SEPREN: Journal of Mathematics Education and Applied E-ISSN: 2686-4452 . doi: https://doi. org/10. 36655/sepren. Vol. No. 01, pp. November 2024 Upaya Meningkatkan Kemandirian Belajar Matematika sebagai Pilar Pendidikan Karakter di Tingkat SMP: Tinjauan Literatur La Roy 1. Nur Robiah Nofikusumawati Peni 2 1, 2 Program Studi Pendidikan Matematika. Fakultas Pendidikan dan Keguruan. Universitas Ahmad Dahlan 2208050017@webmail. Abstract This article highlights the urgency of enhancing mathematics learning independence as a pillar of character education at the junior high school level. Focusing on students' lack of learning independence, the article explains the relevance of a positive attitude towards independent learning in the context of mathematical literacy. The article provides study findings that address influences on children's learning independence and achievement, including peer environment, learning motivation, family social interaction and school tactics, through a literature review. The findings demonstrate the important impact of learning independence in improving academic Improving learning independence can be done through the application of contextual learning models, social environment and parental support. This study offers several solutions, including the creation of creative learning models, evaluation of curriculum implementation that emphasizes learning independence, and interventions that focus on the causes of low independence. Future research is expected to make a real contribution in advancing mathematics learning independence at the junior high school level. Keyword: Learning Independence in Mathematics. Character Education. Literature Study. Abstrak Artikel ini menyoroti urgensi peningkatan kemandirian belajar matematika sebagai pilar pendidikan karakter di tingkat SMP. Berfokus pada kurangnya kemandirian belajar peserta didik, artikel menjelaskan relevansi sikap positif terhadap pembelajaran mandiri dalam konteks literasi Artikel ini memberikan temuan studi yang membahas pengaruh terhadap kemandirian dan prestasi belajar anak, termasuk lingkungan teman sebaya, motivasi belajar, interaksi sosial keluarga, dan taktik sekolah, melalui tinjauan literatur. Temuan ini menunjukkan dampak penting dari kemandirian belajar dalam meningkatkan pencapaian akademik. Peningkatan kemandirian belajar dapat dilakukan melalui penerapan model pembelajaran kontekstual, lingkungan sosial, dan dukungan orang tua. Studi ini menawarkan beberapa solusi, termasuk penciptaan model pembelajaran yang kreatif, evaluasi implementasi kurikulum yang menekankan pada kebebasan belajar, dan intervensi yang terfokus pada penyebab rendahnya Penelitian selanjutnya diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam memajukan kemandirian belajar matematika di tingkat SMP. Kata Kunci: Kemandirian Belajar Matematika. Pendidikan Karakter. Studi Literatur. Pendahuluan Salah satu ciri karakter bangsa, atau salah satu fungsi dan tujuan pendidikan nasional, adalah pola pikir yang mandiri, dan ini sangat penting untuk kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara (Akhirman, 2017. Huda et al. , 2019. Saefullah et al. , 2. Peserta didik yang kurang memiliki kemandirian akademis lebih rentan terhadap tekanan teman sebaya (Kiptiyah et al. , 2. Hal ini sejalan dengan penelitian Kholifasari et al . , yang menemukan bahwa rendahnya kebebasan belajar dan jarangnya pertanyaan yang berhubungan dengan literasi matematika bagi peserta didik dapat berkontribusi pada rendahnya kemampuan literasi matematika. Banyak variabel yang dapat berkontribusi pada rendahnya literasi matematika peserta didik. Kemandirian belajar adalah salah SEPREN: Journal of Mathematics Education and Applied E-ISSN: 2686-4452 . doi: https://doi. org/10. 