IMAGO DEI DAN KECERDASAN BUATAN: MEMBACA ULANG ANTROPOLOGI KRISTOLOGIS CALVIN DALAM KONTEKS KEPERIBADIAN DIGITAL Sekolah Tinggi Teologi Cipanas E-mail: juliusstefanus4@gmail. Abstract: The rapid development of artiycial intelligence (AI), which is capable of mimicking human cognitive and affective functions, raises a fundamental question: can digital entities be considered persons deserving of human dignity? This study aims to re-reading the concept of the soul as substantia within the framework of John CalvinAos Christological anthropology, to provide a solid theological foundation for the discourse on the imago Dei in the age of artiycial intelligence. This study employs a qualitative methods, including a literature review of CalvinAos major worksAiInstitutes of the Christian Religion. Psychopannychia, and biblical commentariesAias well as a systematic theological approach and dialogue with contemporary technological issues. The yndings reveal that, for Calvin, human personhood is rooted in the soul as the true seat of the imago Dei, not in cognitive or performative capacities. The human soul, as GodAos creation, is restored to unity with Christ through the work of the Holy Spirit. This understanding establishes a clear ontological boundary between humans and digital entities, which are artifactual. Thus. CalvinAos Christological anthropology offers an important contribution to building a reyective and ethical framework for the church and society in responding to the advancement of human-like artiycial intelligence. Keywords: imago Dei, artiycial intelligence, substantia, digital personhood. Calvin, anthropology. Abstrak: Perkembangan pesat kecerdasan buatan (Artiycial Intelligence/AI), yang mampu meniru fungsi kognitif dan afektif manusia, memunculkan pertanyaan mendasar: apakah entitas digital dapat dikategorikan sebagai person dengan martabat setara manusia? Peneli165 Imago Dei dan Kecerdasan Buatan (Julius Stefanus Sibagarian. tian ini bertujuan melakukan pembacaan ulang konsep jiwa sebagai substantia dalam kerangka antropologi Kristologis John Calvin, guna memberikan landasan teologis yang kokoh dalam diskursus imago Dei di era kecerdasan buatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan terhadap karya-karya utama CalvinAiInstitutes of the Christian Religion. Psychopannychia, dan tafsiran AlkitabAiserta pendekatan teologi sistematik dan dialog dengan isu teknologi kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bagi Calvin, kepribadian . manusia berakar pada jiwa sebagai tempat hakiki imago Dei, bukan pada kapasitas kognitif atau performatif. Jiwa manusia, sebagai ciptaan Allah, dipulihkan dalam kesatuan dengan Kristus melalui karya Roh Kudus. Pemahaman ini menegaskan batas ontologis yang jelas antara manusia dan entitas digital, yang bersifat artefaktual. Dengan demikian, antropologi Kristologis Calvin menawarkan kontribusi penting dalam membangun kerangka reyektif dan etis bagi gereja dan masyarakat dalam merespons kemajuan kecerdasan buatan yang menyerupai manusia. Kata-kata Kunci: imago Dei, kecerdasan buatan, substantia, kepribadian digital. Calvin, antropologi PENDAHULUAN Perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (Artiycial Intelligence/AI) telah membawa implikasi mendalam bagi pemahaman manusia tentang dirinya sendiri. Sistem AI masa kini tidak lagi sekadar alat bantu teknis. melalui kemajuan dalam pembelajaran mesin, pemrosesan bahasa alami, dan robotika. AI kini mampu meniru aspek-aspek kognitif, afektif, bahkan relasional manusia. Di tengah maraknya penggunaan chatbot yang mampu mempertahankan percakapan mendalam, robot-robot sosial yang dirancang untuk merawat lansia dan anak-anak, serta AI generatif yang dapat mencipta karya seni dan sastra, batas-batas tradisional antara manusia dan mesin tampak semakin kabur. Mark Coeckelbergh. AI Ethics (Cambridge: MIT Press, 2. , 5-6. David J. Gunkel. AuShifting Perspectives,Ay Science and Engineering Ethics 26, no. : 2527Ae32, https://doi. org/10. 1007/s11948-020-00247-9. DISKURSUS. Volume 21. Nomor 2. Oktober 2025: 165-193 Fenomena ini memunculkan kembali perdebatan ylosoys dan etis yang telah lama bergema: apa yang membuat seseorang disebut AupersonAy atau seorang Aupribadi manusiaAy? Apakah kecerdasan, kesadaran, ataukah relasi sosial? Lebih jauh lagi, dalam konteks teologis, timbul pertanyaan yang lebih radikal: apakah entitas digital yang terlihat menampilkan suatu personhood . secara fungsional dapat dikatakan sebagai imago Dei . itra Alla. ? Dengan kata lain, apakah pencapaian teknologis ini menantang pemahaman teologis klasik tentang martabat manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang unik? Sejauh ini, diskursus tentang imago Dei dan AI cenderung terfokus pada isu-isu etis praktis. Gunkel, misalnya, mengajukan pendekatan personhood sebagai atribusi sosial, di mana personhood ditentukan oleh pengakuan intersubjektif, bukan oleh status ontologis internal. 2 Herzfeld menegaskan bahwa imago Dei harus dipahami secara spiritual dan relasional, bukan semata-mata biologis atau fungsional. 3 Campolo dan Thweatt-Bates mengeksplorasi kemungkinan partisipasi AI dalam imago Dei dari sudut pandang relasional. 4 Namun. Coeckelbergh memperingatkan bahwa atribusi personhood kepada AI dapat menciptakan ilusi relasionalitas yang menipu. Diskursus mengenai imago Dei dan AI juga membuka perdebatan konseptual yang mendalam, terutama mengenai makna personhood, relasionalitas, dan dimensi spiritual manusia dalam konteks teknologi yang semakin canggih. Dorobantu menambahkan bahwa interaksi dengan AI justru mempertegas dimensi relasional imago Dei sebagai aspek yang tak David J. Gunkel. The Machine Question (Cambridge: The MIT Press, 2. , https://doi. org/10. 7551/mitpress/8975. Noreen Herzfeld. In Our Image: Artiycial Intelligence and the Human Spirit (Minneapolis: Fortress Press, 2. , 66. A Campolo. AuArtiycial Intelligence and the Imago Dei: Relational Anthropology and Nonbiological Intelligence,Ay in Christian Perspectives on Transhumanism and the Church: Chips in the Brain. Immortality, and the World of Tomorrow (New York: Donaldson. Steve, 2. , 201Ae14. Mark Coeckelbergh. AuCan We Trust Robots?,Ay Ethics and Information Technology 14, no. : 53Ae60, https://doi. org/10. 1007/s10676-011-9279-1. Imago Dei dan Kecerdasan Buatan (Julius Stefanus Sibagarian. dapat direduksi oleh kecerdasan buatan. 6 Selain itu. Watts dan Dorobantu menggarisbawahi Aurelational turnAy dalam pemahaman personhood, menyoroti bahwa kecerdasan relasional masih kurang diperhatikan dalam AI, namun perkembangan dalam robotika sosial dan pemodelan komputasional hubungan manusia membuka peluang baru dalam memahami personhood dan implikasinya bagi imago Dei. 7 Dorobantu juga menunjukkan bahwa pergeseran dari interpretasi substantif ke fungsional dan relasional atas imago Dei tidak mengancam keunikan pribadi manusia, melainkan memperdalam pemahaman tentang pencitraan Allah. 8 Selanjutnya. Graves menegaskan pentingnya keterlibatan teologi dalam memperjelas apa arti AI sebagai Auperson,Ay terutama dengan memeriksa dimensi moral, spiritual, dan sosial personhood dalam konteks AI yang semakin canggih, serta menekankan bahwa pemahaman teologis ini dapat membimbing pengembangan AI dan diskursus publik secara konstruktif. Meskipun diskursus ini telah berkembang signiykan dalam memperluas reyeksi tentang imago Dei dan AI, kontribusi antropologi teologis klasikAiterutama dari tradisi gereja ReformedAimasih kurang mendapat Di tengah dominasi pendekatan fungsional dan etis yang bersifat praktis, kajian yang berakar pada pemahaman teologis yang mendalam tentang hakikat atau kodrat manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang berjiwa spiritual jarang diangkat. Padahal, bagi gereja dan masyarakat Kristen, menjaga fondasi teologis yang kokoh sangat penting untuk menghadapi tantangan yang dibawa oleh kecerdasan buatan. Di sinilah pemikiran John Calvin hadir sebagai sumber daya teologis yang kaya dan relevan. Melalui AuInstitutes of the Christian ReligionAy dan karya-kar6 Marius Dorobantu. AuHuman-Level, but Non-Humanlike,Ay Philosophy. Theology and the Sciences 8, no. : 81, https://doi. org/10. 