ANALISIS LITERASI DAN NUMERASI SISWA KELAS I DALAM PEMBELAJARAN ABAD-21 Miftakhunnisa Damayanti1. Wawan Shokib Rondli2. Yuni Ratnasari3 1,2,3 Program Studi Magister Pendidikan Dasar. Universitas Muria Kudus Miftakhunnisadamayanti2007@gmail. com 1, wawan. shokib@umk. id 2, yuni. ratnasari@umk. Abstract: This study examines the literacy and numeracy challenges experienced by first-grade students at MI AlFattah through the framework of 21st-century learning. Using a descriptive qualitative approach, the research involved 11 students whose learning behaviors were explored through observation, interviews, and Findings indicate notable difficulties in early literacy, including limited letter recognition, weak phonological awareness, slow decoding ability, and low comprehension of simple texts. In numeracy, students struggled with understanding number concepts, comparing quantities, sequencing numbers, and performing basic arithmetic operations. These difficulties are influenced by several factors such as insufficient learning readiness, minimal home support, and conventional classroom practices that do not fully integrate 21st-century competencies. When analyzed through the lens of modern learning demands, the instructional process in the classroom has not yet embraced essential 4C skills critical thinking, creativity, collaboration, and communication nor incorporated digital and concrete learning media effectively. The study concludes that implementing 21st-century learning principles through collaborative activities, contextual problem-solving, phonics-based reading strategies, and simple technology can strengthen foundational literacy and numeracy skills. Recommendations for instructional improvement and future practice are provided. Keywords: Digital 21st-century learning, early literacy, numeracy skills, elementary education, learning Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis permasalahan literasi dan numerasi yang dialami siswa kelas I MI Al-Fattah dalam perspektif pembelajaran abad-21. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan melibatkan 11 siswa yang diamati melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan pada literasi awal, seperti pengenalan huruf, kesadaran fonologis yang lemah, lambat dalam mengeja, serta rendahnya pemahaman teks sederhana. Pada aspek numerasi, siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep bilangan, membandingkan kuantitas, menyusun urutan angka, serta melakukan operasi hitung dasar. Faktor penyebab meliputi rendahnya kesiapan belajar, minimnya dukungan belajar dari rumah, dan pembelajaran yang masih bersifat konvensional serta belum mengintegrasikan keterampilan abad-21. Ditinjau dari perspektif pembelajaran abad-21, proses pembelajaran di kelas belum sepenuhnya menerapkan keterampilan 4C, media konkret, maupun teknologi pembelajaran. Hasil penelitian menegaskan bahwa penerapan strategi pembelajaran abad21 melalui kegiatan kolaboratif, pemecahan masalah kontekstual, strategi fonik, dan pemanfaatan teknologi sederhana dapat meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi dasar siswa. Kata Kunci: Pengembangan Media pembelajaran. EMI-PPKN. Digital Copyright A2020 Scholastica Journal : Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar dan Pendidikan Dasar Published by Universitas PGRI Palembang. This work is licensed under the Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. International License. Scholastica Journal Vol. No. 2, pp. September 2023 PENDAHULUAN Literasi dan numerasi merupakan kompetensi fundamental yang harus dikuasai siswa kelas awal Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyyah. Literasi dan numerasi menjadi landasan utama dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika di kelas I SD/MI, karena literasi berperan dalam mengembangkan kemampuan membaca, menulis, menyimak, dan memahami teks sederhana secara sistematis dan bermakna, sedangkan numerasi berfungsi untuk membangun pemahaman konsep bilangan, operasi hitung dasar, serta penerapan prinsip matematika dalam konteks kehidupan sehari-hari. Penguasaan kedua kompetensi tersebut mendukung terciptanya proses pembelajaran yang efektif serta mengembangkan kemampuan berpikir logis dan kritis peserta didik sejak jenjang awal pendidikan dasar. Literasi tidak hanya bermakna kemampuan membaca, tetapi juga mencakup kemampuan memahami, mengolah, dan menggunakan informasi (Kemendikbud. Numerasi diartikan sebagai kemampuan berpikir menggunakan konsep bilangan dan matematika dalam kehidupan sehari-hari (OECD, 2. Kedua kemampuan tersebut menjadi fondasi bagi keterampilan berpikir tingkat tinggi yang menjadi tuntutan pembelajaran abad-21 (Trilling & Fadel, 2. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak siswa kelas awal masih menghadapi kesulitan dalam menguasai literasi dan numerasi dasar. Tantangan ini semakin kompleks ketika pembelajaran abad-21 menuntut integrasi keterampilan 4C-critical thinking, creativity, collaboration, dan communication serta literasi digital sebagai bagian dari kompetensi belajar di era modern (Redhana, 2. Kondisi ini menuntut guru untuk mampu merancang pembelajaran yang adaptif, inovatif, dan responsif terhadap karakteristik belajar siswa usia dini. MI Al-Fattah sebagai lembaga pendidikan dasar juga mengalami persoalan serupa, khususnya dalam upaya mengoptimalkan penguasaan kemampuan literasi dan numerasi siswa kelas awal yang menjadi fondasi utama keberhasilan pembelajaran pada jenjang selanjutnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan pengembangan literasi dan numerasi tidak hanya bersifat individual pada peserta didik, tetapi juga berkaitan dengan kompleksitas proses pembelajaran di pendidikan dasar yang menuntut pendekatan pedagogis yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan belajar siswa kelas I. Kesulitan ini berpengaruh pada capaian pembelajaran serta motivasi belajar siswa. Berdasarkan temuan peneliti melalui hasil observasi dan wawancara dengan peserta didik serta guru, diketahui bahwa kemampuan literasi dan numerasi siswa kelas I MI Al-Fattah masih menghadapi berbagai kendala. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, siswa mengalami hambatan dalam mengenal huruf, membaca suku kata, serta memahami bacaan sederhana, yang berdampak Scholastica Journal Vol. No. 2, pp. September 2023 pada keterbatasan mereka dalam mengikuti kegiatan membaca dan menulis secara optimal. Sementara itu, pada pembelajaran Matematika, sebagian siswa belum mampu mengenal angka dengan baik serta mengalami kesulitan dalam melakukan operasi hitung sederhana, sehingga pemahaman konsep numerasi dasar belum berkembang secara maksimal. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa rendahnya literasi dan numerasi pada siswa awal dipengaruhi oleh kesiapan belajar, lingkungan keluarga, serta kurang variatifnya metode pembelajaran (Sari & Malik, 2020. Fitriani, 2. Kesiapan belajar yang belum optimal menyebabkan siswa kesulitan mengikuti proses pembelajaran secara efektif, terutama dalam memahami konsep dasar membaca, menulis, dan berhitung. Selain itu, lingkungan keluarga yang kurang mendukung serta penggunaan metode pembelajaran yang monoton dapat menghambat perkembangan kemampuan literasi dan numerasi siswa secara berkelanjutan. Di sisi lain, pendekatan pembelajaran abad-21 dinilai mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna dan menarik (Wicaksono, 2. Pendekatan ini menekankan keterlibatan aktif siswa melalui pengembangan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi dalam proses pembelajaran. Selain itu, pemanfaatan media dan teknologi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa kelas awal dapat meningkatkan motivasi belajar serta membantu siswa memahami konsep literasi dan numerasi secara lebih kontekstual. Pembelajaran pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi untuk menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Dalam konteks pembelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika di sekolah dasar, pendekatan ini diwujudkan melalui aktivitas belajar yang aktif, kolaboratif, dan berorientasi pada pemecahan masalah. Pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, siswa tidak hanya dilatih membaca dan menulis, tetapi juga diarahkan untuk memahami teks, mengemukakan pendapat, serta berkomunikasi secara efektif, sehingga kemampuan berpikir kritis dan komunikatif dapat berkembang sejak dini. Pada pembelajaran Matematika, pendekatan pembelajaran abad ke-21 mendorong siswa untuk memahami konsep numerasi melalui kegiatan eksploratif, penggunaan media konkret, serta penyelesaian masalah kontekstual yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Selain itu, pemanfaatan teknologi pembelajaran mendukung guru dalam menyajikan materi Bahasa Indonesia dan Matematika secara lebih interaktif dan bermakna, sehingga proses pembelajaran menjadi relevan dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik di era modern. Scholastica Journal Vol. No. 2, pp. September 2023 Menurut Binkley et al. , pembelajaran abad-21 mencakup keterampilan 4C-critical thinking, creativity, collaboration, dan communication yang harus diintegrasikan dalam setiap aktivitas pembelajaran. Keterampilan tersebut diharapkan mampu menyiapkan siswa menjadi pembelajar mandiri yang mampu memecahkan masalah secara kreatif dan kolaboratif. Guru berperan penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang memfasilitasi keterampilan ini melalui desain pembelajaran yang inovatif dan berbasis pengalaman nyata. Literasi awal adalah kemampuan dasar yang mencakup pengenalan huruf, kesadaran fonologis, kemampuan mengeja, serta memahami teks sederhana. Kemampuan ini menjadi landasan penting bagi anak dalam mempelajari berbagai mata pelajaran di jenjang selanjutnya, sehingga membutuhkan strategi pembelajaran yang tepat dan berkelanjutan. Menurut Cheung & Slavin . , pendekatan fonik dan kegiatan membaca berulang dapat membantu meningkatkan kemampuan decoding dan pemahaman siswa secara signifikan. Selain strategi pembelajaran, lingkungan belajar juga berperan besar dalam pengembangan literasi awal siswa. Lingkungan yang kaya bahan bacaan memungkinkan siswa terekspos pada berbagai bentuk teks sehingga meningkatkan minat baca dan kemampuan memahami informasi. Nurjanah . menegaskan bahwa keterlibatan guru dan keluarga dalam menyediakan stimulasi literasi sangat berpengaruh terhadap perkembangan keterampilan membaca anak. Numerasi awal mencakup kemampuan mengenal angka, memahami konsep kuantitas, menyusun urutan bilangan, dan melakukan operasi hitung sederhana. Kemampuan ini penting karena menjadi dasar pemahaman matematika di jenjang pendidikan berikutnya. Rahayu . menjelaskan bahwa penggunaan media konkret dapat membantu siswa memahami konsep abstrak secara lebih mudah melalui pengalaman langsung. Pembelajaran numerasi yang efektif juga memerlukan pendekatan kontekstual agar siswa dapat mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) memungkinkan siswa belajar melalui situasi yang nyata sehingga membantu mereka mengembangkan pemahaman konsep yang lebih mendalam. Yuliani . menyatakan bahwa RME mampu meningkatkan keterlibatan siswa, terutama dalam memahami konsep bilangan dan operasi dasar. Kesulitan literasi dan numerasi pada siswa umumnya dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terkait, baik internal maupun eksternal. Faktor internal meliputi kesiapan belajar, motivasi, serta perbedaan kemampuan dasar antar siswa yang seringkali tidak merata di kelas. Faktor eksternal mencakup minimnya stimulasi dari lingkungan keluarga, kurangnya media pembelajaran. Scholastica Journal Vol. No. 2, pp. September 2023 dan penggunaan metode mengajar yang masih monoton (Sari & Malik, 2020. Fitriani, 2. Selain itu, guru yang belum menerapkan strategi pembelajaran variatif seringkali menyebabkan siswa menjadi pasif dan kurang terlibat dalam proses belajar. Hal ini berdampak pada rendahnya penguasaan konsep literasi dan numerasi karena siswa tidak memperoleh kesempatan untuk mengeksplorasi dan berlatih secara optimal. Dengan demikian, penting bagi sekolah dan guru untuk merancang pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik abad-21 agar dapat menjawab kebutuhan perkembangan siswa kelas awal. Faktor-faktor ini seringkali menyebabkan siswa kurang termotivasi dan mengalami hambatan dalam memahami konsep literasi maupun numerasi. METODE Jenis dan Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Pendekatan ini dipilih karena penelitian bertujuan untuk menggambarkan secara mendalam dan komprehensif kondisi nyata terkait permasalahan literasi dan numerasi siswa kelas I MI Al-Fattah dalam konteks pembelajaran abad ke-21, tanpa melakukan perlakuan atau eksperimen tertentu. Penelitian kualitatif memungkinkan peneliti memahami fenomena pembelajaran secara alami berdasarkan perspektif peserta didik dan guru. Lokasi dan Subjek Penelitian Penelitian dilaksanakan di MI Al-Fattah, yang merupakan salah satu lembaga pendidikan dasar tingkat Madrasah Ibtidaiyah. Subjek penelitian terdiri atas 11 siswa kelas I dan 1 guru kelas I. Pemilihan subjek dilakukan secara purposive, dengan pertimbangan bahwa siswa kelas I berada pada fase awal penguasaan literasi dan numerasi dasar, serta guru kelas memiliki peran sentral dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika. Objek Penelitian Objek dalam penelitian ini adalah kemampuan literasi dan numerasi siswa kelas I MI AlFattah dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika, serta proses pembelajaran yang diterapkan guru ditinjau dari perspektif pembelajaran abad ke-21. Fokus literasi meliputi pengenalan huruf, kesadaran fonologis, kemampuan membaca suku kata, dan pemahaman bacaan Sementara itu, fokus numerasi mencakup pengenalan angka, pemahaman konsep bilangan, pengurutan bilangan, serta kemampuan melakukan operasi hitung sederhana. Scholastica Journal Vol. No. 2, pp. September 2023 Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan beberapa teknik, yaitu: Observasi Observasi dilakukan secara langsung selama proses pembelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika di kelas I. Observasi bertujuan untuk mengamati aktivitas belajar siswa, keterlibatan siswa dalam pembelajaran, kemampuan literasi dan numerasi yang ditunjukkan siswa, serta penerapan unsur pembelajaran abad ke-21 oleh guru, seperti aktivitas kolaboratif, komunikasi, dan pemecahan masalah. Wawancara Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur kepada guru kelas I dan beberapa siswa. Wawancara dengan guru bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai perencanaan pembelajaran, strategi yang digunakan, kendala yang dihadapi, serta upaya guru dalam mengembangkan literasi dan numerasi siswa. Wawancara dengan siswa dilakukan untuk mengetahui pengalaman belajar, kesulitan yang dialami, serta respons siswa terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika. Dokumentasi Dokumentasi digunakan untuk melengkapi data observasi dan wawancara. Dokumen yang dianalisis meliputi Modul Ajar, hasil tugas siswa, lembar evaluasi, serta catatan refleksi pembelajaran guru. Data dokumentasi digunakan untuk memperkuat temuan penelitian terkait capaian literasi dan numerasi siswa. Instrumen Penelitian Dalam penelitian kualitatif ini, peneliti berperan sebagai instrumen utama. Untuk membantu proses pengumpulan data, peneliti menggunakan pedoman observasi, pedoman wawancara, dan lembar dokumentasi yang disusun berdasarkan indikator literasi, numerasi, dan karakteristik pembelajaran abad ke-21. Teknik Analisis Data Analisis data dilakukan secara interaktif dan berkelanjutan dengan mengacu pada model Miles dan Huberman, yang meliputi tiga tahap, yaitu: Reduksi Data Data yang diperoleh dari observasi, wawancara, dan dokumentasi diseleksi, disederhanakan, dan difokuskan pada informasi yang relevan dengan tujuan penelitian, khususnya terkait permasalahan literasi dan numerasi siswa kelas I. Scholastica Journal Vol. No. 2, pp. September 2023 Penyajian Data Data yang telah direduksi disajikan dalam bentuk deskripsi naratif, tabel, dan kutipan hasil wawancara untuk memudahkan pemahaman dan penarikan makna. Penarikan Kesimpulan Kesimpulan ditarik berdasarkan pola, hubungan, dan temuan yang muncul dari data yang Kesimpulan bersifat sementara dan terus diverifikasi hingga diperoleh hasil yang valid dan konsisten. Keabsahan Data Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menggunakan triangulasi teknik dan sumber. Triangulasi teknik dilakukan dengan membandingkan data hasil observasi, wawancara, dan Sementara itu, triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan informasi yang diperoleh dari siswa dan guru. HASIL DAN PEMBAHASAN Temuan Permasalahan Literasi dan Numerasi Hasil observasi menunjukkan bahwa sebagian besar siswa kelas I MI Al-Fattah masih mengalami hambatan dalam penguasaan literasi dan numerasi dasar. Pada aspek literasi, siswa tampak kesulitan mengenali huruf, membedakan bunyi, membaca suku kata, hingga memahami teks sederhana. Kesulitan tersebut membuat proses membaca menjadi lambat dan kurang lancar, sehingga siswa kehilangan kepercayaan diri ketika diminta membaca di depan kelas. Pada aspek numerasi, siswa mengalami kendala dalam memahami konsep bilangan, mengenal simbol angka, serta menyusun urutan angka dengan benar. Beberapa siswa bahkan menunjukkan pola kesalahan berulang pada penjumlahan dan pengurangan sederhana yang seharusnya dapat dikuasai pada tahap awal. Hal ini menunjukkan bahwa siswa membutuhkan strategi pembelajaran konkret yang memberikan pengalaman langsung dan berulang. Scholastica Journal Vol. No. 2, pp. September 2023 Berikut rangkuman temuan dalam bentuk tabel: Tabel 1. Permasalahan Literasi dan Numerasi Siswa Kelas I MI Al-Fattah Permasalahan Kesulitan mengenal huruf dan membaca Dampak pada Siswa Membaca lambat, kurang percaya diri suku kata Tidak memahami konsep bilangan 1Ae20 Salah menulis dan menyebut angka Sulit melakukan penjumlahan & Jawaban tidak konsisten pengurangan dasar Perhatian mudah teralihkan Fokus rendah, hasil belajar tidak stabil Siswa pasif dalam kegiatan Minim partisipasi membaca/berhitung Keterlibatan orang tua rendah Perkembangan tidak merata Faktor Penyebab Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa perbedaan kesiapan belajar menjadi penyebab utama munculnya kendala literasi dan numerasi pada siswa kelas I. Banyak siswa belum memiliki pengalaman cukup dalam mengenal huruf dan angka sejak dari rumah, sehingga mereka memulai pembelajaran dengan kemampuan dasar yang berbeda-beda. Ketidaksiapan ini berdampak pada lambatnya siswa dalam menyerap materi baru yang membutuhkan pemahaman dasar yang kuat. Selain itu, minimnya stimulasi lingkungan keluarga juga menjadi penyebab yang Sebagian orang tua belum terbiasa memberikan pendampingan belajar di rumah atau menyediakan lingkungan literasi yang memadai, seperti buku bacaan dan aktivitas berhitung Kondisi tersebut membuat siswa tidak mendapatkan kesempatan berlatih secara konsisten di luar sekolah. Dari sisi sekolah, metode pembelajaran yang masih konvensional turut memperburuk Pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru membuat siswa kurang aktif dan hanya menjadi penerima informasi. Minimnya media pembelajaran konkret dan penggunaan teknologi juga membuat proses belajar kurang menarik dan kurang mampu mendukung perkembangan literasi dan numerasi siswa secara optimal. Scholastica Journal Vol. No. 2, pp. September 2023 Tabel 2. Faktor Penyebab Kesulitan Literasi dan Numerasi pada Siswa Kelas I MI Al-Fattah Faktor Penyebab Kesiapan belajar Minim stimulasi Penjelasan Singkat Kemampuan awal siswa dalam mengenal huruf dan angka tidak merata. Orang tua jarang membaca/berhitung di rumah. Dampak Siswa lambat memahami materi Latihan kurang, perkembangan tidak stabil. Metode Pembelajaran masih berpusat pada guru dan kurang aktivitas siswa. Minim media dan Alat peraga & teknologi Pembelajaran kurang menarik, belajar jarang digunakan. fokus siswa rendah. Siswa pasif dan kurang memahami Analisis Perspektif Pembelajaran Abad-21 Jika ditinjau dari perspektif pembelajaran abad-21, pembelajaran yang berlangsung di MI Al-Fattah belum sepenuhnya memenuhi prinsip keterampilan 4C. Kegiatan literasi belum mendorong siswa untuk berkomunikasi, berdiskusi, atau bekerja sama secara aktif dengan teman Selain itu, aktivitas numerasi masih berfokus pada hafalan dan latihan soal sehingga belum memfasilitasi kemampuan berpikir kritis maupun kreativitas. Penggunaan teknologi pembelajaran juga belum diterapkan secara maksimal. Padahal, media digital seperti video fonik, aplikasi berhitung interaktif, dan permainan edukatif dapat membantu menarik perhatian siswa dan meningkatkan motivasi belajar mereka. Integrasi teknologi sederhana mampu memperkuat pengalaman belajar dan membantu siswa memahami konsep dengan cara yang lebih menyenangkan. Pembelajaran yang tidak berorientasi pada 4C berdampak pada rendahnya keterlibatan siswa dalam proses belajar. Akibatnya, siswa cenderung pasif, kurang berinisiatif, dan tidak terbiasa mengemukakan pendapat. Kondisi ini menunjukkan perlunya perbaikan strategi pembelajaran agar lebih sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak dan tuntutan kompetensi Scholastica Journal Vol. No. 2, pp. September 2023 Tabel 3. Analisis Pembelajaran Abad-21 . C & Teknolog. di MI Al-Fattah Aspek Pembelajaran Kondisi Saat Ini Dampak pada Siswa Abad-21 Critical Thinking Creativity Collaboration Numerasi masih berfokus pada hafalan Siswa kurang terlatih & latihan rutin memecahkan masalah Aktivitas kreatif minim dan tidak Ide siswa terbatas, kurang Kegiatan kelompok jarang dilakukan Siswa pasif & kurang bekerja Kesempatan berdiskusi dan membaca Siswa kurang percaya diri lantang masih rendah menyampaikan pendapat Penggunaan Media digital . ideo fonik, aplikasi Motivasi belajar kurang. Teknologi berhitun. belum dimanfaatkan optimal konsep sulit dipahami Keterlibatan Siswa Pembelajaran dominan teacher-centered Siswa pasif, kurang inisiatif Communication dalam belajar Solusi Berbasis Pembelajaran Abad-21 Beberapa solusi pembelajaran abad-21 dapat diterapkan guru untuk mengatasi kendala literasi dan numerasi. Pertama, guru dapat menerapkan strategi berbasis kolaborasi seperti membaca berpasangan, permainan kata, atau diskusi kelompok kecil agar siswa dapat bekerja sama dan saling membantu. Pendekatan ini meningkatkan motivasi siswa sekaligus menumbuhkan keberanian dalam berkomunikasi. Kedua, penggunaan media konkret dan visual sangat bermanfaat untuk membantu siswa memahami materi secara lebih mudah. Kartu huruf, kartu angka, balok hitung, video fonik, dan media manipulatif lainnya efektif digunakan untuk mendukung pemahaman konsep dasar. Media tersebut juga membuat pembelajaran lebih menarik sehingga siswa lebih terlibat secara aktif. Ketiga, integrasi teknologi sederhana dapat membantu menstimulasi kemampuan literasi dan numerasi siswa. Guru dapat menggunakan aplikasi numerasi anak, permainan edukasi digital, atau video pembelajaran singkat untuk memperkuat materi yang diajarkan. Dengan memadukan strategi tradisional dan metode abad-21, proses pembelajaran menjadi lebih menyenangkan. Scholastica Journal Vol. No. 2, pp. September 2023 interaktif, dan sesuai dengan kebutuhan siswa kelas awal. Tabel 4. Solusi Berbasis Pembelajaran Abad-21 untuk Mengatasi Masalah Literasi dan Numerasi Solusi Bentuk Implementasi Dampak yang Diharapkan Pembelajaran Membaca berpasangan, permainan kata. Siswa lebih berani berkomunikasi. Kolaboratif diskusi kelompok kecil bekerja sama, dan lebih Pembelajaran Abad-21 Media Konkret & Penggunaan kartu huruf, kartu angka. Konsep lebih mudah dipahami. Visual balok hitung, video fonik, manipulatif pembelajaran lebih menarik & Integrasi Aplikasi numerasi anak, permainan Meningkatkan minat belajar. Teknologi edukasi digital, video pembelajaran memperkuat pemahaman literasi Sederhana & numerasi Model Kombinasi strategi tradisional dengan Pembelajaran lebih Pembelajaran 4C (Critical Thinking. Creativity, menyenangkan, interaktif, dan Abad-21 Collaboration. Communicatio. sesuai kebutuhan siswa kelas awal SIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa siswa kelas I MI Al-Fattah mengalami berbagai kendala pada aspek literasi dan numerasi, terutama dalam mengenali huruf, membaca suku kata, memahami teks sederhana, mengenal angka, serta melakukan operasi hitung dasar. Kendala tersebut tampak secara nyata dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika, yang merupakan mata pelajaran utama dalam pengembangan literasi dan numerasi di kelas awal. Kesulitan yang dialami siswa disebabkan oleh rendahnya kesiapan belajar, kurangnya stimulasi dari lingkungan rumah, serta penerapan metode pembelajaran yang masih bersifat konvensional, sehingga berdampak pada keterbatasan siswa dalam mengikuti pembelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika secara optimal dan konsisten. Dalam perspektif pembelajaran abad ke-21, pembelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika di kelas I MI Al-Fattah memerlukan strategi yang mampu mengembangkan keterampilan 4C, melibatkan penggunaan media konkret, serta memanfaatkan teknologi sebagai sarana pendukung belajar. Pada pembelajaran Bahasa Indonesia, penerapan kegiatan membaca kolaboratif, diskusi sederhana, serta Scholastica Journal Vol. No. 2, pp. September 2023 penggunaan media visual dan digital dapat membantu meningkatkan kemampuan membaca dan pemahaman teks siswa. Sementara itu, dalam pembelajaran Matematika, penggunaan benda konkret, aktivitas pemecahan masalah kontekstual, dan kerja kelompok sederhana dapat memperkuat pemahaman konsep numerasi dasar. Dengan demikian, peningkatan kemampuan literasi dan numerasi siswa kelas I MI Al-Fattah tidak hanya bergantung pada kemampuan individual siswa, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kualitas strategi pembelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika yang diterapkan guru. Pembelajaran abad ke-21 memberikan peluang bagi guru untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih menarik, interaktif, dan bermakna, sehingga diharapkan mampu meningkatkan penguasaan literasi dan numerasi dasar siswa secara bertahap dan berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA