Lifelong Education Journal https://journal. id/index. php/lej Vol. No. Bulan April Tahun 2025 e-ISSN: 2776-785X Strategi Pemberdayaan Anak Nelayan dalam Penguatan Praliterasi melalui Kelompok Bermain di Tambak Rejo Kota Semarang Rendi Agung Febrianto 1A. Tanisa Hasdiani2 1,2Universitas Negeri Semarang. Semarang. Jawa Tengah. Indonesia Email: rendifebrianto@mail. Article history: Received: 2025-05-06 Revised: 2025-06-03 Accepted: 2025-06-22 DOI: 10. 59935/lej. ABSTRAK Rendahnya budaya literasi di Indonesia, terutama pada komunitas nelayan, menjadi tantangan kritis dalam pembangunan pendidikan. Minimnya program pendidikan nonformal berbasis komunitas di daerah pesisir dan kurangnya integrasi kearifan lokal dalam metode pembelajaran praliterasi mendorong perlunya inovasi strategi pemberdayaan yang kontekstual. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis efektivitas Kelompok Bermain sebagai strategi pemberdayaan anak nelayan melalui penguatan praliterasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumen. Partisipan meliputi relawan, orang tua, dan tokoh masyarakat di Tambak Rejo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama enam bulan. Kelompok Bermain Sekolah Nusantara (NS) berhasil meningkatkan keterampilan pra-literasi anak melalui pendekatan bermain tematik yaitu bermain peran, bernyanyi, bercerita, dan kreasi seni yang sesuai gaya belajar anak. Anak-anak menunjukkan fokus lebih baik, keberanian berkomunikasi, dan peningkatan pengenalan huruf, angka, dan warna. Kelompok Bermain SN merupakan model pemberdayaan efektif yang mengintegrasikan penguatan praliterasi dan pengembangan karakter anak usia dini di komunitas marginal. Konsep pemberdayaan masyarakat ke ranah praliterasi usia dini melalui kelompok bermain dapat diterapkan di wilayah serupa dan menjadi kontribusi nyata bagi perbaikan budaya literasi bagi keluarga nelayan. Kata Kunci: pemberdayaan. kelompok bermain. anak nelayan. ABSTRACT The low literacy culture in Indonesia, especially within fishing communities, presents a critical challenge to educational development. The scarcity of community-based non-formal education programs in coastal areas and the lack of integration of local wisdom into pre-literacy teaching methods underscore the need for innovative, contextualized empowerment strategies. This study aims to analyze the effectiveness of Playgroups as an empowerment strategy for fishermenAos children through the strengthening of pre-literacy skills. Employing a descriptive qualitative approach, data were gathered via participatory observation, in-depth interviews, and document Participants included volunteers, parents, and community leaders in Tambak Rejo. The findings show that over six months, the Sekolah Nusantara Playgroup successfully enhanced childrenAos pre-literacy skills through thematic play-based activities role-playing, singing, storytelling, and creative arts tailored to the childrenAos learning styles. The children demonstrated better focus, increased confidence in communication, and improved recognition of letters, numbers, and colors. The Sekolah Nusantara Playgroup constitutes an effective empowerment model that integrates pre-literacy reinforcement with early childhood character development in marginalized communities. The concept of community empowerment through early childhood pre-literacy playgroups can be applied in similar regions and offers a tangible contribution to improving the literacy culture of fishing families. Keywords: empowerment. pre-literacy. fishermen's children. Lifelong Education Journal https://journal. id/index. php/lej Vol. No. Bulan April Tahun 2025 e-ISSN: 2776-785X PENDAHULUAN Literasi pada awalnya merujuk pada keterampilan membaca dan menulis. Namun kini cakupannya telah meluas menjadi kemampuan untuk memahami, menilai, memanfaatkan, dan mengelola informasi dalam berbagai format dan situasi (Colahan, 