UNES Journal Of Education Vol 1 Issue 1. February 2017 PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWAMELALUI MODEL PEMBELAJARAN WORD SQUARE PADA MATA PELAJARAN IPA DI KELAS V SDN 11 KURAO PAGANG Efrida Maini Efridamaini@gmail. SD N 11 Kurao Pagang Abstract : This study is a class action that aims to improve the activity and class V student learning outcomes in science lessons. This research was conducted in two cycles with the execution time for three months, namely in February 2015 to April 2015. The number of students who become the sample in this study were 25 students consisting of 12 men - men and 18 women. Data were collected by using observation, to observe the activity of students in the classroom, as well as tests to measure student learning outcomes, conducted at the end of the cycle. The results showed the use of square word learning model can improve student learning activities in science subjects with a positive impact on improving student learning outcomes. This can be seen in student learning outcomes in the first cycle and the second cycle. In the first cycle, a total of 14 students . %) obtained a value equal to or more than 75 and 11 students . %) scored below 75. While on the second cycle, 20 . %) of students scored more than 75 and only 5 students . %) who received grades Based on these results it is suggested to teachers to use the word square model of learning in general and science learning in particular. Keywords: activity, learning outcomes, word square PENDAHULUAN Ilmu Pengetahuan Alam belum menjadi mata pelajaran yang banyak digemari siswa di Sekolah Dasar. Seharusnya IPA adalah pelajaran yang menarik dan menyenangkan bagi siswa, karena belajar IPA berarti mempelajari diri kita, lingkungan kita, bahkan alam sekitar kita. Beberapa faktor penyebab belum tertariknya siswa terhadap mata pelajaran IPA diduga kuat karena lemahnya pemahaman guru dalam proses pembelajaran IPA, dan guru belum melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan, akibatnya minat dan aktifitas siswa dalam proses pembelajaran IPA di kelas masih rendah. Selama ini dalam pembelajaran lebih didominasi dengan metode ceramah dan Seperti yang diketahui bahwa bentuk proses pembelajaran guru berupa, meminta siswa duduk dengan rapi dan berdoAoa, dilanjutkan dengan bertanya kepada siswa tentang materi sebelumnya, dan menghubungkan pada materi yang akan dipelajari. Pada kegiatan inti guru menginformasikan pokok-pokok pelajaran, kemudian guru meminta ISSN Online: 2549-4791iCCetak: 2549-4201 UNES Journal Of Education Vol 1 Issue 1. February 2017 siswa maju ke depan kelas untuk menjawab pertanyaan guru yang ditulis pada papan tulis, memberikan siswa tugas untuk dikerjakan secara berpasangan, dan menyimpulkan Kegiatan ini sepertinya kurang membangkitkan semangat belajar siswa untuk belajar, suasana kelas menjadi kurang hidup, tidak banyak siswa yang mau bertanya dan masih sedikit siswa yang mampu menjawab pertanyaan guru dengan benar. Akibatnya pada saat ulangan harian nilainya menjadi rendah. Berdasarkan penelitian dalam pembelajaran di SDN 11 Kurao Pagang Kecamatan Nanggalo menunjukan aktivitas belajar siswa masih rendah dan hasil belajar siswa sebagian besar belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM), yang telah ditetapkan yaitu nilai 75. Data hasil ulangan harian siswa kelas V untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam seperti disajikan pada Tabel 1 berikut ini: Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Ulangan Harian IPA Siswa Kelas V SDN 11 Kurao Pagang Kecamatan Nanggalo Kota Padang Ulangan Harian ke i Jumlah Siswa Nilai <75 Nilai Ou75 Persentase Keberhasilan Data pada Tabel 1 menunjukkan bahwa hasil belajar siswa belum mencapai KKM yang telah ditetapkan. Hal ini dapat dilihat dari hasil ulangan siswa yang rata Ae rata hampir sebagian siswa masih mendapatkan nilai di bawah KKM. Tabel diatas juga menunjukkan bahwa dari hasil Ulangan Harian I sampai dengan Ulangan Harian i persentase keberhasilannya masih kurang dari 50%. Hal ini mungkin disebabkan karena metode pengajarana yang dilakukan oleh guru hanya memberikan ceramah dan tugas. Selain itu, tidak adanya variasi media yang digunakan dalam pembelajaran sedikit banyaknya juga berdampak pada hasil belajar siswa. Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar. Menurut Sudjana . hasil belajar adalah suatu akibat dan proses belajar dengan menggunakan alat pengukuran yaitu berupa tes yang disusun secara terencana, baik tes tertulis, tes lisan maupun tes perbuatan. Sedangkan Nasution . berpendapat bahwa hasil belajar adalah suatu perubahan pada individu yang belajar, tidak hanya mengenai pengetahuan tetapi juga membentuk kecakapan dan penghayatan dalam diri pribadi individu yang belajar. Hasil belajar adalah hasil yang diperoleh siswa setelah ISSN Online: 2549-4791iCCetak: 2549-4201 UNES Journal Of Education Vol 1 Issue 1. February 2017 mengikuti suatu materi tertentu dan mata pelajaran yang berupa data kuantitatif maupun Untuk melihat hasil belajar dilakukan suatu peni!aian terhadap siswa yang bertujuan untuk mengetahui apakah siswa telah menguasai materi atau belum. Hasil belajar siswa merupakan suatu hal yang berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menyerap atau memahami suatu materi pembelajaran yang disampaikan. Hasil belajar siswa diperoleh setelah berakhirnya proses pembelajaran. Abdurrahman . menyatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar, belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap. Hasil belajar akan dapat dirasakan tentunya. Hasil belajar dapat dilihat dan hasil nilai ulangan harian . , nilai ulangan tengah semester . ub formati. dan nilai ulangan semester . Untuk meningkatkan hasil belajar penataan lingkungan fisik kelas dan situasi proses belajar mengajar sangat perlu di perhatikan. Pembelajaran yang berkualitas akan tercapai apabila guru menguasai teknik-teknik penyajian materi atau metode atau model yang tepat (Riyanto, 2. Penggunaan metode, model dan pendekatan dalam proses pembelajaran yang dipilih guru merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Model adalah representasi realitas yang disajikan dengan suatu derajat struktur dan urutan (Sagala, 2. Menurut Arends . , model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang menuntun guru untuk melakukan perencanaan pengajaran dan memandunya di dalam mengelola proses belajar mengajar, setiap model memiliki karakteristik yang unik yang ditandai dengan adanya tujuan, sintaks, dukungan teoritis, serta lingkungan belajar yang unik setiap model pembelajaran memiliki keterbatasan, tidak mesti memakai metode yang tunggal, tetapi multi atau perpaduan model. Menurut Kozna dalam Istarani . menjelaskan bahwa model pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap kegiatan yang dipilih, yaitu yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik menuju tercapainya tujuan pembelajaran tertentu. Sedangkan menurut Trianto . model pembelajaran adalah perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pengajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas. ISSN Online: 2549-4791iCCetak: 2549-4201 UNES Journal Of Education Vol 1 Issue 1. February 2017 Model Pembelajaran Word Square merupakan model pembelajaran yang memadukan kemampuan menjawab pertanyaan dengan kejelian dalam mencocokan jawaban pada kotak-kotak jawaban. Mirip seperti mengisi Teka-Teki Silang tetapi bedanya jawabannya sudah ada namun disamarkan dengan menambahkan kotak tambahan dengan sembarang huruf/angka penyamar atau pengecoh. Model pembelajaran ini sesuai untuk semua mata Tinggal bagaimana Guru dapat memprogram sejumlah pertanyaan terpilih yang dapat merangsang siswa untuk berpikir efektif. Tujuan huruf/angka pengecoh bukan untuk mempersulit siswa namun untuk melatih sikap teliti dan kritis. Model Word Square merupakan pengembangan dari metode ceramah dan termasuk salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat memberikan inovasi pada proses Menurut Urdang . dalam Widodo . AuWord Square adalah sejumlah kata yang disusun dalam bentuk bujur sangkar dan dibaca secara mendatar dan Word Square menurut Hornby . dalam Widodo . , adalah AuSejumlah kata yang disusun sehingga kata-kata tersebut dapat dibaca ke depan dan ke belakang. Ay Mujiman dalam Widodo . mengemukakan AyModel pembelajaran Word Square merupakan pengembangan dari metode ceramah yang diperkaya. Hal ini dapat diidentifikasi melalui pengelompokkan, berorientasi pada keaktifan siswa dalam Model pembelajaran ini terdapat nuansa bermain di dalamnya. Hal ini dapat membuat siswa merasa nyaman dan tidak jenuh selama mengikuti pembelajaran IPA di sekolah, sehingga materi yang disampaikan akan mudah diterima oleh siswa. Model ini cocok untuk diterapkan di kelas V, karena sesuai dengan karakteristik siswa kelas tinggi yaitu masih membutuhkan pengarahan guru dan masih senang bermain. Menurut Saptono . dalam Supartono . langkah - langkah pembelajaran model pembelajaran Word Square yaitu: . Siswa diarahkan untuk mempelajari topik tertentu yang akan disampaikan oleh guru. Siswa disuruh untuk menemukan kata-kata dalam kotak-kotak, yang relevan dengan topik yang telah dipelajari. Siswa memberikan penjelasan tentang kata yang telah ditemukan, hal ini bertujuan untuk menggali pengetahuan yang dimiliki siswa. Penjelasan siswa dapat divariasikan dengan pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada seluruh siswa. Adapun langkah-langkah dari pembelajaran dengan manggunakan model Word Square adalah : Guru menyampaikan materi sesuai tujuan pembelajaran. Guru membagikan lembaran kegiatan sesuai dengan contoh ISSN Online: 2549-4791iCCetak: 2549-4201 UNES Journal Of Education Vol 1 Issue 1. February 2017 Guru meminta siswa untuk menjawab soal sesuai dengan lembar kegiatan Guru meminta siswa mengarsir huruf dalam kotak sesuai jawaban. Guru memberikan poin setiap jawaban dalam kotak Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan pelajaran. Penelitian Tindakan Kelas ini dilatarbelakangi oleh permasalahan yang dialami guru di dalam kelas dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Berdasarkan uraian diatas, maka permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini adalah. AuBagaimana penerapan model pembelajaran word square dalam meningkatkan keaktifitan dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di kelas V SD Negeri 11 Kurao Pagang Kecamatan Nanggalo Kota PadangAy? Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri 11 Kurao Pagang Kecamatan Nanggalo Kota Padang dengan menggunakan model pembelajaran word square pada mata pelajaran IPA. METODE PENELITIAN Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada SD Negeri 11 Kurao Pagang Kecamatan Nanggalo Kota Padang. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa tindakan yang disengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersamaan (Arikunto, 2. Tujuan PTK menurut Aqib . adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas praktik pembelajaran secara Sehingga Penelitian Tindakan Kelas ini meningkatkan mutu hasil instruksional, mengembangkan keterampilan guru, meningkatkan efisiensi pengelolaan instruksional serta menumbuhkan budaya meneliti pada komunitas Penelitian ini dilakukan bersama dengan kolaborator yaitu guru kelas V SD Negeri 11 Kurao Pagang Kecamatan Nanggalo. Penelitian akan dilaksanalan di kelas V semester II tahun pelajaran 2014/2015 sebanyak 25 orang , siswa laki-laki sebanyak 13 orang dan perempuan 12 orang . Penelitian dilaksanakan lebih kurang 3 bulan sejak bulan Februari hingga April 2015. Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan dalam 2 siklus dengan masing Ae masing siklus terdiri dari satu kali pertemuan. Data penelitian ini dikumpulkan menggunakan observasi dan tes. Observasi dilakukan untuk melihat secara langsung proses pembelajaran yang dilaksanakan dengan ISSN Online: 2549-4791iCCetak: 2549-4201 UNES Journal Of Education Vol 1 Issue 1. February 2017 menggunakan model pembelajaran word square. Dalam penelitian ini, penulis bertindak sebagai partisipasi aktif dimana penulis mengamati dan mencatat semua pelaksanaan model pembelajaran word square dalam pembelajaran IPA di kelas V. Tes digunakan untuk melihat peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran word square yang diberikan pada setiap akhir siklus. Data dianalisa dengan cara reduksi data, penyederhanan data yang dilakukan melalui seleksi, memfokuskan data menjadi informasi yang didalamnya tetap terdapat proses dan pernyataan penelitian yang telah ditetapkan sesusai dengan pelaksanaan penelitian yaitu menggunakan model pembelajaran word square sebagai upaya peningkatan hasil belajar IPA di kelas V. paparan data, menjabarkan data, sehingga dapat diperoleh suatu kesimpulan yang menggambarkan penelitian tentang upaya peningkatan keaktifan siswa dan hasil belajar IPA dengan menggunakan model pembelajaran word square pada anak kelas V dan penyimpulan, pengambilan intisari dari sajian data penelitian tentang penignkatan keaktifan siswa dan hasil belajar IPA siswa kelas V dengan menggunakan model pembelajaran word square. Kegiatan ini dilakukan dengan triangulasi data yaitu melakukan pengujian temuan penelitian. Kegiatan triangulasi dilakukan dengan cara peninjauan kembali lembar observasi dan menyesuaikan temuan dengan kajian teori serta berdiskusi dengan teman sejawat dan ahli. HASIL PENELITIAN Pra Siklus Pada tahap pra siklus ini, guru menyajikan materi pelajaran secara tradisional. Hasil pengamatan keaktifan dan hasil belajar siswa pada pra siklus ini dapat dilihat pada tabel berikut ini, keaktifan siswa dapat dilihat berdasarkan tabel berikut ini: ISSN Online: 2549-4791iCCetak: 2549-4201 UNES Journal Of Education Vol 1 Issue 1. February 2017 Tabel 2. Data Keadaan Keaktifan Siswa sebelum Penelitian Aktivitas Positif Siswa Bertanya pada guru Menjawab pertanyaan guru dengan benar Menemukan jawaban kuiz dengan benar Menjadi juru bicara dalam kelompok Mengerjakan tugas sesuai dengan waktu Berdiskusi dalam kelompok Jml Aktivitas Negatif Siswa Sering keluar masuk kelas Mengantuk dalam belajar Mengganggu teman Tidak mengerjakan tugas Menyontek pekerjaan teman Menjawab kuiz tidak benar Jml Tabel 3. Data Hasil Belajar Sebelum Kegiatan Penelitian Nilai < 70 70 - 75 76 - 80 81 - 85 Ou 100 Jumlah Jml Siswa Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa aktivitas positif siswa belum dapat dikategorikan tinggi karena masih ada beberapa aspek yang persentasenya masih dibawah Pada aspek bertanya pada guru, menjawab pertanyaan guru, dan menjadi juru bicara kelompok, persentase aktivitas siswa hanya kurang lebih 30%. Hal ini berdampak pada hasil belajar siswa dimana 14 orang siswa masih memperoleh nilai dibawah KKM yang ditetapkan yaitu 75. Untuk itu, perlu diadakan penelitian tindakan kelas. TINDAKAN Siklus I Pada siklus ini dilaksanakan 2X40 menit atau 2 jam pelajaran. Materi pokok yang menjadi inti pembelajaran adalah sifat-sifat cahaya yaitu cahaya merambat lurus, cahaya menembus benda bening dan cahaya cahaya dapat dipantulkan. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran diawali dengan guru membuka pelajaran dengan mengajukan pertanyaan- ISSN Online: 2549-4791iCCetak: 2549-4201 UNES Journal Of Education Vol 1 Issue 1. February 2017 pertanyaan untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap konsep sifat-sifat cahaya yang telah diperoleh siswa yang terkait dengan materi yang akan diberikan. Guru bersama-sama siswa melakukan percobaan untuk mengetahui sifat-sifat cahaya. Selama kegiatan berlangsung guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada siswa tentang perubahanperubahan yang terjadi dan setiap siswa mencatat pengamatannya. Guru memberikan lembar kerja siswa yang harus di selesaikan siswa dalam waktu 15 menit . enerapan model word squar. Setelah kegiatan tersebut selesai, guru dan siswa secara sepintas membahas hasil kerja siswa tadi dan diakhir kegiatan inti tersebut guru bersama siswa menyimpulkan Pada akhir petemuan dilaksanaan tes formatif yang bertujuan untuk melihat kemampuan siswa alam memahami konsep-konsep materi yang telah dipelajari. Kriteri keberhasilan pada siklus ini ditunjukkan dengan nilai rata-rata 75 dan 80% siswa memiliki aktivitas yang tinggi dalam proses pembelajaran. Siklus II Materi pokok yang diberikan pada siklus kedua masih mengenai sifat-sifat cahaya yaitu cahaya dapat dibiaskan, cahaya putih terdiri atas berbagai warna dan antara cahaya dan pengelinatan saling berhubungan . enda dapat dilihat karena benda memantulkan cahaya, alat-alat optik membantu pengelihata. Pelaksanaan tindakan yang dilakukan sama seperti pada siklus pertama, guru menjelaskan materi pelajaran hanya pada siklus kedua guru tidak lagi menjelaskan secara rinci prosedur kegiatan yang diberikan kepada siswa dan dalam membahas dan menarik kesimpulan hasil kegiatan guru hanya memberikan arahan saja dan berperan sebagai fasilitator. Pada siklus kedua ini guru masih membantu siswa dalam melaksanakan kegiatan, guru mitra lain berperan sebagai observer dan sekaligus membantu guru pengajar memfasilitasi kegiatan pembelajaran. Diakhir pertemuan kedua guru mengadakan tes formatif yang tidak lain bertujuan untuk melihat penguasan materi yang telah dipelajari siswa. Kriteria keberhasilan sama seperti pada siklus pertama. Guruguru mitra lain dalam setiap pertemuan bertugas sebagai pengamat . , sedangkan pada saat pelaksanaan kegiatan selain sebagai observer, semua tim peneliti berperan sebagai fasilitator. Hasil Penelitian Siklus I Aktivitas Pembelajaran Siswa Berdasarkan hasil observasi diperoleh data aktivitas positif dan aktivitas negatif siswa selama siklus I diperoleh data seperti disajikan pada Tabel 4 dibawah ini. ISSN Online: 2549-4791iCCetak: 2549-4201 UNES Journal Of Education Vol 1 Issue 1. February 2017 Tabel 4 Aktivitas Siswa Selama Siklus I Aktivitas Positif Siswa Bertanya pada guru Menjawab pertanyaan guru dengan benar Menemukan jawaban kuiz dengan benar Menjadi juru bicara dalam kelompok Mengerjakan tugas sesuai dengan waktu Berdiskusi dalam kelompok Aktivitas Negatif Siswa Sering keluar masuk kelas Mengantuk dalam belajar Mengganggu teman Tidak mengerjakan tugas Menyontek pekerjaan teman Melihat buku pada saat ulangan Menjawab kuiz tidak benar Jml Jml Dapat dilihat pada tabel diatas bahwa sebagian siswa telah melakukan aktivitas positif seperti bertanya pada guru, menjawab pertanyaan, menemukan jawaban kuiz dengan benar, mengerjakan tugas sesuai dengan waktu dan berdiskusi dalam kelompok. Persentase aktivitas siswa yang paling tinggi adalah sebanyak 16 orang siswa . %) mampu menemukan jawaban kuiz dengan benar dan sebanyak 14 orang siswa . %) mampu mengerjakan tugas sesuai dengan waktu. Dengan banyaknya siswa yang melakukan aktivitas positif selama proses pembelajaran berlangsung berdampak juga pada hasil belajar siswa. Hal ini juga membuktikan bahwa penggunaan model pembelajaran word square dapat meningkatkan aktivitas positif siswa dalam pembelajaran. Hasil Belajar Siswa Aktivitas belajar siswa secara tidak langsung juga berdampak pada hasil belajar Hal ini dapat dilihat pada tabel 5 berikut ini. ISSN Online: 2549-4791iCCetak: 2549-4201 UNES Journal Of Education Vol 1 Issue 1. February 2017 Tabel 5. Data Hasil Belajar Siswa Siklus I Interval Nilai < 70 70 - 75 76 - 80 81 - 85 Ou 100 Jumlah Jml Siswa Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa, sebanyak 14 orang siswa . %) telah mampu mencapai nilai KKM yaitu 75 dengan rincian, sebanyak 8 orang siswa memperoleh nilai antara 76 Ae 80, 5 orang siswa memperoleh nilai antara 81-85 dan 1 orang siswa memperoleh nilai Ou 100. Akan tetapi hal ini belum memenuhi kriteria keberhasilan penelitian dimana 80% siswa memperoleh nilai sama atau lebih besar dari nilai Kriteria Ketuntasan Minimal Hasil Penelitian Siklus II Aktivitas Pembelajaran Siswa Perbaikan tindakan yang dilakukan pada siklus II sebagai hasil refleksi siklus I diharapkan mampu memperbaiki hasil keaktivitasan siswa pada siklus II yang berdampak positif pada hasil belajar siswa. Hasil obervasi juga menunjukkan aktivitas positif dan negatif siswa yang dapat dilihat pada tabel 6 berikut ini. Tabel 6. Data Aktivitas Siswa Pada Siklus II Aktivitas Positif Siswa Bertanya pada guru Menjawab pertanyaan guru dengan benar Menemukan jawaban kuiz dengan benar Menjadi juru bicara dalam kelompok Mengerjakan tugas sesuai dengan waktu Berdiskusi dalam kelompok Aktivitas Negatif Siswa Sering keluar masuk kelas Mengantuk dalam belajar Mengganggu teman Tidak mengerjakan tugas Menyontek pekerjaan teman Melihat buku pada saat ulangan Menjawab kuiz tidak benar Jml Jml ISSN Online: 2549-4791iCCetak: 2549-4201 UNES Journal Of Education Vol 1 Issue 1. February 2017 Dapat dilihat pada tabel diatas bahwa hampir semua siswa telah melakukan aktivitas positif seperti bertanya pada guru, menjawab pertanyaan, menemukan jawaban kuiz dengan benar, mengerjakan tugas sesuai dengan waktu dan berdiskusi dalam kelompok. Walaupun masih ada aspek aktivitas positif siswa yang dikategorikan rendah yaitu aspek menjadi juru bicara dalam kelompok yang hanya 5 orang siswa yang mau dan mampu melakukan hal Berdasarkan tabel 6 diatas, dapat dilihat bahwa aktivitas negatif siswa menurun dibandingkan pada siklus I. Berdasarkan hasil aktivitas belajar siswa tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran word square dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Hasil Belajar Siswa Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan pada siklus II ini dengan jumlah nilai 2175 dengan rata Ae rata 87. Pada siklus II ini, sebanyak 1 orang siswa memperoleh nilai < 70, sebanyak 4 orang siswa memperoleh nilai antara 70 Ae 75 dan sebanyak 20 orang siswa memperoleh nilai Ou 76 dengan KKM 75. Hal ini dapat dilihat pada tabel 7 di bawah Tabel 7. Data Hasil Belajar Siswa Siklus II Interval Nilai < 70 70 - 75 76 - 80 81 - 85 Ou 100 Jumlah Jml Siswa Berdasarkan tabel tersebut, sebanyak 20 orang siswa . %) telah memperoleh nilai diatas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Dengan demikian, kriteria keberhasilan dalam penelitian ini telah tercapai. Dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran word square pada mata pelajaran IPA dapat meningkatkan hasil belajar siswa. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa. Penggunaan Model Word Square pada mata pelajaran IPA di kelas V SD Negeri 11 Kurao Pagang Kecamatan Nanggalo dapat meningkatkan aktifitas siswa dalam mengikuti pelajaran khususnya pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan penguasaan materi IPA siswa kelas V ISSN Online: 2549-4791iCCetak: 2549-4201 UNES Journal Of Education Vol 1 Issue 1. February 2017 semester II, hal ini dapat dilihat dari peningkatan hasil evaluasi yang di laksanakan dari siklus ke siklus. Saran Pada saat pembuatan soal terutama pada penulisan huruf-huruf di dalam kolomkolom, jangan sampai menimbulkan, terdapat jawaban ganda untuk satu soal. Pada saat siswa menjawab pertanyaan dalam kolom-kolom yang berisi huruf-huruf agar kiranya siswa mencantumkan nomor soal pada jawaban. REFERENSI