Murai : Jurnal Papua Teologi Kontekstual ISSN : 2746-4814 Vol 6. No 1. Januari 2025 PEMULIHAN EKOLOGIS SEBAGAI SEBUAH METAFORA INTERVENSI PENGGEMBALAAN DALAM KELAS SETELAH PANDEMI COVID-19 Natanael Tarigan STFT GKI I. S Kijne Jayapura tarigannatanael45@gmail. ABSTRAK Endapan pandemi covid-19 masih menjadi persoalan dalam sistem belajar dan mengajar di kelas. Gangguan Kesehatan mental yang semakin membuncah dan kebiasaan tatap layar terbawa turut masuk ke dalam proses Fenomena ini membuat atmosfer kelas menjadi tidak bergairah. Tidak jarang peserta didik terlihat berada dalam kehadiran yang tarik diri dari pelajaran yang sedang berlangsung. Mereka menjadi lelah . Penulis memahami gejala ini dari sudut teori yang ditawarkan oleh Philibert dkk pentingnya Aueveryday self careAy, kepedulian diri dalam keseharian. Teori ini dapat menolong untuk mencari alternatif baru di ruang kelas agar setiap warga dapat sadar dan peduli kepada dirinya setiap waktu. Penciptaan kesadaran ini membutuhkan Model intervensi ini dipinjam dari ilmu penggembalaan. Tulisan ini menawarkan model-model penggembalaan untuk menciptakan kelas yang memiliki daya resiliensi dan kekuatan pemulihan bagi Model-model ini lahir dari pemahaman konteks dalam metafora ekologis. Melalui penelitian penulis menemukan pertama, ilmu penggembalaan memiliki peralatan yang cukup untuk mengembangkan modelmodel pemulihan dalam kelas. Meskipun demikian perlu disadari bahwa kekhasan intervensi penggembalaan selalu bersifat kontekstual. Kedua model-model yang bisa menjadi alternatif bagi penciptaan ruang kelas yang flourishing, mekar. Penulis menyebut intervensi dengan nama pemulihan ekologis. Sebagai sebuah metafora tawaran mengandaikan kehadiran aktivitas yang sederhana dan berkesinambungan, serta menjadi aksi bersama. Kata-kata kunci: Penggembalaan Setelah Covid-19. Komunitas Kelelahan. Model-Model Pemulihan. Metafora Ekologis. Komunitas Yang Mekar ABSTRACT The sediment of the Covid-19 pandemics is still a problem in the learning process in the classroom. Mental health disorders are increasing. A long with, the culture of online learning through the screens is also part of them habit. This phenomenon makes the classroom atmosphere less enthusiastic. It is commonly for students to be withdrawn from the lesson in progress. They become tired . The author will responds this phenomenon from the perspective of the theory "everyday self-care", this coin I borrowed from Philibert, et al. This theory can help to find new alternatives to approach the classroom. They can always be aware and care about themselves. Creating this awareness requires intervention. This intervention model is borrowed from pastoral science. This article offers pastoral care models to create classroom atmosphere that have resilience and recovery power for themselves. These models arise from understanding context in ecological metaphors. Through research the author found first, pastoral care has sufficient tools to develop recovery models in the However, it is necessary to realize that the specificity of grazing interventions is always contextual. The second. All the models can be alternatives for creating resilience and flourishing classrooms. The author calls this intervention as ecological healing. As a metaphor, ecological healing is offer presupposes the presence of simple and continuous activity, as well as being a joint togethernes actions. Key Words: Pastoral Care After Covid-19. Fatigue Community. The Models Of Healing. Ecological Metaphor. Flourishing Community PENDAHULUAN Ekologi sebagai sebuah metafora bukan hanya mengacu kepada kompleksitas lingkungan tetapi juga dirumitkan oleh interkoneksi antara elemen di dalamnya. Bagian elemen dalam lingkungan sangat menentukan kesejahteraan manusia. Pandemi covid-19 yang umumnya dianggap sebagai disrupsi yang parah terhadap kesehatan manusia secara global ternyata akibatnya jauh melampaui hal tersebut. Ekonomi, sosial, politik anggaran, membuncahnya budaya digital, dan banyak lagi telah perubahan-perubahan yang mengarah kepada ketidakpastian, sehingga manusia membututhkan cara baru dalam menghadapinya. Bersamaan waktu, perkembangan teknologi Artificial Intelligent (AI), kecerdasan buatan . da yang memelesetkannya Akal Imitas. semakin menyatu dengan kebudayaan hidup masa kini termasuk dalam tatanan belajar mengajar. Posisi pengajar dan pelajar telah mengalami pergeseran sangat mengejutkan. Bila guru hanya menawarkan pengetahuan maka para murid dapat lebih