Jurnal Pelita Teknologi. Vol. 20 No. : September 2025, pp. PELITA TEKNOLOGI Journal homepage: jurnal. id,p-ISSN: 2301-475X, e-ISSN: 2656-7059 ANALISIS KUALITAS UDARA LABORATORIUM TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA BERDASARKAN PARAMETER: TSP. PB. DAN CR TOTAL Syifa Anisa Antari1. Noviani Ima Wantoputri2. Azham Umar Abidin3. Adam Rus Nugroho4 1,2,3,4 Jurusan Teknik Lingkungan. Fakultas Teknik Sipil dan Perencaan. Universitas Islam Indonesia. Jalan Kaliurang KM 14,5. Krawitan. Umbulmartani. Ngemplak. Sleman. Yogyakarta 55584 Korespondensi Email: syifaanisaantari@gmail. Abstract Informasi Artikel The air quality in the Civil Engineering Laboratory is influenced by practical activities involving materials such as cement, concrete, asphalt, aggregates, and steel, all of which can generate Total Suspended Particulate (TSP) and heavy metals such as Lead (P. and Total Chromium (C. This study aims to analyze the differences in TSP. Pb, and Cr concentrations during periods with and without laboratory activities, as well as to identify risk perceptions and potential health impacts among laboratory Sampling was conducted in the Construction Materials Laboratory and the Highway Laboratory using a Low Volume Air Sampler (LVAS) for TSP and Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) for Pb and Cr analysis. Results show that TSP concentrations increased significantly during practical sessions, with the highest value of 2. 888 mg/mA recorded in the Highway Laboratory. The concentration reached 0. 065888 mg/mA, while Cr peaked at 0. 0024 mg/mA, with several Cr measurements exceeding the threshold set by the Ministry of Manpower Regulation No. 5 of 2018. Questionnaire responses indicated exposure to dust, particulate deposits, metallic or chemical odors, and reported health complaints such as coughing, shortness of breath, skin irritation, and Although some parameters remained below regulatory limits, potential health risks persist due to cumulative exposure and inadequate Diterima: 5 September 2025 Direvisi: 19 September 2025 Dipublikasikan: 26 September 2025 Keywords Total Cr. Indoor air quality. Civil Engineering Laboratory. Pb. TSP ISSN: p. 2301-475X e. Pendahuluan Kualitas udara dalam ruang laboratorium merupakan faktor penting untuk menjaga kesehatan mahasiswa, dosen, dan staf yang beraktivitas di dalamnya. Udara yang tidak terkontrol dapat membawa partikel halus, gas berbahaya, dan bioaerosol yang berpotensi menimbulkan gangguan pernapasan, peradangan sistemik, hingga memengaruhi fungsi kognitif dan kesehatan mental . Pada Laboratorium Teknik Sipil, berbagai kegiatan seperti penggerusan sampel, pengujian beton dan aspal dapat menghasilkan Total Suspended Particulate (TSP), yang diketahui dapat menyebabkan iritasi hingga gangguan pernapasan kronis maupun penurunan kemampuan kognitif. Selain partikulat, penggunaan material yang mengandung logam berat seperti Timbal (P. dan Kromium Total (C. juga menambah risiko paparan. Kedua logam ini dapat terhirup dalam bentuk partikel halus dan menimbulkan inflamasi serta stres oksidatif yang berdampak pada sistem pernapasan dan saraf pusat . Sumber polutan laboratorium umumnya berasal dari kegiatan praktikum, bahan kimia, serta peralatan yang menghasilkan debu, dan kadarnya sangat dipengaruhi oleh kondisi ventilasi serta intensitas aktivitas . Paparan jangka panjang terhadap TSP. Pb, dan Cr telah dikaitkan dengan risiko penyakit pernapasan kronis dan keracunan logam