36655/sepren. Vol. No. 01, pp. November 2024 satunya yaitu kemandirian belajar (Kholifasari et al. , 2. Penanaman nilai karakter mandiri memerlukan upaya agar peserta didik dapat belajar tentang karakter dan sikap mandiri (Wuryandani et al. , 2. Nilai kemandirian harus ditanamkan pada setiap peserta didik, karena kelangsungan hidup tidak selalu bergantung pada hubungan interpersonal (Sundayana, 2019. Chandrasari et al. Peserta didik yang mandiri dan mampu mengaktualisasikan kehendak mereka sendiri dianggap mandiri (Putra, 2019. Ramadani et al. , 2. Konsep "kemandirian belajar" menggambarkan kesadaran seseorang akan kemampuannya untuk belajar sendiri, mencari sumber belajar sendiri, membuat jadwal belajar sendiri, dan terlibat dalam evaluasi diri dan peningkatan pembelajaran (Abror, 2. Peserta didik yang memiliki kebebasan belajar mampu memecahkan masalah, belajar baik secara individu maupun kelompok, berani menyuarakan pendapatnya, dan independen dari orang lain (STKIP, 2. kemandirian dapat ditentukan dengan mencari sikap positif dalam belajar baik secara mandiri maupun dengan guru (Lusiana et al. , 2. Peserta didik didorong untuk membangun kemandirian belajar dalam rangka menguasai kompetensi yang dibutuhkan dan mendapatkan alat dan strategi untuk mengeksplorasi pengetahuan mereka dengan metode mereka sendiri untuk memenuhi tujuan yang diinginkan (Larasati et al. , 2. Mempertimbangkan temuan-temuan dari investigasi awal yang dilakukan oleh Afandy & Listyaningsih . mengatakan bahwa hanya sekitar 25% peserta didik yang menyelesaikan tugas sekolah mereka dengan tekun, dan sisanya terdiri dari mereka yang hanya menyelesaikan sebagian tugas dan mereka yang tidak menyelesaikannya sama sekali. Berdasarkan statistik tersebut, dapat disimpulkan bahwa sejumlah besar peserta didik terus mengabaikan tugas yang diberikan oleh guru mereka. Oleh karena itu, sangat penting untuk menumbuhkan budaya kemandirian belajar untuk meningkatkan semangat dan ketekunan peserta didik dalam menyelesaikan tugas-tugas mereka. Salah satu argumen utama yang mendukung peserta didik belajar secara mandiri adalah banyaknya referensi saat ini melalui berbagai media. Belajar tidak terbatas pada ruang kelas, pembelajaran dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Sekarang ada lebih banyak alternatif bagi peserta didik untuk belajar dari pada hanya dari guru mereka. Menurut Ansori & Herdiman, . Salah satu hal yang berkontribusi terhadap masalah saat ini adalah bahwa di setiap kelas, instruktur sering kali menjadi titik fokus dari proses pembelajaran . erpusat pada gur. , dengan peserta didik hanya berfungsi sebagai objek yang diinginkan. Mayoritas peserta didik tidak menyelesaikan tugas mereka sendiri karena beberapa dari mereka meniru pekerjaan peserta didik lain yang lebih pintar atau lebih paham dalam menyelesaikan tantangan. Agar peserta didik dapat berkembang dalam pengetahuan mereka sendiri, pembelajaran mandiri diperlukan (Arifin & Herman, 2. Peserta didik menunjukkan kemandirian belajar yang lebih besar dengan semakin beragamnya kegiatan yang mereka ikuti (Kurnia et al. , 2. Untuk meningkatkan kemandirian belajar matematika peserta didik, sangat penting untuk mengidentifikasi kurikulum yang dapat membantu kemandirian peserta didik dalam mata pelajaran tersebut. Hal ini dapat dicapai dengan menciptakan pembelajaran yang melibatkan peserta didik dan meningkatkan keinginan mereka untuk belajar lebih banyak secara mandiri, serta dengan memanfaatkan model pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk secara aktif belajar dan memperluas pengetahuan mereka dari berbagai sumber belajar (Nurhafsari & Sabandar, 2. Peserta didik yang sangat mandiri biasanya bekerja lebih baik dengan pengawasan mereka sendiri daripada di dalam kelas. Selain itu, peserta didik juga lebih baik dalam hal manajemen waktu dan pengorganisasian belajar, pemantauan, dan keterampilan analisis. Peserta didik juga dapat menyelesaikan pekerjaan lebih cepat. Dengan kata lain, peserta didik yang menunjukkan tingkat kemandirian belajar yang tinggi akan lebih mampu memenuhi ekspektasi program akademik mereka (Apriliyani et al. , 2. Menurut Hasanah & Imami . penelitiannya mencakup penanda kemandirian belajar peserta didik berikut: . kepercayaan diri. tanggung jawab. tidak bergantung terhadap orang lain. kepuasan dengan pembelajaran berbasis masalah. Sikap bertanggung jawab terhadap tugas adalah salah satu tanda kemandirian belajar peserta didik. didik yang mandiri diharapkan untuk mengawasi semua aspek pendidikan mereka, termasuk SEPREN: Journal of Mathematics Education and Applied E-ISSN: 2686-4452 . doi: https://doi. org/10. 36655/sepren. Vol. No. 01, pp. November 2024 penetapan tujuan dan fokus tugas (Ningsih et al. , 2. Mayoritas peserta didik masih belum mampu menemukan, mengenali, mengkarakterisasi, dan mengkomunikasikan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari soal sendiri. Peserta didik hanya menerima apa yang diberikan kepada mereka dan sangat bergantung pada guru mereka (Ainun & Asri, 2. Artikel ini didasari oleh urgensi peningkatan kemandirian belajar matematika sebagai pilar pendidikan karakter di tingkat SMP. Latar hasil studi pendahuluan yang menunjukkan bahwa sebagian besar peserta didik masih kurang mandiri dalam menyelesaikan tugas-tugas matematika di Oleh karena itu, pemilihan judul Upaya Meningkatkan Kemandirian Belajar Matematika sebagai Pilar Pendidikan Karakter di Tingkat SMP: Tinjauan Literatur bertujuan untuk mengeksplorasi konsep kemandirian belajar matematika dalam konteks pendidikan karakter. Gap yang teridentifikasi dalam literatur adalah kurangnya data yang spesifik mengenai tren kemandirian belajar serta keterbatasan dalam menjelaskan implementasi konkret di kelas. Diharapkan bahwa penelitian ini akan memberikan pemahaman yang menyeluruh mengenai variabel-variabel yang mempengaruhi kemandirian belajar matematika serta saran-saran yang berguna untuk meningkatkan kemandirian belajar di tingkat sekolah menengah pertama. Metode Penelitian Studi literatur adalah metode penelitian yang digunakan. Studi literatur adalah teknik untuk mengumpulkan informasi dari sumber atau data yang berkaitan dengan pokok bahasan yang dibahas dalam sebuah penelitian (Parinata & Puspaningtyas, 2. Buku teks, jurnal, publikasi ilmiah, dan tinjauan literatur yang membahas topik penelitian merupakan sumber data yang digunakan (Fatimah & Puspaningtyas, 2022. Kartiningrum, 2. Sebuah tinjauan literatur harus melalui berbagai tahapan atau prosedur. Menurut Rahayu et al. , . , tahapan-tahapan tersebut terbagi ke dalam lima kategori: . mendefinisikan ruang lingkup topik. menemukan sumber-sumber yang relevan. meninjau literatur. menyusun tinjauan. mengaplikasikan literatur tersebut ke dalam Hasil Penelitian dan Pembahasan 1 Hasil Tabel berikut ini menyajikan temuan data penelitian yang termasuk dalam tinjauan literatur ini, yang terdiri dari analisis dan ringkasan artikel yang ditulis tentang kemandirian belajar dalam pembelajaran matematika. Tabel 1. Hasil Penelitian Terhadap Kemandirian Belajar Peneliti & Tahun (Mulyaningsih, 2. Judul Jurnal Pengaruh interaksi motivasi belajar, dan kemandirian belajar Metode Penelitan disain korelasional (R. Ningsih Nurrahmah, 2. Pengaruh kemandirian belajar dan perhatian orang tua terhadap prestasi belajar matematika Metode Hasil Penelitian Setelah dianalisis , bukti empiris menunjukkan bahwa kemandirian belajar, dorongan berprestasi, dan hubungan sosial yang dialami anak dalam signifikan terhadap prestasi akademik peserta didik SMK Negeri 5 Surakarta . Perhatian orang tua dan kemandirian belajar memiliki dampak positif yang substansial terhadap kemampuan belajar Kemandirian belajar dan perhatian orang tua menyumbang 45,3% dari total kontribusi terhadap prestasi belajar matematika, sedangkan SEPREN: Journal of Mathematics Education and Applied E-ISSN: 2686-4452 . doi: https://doi. org/10. 36655/sepren. Vol. No. 01, pp. November 2024 (Rahayu, 2. Pengaruh lingkungan teman sebaya dan terhadap hasil belajar ekonomi siswa kelas X IIS SMA negeri 1 sewon tahun ajaran 2016/2017 Penelitian ini bersifat (Ainun & Asri, 2. Peningkatan Kemampuan Penalaran Matematis Dan Kemandirian Belajar Siswa SMPN 1 Suka Makmur Melalui Pendekatan Contextual metode eksperimen dengan pendekatan (Afandy Listyaningsih, 2. Strategi Sekolah dalam Menanamkan Karakter Kemandirian Belajar pada Siswa Pasca Pandemi di SMPN 3 Waru Sidoarjo Implementasi Bimbingan Kelompok Dalam Upaya Peningkatan Kemandirian Belajar Siswa Pengaruh Kemandirian Belajar Terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa SMP Negeri 1 Peterongan penelitian kuantitatif (Ramadani (STKIP, 2. ibrary faktor lain menyumbang 54,7%. Lingkungan teman sebaya belajar ekonomi siswa kelas X IIS SMA Negeri 1 Sewon tahun ajaran 2016-2017. Koefisien regresi sebesar 0,857, nilai signifikansi sebesar 0,000, dan nilai thitung sebesar 5,732 mendukung hal ini. Temuan ini menunjukkan bahwa hasil meningkat seiring dengan kualitas lingkungan teman sebaya mereka. peserta didik yang belajar menggunakan pendekatan CTL yang lebih besar dalam dengan peserta didik yang belajar menggunakan metode Menggunakan dipandang sebagai cara yang efektif untuk meningkatkan antusiasme peserta didik dalam bahwa sikap peserta didik yang percaya diri, mampu bekerja mandiri, mampu menghargai waktu, mampu bertanggung keinginan untuk maju, dan berani dalam pengambilan bimbingan kelompok dalam upaya meningkatkan nilai kemandirian peserta didik. Terdapat prestasi belajar matematika peserta didik SMP Negeri 1 Peterongan dengan tingkat Jika dibandingkan dengan nilai r menghasilkan nilai r_. = 0,406. hal ini menunjukkan dengan besaran interpretasi berada di antara 0,400 dan 0,599. SEPREN: Journal of Mathematics Education and Applied E-ISSN: 2686-4452 . doi: https://doi. org/10. 36655/sepren. Vol. No. 01, pp. November 2024 (Lusiana et al. , 2. Kemandirian Belajar dan Persepsi Siswa Mengenai Guru Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa SMK Penelitian ini berjenis (Larasati et al. , 2. Analisis Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Ditinjau Dari Kemandirian Belajar Peserta Didik Kelas Vi Pada Materi SPLDV deskriptif kualitatif (Abror, 2. Self-regulated matematika siswa deskriptif kuantitatif Analisis Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa SMP Ditinjau dari Kemandirian Belajar (Apriliyani Kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah matematika secara signifikan dipengaruhi oleh kemandirian belajar, serta persepsi mereka terhadap guru. Kemandirian belajar dan persepsi peserta didik terhadap guru juga dipengaruhi secara signifikan satu sama lain. Pengaruh kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah Pemahaman konseptual peserta didik kelas Vi SMPN 227 tentang matematika termasuk dalam kelompok sedang, yaitu sebesar 41,56% dari sampel. Argumen ini membawa kita peserta didik terhadap ide-ide matematika karena hal ini memberi mereka lebih banyak meningkatkan akurasi mereka saat memecahkan masalah. Di salah satu SMP Negeri di Kota Serang, kemandirian belajar dan selfregulated learning tidak terlalu berpengaruh terhadap hasil belajar matematika peserta Temuan menunjukkan bahwa individu dengan tingkat kebebasan belajar yang tinggi memenuhi persyaratan untuk berpikir kreatif dalam hal kefasihan, fleksibilitas, dan kebaruan, yang mengarah pada klasifikasi mereka sebagai pemikir yang sangat kreatif. Namun, subjek dengan kemandirian belajar yang rendah hanya memenuhi indikator berpikir kreatif di bidang kefasihan, membuat Sebaliknya, subjek dengan kemandirian belajar sedang memenuhi indikator berpikir kreatif dalam bidang kefasihan dan fleksibilitas, sehingga SEPREN: Journal of Mathematics Education and Applied E-ISSN: 2686-4452 . doi: https://doi. org/10. 36655/sepren. Vol. No. 01, pp. November 2024 menjadikan mereka kreatif. (Hasanah & Imami. Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Kelas SMP Ditinjau Dari Kemandirian Belajar Siswa Peserta didik dengan kategori kemandirian belajar tinggi dapat menyelesaikan semua indikasi pemecahan masalah dan melakukan dengan baik matematika, sesuai dengan temuan penelitian dan diskusi Kelompok peserta didik ini menyukai pelajaran mempelajari topik sebelumnya, dan sering berdiskusi dengan teman sebaya. Meskipun ada beberapa indikasi yang belum terpenuhi dengan baik, seperti pemeriksaan ulang, peserta kemandirian belajar sedang masih dapat mengerjakan tes masalah matematis dengan Peserta didik dalam kategori kemandirian sedang tidak terlalu sering berbicara dengan teman sebayanya, menyelesaikan masalah dengan kurang hati-hati, dan tidak mereka, yang menghasilkan jawaban yang kurang akurat. Sementara itu, tes kemampuan matematika terbukti sulit untuk dilalui oleh peserta didik dalam kategori kemandirian belajar Meskipun mereka belum memenuhi indikasi pemecahan masalah lainnya, peserta didik dalam kategori ini mampu memenuhi beberapa di Selain itu, diketahui anak-anak kemandirian belajar yang rendah membenci matematika, yang membuat mereka tidak menyelesaikan tes kemampuan pemecahan masalah. Kebebasan belajar memainkan peran utama dalam meningkatkan prestasi belajar peserta didik, seperti yang dapat dilihat dari tabel data dari beberapa penelitian di atas. Faktor-faktor seperti interaksi sosial keluarga, perhatian orang tua, lingkungan teman sebaya, pendekatan pembelajaran. SEPREN: Journal of Mathematics Education and Applied E-ISSN: 2686-4452 . doi: https://doi. org/10. 36655/sepren. Vol. No. 01, pp. November 2024 strategi sekolah, bimbingan kelompok, dan persepsi terhadap guru juga turut memengaruhi prestasi belajar dan kemandirian belajar peserta didik. Dengan demikian, peningkatan kemandirian belajar peserta didik perlu menjadi perhatian dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan. 2 Pembahasan Dalam tinjauan literatur yang mendalam tentang upaya meningkatkan kemandirian belajar matematika di tingkat SMP, berbagai penelitian memberikan gambaran yang kaya tentang faktorfaktor yang memengaruhi karakteristik ini. Penelitian Mulyaningsih . menekankan pada nilai kebebasan belajar, motivasi belajar, dan kontak sosial keluarga dalam meningkatkan prestasi akademik peserta didk. Temuan ini menunjukkan bahwa integritas dan dukungan dari lingkungan sosial serta inisiatif belajar peserta didik berperan signifikan. Selain itu, penelitian Ningsih & Nurrahmah . menyoroti dampak positif dan signifikan dari perhatian orang tua dan kemandirian belajar terhadap prestasi belajar matematika. Hal ini menunjukkan bagaimana peran dukungan dan perhatian orang tua sangat penting dalam membantu anak-anak mengembangkan kemandirian untuk belajar. Selain itu, strategi pembelajaran juga memainkan peran penting. Penelitian Ainun & Asri . menunjukkan bagaimana kemampuan penalaran matematis dan kemandirian belajar siswa SMP dapat ditingkatkan dengan strategi pembelajaran kontekstual. Temuan ini mengindikasikan bahwa kemandirian belajar dapat ditingkatkan melalui desain instruksional yang mempertimbangkan konteks dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi lebih aktif dalam proses pembelajaran. Dukungan sekolah juga terbukti efektif, seperti yang ditemukan dalam penelitian Afandy & Listyaningsih . , di mana penggunaan reward dan punishment dalam menanamkan karakter kemandirian belajar pada peserta didik dinilai efektif dalam meningkatkan semangat belajar. Oleh karena itu, implementasi model pembelajaran yang mempertimbangkan aspek psikologis dan motivasi peserta didik perlu diperhatikan agar dapat mengoptimalkan kemandirian belajar matematika di tingkat SMP. Terkait pengukuran korelasi antara kemandirian belajar dan prestasi belajar matematika, penelitian STKIP . menunjukkan bahwa prestasi belajar dan kemandirian belajar siswa SMP berkorelasi positif. Dengan demikian, peningkatan kemandirian belajar dapat dianggap sebagai strategi penting dalam meningkatkan pencapaian akademis. Kesimpulan dari tinjauan literatur ini mendukung urgensi peningkatan kemandirian belajar matematika sebagai pilar pendidikan karakter di tingkat SMP. Oleh karena itu, inovasi dan implementasi strategi pembelajaran yang menekankan peran aktif peserta didik, dukungan dari lingkungan sosial dan orang tua, serta dukungan sekolah, menjadi kunci dalam mencapai tujuan ini. Temuan dari tinjauan literatur ini menggambarkan pentingnya peran lingkungan sosial, strategi pembelajaran yang kontekstual, dukungan dari sekolah, serta korelasi positif antara kemandirian belajar dan prestasi belajar matematika peserta didik di tingkat SMP. Penelitian menyoroti bahwa interaksi sosial keluarga dan perhatian orang tua memainkan peran penting dalam membentuk kemandirian belajar peserta didik, sementara strategi pembelajaran yang mempertimbangkan konteks dan motivasi aktif peserta didik berperan dalam meningkatkan kemandirian belajar dan pencapaian akademis. Implementasi model pembelajaran yang mendukung kemandirian belajar, seperti penggunaan reward dan punishment, juga terbukti efektif dalam meningkatkan semangat belajar. Dengan demikian, peningkatan kemandirian belajar dapat dianggap sebagai strategi yang penting dalam meningkatkan prestasi belajar matematika dan merangsang berpikir kreatif peserta didik di tingkat SMP. Temuan dari tinjauan literatur tersebut memiliki implikasi signifikan bagi keilmuan yang relevan dengan tujuan penelitian ini tentang peningkatan kemandirian belajar matematika di tingkat SMP. Pemahaman tentang peran lingkungan sosial dan dukungan orang tua dalam membentuk kemandirian belajar menyumbangkan wawasan yang mendalam tentang interaksi sosial dalam Selain itu, penekanan pada strategi pembelajaran yang mempertimbangkan konteks dan motivasi aktif peserta didik membuka peluang untuk pengembangan pendekatan pembelajaran yang SEPREN: Journal of Mathematics Education and Applied E-ISSN: 2686-4452 . doi: https://doi. org/10. 36655/sepren. Vol. No. 01, pp. November 2024 lebih adaptif. Temuan tentang korelasi positif antara kemandirian belajar dan prestasi belajar matematika memberikan pembenaran empiris untuk fokus pada peningkatan kemandirian belajar sebagai strategi untuk meningkatkan pencapaian akademis. Implikasi temuan ini mencakup pengembangan pendekatan pembelajaran yang lebih responsif terhadap kebutuhan peserta didik dan integrasi pendidikan karakter dalam kurikulum matematika di tingkat SMP. Kesimpulan Pentingnya belajar matematika secara mandiri untuk anak-anak dibahas dalam artikel ini karena matematika adalah mata pelajaran yang sangat penting untuk pendidikan karakter. Artikel ini menyoroti bahwa masalah utamanya adalah kurangnya kemandirian peserta didik, yang membuat mereka rentan terhadap tekanan teman sebaya dan literasi matematika yang belum baik. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan untuk mengembangkan model pembelajaran inovatif yang dapat secara khusus meningkatkan kemandirian belajar matematika peserta didik. Langkah-langkah implementasi kurikulum yang fokus pada pengembangan kemandirian belajar perlu dievaluasi untuk memastikan keberhasilannya. Penting juga untuk melakukan intervensi yang terarah terhadap faktorfaktor penyebab rendahnya kemandirian belajar, seperti pelatihan guru atau program pembinaan bagi peserta didik. Dengan menerapkan langkah-langkah ini, diharapkan penelitian selanjutnya dapat secara signifikan meningkatkan kemandirian belajar matematika sebagai komponen penting dari pendidikan karakter di SMP. Referensi