Jurnal PASTI Volume IX No 3, 286 Ae 299 IMPROVE THE WORK EFFECTIVENESS WITH OVERALL EQUIPMENT EFFECTIVENESS (OEE) AS THE BASIS FOR OPTIMIZING PRODUCTION Herry A. Prabowo. Farida, dan Deta Indar R Program Studi Teknik Industri. Fakultas Teknik Universitas Mercu Buana Email: herryagung@gmail. faridaghozali@gmail. ABSTRAK PT Yamaha Motor Electronics (PT YME) adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang pada pembuatan otomotif kendaraan bermotor roda dua. Perusahaan ini menghasilkan suku cadangelektronik untuk kendaraan bermotor. Beberapa produk mencakup ecu cdi/, pengapian kumparan. Starting Motor, stator dan rotor. Sebagai produsen , perusahaan tidak terlepas dari masalah efektivitas produk . Masalahnya adalah ketidak seimbang antara line winding sekunder dengan line berikutnya. Pada saat hal ini terjadi maka menyebabkan terjadi downtime yang akan menyebabkan turunnya efektivitas. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif dari pekerjaan dan kegiatan untuk pengolahan data dan settlement issues. Dari analisis yang dilakukan di PT YME , diperoleh nilai oee pada agustus 2014 , nilai rata-rata dari line 1 sebesar 79. 95 % dan rata-rata line 2 adalah 75. % . Nilai oee dari line 1 berkisar antara 68. 34 %. 58 % dan untuk line 2 berkisar antara 95 % -83. 91 %. Nilai oee masih di bawah 85 % menunjukkan bahwa kinerja mesin, operator dan metode belum maksimal . Perusahaan perlu meningkatkan nilai OEE menjadi > 85 %. Perusahaan perlu melakukan perbaikan di Set-Up losses yang menjadi penyebab kerugian terbesar diantara faktor-faktor lain di Six Big Losses. Perbaikan dilakukan terhadap lima aspek yaitu aspek orang, mesin, bahan, metode kerja, dan lingkungan. Salah satu yang telah dilakukan adalah perbaikan dalam pengumpulan data dan perbaikan metode dalam bekerja, terutama dalam SOP secara umum. Kata Kunci: Overall Equipment Effectiveness (OEE). Total Productive Maintenance (TPM). Availability Ratio. Performance Ratio. Rate of Quality. Six Big Losses ABSTRACT PT Yamaha Motor Electronics (PT YME) is a company engaged in the field on manufacture of automotive two-wheeled motor vehicle. This company produces electrical spare part for motor vehicles. Some of the products produced include ECU / CDI. Ignition Coil. Starting Motor. Stator and Rotor. As a manufacturing company, the company would not be separated from the problem of the effectiveness of every product The problem is not balanced between the secondary winding lines with the next line. addition to the winding machine downtime occurs causing a decline in the effectiveness. The research method used is descriptive analysis of the work and activities for data processing and settlement issues. From the analysis conducted in PT YME. OEE values obtained in August 2014, an average value of line 1 is 95% and the average line 2 is 75. OEE value of line 1 ranges between 68. 34% - 85. 58% and for line 2 ranged between 54. 95% -83. OEE value is still below 85% indicates that the performance of the machine, the operator and of methods that do not yet maximal. It needs to be improved to increase the value of OEE in order to achieve the standard that is> 85%. With OEE value is not stable, it will cause no guarantee of quality and quality of production. Therefore, companies need to make improvements in factor Set-Up losses were a contributing factor Losses greatest value among other factors in the Six Big Losses. Repairs carried out in five aspects That Man. Machine. Material, methods of work, and the environment. One is done Losses improvements in data collection and improvement in working methods, especially in SOP in Keyword: Overall Equipment Effectiveness (OEE). Total Productive Maintenance (TPM). Availability Ratio. Performance Ratio. Rate of Quality. Six Big Losses. Jurnal PASTI Volume IX No 3, 286 Ae 299 PENDAHULUAN Salah satu indikasi optimalnya kinerja suatu mesin adalah melalui data kerusakan yang terjadi pada mesin tersebut. Jam henti mesin yang disebabkan karena suatu kerusakan, biasa disebut dengan istilah downtime. Downtime menjadi salah satu faktor yang berpengaruh pada optimalisasi mesin produksi. Kerugian perusahaan yang disebabkan oleh kinerja mesin sering disebut dengan Six Big Losses. Downtime termasuk dalam salah satu Six Big Losses. Kerugian yang ada di dalamSix big loses terdiri dari Breakdown losses / Equipment failure. Set-Up and adjustment losses , idling and minor stoppages losses. Redused speed losses. Process defect . Reduce yield Loses. (Hegde1, 2. PT YME yang merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang otomotif yaitu spare part motor. Keberhasilan kegiatan produksi dapat dipantau dari hasil produksi dan produk gagal yang dihasilkan. Pada bulan Agustus 2014 nilai produk gagal berada pada batas target reject . sehingga perlu dilakukan kegiatan perbaikan (Target reject bisa dilihat pada lampira. Dengan kegiatan pemeliharaan mesin yang efektif diharapkan dapat mengurangi jumlah reject dan stop mesin saat kegiatan produksi. Kerusakan mesin dalam departement ini seringkali tidak terkontrol dan menimbulkan kerugian bagi Nilai downtime mesin tinggi namun belum ada tindakan perbaikan yang ditetapkan untuk mengurangi downtime. Bahkan belum diketahui mesin mana saja yang menjadi mesin kritis untuk dilakukan pemeliharaan. Optimalisasi mesinpun tidak diperhitungkan karena kegiatan TPM belum dilakukan secara benar dalam perusahaan ini. Pemeliharaan mesin yang dilakukan sebatas pada tindakan preventive dan corrective. Untuk itu dilakukan analisa data downtime dari departement engineering & maintenance, ditentukan mesin yang menjadi mesin kritisnya, kemudian dilakukan pengukuran kinerja mesin di department produksi dengan menggunakan metode OEE (Overall Equipment Effectivenes. yang sesuai dengan prinsip-prinsip TPM. Berdasarkan uraian latar belakang diatas, identifikasi masalah yang akan dibahas pada penelitian ini adalah sebagai berikut: Bagaimana kinerja mesin-mesin utama jika diukur dengan menggunakan metode OEE? Solusi dan tindakan perbaikan apa saja yang dapat dilakukan untuk meningkatkan nilai efektivitas mesin jika dilakukan menggunakan prinsip-prinsip TPM? Dalam penelitian ini ada beberapa tujuan yang ingin dicapai yaitu diantaranya adalah: melakukan pengukuran kinerja mesin dengan menghitung OEE. Menetapkan usaha perbaikan untuk meningkatkan produktivitas. Mengingat luasnya cakupan pembahasan mengenai penerapan TPM di perusahaan maka penulis melakukan pembatasan masalah sebagai berikut: pengambilan data dilakukan pada periode Bulan Agustus 2014 di departement produksi PT YME, penentuan line produksi untuk dilakukan pengambilan data, tingkat produktifitas dan effisiensi mesin yang diukur adalah dengan menggunakan Metode OEE untuk mengukur kinerja mesinmesin utama di Production plant, data dan analisa Six Big Losses belum termasuk dataReduce speed Losses, penelitian dilakukan hanya sampai pada tahap Pemberian saran dan hasil perbaikan, penelitian yang dilakukan tidak sampai pada pembahasan biaya. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian TPM (Total Productive Maintenanc. TPM Merupakan suatu sistem pemeliharaan mesin yang melibatkan semua departement termasuk operator produksi, pengembangan pemasaran dan administrasi. Penerapan TPM membutuhkan partisipasi dari semua element, dimulai dari manajemen puncak sampai karyawan di lini depan. Operator tidak hanya menjalankan mesin, tetapi Jurnal PASTI Volume IX No 3, 286 Ae 299 juga merawat mesin. Total Productive Maintenance (TPM) sebagai suatu pendekatan yang inovatif dalam maintenance dengan cara mengoptimasi keefektifan peralatan, mengurangi/menghilangkan kerusakan mendadak . dan melakukan pemeliharaan mandiri oleh operator (Autonomous Maintenance by Operato. Kata AuTotalAy dalam Total Productive Maintenance mengandung tiga arti, yaitu: (Nakajima, 1. Total Effectiveness berguna untuk: menunjukkan bahwa TPM bertujuan untuk efisiensi ekonomi atau mencapai keuntungan, menjamin kesiapan alat/mesin cadangan dalam situasi darurat misalnya system pemadam kebakaran, menjamin keselamatan manusia yang menggunakan mesin/alat, memperpanjang umur pakai mesin/alat. Total Maintenance System, meliputi pencegahan pemeliharaan . aintenance preventio. , pemeliharaan pencegahan . reventive maintenanc. , pemeliharaan berkala (Periodic Maintenanc. ,perbaikan setelah kerusakan (Breakdown Maintenanc. , pemeliharaan perbaikan (Corrective maintenanc. , peningkatan (Improvemen. Total Participation of All Employees, meliputi autonomous maintenanceoperator melalui kegiatan suatu grup kecil . mall group activitie. Secara umum di dalam TPM ada dua tujuan utama yaitu: menghilangkan cacat . ero defec. yaituzero inventory untuk spare part, zero defect, zero set up time, zero abnormalities, zero accident. Menghilangkan gangguan mesin dan equipmentnya ( zero mechanical breakdow. yaitu mengurangi kerusakan mesin, mengurangi kerusakan produk, dan kejadian negative lainnya. Enam Kerugian Utama / Six Big Losses Dalam perusahaan ada beberapa kerugian dalam perusahaan yang terkait dengan peralatan, yang biasa disebut Six Big Losses. Adapun six big losses adalah sebagai berikut yang digolongkan menjadi 3 macam: Downtime Losses Downtime Losses meliputi: breakdown losses/Equipment failure yaitu kerusakan mesin/peralatan yang tidak diinginkan yang menyebabkan kerugian pada perusahaan karena menimbulkan penurunan output,waktu yang sia-sia, atau reject dari barang Yang dapat digolongkan sebagai equipment failure antara lain: kerugian akibat gangguan (Downtim. , menunggu faktor pedukung, tidak ada operator, pergantian shift. Set-Up and adjustmen losses Kerugian Set-up dan Adjustment adalah kerugian yang ditimbulkan karena kegiatan set-up termasuk penyesuaian untuk mengganti suatu jenis produk berikutya untuk proses produksi berikutnya. Yang termasuk di dalamnya adalah set-up material di mesin, material shortages, operator shortages, major adjustment, dan warm-up time. Speed losses Idling and minor stoppages losses. Kerugian karena kejadian berhentinya mesin sejenak, kemacetan mesin,idle time Kerugian ini umumnya memakan waktu yang singkat serta tidak membutuhkan personal maintenance. Redused speed losses adalah kerugian yang timbul karena kecepatan aktual proses berada di bawah kecepatan optimal dari mesin. Sehingga hal ini menyebabkan proses produksi tidak berjalan dengan optimal. Jurnal PASTI Volume IX No 3, 286 Ae 299 Defect losses Process defect Kerugian yang timbul karena adanya produk yang cacat. Kecacatan produk menimbulkan kerugian material, pengurangan jumlah produksi, peningkatan limbahproduksi, dan penambahan waktu apabila dilakukan pengerjaan ulang pada produk yang cacat tersebut. Reduce yield Loses/StartAeup losses Kerugian waktu dan material yang timbul selama proses produksi karena factor keadaan operasi yang tidak stabil, tidak tepatnya penanganan dan pemasangan mesin, ketidaktahuan operator pada proses produksi yang dia jalankan. OEE (Overall Equipment Effectivenes. OEE adalah alat ukur yang digunakan dalam TPM. Dimana pengukuran dilakukan secara menyeluruh berdasarkan kerugian yang diperoleh karena adanya six big losses. Dalam Pengukuran OEE digunakan 3 paramater utama yaitu Availability> 90%. Performance efficiency>95 %. Quality rate product> 99% Perhitungan parameter TPM dilakukan berdasarkan nilai dari Six BigLosses yang digambarkan oleh table berikut : Defect Loses Speed Loses Downtime Loses Tabel 1 Perhitungan Nilai OEE Six Big Loses Breakdown Loses Set Up Loses Idling Time/Minor Stopages Redused Speed Loses Process Defect Reduced Yield Loses Perhitungan OEE Oe Parameter dalam TPM : Availability (Ketersediaa. adalah perbandingan aktual waktu operasi . ctual operation tim. dengan waktu pembebanan . lane operating tim. Parameter ini menggambarkan pemanfaatan waktu yang tersedia untuk kegiatan produksi. Formula yang digunakan dalam menghitung availability adalah : Operation time adalah waktu mesin dalam keadaan siap pakai. Operation time diperoleh dari pengurangan Loading time dengan Equipment downtime. Hal ini dilakukan karena pada proses produksi, seringkali terjadi kerusakan yang menyebabkan Losses Utility mesin. Loading time adalah waktu yang tersedia per hari atau perbulan(Total availabilit. dikurang dengan waktu downtime mesin yang direncanakan . lanned downtim. Jurnal PASTI Volume IX No 3, 286 Ae 299 Performa efficiency (Efisiensi kerja/PE) Performa efficiency merupakan rasio kuantitas produk yang dihasilkan jika dihitung menggunakan waktu siklus ideal terhadap waktu yang tersedia yang melakukan produksi . peration tim. Dalam performance efficiency ada tiga factor penting yang perlu diketahui yaitu: Ideal cycle time . aktu siklus idea. Processed amount . umlah produk yang dihasilka. Operation time (Waktu operasi mesi. Operation speed rate (OSR) Merupakan perbandingan antara kecepatan ideal mesin berdasarkan kecepatan mesin sebenarnya . deal cycle tim. dengan kecepatan mesin aktual . ctual cycle tim. Net operation rate Merupakan perbandingan jumlah produk yang diproses . rocess amoun. dikali actual cycle time dengan operation time. Net operation time berguna untuk menghitung rugi yang terjadi karena adanya penurunan kecepatan produksi atau minor stoppages. Sehingga dalam menghitung performance efficiency dapat disederhanakan menjadi seperti berikut: Quality rate Merupakan kemampuan suatu mesin untuk menghasilkan produk untuk memenuhi target produksi. Quality rate meruapakan rasio antar produksi sesuai standart dan total Secara matematis,Quality rate dapat dirumuskan sebagai berikut : Kerugian-kerugian yang dapat menurunkan tingkat kualitas ini dan merupakan factor yang perlu diperhatikan dalam perhitungan adalah: Quality Reject dan Rework. Fish Bone Diagram . iagram Tulang ika. Fungsi dasar diagram Fishbone/Cause effect adalah untuk mengidentifikasi dan mengorganisasi penyebab-penyebab yang mungkin timbul dari suatu efek spesifik dan kemudian memisahkan akar penyebabnya. Pengidentifikasian dilakukan dengan melakukan pendekatan terstruktur yang memungkinkan adanya analisis secara terperinci. Ada 5 faktor utama yang dianalisa di menggunakan fish bone: Manusia . Metode Kerja . ork metho. Mesin/Alat . achine/equipmen. Material/Bahan . dan Lingkungan . Jurnal PASTI Volume IX No 3, 286 Ae 299 Gambar 1. Analisa Fish-Bone Diagram pareto Diagram Pareto adalah salah satu jenis diagram yang terdiri dari diagram batang . ars grap. dan diagram garis . ine grap. Diagram batang memperhatikan klasifikasi dan nilai data, sedangkan diagramgaris mewakili total data komulatif. Klasifikasi data diurutkan dari kiri ke kanan menurutrangking tertinggi hingga terendah data. Rangking tertinggi merupakan data prioritas. Tujuan dari diagrampareto adalah untuk memperjelas factor yang paling penting dari beberapa factor yang ada. Gambar 2. Diagram Pareto Landasan pelaksanaan TPM Dalam pelaksanaan TPM dilandasi oleh semangat 5S/5R/5P yaitu :5S merupakan suatu budaya bagaimana seseorang memperlakukan tempat kerja secara benar sehingga dapat menciptakan kemudahan dalam bekerja. METODE PENELITIAN Metode penelitian merupakan urutan proses dalam penelitian yang akan dilakukan oleh penulis, metode penelitian yang diambil dalam penelitian ini merupakan metode Metode deskriptif dikelompokan menjadi 6 yaitu: Metode survey: penyelidikan yang diadakan untuk memperoleh fakta-fata dari gejalaAe gejala yang ada dan mencari keteranganAeketerangan secara factual, baik tentang institusi sosial, ekonomi, atau politik dari suatu kelompok ataupun suatu daerah. Metode diskriptif berkesinabungan: adalah kerja meneliti secara diskriptif yang dilakukan secara terus menerus atas suatu obyek penelitian. Metode studi kasus terdiri dari: metode analisis pekerjaan dan aktivitas (Job analysi. meneliti secara terperinci aktivitas dan pekerjaan manusia , dan hasil penelitian tersebut dapat direkomendasikan untuk keperluan masa yang akan dating. Metode studi komperatif: penelitian diskriptif yang ingin mencari jawab secara mendasar tentang sebabakibat, dengan menganalisa factor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. Jurnal PASTI Volume IX No 3, 286 Ae 299 Metode studi gerakan dan waktu: metode diskriptif yang berusaha menyelidiki efisiensi produksi dengan mengadakan studi yang mendetail tentang penggunaan waktu serta perilaku pekerja dalam proses produksi. Berikut merupakan diagram alir metode penelitian yang dilakukan. Mulai Penelitian Identifikasi masalah melalui pengamatan data produksi Menentukan tujuan penelitian Study pustaka dari jurnal dan Tinjauan lapangan Pengumpulan data Data primer melalui pengamatan di lapangan Data sekunder dari dokument department produksi Pengolahan data Penentuan line secondary coil. Perhitungan availability, performa efficiency, nilai quality rate, nilai OEE. Six Big Losses, dan analisa sebab dengan diagram fish bone Analisa pemecahan masalah Analisa Six Big Losses OEE. Analisa 4M sebab Ae akibat. Usulan pemecahan masalah Kesimpulan & Saran HASIL DAN PEMBAHASAN Data Mesin Produksi Data Mesin produksi berdasarkan kapasitas setiap mesin dalam pembuatan produk. Pengambilan data mesin dari line secondary coil untuk line sub assy, berikut merupakan data cycle time dari mesin produksi : Jurnal PASTI Volume IX No 3, 286 Ae 299 Tabel 2 Data cycle time mesin Nama Proses Cycle Time (Meni. 0,13 0,13 0,13 0,13 0,13 Insert Terminal Winding Secondary Winding Secondary Winding Secondary Manual Solder Man Power Kapasitas Jumlah Produksi Shift 1 Shift 2 Perhitungan Availability Availability menggambarkan pemanfaatan waktu yang tersedia untuk kegiatan produksi. Formula yang digunakan dalam menghitung availability adalah : Operation Time Loading Time Operation time diperoleh dari Operation Time = Loading time Ae Downtime Loading time adalah waktu yang tersedia per hari dikurangi dengan waktu downtime yang telah direncanakan oleh perusahaan. lanned downtim. Oe Available time = . = 900 menit Perhitungan Performance Effeciency Performace efficiency merupakan rasio kuantitas produk yang dihasilkan jika dihitung menggunakan waktu siklus ideal terhadap waktu yang tersedia yang melakukan produksi . peration tim. 100% = 87. Perhitungan Quality Rate Produk Quality rate merupakan rasio antar produksi sesuai standart dan total produksi. Secara matematis,Quality rate dapat dirumuskan sebagai berikut : Oe Perhitungan Nilai OEE Nilai OEE merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk menilai performa dari peralatan. Perhitungan OEE dapat diperoleh dengan Rumus sebagai berikut : 1 = 83. 68 % 87. 5 % 98. 9% = 72. Berikut merupakan data perhitungan nilai OEE yang didapat dari pengalian ketida faktor berdasarkan data yang sudah ada dalam bentuk tabel : Jurnal PASTI Volume IX No 3, 286 Ae 299 Tabel 3 Nilai OEE line 1 Date Mesin Line 1 Availability (%) Secondary Coil Secondary Coil Secondary Coil Secondary Coil Secondary Coil Secondary Coil Secondary Coil Secondary Coil Secondary Coil Secondary Coil Secondary Coil Secondary Coil Secondary Coil Secondary Coil Secondary Coil Secondary Coil Secondary Coil Secondary Coil Secondary Coil Secondary Coil 83,68 86,88 89,48 87,92 86,45 92,92 93,73 92,29 90,94 87,85 83,65 88,13 90,52 90,67 90,32 90,73 86,46 86,67 83,11 Date Mesin Line 1 Availability (%) Secondary Coil Secondary Coil Secondary Coil Secondary Coil Secondary Coil Secondary Coil Secondary Coil Secondary Coil Secondary Coil Secondary Coil Secondary Coil Secondary Coil Secondary Coil Secondary Coil Secondary Coil Secondary Coil Secondary Coil Secondary Coil Secondary Coil Secondary Coil Performance Efficiency (%) 87,50 93,22 88,46 92,32 96,27 84,89 91,82 90,30 91,70 93,81 91,89 96,33 92,41 89,76 76,07 95,18 94,40 94,76 96,09 93,09 Quality Rate (%) OEE (%) 98,90 98,97 99,28 99,33 99,33 99,47 99,37 99,62 99,49 99,32 99,29 99,26 99,50 99,50 99,08 99,54 99,42 99,40 99,50 99,31 72,41 73,04 76,29 82,05 84,07 73,00 84,77 81,62 84,20 84,73 80,15 79,98 