berat . Dengan pertimbangan tersebut, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis perbedaan konsentrasi TSP. Pb, dan Cr saat praktikum dan tidak praktikum, serta menggambarkan persepsi risiko dan pengalaman paparan yang dirasakan oleh pengguna II. Metodologi Penelitian dilakukan di Laboratorium Teknik Sipil Universitas Islam Indonesia dengan fokus pada tiga parameter kualitas udara: Total Suspended Particulate (TSP). Timbal (P. , dan Kromium Total (C. Pengambilan sampel udara menggunakan Low Volume Air Sampler (LVAS), sedangkan analisis logam berat dilakukan memakai Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). Filter udara berfungsi sebagai media penangkap partikulat sebelum dianalisis di laboratorium. Bahan kimia berupa larutan standar Pb dan Cr serta reagen asam digunakan pada tahap preparasi. Parameter lingkungan seperti kecepatan angin, suhu, kelembapan, dan tekanan udara dicatat untuk mendukung interpretasi hasil. Analisis TSP Pengambilan sampel Total Suspended Particulate (TSP) di dalam Laboratorium Teknik Sipil dilakukan menggunakan metode gravimetri. Proses ini menggunakan Low Volume Air Sampler (LVAS) dan mengikuti ketentuan SNI 16-7058-2004 mengenai pengukuran kadar debu total di udara tempat kerja. Pada metode gravimetri, udara dihisap melalui kertas saring dengan laju aliran 5Ae15 L/menit, sehingga partikel tersuspensi akan tertahan pada permukaan filter. Massa partikulat diperoleh dari selisih berat filter sebelum dan sesudah proses sampling menggunakan neraca analitik. Nilai massa ini kemudian dikaitkan dengan volume udara yang terhisap untuk menentukan konsentrasi TSP dalam satuan AAg/mA. Prosedur analisis data TSP diawali dengan penimbangan kertas saring yang akan digunakan dalam LVAS. Sebelum dipakai, filter harus mencapai berat konstan melalui ISSN: p. 2301-475X e. penimbangan berulang. Setelah filter stabil, proses sampling dapat dilakukan dan data selanjutnya diolah. Perhitungan konsentrasi TSP dilakukan melalui dua tahap utama, yakni menentukan laju aliran standar dan menghitung volume udara tersampel. Penentuan laju aliran standar mengacu pada SNI 7119-3-2017 tentang uji partikel tersuspensi total menggunakan High Volume Air Sampler (HVAS) dengan metode gravimetri. ycEyc = ycE0 y ( ycNyc y ycE0 1 ycN0 y ycEyc Dimana: Qs : laju alir volume dikoreksi pada kondisi standar . 3/meni. Q0 : laju alir volume . 3/meni. Ts : temperatur standar, 298 K P0 : tekanan baromatik dimana Q0 ditentukan T0 : temperature absolut . t uku. Ps : tekanan baromatik standar 101,3 kPa . Setelah laju alir standar diperoleh, tahap berikutnya adalah menghitung volume udara yang tersampel dan selanjutnya menentukan konsentrasi partikulat. Perhitungan dimulai dengan menentukan volume total udara (V) yang diambil selama proses sampling. Nilai volume ini diperoleh dengan mengalikan laju aliran udara pada alat sampler (Q) dengan durasi pengambilan sampel . Rumus perhitungan volume tersebut mengacu pada SNI 7119-3-2017 tentang cara uji partikel tersuspensi total menggunakan High Volume Air Sampler (HVAS) dengan metode gravimetri, sebagaimana ditunjukkan berikut: ycO= ycEy yc Dimana: V = Volume udara yang disampel . Q = Laju aliran rata-rata alat pengambil sampel . 