2. Lebih jauh lagi saat ini definisi literasi sudah bergeser yang semula hanya kemampuan membaca dan menulis, bergeser menjadi berbagai definisi literasi yaitu literasi komputer, literasi informasi, literasi virtual, literasi matematika dan lainnya (Ramadhan dkk, 2. Budaya Literasi di Indonesia masih rendah dan belum dianggap sebagai kebutuhan pokok pada mayoritas masyarakat (Novrita dkk, 2. Tahun 2019 Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) merilis hasil survei pada Program for International Student Assessment (PISA) mengenai budaya literasi yang menempatkan Indonesia berada pada rangking ke 62 dari 70 negara. Hal ini dapat mengandung arti bahwa budaya literasi negara Indonesia berada pada sepuluh negara terbawah di dunia. Kondisi tersebut mengindikasikan perlunya intervensi lebih dini untuk membangun budaya literasi yang kuat. Oleh karenanya, pengasahan kemampuan literasi pada usia dini menjadi fondasi penting untuk memperbaiki peringkat literasi nasional di masa mendatang. Menurut National Association for The Education of Young Children (NAEYC) anak usia dini berada pada usia 0 hingga 8 tahun meliputi program pendidikan di taman pendidikan anak, penitipan anak pada keluarga, pendidikan pra sekolah (Azizah, 2. Tahap perkembangan anak usia dini terjadi sangat pesat, sebagai periode ideal untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan secara optimal (Yang et al. , 2. Kemampuan literasi anak berkaitan dengan tingkat kemampuan berbahasa atau berkomunikasi. Pemenuhan komunikasi pada anak difungsikan untuk pertukaran pikiran dan perasaan. Kemampuan berkomunikasi pada anak usia dini terdiri dari dua unsur penting, yaitu penggunaan bentuk bahasa yang bermakna dan pemaknaan dalam bahasa yang disampaikan orang lain (Basyiroh, 2. Kemampuan berkomunikasi pada anak akan berbanding lurus dengan kepercayaan diri dan kemampuan bersosialisasi, yaitu penerimaan diri pada lingkungan Penyesuaian sosial dan kepribadian anak pun dipengaruhi dengan kemampuan berkomunikasinya, hal itu pun berdampak pada perkembangan emosi-koginitif anak. Namun sayangnya secara empiris tidak banyak yang memahami pentingnya masa praliterasi pada anak usia dini, terlebih pada kondisi masyarakat di keluarga nelayan (Riyanti & Fauziyyah, 2. Kondisi ini merefleksikan adanya tantangan struktural di komunitas pesisir, di mana budaya literasi seringkali belum menjadi prioritas utama di tengah tuntutan ekonomi. Minimnya program pendidikan nonformal yang menyentuh ranah praliterasi secara kontekstual di wilayah ini menciptakan sebuah kekosongan yang perlu diisi. Oleh karena itu, intervensi berbasis komunitas menjadi sebuah urgensi. Konsep pemberdayaan masyarakat, yang bertujuan untuk mengubah kondisi dari ketidakberdayaan menjadi berdaya, menawarkan sebuah kerangka kerja yang relevan. Pemberdayaan dalam konteks ini tidak hanya dimaknai sebagai transfer pengetahuan, tetapi sebagai proses stimulasi untuk membangun kesadaran dan kemandirian belajar sejak dini. Penelitian ini mengisi celah tersebut dengan menganalisis secara mendalam bagaimana sebuah program kelompok bermain dapat menjadi strategi pemberdayaan yang efektif untuk penguatan praliterasi anak-anak nelayan di Tambak Rejo. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada anak usia dini keluarga nelayan di Desa Tambak Rejo Kota Semarang masa praliterasi hanya menjadi tanggung jawab pendidik atau guru di sekolah formal saja. Terlebih seperti saat ini anak cenderung lebih senang bermain gadget dibandingkan dengan kegiatan literasi. Pemberian gadget juga dilatarbelakangi kesibukan orangtua, sebagian besar penduduk kampung nelayan Desa Tambak Rejo Kota Semarang bermata pencaharian sebagai pengrajin dan pengelola hasil laut yang tak jarang menyita waktu bermain dengan anak. Padahal jika anak diberikan arahan serta bimbingan untuk mengenal literasi sejak usia dini nantinya secara tidak langsung anak