Proceedings Series on Social Sciences & Humanities. Volume 20 Prosiding Pertemuan Ilmiah Bahasa & Sastra Indonesia (PIBSI XLVI) Universitas Muhammadiyah Purwokerto ISSN: 2808-103X Post-Realitas dalam Perspektif Lokalitas Naratif Serta Mulia dan Catatan Tentang Ayah Muhammad Hamdan Mukafi1*. Sofi Esa Bela1 Program Studi Sastra Indonesia. Fakultas Ilmu Budaya. Univrsitas Diponegoro ARTICLE INFO ABSTRACT Article history: Karya sastra nyatanya tidak bisa lepas dari usaha untuk mempersepsikan pengetahun realitas ke dalam susunan narasinya. Hanya saja, usaha menarasikan ini kemudian menciptakan ruang ilusi yang muncul karena disebabkan oleh konstruksi imajinatif dari karya sastra itu sendiri. Adanya percepatan teknologi informasi yang membersamai proses dan publikasi kreatif kemudian menjadi awal kemunculan kompleksitas tentang bagaimana sastra mendefinisikan ulang suatu realitas untuk melahirkan konstruksi realitas baru. Kelahiran baru ini bersinggungan dengan ilusi yang kemudian melahirkan sebuah perspektif yang mempertanyakan kebenaran realitas kolektif, situasi post dalam narasi. Penelitian ini secara teoritis dan metodologis bermula pada pandangan Piliang tentang potret dunia yang dilahirkan oleh pengalaman manusia. Nietzcshe juga memandangnya sebagai kelahiran perspektif ilusi melalui narasi-narasinya. Temuan-temuan itu bermula dari usaha memandang post-realitas dalam lagu berjudul Serta Mulia karya Sal Priadi dan sebuah narasi puitik di kanal TikTok Ank dengan judul Catatan Tentang Ayah. Dengan melakukan observasi kontekstual, karya-karya tersebut mengindikasikan adanya konstruksi realita dari pengetahuan religius dan lokalitas yang dipercaya masyarakat secara kolektif. Karya-karya tersebut juga mengindikasikan adanya penciptaan realitas dari pengalaman imajinatif dan rangkaian ilusi. Kedua kelahiran baru ini sama-sama bertemu di sebuah persimpangan penciptaan kreasi sastra yang merefleksikan perspektif lokalitas melalui sarana penciptaan dan publikasi digital. DOI: 30595/pssh. Submitted: June 20, 2024 Accepted: November 10, 2024 Published: November 30, 2024 Keywords: Post-Realitas. Ilusi Perspektif. Potret Dunia. Narasi Puitik This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Corresponding Author: Muhammad Hamdan Mukafi Universitas Diponegoro Jl. Antonius Suroyo. Tembalang. Semarang 50275. Indonesia Email: muhammadhamdanmukafi@gmail. PENDAHULUAN Dewasa ini manusia telah berada dalam situasi antara yang mana membuat kenyataan dan khayalan berada dalam ruang berkabut. Situasi semacam ini membuat manusia tidak lagi benar-benar paham di dunia mana ia mampu memijakkan kakinya dan mengatakan bahwa keberadaannya adalah sebuah realita. Karya sastra masa kini mewadahi proses antara tersebut. Ketika karya sastra telah hadir dalam perspektif yang sangat dekat dengan pengalaman pembaca, lebih luas penikmatnya secara audio-visualAimaka pada momen itulah karya sastra akan membuat ilusi seolah-olah berubah wujud sebagai realita. Piliang . mengungkapkan hal ini sebagai potret . ang dipahami manusi. tentang dunia, yang umum disebut sebagai pandangan dunia. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X Perwujudan ilusi ini pertama-tama dapat dimunculkan melalui formulasi naratif yang dihadirkan melalui diksi-diksinya. Pilihan kata yang berkaitan dengan kemungkinan pengalaman kolektif penikmat sastra akan dengan mudah menghadirkan sebuah pengalaman imajinatif dalam perspektif berpikirnya. Hal ini berkaitan dengan penciptaan yang diproses oleh teknologi informasi modern yang mempengaruhi pengalaman realitas baru bagi masyarakat, sebuah hiper-reality Aumelampauai realitaAy (Piliang, 2004:. Sebagaimana diketahui, karya sastra dewasa ini memanfaatkan kodifikasi digital, terutama yang terpublikasikan melalui YouTube atau TikTok. Kedua aplikasi digital ini mampu mempertemukan penikmat dengan selera tertentu sesuai dengan kebutuhan pengalaman realitas yang dimiliki atau diinginkannya. Pengalaman itu adalah ilusi yang diciptakan sehingga mewujud sebagai realita . alam alam mimpi, dan alam berpiki. (Mukafi, 2017:. Pengalaman seperti ini dapat terjadi karena proses pencarian yang terekam oleh algoritma bepikir digital. Algoritma, merupakan sebuah sistem terkode . digital yang memproses analisis prediktif dan secara mekanik melihat aktivitas pengguna suatu website atau aplikasi berbasis internet (Eryc dkk. , 2024:. Pencarian terkode itu memungkinkan aplikasi seperti YouTube. Netflix, dan TikTok untuk memberi saran tentang pengalaman naratif apa yang akhirnya bisa senada dengan pencarian yang