3/meni. t = Total durasi pengambilan sampel . Setelah volume udara tersampel diperoleh, langkah selanjutnya adalah menghitung konsentrasi TSP (C). Konsentrasi ini ditentukan dengan membagi massa total partikulat yang tertangkap pada filter dengan volume udara yang telah dihisap selama proses Rumus perhitungan yang digunakan mengacu pada SNI 16-7058-2004 mengenai metode pengukuran kadar debu total di udara tempat kerja, sebagai berikut: ya= ycO1 Oe ycO0 y 103 ycO Dimana: C = Kadar debu total . g/m. W2 = Berat akhir filter setelah pengambilan sampel udara . W1 = Berat awal filter sebelum pengambilan sampel udara . V = Volume udara pada waktu pengambilan contoh . ISSN: p. 2301-475X e. Analisis Timbal (P. dan Kromium Total (C. Penentuan konsentrasi Timbal (P. dan Kromium (C. dilakukan berdasarkan SNI 7119-4-2017 tentang udara ambien, yang menjelaskan metode pengujian kadar Pb menggunakan teknik destruksi basah dan analisis dengan Spektrofotometer Serapan Atom Nyala. Pada metode ini, partikel udara dalam ruangan ditangkap menggunakan Low Volume Air Sampler (LVAS) dengan kertas saring sebagai media penahan partikulat. Partikel yang mengandung Pb dan Cr tersebut kemudian didestruksi menggunakan campuran larutan asam, yaitu asam klorida dan asam nitrat. Setelah proses destruksi, sampel dianalisis menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) nyala untuk menentukan konsentrasi logam. Perhitungan kadar timbal dan kromium dilakukan menggunakan rumus yang tercantum dalam SNI 7119-4-2017 pada metode destruksi basah untuk analisis logam dengan SSA nyala, sebagai berikut: yaycu = ycI . ayc Oe yayca ) y ycOyc y ycI yc ycO Dimana: Cx : kadar . imbal / kromiu. di udara . /m. Ct : kadar . imbal / kromiu. dalam larutan contoh uji yang di spike . /mL) Cb : kadar . imbal / kromiu. dalam larutan blanko . /mL) Vt : volum larutan contoh uji . L) S : luas contoh uji pada permukaan filter . St : luas contoh uji yang digunakan . V : volume udara yang dihisap dikoreksi pada kondisi normal 25A, 760mmHg Pada penelitian ini, penentuan konsentrasi Timbal (P. dan Kromium (C. dilakukan dengan Spektrofotometer Serapan Atom (AAS) menggunakan kurva kalibrasi sebagai Kurva kalibrasi disusun dengan mengukur nilai absorbansi dari beberapa larutan standar yang memiliki konsentrasi tertentu. Nilai absorbansi sampel yang telah diekstraksi dari kertas filter kemudian dimasukkan ke dalam persamaan regresi linier . = ax . yang diperoleh dari kurva tersebut. Persamaan ini digunakan untuk menentukan konsentrasi sampel . berdasarkan nilai absorbansi . yang diperoleh. Selanjutnya, nilai adsorpsi logam Timbal (P. dan Kromium Total (C. pada sampel dihitung menggunakan persamaan regresi linier berikut: yc= ycaycu y yca Dimana: y = Absorban larutan sampel x = Konsentrasi larutan sampel a = Slope b = Intercept ISSN: p. 2301-475X e. Persepsi Risiko dalam Ruang Laboratorium dan Keluhan Kesehatan terhadap Pengguna Laboratorium Selain melakukan pengukuran kualitas udara, penelitian ini juga mengevaluasi persepsi risiko serta keluhan kesehatan yang dialami pengguna laboratorium. Tujuan dari bagian ini adalah memperoleh gambaran subjektif mengenai potensi bahaya dan dampak kondisi lingkungan laboratorium terhadap mahasiswa yang beraktivitas di dalamnya. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner yang terdiri dari pertanyaan tertutup dan terbuka, kemudian disebarkan kepada responden menggunakan Google Form. Penyusunan kuesioner mengacu pada penelitian sebelumnya yang mempelajari keterkaitan antara kualitas lingkungan kerja dan persepsi risiko kesehatan. Instrumen kuesioner mencakup beberapa aspek, yaitu identitas responden . sia, jenis kelamin, serta lama bekerja atau beraktivitas di laboratoriu. , penilaian terhadap kondisi laboratorium . ualitas udara, kebersihan, kenyamanan, dan potensi bahay. , serta keluhan kesehatan seperti iritasi mata, sakit kepala, gangguan pernapasan, dan keluhan lain yang muncul selama atau setelah aktivitas laboratorium. Sebanyak 14 responden terlibat dalam pengisian kuesioner, dengan jumlah tersebut dianggap cukup mewakili kondisi persepsi pengguna dari masing-masing laboratorium. Penentuan jumlah sampel disesuaikan dengan ketersediaan mahasiswa, kemudahan pengambilan data, serta mengikuti pendekatan penelitian sebelumnya yang menggunakan sampel terbatas namun fokus pada kedalaman Data hasil kuesioner kemudian dianalisis secara deskriptif untuk melihat kecenderungan persepsi terkait risiko serta pola keluhan kesehatan yang paling sering Temuan ini selanjutnya dibandingkan dengan hasil pengukuran konsentrasi TSP. Pb, dan Cr Total guna memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai kondisi kualitas udara laboratorium dan dampaknya terhadap kesehatan pengguna. Hasil dan Pembahasan Hasil pengukuran kualitas udara di dalam ruang Laboratorium Teknik Sipil Universitas Islam Indonesia menunjukkan adanya perbedaan konsentrasi polutan antara kondisi saat aktivitas praktikum berlangsung dan saat tidak ada aktivitas. Parameter yang diuji meliputi Total Suspended Particulate (TSP). Timbal (P. , dan Kromium Total (C. Hasil Pengukuran Konsentrasi TSP Konsentrasi TSP pada kondisi praktikum menunjukkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi non-praktikum. Peningkatan ini berkaitan erat dengan aktivitas penggerusan sampel, pengujian material, serta pergerakan mahasiswa yang menyebabkan partikel debu terdispersi ke udara. Nilai konsentrasi TSP yang diperoleh dibandingkan dengan baku mutu udara ambien berdasarkan PermenLHK Nomor 5 Tahun Untuk hasil perbandingan dapat dilihat pada Tabel 1 sebagai berikut: ISSN: p. 2301-475X e. Lokasi Tabel 1. Konsentrasi Pencemar TSP Konsentrasi TSP Tidak Praktikum Titik Praktikum mg/m3 mg/m3 Baku Mutu mg/m AAg/m Titik 1 Lab BKT Titik 2 Lab Jalan Raya 1 Titik 3 Lab Jalan Raya 2 Berdasarkan Tabel 1 terlihat bahwa konsentrasi TSP pada saat praktikum lebih tinggi dibandingkan kondisi tidak ada praktikum di seluruh titik pengukuran. Nilai tertinggi tercatat pada Lab Jalan Raya 2 dengan konsentrasi 2,315 mg/mA, sedangkan nilai terendah diperoleh di Lab BKT pada kondisi tidak ada praktikum dengan konsentrasi 0,289 mg/mA. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas praktikum seperti penggerusan material, pengujian aspal, serta interaksi mahasiswa di laboratorium berkontribusi signifikan terhadap peningkatan jumlah partikel tersuspensi di udara. Hasil Pengukuran Konsentrasi Timbal (P. Pengukuran konsentrasi timbal (P. di udara Laboratorium Teknik Sipil Universitas Islam Indonesia dilakukan menggunakan metode Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) sesuai dengan SNI 7119. 4:2017. Parameter Pb dipilih karena bersifat toksik dan mampu menimbulkan gangguan kesehatan serius terutama pada sistem saraf meskipun dalam konsentrasi rendah. Aktivitas praktikum yang menggunakan material berbahan semen, aspal, dan logam berpotensi melepaskan Timbal ke lingkungan udara dalam bentuk partikel halus yang dapat terhirup oleh pengguna laboratorium. Untuk mengetahui perbedaan konsentrasi Pb, pengukuran dilakukan pada dua kondisi: ketika praktikum berlangsung dan ketika tidak ada aktivitas praktikum. Nilai konsentrasi Pb yang diperoleh dari tiga titik lokasi pengambilan sampel disajikan pada Tabel 2. Lokasi Tabel 2. Konsentrasi Pencemar Pb Konsentrasi Pb Praktiku Tidak Titik Praktikum Sampling mg/m3 mg/m3 Baku Mutu AAg/m Lab BKT Titik 1 Lab Jalan Raya 1 Titik 2 Lab Jalan Raya 2 Titik 3 Tabel 2 memperlihatkan hasil pengukuran konsentrasi timbal (P. di udara dari tiga titik sampling pada Laboratorium Bahan Konstruksi Teknik (Lab BKT) dan Laboratorium Jalan Raya Universitas Islam Indonesia. Berdasarkan data tersebut, seluruh nilai Pb masih berada jauh di bawah baku mutu nasional, yaitu 0,15 mg/mA . AAg/mA). Pada Titik 1 Lab BKT, konsentrasi Pb saat praktikum dan saat tidak praktikum menunjukkan nilai yang sama, yakni 0,003575 mg/mA. Kondisi ini mengindikasikan bahwa kegiatan praktikum di laboratorium bahan konstruksi tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan kadar Pb di udara, mengingat aktivitas di laboratorium tersebut umumnya tidak melibatkan penggunaan sumber logam berat. ISSN: p. 2301-475X e. Pada Titik 2 Lab Jalan Raya 1, terdapat perbedaan konsentrasi antara kondisi praktikum . ,012769 mg/mA) dan tidak praktikum . ,005618 mg/mA). Kenaikan ini menunjukkan adanya aktivitas praktikum yang berpotensi menghasilkan partikel Pb ke udara, misalnya dari material jalan yang mengandung logam berat seperti agregat daur ulang atau residu aspal lama. Konsentrasi tertinggi terukur pada Titik 3 Lab Jalan Raya 2, yaitu 0,065888 mg/mA saat praktikum dan 0,037285 mg/mA saat tidak praktikum. Peningkatan tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh intensitas kegiatan praktikum serta penggunaan material seperti campuran aspal, slag baja, atau agregat bekas industri yang diketahui dapat membawa kandungan Pb. Secara keseluruhan, hasil menunjukkan bahwa aktivitas praktikum khususnya di laboratorium jalan raya dapat meningkatkan kadar Pb di udara, meskipun masih berada dalam batas aman. Temuan ini menegaskan pentingnya optimalisasi ventilasi ruangan, pemilihan material uji yang lebih aman, serta penggunaan alat pelindung diri untuk meminimalkan paparan. Penelitian lain juga merekomendasikan adanya pemantauan kualitas udara secara berkala serta pengelolaan limbah laboratorium untuk menjaga keamanan lingkungan bagi seluruh pengguna. Hasil Pengukuran Konsentrasi Kromium Total (C. Kromium total (C. merupakan salah satu jenis logam berat yang dapat terdispersi ke udara akibat aktivitas praktikum yang menggunakan material berbasis semen, aspal, maupun logam. Paparan Cr berpotensi menimbulkan dampak toksik pada kesehatan, seperti iritasi saluran pernapasan dan kemungkinan gangguan sistem saraf apabila terpapar dalam jangka panjang. Pada penelitian ini, analisis konsentrasi Cr dilakukan menggunakan metode Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) dengan mengacu pada SNI 4:2017. Pengukuran dilakukan pada dua kondisi saat praktikum berlangsung dan saat tidak ada aktivitas praktikum pada tiga titik lokasi berbeda di laboratorium. Hasil pengukuran tersebut ditampilkan pada Tabel 3. Tabel 3. Konsentrasi Pencemar Cr Konsentrasi Cr Lokasi Titik Sampling Praktiku Tidak Praktikum mg/m3 mg/m3 Baku Mutu AAg/m Lab BKT Titik 1 Lab Jalan Raya 1 Titik 2 Lab Jalan Raya 2 Titik 3 Berdasarkan Tabel 4, terlihat bahwa konsentrasi kromium (C. mengalami peningkatan pada saat praktikum dibandingkan ketika tidak ada praktikum di sebagian besar titik sampling. Nilai tertinggi tercatat pada Lab Jalan Raya 2 (Titik . sebesar 0,0024 mg/mA saat praktikum, sementara nilai terendah ditemukan di Lab Jalan Raya 1 (Titik . sebesar 0,0001 mg/mA pada kondisi tidak praktikum. Temuan ini menunjukkan bahwa aktivitas praktikum memberikan pengaruh langsung terhadap peningkatan kadar Cr di udara laboratorium. Kadar Cr yang terukur pada Lab BKT (Titik . dan Lab Jalan Raya 2 (Titik . saat praktikum tercatat melampaui baku mutu, menandakan adanya kontribusi signifikan dari ISSN: p. 2301-475X e. kegiatan laboratorium terhadap pelepasan logam berat. Sumber utama Cr di laboratorium Teknik Sipil berasal dari material berbasis semen, beton, dan aspal, yang secara alami mengandung kromium. Selama proses seperti penggerusan sampel, pengujian kuat tekan, pembuatan campuran aspal, hingga pemanasan material. Cr dapat terlepas ke udara sebagai debu halus atau partikulat yang berpotensi terhirup. Selain itu, penggunaan peralatan logam yang mengalami gesekan, pemotongan, ataupun korosi juga dapat menjadi sumber tambahan pelepasan partikel logam, termasuk Kondisi ruang laboratorium yang cenderung tertutup dengan ventilasi yang kurang optimal memperburuk akumulasi polutan, terutama saat praktikum berlangsung dengan intensitas tinggi. Persepsi Risiko Pengguna Laboratorium Teknik Sipil Untuk mengetahui persepsi risiko dan paparan peserta terhadap kualitas udara serta bahaya di laboratorium teknik sipil, dilakukan survei dengan beberapa pertanyaan terkait kebiasaan, keluhan, dan pemanfaatan alat pelindung diri. Responden diminta mengisi skala frekuensi atas pengalaman dan penilaian mereka selama berada di laboratorium, berikut data yang sudah didapatkan tercantum dalam Tabel 4. Tabel 4. Persepsi Risiko dan Paparan di Laboratorium Teknik Sipil Daftar Pertanyaan Persentase Skala Frekuensi Seberapa sering Anda merasa terpapar debu atau partikel di udara saat melakukan aktivitas di dalam ruang laboratorium? Apakah Anda pernah melihat endapan debu yang signifikan pada permukaan di dalam ruang laboratorium seperti di . antai, meja, dan Apakah Anda pernah mencium bau yang tidak biasa, menyengat, atau berbau logam/kimia di dalam ruang laboratorium? Seberapa sering Anda menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) spesifik untuk pernapasan . isalnya, masker N95/FFP2, respirato. saat berada di laboratorium? Berdasarkan survei yang dilakukan melalui Google Form, sebanyak 14 responden yang seluruhnya merupakan mahasiswa Teknik Sipil memberikan penilaian terkait persepsi risiko dan paparan di laboratorium. Dari jumlah tersebut, 7 responden berasal dari Laboratorium Bahan Konstruksi Teknik dan 7 lainnya dari Laboratorium Jalan Raya . Responden menilai frekuensi paparan dan risiko lingkungan laboratorium melalui empat aspek utama, yaitu paparan debu atau partikulat di udara, keberadaan endapan debu, aroma atau bau tidak biasa, serta frekuensi penggunaan alat pelindung diri (APD) respirasi. Hasil survei memperlihatkan variasi persepsi di antara mahasiswa mengenai kondisi ISSN: p. 2301-475X e. Mayoritas responden menilai paparan debu berada pada kategori AuCukupAy . ,1%) dan AuSeringAy . ,8%), menunjukkan bahwa keberadaan debu cukup menjadi Kategori AuSangatAy mencapai 14%, menunjukkan sebagian responden merasa terpapar dalam tingkat yang cukup signifikan. Penggunaan APD pernapasan sangat rendah. hanya 3,51% yang menjawab AuSelaluAy, sementara kategori AuJarangAy dan AuKurangAy masing-masing sebesar 5,26%. Sebanyak 7,02% responden melaporkan mencium bau menyengat atau bau logam/kimia. Pada aspek pemakaian APD respirasi, mayoritas tidak menggunakannya secara konsisten, dengan kategori AuTidakAy sebesar 12,3% dan AuKadang-kadangAy sebesar 8,77%. Diagram lingkaran persepsi risiko menunjukkan proporsi masing-masing kategori. Makna setiap kategori dijelaskan sebagai berikut: a Cukup: Menggambarkan paparan yang terjadi secara umum namun tidak terlalu a Sedang (Jarang/Kuran. : Menandakan paparan yang rendah dan hanya terjadi a Sering: Mengindikasikan paparan dengan frekuensi tinggi dan sifatnya konsisten. a Sangat: Menunjukkan paparan sangat sering dan signifikan sehingga perlu perhatian pengendalian risiko. a Tidak: Menggambarkan responden yang merasa tidak pernah mengalami paparan atau risiko tersebut. a Kadang-kadang: Paparan terjadi tidak teratur dan hanya pada waktu-waktu a Selalu: Responden mengalami paparan atau selalu menggunakan APD setiap berada di laboratorium. a Tidak Pernah: Menunjukkan responden sama sekali tidak mengalami paparan atau tidak pernah menggunakan APD. Potensi Dampak Kesehatan dan Kesadaran Resiko Laboratorium BKT Untuk mengukur tingkat pemahaman dan persepsi risiko kesehatan di ruang laboratorium, dilakukan survei terhadap para pengguna laboratorium. Survei ini mengangkat beberapa pertanyaan terkait efektivitas pengukuran, pengalaman keluhan kesehatan, tingkat kekhawatiran terhadap kualitas udara, pengetahuan risiko, serta pentingnya pemantauan kualitas udara secara rutin. Para responden diminta memilih salah satu dari empat skala frekuensi untuk setiap pertanyaan, yaitu: Sangat. Cukup. Kurang, dan Tidak. Rekapitulasi hasil kuesioner ditampilkan pada Tabel 5. ISSN: p. 2301-475X e. Tabel 5. Potensi Dampak Kesehatan & Kesadaran Risiko di Laboratorium Teknik Sipil Daftar Pertanyaan Persentase Skala Frekuensi . Menurut Anda, seberapa efektif sistem ventilasi . isalnya, jendela terbuka, kipas, exhaust fa. yang ada di laboratorium dalam mengurangi debu atau bau tidak sedap? Apakah Anda pernah mengalami keluhan kesehatan berikut ini saat atau setelah beraktivitas di dalam ruang laboratorium? . ika ada berikan keteranga. Seberapa khawatir Anda terhadap dampak jangka panjang dari kualitas udara di dalam ruang laboratorium terhadap kesehatan Anda? Apakah Anda merasa telah mendapatkan informasi yang cukup mengenai risiko kesehatan terkait kualitas udara di dalam ruang laboratorium? Bagaimana pendapat Anda tentang pentingnya pemantauan rutin kualitas udara di laboratorium ini? Data survei diperoleh dari 14 mahasiswa Teknik Sipil, terdiri atas 7 responden dari Laboratorium Bahan Konstruksi Teknik dan 7 dari Laboratorium Jalan Raya. Survei dilakukan melalui Google Form yang memuat pertanyaan mengenai efektivitas ventilasi, pengalaman keluhan kesehatan, tingkat kekhawatiran terhadap kualitas udara, pemahaman mengenai risiko, serta pandangan tentang pentingnya pemantauan kualitas udara secara Diagram lingkaran menggambarkan distribusi persepsi responden terhadap berbagai aspek tersebut, seperti efektivitas pengendalian, pengalaman keluhan, kecemasan terhadap kualitas udara, kecukupan informasi, dan pentingnya monitoring rutin. a Cukup . ,6%): Merupakan proporsi terbesar, menunjukkan bahwa sebagian besar responden menilai efektivitas pengukuran, pengalaman keluhan, tingkat kekhawatiran, serta informasi risiko berada pada tingkat cukup. Hal ini mengindikasikan bahwa responden merasa relatif terlindungi, meskipun masih terdapat ruang untuk perbaikan. a Sangat . ,5%): Kelompok ini memiliki persepsi risiko yang sangat tinggi dan menilai kualitas udara sebagai