akan mengkontruksi pengetahuannya (Doshi et al. Penerapan pra literasi sangat penting agar memberikan manfaat terhadap suatu bidang terutama dalam meningkatkan kemampuan berbahasa, menulis, menyimak, dan berbicara. Kemampuan berbahasa anak sangatlah penting untuk kehidupan yang akan datang (Nyman et al. , 2. Upaya pemberdayaan kemampuan praliterasi ini penting untuk dibedakan dari praktik pengajaran membaca, menulis, dan berhitung . yang seringkali bersifat memaksa pada anak usia dini. Sejalan dengan amanat PERMENDIKBUD No. 137 tahun 2014, masa praliterasi adalah tentang pengenalan yang menyenangkan dan tanpa paksaan. Fokusnya terletak pada stimulasi aspek-aspek fundamental seperti persepsi fonemik, pengenalan bunyi huruf, dan pemahaman tulisan yang diintegrasikan secara kreatif melalui permainan, seni, musik, dan cerita. Disinilah peran strategis Kelompok Bermain seperti Sekolah Nusantara. Ia hadir sebagai ruang alternatif yang mengisi kekosongan stimulasi di rumah di mana orang tua sibuk bekerja dan gawai menjadi primadona dengan menawarkan sebuah lingkungan belajar yang terstruktur namun tetap berpusat pada anak dan kegembiraan mereka dalam bermain. Maka dari itu, perlu adanya upaya memberdayakan kemampuan praliterasi pada anak sesuai dengan tahap perkembangannya. Pada prinsipnya masa praliterasi merupakan masa pengenalan kemampuan literasi kepada anak, masa ini merupakan landasan berpijak kemampuan literasi anak untuk usia selanjutnya. Secara lebih rinci PERMENDIKBUD No. 137 tahun 2014 menuturkan kegiatan literasi pada anak harus disampaikan dengan metode bermain yang menyenangkan agar anak mempelajarinya tanpa Page 2 of 6 Strategi Pemberdayaan Anak Nelayan dalam Penguatan Praliterasi melalui Kelompok Bermain di Tambak Rejo Kota Semarang Rendi Agung Febrianto. Tanisa Hasdiani Pengenalan keterampilan membaca dan menulis sebagai aspek pendidikan keaksaraan awal meliputi kegiatan yang berkaitan dengan persepsi fonemik, fonetik . unyi huru. , alfabet dan tulisan yang digabungkan dengan permainan tradisional, seni, musik drama dan bercerita (Karima & Kurniawati, 2. Penelitian ini mendeskripsikan bagaimana kontruksi pemberdayaan anak melalui kelompok bermain Sekolah Nusantara dalam mengenalkan masa praliterasi pada anak usia dini di kampung nelayan Desa Tambakrejo Kota Semarang dan dampak yang dihasilkan dari program Sekolah Nusantara tersebut. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan pada penelitian ini ialah deskriptif kualitatif. Penggunaan metode tersebut digunakan untuk melihat secara langsung dan mendeskripsikan hasil di lapangan pada bagaimana kontruksi pemberdayaan sebagai upaya pengenalan masa pra literasi pada anak usia dini di kampung nelayan di Tambak Rejo Kota Semarang melalui kelompok bermain. Peneliti berperan sebagai informan, serta hasil yang didapat nantinya akan berupa deskripsi secara tertulis secara alamiah dan kenyataan dilapangan serta dirasakan oleh panca indera manusia, hal ini dimaksudkan untuk memudahkan peneliti dalam mengumpulkan informasi terkait situasi yang ada, keadaan sebenarnya pada saat penelitian tersebut dilaksanakan (Sugiyono, 2. Adapun sumber data primer pada penelitian ini adalah relawan kelompok belajar Sekolah Nusantara yang telah berlangsung selama enam bulan di Tambak Rejo Kota Semarang. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, studi dokumentasi dan studi literatur. Metode kualitatif deskriptif digunakan dalam penelitian ini untuk menggambarkan secara komprehensif proses pemberdayaan praliterasi di kelompok bermain dalam konteks natural. Pengumpulan data dilakukan secara triangulasi yang menggabungkan tiga teknik. Keterlibatan langsung peneliti melalui observasi partisipatif selama enam bulan memungkinkan pengamatan mendalam terhadap dinamika pembelajaran. Perspektif para pemangku kepentingan, termasuk relawan, orang tua, dan tokoh masyarakat, digali melalui wawancara Bukti-bukti pendukung juga dianalisis dari berbagai dokumen seperti rencana kegiatan, karya anak, dan catatan penilaian. Data gabungan ini kemudian dianalisis secara deskriptif untuk menyajikan sebuah narasi yang kaya makna mengenai pola dan strategi pemberdayaan yang diterapkan. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Kelompok Bermain Sekolah Nusantara Kelompok bermain Sekolah Nusantara (SN) merupakan salah satu bagian dari program kerja yang ada di Senyum Anak Nusantara (SAN). SAN sendiri merupakan organisasi nonprofit yang berfokus pada bidang sosial-pendidikan anak, tersebar 72 kota di Indonesia salah satu diantaranya yaitu Semarang. Program Sekolah Nusantara Semarang dilaksanakan di kampung nelayan Tambak Rejo Kelurahan Tanjung Mas Kecamatan Semarang Utara. Kota Semarang. Jawa Tengah. Berdasarkan hasil pengamatan melalui observasi dan wawancara kepada pelaksana program SN, relawan bertugas untuk memberikan pembelajaran kepada anak-anak disana khususnya yang berusia 4 Ae 8 tahun dengan menggunakan metode bermain. Secara lebih rinci tugas dari relawan yaitu merangsang serta membantu anak untuk mencapai partumbuhan intelektual secara optimal, serta menyediakan bahan fasilitas yang akan digunakan dalam pembelajaran untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sesuai usia tahap perkembangan anak. Program SN ini dilaksanakan selama enam bulan setiap dua minggu sekali dengan pembelajaran yang berbeda setiap pertemuannya. Inisiatif Sekolah Nusantara ini dirancang secara khusus sebagai model pemberdayaan untuk komunitas marginal, utamanya sebagai respons terhadap tantangan rendahnya budaya literasi di kalangan keluarga nelayan. Program ini menargetkan anak-anak pada rentang usia 4 hingga 8 tahun, sebuah periode yang diakui sebagai masa krusial untuk pertumbuhan dan perkembangan optimal. Oleh karena itu, fokus kegiatan tidak hanya terbatas pada penguatan kemampuan praliterasi semata, tetapi juga dirancang untuk mengintegrasikan pengembangan karakter anak usia dini secara holistik. Pelaksanaan program berlangsung secara periodik setiap dua pekan selama total durasi enam bulan, di mana setiap pertemuan mengangkat tema pembelajaran yang spesifik dan berbeda-beda. Pendekatan utama yang diusung adalah belajar sambil bermain, yang diwujudkan melalui serangkaian aktivitas yang variatif dan disesuaikan dengan gaya belajar anak. Dalam setiap sesi, para relawan memfasilitasi kegiatan yang merangsang aspek kognitif dan sosial, seperti kegiatan bercerita, bermain peran, bernyanyi bersama, hingga kreasi seni yang Struktur ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan tanpa paksaan, sehingga anak dapat menyerap pengetahuan secara alamiah. Strategi Pemberdayaan Anak Nelayan melalui Penguatan Praliterasi dalam Kelompok Bermain Program Sekolah Nusantara merupakan salah satu strategi memberdayakan masyarakat khususnya anakanak yang berada pada wilayah tertinggal. Memberdayakan merupakan proses yang direncanakan dan bertujuan untuk meningkatkan objek yang diberdayakan (Setiadi & Pradana, 2024. Sihombing, 2. Tujuan utama pemberdayaan ialah untuk menguatkan kekuasaan masyarakat, yang semula berada pada kondisi tidak berdaya . Page Lifelong Education Journal https://journal. id/index. php/lej Vol. No. Bulan April Tahun 2025 e-ISSN: 2776-785X menjadi berdaya, ketidakberdayaan ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya faktor internal dan eksternal (Fathy, 2. Pada prinsipnya memberdayakan anak-anak tidak jauh berbeda dengan memberdayakan orang dewasa, hanya saja perlu adanya pendekatan yang menyenangkan melalui bermain. Pemberdayaan anak usia dini haruslah mengembangkan kreativitas anak, dengan berusaha mengungkapkan gagasan tanpa mengalami hambatan, berorientasi pada proses bukan pada hasil, lebih menekankan pada pengungkapan sisi positif yang dimiliki anak dan mengeksplorasi pikiran serta perasaan anak secara terbuka (Su & Yang, 2. Pelaksanaan program SN sebagai strategi pemberdayaan pada anak usia dini dilakukan selama enam bulan atau sebanyak 12 kali pertemuan. Setiap pertemuan kegiatan terbagi menjadi tiga bagian, yaitu kegiatan pembukaan, inti dan penutup. Pada kegiatan pembukaan diawali dengan berdoa, berkenalan dengan rewalan dilanjutkan dengan mengenalkan secara singkat isi materi yang akan disampaikan. Selanjutnya pada kegiatan inti bergantung pada materi yang akan disampaikan oleh setiap relawaan sesuai dengan tema pembelajaran. Satu bidang materi membutuhkan waktu 30 s. d 45 menit, untuk pergantian materi dibatasi dengan kegiatan ice breaking. Sebagai contoh pada tema 1 mengenal diriku, relawan mengawali kegiatan dengan bercerita berbagai profesi yang ada di dunia melalui media gambar dilanjutkan dengan bernyanyi alphabet secara Kemudian anak-anak diberikan ruang untuk berkreasi menggambarkan profesi cita-citanya dengan spidol berwarna yang menarik untuk digambarkan pada kertas. Kertas tersebut kemudian digantungkan untuk menjadi pohon cita-cita. Setiap dari anak diminta untuk menjelaskan makna cita-citanya dengan bahasa Tujuan pembelajaran ini yaitu agar anak mengenal profesi, huruf sambil bermain. Pada setiap pertemuan, kegiatan secara inti disesuaikan dengan tema yang sudah direncanakan. Akhir dari kegiatan ini anak-anak difasilitasi oleh relawan untuk menampilkan bakatnya pada bidang seni, yaitu dengan bernyanyi, menari, membaca puisi, membaca pantun dan bermain peran. Kegiatan pentas seni juga sebagai penutup kegiatan dari SN yang disambut antusias oleh anak-anak dan orang tua mereka. Menariknya kegiatan SN ini memberikan nominasi kepada anak-anak sesuai dengan penilaian selama proses Nominasi yang diberikan relawan kepada anak-anak ialah terrajin, teraktif, dan terkreatif. Pemberian nominasi ini juga berdasarkan pada perolehan bintang bagi satu anak untuk setiap pertemuannya. Kehadiran juga menjadi salah satu indikator penilaian pemberian predikat tersebut kepada anak. Menurut ketua program kelompok belajar SN pemberian nominasi sebagai wujud apresiasi proses belajar anak. Pemberian reward merupakan salah satu metode yang efektif digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar khususnya pada anak usia dini (Astari dkk, 2020. Jin, 2. Hasil Pemberdayaan Anak Nelayan melalui Penguatan Praliterasi dalam Kelompok Bermain Berdasarkan hasil observasi dan wawancara kegiatan pemberdayaan yang dilakukan oleh Senyum Anak Nusantara melalui program Sekolah Nusantara ialah mengenai bagaimana mengkontruksi pemberdayaan anak dengan strategi kelompok bermain untuk meningkatkan kemampuan literasi anak usia dini khususnya pada anak usia dini di keluarga nelayan. Tujuan dari kelompok bermain SN sudah tercapai, sebagaimana hasil wawancara bersama stakeholder kampung nelayan Tambak Rejo. Minat belajar anak usia dini yang dibina juga mengalami peningkatan ditandai dengan peningkatan perhatian anak saat berkegiatan bersama dengan relawan. Hal ini juga berdampak pada keberanian anak, anak menjadi lebih berani menyampaikan pendapatnya setiap kali ditanya oleh relawan. Anak-anak juga menyimak dengan baik setiap instruksi kegiatan dari relawan. Hal ini menggambarkan kegiatan kelompok bermain tidak hanya berpengaruh terhadap peningkatan literasi pada anak, namun juga keterampilan sosialnya. Program Sekolah Nusantara (SN) berhasil membangun kerangka pemberdayaan anak usia dini melalui kelompok bermain yang terorganisir. Terjadi kenaikan minat dan motivasi belajar, terlihat dari keterlibatan anakanak yang semakin fokus: mereka duduk tenang, mengikuti instruksi relawan, dan tidak mudah teralihkan. Keberanian mereka untuk bertanya, menyampaikan pendapat, dan menjawab pertanyaan di depan teman-teman menjadi indikator perkembangan kepercayaan diri dan keterampilan komunikasi. Relawan SN telah berhasil memanfaatkan fasilitas yang ada dengan optimal