dilakukan pemilik akun. Tidak mengherankan apabila kemudian sekumpulan orang mendapati perspektif ilusi secara kolektif, sesuai dengan selera pencarian digital yang dilakukannya. Untuk memahami hal-hal tersebut, penelitian ini menggunakan dua objek karya yang memiliki jiwa Kedua karya yang dimaksud adalah lagu berjudul Serta Mulia karya Sal Priadi . ipublikasikan melalui YouTube pada 2021 dengan jumlah penonton mencapai 3,9jut. 1 dan narasi puitik karya @ank pada kanal TikTok dengan judul Catatan Tentang Ayah . ipublikasikan pada 2024 dengan jumlah penggemar mencapai 250 oran. Kedua karya tersebut mengindikasikan lahirnya sebuah ilustrasi dunia baru melalui narasi kreatif. Ilustrasi itu muncul oleh sebab kepercayaan terhadap situasi simulatif. Piliang . mengatakan bahwa simulasi ini mampu menggiring masyarakat kontemporer ke dalam model-model dunia yang lahir melalui fantasi, dongeng, fiksi, imajinasi, dan halusinasi. Senada dengan hal itu. Friedrich Nietzsche juga seringkali menjadikan keyakinan manusia terhadap sesuatu sebagai kemunculan yang dilahirkan oleh ilusi. Ilusi itu menjadi eksistensi dunia, yang sejatinya ilusi adalah mimpi, ilusi dari ilusi (Nietzsche dalam terjemahan Pasaribu, 1993:42, via Mukafi, 2017:. Ungkapan itu berkaitan dengan karya sastra yang memungkinkan lahirnya perspektif dalam bayangan para pembacanya. Perspektif yang mempertemukan ilusi dengan realitas ini kemudian mengindikasikan lahirnya situasi post. Situasi seperti ini kemudian memungkinkan karya sastra mampu membuat penikmatnya perlu memilih pengalaman mana yang bisa dianggapnya realita dan mana yang akhirnya hanya berakhir sebagai ilusi. Pertentangan semacam ini diindikasikan terlahir karena disebabkan oleh kekayaan formula yang mendekatkan isi karya sastra dengan pengalaman penikmatnya. Ketika hal itu terjadi, isi yang dipahami dalam karya sastra bisa muncul sebagai realita dalam keyakinan penikmatnya. Hingga, apapun yang terindra secara fisikal menjadi dunia biasa, dunia yang tidak diyakini, menjadi ilusi terlepas bagi pandangan kolektif sekumpulan orang lain sebagai realita yang sebenarnya. Piliang . mengatakan bahwa proses ini lahir oleh sebab fantasmagoriaAiyang mana dimunculkan oleh media yang mendekatkan, menjauhkan, menaikkan, menurunkan berbagai ilustrasi visual di depan layar sehingga menciptakan emosi-emosi bagi penontonnya. Emosi ini berkaitan dengan bagaimana seseorang kemudian memprosesnya sebagai kenyataan, yang sejatinya adalah gubahan ilusi. Ferran . mengungkapkan bahwa trasformasi . mengarah pada sifat alami seseorang sehingga mengubah proses value system yang mentransformasikan pula hati . Ungkapan itu mengarah pada fungsi estetika sastra yang memungkinkan adanya trasformasi emosional oleh sebab sentuhan mendalam dalam proses pembecaan. Senada dengan hal itu. Kartika . menghubungkan proses ini terhadap keberterimaan visual yang selaras dengan kepribadian penontonnya. Tidak mengherankan apabila seseorang dengan kecenderungan selera visual . tamanya sastra dalam ruang media digita. tertentu akan mencari dan bertemu dengan karya yang juga senada dengan kepribadiannya. Suryaman . menyebut ini sebagai dampak pengalaman membaca . isa juga menonton atau mendengarka. yang menguatkan asumsi . ari sesuatu yang diharapka. Asumsi di sini tidak jauh berbeda dengan representasi yang hadir dari kemunculan realitas di dalam karya Davidson . menjelaskan bahwa karya sastra mengaitkan realitas pada perceive world dan general assumpsion of its mechanism. Selanjutnya, penikmat sastra dapat merasakan dunia dari sebuah mekanisme penerimaan dan persepsi dari konsep yang sebenarnya berkaitan dengan dirinya. Hal ini, menurut Maharani dan Legowo . merupakan keberhasilan media sosial dalam mendramatisasi konten sehingga masyarakat terbius ke dalam dunia simulasi. Dunia simulasi ini berada dalam library algprithm (Nurchaidir dkk. , 2023:. Ruang semacam ini memungkinkan perekaman pencarian para pemilik akun media sosial, sebuah perluasan Informasi ini diperoleh melalui pencarian digital di YouTube pada 24 Agustus 2024. Pukul 05. 43 WIB. Informasi ini diperoleh melalui pencarian digital di TikTok pada 24 Agustus 2024. Pukul 05. 50 WIB Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X persepsi realita dalam dunia ilusi. Eryc . menjelaskan peristiwa ini sebagai collaborative filtering yang memproses situasi hibridasi antara isi konten dengan harapan melalui suatu pencarian. Tidak mengherankan apabila penonton memproses hal ini dalam sebuah respon melalui like, comment, atau subscriibe . engan istilah yang beraga. (Seimahura, 2022:. Peristiwa ini menciptakan semesta pemerolehan harapan tentang potret dunia menjadi lebih luas secara digital dan lebih dekat dalam perspektif personal. Perspektif ini, menurut Kusnanto dkk. merupakan proses yang diperoleh dari tekstur semu dan nyata, sebuah penggunaan warna yang fleksibel untuk sebuah hasil visual. Produk visual ini kemudian mendekatkan pada perspektif yang dianggap kebenaran realis oleh penontonnya. Hanschu . menyebut hal ini sebagai salah satu platonic senseAisebuah perbenturan antara truths about our world dengan truths about Keyakinan terhadap perspektif ini menjadi lebih optimal terjadi ketika ada cerminan lokalitas di Adi . mengatakan bahwa cerminan lokalitas ini perlu berkaitan dengan petuah dan ajaran turun-temurunAiyang saat ini lumrah terselip dalam suatu konten di media sosial. Keberadaan lokalitas di media sosial ini juga merupakan proses rekayasa simulatif. Daminik . juga menganggap bahwa perekayasaan kebudayaan dalam sebuah konten media sosial diperlukan untuk mengatur instrumen dinamika agar lebih berterima bagi penikmatnya. Berbagai hal di atas menjadi sebuah dasar dari pertanyaan tentang bagaimana formula lokalitas dimunculkan dalam perspektif karya sastra di era digital. Jawaban atas pertanyaan tersebut beririsan dengan ditemukannya penjelasan tentang bagaimana sajian lokasitas yang ada mampu mempengaruhi dan mencipta pandangan realitas baru pada seseorang yang terbuai oleh ilusi naratif karya sastra di era digital. Jawaban-jawaban atas persoalan tersebut mengarah pada tujuan penelitian ini sebagai media penyampai inovasi, sesuai dengan poin SDGs nomor 9, yang mengintegrasikan diri ke dalam nilai-nilai personalitas dan lokalitas masyarakat melalui budaya literasi dalam ruang digital. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif-kualitatif. Dalam hal ini, data-data yang dianalisis merupakan keselarasan narasi tekstual, visual, dan audio yang ditampilkan oleh karya-karya berjudul Serta Mulia dan Catatan Tentang Ayah. Ketiganya sama-sama memiliki aspek tekstual dan audio-visual. Dengan penggunaan proses publikasi digital, ketiganya dekat dengan perkembangan informasi dan animo masyarakat dewasa ini. Penggunaan teknologi digital dan formula struktural yang serupa menunjukkan bahwa objek-objek penelitian ini dikatakan dapat memproses formula ilusi simulatif yang serupa. Deskripsi yang dimaksud di sini terutama untuk memperlihatkan formula lokalitas menjadi perspektif ilusi dalam karya sastra. Selanjutnya, formula tersebut dianalisis secara kualitatif untuk melihat seberapa jauh realitas baru sedang coba didekatkan kepada seseorang yang menikmati suatu karya sastra. Adanya aspek teknologi digital membuat kedua hal tersebut terindikasi integral ke dalam suatu karya sastra. HASIL DAN PEMBAHASAN Formula Lokalitas dalam Perspektif Serta Mulia dan Realitas yang Dibangunnya Kedua objek dalam penelitian ini bisa dikatakan sebagai salah satu bentuk hibridasi. Mukafi . mengungkapkan konsep hibridasi ini sebagai salah satu cara dalam merefleksi mixing gen suatu organisme dalam konsep kreasi genre karya sastra baru. Dalam hal ini, teks tetap menjadi inti yang mengikat unsur audio-visual dalam objek yang dikaji. Untuk itu, dalam analisis ini, teks menjadi bagian utamaAiyang kemudian membuat unsur audio-visual tertekstualisasi. Proses tekstualisasi dari unsur audio-visual sebuah karya ini bisa dikatakan pula sebagai proses mengkomunikasikan segala sesuatu ke dalam dunia verbal. Oleh sebab itu, penelitian ini pun memulai pembahasan pada unsur teks dalam karya yang berintegrasi dengan unsur-unsur audio-visual. Milyar milyar juta juta ratus ratus sekian Kemungkinan orang di dunia kamu dapatnya aku Tampang tak seberapa, keren juga realtif Tapi masalah funny, bolehlah skill di adu Sejak semula lagu Serta Mulia sudah menghadirkan formula yang dekat dengan nuansa lokalitas pandangan kultural masyarakat Indonesia. Lirik Aumilyar-milyarAAy menunjukkan hiperbola atas jumlah penduduk Indonesia, sebagai negara keempat dengan populasi terbanyak di dunia. Kuantitas tersebut ditabrakkan dengan aku lirik yang melabeli dirinya sebagai tampang tak seberapa dan funny. Dewasa ini di Indonesia, dengan berbagai anonimitas publikasi digital, seringkali ditemukan semboyan lelaki tampan kalah dengan lelaki humoris. Hal ini Dikutip dari Sal Priadi - Lirik lagu "Serta Mulia" | Lyrics at AZLyrics. com pada 30 Agustus 2024. Pukul 04. WIB Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X dapat dikatakan sebagai simbol kultural yang sedang ditangkap oleh Serta Mulia. Simbol kultural yang dimaksud berada pada tataran luas tentang bagaimana lagu ini mencoba mendekatkan diri dengan kebiasaan mendasar yang berterima secara konseptual di masyarakat Indonesia kontemporer, yakni tentang wajah tampan yang tidak perlu menjadi tujuanAijustru lelaki yang humorislah yang mampu menjaga kasih sayang. Potret yang coba direkam oleh ilustrasi tersebut adalah sebuah referensi yang umum dan sudah banyak diketahuiAibahkan telah diyakini secara ilusif oleh masyarakat Indonesia. Contoh terdekat dari ilustrasi tersebut adalah pasangan Arie Kriting dengan Indah Permatasari dan Marshel Widianto dengan Yansen Indiani. Kedua lelaki dalam contoh tersebut merupakan komika yang dianggap masyarakat Indonesia memiliki istri menawan, oleh sebab sifat humoris yang mereka miliki. Masyarakat Indonesia juga mengenal istilah sakinah, mawaddah, wa rohmah yang seringkali diakronimkan sebagai samawa. Istilah tersebut tidak kemudian hanya menjadi potret kultural masyarakat muslim di Indonesia, tetapi menjadi konsep terbuka yang bahkan bisa dipakai penganut agama apa saja. Dalam konsep tersebut istilah sakinah . ang berarti AoKedamaian, ketenteraman, ketenangan, atau kebahagiaanAo dalam jangka waktu yang abad. menjadi cerminan yang paling dekat dengan lagu Serta Mulia. Lirik lagu tersebut mengutarakan serta mulia, panjang umurnya, damai sentosa, dan kita bersama. Dalam frasa serta mulia ada dua maksud yang sedang ingin disampaikan, yakni kemulian berpasangan yang tidak harus mempersoalkan rupa dan kebersamaanlah yang menjadikan pasangan menjadi mulia. Kedua makna tersebut beriringan dengan panjang umur yang selalu diharapkan oleh banyak pasangan yang menjaga kesetian . ita bersam. dan selalu dalam keadaan damai sentosa. Rangkaian makna tersebut menjadi value system yang secara simulatif diproses dalam video klip lagu Serta Mulia. Simulasi ini secara lokal adalah persepsi sakinah yang coba ditanamkan oleh lagu Serta Mulia kepada penonton atau pendengarnya. Bangunan reflektif yang coba ditanamkan oleh lagu itu mengarah pada lirik terakhir, yakni AuSekarang dan milyar milyar juta juta ratus tahun lagi/ bahagia bersamaku. Ay Umumnya, manusia tidak akan memiliki usia hingga berjuta atau bermilyar tahun. Lagu ini menciptakan nuansa hiperbola yang mengarahkan kepada konteks ilusi kultural masyarakat Indonesia tentang kehidupan setelah kematian. Terlepas dari kebenaran religius atau spiritual tentang konsep tersebut, setidaknya dalam realitas yang ada kematian adalah metode untuk memisahkan seseorang dengan pasangan secara ragawi. Namun demikian, masyarakat Indonesia yang dikenal sebagai khalayak relgius dan spiritual mempercayai ketulusan pasangan sebagai cara untuk mengabadikan hubungan hingga waktu yang tak terhingga sebagai wujud dari sakinah. Ilusi berkaitan dengan pandangan nilai-nilai lokal masyarakat inilah yang secara tidak sadar mempengaruhi perasaan penonton atau pendengar lagu tersebut sehingga membuatnya mudah diterima oleh masyarakat Indonesia. Formulasi makna dari teks dalam ruang publikasi digital tidak dapat dilepaskan dari unsur visual yang dibawa oleh lagu Serta Mulia. Lagu ini mencoba menciptakan parodi dalam video klipnya sehingga membuat makna mendalam dalam lagu ini terhubung sebagai fantasmagoria kepada para pendengarnya. Fantasmagoria sendiri adalah sebuah pengaruh yang ditanamkan secara visual dan tidak membuat seseorang merasa dalam sebuah diktasi kompleks. Ia adalah sebuah perspektif yang mengalir ke dalam nuansa hati penikmatnya. Gambar 1. Serta Mulia Marks . mengungkapkan bahwa adanya koneksi yang dapat dihubungkan terhadap realitas sehingga merekonstruksi realitas tersebut sebab hal ini berkaitan dengan nilai kultural. Gambar di atas beririsan dengan lirik juta-juta dan kemungkinan orang di dunia. Tampak pada gambar tersebut adalah potret dari Chef Juna yang secara lokal dikenal sebagai ahli memasak yang tampan dan berkarakter dari Indonesia. Nilai lokalitasnya juga diperlengkap oleh kemampuannya dalam memahami rasa-rasa masakan lokal, terutama dari daerah Bali. Chef Juna sendiri dianggap sebagai salah satu laki-laki yang diidamkan banyak perempuan dan narasi ini banyak tergambar dalam berbagai kesempatan di media sosial. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X Adanya potret Chef Juna tersebut membuat penonton video klip Serta Mulia terarahkan pada citra seorang lelaki yang kemungkinan bisa ditemui perempuan. Namun demikian, justru konsep funny mempertentangkan hal itu secara parodik. Barangkali Chef Juna memang dikatakan sebagai ahli memasak di Indonesia, hanya saja berkaitan dengan funny lagu Serta Mulia justru sedang mambandingkan humor terkait makanan dengan gambar berikut. Gambar 2. Serta Mulia Tumpeng nasi kuning adalah makanan lokal dari Indonesia. Chef Juna sebagai ahli memasak menjadi jembatan koneksi untuk menciptakan funny dengan tumpeng yang dikorelasikan dengan tampang. Hal ini juga merujuk pada tumpeng yang dianggap sebagai makanan tradisi dengan bangunan estetika yang sudah stereotipe, bukan spesial seperti Chef Juna. Namun demikian, tumpeng selalu hadir dalam upacara-upacara yang spesial, yang mengandung keabadian. Inilah yang kemudian menjadi ilusi untuk mengarahkan pada rekonstruksi realita para pendengarnyaAiagar nantinya menjadi seperti tumpeng yang tidak harus selalu mengandalkan tampang. Gambar 3. Serta Mulia Pada lagu Serta Mulia keabadian hubungan berpasangan secara funny dicitrakan lebih dalam melalui gambar tersebut. Bersamaan dengan Aupanjang umurnya/ damai sentosaAy gambar tersebut mencoba meromantisasi kesederhanaan dari makanan lokal di Indonesia, yakni Siomay. Makanan yang sejatinya terinspirasi dari kebudayaan Tionghoa itu diselaraskan dengan bumbu kacang yang lekat dengan lidah masyarakat Indonesia. Terlihat pada gambar tersebut pula, makanan yang sederhana dan seringkali ditemukan di pinggiran jalan adalah salah satu penolong rasa lapar yang ada di mana saja. Oleh sebab itu, mereka yang menemukan makanan tersebut seolah berada dalam keadaan panjang umur. Terlebih, anak penjaga lapak Siomay dalam gambar tersebut tersenyum bahagia, menyampaikan bahwa dalam kesederhanaan kehadiran di mana saja tersampai maksud damai sentosa. Ilustrasi tekstual dan visual itu tidak bisa melupakan kehadiran unsur musikal yang dihadirkan oleh Serta Mulia sebagai penyusun kompleksitasnya. Dalam era kompleksitas sebagaimana dijelaskan Billiones . 9, via Taskan dkk. , 2022: . bahwa zaman ini memungkinkan adanya multiple interconnection. Musik dalam hal ini adalah bagian dari interkoneksi yang kemudian menyetujui ungkapan Davidson . sebagai media untuk mendekatkan pada realitas representatif, sebuah plausibilitas, dari realita yang sesungguhnya. Lagu Serta Mulia menggunakan instrumen berupa gitar, cello, drum perkusi, marakas, dan keyboard untuk menciptakan nuansa musikalnya4. Alat-alat tersebut memainkan nuansa yang ringan dan mampu Sebagaimana dipublikasikan oleh kanal YouTube Gen 98,7 FM pada 21 Juni 2021 Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X membangun suatu perasaan yang dekat dengan penikmatnya. Maharani dan Legowo . menyebut hal ini sebagai kenikmatan yang menjerat masyarakat ke dalam dunia fantasi. Dunia musikal yang dimaksud dalam hal ini berkaitan dengan konsep kontemporer yang dekat dengan budaya masa kini. Penggabungan alat musik tradisional, akustik klasik Eropa, dan keyboard elektrik adalah formula yang mendekatkan pada realitas fisik masa Hal inilah yang kemudian memudahkan terjadinya koneksi fantasi, mencipta ilusi, dan membangun realitas sebagaimana lagu Serta Mulia menginginkan terciptanya damai sentosa. Tupan . menjalskan hal ini sebagai sebuah konsep baru yang mengarah pada suatu relativitas, ketidakteguhan, dan kondisi suprastruktural. Ungkapan Tupan tersebut menegaskan bangunan ilusi yang kemudian menjadi sebuah realitas bagi para penikmat video klip lagu Serta Mulia. Ilusi ini membuat mereka yang memiliki tampang tak seberapa bisa tetap memiliki modal untuk memiliki sentosa . alam keabadian cint. asalkan selalu dalam kondisi funny. Formula ilusi itu dilengkapi dengan kemampuan untuk selalu hadir sebagai sesuatu yang spesial seperti tumpeng untuk mengatasi . enjadi suprastruktu. Ketika posisi semacam itu sudah terjadi, realitas yang umum dijalani pun bertentang dengan konsep Dalam hal ini. Taskan . mengungkapkan bahwa ada proses signifikansi untuk menyusun sebab-sebab pemaknaan dalam uncertainty. Situasi ini secara literal menempatkan laki-laki dengan tampang biasa saja dalam keadaan uncertain ketika mendapati kisah kasih dari pasangan yang dianggap secara common sebagai perempuan-perempuan luar biasa. Hanya saja, posisi uncertain ini justru dimanfaatkan Serta Mulia untuk meromantisasi keadaan tersebut dan memberi modal ilusif bagi lelaki untuk tetap percaya diri meskipun tampang tak seberapaAiasalkan funny dan merepresentasikan makna mendalam dari tumpeng. Kondisi ini bisa dikatakan sebagai realitas baru . yang bertemu dengan pandangan khalayak luas tentang realitas berpasangan yang tak selalu serupa dengan yang digambarkankan oleh Serta Mulia. Formula Lokalitas dalam Perspektif Catatan Tentang Ayah dan Realitas yang Dibangunnya Karya @ank di kanal TikTok ini memulai kodifikasi lokalitasnya dengan narasi tentang pergi dan pulang. Masyarakat Indonesia termasuk sebagai masyarakat yang plural di berbegai daerah. Tidak mengherankan bagi masyarakat dari Kota Surabaya misalnya, tiba-tiba berpindah tempat tinggal di Semarang. Jakarta, bahkan ke Papua. Potret semacam ini dapat dilihat dari dua macam perspektif, pertama karena disebabkan oleh peraturan pemerataan yang dilakukan Pemerintah Orde Baru melalui program transmigrasi dan kedekatan konseptual masyarakat Indonesia terhadap budaya hijrah Aoberpindah dan menetapAo. Hal ini, sebagai gambaran kecil atas hubungan dengan mayoritas muslim di Indonesia, sekaligus sebagai cerminan ketangguhan masyarakat Indonesia sebagai para petualang di masa lampau. Pengantar tersebut mengarah pada narasi AuSekarang aku lebih banyak berpikir, mengapa orang-orang di stasiun ini hendak pergi? Atau, kenapa mereka pulang?Ay dalam Catatan Tentang Ayah. Dibangunnya stasiun . an kereta ap. di Indonesia pada masa kolonialisme juga menandai awal mula proses penyebaran masyarakat ke berbagai daerah. Pertanyaan retoris tersebut sejatinya mengarah pada value system yang dapat mencipta perceive world bagi penikmatnya. Subjek-subjek yang memutuskan menonton konten tersebut akhirnya dapat tergiring untuk ikut bertanya dan mempertanyakan tentang keberadaan seseorang di stasiun. Jawaban yang muncul mengikuti pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dikatakan sebagai ilusi. Nyatanya, setiap orang yang mempertanyakan selalu merekayasa jawaban sebagaimana ia menggambarkan truths about ourselves. Para penanya seolah-olah memiliki kemungkinan jawaban, yang seringkali dianggap sebagai kebenaran di luar realitas. Dalam hal ini, @ank mencoba membuat perspektif yang dinamis dengan menyampaikan AuHidupku berubah 48 bulan yang lalu. Rumahku yang hancur perlahan direnovasiAy. Narasi tersebut seolah tidak berhubungan dengan pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan. Namun demikian, ketika seseorang berkata tentang stasiun sejatinya ia memiliki banyangan lokalitas bernama rumah. Ruang kultural bernama rumah selalu menjadi awal dari kata pergi dan tujuan untuk sampai pada pulangAisementara stasiun selalu menjadi media untuk memproses keduanya. Konsep ini menjadi sebuah gambaran lokalitas terutama ketika mengarah pada peribahasa Jawa mangan ora mangan sing penting ngumpul Aomakan tidak makan yang penting berkumpulAo. Peribahasa tersebut menyasar kepada konsep bahwa pergi ke manapun seseorang ia perlu untuk berkumpul kembali dengan keluarganya. Bahkan, peribahasa tersebut bisa menjadi sebuah cerminan lokalitas kolektif masyarakat Indonesia ketika melihat budaya mudik pada beberapa momen libur dan cuti bersama. Stasiun menjadi salah satu tempat untuk memproses pulang paling ramai setelah seseorang mengalami kegiatan pergi yang jauh dari rumahAiagar proses mudik sebagai cerminan lokalitas ini terjadi. Namun, @ank tidak hanya menjelaskan rumah sebagai ruang fisikal saja di sini. Ketika ia menuliskan 48 bulan yang lalu ada indikasi bahwa rumah ini juga bersifat mental. Kata lalu dalam frasa tersebut mengarah pada pengalaman lampau yang apabila disasar pada 48 bulan terdapat sebuah kehilangan di dalamnya. Rumah sebagai ruang fisikal yang rusak selama 48 bulan seharusnya bukan lagi dilakukan renovasi, tetapi rekonstruksi, sebab ia tidak lagi ditinggali dalam waktu lama dan pastinya membutuhkan banyak perhatian khusus. Namun Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X demikian, rumah yang bersifat mental, berupa potret dari kehilangan, masih memungkinkan dilakukan adanya renovasiAisebuah usaha untuk menerima suatu kehilangan. Usaha tersebut terutama didukung oleh frasa aku yakin, rumah bagus lagi, dan aku mau pulang. Seseorang yang mengalami suatu kehilangan tentu mendapati kekosongan yang biasanya diproses dengan situasi Namun demikian, kesadaran untuk pulang memupuk keyakinan bahwa rumah sebagai bangunan mental akan memiliki value system sebagaimana mestinya, yakni bagus lagi. Hal ini dapat dimunculkan ketika narasi dalam konten itu memupuk kata yakin. Pengalaman kehilangan menjadi sebuah realita yang banyak dialami masyarakat Indonesia pada masa Covid-19. Ketika ditarik kembali pada konsep 48 bulan lalu, maka pada masa itulah rumah sebagai ruang mental telah kehilangan seseorang. Karya @ank ini pun menjadi sebuah keberterimaan pada khalayak luas, terutama untuk mewadahi proses kehilangan . agar seseorang yang