81,03 80,84 68,34 85,58 85,15 81,44 82,86 77,47 Quality Rate (%) OEE (%) 99,56 Tabel 4 Nilai OEE line 2 Performance Efficiency (%) Perhitungan Six Big Losses Dari data yang diperoleh untuk bulan Agustus 2014 selama satu bulan pengambilan data. O EE yang didapatkan masih belum mencapai target yang sudah ditentukan oleh manajemen yaitu 90%. Hal ini sebagai indikasi bahwa pelaksanaan TPM dalam perusahaan belum maksimal sehingga nilai OEE yang ditargetkan masih belum tercapai. Berikut pembagian faktor penyebab turunnya OEE dari proses secondary coil: Jurnal PASTI Volume IX No 3, 286 Ae 299 Tabel 5. Six Big Losses line 1 Six Big Losses Line 1 Ganti Wire Planning Stop Wire Putus Wire Jump Lain-lain Idling Minor Stoppages Losses Reduced Speed Losses Process Defect/Produk Cacat Set-up Losses Down time Losses Speed Losses Breakdown Losses Idling Minor Stoppages Reduced Speed Losses Proses Defect Defect Losses Reduce Yeild Losses Pengecekan QC Total Time Percentase (%) 41,60 2,10 21,33 7,50 1,31 Kumulatif (%) 41,60 43,70 65,03 72,53 73,84 24,44 98,28 0,00 98,28 0,90 99,18 0,82 100,00 Total Time Percentase (%) 39,59 2,50 7,69 3,31 0,42 Kumulatif (%) 39,59 42,09 49,78 53,09 53,50 44,63 98,13 0,00 98,13 0,90 99,03 0,97 100,00 Tabel 6 Six Big Losses line 2 Six Big Losses Line 1 Set-up Losses Down time Losses Speed Losses Breakdown Losses Idling Minor Stoppages Reduced Speed Losses Proses Defect Defect Losses Reduce Yeild Losses Ganti Wire Planning Stop Wire Putus Wire Jump Lain-lain Idling Minor Stoppages Losses Reduced Speed Losses Process Defect/Produk Cacat Pengecekan QC Dan berikut merupakan diagram pareto dengan nilai Six Big Losses : Diagram Pareto Six Big Losses Line 1 Grafik 1 Diagram pareto line 1 Jurnal PASTI Volume IX No 3, 286 Ae 299 Diagram Pareto Six Big Losses Line 2 Grafik 2 Diagram pareto line 2 Diagram Sebab Akibat (Fish Bone Diagram& Why-Why Analysi. Dari data yang menempati 80% dari six big losses menjadi prioritas utama untuk analisa dan mencari pemecahannya dan mencari masalah yang segera diatasi. Berikut merupakan hasil analisa fish bone: Belum terbiasa saat penggantian Mesin Man Initializing saat Ganti wire sensor tidak detect wire kondisi velt wi re putus ganti wi re posisi jalur wire tidak tepat Idli ng minor Klelalaian / Wire jump Wi re putus cek jalur setelah ganti wire wire jump keluar jalur penggantian wire kondisi akselerasi dan deklarasi rpm terlalu cepat kondisi material dari yo bobbin terlalu besar Wire putus raw material kusut, harus ganti wire Wire putus Kondisi raw material wire Idling minor stoppage losses waktu gamti material terlalu Six Big Losses Wire jump ganti wire min jmlh wire 8 kg, actual 3-5 kg Material tidak dipastikan wire keadaan free kesulitan ketika memasang wire mencari spindle yang terjadi wire Ganti wire Cara yang kurang Methode Gambar 3. Analisa Fish-Bone Berikut merupakan hasil analisa dengan metode why-why analysis: berdasarkan dari why-why analysis yang dilakukan pada line 1 dan line 2 setelah pengamatan yang Harus ada aktifitas perbaikan untuk meningkatkan nilai OEE, data dari why-why analysis ini berdasarkan dari nilai Six big losses yang didapatkan. Jurnal PASTI Volume IX No 3, 286 Ae 299 Wire putus Wire Jump Ganti Wire Tabel 7. Why-Why Analysis Idling Minor Stapager Losses Setelah penggantian wire tidak dilakukan pengecekan route Operator lali setelah penggantian selesai dilakukan Kesulitan saat pemasangan Sering melakukan pergantian Terjadi setelah ganti wire Wire dari raw material sudah Hasil winding tidak rata Wire sangat kecil dan hampir tidak Berat raw material tidak sesuai Tidak sesuai rute wire yang sudah Pengecekan dilakukan secara Jig sudah tidak sesuai lagi dengan diameter bobbin Wire tidak masuk pada hook Tidak ada tension saat akan selesai proses Kebingungan saat mencari spindle saat wire jump Proses pergantian model lebih dari 3x Tidak ada pendataan wakyu jika problem mesin Belum terbiasa penggantian wire Penerangan yang kurang di area mesin Pengecekan tidak Pengecekan dilakukan ketika terjadi masalah Salah memasukkan rute wire Kondisi velt yang kotor menyebabkan wire loose Perlu initializing setiap pergantian Tidak dilakukan pendataan saat Waktu kurang dari 2 menit Analisa 4M SebabAeAkibat Dalam analisa sebabAeakibat ini untuk mengetahui faktor-faktor penyebab terjadi menurunya nilai OEE. Dari data yang sudah didapatkan, perlu ada pembagian antara line 1 dan line 2. Dimana nilai terbesar untuk line 1 merupakan nilai dari set-up losses kemudian speed losses, sedangkan untuk line 2 nilai terbesar yang mempengaruhi effectiveness merupakan speed losses lalu set-up losses. Berikut merupakan analisa dari faktor set-up losses dan speed losses untuk line 1 dan line 2: Mesin Kondisi ketiga mesin ini sudah terintregasi satu sama yang lain. Penghubung mesin satu dengan mesin tiga menggunakan conveyor, operator hanya berada di proses Insert Terminal. Jika salah satu mesin terjadi kerusakan yang bersifat sementara, maka pengiriman produk ke mesin berikutnya akan terganggu. Kondisi sensor tidak deteksi saat wire sudah habis, menyebabkan saat penggantian wire yang baru memerlukan waktu yang lebih lama. Kondisi velt yang berfungsi sebagai penahan wire supaya tidak loose . tidak tepat saat setelah penggantian wire. Hal ini menyebabkan terjadinya wire putus ditengah proses dan menyebabkan berhentinya mesin. Tidak sesuai jadwal saat penggantian velt, yang seharusnya dilakukan setiap minggu, sehingga terjadi wire jump ketika saat proses winding. Percepatan dan perlambatan putaran mesin berpengaruh saat peroses winding, kondisi percepatan dan perlambatan yang terlalu cepat mengakibatkan wire jump terjadi. Tetapi percepatan dan perlambatan yang terlalu lambat juga tidak tercapainya mesin time. Kondisi saat persiapan mesin ketika ganti model, mesin harus melakukan initializing. Proses tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama, tetapi operator tidak melakukan pencatatan waktu yang semestinya. Hal ini merupakan penyebab idling minor stopages losses menjadi naik terutama untuk line 2. Seringnya terjadi wire jump untuk mesin di line 1 membuat tingginya nilai idling minor stopages Jurnal PASTI Volume IX No 3, 286 Ae 299 losses, operator tidak melakukan pencatatan waktu karena hanya membutuhkan waktu kurang dari 1 menit untuk melakukan perbaikan. Man (Manusi. Tidak terbiasanya saat penggantian wire dikarenakan ada operator baru yang masuk menyababkan lama penggantian wire tidak sesaui waktu yang diharapkan. Kesalahan operator saat penggantian wire masih sering terjadi meskipun sudah ada working intruction penggantian wire. Kesalahan saat pemasangan wire ini mengharuskan operator memasang ulang saat ganti wire, sehingga waktu yang diperlukan semakin lama. Operator tidak melakukan pengecekan ulang setelah ganti wire, terjadinya wire putus saat tengah proses masih sering terjadi karena wire yang dimasukan tidak masuk jalur yang seharusnya. Posisi wire yang kurang tepat, seperti peletakan velt miring juga mempengaruhi terjadinya wire Material Kondisi diameter inner dari bobbin terlalu besar terhadap jig, sehingga saat proses winding dengan rpm yang tinggi, bobbin tidak stabil dang menyebabkan hasil winding tidak teratur, sehingga wire akan putus saat proses. Raw material dari wire sudah kusut, menyebabkan tension wire tidak stabil dan memungkinkan terjadinya putus ditengan Berat total dari raw material wire yang terlalu sedikit/underweight . -5 k. yang seharusnya standart 8 kg, membuat tingginya intensitas untuk ganti wire dan membutuhkan waktu yang lebih lama. Metode Cara penggantian wire masih banyak tindakan yang tidak berguna, karenanya terjadi peningkatan waktu saat penggantian wire. Diameter wire yang sangat kecil . membuat wire susah untuk terlihat, memerlukan waktu yang lama untuk memasukan wire ke jalur yang sudah tersedia. Tidak memastikan wire dalam keadaan free/bebas . idak ada yang terjepi. , dalam kondisi tertentu wire tidak dalam keadaan free dan mengakibatkan wire kembali putus dan harus memasang lagi. Perlu ada metode tertentu untuk penanganan wire jump, dalam hal ini operator masih bingung dan mencari-cari untuk spindle yang terjadi wire jump. Dari hasil analisa 4M yang telah dilakukan, perbaikan dilakukan berdasarkan 4 faktor dari analisa tersebut, diantaranya: faktor perbaikan mesin, faktor perbaikan untuk manusia, faktor perbaikan untuk material dan juga faktor perbaikan dari metode. Data OEE Setelah Perbaikan/Improvement Dari data yang diperoleh setelah melakukan perbaikan/improvement terhadap line produksi secondary coil sesuai dengan schedule perbaikan, maka pengambilan data dilakukan pada bulan Januari 2015. Data nilai OEE yang diperoleh di line 1 secondary coil dengan rata-rata nilai OEE 83,87%, nilai tersebut meningkat 3,92% dari nilai OEE bulan agustus 2014 dengan nilai rata-rata OEE 79,95%. Dari nilai Availability dengan nilai rata-rata 92,02%, nilai tersebut meningkat 4,16% dari bulan agustus 2014 dengan nilai rata-rata 87,93%. Nilai performance effeciency dengan nilai rata-rata 91,71%, nilai ini meningkat 0,15% dari bulan agustus 2014 dengan nilai rata-rata 91. Nilai quality rate product dengan nilai ratarata 99,58%, nilai tersebut meningkat 0,24% dari bulan agustus 2014 dengan rata-rata nilai 99,34%. Dari data nilai OEE untuk line 2 diperoleh dengan nilai rata-rata 81,50%, nilai tersebut meningkat 6,02% dari bulan agustus 2014 dengan nilai rata-rata 75,48%. Dari nilai availability dengan nilai rata-rata 93,31%, nilai tersebut meningkat 6,39% dari bulan agustus 2014 dengan nilai rata-rata 86,92%. Nilai dari perfomance effeciency diperoleh dengan nilai rata-rata 87,70%, nilai ini meningkat 0,05% dari bulan agustus 2014 dengan Jurnal PASTI Volume IX No 3, 286 Ae 299 nilai rata-rata 87,65%. Nilai dari quality rate product dengan nilai rata-rata 99,60%, nilai tersebut meningkat 0,22% dari bulan agustus dengan nilai rata-rata 99,38%. PENUTUP Simpulan Dari hasil analisa yang dilakukan, diperoleh nilai OEE pada bulan agustus 2014 untuk nilai rata-rata line 1 adalah 79. 95% dan rata-rata line 2 adalah 75,48%. Nilai OEE yang masih dibawah dari 85% menunjukan bahwa kinerja mesin, operator maupun dari metode yang dilakukan masih belum maksimal. Hal tersebut perlu dilakukan perbaikan untuk meningkatkan nilai OEE agar bisa mencapai nilai standart yaitu >85%. Berdasarkan data yang dihasilkan Six Big Losses, yang menjadi penyebab utama penurunan nilai OEE merupakan set-up losses 43,70%, breakdown losses 28,83% dan Speed losses . dling minor stoppage. yang mencapai nilai 24,44% untuk line 1. Dan untuk line 2 nilai yang tertinggi adalah Speed losses . dling minor stoppage. dengan nilai 44,63%, set-up losses 42,09% dan nilai breakdown losses 11,42%. Berdasarkan nilai tersebut nilai set-up losses untuk line 1 dan speed losses untuk line 2 menjadi faktor utama yang perlu dilakukan perbaikan. Usulan perbaikan berdasarkan 4 M sudah dilakukan untuk meningkatkan nilai OEE untuk line 1 dan line 2. Usaha perbaikan memerlukan partisipasi dari department produksi, department QA QC, department maintenance dan department engineering. Dari usulan perbaikan yang telah dilakukan, terjadi peningkatan untuk nilai OEE di line 1 dan line 2. Terjadi peningkatan nilai OEE untuk line 1 dari rata-rata 79,95% menjadi 83,87% meningkat 3,92%, dan utuk nilai OEE line 2 dari rata-rata 75,48% menjadi 81,56% meningkat 6,02%. Dari data 4M sebab-akibat, faktor mesin sangat berpengaruh untuk kelancaran proses produksi, jika terjadi penyimpangan atau kegagalan dapat terdeteksi dari analisa 4M sebab-akibat tersebut. Akan tetapi perlu diperhatikan untuk faktor Man, perlu adanya pelatihan supaya meningkatkan SDM yang berkualitas. Serta harus menjalankan SOP yang harus diterapkan dengan baik supaya dapat merngurangi tingkat kesalahan yang menyebabkan downtime mesin. Perlu ada komitmen dari seluruh department dan karyawan untuk melaksanakan perinsip 5S sebagai penunjang kegiatan TPM. DAFTAR PUSTAKA