dalam menunjang kegiatan pembelajaran bersama anak. Fasilitas berupa media pembelajaran membuat anak menjadi lebih mudah dan tertarik untuk belajar (Rupnidah & Suryana, 2. Pemilihan metode pembelajaran yang variatif seperti bermain peran, bernyanyi, bercerita, berkreasi juga menjadi faktor penunjang keberhasilan kegiatan program SN Dengan kemudahan tersebut anak-anak binaan pun menjadi lebih mandiri dan sadar dalam belajar. keberlanjutan pemberdayaan didukung oleh mekanisme umpan balik dan penghargaan terstruktur. Relawan mencatat kehadiran, partisipasi, dan inisiatif anak, lalu memberikan bintang prestasi yang dapat ditukar nominasi seperti Terrajin. Teraktif, dan Terkreatif. Sistem ini memicu persaingan sehat, membangun rasa bangga, dan meningkatkan semangat belajar. Orang tua dan tokoh masyarakat memuji pendekatan ini karena selain mengajarkan pra-literasi, juga menanamkan soft skills seperti kerjasama, empati, dan tanggung jawab, yang menjadi dasar perkembangan emosional dan kognitif anak (Mardliyah dkk, 2020. Shofiah & Fauzi, 2. Page 4 of 6 Strategi Pemberdayaan Anak Nelayan dalam Penguatan Praliterasi melalui Kelompok Bermain di Tambak Rejo Kota Semarang Rendi Agung Febrianto. Tanisa Hasdiani SIMPULAN Berdasarkan temuan penelitian, program Kelompok Bermain Sekolah Nusantara (SN) menunjukkan efektivitas sebagai strategi pemberdayaan anak usia dini di wilayah pesisir Tambak Rejo. Semarang, dengan fokus pada pengembangan kemampuan praliterasi dan kompetensi sosio-emosional. Melalui pendekatan pembelajaran tematik berbasis permainan seperti simulasi peran, eksplorasi seni, dan interaksi kreatif anak-anak tidak hanya menguasai konsep dasar literasi . engenalan alfabet, numerasi, dan identifikasi warn. , tetapi juga mengalami peningkatan signifikan dalam aspek kepercayaan diri, kemampuan mendengar instruksi, dan keberanian berpendapat. Kolaborasi antara relawan, orang tua, dan tokoh masyarakat . eperti guru mengaj. menciptakan sinergi yang mengakomodasi nilai-nilai kearifan lokal, seperti integrasi cerita rakyat maritim ke dalam materi pembelajaran, sehingga memperkuat relevansi program dengan konteks budaya peserta. Mekanisme pemberian apresiasi simbolis seperti gelar Teraktif dan Terkreatif berhasil menciptakan motivasi intrinsik anak untuk aktif berpartisipasi, sekaligus menanamkan sikap disiplin dan tanggung jawab. Namun, implementasi program menghadapi kendala teknis seperti keterbatasan kapasitas relawan dalam menangani keragaman kemampuan anak serta kebutuhan akan pendampingan lebih intensif bagi peserta dengan hambatan komunikasi. Keberlanjutan diperlukan pelatihan berkala bagi relawan dalam merancang materi inklusif dan pendekatan diferensiasi pembelajaran. Secara holistik. Sekolah Nusantara menawarkan perspektif baru dalam pemberdayaan anak usia dini berbasis komunitas, khususnya di daerah pesisir dengan tantangan sosio-ekonomi kompleks, sehingga layak diadaptasi sebagai rujukan program sejenis di wilayah lain. UCAPAN TERIMAKASIH Penulis mengucapkan terima kasih yang tulus kepada Senyum Anak Nusantara (SAN) dan Koordinator Program Sekolah Nusantara di Kampung Nelayan Tambak Rejo. Semarang, atas kepercayaan dan dukungan penuh sehingga seluruh rangkaian penelitian ini dapat terlaksana dengan baik. Penghargaan khusus juga disampaikan kepada para relawan Sekolah Nusantara yang setia membimbing dan mendampingi setiap sesi kelompok bermain, serta bersedia menjadi narasumber dalam observasi dan wawancara. Ucapan terima kasih kepada Ketua Rukun Tetangga, guru mengaji, tokoh masyarakat, orang tua, dan anak-anak peserta program yang telah memberikan izin, arahan, masukan, dan antusiasme luar biasa selama proses pengumpulan data turut sangat berarti bagi penulis. Semoga penelitian ini memberikan manfaat dan dapat diadaptasi untuk pengembangan pemberdayaan anak usia dini di komunitas nelayan maupun daerah marginal lainnya. REFERENSI