menontonnya menggapai ilusi dari pulang setelah segala keyakinan renovatif dapat diwujudkan. Teng . mengungkapkan bahwa peristiwa besar di dunia ini mampu memberikan andil pada cara pandang kehidupan manusia. Perubahan yang dimaksudnya di sini tidak hanya terbatas pada fisik, tetapi juga Bangunan refleksi kondisi pergi dan pulang yang coba disampaikan oleh @ank dalam TikTok dipertajam oleh ilustrasi visual yang diformulasikan bersama dengan sifat-sifat naratif. Dalam hal ini, @ank memainkan warna, pilihan latar, dan sudut-sudut ruang yang bersifat lokal untuk membuat karyanya dekat dengan kultur masyarakat Indonesia. Gambar 4. Rangkaian ilustrasi Catatan Tentang Ayah Visualisasi yang pertama kali tertangkap sebagai lokalitas di sini adalah baju adat Jawa berupa kebaya dan kain jarik yang dipakai oleh tokoh ilustratif. Kedekatan lokalitas ini dengan konsep pergi dan pulang yang tergambar pada sepatu tokoh dalam gambar. Sepatu adalah alas kaki untuk melakukan kegiatan berjalan, mengalami situasi pergi, hingga ia lelah dan pulang. Tokoh ilustratif tersebut juga terlihat memakai sepatu bergaya converse dengan warna putih. Pemaduan unsur tradisi dengan modernisasi bisa menjadi gambaran awal proses hibridasi kultural yang coba dilakukan oleh @ank. Selain itu, terlihat bahwa tokoh menunduk sambil memegang gawai yang mana menunjukkan adanya kedekatan dengan percepatan teknologi di masa ini. Pada ilustrasi di sampingnya tampak bahwa @ank memadukan unsur berjalan sang tokoh dengan visualisasi gerbong-gerbong Melalui penggambaran ini terdapat konteks tokoh yang sedang pergi menuju stasiun untuk naik kereta. Konteks tersebut beririsan dengan usaha untuk pulang setalah melakukan pergi. Kusnanto dkk. berpendapat bahwa hal ini salah satu dari Op Art, bagaimana ilusi optik merekayasa ruang atau menciptakan ruang ilusi. Jalanan, tembok, dan lampu yang tak asing dengan ruang kultural di Indonesia, sekaligus adanya hibridasi kontemporer dalam pemilihan baju tokoh membuat karya ini begitu dekat dengan konstruksi lokalitas masa ini. Dengan hal ini, @ank mencoba mengungkap bagaimana sang tokoh mengalami kehilangan dari 48 bulan lalu dan mencoba mengatasinya dengan memproses cerminan itu dengan Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X Gambar 5. Rangkaian ilustrasi Catatan Tentang Ayah Setelah mengalami proses pergi terdapat dua ilustrasi yang saling beririsan untuk kemudian menggambarkan ilusi tentang pulang. Pantulan visual dari cahaya matahari dan penggambaran stasiun di luar jendela kereta beriringan dengan klausa aku ingin pulang. Hal ini menunjukkan bahwa setelah kehilangan yang dialami 48 bulan lalu dan rumah secara mental mengalami proses renovasi, sang tokoh pun memutuskan untuk Sebagaimana diketahui, renovasi tentu tidak dapat mengembalikan keutuhan dari sebuah rumah seperti Proses ini hanyalah sebuah usaha untuk membuat rumah sebagai cerminan mental tetap berdiri sebagaimana mestinya. Nurish . menjelaskan hal ini sebagai ilusi yang dibentuk oleh keyakinan. Pada masa ini kesadaran akan proses merelakan dan kembali pada kehidupan nyata adalah sebuah konstruksi realis. Namun demikian, konten-konten media sosial, seperti yang diproses oleh @ank memberikan ruang untuk mengingat kembali sesuatu yang telah lama hilang. Hal ini adalah ilusi yang kemudian hadir sebagai sebuah keyakinan. Ilusi ini berpusat pada narasi imajinatif yang oleh Kartika . disebut pula sebagai persepsi visual. Ketika segala sesuatu diilustrasikan dan menggambarkan kedekatan pengalaman realitas, maka potret realitas telah menjadi baru sebagaimana ilustrasi visual menanampakkan secara relatif pada khalayak luas. Dalam karya tersebut @ank tidak banyak memainkan pola audio selain metode pembacaan puitik yang Dengan pembacaan yang redam dan tenang ia mencoba menggambarkan bagaimana sebuah proses pergi yang telah lampau telah menjadi sunyi di masa ini. Sementara itu, ketika ada suara pengumuman di stasiun yang menandakan kedatangan kereta. Catatan Tentang Ayah yang dikreasikan @ank sejatinya memproses kembali cerminan dari peristiwa pergi. Ketika cerminan itu dilakukan, suara @ank yang ikut di dalam video menggambarkan sebuah perjalanan tanpa henti, hingga akhirnya kembali pada kata pulang. Ketika tokoh terus berada di dalam kereta, ia menjadi dekat dengan cerminan bagaimana pergi harus diproses kembali menjadi pulang. Penegasan ini bersama-sama dibangun oleh unsur tekstual dan visual yang bersamaan dengan pembacaan puitik yang dilakukan oleh @ank. Rachmadayanti, dkk. 1:2. menjelaskan bahwa suatu hal yang populer di TikTok bisa memancing banyak pengguna lainnya. Karya @ank secara utuh mengundang lahirnya kompleksitas keberterimaan atas suatu peristiwa pergi dan melakukan kontemplasi terhadapnya dengan refleksi bepergian. Taskan, dkk. menjelaskan hal ini sebagai bagian dari volatolity yeng mengasosiasikan suatu karya dengan disrupsi terhadap Bercermin pada lagu Serta Mulia yang mengunggah keabadian perasaan kasih sayang hingga kehidupan setelah kematian. Catatan Tentang Ayah mencoba mengajak penontonnya untuk memproses situasi menunggu sebelum sampai pada pertemuan pulang yang abadi. Situasi menunggu ini terutama terjadi pada refleksi renovasi terhadap rumah, meskipun rumah tidak akan seutuh seperti sediakala, ia tetap berdiri menjalankan fungsinya. Situasi semacam ini mengundang multiple interpretations (Taskan, dkk. , 2022:. Ketika itu terjadi, ada sebuah momen ambiguitas yang memantik pencarian terhadap tema kesedihan dan keberterimaan terhadap situasi pergi untuk mencapai pulang sehingga mampu membuat karya @ank diterima pada pengguna sesuai zaman ini. Sebagaimana diketahui bahwa karya sastra mengundang lahirnya perspektif yang diproses melalui pengalaman transformatif (Ferran, 2023L. Ungkapan tersebut menegaskan bahwa Catatan Tentang Ayah adalah sekumpulan intisari pengalaman lokal yang umum dialami masyarakat Indonesia dan dengannya mampu menggiring penontonnya pada perspektif sebagaimana karya tersebut memaknai pergi dan pulang. Situasi ini menggiring penonton untuk percaya bahwa pergi dan pulang dalam Catatan Tentang Ayah adalah proses kesadaran untuk menghadapi kehilangan, realitas ini adalah situasi post yang dapat pula berhadapan pada realitas umum yang dihadapi masyarakat. Kehilangan seseorang yang berharga bisa menjadi kenyataan akan sebuah kekosongan yang sulit dihadapi dan Catatan Tentang Ayah mencoba melahirkan realitas baru menanggapi hal itu. KESIMPULAN Penelitian ini menggali simulasi ilusi yang dimunculkan oleh video klip lagu Serta Mulia karya Sal Priadi dan video Catatan Tentang Ayah yang dikreasikan @ank. Keduanya diunggah ke dalam ruang digital bernama YouTube dan atau TikTok. Dengan proses publikasi tersebut, kedua karya menjadi salah satu penyumbang Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity. Keempat unsur yang dekat dengan percepatan teknologi informasi inilah yang mengarahkan kepada simulasi ilusi, sebuah fantasmagoria dari karya audio-visual. Terlepas dari wujud kedua karya tersebut sebagai audio-visual, keduanya tetap menggunakan teks sebagai penyatu utama. Hal ini kemudian memantik lahirnya perspektif realitas untuk membuat penontonnya terpukau dan terbuai melampaui realitas yang umum dialami masyarakat. Melalui Serta Mulia realitas tentang pasangan perempuan cantik harus laki-laki tampan pun dapat diubah menjadi tampang tak seberapa dan funny. Kedua syarat itu harus beririsan dengan sifat lokalitas tumpeng yang mampu selalu hadir sebagai sesuatu yang spesial dalam kesederhanaan untuk mencapai situasi sentosa. Tidak jauh berbeda. Catatan Tentang Ayah juga mendekatkan situasi lokal dengan disrupsi kondisi pasca Covid-19. Keberterimaan mental atas situasi kehilangan . harus beriringan dengan usaha untuk mencapai Dalam hal ini, karya @ank seperti menjadi bagian yang mengisi Serta Mulia, utamanya dalam hal mencapai keabadian cinta yang perlu proses menunggu dan menjalani kehidupan seperti aktivitas orang-orang di Realitas itulah yang dibangun oleh Catatan Tentang Ayah agar situasi pergi tidak harus diratapi terusmenerrs, tetapi juga bagian dari proses renovasi. Berbagai realitas yang terbangun dalam Serta Mulia dan Catatan Tentang Ayah adalah gambaran dari simulasi ilusi, sebuah situasi post-realitas. Simulasi ini didukung oleh pencarian tema digital . yang Hal ini memungkinkan pengguna-pengguna media sosial dengan keinginan yang serupa menemukan kedua karya tersebut dalam pencarian digital. Simulasi ilusi dan penciptaan realitas suprastruktural pun akan terus terwujud karena hal itu. UCAPAN TERIMA KASIH Penelitian ini menjadi bagian pembangunan kualitas Program Studi Sastra Indonesia. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Diponegoro. Bukti bahwa prodi ini terus merasakan dan concern terhadap kondisi terkini membuat karya ini dapat ditulis dan diikutsertakan ke dalam PIBSI tahun 2024. Dalam hal ini, karya ini diproses secara observasi dan analisis oleh Muhammad Hamdan Mukafi. Sementara itu. Sofi Esa Bela memastikan bahwa hasil observasi dan analisis masih dalam ruang lingkup yang dituju oleh penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA