Jurnal Abdimas Prakasa Dakara https://doi.org/10.37640/japd.v4i1.1825 e-ISSN 2776-768X 1-12 Pendampingan Program Kegiatan Kolaborasi Literasi Herlina1, Sari Astuti1, Sri Lestari2, Audi Yundayani1* 1 Pendidikan Bahasa Inggris, STKIP Kusuma Negara 2 Sekolah Menengah Atas (SMA) Master, Depok *audi_yundayani@stkipkusumanegara.ac.id Abstrak Ketertarikan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Masjid Terminal (Master) di Depok untuk membaca dinilai rendah, padahal pembiasaan akan membentuk kemampuan membaca siswa sehingga dapat membentuk kemampuan literasi mereka. Informasi awal menujukkan bahwa siswa cenderung lebih tertarik dengan gawai yang diperbolehkan untuk mereka bawa ke sekolah. Biasanya mereka gunakan gawai tersebut untuk berinteraksi dengan teman melalui media sosial atau memainkan games. Kegiatan pengabdian masyarakat ini ditujukan untuk mengenalkan siswa terhadap kegiatan kolaborasi literasi dengan menggunakan media Instagram yang melibatkan tiga puluh orang siswa. Melalui observasi, angket, dan pertanyaan terbuka diketahui bahwa siswa memberikan respon positif terhadap kegiatan khususnya kegiatan membaca dan berdiskusi secara berkelompok. Mereka juga menjadi aktif terlibat di dalam proses menulis mulai dari mencari dan mengembangkan ide, sampai dengan proses perbaikan dan publikasi, meskipun mereka masih terkendala dengan kegiatan menulis caption yang di unggah di Instagram. Temuan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini akan digunakan sebagai bahan analisis dan pertimbangan untuk kegiatan pengabdian masyarakat yang berikutnya. Yang juga diharapkan adalah temuan dari kegiatan ini dapat memberikan masukan bagi praktisi pendidikan dan sosial untuk melakukan berbagai kegiatan pembinaan berkelanjutan yang ditujukan untuk perbaikan kualitas siswa khususnya terkait dengan kemampuan literasi mereka. Kata kunci: caption Instagram, gawai, kolaborasi literasi, teks berbahasa Inggris. Dikirim: 10 Juli 2023 Direvisi: 27 Desember 2023 Diterima: 12 Februari 2024 PENDAHULUAN SMA Master, Master merupakan akronim dari Masjid Terminal, adalah sebuah sekolah tidak berbayar yang ditujukan untuk anak-anak jalanan, masyarakat tak mampu, pemulung, pengamen, dan lain sebagainya yang berlokasi di area Terminal Depok, Jawa Barat. Berdasarkan analisis kebutuhan di awal, diketahui bahwa hampir sebagian besar siswa tidak tertarik dengan teks berbahasa Inggris, baik ketika mereka diminta untuk membaca maupun ketika mereka diminta untuk menulis meskipun dalam bentuk teks yang pendek. Yang menarik adalah mereka cenderung aktif menggunakan gawai yang memang diperbolehkan dibawa ke sekolah. Dari informasi yang siswa berikan, mereka banyak menggunakan gawai untuk bermain games atau berkomunikasi dengan teman-temannya melalui media sosial. Menariknya lagi mereka juga menyampaikan bahwa games yang mereka mainkan terkadang juga menggunakan teks berbahasa Inggris. Hal ini yang akhirnya menimbulkan pemikiran bahwa kegiatan membaca dan menulis berbahasa Inggris harus dibuat menarik dan menyenangkan dengan memanfaatkan gawai yang siswa miliki. Literasi merupakan sebuah keterampilan membaca dan menulis yang erat kaitannya dengan berbahasa. Dalam bahasa asing atau bahasa kedua, literasi Content from this work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License. Pendampingan Program Kegiatan … | 2 dimaknai lebih dari sekadar kemampuan membaca dan menulis yang terpisah; namun, literasi merupakan sebuah konsep yang kompleks tentang hubungan bahasa dengan penggunaannya dalam sebuah konteks, baik dalam bahasa tertulis, maupun dalam komunikasi lisan (Kern, 2000). Konsep ini yang pada akhirnya menggambarkan bahwa literasi membutuhkan kompetensi wacana yang lebih luas dengan melibatkan kemampuan untuk menafsirkan dan mengevaluasi secara kritis berbagai macam teks tertulis dan lisan. Kompetensi yang dibutuhkan mencakup pengetahuan budaya, kesadaran pragmatis dan linguistik, serta pengetahuan dasar tentang leksis dan struktur tata bahasa. Hal ini terintegrasi melalui interaksi kegiatan membaca dan menulis dalam konteks komunikatif. Konsep literasi terefleksi pada penguasan keterampilan berbahasa Inggris bagi siswa di tingkat SMA jika mengacu pada capaian pembelajaran bahasa Inggris pada kurikulum merdeka yang ditetapkan dengan SK Kepala BSKAP No. 8 Tahun 2022. Siswa kelas X berada di fase E. Pada akhir Fase E, siswa menggunakan teks lisan, tulisan dan visual dalam bahasa Inggris untuk berkomunikasi sesuai dengan situasi, tujuan, dan pemirsa/ pembacanya. Sementara untuk siswa di kelas XI dan XII, penguasaan keterampilan berbahasa Inggris mereka berada di fase F. Pada akhir Fase F, siswa menggunakan teks lisan, tulisan dan visual dalam bahasa Inggris untuk berkomunikasi sesuai dengan situasi, tujuan, dan pemirsa/ pembacanya. Jika diperhatikan, maka kemampuan siswa SMA yang ditargetkan oleh kurikulum mengandung unsur kemampuan berkomunikasi aktif. Hal ini sejalan dengan beberapa penelitian yang dilakukan sebelumnya yang menggambarkan pembelajaran bahasa Inggris yang berorientasi kompetensi komunikatif pada dasarnya mereflksikan unsur kompetensi tata bahasa (grammatical competence), kompetensi diskursus (discourse competence), kompetensi strategi (strategic competence), dan kompetensi sosiolinguistik (sociolinguistics competence) (Bara, 2010; Polio & Montgomery, 2022; Rokaiya & Saharuddin, 2022; Yablokov, 2020; Yundayani et al., 2019). Berbagai jenis teks seperti narasi, deskripsi, prosedur, eksposisi, recount, report, dan teks otentik menjadi rujukan utama dalam mempelajari bahasa Inggris di fase E. Siswa menggunakan bahasa Inggris untuk menyampaikan keinginan/perasaan dan berdiskusi mengenai topik yang dekat dengan keseharian mereka atau isu yang hangat sesuai usia siswa di fase ini. Mereka membaca teks tulisan untuk mempelajari sesuatu/mendapatkan informasi. Keterampilan inferensi tersirat ketika memahami informasi, dalam bahasa Inggris mulai berkembang. Siswa memproduksi teks tulisan dan visual yang lebih beragam, dengan kesadaran terhadap tujuan dan target pembaca. Pada fase F, berbagai jenis teks seperti naratif, eksposisi, diskusi, teks sastra, teks otentik maupun multiteks juga menjadi rujukan utama dalam mempelajari bahasa Inggris. Siswa menggunakan kemampuan bahasa Inggris untuk mengeksplorasi teks naratif, eksposisi, dan diskusi dalam berbagai macam topik termasuk isu sosial dan konteks budaya. Pada fase ini, selain kemampuan berbahasa siswa dikembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, komunikatif, kolaboratif dan percaya diri untuk mewujudkan profil siswa Pancasila (Astika, 2024). Kemampuan literasi dimaknai sebagai kemampuan dasar dan bersifat standar yang perlu dimiliki setiap anak, yaitu berupa kemampuan membaca dan menulis. Literasi dilihat sebagai sebuah konsep yang memiliki makna kompleks, dinamis, dan terus didefinisikan dengan aneka sistem dan perspektif. Dalam 3 | Herlina dkk. perkembangannya, makna literasi tidak lagi hanya dapat dilihat sebagai kemampuan membaca dan menulis saja, tetapi menjadi lebih luas jangkauannya meskipun tetap masih bersentuhan dengan bahasa dan dialektika (Rohmah et al., 2022). Konsep kolaborasi literasi pada dasarnya merujuk pada kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama sehingga terjadi interaksi di dalam prosesnya. Literasi dan kolaborasi merupakan domain utama di abad ke-21 yang mengklasifikasikan keterampilan dan sikap yang terefleksi dalam (1) cara berpikir, meliputi pengetahuan, berpikir kritis, dan kreatif); (2) cara untuk belajar, meliputi literasi dan softskill); (3) cara untuk belajar dengan orang lain, meliputi tanggung jawab pribadi, sosial, dan tanggung jawab kewarganegaraan (Egan et al., 2017; Supena et al., 2021). Konsep ini juga mengidentifikasi keterampilan berpikir kritis, keterampilan berpikir kreatif, keterampilan komunikasi, dan keterampilan kolaborasi sebagai kompetensi yang dibutuhkan di abad ke-21 dan dikenal sebagai kompetensi 4C (critical thinking, creativity, collaboration, dan communication). Hal ini yang menjadi daya tarik bagi siswa untuk berinteraksi dengan teks berbahasa Inggris karena mereka melakukannya secara bersama-sama dalam sebuah kelompok (Yavuz & Arslan, 2018). Mereka termotivasi karena proses interaksi sosial yang terjadi melalui proses interaksi dan partisipasi di dalam kegiatan pembelajaran. Instagram merupakan salah satu platform media sosial berbasis aplikasi seluler yang digunakan untuk berbagi foto, video, dan cerita melalui berbagai fitur yang memungkinkan penggunanya untuk membangun interaksi dengan pengguna lain dengan mengikuti profil satu sama lain yang memungkinkan mereka untuk melihat konten yang diposting di profil tersebut dan memberikan tanggapan atau reaksi dalam bentuk suka atau komentar (Forsey, 2023; Holak & McLaughlin, 2017). Berbagai fitur menarik juga tersedia di Instagram, seperti photo filters, direct message, group messaging, picture editing, location tagging, Instagram story, live video streaming, IGTV, dan reels. Ketika seorang pengguna mengikuti pengguna lain, mereka dapat saling melihat semua posting dan dapat ditampilkan di berita feed. Dalam memposting foto atau video di Instagram, pengguna Instagram biasanya menggunakan caption yang juga juga dikenal sebagai garis potong. Caption merupakan teks yang muncul di bawah gambar dan ditujukan untuk memberikan deskripsi atau informasi yang berhubungan dengan gambar atau video yang diunggah. Penggunaan Instagram di dalam proses pembelajaran keterampilan berbahasa menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan kemampuan siswa, khususnya di dalam penguasaan keterampilan membaca dan menulis. Instagram menjadi media pembelajaran yang menarik untuk siswa karena menawarkan berbagai fasilitas. Sebagai sebuah media sosial, Instagram memfasilitasi proses interaksi, komunikasi, sekaligus sebagai sarana menyebarkan informasi (Hilman, 2019; Putri et al., 2021). Berbagai penelitian telah dilakukan terkait dengan penggunaan caption Instagram dalam pembelajaran (Avivi & Megawati, 2020; Nuraeni et al., 2018; Sallamah & As Sabiq, 2020). Meskipun belum ditemukan penelitian yang mengaitkan penggunaan Instagram dengan kegiatan kolaborasi literasi, tetapi di dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini hal itu menjadi sesuatu yang dilakukan berdasarkan fenomena yang terjadi sebagai hasil dari analisis kebutuhan yang dilakukan sebelumnya. Berdasarkan latar belakang tersebut maka tujuan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk mengenalkan siswa terhadap kegiatan kolaborasi Pendampingan Program Kegiatan … | 4 literasi dengan menggunakan media Instagram. Lebih lanjut lagi, kegiatan ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: (1) Bagaimana pelaksanaan kegiatan pengenalan program kolaborasi literasi di SMA Master dilakukan?; (2) Apa persepsi siswa SMA Master terkait dengan kegiatan membaca teks caption berbahasa Inggris di Instagram sebagai bagian dari program kolaborasi literasi?; (3) Apa persepsi siswa SMA Master terkait dengan kegiatan menulis teks caption berbahasa Inggris di Instagram sebagai bagian dari program kolaborasi literasi? METODE PELAKSANAAN Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan pada hari Selasa, tanggal 30 Mei 2023 di SMA Master yang merupakan akronim dari Masjid Terminal. Sekolah ini merupakan sebuah sekolah gratis untuk anak-anak jalanan, masyarakat tak mampu, pemulung, pengamen, dan lain sebagainya yang berlokasi di area Terminal Depok, Jawa Barat. Kegiatan pengabdian masyarakat merupakan bagian dari kerja sama kelompok, baik dari mitra, maupun dari penyelenggara dan dilakukan dengan melibatkan dosen dan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Kusuma Negara, Jakarta. Tahapan kegiatan yang dilakukan disajikan pada Gambar 1. Koordinasi dengan mitra Identifikasi kebutuhan Membuat rancangan kegiatan, berikut menyiapkan materi, dan angket evaluasi Pelaksanaan kegiatan berikut evaluasi dan refleksi Melakukan analisis data Menyusun laporan kegiatan Gambar 1. Tahapan pelaksanaan kegiatan Kegiatan diawali dengan melakukan koordinasi dengan mitra untuk mencapai kesepakatan terkait dengan pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat di SMA Master. Setelahnya, analisis kebutuhan dilakukan melalui wawancara dengan pihak pengelola sekolah sebagai mitra kegiatan guna mendapatkan informasi kegiatan apa yang dibutuhkan. Hal ini kemudian dilanjutkan dengan membuat rancangan kegiatan pengenalan program kolaborasi literasi berikut mengembangkan materi dan menyiapkan instrumen. Kegiataan dilaksanakan berdasarkan rancangan dan perencanaan yang telah dilakukan dengan melibatkan siswa dan guru SMA Master. Pendampingan dilakukan dalam proses kegiatan dengan memastikan bahwa siswa terlibat aktif di dalam kegiatan. Tidak hanya itu saja, dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini, konsep merancang, merencanakan, mengajarkan, melakukan observasi, dan refleksi juga dilakukan secara bersama-sama. Semua data yang terkumpul baik melalui angket dan hasil observasi selama kegiatan dianalisis dan diinterpretasikan 5 | Herlina dkk. untuk kemudian dilaporkan dalam bentuk artikel yang akan dipublikasikan di salah satu jurnal pengabdian masyarakat terakreditasi nasional. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan Kegiatan Pengenalan Program Kolaborasi Literasi Proses pelaksanaan kegiatan diawali dengan pembukaan berikut doa, perkenalan, ice breaking, penyampaian tujuan kegiatan, dan pembagian kelompok. Tiap kelompok beranggotakan sepuluh orang siswa. Diskusi awal dilakukan di tiap kelompok untuk membangun pemahaman siswa terkait dengan pentingnya kegiatan membaca dan menulis bagi mereka. Selanjutnya, beberapa topik diberikan melalui gambar yang digunakan sebagai pemantik diskusi terkait dengan caption apa yang cocok untuk disematkan di dalam gambar tersebut, seperti yang terlihat pada Gambar 2(a). Topik-topik yang diberikan adalah terkait dengan body shaming, gap generation, dan gadget addiction. Masing-masing siswa kemudian akan memberikan idenya dan secara bersamasama mereka juga mendiskusikan pilihan kata, tata bahasa, serta ketepatan penulisan kata berbahasa Inggris, seperti yang terlihat pada Gambar 2(b). Setelah memastikan bahwa caption sudah sesuai dengan gambar dan penulisan caption berbahasa Inggris sudah tepat, maka perwakilan masing-masing kelompok diminta untuk membacakan secara nyaring dan memberi kesempatan kepada siswa dari kelompok yang berbeda untuk bertanya atau memberikan masukan untuk perbaikan, seperti yang terlihat pada Gambar 2(c). (a) (b) Gambar 2. Pemantik diskusi (c) Pada akhirnya masing-masing siswa diminta untuk mengunggahnya di Instagram mereka, seperti yang terlihat di Gambar 3(a), dan dilanjutkan dengan melakukan refleksi terkait dengan kegiatan yang dilakukan. Siswa kemudian diminta untuk mengisi angket sebagai alat evaluasi kegiatan. Kegiatan kemudian ditutup dengan doa. Pendampingan Program Kegiatan … | 6 (a) (b) Gambar 3. Hasil Pelaksanaan dan Tim Kegiatan Pengabdian Masyarakat STKIP Kusuma Negara dengan Siswa dan Guru SMA Master Persepsi Siswa terhadap Kegiatan Membaca Teks Caption Berbahasa Inggris Tabel 1 menggambarkan hasil angket tentang persepsi siswa terkait dengan kegiatan membaca teks caption berbahasa Inggris di Instagram sebagai bagian dari program kolaborasi literasi. Tabel 1. Persepsi siswa terkait kegiatan membaca teks caption berbahasa Inggris Respon siswa (%) Pernyataan STS TS S SS 1. Saya suka membaca teks caption berbahasa 0 26.7 36.7 36.7 Inggris di Instagram 2. Saya tertarik membaca teks caption berbahasa 6.7 20 53.3 20 Inggris karena awalnya tertarik dengan gambarnya 3. Saya tertarik membaca teks caption berbahasa 3.3 40 36.7 20 Inggris karena awalnya tertarik dengan topiknya 4. Saya memahami pesan yang disampaikan melalui 6.7 26.7 36.7 30 teks caption berbahasa Inggris meskipun saya tidak memahami arti kata per kata yang dituliskan 5. Saat saya membaca teks caption berbahasa Inggris 10 20 26.7 43.3 dan ada kata yang saya tidak pahami artinya, maka saya akan menggunakan alat bantu terjemahan, misalnya Google translate atau kamus. 6. Membaca teks caption berbahasa Inggris 0 33.3 26.7 40 memberikan saya inspirasi dan informasi terbaru 7. Saya mendiskusikan dan menyampaikan pesan 6.7 60 26.7 6.7 yang saya dapat setelah membaca teks caption berbahasa Inggris Catatan: STS= Sangat tidak setuju; TS= Tidak setuju; S= Setuju; SS= Sangat setuju. 7 | Herlina dkk. Jika dilihat dari hasilnya maka hanya 26,7% siswa saja yang tidak suka membaca teks caption di Instagram. 73,3% siswa menyatakan tertarik membaca teks caption berbahasa Inggris karena awalnya tertarik dengan gambarnya dan 56,7% tertarik dengan topiknya. 66,7% siswa memahami pesan yang disampaikan melalui teks caption berbahasa Inggris meskipun mereka tidak memahami arti kata per kata yang dituliskan, sementara hanya 70% siswa yang menggunakan alat bantu terjemahan, misalnya Google translate atau kamus, saat mereka membaca teks caption berbahasa Inggris. 66,7% siswa juga berpendapat bahwa membaca teks caption berbahasa Inggris memberikan mereka inspirasi dan informasi terbaru, sementara 66,7% siswa menyatakan bahwa mereka tidak mendiskusikan dan menyampaikan pesan yang mereka dapat setelah membaca teks caption berbahasa Inggris. Persepsi Siswa terhadap Kegiatan Menulis Teks Caption Berbahasa Inggris Hasil penelitian juga menemukan bahwa hanya 57% siswa memiliki pengalaman kegiatan menulis teks caption berbahasa Inggris di Instagram seperti yang terlihat pada Gambar 6. Sisanya menyatakan bahwa mereka tidak memiliki pengalaman terkait dengan hal tersebut. Kegiatan menulis teks caption berbahasa Inggris di Instagram 43% 57% Punya pengalaman Tidak punya pengalaman Gambar 6. Pengalaman siswa dengan kegiatan menulis teks caption berbahasa Inggris di Instagram Tabel 2 menunjukkan berbagai kendala yang siswa hadapi terkait dengan kegiatan menulis teks caption berbahasa Inggris di Instagram. 35,6% siswa terkendala karena kurangnya penguasaan kosa kata berbahasa Inggris, sementara 27,8% siswa merasa tidak percaya diri saat menulis dalam Bahasa Inggris. 13,3% siswa juga merasa tidak bisa berbahasa Inggris dan 4,4% siswa merasa tidak menguasai tata bahasa dalam Bahasa Inggris sehingga mereka terkendala dalam menulis teks caption berbahasa Inggris di Instagram. Yang juga menarik adalah 3,3% darisiswa menyatakan tidak memiliki Instagram dan 2,2% terkendala kuota internet sehigga kegiatan menulis teks caption berbahasa Inggris di Instagram menjadi tidak mungkin. 2,2% dari siswa juga menyatakan mereka sulit untuk mengembangkan ide tulisan dan 11,1 dari mereka terkendala berbagai hal lainnya. Pendampingan Program Kegiatan … | 8 Tabel 2. Persepsi Siswa tentang Kendala Kegiatan Menulis Teks Caption Kendala Persepsi siswa (%) 1. Kurangnya penguasaan kosa kata berbahasa Inggris 35,6 2. Tidak punya kuota internet 2,2 3. Tidak punya IG 3,3 4. Tidak PD menulis dengan bahasa Inggris 27,8 5. Merasa tidak bisa berbahasa Inggris 13,3 6. Sulit mengembangkan ide tulisan 2,2 7. Tidak menguasai tata bahasa Inggris 4,4 8. Lain-lain 11,1 Interpretasi Hasil Pelaksanaan Kolaborasi Literasi Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini secara umum bertujuan untuk mengenalkan siswa dan guru terhadap kegiatan kolaborasi literasi dengan menggunakan media Instagram. Kegiatan diawali dengan melakukan analisis kebutuhan untuk mencari tahu apa yang pihak sekolah butuhkan terkait dengan kemampuan literasi siswa. Analisis kebutuhan memfasilitasi proses identifikasi berbagai permasalahan yang berangkat dari konsep kebutuhan siswa dan ditindaklanjuti dalam sebuah rancangan kegiatan, misalnya pembelajaran (Feuerherm & Oshio, 2020; Ussarn et al., 2022; Yundayani, 2018). Kebutuhan yang dimaksud dimaknai sebagai kesenjangan antara apa yang seharusnya dengan apa yang sedang terjadi. Kesenjangan itu yang kemudian coba diisi melalui kegiatan pengabdian masayarakat ini. Kegiatan kolaborasi literasi memfasilitasi siswa untuk berinteraksi melalui topik yang diberikan sebagai pemantik diskusi. Hal ini menjadi penting sebagai upaya untuk mengaktifkan schemata siswa melalui curah pendapat atau brainstorming yang ditujukan untuk menyiapkan siswa berinteraksi aktif dengan teks yang diberikan (Benbellal, 2020). Lebih lanjut lagi, kegiatan kolaborasi memberikan kebebasan kepada siswa untuk melakukan interaksi dalam belajar, berkomunikasi, termasuk kebebasan dalam mengakses berbagai sumber belajar dan informasi yang dibutuhkan (Nahar et al., 2022). Konsep literasi dapat dimunculkan di dalam konteks kolaborasi dimana siswa secara bersama membaca dan memahami sebuah teks yang diberikan, kemudian secara bersama-sama menyampaikan kembali apa yang mereka pahami yang tentu saja secara tidak langsung akan meningkatkan kemampuan siswa untuk berpikir kreatif, inovatif, dan kritis (Nganga, 2019). Kegiatan kolaborasi literasi yang dilakukan pada dasarnya merefleksikan keterampilan abad-21 sebagai keterampilan utama yang juga memungkinkan untuk dilakukan dalam pembelajaran yang membekali siswa untuk berkompetisi dalam masyarakat global. Kegiatan kolaborasi literasi dengan menggunakan media Instagram memfasilitasi siswa dengan kegiatan bermakna yang memberikan stimulus bagi siswa melalui kegiatan yang dilakukan untuk mampu mengartikulasikan pikiran dan ide mereka secara efektif dengan menggunakan komunikasi lisan, tertulis, dan nonverbal (Erdoğan, 2019). Pada konteks yang sama, siswa belajar untuk memahami perspektif yang kompleks, membuat penilaian dan keputusan, serta bekerja secara kreatif dengan orang lain. Hal ini yang kemudian dapat dipahami bahwa kegiatan kolaborasi literasi memberikan ruang bagi guru 9 | Herlina dkk. untuk menganalisis secara kritis apa yang ditawarkan oleh Gerakan abad ke-21 untuk memperkaya proses pedagogis dan praktik pembelajaran yang dilakukan. Kegiatan membaca teks caption berbahasa Inggris di Instagram sebagai bagian dari program kolaborasi literasi mendapat respon yang positif dari siswa. Sebagian besar siswa sudah terbiasa dengan membaca caption di Instagram meskipun awalnya karena tertarik dengan gambar yang disertakan dalam caption. Hal ini menjadi biasa karena siswa SMA Master merupakan digital native atau netgeneration yang menggambarkan generasi yang telah terbiasa berinteraksi dengan digital. Mereka tumbuh sudah dikelilingi media digital sehingga perubahan paling signifikan yang mempengaruhi net-generation adalah munculnya komputer, internet dan media digital lainnya (Jones, 2010; Jones & Shao, 2011). Penggunaan media gambar yang menyertai caption di Instagram membantu siswa untuk memahami pesan dalam teks berbahasa Inggris yang disampaikan. Hal ini dapat dilihat sebagai bagian dari multimedia literacy (Ávila, 2021). Lebih lanjut lagi, meskipun siswa tidak mengetahui arti kata per kata yang disampaikan dalam teks berbahasa Inggris di caption yang muncul, tetapi mereka dapat memahami makna yang disampaikan. Hal ini menjadi mungkin karena adanya gambar yang membantu siswa untuk memprediksi pesan yang disampaikan (Li & Xie, 2020). Penggunaan kampus juga menjadi alternatif bagi siswa saat kesulitan dalam memahami arti tulisan berbahasa Inggris. Mereka dapat menemukan makna khusus dari kata yang tidak dikenal dalam konteks tertentu melalui kamus sebagai sumber penting untuk mengakses makna dari kata-kata yang tidak dipahami (Huang & Eslami, 2013). Penggunaan kamus dalam beragam bentuk baik digital maupun konvensional memfasilitasi siswa untuk mencari arti kata yang tidak dikenal untuk memastikan bahwa asumsi mereka akurat berdasarkan informasi kontekstual. Akses ke kamus membantu siswa menjadi lebih mandiri karena mereka dapat menemukan interpretasi yang tepat untuk kata-kata yang tidak dikenal. Pada akhirnya siswa merasa bahwa caption Instagram menjadi salah satu media dalam menyampaikan pesan baik terkait dengan informasi terbaru, maupun terkait dengan inspirasi. Sebagai pembaca mereka seringkali terdampak dengan pesan yang disampaikan melalui caption Instagram, pun sebagai penulis mereka pada akhirnya mampu menggunakan caption Instagram untuk menyampaikan pesan (Gunantar & Transinata, 2019). Hanya saja siswa menyampaikan bahwa mereka tidak mendiskusikan dan menyampaikan pesan yang mereka dapat setelah membaca teks caption berbahasa Inggris. Hal ini yang sebaiknya dipertimbangkan oleh para guru untuk memanfaatkan penggunaan Instagram sebuah media pembelajaram berbasis teknologi yang dapat memotivasi siswa untuk terlibat aktif di dalam proses pembelajaran karena tidak semua siswa memiliki pengalaman kegiatan menulis teks caption berbahasa Inggris di Instagram karena berbagai kendala yang mereka hadapi terkait dengan kegiatan menulis teks caption berbahasa Inggris di Instagram, misalnya karena kurangnya penguasaan kosa kata berbahasa Inggris atau merasa tidak percaya diri saat menulis dalam Bahasa Inggris. Siswa juga merasa tidak bisa berbahasa Inggris dan tidak menguasai tata bahasa dalam Bahasa Inggris sehingga mereka terkendala dalam menulis teks caption berbahasa Inggris di Instagram. Yang juga menarik adalah sebagian siswa menyatakan tidak memiliki Instagram dan terkendala kuota internet sehigga kegiatan menulis teks caption berbahasa Inggris di Instagram menjadi tidak mungkin. Siswa juga menyatakan mereka sulit untuk mengembangkan ide tulisan Pendampingan Program Kegiatan … | 10 termasuk terkendala berbagai hal lainnya. Di sinilah peran guru dituntut untuk dapat memanfaatkan Instagram sebagai media pembelajaran berbasis teknologi secara tepat dengan mempertimbangkan kebutuhan dan karakteristik siswa (Bestari et al., 2020; Nugroho & Rahmawati, 2020). SIMPULAN Kegiatan membaca dan menulis teks berbahasa Inggris menjadi sebuah kendala bagi siswa. Sebagian waktu mereka dihabiskan untuk berinteraksi melalui media sosial atau bermain games dengan menggunakan gawai yang mereka miliki. Kegiatan pengabdian masyarakat ini ditujukan untuk mengenalkan siswa terhadap kegiatan kolaborasi literasi dengan menggunakan media Instagram. Kegiatan dilakukan secara berkelompok. Dengan menggunakan media gambar, siswa dan pendamping melakukan diskusi terkait caption apa yang cocok untuk disematkan di dalam gambar berdasarkan berbagai topik yang ada. Mereka juga berdiskusi terkait dengan penulisan caption berbahasa Inggris yang tepat, termasuk tata bahasa, susunan kata, dan ejaan yang dituliskan. Caption yang sudah dipastikan benar dan tepat kemudian dibacakan secara nyaring untuk mendapatkan masukan dari kelompok yang berbeda dan dilanjutkan untuk mengunggahnya di Instagram yang dimiliki siswa. Respon positif ditunjukkan siswa saat kegiatan berlangsung dan kemudian dikuatkan dengan hasil angket yang diberikan. Kegiatan ini memfasilitasi siswa untuk membangun kemampuan literasi mereka secara kolaborasi dengan menggunakan media teknologi. Siswa juga menyampaikan kendala yang mereka hadapi. Secara garis besar kegiatan ini merupakan cara yang tepat bagi dunia akademisi untuk berkontribusi membangun kemampuan literasi siswa. UCAPAN TERIMA KASIH Penghargaan terbaik kami sampaikan kepada pimpinan, pengelola, guru, dan siswa SMA Master, Depok. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada pimpinan STKIP Kusuma Negara dan juga mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan ini. DAFTAR PUSTAKA Astika, S. (2024). Penerapan Nilai-Nilai Profil Pelajar Pancasila dalam Kegiatan Pengenalan Lapangan Persekolahan di SD Kanisius Wonogiri. BAHUSACCA : Pendidikan Dasar Dan Manajemen Pendidikan, 3(1), 13–21. https://doi.org/10.53565/bahusacca.v3i1.1136 Ávila, J. A. (2021). #MultimediaResponse: Instagram as a Reading Activity in a University English Class. Journal of Adolescent and Adult Literacy, 64(5), 531– 541. https://doi.org/10.1002/jaal.1128 Avivi, M., & Megawati, F. (2020). Instagram post: Writing caption through process approach in developing writing skill. EduLite: Journal of English Education, Literature and Culture, 5(2), 240–250. https://doi.org/10.30659/e.5.2.240-250 Bara, B. G. (2010). Communicative Competence: The Mental Processes of Communication. In B. G. Bara (Ed.), Cognitive Pragmatics (pp. 203–276). The MIT Press. https://doi.org/10.7551/mitpress/9780262014113.003.0006 11 | Herlina dkk. Benbellal, A. (2020). The Effects of Brainstorming and Predicting as Schema Activation Strategies on the Algerian EFL Students’ Reading Comprehension: An Experimental Study at the Department of English, Blida 2 University, Algeria. International Journal of Social Sciences & Educational Studies, 7(2), 62–78. https://doi.org/10.23918/ijsses.v7i2p62 Bestari, A. C. Y., Faiza, D., & Mayekti, M. H. (2020). Instagram Caption as Online Learning Media on the Subject of Extended Writing During Pandemic of Covid19. Surakarta English and Literature Journal, 3(1), 9. https://doi.org/10.52429/selju.v3i1.359 Egan, A., Maguire, R., Christophers, L., & Rooney, B. (2017). Developing creativity in higher education for 21st century learners: A protocol for a scoping review. International Journal of Educational Research, 82, 21–27. https://doi.org/10.1016/j.ijer.2016.12.004 Erdoğan, V. (2019). Integrating 4C Skills of 21st Century into 4 Language Skills in EFL Classes. International Journal of Education and Research, 7(11), 113–127. Feuerherm, E., & Oshio, T. (2020). Conducting a community-based esol programme needs analysis. ELT Journal, 74(3), 327–337. https://doi.org/10.1093/elt/ccaa011 Forsey, C. (2023). How to Use Instagram: A Beginner’s Guide. Hubspot. Gunantar, D. A., & Transinata, T. (2019). Writing Caption on Instagram as Media for Student’s Motivation and Writing Skill Improvement. ETERNAL (English Teaching Journal), 10(1), 30–35. https://doi.org/10.26877/eternal.v10i1.3905 Hilman, A. (2019). The Effectiveness of Using Instagram in Developing Students’ Descriptive Text Writing. JALL (Journal of Applied Linguistics and Literacy), 3(1), 31–44. https://doi.org/10.25157/jall.v3i1.2619 Holak, B., & McLaughlin, E. (2017). Instagram. TeachTarget. Huang, S., & Eslami, Z. (2013). The Use of Dictionary and Contextual Guessing Strategies for Vocabulary Learning by Advanced English-Language Learners. English Language and Literature Studies, 3(3), 1–7. https://doi.org/10.5539/ells.v3n3p1 Jones, C. (2010). A new generation of learners? The Net Generation and Digital Natives. Learning, Media and Technology, 35(4), 365–368. https://doi.org/10.1080/17439884.2010.531278 Jones, C., & Shao, B. (2011). The Net Generation and Digital Natives Implications for Higher Education. Higher Education Academy. Kern, R. (2000). Literacy and Language Teaching. Oxford University Press. Li, Y., & Xie, Y. (2020). Is a Picture Worth a Thousand Words? An Empirical Study of Image Content and Social Media Engagement. Journal of Marketing Research, 57(1), 1–19. https://doi.org/10.1177/0022243719881113 Nahar, S., Suhendri, Zailani, & Hardivizon. (2022). Improving Students’ Collaboration Thinking Skill under the Implementation of the Quantum Teaching Model. International Journal of Instruction, 15(3), 451–464. https://doi.org/10.29333/iji.2022.15325a Nganga, L. (2019). Preservice teachers perceptions of teaching for global mindedness and social justice: Using the 4Cs (Collaboration, Critical thinking, Creativity and Communication) in teacher education. Journal of Social Studies Education Research, 10(4), 26–57. Nugroho, A., & Rahmawati, A. (2020). “Let’S Write a Caption!”: Utilizing Pendampingan Program Kegiatan … | 12 Instagram To Enhance Esp Students’ Writing Skills. Jurnal Basis, 7(1), 1–12. https://doi.org/10.33884/basisupb.v7i1.1782 Nuraeni, B. L., Farid, M. Z., & Cahyati, S. S. (2018). The use of indonesian english code mixing on instagram captions. PROJECT (Professional Journal of English Education), 1(4), 448–453. https://doi.org/10.22460/project.v1i4.p448-453 Polio, C., & Montgomery, D. P. (2022). Applying a communicative competence framework to the study and teaching of second language writing. Communicative Competence in a Second Language, 152–170. https://doi.org/10.4324/9781003160779-12 Putri, R. D. F., Hadi, M. S., & Mutiarani, M. (2021). The Efficacy of Instagram @Gurukumrd As the Media in Improving Students Reading Skills. Journal of Languages and Language Teaching, 9(3), 350–355. https://doi.org/10.33394/jollt.v9i3.3795 Rohmah, N. R., Yusuf, M., & Muda’i, S. (2022). Elaborasi Kemampuan Literasi Anak melalui Pendirian Rumah Baca Alam al Aly di Kedungglugu Gondang Nganjuk. JANAKA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(2), 10–18. Rokaiya, U., & Saharuddin, N. (2022). Exploring Communicative Language Teaching to Enhance Grammatical Knowledge among Secondary School Students in Bangladesh. Journal of Public Administration and Governance, 12(4S), 1–13. https://doi.org/10.5296/jpag.v12i4S.20564 Sallamah, I. B., & As Sabiq, A. H. (2020). Does Instagram as Learning Media Affect Students’ Writing Skill on Recount Text?: An Experimental Research. REiLA : Journal of Research and Innovation in Language, 2(3), 126–133. https://doi.org/10.31849/reila.v2i3.5501 Supena, I., Darmuki, A., & Hariyadi, A. (2021). The Influence of 4C (Constructive, Critical, Creativity, Collaborative) Learning Model on Students’ Learning Outcomes. International Journal of Instruction, 14(3), 873–892. https://doi.org/10.29333/iji.2021.14351a Ussarn, A., Pimdee, P., & Kantathanawat, T. (2022). Needs assessment to promote the digital literacy among students in Thai community colleges. International Journal of Evaluation and Research in Education, 11(3), 1278–1284. https://doi.org/10.11591/ijere.v11i3.23218 Yablokov, S. (2020). Trends and Applications of English Language Teaching and Learning in Ukraine Context: A Case-study Method in Teaching English for Specific Purposes for Ukrainian Students. Arab World English Journal, 3, 282– 293. https://doi.org/10.24093/awej/elt3.23 Yavuz, O., & Arslan, A. (2018). Cooperative learning in acquisition of the english language skills. European Journal of Educational Research, 7(3), 591–600. https://doi.org/10.12973/eu-jer.7.3.591 Yundayani, A. (2018). Present situation analysis: Students’ early characteristics in writing for academic purposes. English Review: Journal of English Education, 6(2), 119–126. https://doi.org/10.25134/erjee.v6i2.1262 Yundayani, A., Susilawati, & Chairunnisa. (2019). Investigating the effect of Canva on students’ writing skills. English Review: Journal of English Education, 7(2), 169–176. https://doi.org/10.25134/erjee.v7i2.1800