaitu dengan cara pemberian MPASI untuk bayi usia diatas 6 bulan-24 bulan. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group SIMPULAN Berdasarkan hasil PKM yamg Sudah dilaksankan, penyuluhan tentang pemberian MPASI sesuai umur dan standar WHO sebagai salah satu upaya pencegahan stunting di masa golden age menunjukkan hasil sesuai dengan tujuan kegiatan. Oleh karna itu, perlu diadakan kegiatan promotif berupa edukasi secara berkesinambungan bersama ibu bayi balita yang didampingi oleh Kader juga perlu mendapatkan. pelatihan guna menambah pemahaman terkait dengan gizi Sehingga ibu-ibu yang memiliki bayi dan balita dapat memahami MPASI dan bisa menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. DAFTAR PUSTAKA