Artikel Smartphone dan Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini: Studi di Desa Ledug. Banyumas Wiharti Ifta Juniati 1,*. Murniati 2. Noor Yunida Triana 3 1 Program Studi Keperawatan Program Sarjana Fakultas Kesehatan Universitas Harapan Bangsa. Purwokerto. Indonesia 2 Program Studi Keperawatan Program Diploma Tiga Fakultas Kesehatan Universitas Harapan Bangsa. Purwokerto. Indonesia 3 Program Studi Keperawatan Program Sarjana Fakultas Kesehatan Universitas Harapan Bangsa. Purwokerto. Indonesia *Korespondensi: wihartiifta9@gmail. Abstract: Toddlers between the ages of one and three undergo a crucial phase Received: 31 Desember 2024 of rapid growth and development, including cognitive enhancement. Smartphone usage can influence cognitive development, the process by which children acquire thinking skills. The utilization of smartphones may have both beneficial and adverse effects on cognitive development. This study is to investigate the relationship between cognitive development in children aged one to three and their smartphone usage in Ledug Village. Banyumas Regency. This research is categorized as cross-sectional correlational investigation. The study's population consisted of 65 toddlers from Posyandu Margo Sari in Ledug Village. Methodology for intentional sampling utilizing inclusion and exclusion The Capute Scale evaluates cognitive development, whereas the study's independent variable is the degree of an individual's smartphone utilization. Data processing includes editing, coding, scoring, tabulating, and doing Spearman Rank test analysis. Of the 37 respondents, the majority . , or 49%) indicated moderate to heavy smartphone usage, while a larger majority . , or 57%) reported assessing the results of presumed cognitive enhancement. The results of the Spearman's Rho Rank correlation test indicate a positive correlation and moderate degree of connection, resulting in the rejection of H0, with a p-value of 0. -value < 0. Rho = 0. The study's findings indicate a relationship between the extent of smartphone usage and cognitive development in children aged 1 to 3. Parents should control their childrenAos smartphone use by limiting the duration of smartphone use to less than one hour per day. Revised: 7 Agustus 2025 Accepted: 14 Agustus 2025 Published: 19 Agustus 2025 Copyright: A 2025 by the authors. License Universitas Harapan Bangsa. Purwokerto. Indonesia. This article is an open access article distributed under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY) license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. Keywords: child. cognitive development. Pendahuluan Usia 1-3 tahun . merupakan usia emas . olden ag. dimana pertumbuhan dan perkembangan berlangsung cepat dalam segala aspek. Masa toddler merupakan masa yang penting bagi anak karena KORISA 2025. Page 20-30. https://ejournal. id/index. php/korisa Jurnal Kolaborasi Riset Sarjana. Vol. 2 No. 3 Tahun 2025 Page 21 of 30 pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi pada masa balita akan mempengaruhi dan menentukan tumbuh kembang anak selanjutnya. Pada masa ini perkembangan kemampuan bicara dan bahasa, kreativitas, kesadaran sosial, emosional dan intelegensia berjalan sangat cepat dan merupakan landasan perkembangan selanjutnya. Perkembangan moral dan dasar-dasar kepribadian anak juga dibentuk pada masa toddler. Sistem organ tubuh juga mengalami pertumbuhan dan perkembangan pada masa ini (Natasha et al. , 2. Salah satu aspek yang sangat penting untuk diketahui dan dipahami dari perkembangan anak adalah aspek Perkembangan kognitif merupakan suatu perkembangan yang sangat komprehensif yaitu berkaitan dengan kemampuan berpikir, seperti kemampuan bernalar, mengingat, menghafal, memecahkan masalahmasalah nyata, beride, dan kreativitas. Perkembangan kognitif ini memberikan pengaruh terhadap perkembangan mental dan emosional anak serta kemampuan berbahasa. Sikap dan tindakan anak juga berkaitan dengan kemampuan berpikir anak sehingga perkembangan kognitif dapat dikatakan sebagai kunci dari pada perkembangan-perkembangan yang bersifat non-fisik (Bujuri, 2. Perkembangan tersebut bersifat maju ke depan . , sistematis dan berkesinambungan. Hal-hal yang berkembang pada setiap individu adalah sama, hanya saja terdapat perbedaan pada kecepatan perkembangan dan ada perkembangan yang mendahului perkembangan sebelumnya, walaupun sejatinya perkembangan antara aspek yang satu dengan aspek yang lain terjadi secara beriringan. Hal ini dapat dipengaruhi oleh banyak faktor seperti genetika, lingkungan, pengasuhan, perkembangan, kebahagiaan, kecerdasan dan kebebasan yang bisa menyebabkan banyak masalah pada anak. Masalah perkembangan kognitif yang bisa terjadi antara lain penurunan perhatian, keterlambatan bicara, kehilangan konsentrasi, kemalasan dalam belajar dan menulis (Talango, 2. Salah satu dari masalah tersebut dapat muncul akibat dari anak-anak yang menghabiskan waktunya lebih dari 2 jam dalam sehari untuk bermain smartphone (Srinahyanti et al. , 2. Meningkatnya penggunaan perangkat digital seperti smartphone di masa kanak-kanak telah melampaui pemahaman mengenai dampaknya terhadap perkembangan kognitif, sehingga menciptakan kesenjangan yang signifikan terkait dampak penggunaannya. Salah satu dampak negatif paling signifikan dari penggunaan smartphone berkaitan dengan multitasking media digital. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa multitasking pada perangkat digital dapat mengganggu memori kerja dan kontrol negatif. Masuknya informasi terus menerus dari perangkat digital dapat menyebabkan kelebihan beban kognitif, sehingga menyulitkan pemrosesan dan penyimpanan informasi secara efektif. Telah dibahas bagaimana ponsel pintar dapat mengurangi kapasitas kognitif yang tersedia, karena individu sering kali disibukkan dengan potensi notifikasi dan gangguan sehingga mengganggu memori dan kontrol atensi (Javier et al. , 2. Penggunaan dan kebutuhan smartphone tidak hanya dinikmati oleh orang dewasa saja, namun juga anak-anak. Kebutuhan dan minat terhadap smartphone pada anak-anak berbeda dengan orang dewasa. Pada orang dewasa smartphone digunakan sebagai alat komunikasi, gaya hidup, mesin pencari, hiburan sedangkan pada anak-anak smartphone atau tablet digunakan untuk kebutuhan bermain dan hiburan . ideo game, aplikasi hiburan, media sosia. (Srinahyanti et al. , 2. Perbedaan yang paling penting adalah mereka tidak punya kemampuan menggunakan smartphone secara bijak, sehingga diyakini tanpa pengawasan orang tua, smartphone akan merusak dan berdampak buruk bagi anak (Srinahyanti et al. , 2. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan kognitif anak adalah penggunaan smartphone. Penggunaan smartphone secara terus-menerus berdampak negatif pada cara berpikir dan berperilaku anak dalam kehidupan sehari-hari. Smartphone juga dapat memperlambat gerak dan partisipasi KORISA 2025. Page 20-30. https://ejournal. id/index. php/korisa Jurnal Kolaborasi Riset Sarjana. Vol. 2 No. 3 Tahun 2025 Page 22 of 30 anak dalam beraktivitas, karena mereka lebih menyukai dan menikmati banyak aktivitas yang berlangsung di depan smartphone mereka (Ikhsan, 2. Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, sebanyak 33,44% anak usia 1-3 tahun di Indonesia sudah bisa menggunakan ponsel. Sementara, 24,96% anak usia dini di dalam negeri juga mampu mengakses Berdasarkan data BPS, pada tahun 2022 persentase anak usia dini di Jawa Tengah yang menggunakan ponsel sebanyak 38,48 %. Sementara, sebanyak 33,96 % anak usia dini di Jawa Tengah mampu mengakses Tingginya persentase pengguna smartphone pada anak usia dini orang tua memiliki peran penting sebagai pembimbing, pendidik dan pengawas dalam menyikapi penggunaan smartphone oleh anak. Hal ini dilakukan agar anak tidak menyalahgunakan smartphone untuk kegiatan lain yang dapat berdampak negatif bagi anak (Badan Pusat Statistik, 2. Peneliti sebelumnya menyebutkan bahwa penggunaan smartphone dapat menimbulkan efek positif selama penggunaan smartphone dibatasi yaitu di bawah satu jam per hari dan kurang dari dua hari selama satu minggu, pembatasan itu juga berguna agar dapat tetap fokus dalam melakukan kegiatan pembelajaran di sekolah maupun di rumah, sehingga kecerdasan kognitif tetap terbangun secara merata, sedangkan penggunaan smartphone berlebihan yaitu di atas satu jam per hari sampai di atas tiga jam per hari dan lebih dua hari dalam satu minggu dapat menyebabkan keterlambatan bicara pada balita, berkurangnya kemampuan penglihatan, menurunnya kecerdasan emosional, berkurangnya konsentrasi dan sulit tidur (Novianti & Garzia, 2. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Ikhsan, 2. menunjukkan adanya keterkaitan atau hubungan intensitas penggunaan smartphone dengan perkembangan kognitif anak usia 4-6 tahun menunjukkan sebagian banyak dari jumlah 20 responden . ,5%) sebanyak 13 responden . ,6%) dengan intensitas penggunaan smartphone sedang, mengalami perkembangan kognitif baik, jumlahnya lebih banyak daripada yang intensitas penggunaan smartphone sedang dan mengalami perkembangan kognitif cukup yaitu berjumlah 6 responden . ,8%) dan intensitas penggunaan smartphone sedang dan mengalami perkembangan kognitif kurang dengan jumlah 1 responden . ,1%). Hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada bulan Januari-Februari 2024 bersama kader beserta orang tua yang memiliki anak usia toddler di posyandu Margo Sari Desa Ledug menunjukkan hasil bahwa sebagian besar yakni 9 dari 10 anak usia toddler sudah diperbolehkan bermain smartphone. Penggunaan smartphone setiap anak dalam konteks dan keperluan yang berbeda tetapi pada umumnya berdasarkan hasil wawancara dengan orang tua, anak menggunakan smartphone untuk menonton video dan bermain game sederhana. Selain itu, belum pernah dilakukan penelitian mengenai intensitas penggunaan smartphone dengan perkembangan kognitif anak usia 1-3 tahun di Desa Ledug Kabupaten Banyumas. Berdasarkan fenomena yang ditemukan peneliti tertarik untuk melakukan penelitian khususnya mengenai keterkaitan antara intensitas penggunaan smartphone dengan perkembangan kognitif anak dengan judul AuHubungan Intensitas Penggunaan Smartphone Dengan Perkembangan Kognitif Anak Usia 1-3 Tahun di Posyandu Margo Sari Desa LedugAy. Metode Penelitian ini merupakan penelitian korelasional dengan pendekatan Cross-Sectional. Populasi penelitian ini adalah balita di Posyandu Margo Sari Desa Ledug berjumlah 65 balita. Teknik pengambilan sampel dengan Purposive Sampling didapatkan sampel sesuai sejumlah 37 responden. Kriteria inklusi adalah ibu yang memiliki KORISA 2025. Page 20-30. https://ejournal. id/index. php/korisa Jurnal Kolaborasi Riset Sarjana. Vol. 2 No. 3 Tahun 2025 Page 23 of 30 balita usia 1-3 tahun, ibu yang sudah memberikan anaknya menggunakan smartphone dan bersedia menjadi Kriteria eksklusif adalah ibu yang tidak kooperatif dan ibu yang memiliki anak dengan cacat Penelitian ini telah memperoleh kelayakan etik penelitian kesehatan institusi Universitas Harapan Bangsa dengan nomor B. LPPM-UHB/745/07/2024. Variabel independen penelitian ini adalah intensitas penggunaan smartphone dan variabel dependen perkembangan kognitif yang diukur menggunakan Capute-Scale. Definisi operasional variabel dalam penelitian ini adalah intensitas penggunaan smartphone yaitu durasi dan frekuensi penggunaan smartphone pada balita, perkembangan kognitif pada anak usia 1-3 tahun yaitu kemampuan aspek-aspek perkembangan utama anak usia 1-3 tahun termasuk komponen bahasa dan visualmotor. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner intensitas penggunaan smartphone dengan interpretasi rendah dengan skor 1-3, sedang dengan skor 4-6, tinggi dengan skor 7-9 dan untuk menilai perkembangan kognitif pada anak usia 1-3 tahun menggunakan Capute Scale. Capute Scales (CAT/CLAMS) adalah uji tapis spesifik menilai kemampuan komunikasi dan fungsi kognitif untuk anak berusia 0-36 bulan. CAT/CLAMS edisi bahasa Indonesia digunakan sebagai alat ukur di mana pengukuran dan pengisian data dilakukan oleh peneliti. Uji skrining spesifik metode Capute Scales (CAT/CLAMS) dapat digunakan untuk mendiagnosis adanya gangguan perkembangan bahasa dan fungsi kognitif pada usia 0-36 bulan. Alat ukur CAT/CLAMS merupakan alat diagnostik dalam mendeteksi keterlambatan kognitif global dan keterlambatan bahasa. Hasil pengukuran CAT/CLAMS dinyatakan sebagai Developmental Quotient (DQ). Interpretasi tes perkembangan kognitif tersebut yaitu normal bila interpretasi DQ pada kemampuan bahasa (CLAMS), visual-motor (CAT) dan FSDQ >85. Suspek bila interpretasi DQ pada satu atau kedua aspek . ahasa dan visual moto. Retardasi mental bila interpretasi DQ pada kedua aspek . ahasa dan visual-moto. Gangguan komunikasi interpretasi jika DQ aspek bahasa (CLAMS) terlambat tetapi DQ visual-motor (CAT) >85 (Juwitasari et al. , 2. Penelitian dilaksanakan mulai pada bulan November 2023-Agustus 2024 dengan proses pengambilan data pada tanggal 20 Juli-14 Agustus 2024. Data diperoleh dari anak usia 1-3 tahun yang datang ke posyandu serta kunjungan dari rumah ke rumah. Penelitian dimulai dengan mengumpulkan data yang didapatkan dari kuesioner yang dibagikan kepada orang tua dan telah menandatangani inform consent. Identitas data anak yang diperlukan dalam penelitian dicatat sesuai dengan formulir yang telah disiapkan kemudian dilakukan tes skrining dengan menggunakan Capute-Scale. reporting bias, dan recall bias karena pengisian kuesioner bergantung atau sesuai pada laporan orang tua. Peneliti melakukan kontrol dengan memberikan penjelasan tujuan penelitian, menggunakan bahasa sederhana, mendampingi saat pengisian, menyusun pertanyaan netral dan menjamin kerahasiaan data untuk mendorong jawaban yang jujur. Semua data yang terkumpul kemudian diproses dengan analisis statistik dan disajikan dalam bentuk naratif dan tabel. Pengolahan data menggunakan editing, coding, scoring, tabulating dan analisa data menggunakan uji Rank Spearman. KORISA 2025. Page 20-30. https://ejournal. id/index. php/korisa Page 24 of 30 Jurnal Kolaborasi Riset Sarjana. Vol. 2 No. 3 Tahun 2025 Hasil dan Pembahasan Intensitas Penggunaan Smartphone Gambar 1 menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki intensitas penggunaan smartphone sedang dengan jumlah 18 responden . %). Hasil penelitian menunjukkan durasi dan frekuensi anak dalam bermain smartphone dengan rata-rata durasi 40-60 menit, 5-6 kali dalam satu minggu dan 2-4 kali dalam satu hari. Berdasarkan bagan 1 hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden dengan intensitas penggunaan smartphone yang sedang yakni sejumlah 18 . %), beberapa responden menunjukkan intensitas penggunaan smartphone tinggi sejumlah 16 . %) dan sejumlah 3 . %) dengan intensitas penggunaan smartphone yang rendah. Frekuensi Intensitas Penggunaan Smartphone Tinggi Sedang Rendah Sumber: Data diolah . Gambar 1. Distribusi Frekuensi Intensitas Penggunaan Smartphone pada Anak Usia 1-3 Tahun di Desa Ledug Kabupaten Banyumas Berdasarkan jawaban yang diberikan responden pada kuesioner bahwa aplikasi yang sering dilihat atau dimainkan adalah YouTube dan game. Kuesioner juga melampirkan pertanyaan mengenai tingkah laku dan respons anak ketika sedang menggunakan smartphone terhadap lingkungan sekitar, berdasarkan data yang diperoleh menunjukkan bahwa mayoritas anak menunjukkan tingkah laku dan respons seperti tidak menoleh saat dipanggil dan anak marah saat diambil smartphone-nya. Smartphone bersifat interaktif, mudah dioperasikan guna mencari informasi, menyajikan dimensi gerak, suara, warna dan lagu sekaligus. Hal itu semua tidak diperoleh dari jenis media lain, seperti buku dan majalah. Aneka hal menarik yang disajikan smartphone tak pelak membuat anak menjadi betah berlama-lama bermain smartphone sehingga penggunaan smartphone ini dapat menjadi berlebihan (Khan et al. , 2. Dampak yang ditimbulkan dari smartphone mungkin tidak disadari sama sekali di mana saat ini penggunaan smartphone tidak hanya pada kalangan orang dewasa saja tetapi juga pada kalangan anak-anak sehingga dampak terjadinya tidak hanya pada orang dewasa saja, tetapi pada anak-anak pun bisa berdampak (Triansyah, 2. Berdasarkan penelitian ini tingkah laku dan respons anak yang ditunjukkan saat menggunakan smartphone seperti tidak menoleh saat dipanggil dan anak marah saat diambil smartphone-nya merupakan dampak negatif smartphone terhadap kepedulian anak pada lingkungan sekitar. KORISA 2025. Page 20-30. https://ejournal. id/index. php/korisa Page 25 of 30 Jurnal Kolaborasi Riset Sarjana. Vol. 2 No. 3 Tahun 2025 Penggunaan smartphone pada anak usia dini berdasarkan penelitian ini anak-anak sudah diperbolehkan menggunakan smartphone dari usia terendah 6 bulan hingga usia tertinggi 2 tahun. Beberapa orang tua beranggapan bahwa pengenalan smartphone sejak dini itu penting karena ketika anak menggunakan smartphone seorang anak bisa senang dan tidak merengek sehingga orang tua bisa mengerjakan pekerjaannya. Hal ini sesuai dengan penelitian (Maulita et al. , 2. bahwa 91% orang tua mengizinkan anaknya menggunakan smartphone, 77% anak diizinkan mengakses smartphone di rumah walaupun sedang berkumpul dengan keluarga dan 74% orang tua mengemukakan bahwa smartphone dapat digunakan sebagai pengasuh kedua karena ketika menggunakan smartphone anak akan duduk dan sibuk dengan smartphone sehingga orang tua dapat melakukan aktivitasnya tanpa terganggu. Menurut peneliti bahwa penggunaan smartphone pada anak harus selalu dalam pengawasan orang tua dan orang tua harus memperhatikan durasi, frekuensi yang dianjurkan, mempertimbangkan berapa banyak waktu yang diperbolehkan khususnya untuk anak usia toddler. Lebih baik jika anak usia balita tidak diperkenalkan dengan smartphone terlebih dahulu. Peneliti lain oleh Maulita et al. seorang pakar psikologi anak juga menyebutkan bahwa ada usia ideal untuk menggunakan smartphone pada anak, yakni ketika anak menginjak 9 tahun, ketika anak menginjak usia 9 tahun tingkat pemahaman anak tentang benar dan salah dianggap sudah Perkembangan Kognitif pada Anak Usia 1-3 Tahun Tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki perkembangan kognitif dengan interpretasi suspek sejumlah 21 responden . %). Berdasarkan tabel 4. 2 hasil penelitian yang dilakukan kepada 37 responden menunjukkan bahwa sebesar 21 . %) responden memiliki interpretasi perkembangan kognitif dengan hasil suspek, 11 . %) responden dengan interpretasi normal dan 5 . %) responden dengan interpretasi gangguan komunikasi. Interpretasi tes tersebut yaitu normal apabila interpretasi DQ (Developmental Quotien. pada kemampuan bahasa dan visual-motor >85. Suspek apabila interpretasi DQ pada satu atau kedua aspek . ahasa dan visual moto. Retardasi mental apabila interpretasi DQ pada kedua aspek . ahasa dan visual-moto. <75. Gangguan komunikasi yaitu apabila interpretasi aspek bahasa (DQ Clam. terlambat tetapi aspek visual-motor (DQ Ca. > 85. Tabel 1. Distribusi Frekuensi Perkembangan Kognitif Pada Anak Usia 1-3 Tahun di Desa Ledug Kabupaten Banyumas Interpretasi Normal Suspek Retardasi mental Gangguan komunikasi Total Sumber: Data diolah . Frekuensi Persentase (%) Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dengan menggunakan kuesioner, parameter meliputi dari parameter kemampuan bahasa dan perkembangan kognitif yang dinyatakan dalam DQ (Developmental Quotien. KORISA 2025. Page 20-30. https://ejournal. id/index. php/korisa Jurnal Kolaborasi Riset Sarjana. Vol. 2 No. 3 Tahun 2025 Page 26 of 30 di mana setiap anak memiliki nilai tertinggi dari masing-masing parameter. DQ Clinical Linguistic And Auditory Milestone Scale (CLAMS) untuk mengidentifikasi gangguan bahasa tersendiri atau gangguan komunikasi sebagai bagian dari gangguan kognitif. DQ Cognitive Adaptive Test (CAT) untuk mengidentifikasi gangguan pada perkembangan kognitif. Berlandaskan kuesioner atau data yang telah didapatkan nilai rata-rata dari DQ Clams dan DQ Cat atau disebut juga dengan Full-Scale (Composit. Developmental Quetient yang menunjukkan kemampuan keseluruhan anak. Pada penelitian ini didapatkan nilai FSDQ terendah dengan nilai 74,33, nilai tertinggi 110,73 dan didapatkan nilai rata-rata FSDQ dengan nilai 86,52. Anak-anak dengan hasil interpretasi perkembangan kognitif suspek perlu mendapatkan pengawasan yang ketat. Perkembangan merupakan proses yang bersifat maju ke depan, di mana setiap fungsi atau aspek berkembang sesuai urutan. Hasil interpretasi perkembangan kognitif suspek berarti anak-anak mempunyai tingkat tinggi untuk mengalami keterlambatan dalam perkembangan kognitifnya. Perkembangan kognitif anak mengacu pada proses mengingat, pengambilan keputusan dan pemecahan masalah. Peneliti lain (Ifalahma & Retno, 2. menyebutkan bahwa pada zaman sekarang banyak anak yang mengalami masalah perkembangan kognitif yakni anak yang mengalami gangguan di satu atau lebih proses dasar psikologi termasuk memahami dan menggunakan bahasa . erbal dan tulisa. yang berdampak pada kemampuan mendengar, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja dan kalkulasi matematika. Proses kognitif melibatkan perubahan dalam pemikiran, kecerdasan dan bahasa anak. Perubahan dalam pemikiran disebabkan karena lingkungan atau pergaulan, sehingga anak mengalami masalah perkembangan kognitif. Selama periode Golden Age orang tua sangat berperan penting dalam memberikan stimulasi untuk anak untuk meningkatkan kemampuan kognitif, perkembangan fisik, bahasa dan emosinya (Suryana, 2. Membiasakan anak untuk membaca buku dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak karena dapat mengembangkan keterampilan berpikir anak, melatih penalaran dan pemecahan masalah. Mendengarkan musik, bermain alat musik, membuat karya seni dan kerajinan juga dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak (Ifalahma & Retno. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa beberapa anak mengalami gangguan komunikasi di mana gangguan komunikasi berkaitan dengan keterlambatan perkembangan bahasa. Seorang individu atau anak dapat dikatakan mempunyai keterlambatan perkembangan pengungkapan kata serta bahasa apabila perkembangan pengungkapan bahasa dan katanya secara substansial masih terletak rendah dari kemampuan individu atau anak Kemampuan anak dalam pengungkapan kata dan bahasa masih berada dalam susunan yang tetap, akan tetapi masih sangat dikatakan lamban dan belum sesuai dengan yang diinginkan (Hartanto, 2. Fase 36 bulan pertama kehidupan merupakan fase kritis perkembangan bahasa anak. Cepatnya perkembangan bahasa pada fase ini tidak bisa diulangi pada masa atau waktu lain di kehidupannya. Anak berusia dua tahun yang mengalami keterlambatan dalam perkembangan bahasa ekspresifnya, dua sampai lima kali lebih berdampak pada gangguan bahasa dan fase ini akan tetap pada akhir prasekolah hingga sekolah dasar dibandingkan anak tanpa keterlambatan bahasa ekspresif (Wahidah & Latipah, 2. Berdasarkan hasil penelitian pada kuesioner tertera bahasa reseptif dan bahasa ekspresif. Masing-masing bahasa memiliki bobot nilai yang berbeda di setiap interval usia dari. Anak dengan interpretasi hasil perkembangan kognitif yang mengalami gangguan komunikasi pada penelitian ini berada pada usia 1 tahun sejumlah 3 anak dan usia 2 tahun sejumlah 2 anak dengan hasil DQ Clams kurang dari 75. KORISA 2025. Page 20-30. https://ejournal. id/index. php/korisa Page 27 of 30 Jurnal Kolaborasi Riset Sarjana. Vol. 2 No. 3 Tahun 2025 Hubungan Intensitas Penggunaan Smartphone dengan Perkembangan Kognitif Berdasarkan Tabel 2 menunjukkan bahwa balita khususnya usia toddler . -3 tahu. dengan berbagai intensitas penggunaan smartphone sebagian besar memiliki interpretasi perkembangan kognitif suspek. Anak dengan intensitas penggunaan smartphone yang sedang hingga tinggi, sebagian responden mengalami keterlambatan perkembangan kognitif dengan interpretasi hasil suspek sebesar 21 responden. Beberapa anak dengan intensitas penggunaan smartphone yang sedang hingga tinggi juga menunjukkan hasil dengan interpretasi hasil gangguan komunikasi sejumlah 5 responden. Interpretasi hasil jika suspek, retardasi mental dan gangguan komunikasi hanya dilihat dari DQ Clams & Catnya saja. Tidak melihat pada FSDQ, atau nilai rerata dari DQ Clams dan Cat itu sendiri. Hasil analisis data diperoleh hasil nilai p= 0,003 . -value < 0,. dengan arah positif dan nilai koefisien korelasi 0,481 menunjukkan kekuatan hubungan yang sedang . ,400-0,. Nilai Rho positif menunjukkan bahwa semakin tinggi intensitas penggunaan smartphone maka semakin terganggu perkembangan Tabel 2. Hasil Uji Spearman Rank Intensitas Penggunaan Smartphone dengan Perkembangan Kognitif pada Anak Usia 1-3 tahun di Posyandu Margo Sari Desa Ledug Intensitas Normal Penggunaan Smartphone Tinggi Sedang 7 19% Rendah Total 11 30% Sumber: Data diolah . Suspek Perkembangan Kognitif Retardasi Gangguan Total Mental Komunikasi 16 43% 18 49% 37 100% 0,003 0,481 Gambar 2 menunjukkan tren penurunan skor perkembangan kognitif seiring meningkatnya intensitas penggunaan smartphone. Anak dengan penggunaan smartphone yang rendah memiliki skor tertinggi sedangkan anak dengan penggunaan smartphone tinggi cenderung memiliki skor rendah. Hal ini mengindikasi adanya hubungan antara intensitas penggunaan smartphone dengan perkembangan kognitif anak usia 1-3 tahun. Data ini mengindikasikan bahwa peningkatan intensitas penggunaan smartphone berpotensi berkorelasi dengan penurunan kualitas perkembangan kognitif anak. Nilai koefisien korelasi . c= 0,. dari tabel mendukung adanya hubungan yang cukup kuat dengan nilai p-value 0,003 yang berarti hubungan tersebut signifikan secara KORISA 2025. Page 20-30. https://ejournal. id/index. php/korisa Jurnal Kolaborasi Riset Sarjana. Vol. 2 No. 3 Tahun 2025 Page 28 of 30 Sumber: data primer 2024 Gambar 2. Hubungan intensitas penggunaan smartphone dengan perkembangan kognitif pada anak usia 1-3 Berdasarkan hasil penelitian anak-anak dengan intensitas penggunaan smartphone yang tinggi sangat mungkin untuk mengalami perkembangan kognitif yang lebih rendah atau suspek. Pada penelitian ini menunjukkan hasil bahwa anak dengan intensitas penggunaan smartphone yang tinggi cenderung lebih banyak mengalami perkembangan kognitif yang rendah atau suspek, hal ini dikarenakan faktor-faktor lain yang merugikan termasuk penggunaan smartphone itu sendiri. Penggunaan smartphone yang berlebihan pada penelitian ini lebih condong atau lebih banyak berdampak negatif pada perkembangan kognitif anak. Anak-anak dengan intensitas penggunaan smartphone yang sedang hingga tinggi menunjukkan adanya kepedulian pada lingkungan yang kurang hal ini ditunjukkan pada jawaban kuesioner yang diberikan pada orang tua dengan respons anak paling banyak adalah anak tidak menoleh saat dipanggil karena asyik dengan smartphone-nya, tidak peduli dengan lingkungan sekitar dan marah saat smartphone-nya diambil. Berdasarkan tabel 4. 3 diketahui bahwasanya mayoritas responden sebanyak 21 responden . %) dengan intensitas penggunaan smartphone sedang hingga tinggi mengalami perkembangan kognitif suspek, jumlahnya lebih banyak dari pada responden dengan intensitas penggunaan smartphone sedang hingga tinggi dan mengalami perkembangan kognitif yang normal dengan jumlah responden 8 anak. Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan (Kusuma et al. , 2. anak dengan intensitas penggunaan gadget yang tinggi, mayoritas responden mengalami keterlambatan perkembangan sebesar 10 responden . ,7%) dari hasil analisis data diperoleh hasil nilai p = 0,001 < 0,05 artinya terdapat hubungan yang signifikan antara intensitas penggunaan smartphone dengan perkembangan anak di TK Masjid Agung Kalianda. Beberapa anak dengan intensitas penggunaan smartphone yang sedang hingga tinggi juga menunjukkan adanya interpretasi hasil gangguan komunikasi dengan intensitas tinggi sejumlah 3 responden dan intensitas sedang sejumlah 2 responden. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Jafri & Defega, 2. menunjukkan anak dengan intensitas penggunaan smartphone yang tinggi sebanyak 22,9% anak memiliki perkembangan bahasa terlambat di PAUD Mutiara Bunda. Terdapat hubungan yang bermakna antara kecanduan gadget dengan perkembangan bahasa anak . = 0,. KORISA 2025. Page 20-30. https://ejournal. id/index. php/korisa Jurnal Kolaborasi Riset Sarjana. Vol. 2 No. 3 Tahun 2025 Page 29 of 30 Hasil penelitian ini sejalan dengan (Ikhsan, 2. mengenai hubungan intensitas penggunaan smartphone dengan perkembangan kognitif pada anak usia 4 Ae 6 Tahun, 20 responden . ,5%) sebanyak 13 responden . ,6%) intensitas penggunaan smartphone sedang dan mengalami perkembangan kognitif baik, jumlahnya lebih banyak daripada yang intensitas penggunaan smartphone sedang dan mengalami perkembangan kognitif cukup yaitu berjumlah 6 responden . ,8%) dan intensitas penggunaan smartphone sedang dan mengalami perkembangan kognitif kurang dengan jumlah 1 responden . ,1%). Hasil penelitian juga menunjukkan anak dengan intensitas penggunaan smartphone yang rendah sebanyak 3 . %) responden memiliki perkembangan kognitif yang normal. Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian (Alawiyah, 2. mengenai hubungan penggunaan gadget dengan kognitif anak usia sekolah dasar di SD Muhammadiyah 5 Samarinda dengan hasil penelitian menunjukkan pada penggunaan smartphone dengan durasi rendah sebanyak 45 responden . ,6%), dengan kognitif yang baik sebanyak 56 responden . ,8%) dan yang menggunakan smartphone dengan durasi yang tinggi sebanyak responden 41 . ,4%) dengan kognitif kurang baik sebanyak 52 responden . ,2%). Berdasarkan uji chi-square diperoleh p-value 0,001 > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara penggunaan smartphone dengan perkembangan kognitif. Penelitian ini hanya mengidentifikasi intensitas penggunaan smartphone dengan perkembangan kognitif, untuk peneliti selanjutnya diharapkan untuk meneliti faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan kognitif yang lain. Pendekatan kepada responden anak yang membutuhkan kemampuan lebih lama untuk bisa kooperatif saat dilakukan observasi. Pendekatan yang kurang bisa menyebabkan anak malu untuk melakukan gugus tugas yang diperintahkan, sehingga dapat mengurangi penilaian perkembangan. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan intensitas penggunaan smartphone pada anak usia 1-3 tahun di Desa Ledug sebagian besar dengan intensitas sedang, anak dengan intensitas penggunaan smartphone sedang hingga tinggi menunjukkan interpretasi hasil suspek, sedangkan sebagian kecil sejumlah 8 anak menunjukkan interpretasi hasil normal dengan intensitas penggunaan smartphone sedang hingga tinggi. Anak dengan intensitas penggunaan smartphone rendah menunjukkan interpretasi hasil perkembangan kognitif yang Terdapat hubungan yang signifikan antara intensitas penggunaan smartphone dengan perkembangan kognitif pada anak usia 1-3 tahun di Desa Ledug Kabupaten Banyumas. Hal ini membuktikan penggunaan smartphone yang berlebihan dapat berdampak negatif pada perkembangan kognitif anak yang meliputi perubahan dalam pemikiran, kecerdasan dan bahasa. Penggunaan smartphone pada anak usia dini sebaiknya dibatasi hingga maksimal satu jam per hari dengan pengawasan orang tua. Referensi