aspek yang perlu mendapat perhatian serius, termasuk upaya pengendalian yang lebih optimal. a Tidak . ,6%): Responden pada kategori ini merasa tidak mengalami keluhan signifikan atau tidak terlalu khawatir terhadap kualitas udara, kemungkinan karena persepsi lingkungan laboratorium yang dinilai cukup aman atau minimnya ISSN: p. 2301-475X e. pengalaman paparan. a Kurang . ,3%): Menunjukkan responden yang merasa kurang memperoleh informasi atau kurang merasakan dampak risiko, sehingga diperlukan peningkatan edukasi serta sosialisasi terkait potensi bahaya di laboratorium. Dalam analisis persepsi risiko dan potensi dampak kesehatan, diagram lingkaran menunjukkan interpretasi kategori berikut: a Cukup: Responden menilai paparan risiko, dampak kesehatan, atau tingkat kesadaran berada pada kategori moderat sering terjadi namun tidak dominan. a Sedang: Umumnya sepadan dengan kategori AucukupAy dan menggambarkan kondisi risiko yang tidak rendah tetapi juga tidak tinggi, sehingga tetap memerlukan a Sangat: Mengindikasikan paparan atau kekhawatiran yang sangat tinggi, menunjukkan perlunya tindakan pengendalian lebih intensif. a Tidak: Responden merasa tidak pernah atau hampir tidak pernah mengalami paparan atau dampak kesehatan terkait risiko laboratorium. a Kurang: Menandakan minimnya pengetahuan, pengalaman, atau kesadaran risiko, sehingga perlu adanya edukasi tambahan bagi pengguna laboratorium. IV. Kesimpulan Penelitian ini dilakukan di dalam ruang Laboratorium Teknik Sipil Universitas Islam Indonesia. Penelitian ini memberikan hasil yang dapat disimpulkan : Analisis Hasil Data TSP. Pb, dan Cr a Konsentrasi TSP (Total Suspended Particulat. tertinggi ditemukan pada Titik 3 Laboratorium Jalan Raya 2 saat praktikum sebesar 2,888 mg/mA, sedangkan konsentrasi terendah pada Titik 1 Laboratorium Bahan Konstruksi Teknik saat tidak praktikum yaitu 0,289 mg/mA. a Untuk Pb (Timba. , nilai tertinggi tercatat di Titik 3 Laboratorium Jalan Raya 2 saat praktikum sebesar 0,065888 mg/mA , dan terendah di Titik 1 Laboratorium Bahan Konstruksi Teknik baik saat praktikum maupun tidak praktikum yaitu 0,003575 mg/mA. a Pada parameter Cr (Kromiu. , konsentrasi tertinggi juga terdapat di Titik 3 Laboratorium Jalan Raya 2 saat praktikum sebesar 0,0024 mg/mA, sedangkan nilai terendah di Titik 2 Laboratorium Jalan Raya 1 saat tidak praktikum yaitu 0,0001 mg/mA. Persepsi Risiko dan Paparan serta Potensi Dampak Kesehatan & Kesadaran Risiko a Hasil survei persepsi risiko dan paparan menunjukkan bahwa persentase tertinggi terdapat pada "cukup" . ,1%) yang merujuk pada jawaban mahasiswa terhadap pertanyaan tentang seberapa sering mereka merasa terpapar debu, partikel di udara, atau mengalami gejala akibat aktivitas di laboratorium. Sebaliknya, persentase terendah seperti "selalu" . ,51%) atau "tidak pernah" . ,02%) ISSN: p. 2301-475X e. berkaitan dengan respons atas penggunaan alat pelindung diri secara konsisten dan pengulangan paparan langsung setiap berada di dalam laboratorium. a Pada aspek potensi dampak kesehatan dan kesadaran risiko sebagian besar responden . ,6%) menjawab AucukupAy, artinya mereka merasa sistem ventilasi, informasi risiko, serta pemantauan kualitas laboratorium udara sudah cukup memberi perlindungan dan pengetahuan terkait dampak kesehatan. Sedangkan persentase terendah seperti "kurang" . ,3%) dan berasal dari respon yang kurang yakin efektifnya pengukuran, kurang informasi, atau menganggap risiko kesehatan minim. Daftar Pustaka