memilih dan mudah memahaminya melalui perangkat canggih yang Itu berarti kelas perjumpaan yang selalu ini menjadi ciri sekolah ikut dimasalahkan. Jalinan masalah ini seperti pilinan yang rumit dan ikut mempengaruhi mental dan proses dalam kelas. Salah satu dasar penting dalam intervensi kerumitan tersebut adalah kesadaran pentingnya membangun kesadaran ekologis. Kesadaran ini seharusnya bermuara pada tindakan-tindakan yang sederhana tetapi konstruktif. Sama seperti kesadaran pelestarian lingkungan berawal dari tindakan sederhana mulai dari bangun sampai tidur, mulai dari penghematan energi listrik sampai penghematan air, dari pemisahan jenis sampah sampai pembuangan yang mengadopsi ekosistem yang terus berputar dalam mata rantai demikian seharusnya kesadaran pemulihan Loncatan-loncatan kesadaran ini akan mempercepat terjadinya well being dalam interaksi Beberapa tahun ini, penulis bergelut dalam dunia pendidikan yang mengalami banyak masalah mendasar terutama dalam menciptakan ekologi yang adaptif dalam ruang-ruang kelas. Sebagai seorang pengajar teologi dan praktik penggembalaan, penulis melakukan observasi terhadap mahasiswa dan menemukan hasilnya, sebagian besar mahasiswa masuk kelas belum membuka diri untuk siap menerima pelajaran. Dalam pemahaman yang sudah lazim kita kenali dalam Tiga hukum belajar Edward Thorndike: kesiapan, latihan, dan efek, mereka umumnya tidak terkondisikan dengan baik dalam kelas. Hukum kesiap-sediaan mengalami korosi yang dalam. Rerata mereka lebih memilih duduk di kursi yang terlindung dari pengawasan pengajar. Gaya mereka belajar yang asyik dengan tatap layar masih kuat tanpa peduli dengan kehadiran yang lain. Tampaknya dampak sistem pembelajaran online memiliki pengaruh besar dalam interaksi di kelas sampai saat ini. Endapan gangguan kesehatan mental masih mencengkeram dalam kelas. Para mahasiswa lebih mudah mengalami kejenuhan dalam belajar, makin mudah mengalami gangguan kesehatan mental, makin menurun kemampuan untuk membaca buku dan menulis pendapat mereka sendiri. lebih cenderung mencurahkan perasaan seperti model penulisan di media social, dll. Hal seperti ini tidak hanya mengakibatkan penurunan mutu pengajaran tetapi juga membuat para mahasiswa mengalami kelelahan . kemudian tarik diri dari kelas. Philibert, dkk . menawarkan selain para pendidik peduli pada kesehatan mentalnya secara pribadi . elf car. , mereka juga perlu untuk menciptakan suasana yang mengarah kepada strategi kebahagia-sejahteraan . ell bein. diri setiap mahasiswa. Pentingnya hal ini karena mereka menemukan data bahwa gangguan emosi dan kesehatan mental sedang bekerja dalam sekolah-sekolah (Philibert, dkk 2020, . ditambah lagi dalam diri para pengajar sendiri pun saluran emosi yang negatif itu pun sedang mengalir (Philibert, dkk 2020, . Dalam situasi seperti itu para penulis mengingatkan perubahan yang dibutuhkan harus bersifat bertahap. Mereka mengandaikannya seperti perubahan kupu-kupu yang berasal dari ulat, metamorfosa (Philibert, dkk 2020, . Perubahan yang bertahap dan dikerjakan bersama-sama sebagai warga komunitas di kelas. Berpijak dalam teori ini maka penulis melihat bahwa kelas-kelas yang ada pada saat ini membutuhkan intervensi yang strategis agar para anak didik dapat menjadikan ruang kelas sebagai ruang pemulihan. Tulisan ini akan menawarkan agar kelas-kelas tempat perjumpaan belajar mengajar itu dijadikan sebagai ruang pemulihan ekologis. Perlu diperhatikan hukum kesaling-tergantungan semua elemen dalam ruang tersebut. Penulis memakai praktik penggembalaan sebagai lensa pendekatannya. Dalam fungsi-fungsi yang lazim dikembangkan dalam penggembalaan komunitas kelas membutuhkan fungsi pemulihan . dan juga penopangan . Sebaiknya kelas dikondisikan menjadi komunitas yang saling memulihkan dan saling menopang. Penulis sendiri pernah menggagas konsep perjumpaan wajah sebagai konsep untuk memulihkan dan mendamaikan (Tarigan 2024, . Perjumpaan wajah perlu diciptakan melalui kehadiran yang memiliki makna dan berbagi makna. Untuk itu perlu ada usaha yang sengaja dilakukan agar perjumpaan kelas memiliki makna melampaui tempat belajar dengan pengembangan tempat saling memulihkan dan saling menopang (Tarigan 2024, . Pertanyaan utama penelitian ini, bagaimanakah bentuk-bentuk intervensi penggembalaan yang dapat diterapkan dalam ruang-ruang kelas agar tercipta pemulihan ekologis? METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk memecahkan masalah yang kompleks dalam ruang-ruang kelas di mana proses belajar mengajar telah mengalami disrupsi pendemi covid-19. Pemecahan masalah ini dilakukan dengan memakai pendekatan penggembalaan yang sejatinya selalu mengusung well being sebagai sentral Dalam posisi yang sama penulis memakai metafora ekologis menjadi pola menuju ekosistem pemulihan yang terus menerus menjadi intervensi terhadap kesadaran bersama melalui tindakan-tindakan Penulis akan meninjau ketersediaan peralatan dalam keilmuan teologi penggembalaan sebagai pisau bedah memahami kerusakan ekologis dalam kelas-kelas pembelajaran. Setelah melihat kerusakan karena gangguan kesehatan mental para pendidik dan anak didik maka tulisan ini akan menawarkan beberapa gagasan yang secara metafora diberi nama pemulihan ekologis. Model-model pemulihan ekologis itu sendiri digali dari berbagai teori. Penulis sendiri pernah mempraktikkan model-model ini dalam kelas dan terbukti bisa menjadi alternatif intervensi penggembalaan. Penulis memakai metode kualitatif deskriptif yang berbasis pada kepustakaan dan observasi. Melalui studi litratur untuk menemukan pandangan para ahli tentang tujuan, fungsi, dan model penggembalaan setelah pandemi covid-19. Terutama pentingnya kerja sama komunitas dalam memperbaiki lingkungan . bersama dalam peningkatan kualitas kehidupan melalui kebiasaan baru. Kebiasaan baru tersebut diarahkan melihat data dalam komunitas pembelajaran dalam hal ini kelas belajar mengajar. Karena itu penulis sengaja mengambil buku-buka yang memiliki topik pedagogi di sekolah yang berspektrum mindfulness. Model dan filosofis dalam model itu akan ditempatkan bersama-sama dengan prinsip-prinsip teori penggembalaan, dalam kepentingan membangun model-model yang menjadi alternatif dalam artikel ini. Sementara itu penulis melakukan observasi yang bersifat partisipatif dalam kelas yang diampu, baik di stratum Satu mau pun stratum Dua. Dalam Dua tahun terakhir ini penulis telah mengamati adanya masalah-masalah baru dalam kelas. Pembelajaran daring selama masa pandemik masih mempengaruhi cara belajar dan berinteraksi para Penulis telah menyikapi kejadian seperti ini dengan memakai beberapa model cara belajar yang Tampaknya interaksi baru dalam kelas bisa kembali mengemuka dan mempengaruhi para mahasiswa dalam menyerap materi pembelajaran dan mendiskusikan materi itu lebih luas. Perubahan situasi kelas yang lebih partisipatif menciptakan pembelajaran yang lebih atraktif dan pada gilirannya pembelajaran lebih menyenangkan dan mengakrabkan. Jadi dalam tulisan ini terjadi perjumpaan antara masalah-masalah lapangan sebagai konteks dengan dengan prinsip-prinsip penggembalaan sebagai teks secara korelatif. Hal ini memang telah menjadi metodologi yang lazim dalam teologi praktika (Tarigan 2024, . Pada waktunya penulis menarik kesimpulan yang relevan bagi penelitian ini. HASIL DAN PEMBAHASAN Diskursus Penggembalaan Penggembalaan . dalam dunia pelayanan gereja lebih banyak dipahami sebagai kegiatan para gembala . untuk menggembalakan domba . Pengertian tradisional ini mengandaikan seorang gembala dikatakan baik, bila ia memperhatikan domba-dombanya dengan serangkaian pelayanan seperti penggembalaan bagi orang yang berduka, orang sakit, orang yang bermasalah dalam rumah tangganya, dan lainnya sebatas dipandang kebutuhan domba agar mereka jangan keluar kandang. Bahkan dalam beberapa gereja di Indonesia terjebak dalam dua kebiasaan penggembalaan: Satu kunjungan pastoral yang terikat dengan waktu masa raya gereja. Dua perkunjungan . bagi orang yang bermasalah secara aturan gereja. Kalau yang pertama potret gembala terlihat sebagai pengawas umat dan yang kedua petugas gereja terlihat sebagai aparatur hukum. Cara seperti ini kerap sekali tidak membangun resiliensi diri warganya di tengah tantangan zaman. Dari perspektif metodologis, dalam waktu yang cukup lama dan pengaruhnya masih ada sampai saat ini, konstruksi penggembalaan hanya merupakan aplikatif dari ilmu teologi. Artinya penggembalaan dianggap sebagai ranting teologi praktika, yang hanyalah sebagai pengguna hasil pemikiran teolog-teolog dari cabang biblika dan sistematika. Hal ini terkait dengan pembagian teologi dalam pandangan Fredrich Scheiermacher yang secara ketat mengandaikan ada teologi murni dan ada yang tidak murni. Parahnya lagi dalam waktu yang cukup lama teologi murni diterima sebagai teologi yang lebih utama. Lantaran itu metode berteologi bersifat deduktif. Para teolog hanya menerapkan kebenaran-kebanaran dengan cara mengaplikasikannya dalam kebutuhan pastoral. Sementara itu, umpan baliknya tidak dihargai oleh teologi Bisa jadi masalah ini masih mempengaruhi cara berpikir gereja masa kini dalam pengembangan teologi dan pelayanan penggembalaannya. Bila itu terjadi tentulah para gembala yang diutus oleh gereja kesulitan untuk merancang agenda baru dalam arah teologi dan pelayanan tersebut. Sementara itu persoalan dalam diri dan di luar diri manusia terus semakin berkembang dan membutuhkan pemahaman . baru dalam wacana berteologi. Teologi gereja bisa lumpuh bila tidak ada perubahan paradigma berteologinya. Pandemi Covid-19 telah nyata-nyata mendestruksi seluruh keberadaan hidup manusia di segala ruang Salah satu isu yang menyembul sebagai masalah pastoral adalah merespons gangguan mental. Gejala ini telah umum terjadi mulai dari sederhana sampai pada tingkat kerumitan yang kompleks. Isu pandemi telah menonjok jantung gereja misalnya dalam kebutuhan liturgi, respons terhadap orang yang berduka, dll. Di sisi lain dari perspektif traumatologi dan ilmu yang berkaitan dengan otak lainnya, semakin dimaklumkan bahwa tekanan-tekanan mental yang dialami manusia dapat merusak tatanan otak manusia itu sendiri. Melalui pengalaman penulis, di lingkungan STFT Jakarta sekitar tahun 2015, teologi trauma menjadi percakapan dengan memakai buku Basel van der Kolk. The body keeps the score . dan buku Shelly Rambo. Spirit and Trauma . Kiranya sangat mendesak pelayanan gereja merespons isu-isu tersebut agar warganya mengalami well Perlu ada percakapan yang lebih sistematis tentunya antara akademisi . dan praktisi . Ruang dialog ini dapat menjadi tempat untuk mengembangkan teologi dan pelayanan pastoral sebagai teologi kontekstual. Terutama teologi dan pelayanan pemulihan. Kata pemulihan yang menjadi muara percakapan ini mengacu kepada kesembuhan . , pemulihan . , dan adaptasi. Dalam konsep Don S. Browning kata-kata ini sendiri dalam lingkup pastoral memiliki pertanggung jawaban kerja dalam pengandaian penemuan practical wisdom, sebagai upaya perjumpaan masalah-masalah kemanusiaan yang mendalam dan teologis. Pemulihan dalam lingkup pastoral seperti ini tidak bertolak dari sebuah teknik, sebaliknya munculnya teknik itu karena pergumulan teologi kemanusiaan yang nyata. Selain tujuan dan fungsi penggembalaan seperti yang sudah disebutkan di atas ada desakan baru agar mengembangakan proses kehadiran sebagai proses perjumpaan. John Patton sudah sejak 1993 mendesak agar bentuk kehadiran diutamakan dalam bentuk komunitas yang saling mendukung. Demikian juga Pamella Cupper-White melihat fungsi berbagi hikmat . ahring wisdo. mengandaikan bahwa perjumpaan itu harus semakin peka dalam memamahi dan saling terbuka untuk bergagi. Tarigan melihat proses perjumpaan dengan itu dapat menjadi momen epifani . enampakan wajah Alla. (Tarigan 2024, . Selanjutnya ia menjelaskan: Au Momen epifani, penampakan wajah Allah dalam Alkitab memberikan kesan untuk beranimenghadapai wajah-wajah yang asing. Musa pemimpin besar. insan yang mengalami momen epifani dari semak belukar. Ay (Tarigan 2024, . Pelayanan pastoral bukanlah tindakan psikoterapi. Pelayanan pastoral didasari pada memaknai arti kehadiran diri untuk memberikan pertolongan. Dalam perspektif teolog pastoral feminisme mengingatkan relasi antara pemberi pertolongan dan yang ditolong haruslah setara sebagai orang yang sama-sama menanti hikmat dari Tuhan (Doehring 1. Kehadiran sang penolong dalam dominasi kuasa dapat mencederai pelayan pastoral. Emanuel Lartey dalam kaca mata poskolonial, kehadiran yang autentik merupakan hal yang terpenting dalam pelayanan pastoral (Lartey 2. Kehadiran yang autentik akan membuka jalan kepada partisipasi yang autentik pula (Lartey 2003, . Kehadiran yang autentik dalam pelayanan pastoral mendorong agar pendamping pastoral dapat mendengar suara yang tidak terdengarkan. Keterampilan mendengarkan suara sang liyan ini membutuhkan kemampuan berempati yang sangat dalam. Untuk itu John Paton menggagas pentingnya mini etnografi (Patton 2005, . Sejajar dengan itu Mary Moschella melihat ada tiga tujuan penting pelayanan pastoral melalui pendekatan kualitatif-naratif ini. Pertama, untuk memberdayakan mereka yang terpinggirkan baik individual maupun komunitas dengan membangun ruang saling mendengar dan berbagi cerita. Kedua, untuk meruntuhkan cerita-cerita yang sedang berkembang sebagai kekuatan perusak. Ketiga, membangun narasi-narasi baru untuk menjadi narasi hidup bersama. (Moschella 2018, 20,. Dua dekade terakhir ini pelayanan pastoral memakai metode membangun cerita bersama untuk menemukan makna baru semakin popular. Christie Neuger menggagas membangun narasi bersama sebagai metode untuk memperdengarkan suara perempuan yang tidak terdengarkan (Neuger 2001, . Melinda McGarrah Sharp memakai metode cerita bersama untuk memahami kesalahpahaman yang sering membesar dalam konflik sosial. Pemahaman dan kesalahpahaman dalam konflik berasal dari sebuah narasi (McGarrah Sharp 2013, . Karen D Scheib menilai bahwa narasi dapat membangun identitas personal seseorang, untuk itu kepedulian kepada cerita orang lain merupakan kepedulian pastoral yang autentik (Scheib 2. Sejarah Singkat Perkembangan dan Arah Pastoral (Penggembalaa. Penggembalaan tradisional seperti yang telah disinggung sebelumnya, dikenal dengan paradigma klerikal karena sentralnya pada kaum klerus. Umumnya tidak ada dialog antara kaum klerus dan awam. Kaum klerus menilai kawanan domba dan menyediakan tindakan seperti menurut buku manual gereja. Pengalaman manusia . sebagai subjek teologi pastoral baru muncul pada abad XX, bertolak dari pengalaman pribadi Anton Boisen yang mengalami gangguan jiwa dan menangani sendiri gangguan itu dengan cara menghayati rasa sakitnya itu melalui pertolongan simbol-simbol kekristenan. Ini kemudian berkembang menjadi pelayanan teologis dengan teori the human living document, tindakan membaca kehidupan manusia laksana membaca buku-buku. Interaksi penggembalaan berlangsung dalam reangka membaca dokumen hidup manusia. Teori ini dikembangkan melalui kerja sama dua disiplin ilmu yakni kedokteran dan teologi yang kemudian, diterima sebagai alat untuk memperlengkapi kaum klerikal. Teologi dan pelayanan pastoral seperti ini kemudian berkembang melalui sekolah teologi Andover. Harvard dan sekolah kedokteran . di Boston. Amerika Serikat. Melalui kerja sama dengan banyak ahli di bidang kedokteran pemahaman ini semakin diterima lebih luas di rumah-rumah sakit. Inilah menjadi cikal bakal CPE (Counseling Pasoral Educatio. sampai saat ini. Paradigma klinis ini kemudian menjadi masalah dalam wacana pelayanan gereja sebab banyak memakai ilmu dari luar teologi. Teologi menjadi minor. Hal ini mendorong teolog pastoral menjadi lebih mandiri secara metodologis. Para teolog memakai metode induktif yang cara kerjanya terbalik dari metode Menelaah masalah-masalah melalui riset atau survei lalu mencari intervensi dan konsep teologi pastoral yang relevan. Sejak 1982. Gerkin menggerakkan bandul pelayanan pastoral untuk memahami manusia lebih luas. tidak hanya psikologis, melainkan ke arah sosiologis dan antropologis. Sejak itu pemahaman manusia sebagai makhluk individual dalam pelayanan pastoral dipahami sebagai makhluk sosial. Dia tidak bisa dipahami tanpa memahami latar belakang sosialnya. Gerkin sendiri mengembangkan teori Boisen, manusia itu adalah dokumen yang hidup tersebut. Sebagaimana sebuah dokumen dibaca demikian seharusnya manusia dipahami. Dalam perkembangannya McLemore memahami manusia sebagai makhluk jejaring Manusia hanya bisa dipahami dan diberikan pelayanan kepedulian yang efektif bila kita memahami jejaring itu. Pintu berteologi pastoral ternyata sangat dipengaruhi oleh gagasan Paul Tillich yang hingga kini dikenal dengan metode korelatif. Integrasi teologi dan persoalan-persaolan kehidupan manusia yang kompleks semakin kompak. Metode korelasi yang kemudian berkembang dalam teori korelasi yang direvisi, gagasan David Tracy. Teori-teori ini membawa cakrawala teologi dan pelayanan pastoral ke dalam pemikiran teologi kontemporer. Gagasan teologi feminis dan womanist, teologi hitam, teologi kaum termajinalkan menjadi isu-isu baru dalam cakupan teologi pastoral. Pemarjinalan ini memiskinkan daya resiliensi diri manusia. Paradigma komunitas kontekstual merupakan perkembangan terkini dalam dunia pastoral. Paradigma ini memadang pelayanan pastoral tidak lagi pekerjaan yang berpusat pada pastor tetapi pada komunitas. Anggota-anggota komunitas didorong untuk menemukan makna baru dalam masalah-masalah komunitas Dalam hal ini berkembang metode membangun narasi bersama. Paradigma ini dikembangkan oleh John Patton . 3, 2. Dia menganjurkan agar pendamping pastoral itu hadir sebagai mini-ethnographer. (Patton 2005, . Dalam fungsi itu maka para pelayan harus peduli kepada kehidupan utuh pribadi orang yang didampinginya itu. Keutuhan itu dapat diperoleh dalam kuberkelindannya dengan komunitas tempat hidupnya. Dengan demikianlah seorang pendamping membangun pelayanan pastoral yang sungguh-sungguh dapat menolong. Bruce Rogers-Vaughn, seorang guru besar pastoral dan terapis konseling Kristen dalam bukunya. Caring for Souls in a Neoliberal Age . memberikan gambaran menarik bahwa masalah pastoral yang kelihatannya individual . inimal selama ini diperlakukan seperti it. seperti, jumlah orang menjadi pemabuk lebih banyak, keterlibatan orang dalam kecanduan narkoba terus meningkat, adiksi terhadap video game, maniak dengan sosial media merupakan akibat kekecewaan sosial. ( Roger-Vaughn 2016, 2-. Kemudian dia menambahkan juga keterkaitan semua itu dengan kebijakan umum dan politik di Amerika yang berperan besar dalam melahirkan penderitaan bersifat massal. Bukunya ini ditulis karena ia melihat ada kesenjangan pertumbuhan antara pelayanan pastoral . are of soul. dengan pemulihan kebudyaan maupun iklim politik di Amerika . alam konteks neolibera. (Roger-Vaughn 2016, . Ia menduga bahwa pemulihan yang kondisi kedua itu penting untuk pemulihan kondisi yang pertama. Moschella sejak 1993 mencoba untuk mengembangkan penelitian kualitatif atau studi etnografi dalam memahami masalah pastoral sosial. Menurut dia pemahaman entnografis dan penelitian kualitatif dapat membuat pelayanan pastoral secara praktis lebih memberikan inspirasi dan penguatan dalam membangun (Moschella 2018, . Dia sendiri melihat ada tiga pendekatan dalam mengonstruksi pelayanan pastoral sosial: pendekatan entnografis dan penelitian kulaitatif. eklesiologi entnografis. dan riset kualitatif dengan pendekatan naratif. Mengutip Ruard Ganzevoort. Moschella melihat ada tiga tujuan penting pelayanan pastoral sosial melalui pendekatan naratif ini: Pertama untuk memberdayakan mereka yang terpinggirkan baik perorangan maupun komunitas dengan membangun ruang saling mendengar dan berbagi cerita. Kedua untuk meruntuhkan cerita-cerita yang membangun kekuatan perusak. Ketiga membangun narasi-narasi baru untuk menjadi narasi hidup bersama. (Moschella 2018, 20,. Menariknya Penulis menemukan dalam kasus penyelesaian konflik oleh perempuan Sentani, bahwa setiap tahapan membangun narasi ini menumbuhkan daya resiliensi warga masyarakat (Tarigan, 2. Resiliensi pada gilirannya juga akan menciptakan komunitas yang berdaya untuk flourishing, mekar dalam keberanian untuk bertindak secara positif dalam membangun lingkungan yang produktif (Tarigan 2020, . Menariknya, selama proses intervensi pemulihan dalam lingkungan itu dalam ukuran-ukuran tertentu terjadi perbaikan relasi yang membuahkan penguatan sesama warga komunitas. Uraian ini memperlihatkan betapa ilmu penggembalaan menyediakan peralatan yang sangat beragam untuk memberikan intervensi bagi persoalan kemanusiaan termasuk dalam mengelola kerumitan kelas belajar mengajar. Keragaman ini juga menunjukkan ketersediaan peralatan itu ada di lingkungan sekitar Mulai dari penataan kelas yang sudah ada, seni percakapan dalam membangun narasi, memanfaatkan alam sekitar sebagai sarana pemulihan, kearifan budaya, bahkan permainan-permainan tradisional yang memiliki akar setempat. Intervensi ini bertujuan agar tercipta pemulihan. Pada bagian berikut ini penulis akan mencoba untuk menjawab persoalan-persoalan tentang efektivitas peralatan . yang ditawarkan oleh teologi dan pelayan penggembalaan itu dalam konteks belajar dan Konteks ini saya beri nama gaya belajar tatap layar sementara tawaran penggembalaan itu adalah pemulihan ekologis. Meskipun sekarang sudah tidak banyak lagi kelas-kelas online ternyata gaya tatap layar itu mempengaruhi pengajar dan pelajarnya. Kelas terbawa dalam suasana tatap layer tanpa warna Fasilitas kelas yang sarat multimedia beroperasi seperti mesin otomatis yang berakibat pada menurunnya nilai-nilai sentuhan manusiawi . uman touc. Tawaran ini hendak mengintervensi kelesuan seperti ini. Beberapa Gagasan Pemulihan dalam Lingkup Penggembalaan Sebagaimana sudah disebutkan di atas bahwa pemulihan pastoral itu merupakan konstruksi teologis maka proses awal selalu melalui tindakan diagnosis pastoral. Tindakan ini bisa dikaitkan dengan pemahaman hermeneutika ala Gerkin. Pendalaman melalui percakapan pastoral samapai pada tingkat memahami yang optimal merupakan tindakan pemulihan awal. Telaah Holton yang meminjam pemahaman tentang orang sakit Arthur Kleinman. AuThe Iilness NarrativeAy menekankan pentingnya proses memahami empat level narasi orang yang sakit. A Level Pertama: bagaimana orang sakit memahami gejala-gejala penyakit yang ada dalam tubuhnya berkaitan dengan fisik, diri, dan masyarakatnya. A Level Kedua: disebut sebagai level kultural, bagaimana dia secara pribadi memahami budayanya tentang gejala dan penyakitnya A Level Ketiga: bagaimana gejala dan penyakit tersebut dalam penilaian lingkungannya. bisa membuat si sakit bertindak dalam dunianya sendiri. A Level Kempat: Auclinical realityAy bagaimana simptom dan penyakit itu dalam pemahaman secara klinis (Holton 2011, 18-. Mengikuti narasi orang sakit seperti ini, bisa dijadikan sebagai sebuah contoh telaah kerja pastoral yang mendalam sehingga bisa tiba pada kesimpulan menawarkan model-model pemulihan. Setiap level memiliki tantangan pastoralnya sendiri. Setiap level terlihat jelas ada bahwa pemahaman terhadap sakit yang diderita bukan hanya persoalan medis. Dugaan saya jemaat-jemaat tradisional memiliki tantangan tersendiri dalam pemulihan yang hanya sekadar tawaran medis. Untungnya dari kesulitan ini dapat menjadi peluang sebab mereka juga memiliki konsep pemulihan yang bisa menjadi pintu masuk pemulihan pastoral. Sangat tidak dianjurkan bahwa tindakan pastoral menawarkan model pemulihan sebelum ada proses diagnosis. Artinya model-model intervensi itu tersarikan dari pengalaman real anggota komunitas pada waktu dan tempat tertentu. Pemulihan dengan memakai media simbol Kristen Pemulihan seperti ini sudah dilakukan sejak dari jaman Anton Boisen. Salib dipakai untuk melihat kehadiran Allah dalam menghadapi rasa sakitnya. Godaan gangguan jiwa yang dia alami banyak dia Atasi dengan memandang bingkai langit-langit yang dalam tatapannya seperti salib. Susan J. Dunlap, seorang teolog pastoral mengembangkan prinsip-prinsip pemulihan di gerjanya dengan memakai simbol Kristen salib dan air. Air yang dikaitkan dengan simbol baptisan itu membersihkan segala penyakit. Kajian ini menarik sebab muncul karena konteks yang dikaji secara teologis. Air penyembuhan bukan air yang bersifat magis. Ruang kelas bisa dijadikan sebagai ruang belajar sekaligus ruang penyembuhan. Setiap orang bisa berpartisipasi alam penataan ruang dan simbol. Intervensi ini tanpa subjek dan objek. Ruang itu menjadi ruang in tersubjektif. Simbol itu dibicarakan bersama dalam pemaknaan bersama. Dalam perspektif penggembalaan nilai-nilai teologi pemulihan kristiani dapat menjadi wacana dalam penghayatan dengan ritus-ritus sederhana. Kehadiran dalam wujud kini dan di sini dapat menggerakkan kesadaran kehadiran dalam ruang belajar bersama yang pada gilirannya akan menolong warga kelas untuk berpulih. Pemulihan dengan jalan-jalan budaya Lartey dalam pastoral interkulturalnya mengarahkan bahwa budaya dan tradisi gereja kaya dengan jalanjalan pemulihan. Latihan yoga banyak bermanfaat dan bisa menjadi alternatif pemulihan. Tentu ini perlu telah teologi yang lebih dalam. Bab Delapan dalam bentuk studi kasus, dia memperlihatkan bagaimana warisan budaya itu sangat kaya dalam proses pemulihan manusia. Kekayaan ini sayang kalau diabaikan oleh pelayanan pastoral (Lartey 2003, . Perasaan rasa bersalah yang mengganggu manusia misalnya memiliki akar dalam budaya. Tawaran Lartey ini menarik untuk dijadikan sebagai teori dasar dalam intervensi pemulihan ekologis. Mahasiwa teologi pada umumnya dekat dengan budayanya. Mereka dapat mengingat ulang kembali simbol-simbol budaya yang memberikan energi baru bagi mereka. Ada momentum prima di dalamnya. Misalnya budaya keluarga yang membuat upacara doa ketika mereka diberangkatkan ke kampus tujuan. Nasihat, makanan, benda-benda dan wujud doa dapat dihadirkan sebagai momentum primanya. Pemulihan dengan mengedepankan katarsis dan Pemulihan yang berorientasi pada penelusuran jalan Pemulihan ini banyak dipakai dalam penyaluran emosi yang terpendam. Melalui media seperti menggambar orang bisa dituntun untuk berkatarsis. Gagasan tarian Trinitarian Richard Rohr . patut dipertimbangkan sebagai sebuah tindakan katarsis yang dapat dijadikan praktik berteolgi Mungkin yang lebih dekat dengan konteks Indonesia buku Kim Nataraja. Menari Bersama bayang-bayang: Menyatukan ego dan diri dalam Perjalanan Rohani, . dapat diajadikan gambaran awal dalam menggagas jalan berpikir yang pulih. Meditasi dan cara mengelola pikiran mindfulness ditawarkan juga dalam buku ini. Proses katarsis dalam ukuran tertentu dapat meringankan beban kondisi jiwa warga kelas, sehingga bisa dipraktikkan dalam memelihara atmosfer pemulihan ekologis. Bergerak bersama yang diiringi dengan alunan musik tertentu dapat dilakukan seperti relaksasi pikiran. Ini bisa menolong pengarahan Pemulihan melalui praktik hidup sehari-hari Tindakan menamai gejala yang dialami manusia sangat umum dalam dunia pastoral. Nama mengawali sebuah intervensi pastoral. Melalui pemberian nama gejala yang tepat, dapat ditentukan tindakan yang Dalam tahap tertentu ini bisa dilakukan dalam kelompok. Intinya mempercakapkan pengalaman dan memahami sendiri kesehatan mental mereka. Saling mengevaluasi gejala, misalnya ketika seseorang menyebut gejala dari apa yang sedang ia alami, kelompok berusaha untuk memahami dan Ada dua Langkah penting yang bisa dilakukan, pertama mengindra pengalaman yang sedang dirasakan. Tidak perlu penilaian atas pengindraan tersebut yang lebih utama adalah merespons agar perasaan-perasaan itu diarahkan kepada kenyataan. Apakah itu real atau tidak? Kedua, menamai apa gelar yang cocok untuk perasaannya itu. Hal ini dapat menolong untuk melepaskan perasaan negatif dan menguatkan perasaan yang positif. Mereka bisa berkreasi mencari jalan-jalan yang sederhana tapi efektif. Disarankan ada percakapan selalu, jalan-jalan untuk melihat suasana yang baru, berdoa Bersama, menganjurkan agar bisa beristirahat dengan baik. Pemulihan bersifat sosial Membangun Kembali relasi sosial karena konflik. Kerusakan relasi dalam masyarakat baik karena prasangka maupun karena konflik sosial tidak saja merugikan tetapi juga mengancam produktivitas komunitas tersebut. Konflik itu biasanya berkembang karena narasi-narasi yang dipegang masyarakat. Parahnya, narasi bisa menjadi keyakinan dan dasar Tindakan. Oleh sebab itu salah satu jalan pemulihan adalah kegiatan membangun narasi bersama. Untuk itu gagasan Moschella, tiga langkah membangun narasi baru, di atas bisa di dalami lebih utuh. Memahami dan membangun narasi-narasi bersama merupakan tindakan teologis untuk membangun kehidupan yang lebih baik yang dalam kepustakaan sering disebut well being . eadaan yang bai. , healing . idup yang berpuli. dan flourishing . ehidupan yang meka. Kata-kata ini secara simbolis sering menjadi kata kunci dalam praksis pastoral. Untuk itu pengembangan empati [ kata kunci dalam mendengar dan memahami yang di dalamnya termuat kemampuan untuk bersatu dalam hasrat, rasa sakit, dan juga kedalaman rasa perasaa. yang khas pastoral perlu dikembangkan melampaui empati yang bernuansa pribadi kepada nuansa sosial yang dalam peristilahan Lartey disebut dengan (Lartey 20016, . KESIMPULAN Sedimen patologis pasca pandemi covid-19 masih ada dalam kelas-kelas perkuliahan antara lain berupa kemelekatan peserta didik kepada gadget, semakin sulit berinteraksi, dan rentan terhadap gangguan kesehatan Gaya tatap layar dalam belajar dan mengajar masih terbawa ke dalam kelas on site. Kelas menjadi tidak berwarna interaktif meskipun bertatap wajah. Hal ini merupakan konteks pembelajaran yang membutuhkan cara-cara baru dalam menyiasatinya agar jangan terjadi kelusuhan . dalam belajar mengajar. Ketiadaan siasat terhadap konteks ini akan merugikan pengajar maupun anak-anak didik. Mereka bisa bersama-sama tiba pada titik keluhan yang sama, ketiadaan makna dan saling menyalahkan. Desakan agar sistem belajar dan mengajar lebih produktif semakin urgen. Ternyata teologi dan pelayanan penggembalaan memiliki peralatan yang cukup untuk menciptakan komunitas yang mencapai well being. Pemulihan ekologis bisa dijadikan sebagai metafora dalam pendekatan intervensi penggembalaan dalam kelas pasca covid-19. Warga kelas yang mengalami suasana berpulih itu akan mengalami produktivitas kehidupan yang lebih mumpuni. Mereka memiliki daya resiliensi yang cukup dalam menghadapi kehidupannya. Masalah pemulihan itu sendiri makin kompleks karena itu dibutuhkan practical wisdom dari upaya penggembalaan warga jemaat yang bertanggung jawab. Model-model pemulihan yang ditawarkan akan bermuara pada tantangan pencarian model yang lebih cocok bagi situasi pergumulan jemaat. Dalam perspektif pastoral modelmodel ini perlu pertanggungjawaban teologis. Perlu diingat dalam praktik intervensi pemulihan ekologis ini memiliki filosofis setahap demi setahap. Partisipan perlu memahami setiap kegiatan yang dilakukan dengan penuh kesadaran. Sasaran antara yang perlu selalu diukur dalam setiap model pemulihan ekologis ini adalah penguatan warga kelas dalam penguatan daya resiliensi mereka. Tidak tertutup kemungkinan ada warga kelas yang tidak siap dan tidak bersedia, itu artinya perlu pendekatan khusus baginya. Kebangkitan dari berbagai fenomena setelah covid-19, baik gangguan kesehatan mental maupun terperangkap dalam budaya tatap layar bisa menolong pemulihan kelas mencapai sasaran antar ini. DAFTAR PUSTAKA