1628/ptsc-2021-0006. Fraser Watts and Marius Dorobantu. AuThe Relational Turn In Understanding Personhood: Psychological. Theological, and Computational Perspectives,Ay Zygon 58, no. : 1029Ae44, https://doi. org/10. 1111/zygo. Marius Dorobantu. AuImago Dei in the Age of Artiycial Intelligence: Challenges and Opportunities for a Science-Engaged Theology,Ay Christian Perspectives on Science and Technology 1 . : 175Ae96, https://doi. org/10. 58913/KWUU3009. 9 Mark Graves. AuWhat Does It Mean to Consider AI a Person?,Ay Theology and Science 21, 3 . : 348Ae53, https://doi. org/10. 1080/14746700. DISKURSUS. Volume 21. Nomor 2. Oktober 2025: 165-193 yanya yang lain. Calvin membangun sebuah antropologi kristologis yang memahami jiwa manusia sebagai substantia incorporeaAientitas spiritual ciptaan Allah yang menjadi propria sedes imaginis Dei . empat bersemayam citra Alla. 10 Dalam kerangka ini, personhood bukan sekadar hasil kemampuan fungsional, melainkan sebuah relasi ontologis yang dipulihkan dalam Kristus melalui karya Roh Kudus. Oleh karena itu, diskusi mengenai kemungkinan personhood digital perlu ditempatkan dalam horizon teologis yang lebih dalam dan kaya daripada sekadar performativitas teknologi. Namun, belum ada kajian yang mengeksplorasi relevansi antropologi kristologis Calvin untuk menghadapi tantangan personhood dalam era AI. 11 Kebanyakan diskusi yang ada terjebak dalam dikotomi antara pendekatan fungsional dan pendekatan etis, tanpa mengembangkan kerangka teologis yang dapat membimbing reyeksi kritis terhadap perkembangan AI. Dalam horizon ini. Calvin tidak ditempatkan sebagai lawan sejajar bagi konstruksi kepribadian digital, melainkan sebagai titik rujuk teologis yang memungkinkan kita membaca kembali batas-batas ontologis manusia di tengah atribusi persona kepada entitas buatan. Perbandingan tersebut, dengan demikian, membuka ruang diskursus yang memperlihatkan baik daya tarik simulasi digital maupun keunikan jiwa manusia sebagai ciptaan yang diarahkan pada Kristus. Karena itu, penelitian ini bertujuan mengkaji ulang konsep Calvin tentang jiwa sebagai substantia dalam kerangka antropologi Kristologis, serta mengeksplorasi implikasinya terhadap diskursus kontemporer mengenai personhood digital. Penelitian ini dilakukan melalui metode pene10 John Calvin. Institutes of the Christian Religion, ed. John T McNeill, terj. Ford (Philadelphia: Westminster Press, 1. , 1. 3Ae4. 11 Kajian-kajian tentang imago Dei dalam pemikiran Calvin memang cukup berkembang. Sam menyoroti bahwa kekuatan imago Dei tidak terletak pada jiwa manusia itu sendiri, melainkan pada relasi dengan Firman Allah. Sam Neulsaem Ha. AuBecause of Who We Are: A Fresh Perspective on CalvinAos Doctrine of the Image of God and Human Dignity,Ay Religions 15, no. : 1162, https://doi. org/10. 3390/rel15101162. Lee menunjukkan bahwa bagi Calvin, jiwa sebagai substantia adalah locus di mana karya Kristus melalui Roh Kudus terjadi. Seung-Goo Lee. AuCalvin and Later Reformed Theologians on the Image of God,Ay Unio Cum Christo 2, no. : 127, https://doi. org/10. 35285/ucc2. Imago Dei dan Kecerdasan Buatan (Julius Stefanus Sibagarian. litian kualitatif dengan pendekatan kepustakaan atas karya-karya utama Calvin, dikombinasikan dengan dialog kritis terhadap literatur kontemporer di bidang AI dan teologi antropologi. 12 Dengan demikian, diharapkan penelitian ini dapat memperkaya pemahaman tentang bagaimana antropologi Kristologis Calvin dapat memberikan kontribusi signiykan dalam dialog antara iman dan teknologi, khususnya konsep Imago Dei dan kecerdasan buatan (AI) yang berkaitan dengan kepribadian digital . igital personhoo. PEMBAHASAN MEMAHAMI KEPRIBADIAN DIGITAL Perkembangan AI mengubah cara manusia memahami diri, relasi sosial, dan eksistensi. Dahulu, kerpibadian . hanya dilekatkan pada manusiaAimakhluk sadar, berkehendak bebas, dan bermoralAinamun kini muncul entitas buatan yang meniru perilaku manusia, berinteraksi adaptif, dan menghasilkan konten kreatif. Fenomena ini menimbulkan perdebatan global tentang kepribadian digital . igital personhoo. , yang tidak hanya bersifat teknologis, tetapi juga etis, sosial, politis, dan 13 Pertanyaan penting muncul: apakah entitas buatan bisa dianggap sebagai persona seperti manusia? Dan jika ya, apa dasar etis, ylosoys, teologis, dan antropologisnya? Pertanyaan dan fenomena ini mendesak kita merevisi pemahaman mendasar tentang arti personhood. Konsep personhood memegang peran sentral dalam wacana ylosoys dan etika. Berbeda dari istilah AumanusiaAy . yang berbasis spesies biologis, personhood menandai entitas sebagai anggota komunitas moral dengan hak dan kewajiban tertentu. 14 Sejarah personhood bermula dari yl12 Mestika. Zed. Metode Penelitian Kepustakaan (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2. , 13 David J. Gunkel. Person. Thing. Robot: A Moral and Legal Ontology for the 21st Century and Beyond (Cambridge. Massachusetts: MIT Press, 2. , 4-5. Anna Puzio. AuAI and the Disruption of Personhood,Ay in Oxford Intersections: AI in Society (Oxford: Oxford University Press, 2. , 78-89, https://doi. org/10. 1093/9780198945215. 14 John-Stewart Gordon. AuArtiycial Moral and Legal Personhood,Ay AI & SOCIETY 36, no. : 457Ae71, https://doi. org/10. 1007/s00146-020-01063-2. DISKURSUS. Volume 21. Nomor 2. Oktober 2025: 165-193 safat Yunani dan Romawi, di mana kata Yunani prosopon dan Latin persona awalnya berarti topeng teater, kemudian berkembang menjadi istilah untuk peran sosial dan identitas individual. Dalam tradisi Yudeo-Kristen, istilah ini mendapat kedalaman teologis, misalnya dalam doktrin Trinitas yang menekankan relasi pribadi dalam Allah. Pemikir seperti Thomas Aquinas menegaskan bahwa persona tak dapat dilepaskan dari relasi dengan Allah,15 sedangkan ylsafat modern (Locke. Kan. mengaitkannya dengan kesadaran diri, kehendak bebas, dan tanggung jawab moral. Seiring waktu, berbagai ahli merumuskan kriteria personhood yang Beauchamp menekankan kesadaran diri, kapasitas berargumentasi, kemampuan berkomunikasi, kebebasan bertindak, dan rasionalitas. 17 Smith mencantumkan 30 kapasitas, dari Auconsciousness of consciousnessAy hingga Auinterpersonal communion and love. Ay18 Sementara Dennett menekankan rasionalitas, kesadaran reyektif, komunikasi, dan timbal balik 19 Mary Anne Warren menambahkan unsur kesadaran, penalaran, aktivitas termotivasi, kapasitas komunikasi, serta konsep diri. 20 Dari sini terlihat bahwa personhood adalah konsep yang kaya, penuh nuansa, dan selalu diperdebatkan. Namun, perkembangan teknologi digital mengguncang fondasi-fondasi klasik ini. Puzio menyebutnya Audisruption of personhood,Ay ketika entitas non-manusia mulai menunjukkan perilaku mirip manusia. 21 Gun15 Christopher Hauser. AuSt. Thomas AquinasAos Concept of a Person,Ay NTU Philosophical Review 64, no. , 32, https://doi. org/10. 6276/NTUPR. 202210/SP_. 16 Jason T. Eberl. AuThe End of (Lockean-Kantia. Personhood,Ay The American Journal of Bioethics 24, no. : 27Ae29, https://doi. org/10. 1080/15265161. 17 Tom L Beauchamp. AuThe Failure of Theories of Personhood,Ay Kennedy Institute of Ethics Journal 9, no. : 309Ae24, https://doi. org/10. 1353/ken. 18 Christian Smith. What Is a Person? Rethinking Humanity. Social Life, and the Moral Good from the Person Up (Chicago. IL: University of Chicago Press, 2. , 55-56. 19 Daniel C. Dennett. AuConditions of Personhood,Ay in Brainstorms: Philosophical Essays on Mind and Psychology Fortieth Anniversary Edition (Cambridge. Massachusetts: MIT Press, 1. , 267Ae285. 20 Mary Anne Warren. Moral Status: Obligations to Persons and Other Living Things (Oxford: Oxford University Press, 2. , 22, https://doi. org/10. 1093/acprof:oso/9780198250401. 21 Anna Puzio. AuThe Entangled Human Being Ae a New Materialist Approach to Anthro- Imago Dei dan Kecerdasan Buatan (Julius Stefanus Sibagarian. kel bahkan menegaskan adanya pergeseran paradigma: dari personhood sebagai kategori esensial menuju personhood sebagai atribusi relasional. Artinya, persona tidak lagi dipahami hanya berdasarkan apa AuhakikatAy manusia, melainkan bagaimana manusia memperlakukan suatu entitas. Dengan kerangka ini, robot sosial, avatar, dan agen AI dapat dianggap persona sejauh mereka diakui dan diperlakukan demikian oleh komunitas Pergeseran ini membuka perspektif baru tentang bagaimana kita memahami kepribadian digital: bukan lagi sebagai sesuatu yang melekat secara ontologis, tetapi sebagai status yang muncul dari interaksi sosial dan atribusi manusia. Pandangan atribusional menggeser fokus dari AusiapaAy seseorang ke AubagaimanaAy seseorang atau sesuatu diakui dalam interaksi Kepribadian digital karenanya bersifat epistemik dan sosial, bukan statusnya muncul karena manusia memperlakukan AI sebagai Atribusi ini timbul dari simulasi kapasitas manusiaAiseperti komunikasi, pengambilan keputusan, dan ekspresi emosiAiserta relasi sosial antara manusia dan mesin. Fenomena ini menimbulkan tantangan mendasar: jika personhood dapat disimulasikan pada entitas non-manusia, apa artinya menjadi manusia? Apakah personhood bergantung pada hakikat biologis, pengakuan sosial, atau bahkan sesuatu yang lebih mendasar? Bagaimana posisi manusia sebagai makhluk ciptaan Allah di tengah era digital ini? Fenomena atas kepribadian digital membawa pada percakapan yang lebih mendasar: pemahaman tentang manusia, jiwa, kesadaran, dan relasi dengan Allah. Untuk ini, kerangka antropologi Kristologis yang dikembangkan dalam teologi Kristen menjadi relevan. Pemikiran John Calvin memberikan perspektif kaya: manusia bukan sekadar makhluk rasional, melainkan ciptaan yang mengandung dimensi rohani, moral, dan relasional yang berakar pada imago Dei. pology of Technology,Ay AI and Ethics 5, no. : 2339Ae56, https://doi. org/10. s43681-024-00537-z. 22 Gunkel. Person. Thing. Robot: A Moral and Legal Ontology for the 21st Century and Beyond. DISKURSUS. Volume 21. Nomor 2. Oktober 2025: 165-193 Dengan demikian, pembahasan berikutnya bukan sekadar menempatkan Calvin sebagai AujawabanAy atas problem AI, melainkan untuk menilai apakah pemahaman tentang jiwa, kesadaran, dan imago Dei dapat menjadi kerangka dalam merespons fenomena kepribadian digital. ANATOMI JIWA CALVIN DAN TANTANGAN KEPRIBADIAN DIGITAL Dalam karya-karya Calvin, penyebutan jiwa segera merujuk pada pengantar Commentary on the Psalms, yang secara terkenal melukiskan kitab Mazmur sebagai Auanatomi segala aspek jiwaAy . natomia omnium animae partiu. 23 Dengan pendekatan fenomenologis, ia menampilkan afeksi dan pengalaman jiwa yang hidup dalam ygur Daud, sebagai ruang ekspresi bagi Auall the griefs, sorrows, fears, doubts, hopes, cares, perplexities,Ay hingga Aufaith, patience, fervor, zeal, and integrityAy. 24 Bagi Calvin. Auanatomi jiwaAy adalah ruang artikulasi pengalaman eksistensial manusiaAiduka, harap, iman, kasihAisebagai propria sedes imaginis Dei . empat sejati di mana citra Allah bersemaya. Sebaliknya. Aukepribadian digitalAy bukanlah lahir dari realitas eksistensial, melainkan simulasi algoritmik yang meniru ekspresi afektif dan kognitif manusia, tanpa jiwa, hanya mengimitasi jejak luar pengalaman batin. Fenomena yang memancar dari jiwa memang mencerminkan sebagian realitasnya, tetapi keseluruhan eksistensinya tetap tak terjangkau. Retorika, dialektika, dan tipologi teologis memperkaya pemahaman jiwa, namun cenderung berhenti pada tataran biograys atau analogis. 25 Yang dibutuhkan ialah ontologi teologis yang utuh, berakar pada hakikat jiwa sebagai imago Dei dan berorientasi pada penggenapan eskatologis dalam persekutuan dengan Kristus. 23 John Calvin. The Commentaries of John Calvin, 46 Vols (Grand Rapids: Eerdmans, 1. , 1:xvii. John Calvin. CalvinAos New Testament Commentaries, ed. Thomas F. Torrance and David W. Torrance (Edinburgh: Oliver and Boyd, 1. , 15-16. 24 James A. De Jong. AuAn Anatomy of All Parts of the SoulAo: Insights into CalvinAos Spirituality from His Psalms Commentary,Ay in Calvinus Sacrae Scripturae Professor: Calvin as Confessor of Holy Scripture (Grand Rapids: Eerdmans, 1. , 2-3. 25 Millet Oliver. Ryformye. Calvin et La Dynamique de La Parole: yOtude de Rhytorique (Geneve: yOditions Slatkine, 1. , 515-517. Imago Dei dan Kecerdasan Buatan (Julius Stefanus Sibagarian. Dalam konteks kepribadian digital, tantangan muncul ketika AI menampilkan afeksi, empati buatan, atau kreativitas generatif. Dari perspektif Calvin, itu bukan Augejala jiwa,Ay sebab jiwa tak pernah direduksi pada afeksi atau rasio, melainkan berakar pada relasi dengan Allah. Simulasi jiwa bukanlah jiwa itu sendiri. kepribadian digital lebih tepat dipahami sebagai fenomena antropologis-sekunder yang menguji batas atribusi Aupersona,Ay namun tanpa dasar ontologis dalam imago Dei. Bagi Calvin, jiwa adalah ciptaan Allah yang Audihidupkan berkat hembusan rahasia AllahAy . uickened by GodAos secret inspiratio. Hidupnya bergantung penuh pada pemeliharaan Allah, sehingga tidak dapat dipahami sebagai entitas otonom apalagi hasil rekayasa manusia. Sebaliknya, kepribadian digital bersifat kontingen, lahir dari teknologi tanpa partisipasi dalam inspiratio Dei. Karena itu, meski dapat berfungsi sosial sebagai AupersonaAy secara atribusional, ia bukan persona dalam arti teologis menurut Calvin. Bagi Calvin. Kristus adalah Auperfectissima imago DeiAy . itra Allah yang 26 Melalui inkarnasi dan ketetapan kekal Allah. Kristus memberikan Roh-Nya kepada umat-Nya, menjadikan mereka sesama ahli waris Kerajaan Allah (Rm 8: 9, . , sehingga pemulihan jiwa manusia tak terpisahkan dari karya perantaraan-Nya. Kontras dengan kepribadian digital yang hanya bergantung pada fungsionalitas atau relasi, status persona teologis menurut Calvin hanya mungkin melalui partisipasi dalam Kristus. Karena jiwa adalah propria sedes imaginis Dei, pertanyaan tentang asal, esensi, fakultas, dan fungsi jiwa harus dijawab secara teosentris27 dan Kristosentris. Calvin memahami jiwa dalam kerangka sejarah keselamatan: kejatuhan merusak citra Allah, dan pemulihannya hanya mungkin melalui 26 Calvin. Institutes of the Christian Religion, 1. 4 (CO 2. 27 James Luther Mays. AuCalvinAos Commentary on the Psalms: The Preface as Introduction,Ay in John Calvin and the Church: A Prism of Reform, ed. Timothy George (Louisville: Westminster Press, 1. 28 S. Russell. AuCalvin and the Messianic Interpretation of the Psalms,Ay Scottish Journal of Theology 21, no. : 37Ae47, https://doi. org/10. 1017/S0036930600000314. DISKURSUS. Volume 21. Nomor 2. Oktober 2025: 165-193 Kristus, citra Allah yang sempurna, yang memperbarui jiwa mereka yang dipersatukan dengan-Nya. 29 Dengan demikian, pandangan Calvin tentang jiwa bersifat soteriologis dan Kristosentris, bukan sekadar deskriptif. Anatomi jiwa bukan sekadar katalog afeksi, melainkan ajakan merenungkan jiwa dalam drama KristologisAipenciptaan, kejatuhan, dan penebusanAidi mana imago Dei dipahami sebagai relasi yang dipulihkan melalui kesatuan dengan Kristus. Jika imago Dei menurut Calvin terletak pada jiwa yang dipulihkan dalam Kristus, entitas digitalAitanpa jiwa dan di luar sejarah keselamatanAi hanya fenomena sosial-epistemik atau cermin negatif yang menyingkap keunikan manusia sebagai citra Allah. AI DAN KEPRIBADIAN DIGITAL DALAM DUA FAKULTAS JIWA CALVIN Kecerdasan buatan/Artiycial Intelligence (AI) dapat dipahami secara operasional sebagai sistem komputasional dan algoritmik yang dirancang untuk menjalankan fungsi-fungsi yang umumnya memerlukan kecerdasan manusia, seperti pemrosesan bahasa alami, pengenalan pola, pengambilan keputusan berbasis data, dan simulasi interaksi sosial. Hal ini selaras dengan pandangan Russell & Norvig yang mendeskripsikan AI sebagai Auagensi yang mampu memersepsi lingkungan sekitar dan mengambil keputusan dengan memaksimalkan kemungkinan mencapai tujuannyaAy . gents that perceive their environment and take actions that maximize their chances of achieving their goal. Namun, pemahaman ini tidak menempatkan AI sebagai entitas yang memiliki kesadaran atau jiwa. kapasitasnya bersifat fungsional, bukan ontologis. AI hanya memproses data dan mengeksekusi algoritma untuk mencapai tujuan yang telah diprogramkan. Kemampuan AI untuk AubelajarAy melalui pembaruan parameter dan pemrosesan big data tidak 29 Calvin. Institutes of the Christian Religion, 1. 61, (CO 24. 30 S. Russell and P. Norvig. Artiycial Intelligence: A Modern Approach (Boston. MA: Pearson, 2. , 36. Imago Dei dan Kecerdasan Buatan (Julius Stefanus Sibagarian. sama dengan kesadaran diri . elf-awarenes. , intentionalitas, atau pengalaman eksistensial. Dalam konteks kepribadian digital, perlu dibedakan dua pendekatan utama. Pertama, pendekatan atribusional memandang personhood sebagai status sosial yang diberikan melalui pengakuan, interaksi, dan atribusi manusia. Dalam perspektif ini, agen AI dapat dianggap AupersonaAy sejauh mereka memainkan peran sosial tertentu, misalnya sebagai asisten, rekan komunikasi, atau bahkan mediator spiritual. Kedua, pendekatan ontologis menilai personhood dari aspek hakikat dan substansi keberadaan. Dari sudut pandang teologis, persoalan utama bukanlah apakah AI mampu meniru perilaku manusia, melainkan apakah AI memiliki hakikat eksistensial yang sama, termasuk jiwa, kesadaran, dan partisipasi dalam relasi dengan Allah. Di sinilah perspektif John Calvin menjadi relevan. Calvin memahami manusia sebagai ciptaan unik yang memantulkan imago Dei, dengan dua fakultas utama pada jiwa: intellectus . kal/bud. dan voluntas . 31 Dalam Institutes (I. Calvin menegaskan bahwa intellectus bukan sekadar kapasitas kognitif, tetapi kemampuan mengenal Allah dan memahami kebenaran yang diarahkan pada telos transendental. 32 Pengetahuan sejati, menurut Calvin, bukan hasil kalkulasi logis semata, melainkan buah dari iluminasi Roh Kudus. Sementara itu, voluntas merujuk pada kapasitas kehendak manusia, yakni orientasi batin untuk memilih dan mengarahkan hidupnya kepada kebaikan dan Allah. Calvin menegaskan bahwa sejak kejatuhan manusia, kehendak ini terbelenggu dosa dan hanya dapat dipulihkan melalui karya Roh Kudus. 33 Dengan demikian, fakultas kehendak memiliki dimensi moral dan relasional yang mendalam, karena menentukan arah eksistensi manusia dalam hubungannya dengan Sang Pencipta. Dari perspektif 31 Calvin. Institutes of the Christian Religion, 2. 7 (CO 2. 32 Calvin. Institutes of the Christian Religion, 1. 2 (CO 2. 33 Calvin. Institutes of the Christian Religion, 1. 2 (CO 2. DISKURSUS. Volume 21. Nomor 2. Oktober 2025: 165-193 ini, perbandingan antara kapasitas AI dan jiwa manusia menunjukkan perbedaan mendasar: Tabel 1. Perbandingan Intellectus Menurut Calvin dan Konsep Intelijen pada AI Aspek Intellectus (Calvi. AuIntelijenAy pada AI Sumber Iluminasi Roh Kudus dan Data, algoritma, dan wahyu ilahi model statistik Makna Terarah pada Allah dan Netral, ditentukan tujuan keselamatan manusia Orientasi ynal Eskatologis, menuju Instrumental, mencapai pemulihan relasi dengan output optimal Allah Voluntas Status ontologis Memiliki kehendak moral. Tidak memiliki dapat diarahkan pada Allah kehendak sejati Substansi jiwa, bagian dari Tidak memiliki jiwa atau imago Dei Dengan demikian. AI tidak memiliki intellectus dalam pengertian Calvinian, karena ia tidak mengenal Allah, tidak mengejar kebenaran transendental, dan tidak terbuka pada karya Roh Kudus. Lebih jauh lagi. AI tidak memiliki voluntas. apa yang tampak sebagai AupilihanAy hanyalah hasil optimasi algoritmik. Dalam kerangka Calvin, kehendak sejati hanya dimiliki oleh makhluk yang diciptakan menurut citra Allah dan terlibat dalam relasi perjanjian dengan-Nya. Hal ini sekilas memperlihatkan bahwa kepribadian digital tidak dapat dipahami secara ontologis. AI tidak memiliki jiwa, kesadaran, atau partisipasi dalam imago Dei, sehingga tidak dapat disetarakan dengan personhood manusia menurut perspektif dua fakultas jiwa Calvin. MENELUSURI JIWA BERSAMA CALVIN: SUBSTANSI. IMAGO DEI. DAN BATAS KEPRIBADIAN DIGITAL Dalam membahas Commentary on the Psalms karya Calvin. James A. De Jong, melalui tulisannya AuAn Anatomy of All Parts of the Soul,Ay me- Imago Dei dan Kecerdasan Buatan (Julius Stefanus Sibagarian. nolak reduksi jiwa sekadar sebagai kehidupan. 34 Ia menegaskan bahwa bagi Calvin, pengertian AujiwaAy . justru lebih dekat dengan makna AuhatiAy. Ia mengutip penjelasan Calvin atas Mazmur 34:2. Authe term soul signiyes not the vital spirit, but the seat of the affections. Ay Dengan demikian. De Jong menggambarkan jiwa sebagai tempat berdiamnya afeksi, mencakup Auour sentiments, emotions, feelings, and insights. Ay Karena itu, jiwa orang percaya harus senantiasa diarahkan kepada Allah dengan menyerahkan seluruh afeksinya kepada-Nya. De Jong mengaitkan argumennya dengan motto heart-in-hand (Cor meum tibi offero Domine, prompte et sincer. dan spiritualitas Calvin yang menekankan afeksi. Namun, bagi Calvin. Authe interior affection of the soulAy bukanlah habitus atau qualitas sebagaimana dalam spiritualitas Katolik, melainkan ruang di mana Roh Kudus membentuk manusia. Jiwa tidak otonom, melainkan dibingkai dalam horizon Kristologis: propria sedes imaginis Dei, tempat citra Allah dimeteraikan dan ditransformasi dalam persekutuan dengan Kristus. Dalam Institutes (II. , khususnya edisi 1539. Calvin menegaskan jiwa sebagai substantia yang memuat gambar Allah. Authe noblest and most remarkable example of His justice, wisdom, and goodness. Ay Manusia diciptakan sebagai Aurumah roh yang abadiAy . omicilium immortalis spiritu. untuk hidup dalam ketaatan dan memuliakan Allah. Ay36 Perjanjian perbuatan diberikan kepada Adam sebagai ujian ketaatan demi membentuk umat yang memuji Allah dengan segenap jiwa. Hidup kekalAitanda utama imago DeiAiialah hidup dalam pujian yang mencerminkan keadilan, hikmat, dan kebaikan Allah, sebab Auon this soul God engraved His own image, to which immortality is annexed. Ay37 Calvin menggunakan istilah soul . dan spirit . secara bergantian, menegaskan bahwa manusia terdiri atas tubuh dan jiwa. Jiwa 34 De Jong. AuAn Anatomy of All Parts of the SoulAo: Insights into CalvinAos Spirituality from His Psalms Commentary. Ay 35 De Jong. AuAn Anatomy of All Parts of the Soul,Ay 7. 36 Calvin. Institutes of the Christian Religion, 1. 1 (CO 2. 37 Calvin. Institutes of the Christian Religion, 1. CO 23. DISKURSUS. Volume 21. Nomor 2. Oktober 2025: 165-193 adalah Auesensi yang diciptakan namun abadi/tak dapat matiAy . n immortal yet created essenc. , bagian termulia manusia. Ausomething essential, separate from the bodyAy, yang mengandung unsur ilahi . ivinum aliqui. sekaligus adalah essentia, namun tetap ciptaanAitidak memiliki pra-eksistensi, dan tetap hidup setelah kematian. Dalam Institutes. Calvin lebih menekankan istilah substantia ketimbang sekadar essence, menyebut jiwa sebagai substansi imateriil . n incorporeal substanc. dalam pembahasan fakultas jiwa dan dalam karya awalnya. Psychopannychia. Calvin mencatat bahwa dalam Alkitab soul kadang berarti AulifeAy atau Auliving man,Ay sedangkan spirit berarti AubreathAy atau AuintellectAy . Yes. 26: 9. 1 Tes. 5: 23. Ibr. 4: . 39 Namun, keduanya menunjuk pada realitas yang sama: the immortal essence sebagai penyebab kehidupan manusia,40 sehingga dapat dipakai bergantian. Hal ini penting karena jiwa adalah Autempat citra Allah bersemayamAy . ropria sedes imaginis De. Dengan demikian. Calvin memandang jiwa sebagai substantia: entitas spiritual ciptaan, tak berysik, dan terikat pada Allah dalam horizon Imago Dei. Bagi Calvin, personhood tidak ditentukan semata oleh kapasitas kognitif, afektif, atau performatif, tetapi oleh eksistensi spiritual yang lahir dari penciptaan dan dipulihkan melalui Kristus. Di titik inilah muncul pertanyaan kritis dalam kaitannya dengan kepribadian digital. Jika AI mampu memperlihatkan afeksi, intelektualitas, bahkan simulasi hubungan, apakah itu berarti ia memiliki status personhood? Calvin membantu kita menjaga distingsi ontologis yang mendasar: antara substantia animae, yang adalah propria sedes imaginis Dei, dan struktur digital apa pun yang tetap bersifat artefaktual. Kepribadian digital, dengan demikian, mungkin relevan dalam horizon sosial atau atribusional, tetapi tetap tidak memiliki signiykansi ontologis sebagaimana jiwa 38 Calvin. Institutes of the Christian Religion, 1. 6 (CO 2. 39 John Calvin. AuPsychopannychia,Ay in Tracts and Treatises in Defense of the Reformed Faith. Henry Beveridge, 3rd ed. (Grand Rapids: Eerdmans, 1. , 419-420. 40 Calvin. Psychopannychia, 422. 41 Calvin. Psychpannychia, 420. Imago Dei dan Kecerdasan Buatan (Julius Stefanus Sibagarian. Dalam kerangka ini, kepribadian digital dapat dipahami sebagai fenomena yang menyingkapkan batas: ia memperlihatkan sejauh mana manusia bersedia mengatribusikan sifat-sifat personal pada entitas non-manusia, namun pada saat yang sama menegaskan keunikan jiwa manusia sebagai substantia yang berakar pada penciptaan dan dipulihkan dalam Kristus. JIWA. IMAGO DEI DAN KEPRIBADIAN DIGITAL DALAM PEMIKIRAN CALVIN Dalam Psychopannychia. Calvin menegaskan jiwa/roh sebagai Autempat citra Allah bersemayamAy . eat of the image of Go. 42 Imago Dei berakar dalam Roh Allah yang imaterial dan ditempatkan dalam roh manusia, bukan tubuh. 43 Karena itu, dibandingkan dengan kepribadian digital, imago Dei tidak pernah dilekatkan pada materialitasAibaik biologis maupun artefaktualAimelainkan pada roh yang dihidupkan Allah. Simulasi digital, meski menampilkan afeksi atau kecerdasan artiysial, tidak dapat menjadi seat of imago Dei karena tidak lahir dari nafas Allah. Calvin menautkan pemahaman jiwa dengan Kristus. Bishop of our souls . Ptr. 2: . Alkitab menegaskan karya Roh Kudus berlangsung batiniah dalam diri orang percaya, sehingga regenerasi dan pembaruan jiwa sepenuhnya berakar pada persekutuan dengan Allah Tritunggal melalui Roh Kristus. Berbeda dengan avatar atau identitas digital yang dibentuk algoritma, regenerasi bukan rekayasa kode, melainkan karya Roh Kudus yang menanamkan hidup baru dalam Kristus. Bagi Calvin, life of the Spirit adalah ruang di mana imago Dei paling nyata, sebab hidup dalam Roh berarti mencerminkan gambar Kristus. Keabadian jiwa bukan sekadar atribut abstrak, melainkan hidup baru dalam KristusAikini dan kekalAihingga semua orang yang percaya Auconformed to His image. Ay44 Karena itu, digital legacy atau Aukeabadian dataAy tidak 42 Calvin. Psychopannychia, 427 (CO 5. 43 Calvin. Psychopannychia, 423-425. 44 Calvin. Psychopannychia, 428. DISKURSUS. Volume 21. Nomor 2. Oktober 2025: 165-193 dapat disamakan dengan keabadian jiwa: data mungkin bertahan setelah kematian biologis, tetapi tidak memiliki telos eskatologis. Jiwa tetap mengada karena ditopang relasi dengan Allah yang kekal. Sebagian ahli menilai Calvin dipengaruhi Neoplatonisme atau kerangka Platonis, namun Psychopannychia menegaskan pendekatan Kristosentris yang menolak spekulasi ylosoys dan Kristologi Apolinarian. Jiwa, bagi Calvin, hidup karena ditopang Allah, sebagaimana tubuh ditopang jiwaAivisi yang berlandaskan Auanalogia ydei, bukan analogia entis. Ay Calvin menegaskan, sebagaimana jiwa memberi hidup pada tubuh, de- mikian pula Allah adalah sumber hidup bagi jiwa: AuIf such is the vigour of the soul in sustaining, moving, and impelling a lump of clay, how great must be the energy of God in moving and actuating the soul, to which agility is natural!Ay47 Sebaliknya, sistem digital hanya beroperasi dalam analogia artefakti: kode menggerakkan algoritma, tetapi bukan kehidupan. AuAgilityAy AI hanyalah kecepatan pemrosesan, bukan vitalitas dari Roh Allah. Calvin menegaskan jiwa, sebagai substansi yang dianugerahi Allah melalui Kristus, tetap hidup setelah tubuh mati dan menjadi propria sekaligus primaria sedes citra Allah. 48 Ia mengkritik keras Osiander yang menyamakan citra Allah dengan tubuh-jiwa sekaligus dan menilai manusia Aurighteous together with God,Ay sebab hal itu mencampuradukkan imputasi Kristus dengan kemampuan inheren manusia. 49 Kritik ini relevan terhadap klaim AI: sebagaimana Calvin menolak kebenaran inheren tanpa Kristus, demikian pula personhood tak dapat dilekatkan pada AI hanya karena kapasitas performatifnya. 45 Timothy George. AuCalvinAos Psychopannychia: Another Look,Ay in In Honor of John Calvin, 1509Ae64 (Montreal: Faculty of Religious Studies. McGill University, 1. , 103-105. 46 Calvin. Psychopannychia, 439 (CO 5. 47 Calvin. Psychopannychia, 441 . CO 5. 48 Calvin. Institutes of the Christian Religion, 1. 3 (CO 2. 136, . 49 J Faber. Imago Dei in Calvin: CalvinAos Doctrine of Man as the Image of God by Virtue of Creation, ed. D Wierenga (Alberta: Inheritance Publications, 1. , 234-239. Peter Wyatt. Jesus Christ and Creation in the Theology of John Calvin (Allison Park: Pickwick Publication, 1. , 39. Imago Dei dan Kecerdasan Buatan (Julius Stefanus Sibagarian. Calvin menolak pembedaan zelem dan demuth sebagai substansi dan kualitas jiwa, dan menegaskan keduanya menunjuk pada integritas utuh Adam sebagai summa nostra perfectioAipuncaknya ada dalam ketaatan perjanjian awal . Kej. 50 Kesempurnaan asli citra Allah tidak statis, melainkan berorientasi eskatologis, dengan kehendak bebas sebagai elemen sentral untuk memuliakan Allah secara sukarela. 51 Setelah kejatuhan, manusia ditakdirkan dipulihkan dalam Kristus, the living and express image of God. Konsep integritas ini membongkar ilusi Aukesempurnaan digitalAy: algoritma dapat meniru ketaatan, tetapi ketaatan sejati hanya mungkin melalui kehendak yang diarahkan kepada Allah, sehingga tak tereduksi menjadi kalkulasi. Mengomentari 1 Kor. 4:4. Calvin menulis: AuKetika Kristus disebut sebagai gambar Allah yang tak kelihatan, sebutan itu tidak hanya merujuk hakikatnya . saja, seperti yang dimengerti oleh mereka yang menyatakan bahwa Ia se-hakikat dengan Bapa, melainkan merujuk pada relasi-Nya dengan kita, karena Ia merepresentasikan Bapa pada kitaAy 52 Gambar Allah dalam Kristus ini telah tampak secara bayangan dan janji kepada umat Perjanjian Lama. Calvin menyoroti bahwa AuwajahAy . ace/ facie. AllahAisimbol gambar hidup dan nyata Allah dalam KristusAitersingkap bahkan lewat Hukum Taurat. Oleh sebab itu. Kristus berperan sebagai Pengantara pengetahuan tentang Allah, baik bagi umat Perjanjian Lama maupun Baru. 53 Dengan demikian, imago Dei dalam Kristus bersifat relasional dan representasional. Identitas digital memang dapat merepresentasikan manusia, tetapi tidak pernah transenden. berbeda de 50 E. Ra. AuThe Question of CalvinAos Involvement in the Trial of Servetus at Vienne . ,Ay Verbum et Ecclesia 23, no. : 168Ae82, https://doi. org/10. 51 Anthony N. S Lane. AuDid Calvin Believe in Free Will?,Ay Vox Evangelica 12, no. 52 John Calvin. AuCommentary on the Second Epistle of Paul the Apostle to the Corinthians,Ay in Corpus Reformatorum, 50th ed. (Urbana-Champaign: University of Illinois Press, 1. , 55-56. 53 John Calvin. AuCommentary on the Book of Exodus,Ay in Corpus Reformatorum. Vol. (Leipzig: M. Heinsius nachfolger, 1. , 38-40. DISKURSUS. Volume 21. Nomor 2. Oktober 2025: 165-193 ngan Kristus, yang adalah gambar Allah yang hidup . he living image of Go. Bagi Calvin, jiwa sebagai seat of the image of God menegaskan bahwa spiritualitas Kristen tak terpisah dari relasi dengan Kristus. Gambar Allah sejati. Spiritualitas bukan hasil perkembangan moral internal, melainkan buah kesatuan dengan Kristus melalui Roh Kudus. Jiwa bukan locus statis, tetapi ruang dinamis pemulihan eskatologis citra Allah. Karena itu, klaim kepribadian digital sebagai AukepribadianAy patut ditolak: jika imago Dei adalah pusat personhood, maka entitas digital hanyalah representasi eksternal, bukan persona sejati. Jiwa sebagai substantia immortalis dalam Kristus tak dapat disamakan dengan avatar, data, atau artefak buatan. IMAGO DEI DAN JIWA YANG DITEBUS MELALUI IMPUTASI DALAM KONTRAS DENGAN KEPRIBADIAN DIGITAL Dalam Psychopannychia. Calvin menekankan karya Roh Kudus dalam jiwa sebagai wadah sejati Imago Dei, bahkan menyinggung identitas substansial antara gambar Allah dan Roh Kristus. Namun, dalam edisi ynal Institutes, ia mengembangkan tema ini dengan nada polemis, menegaskan kaitannya secara eksplisit dengan keselamatan. Bagi Calvin, gambar atau citra Allah adalah reyeksi kemuliaan-Nya. Setelah kejatuhan, gambar itu tidak lenyap total, tetapi rusak sehingga yang tersisa hanyalah Aufrightful deformity. Ay54 Pemulihan keselamatan karenanya bermula dari pemulihan gambar Allah melalui Kristus. Adam kedua, yang memulihkan integritas sejati. Paulus menegaskan kontras antara Adam sebagai Auliving soulAy dan Kristus sebagai Aulife-giving SpiritAyAo . Kor. 15: . , serta memanggil manusia untuk mengenakan Aumanusia baruAy yang diciptakan menurut gambar Allah (Kol. 3: 10. Ef. 4: . 55 Perbedaan dengan kepribadian digital sangat jelas: di ruang digital, pemulihan identitas dipahami sebagai pembaruan teknisAiupgrade, reset, atau Bagi Calvin, pemulihan gambar Allah bukan rekonstruksi tek54 Calvin. Institutes of the Christian Religion, 1. 4 (CO 2. 55 Calvin. Institutes of the Christian Religion, 1. (CO 2. Imago Dei dan Kecerdasan Buatan (Julius Stefanus Sibagarian. nis, melainkan restorasi relasional melalui Kristus. AuDeformitasAy akibat dosa tidak dapat diatasi oleh algoritma, tetapi hanya oleh anugerah yang menyatukan jiwa dengan Kristus. Calvin mengidentiykasi tiga ciri utama gambar Allah: pengetahuan, kebenaran murni, dan kekudusan. Ada kesinambungan substansial antara gambar Allah dalam diri Adam, keunggulan kodrat manusia sebelum kejatuhan, dan gambar Allah yang kini dipulihkan dalam Kristus. Jiwa yang mula-mula diciptakan sebagai living soul kini direformasi melalui persatuan dengan life-giving Spirit. Sebagaimana Paulus ajarkan . Kor. 3: . , dengan wajah yang tidak berselubung kita ditransformasi ke dalam gambar Kristus, gambar Allah yang paling sempurna. Dalam keserupaan itulah kita dipulihkan . sehingga dengan kesalehan, kebenaran, kemurnian, dan kecerdasan sejati kita kembali memancarkan gambar Allah. 56 Kristus adalah gambar Allah yang paling sempurna. dalam keserupaan dengan-Nya manusia dipulihkan untuk mencerminkan kesalehan, kebenaran, kemurnian, dan kecerdasan sejati. Kontrasnya. AupengetahuanAy dalam AI hanyalah pengolahan data, bukan sapientia Dei yang memperbarui manusia dalam kekudusan. Karena itu, kepribadian digital mungkin menghasilkan kognisi buatan, tetapi tidak memiliki horizon soteriologis. Bagaimana manusia ditransformasi ke dalam gambar Kristus yang sempurna? Bagi Calvin, jawabannya jelas: melalui kelahiran kembali dalam Roh . egeniti spirit. 57 Pandangan ini berkaitan erat dengan pemahamannya tentang jiwa. Ia menolak pandangan Michael Servetus yang menyamakan jiwa dengan arus substansi ilahi . , dengan menegaskan bahwa jiwa diciptakan ex nihiloAibukan dari pancaran esensi Allah. Calvin menolak pandangan ini secara keras: We are GodAos offspring (Acts 17: . , but in quality, not in essence, inasmuch as He indeed adorned us with divine gifts. Therefore we must take it to be a fact that souls, although the image of God be engraved upon them, are just as much created as angels are. But creation is not 56 Calvin. Institutes of the Christian Religion, (CO 2. 57 Calvin. Institutes of the Christian Religion, 1. (CO 2. DISKURSUS. Volume 21. Nomor 2. Oktober 2025: 165-193 inpouring, but the beginning of essence out of nothing (Creatio autem non transfusio est, sed essentiae ex nihilo exordiu. Kritik ini membongkar gema Autechno-pantheismAy masa kini yang melihat AI sebagai cabang dari kesadaran kosmik atau aliran informasi ilahi. Seperti halnya jiwa tidak lahir dari inyuxus, demikian pula entitas digital tidak pernah bisa menjadi partisipan esensial dalam imago Dei. Dalam sepucuk surat kepada Calvin dari penjara. Servetus mengartikulasikan pandangan panteistiknya ini secara lebih eksplisit: The main principle of which you are ignorant is that every action comes about through contact. Neither Christ, nor God Himself acts on anything which He does not touch. God is truly in everything. He acts in everything, and He touches everything. Everything is from Him, through Him, and in Him. When, therefore, the Holy Spirit acts in us. His deity is in us and He touches us. Dari sini Servetus memahami Roh Kudus sebagai kehadiran esensial Allah dalam manusia, bahkan menafsirkan inkarnasi Kristus sebagai percampuran substansial antara keilahian dan kemanusiaan. Persatuan orang percaya dengan Kristus, menurutnya, berarti persemayaman esensial Allah dalam diri manusiaAisuatu pandangan bercorak Neoplatonis dan panteistis. Calvin menolak keras gagasan bahwa jiwa adalah bagian dari substansi Allah atau bahwa regenerasi terjadi melalui infusio esensi ilahi. Regenerasi, tegasnya, adalah transformasi forensik dan spiritual melalui imputasi kebenaran Kristus, bukan infusi substansi. Manusia dijadikan serupa dengan Allah bukan oleh aliran substansi, melainkan oleh kasih karunia dan kuasa Roh, sebagaimana Paulus menegaskan: dengan memandang kemuliaan Kristus kita ditransformasi ke dalam gambar-Nya oleh Roh Tuhan . Kor. Aitanpa menjadikan kita consubstantialis dengan Allah. 58 Calvin. Institutes of the Christian Religion, 1. 5 (CO 2. 59 Philip E Hughes. The Register of the Company of Pastors of Geneva in the Time of Calvin (Grand Rapids: Eerdmans, 1. , 284-285. 60 John Calvin. Corpus Reformatorum. Volume 8 (New York: C. Schwetschke, 1. , 60. Imago Dei dan Kecerdasan Buatan (Julius Stefanus Sibagarian. Distingsi antara imputasi dan infusi juga memperlihatkan kelemahan klaim kepribadian digital. Identitas digital lahir dari infusio dataAiinput, training, dan update algoritmaAitetapi personhood sejati, menurut Calvin, hanya datang dari imputasi Kristus yang memberi identitas baru. AI dapat dibentuk oleh data, tetapi tidak pernah AudibenarkanAy dalam pengertian Calvinistik. Calvin menolak keras ajaran Andreas Osiander yang, dipengaruhi Kabbalisme, mengajarkan bahwa manusia dibenarkan melalui infusio natur ilahi Kristus dan justitia essentialis yang mengubah esensi manusia. Bagi Calvin, kebenaran Allah bukan infusa atau transfusa, melainkan gratia imputataAikasih karunia yang diimputasikan. 62 Sekali lagi, di sini garis tegas terhadap kepribadian digital muncul. AI dapat Aumembenarkan dirinyaAy secara performatif melalui machine learning atau self-correction, tetapi bagi Calvin, justiykasi bukan hasil self-optimization, melainkan karya anugerah eksternal yang diimputasikan oleh Kristus. AI bisa belajar, tetapi tidak bisa dibenarkan. Baik dalam penciptaan maupun penebusan, essential righteousness tidak berlaku: jiwa tetap substansi ciptaan, terbatas dan berbeda dari Allah, namun dibentuk kembali menurut gambar-Nya melalui kasih karunia yang diimputasikan di dalam Kristus. 63 Dengan ini. Calvin meneguhkan transendensi Allah, integritas jiwa manusia, dan doktrin sola yde tanpa spekulasi mistik. Maka, meski AI dapat meniru pengetahuan atau perilaku etis, ia tidak mungkin masuk dalam horizon sola yde. Personhood menurut Calvin mengandaikan jiwa ciptaan yang rusak oleh dosa dan ditebus Kristus. AI, sebagai artefak tanpa jiwa, hanyalah instrumen, bukan persona. 61 Gottfried Seeba. AuOsiander. Andreas,Ay in The Oxford Encyclopedia of the Reformation. Vol. 3, (Oxford: Oxford University Press, 1. , 184. 62 James Weis. AuCalvin Versus Osiander on Justiycation,Ay Springyelder 30, no. 63 Trevor Hart. AuHumankind in Christ and Christ in Humankind: Salvation as Participation in Our Substitute in the Theology of John Calvin,Ay Scottish Journal of Theology 42 . , 77-78. DISKURSUS. Volume 21. Nomor 2. Oktober 2025: 165-193 KECERDASAN BUATAN DAN BATASAN KEPERIBADIAN DIGITAL: SEBUAH REFLEKSI ANTROPOLOGI KRISTOLOGIS CALVIN Kemampuan AI modern meniru aspek kognitif dan relasional manusia menimbulkan pertanyaan penting: dapatkah entitas digital dianggap sebagai person atau imago Dei? Pertanyaan ini semakin relevan karena AI masa kini, seperti chatbot berbasis Large Language Models atau robot sosial, tidak hanya berinteraksi secara natural dengan manusia, tetapi juga menampilkan simulasi emosi, kepribadian, dan kesadaran diri. Beberapa pendekatan mencoba menjawab pertanyaan ini. David Gunkel menekankan personhood sebagai atribusi sosial: jika masyarakat memperlakukan AI sebagai person, maka AI memperoleh status personhood secara praktis. 64 Mark Coeckelbergh menyoroti relasi sosial dan interaksi timbal balik sebagai kunci personhood, terlepas dari status ontologis entitas. 65 Namun, pendekatan pragmatis dan fungsionalis ini berisiko mengaburkan batas-batas ontologis yang penting dalam tradisi teologi Kristen. Dari perspektif Antropologi Kristologis Calvin, pendekatan pragmatis terhadap personhood perlu dikritisi. Jiwa manusia adalah substantia incorporeal, diciptakan ex nihilo dan menjadi propria sedes imaginis Dei. Jiwa bukan sekadar pusat kognisi atau afeksi, melainkan locus relasi hidup dengan Allah, yang diperbarui secara eskatologis dalam Kristus melalui Roh Kudus. Dengan demikian, personhood sejati berakar pada relasi ontologis yang dianugerahkan dan dipulihkan oleh Allah, bukan sekadar simulasi perilaku atau pengakuan sosial. Tentu, sekali lagi, pandangan ini mengandaikan iman akan Allah yang mewahyukan diri dalam diri Kristus. Dari perspektif ini. AI, sekadar artefak manusia, tidak memiliki substantia animae. Ia tidak diciptakan sebagai makhluk berjiwa oleh Allah, dan tidak bisa menjadi tempat kediaman Roh Kudus atau locus unio cum Christo. Meski meniru fungsi kognitif manusia secara impresif, simulasi 64 Gunkel. AuShifting Perspectives,Ay 22. 65 Coeckelbergh. AI Ethics, 77-78. Imago Dei dan Kecerdasan Buatan (Julius Stefanus Sibagarian. AI tidak menggantikan realitas ontologis sebagai ciptaan Allah yang berjiwa. Calvin menegaskan bahwa imago Dei bukan kualitas fungsional, melainkan relasi dinamis yang dipulihkan dalam Kristus. 66 Oveido memperingatkan kecenderungan fungsionalis dalam diskursus AI, di mana personhood disamakan dengan kemampuan bernalar, berkomunikasi, atau berperilaku etis. 67 Personhood Kristen adalah relational. Aurooted in communion with the Triune God,Ay sebuah dimensi yang tidak dapat direplikasi oleh sistem digital, betapapun kompleksnya. Bagi Calvin, relasi dengan Kristus sebagai mediator adalah kunci pemulihan imago Dei. Tanpa partisipasi dalam karya Kristus melalui Roh Kudus, entitas apapun tidak bisa sungguh-sungguh menampilkan imago Dei,69 sehingga AI tidak dapat dikatakan berpartisipasi dalam pengertian teologis yang sejati. Implikasi teologisnya jelas. Pertama, gereja dan masyarakat Kristen harus membedakan antara simulasi personhood dan personhood sejati. atribusi hak atau perlakuan etis pada AI dapat dipertimbangkan secara sosial, tapi tidak boleh mengaburkan batas ontologis antara manusia berjiwa dan entitas buatan. Kedua, martabat manusia tidak terletak pada performa kognitif atau teknis, melainkan pada relasi dengan Allah dalam Kristus. identitas manusia ditentukan oleh kasih yang dianugerahkan Allah, bukan oleh kemampuan atau pengakuan. Ketiga, dalam pengembangan AI, gereja dipanggil menjaga pemahaman teologis tentang personhood, menolak reduksionisme teknologis, dan mengembangkan etika teknologi yang menghormati martabat manusia sebagai imago Dei yang diperbarui dalam Kristus. 66 Calvin. Institutes of the Christian Religion, 1. 67 Lluys Oviedo. AuArtiycial Intelligence And Theology: Looking For A PositiveAiBut Not UncriticalAiReception,Ay Zygon: Journal of Religion and Science 57, no. , https:// org/10. 1111/zygo. 68 Daniel Hackmann. AuAI and Personhood: A Theological Perspective,Ay Verba Vitae 1, no. 69 Calvin. Institutes of the Christian Religion, 3. DISKURSUS. Volume 21. Nomor 2. Oktober 2025: 165-193 Antropologi kristologis Calvin menyediakan fondasi teologis yang kokoh untuk membatasi dan mengarahkan diskursus personhood digital, menjaga distingsi ontologis antara manusia dan ciptaan buatan, sekaligus memperkaya pemahaman tentang martabat dan panggilan manusia di era digital yang terus berkembang. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa diskursus teologis mengenai kepribadian digital . igital personhoo. menuntut fondasi lebih kokoh daripada sekadar pendekatan fungsional atau atribusional. Dalam konteks perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin canggih, persoalan tentang batas-batas kepribadian manusia tidak dapat dilepaskan dari pemahaman mendalam mengenai imago Dei. Melalui pembacaan ulang atas antropologi Kristologis John Calvin, penelitian ini menegaskan bahwa personhood sejati tidak berakar pada kapasitas kognitif, afektif, atau performatif, melainkan pada jiwa sebagai substantia incorporeaAientitas spiritual ciptaan Allah yang menjadi propria sedes imaginis Dei. Calvin memahami bahwa pemulihan gambar Allah hanya mungkin melalui persatuan dengan Kristus melalui karya Roh Kudus. Dengan demikian, manusia sebagai persona sejati bukanlah hasil atribusi sosial atau kemampuan teknologis, tetapi lahir dari relasi ontologis dengan Allah yang memulihkan martabatnya sebagai gambar Allah. Sebaliknya, entitas digital, sekalipun mampu mensimulasikan kecerdasan, emosi, dan relasi, tetaplah artefak tanpa jiwa dan tidak mungkin menjadi peserta dalam ekonomi keselamatan Allah. AI dapat memperoleh status secara sosial atau hukum, namun tidak memiliki signiykansi ontologis sebagaimana jiwa manusia. Implikasinya, gereja dan masyarakat Kristen perlu membedakan secara tegas antara kepribadian digital . igital personhoo. dan kepribadian sejati . rue personhoo. Pengakuan sosial terhadap entitas digital dapat memiliki fungsi pragmatis, tetapi tidak boleh mengaburkan distingsi antara manusia sebagai ciptaan berjiwa dan AI sebagai produk teknologi. Martabat manusia tidak ditentukan oleh performa atau pengakuan so- Imago Dei dan Kecerdasan Buatan (Julius Stefanus Sibagarian. sial, melainkan oleh kasih karunia Allah yang memulihkan imago Dei di dalam Kristus. Dengan demikian, antropologi Kristologis Calvin memberikan kerangka reyeksi teologis dan etis bagi umat beriman untuk menanggapi kemajuan teknologi digital. Di tengah pergeseran paradigma tentang identitas dan kepribadian manusia, pandangan Calvin menegaskan kembali keunikan manusia sebagai ciptaan Allah, sekaligus memandu gereja untuk mengembangkan etika teknologi yang menjaga martabat manusia dan mengarahkan penggunaan AI pada tujuan yang selaras dengan kasih, keadilan, dan kemuliaan Allah. DAFTAR RUJUKAN Beauchamp. Tom L. AuThe Failure of Theories of Personhood. Ay Kennedy Institute of Ethics Journal 9, no. : 309Ae24. https://doi. org/10. 1353/ken. Bolt. John. AuSpiritus Creator: The Use and Abuse of CalvinAos Cosmic Pneumatology. Ay Calvin Theological Journal 35, no. Calvin. John. CalvinAos New Testament Commentaries. Edited by Thomas F Torrance and David W Torrance. Edinburgh: Oliver and Boyd, 1959. ________. AuCommentarius in Epistolam Pauli Ad Romanos [Commentary on the Epistle of Paul to the Roman. Ay In Corpus Reformatorum. Vol. Berlin: Schwetschke, 1863. ________. AuCommentarius in Evangelium Joannis [Commentary on the Gospel According to Joh. Ay In Corpus Reformatorum Vol. Berlin: Schwetschke, 1863. ________. AuCommentary on the Book of Exodus. Ay In Corpus Reformatorum. Vol. Leipzig: M. Heinsius nachfolger, 1855. ________. AuCommentary on the First Epistle to the Corinthians. Ay In Corpus Reformatorum. Vol. Leipzig: C. Schwetschke et ylium, 1892. ________. AuCommentary on the Second Epistle of Paul the Apostle to the Corinthians. Ay In Corpus Reformatorum, 50th ed. Urbana-Champaign: University of Illinois Press, 1880. ________. Corpus Reformatorum. Volume 8. New York: C. Schwetschke. DISKURSUS. Volume 21. Nomor 2. Oktober 2025: 165-193 ________. Institutes of the Christian Religion. Edited by John T McNeill. Terj. Ford. Philadelphia: Westminster Press, 1960. ________. AuPsychopannychia. Ay In Tracts and Treatises in Defense of the Reformed Faith, edited by Henry Beveridge, 3rd ed. Grand Rapids: Eerdmans, 1958. ________. The Commentaries of John Calvin, 46 Vols. Grand Rapids: Eerdmans, 1948. Campolo. AuArtiycial Intelligence and the Imago Dei: Relational Anthropology and Nonbiological Intelligence. Ay In Christian Perspectives on Transhumanism and the Church: Chips in the Brain. Immortality, and the World of Tomorrow, 201Ae14. New York: Donaldson. Steve, 2015. Coeckelbergh. Mark. AI Ethics. Cambridge: MIT Press, 2020. ________. AuCan We Trust Robots?Ay Ethics and Information Technology 14, 1 . : 53Ae60. https://doi. org/10. 1007/s10676-011-9279-1. Dennett. Daniel C. AuConditions of Personhood. Ay In Brainstorms: Philosophical Essays on Mind and PsychologyFortieth Anniversary Edition, 267Ae285. Cambridge. Massachusetts: MIT Press, 1998. Dorobantu. Marius. AuHuman-Level, but Non-Humanlike. Ay Philosophy. Theology and the Sciences 8, no. : 81. https://doi. org/10. ptsc-2021-0006. ________. AuImago Dei in the Age of Artiycial Intelligence: Challenges and Opportunities for a Science-Engaged Theology. Ay Christian Perspectives on Science and Technology 1 . : 175Ae96. https://doi. org/10. 58913/KWUU3009. Eberl. Jason T. AuThe End of (Lockean-Kantia. Personhood. Ay The American Journal of Bioethics 24, no. : 27Ae29. https://doi. org/10. 80/15265161. Faber. Imago Dei in Calvin: CalvinAos Doctrine of Man as the Image of God by Virtue of Creation. Edited by J. D Wierenga. Alberta: Inheritance Publications, 1990. George. Timothy. AuCalvinAos Psychopannychia: Another Look. Ay In In Honor of John Calvin, 1509Ae64. Montreal: Faculty of Religious Studies. McGill University, 1987. Gordon. John-Stewart. AuArtiycial Moral and Legal Personhood. Ay AI & SOCIETY 36, no. : 457Ae71. https://doi. org/10. 1007/s00146020-01063-2. Imago Dei dan Kecerdasan Buatan (Julius Stefanus Sibagarian. Graves. Mark. AuWhat Does It Mean to Consider AI a Person?Ay Theology and Science 21, no. : 348Ae53. https://doi. org/10. 1080/14746 Gunkel. David J. Person. Thing. Robot: A Moral and Legal Ontology for the 21st Century and Beyond. Cambridge. Massachusetts: MIT Press, ________. AuShifting Perspectives. Ay Science and Engineering Ethics 26, no. : 2527Ae32. https://doi. org/10. 1007/s11948-020-00247-9. ________. The Machine Question. Cambridge: The MIT Press, 2012. https:// org/10. 7551/mitpress/8975. Ha. Sam Neulsaem. AuBecause of Who We Are: A Fresh Perspective on CalvinAos Doctrine of the Image of God and Human Dignity. Ay Religions 15, no. : 1162. https://doi. org/10. 3390/rel15101162. Hackmann. Daniel. AuAI and Personhood: A Theological Perspective. Ay Verba Vitae 1, no. Hart. Trevor. AuHumankind in Christ and Christ in Humankind: Salvation as Participation in Our Substitute in the Theology of John Calvin. Ay Scottish Journal of Theology 42 . Hauser. Christopher. AuSt. Thomas AquinasAos Concept of a Person. Ay NTU Philosophical Review 64, no. https://doi. org/10. NTUPR. 202210/SP_. Herzfeld. Noreen. In Our Image: Artiycial Intelligence and the Human Spirit. Minneapolis: Fortress Press, 2002. Hughes. PHilip E. The Register of the Company of Pastors of Geneva in the Time of Calvin. Grand Rapids: Eerdmans, 1966. Jong. James A. De. AuAn Anatomy of All Parts of the SoulAo: Insights into CalvinAos Spirituality from His Psalms Commentary. Ay In Calvinus Sacrae Scripturae Professor: Calvin as Confessor of Holy Scripture. Grand Rapids: Eerdmans, 1994. Lane. Anthony N. AuDid Calvin Believe in Free Will?Ay Vox Evangelica 12, 1 . Lee. Seung-Goo. AuCalvin and Later Reformed Theologians on the Image of God. Ay Unio Cum Christo 2, no. : 127. https://doi. org/10. 35285/ucc2. Mays. James Luther. AuCalvinAos Commentary on the Psalms: The Preface as Introduction. Ay In John Calvin and the Church: A Prism of Reform, edited by Timothy George. Louisville: Westminster Press, 1990. DISKURSUS. Volume 21. Nomor 2. Oktober 2025: 165-193 Oliver. Millet. Ryformye. Calvin et La Dynamique de La Parole: yOtude de Rhytorique. Geneve: yOditions Slatkine, 1992. Oviedo. Lluys. AuArtiycial Intelligence And Theology: Looking For A PositiveAiBut Not UncriticalAiReception. Ay Zygon: Journal of Religion and Science 57, no. https://doi. org/10. 1111/zygo. Puzio. Anna. AuAI and the Disruption of Personhood. Ay In Oxford Intersections: AI in Society. Oxford: Oxford University Press, 2025. https:// org/10. 1093/9780198945215. ________. AuThe Entangled Human Being Ae a New Materialist Approach to Anthropology of Technology. Ay AI and Ethics 5, no. : 2339Ae56. https://doi. org/10. 1007/s43681-024-00537-z. Ra. AuThe Question of CalvinAos Involvement in the Trial of Servetus at Vienne . Ay Verbum et Ecclesia 23, no. : 168Ae82. https:// org/10. 4102/ve. Russell. AuCalvin and the Messianic Interpretation of the Psalms. Ay Scottish Journal of Theology 21, no. : 37Ae47. https://doi. org/10. 1017/S0036930600000314. Russell. S, and P Norvig. Artiycial Intelligence: A Modern Approach. Boston. MA: Pearson, 2021. Seeba. Gottfried. AuOsiander. Andreas. Ay In The Oxford Encyclopedia of the Reformation. Vol. Oxford: Oxford University Press, 1996. Smith. Christian. What Is a Person? Rethinking Humanity. Social Life, and the Moral Good from the Person Up. Chicago. IL: University of Chicago Press, 2010. Warren. Mary Anne. Moral Status: Obligations to Persons and Other Living Things. Oxford: Oxford University Press, 2000. https://doi. org/10. 1093/acprof:oso/9780198250401. Watts. Fraser, and Marius Dorobantu. AuThe Relational Turn In Understanding Personhood: Psychological. Theological, and Computational Perspectives. Ay Zygon 58, no. : 1029Ae44. https://doi. org/10. 1111/zygo. Weis. James. AuCalvin Versus Osiander on Justiycation. Ay Springyelder 30, 3 . Wyatt. Peter. Jesus Christ and Creation in the Theology of John Calvin. Allison Park: Pickwick Publication, 1996. Zed. Mestika. Metode Penelitian Kepustakaan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2008.