Bioadventure. Journal of Archipelagoes Wildlife and Life Science. Vol. 1 No. 1/Pages: 9-14 E-ISSN: x-x ISSN: Etnobotani Sajian Buah-Buahan Dalam Memperingati Maulid Nabi SAW Di Dusun Banjarsari Bakalan Bululawang Malang Ika Agustin1. Maimunah A Wahab2. Hafsah Haerudin3. Rasmi Hi Panu14* LSM Pemerhati Lingkungan. Malang Jawa Timur Guru Biologi Aliyah Alkhairat Tobelo. Halmahera Utara Program Studi Biologi Universitas Sipatokkong Mambo Program Studi Biologi Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara Abstract The cultural environment of traditional communities is rich in local wisdom, but not much has been revealed about how this wisdom grows and is maintained in the lives of these communities. The most prominent change is in the Maulid dishes, such as fruit and food from the use of local fruit, traditional containers and food into modern dishes, it is feared that this could cause some local plants which are usually used in Maulid dishes to have the potential to be endangered and unknown to the next generation. This research aims to provide information on offerings from year to year, this data can be used as a reference to maintain several changing cultural components. Based on the results and discussion, it can be concluded that there have been significant changes in servings and containers from 1990, 2000, 2010 and 2017. These changes are due to changes in the era of modernization which makes the current generation feel inferior about using local fruit which seems old-fashioned, and various reasons for the ease of obtaining fruit and modern stuff. Key words: local wisdom, culture Pendahuluan Kearifan lokal memiliki berbagai terminologi, seperti kearifan tradisional, pengetahuan tradisional, kearifan ekologi tradisional, kearifan pribumi, kearifan etnosains, kearifan rakyat, sains lokal dan pengetahuan nonformal. Akan tetapi semua istilah tersebut mengacu pada satu pengertian, yaitu pengetahuan lokal, tradisional dan unik, yang dipelihara dan dikembangkan oleh komunitas tertentu melalui sejarah interaksi yang panjang dengan lingkungan alam sekitarnya (Sukarata, 1. Kearifan lokal menjadi dasar pengambilan keputusan pada tingkat lokal dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Kearifan itu diimbaskan antar generasi dan setiap mempertahankan kearifan lokalnya. itu sering dilakukan melalui pendidikan tradisional dalam berbagai bentuk seperti upacara, peniruan, hafalan, pertemuan desa, cerita rakyat, tabu, dan mitologi. Lingkungan budaya masyarakat tradisional kaya akan kearifan lokal, bagaimana kearifan ini tumbuh dan terpelihara dalam kehidupan masyarakat Memerlukan upaya penggalian adat istiadat dan budaya untuk memperkuat basis masyarakat dalam menjaga kebudayaan mereka. Akan tetapi sejalan dengan perkembangan waktu dan budaya moderen, kekayaan leluhur ini semakin ditinggalkan dan dilupakan (Purwanto, 1999 . Handyani. Masyarakat Lawang merupakan masayarakat suku Jawa yang mendiami * Corresponding Author: rasmihipanu92@gmail. Bioadventure. Journal of Archipelagoes Wildlife and Life Science. Vol. 1 No. 1/Pages: 9-14 E-ISSN: x-x ISSN: Dusun Banjarsari Bakalan Bululawang Malang, masyarakat di dusun ini memiliki kearifan lokal yang unik, dengan penuh makna dan filosofi, komponen acaranya, dan tahapan Namun, tidak dapat dipungkiri memasuki zaman mileneal ini pengaruh perubahan kearifan lokal masayarakat modern maupun masyarakat daerah. Hal ini juga terjadi pada masyarakat dusun Bululawang, pada acara Maulid Nabi SAW ini, perubahan yang paling menonjol adalah pada sajian Maulid, seperti buahbuahan dan makanan dari pemanfaatan buah lokal, wadah dan makanan traditional menjadi sajian modern, hal ini beberapa tumbuhan lokal yang biasanya digunakan dalam sajian Maulid memiliki potensi terancam punah dan tidak diketahui oleh generasi berikutnya. sehingga perlu adanya inventarisasi sajian yang bertujuan memberikan informasi sajian dari tahun ke-tahun, data mempertahankan beberapa komponen budaya yang berubah. Metode Deskripsi Lokasi Penelitian Kecamatan Bululawang terletak di Kabupaten Malang, di sebelah utara. Kelurahan Bululawang langsung dengan Kecamatan Tajinan. Sedangkan di sebelah timur, kecamatan Kecamatan Wajak dan Kecamatan Turen. Kecamatan Bululawang misalnya pada acara peringatan maulid Nabi SAW. Acara ini dipersiapkan Kecamatan Gondanglegi. Lalu, di sebelah barat. Kecamatan ini berbatasan dengan Kecamatan Kepanjen dan Kecamatan Pakisaji. Kecamatan Bululawang memiliki luas wilayah 49,36 km2. Kecamatan ini memiliki topografi di dataran tinggi. Jumlah penduduk kelurahan ini mencapai 985 jiwa laki-laki dan 31. perempuan, dengan kepadatan mencapai 266 jiwa/km2. Mayoritas warganya bekerja di bidang pertanian. Informan penelitian Informan dalam praktikum adalah masyarakat Bululawang yang mengikuti dan paham tentang acara Maulid Nabi SAW menggunakan purposive sampling, yaitu teknik pemilihan informan dengan pertimbangan tertentu, dalam hal ini orang yang dianggap paling tahu tentang tumbuhan ritual. Metode yang digunakan adalah survey explorative. Teknik Pengumpulan Data Teknik digunakan dalam praktikum ini adalah observasi dan wawancara. Observasi Observasi penelitian dilakukan di Dusun Banjarsari Bakalan Bululawang Malang. Observasi ini pengambilan data penelitian dan informan penelitian yang dapat perubahan sajian Maulid Nabi. Wawancara Wawancara penelitian ini dilakukan dengan memberikan pertanyaan Bioadventure. Journal of Archipelagoes Wildlife and Life Science. Vol. 1 No. 1/Pages: 9-14 E-ISSN: x-x ISSN: narasumber yang berkaitan dengan rangkaian acara Maulid Nabi SAW yang dilakukan setiap tahun. Hasil dan Pembahasan Salah satu ciri budaya masyarakat di negara berkembang adalah masih dominannya unsur-unsur tradisional dalam kehidupan sehari-hari. Keadaan ini didukung oleh keanekaragaman hayati yang terhimpun dalam berbagai tipe ekosistem yang pemanfaatannya telah mengalami sejarah panjang sebagai bagian dari kebudayaan. Hubungan antara manusia dengan lingkungannya ditentukan oleh kebudayaan setempat sebagai pengetahuan yang diyakini serta menjadi sumber sistem nilai. Sistem pengetahuan yang dimiliki masyarakat secara tradisional merupakan salah satu bagian dari kebudayaan suku bangsa asli dan petani pedesaan (Rahayu, dkk. ,2006 : Ikatan Pustakawan Indonesia, 1. Semakin teknologi, dan ekonomi ditanah air mengakibatkan generasi muda anak bangsa Indonesia secara umum tidak lagi tertarik pada seni dan pengetahuan Ilmu ini dianggap sudah tidak laku lagi dizaman globalisasi ini (Sundari. Perkembangan teknologi dan pesatnya peningkatan taraf pendidikan masyarakat akan cenderung menjadikan generasi muda memandang kebudayaan leluhur mereka sebagai ciri dari masyarakat yang terbelakang. Rasa rendah diri terhadap kebudayaan sendiri meninggalkan pola hidup tradisional dan lebih tertarik pada produk-produk diluar wilayah budayanya (Attamimi,1997 : Sirat , 1. Salah satu contoh adalah pergeseran sajian pada ritual Maulid Masyarakat Bululawang yang mengalami perubahan dari tahun ke-tahun, sehingga terdapat beberapa sajian dan wadah yang ditukar dengan beberapa produk Berdasarkan hasil penelitian bahwa terdapat beberapa buah yang tidak lagi digunakan dalam acara Maulid Nabi SAW yang pernah disajikan pada jaman dahulu di sekitar tahun 1990 misalnya buah Jambu monyet, jeruk bali, degan, juwet dan sawo. Buah-buah ini hanya berhasil dipertahankan samapi dengan tahun Berikut tabel hasil pengamatan dan wawancara sajian acara Maulid Nabi dari tahun 1990, 2000, 2010 dan 2017: Tabel 1. Sajian buah upacara Maulid Nabi SAW Tebu Jeruk Bali Pisang Pisang Juwet Pisang Mangga Mangga Pepaya Sawo Manggis Manggis Degan Mangga Bengkuang Salak Jambu monyet Manggis Salak Timun Jeruk bali Bengkuang Timun Rambutan Bioadventure. Journal of Archipelagoes Wildlife and Life Science. Vol. 1 No. 1/Pages: 9-14 E-ISSN: x-x ISSN: Pisang Salak Rambutan Nanas Sawo Timun Nanas Apel lokal Mangga Rambutan Apel lokal Apel Import Manggis Nanas Anggur hitam Jeruk Import Bengkuang Apel lokal Apel Import Pir Salak Anggur hitam Buah Naga Timun Jeruk Import Pir Rambutan Nanas Pada tahun 1990, sajian maulid Nabi SAW di Dusun Banjarsari Bakalan Bululawang Malang adalah Tebu. Juwet. Pepaya. Degan. Jambu monyet. Jeruk bali. Pisang. Sawo. Mangga. Manggis. Bengkuang. Salak. Timun. Rambutan. Nanas. Buah-buah tersebut adalah buah lokal yang sering kita temui di pasarpasar tradisional. Pada Tahun 2000 mulai mengalami perubahan sajian yaitu jambu monyet, juwet dan degan tidak digunakan lagi, tidak ada alasan yang jelas dari informan tentang perubahan ini, namun seperti yang diketahui setiap buah dalam suatu upacara memberikan filosofi yang berbeda, pada tahun ini juga terdapat penambahan buah yaitu Apel lokal dan Anggur hitam, informan menjelaskan alasan tersebut hanya karena faktor suka, kurang suka dan mudah didapatkan, hal ini diketahui karena pada tahun tersebut petani mulai menanam apel di wilayah malang sehingga apel di tambahkan sebagai sajian yang lebih modern, dan anggur keindahan dan modern pada sajian. Pada Tahun 2010 pergeseran ini semakin jauh karena semakin banyak buah import yang Anggur digunakan dan menghilangkan buahbuah lokal yang digunakan, misalnya jeruk bali dan sawo yang merupakan lokal yang biasanya disajikan pada saat acara Nabi SAW diganti dengan buah apel import, anggur hitam, jeruk import dan Pada Tahun 2017 penggunaan buah lokal semakin sedikit yaitu tersisa buah Pisang. Mangga. Manggis. Salak. Timun. Rambutan, dan Nanas, jika dibandingkan dengan tahun 1990 terdapat 8 buah lokal yang telah digantikan dengan Apel lokal. Apel Import. Jeruk Import. Pir. Buah Naga dan Anggur import. Perubahan ini hanya didasarkan dikhawatirkan banyak buah lokal yang tidak dikenali oleh generasi berikutnya, sehingga akan menurunkan pendapatan petani yang membudidaya buah tersebut Selain itu kepunahan spesies akan terjadi sewaktu-waktu, misalnya tebu, pada masa ini tebu tidak lagi dikonsumsi oleh generasi sekarang karena dianggap kuno dan tidak modern, sehingga tebu hanya menjadi bahan dasar di pabrik gula. Semakin sedikit nilai Bioadventure. Journal of Archipelagoes Wildlife and Life Science. Vol. 1 No. 1/Pages: 9-14 E-ISSN: x-x ISSN: guna suatu spesies dalam suatu budaya akan menyebabkan semakin tinggi kepunahannya, karena masyarakat tidak lagi mau menggunakan, nilai kebutuhan semakin rendah terhadap suatu sepsies sangat berpengaruh pada nilai ekonomi, keberlanjutannya sangat dikhawatirkan. Terdapat keberlanjutan yaitu aspek ekonomi, sosial dan lingkungan. Selain Zaman juga telah mempengaruhi penggunaan wadah dalam acara Maulid Nabi. Hasil penelitian menunjukkan wadah yang digunakan pada tahun 1990 berupa anyaman telah diganti dengan produk plastik yang tersedia dipasaran. Hal ini telah menurunkan nilai estetika dari bakat nenek moyang yang harusnya dipertahankan karena memiliki nilai budaya dan kearifan lokal yang tinggi. Generasi sekarang juga menjadi tidak tahu dan tidak paham tentang wadah yang digunakan pada saat acara Maulid Nabi SAW karena telah digantikan dengan produk kapitalis seperti wadah plastik dengan motif ancak. Tabel 2. Perubahan wadah sajian acara Maulid Nabi SAW Ancak . elepah Songgong (Anyaman Bamb. Cowek/cobek Cowek/cobek Cowek/cobek Cowek/cobek Rege . lastik Rege . Rege . Toples Toples Panci Ember Wakul Plastik Terdapat perubahan signifikan dari tahun ke-tahun, pada tahun 1990 ancak, songgong dan cowek yang digunakan terbuat dari tumbuhan yang dibuat dengan kreatifitas tinggi dan dijadikan wadah sajian dalam acara-acara tertentu, selain ramah lingkungan, penggunaan tumbuhan tersebut meningkatkan nilai guna sehingga konservasi terhadap spesies yang digunakan akan tetap Pada tahun 2000-2017 wadah ancak, songgong mulai hilang dan digantikan dengan produk plastik, selain tidak ramah lingkungan, produk ini juga telah menyebabkan pergeseran dan perubahan kearifan lokal yang pernah dipertahankan oleh nenek moyang, sehingga generasi sekarang tidak paham dengan budayanya sendiri karena terlena dengan arus modernisasi. Hal ini juga dapat memicu keberlanjutan spesies dan konservasi tanaman yang menjadi bahan pembuatan ancak dan songgon yaitu bambu dan pisang. Budaya tradisional yang disinyalir banyak memiliki kearifan lingkungan telah mengalami erosi yang dahsyat, sehingga sebagian besar dari Bioadventure. Journal of Archipelagoes Wildlife and Life Science. Vol. 1 No. 1/Pages: 9-14 E-ISSN: x-x ISSN: mengetahui dan tak peduli lagi dengan warisan leluhur tersebut (Purwanto, 1999 Handyani, 2. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan dapat disimpulkan bahwa terdapat perubahan sajian dan wadah yang signifikan dari tahun 1990, 2000, 2010 dan 2017. Perubahan tersebut modernisasi yang membuat generasi sekarang merasa minder menggunakan buah lokal yang terkesan kuno, dan berbagai alasan kemudahan memperoleh buah dan barang modern. Sehingga hal ini, dapat menyebabkan beberapa spesies yang memiliki nilai guna pada masyaraakat semakin rendah terancam punah sewaktu-waktu dan tidak dikenali oleh generasi berikutnya. Referensi