J T S 2025 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 14 NOMOR 1 FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN PERINTISAN GEREJA DI GEREJA BETHEL TABERNAKEL KRISTUS ALFA OMEGA GAJAHMADA SEMARANG Rosi Violyn. Ragil Kristiawan. Wahyudi Sri Wijayanto (Mahasiswa Prodi S1 Teologi STT Kristus Alfa Omega: rosiviolyn0@gmail. Dosen STT Kristus Alfa Omega: gideonjosila@gmail. wahyuwijayantolj@gmail. Abstrak Penelitian ini berangkat dari pemahaman bahwa pertumbuhan gereja yang sehat membutuhkan integrasi antara penginjilan, pemuridan, dan perintisan jemaat baru. Fokus penelitian diarahkan untuk mengidentifikasi faktorfaktor yang memengaruhi keberhasilan perintisan gereja, khususnya di GBT KAO Gajahmada Semarang, melalui kekuatan doa, kelompok sel, pemuridan, manajemen sumber daya manusia, serta pemberitaan Injil yang efektif dan Alkitabiah. Penelitian ini bertujuan menemukan elemen-elemen kunci yang mendorong keberhasilan pertumbuhan gereja lokal. Metode penelitian kualitatif digunakan untuk menggali informasi secara mendalam dan menghasilkan temuan yang tidak dapat dicapai melalui pendekatan statistik. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pertumbuhan gereja yang sehat dan berkelanjutan sangat dipengaruhi oleh keterpaduan antara doa, komunitas sel, pemberitaan Injil, dan pemuridan sebagai strategi terpadu dalam menjawab tantangan zaman pasca-pandemi. Kata Kunci: perintisan gereja, komunitas sel . , pemuridan, pertumbuhan gereja. Abstract This study is based on the understanding that healthy church growth requires an integration of evangelism, discipleship, and the planting of new congregations. The research focuses on identifying the factors that influence the success of church planting, particularly at GBT KAO Gajahmada Semarang, through the power of prayer, cell groups, discipleship, human resource management, and effective, biblical evangelism. The aim of this study is to discover the key elements that drive the successful growth of a local church. A qualitative research method was employed to explore in-depth information and generate findings that could not be obtained through statistical procedures. The results conclude that healthy and sustainable church growth is strongly influenced by the integration of prayer, cell communities, evangelism, and discipleship as a holistic strategy to address the challenges of the post-pandemic era. Keywords: church planting, cell community . ell grou. , discipleship, church growth. PENDAHULUAN Gereja sebagai perkumpulan orang-orang yang percaya, yang berkumpul untuk beribadah, bersekutu dan melakukan pelayanan. Gereja yang hidup adalah gereja yang terus berkembang. Dalam pelayanannya, gereja perlu fokus pada penginjilan, pembaptisan, dan pemuridan agar dapat tumbuh secara sehat dan berkelanjutan. 1 Menurut Nathanael ada empat hal penting dalam perintisan suatu gereja 2 pertama, perintisan gereja/jemaat adalah upaya untuk memulai pendirian jemaat lokal baru. Kosma Manurung. AuAoEfektivitas Misi Penginjilan Dalam Meningkatkan Pertumbuhan Gereja. ,AoAy DUNAMIS: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani 4, no. : 33. Nathanael Yoel Damara and David Eko Setiawan. AuAoStrategi Perintisan Jemaat Paulus Sebagai Tent Maker Dalam Dunia Marketplace Di Era-Modern,AoAy Open Science Framework . : 6. J T S 2025 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 14 NOMOR 1 Kedua, perintisan bertujuan agar jemaat baru dapat berkembang secara mandiri dan mencapai jiwajiwa yang tersesat. Ketiga, perintisan berkaitan dengan visi jemaat yang menimbulkan kelahiran jemaat baru melalui penyebaran misi. Keempat, kabar baik tentang keselamatan dari Tuhan Yesus menjadi dasar dari perintisan jemaat. Perintisan gereja/jemaat adalah upaya untuk memulai pendirian jemaat lokal baru dengan tujuan mencapai jiwa-jiwa yang tersesat dan berkembang secara mandiri. Hal ini didasarkan pada visi jemaat dan penyebaran kabar baik tentang keselamatan dari Tuhan Yesus. Perintisan jemaat dalam Alkitab dimulai waktu pencurahan Roh Kudus (Kis. 2:1-. 3 Rasul-rasul memberikan pengajaran kepada jemaat, kemudian jemaat melanjutkannya melalui kesaksian hidup mereka, sehingga mengakibatkan kegerakan rohani terjadi, dan banyak orang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Dari orang-orang yang mengalami pertobatan ini kekristenan tersebar semakin luas, kemanapun mereka pergi, mereka selalu memberitakan Injil. Ini sangat jelas, bahwa pertobatan haruslah dimiliki oleh seorang percaya agar dapat melakukan penginjilan. Dalam proses perintisan gereja, pentingnya untuk menekankan membangun Persekutuan dengan Tuhan melalui doa. Doa adalah cara atau sarana komunikasi langsung dengan Tuhan, namun dalam melakukan doa, penting untuk memiliki pertumbuhan spiritual yang kuat. Perrin merujuk pendapat Sandra M. Schneider, seorang ahli spiritual Kristen mengatakan: AuSpiritualitas adalah pengalaman kehidupan manusia yang dapat didefinisikan sebagai suatu keterlibatan sadar dalam proyek integrasi kehidupan melalui transendensi-diri ke arah nilai tertinggi yang seseorang terima. Ay Definisi spiritualitas ini dapat menolong untuk menggambarkan spiritualitas-spiritualitas yang tidak memasukkan kepercayaan kepada Allah, yang mana tidak perlu ditolak. Contoh: Aunilai tertinggi yang diyakini seseorangAy dapat menjadi Allah. Sebelum menguraikan definisi tersebut. Perrin memaparkan beberapa elemen kunci yang membentuknya, yakni: . Spiritualitas merupakan kapasitas dasar manusia, . Spiritualitas merupakan upaya untuk menemukan cara agar setiap individu dapat berkembang dalam ketergantungan dan hubungan, dan . Spiritualitas merupakan aspek kehidupan yang terbentuk melalui pilihan-pilihan yang 5 Dalam pengertian yang lebih komprehensif, pengertian spiritualitas adalah Ausikap batinAy atau Auarah utama hidupAy seseorang atau sekelompok orang. Dengan demikian, spiritualitas tidak tampak secara lahiriah tetapi di dalam hati manusia. Maka dapat disimpulkan bahwa dalam melakukan perintisan gereja sangat dibutuhkan membangun hubungan yang intim dengan Tuhan, sehingga apa yang direncanakan sesuai dengan rencananya Tuhan. Febriaman Lalaziduhu Harefa Aris Elisa Tembay. AuGerakan Perintisan Jemaat Dalam Kisah Para Rasul Bagi Pengembangan Gereja Masa Kini,Ay Jurnal Scripta Teologi dan Pelayanan Kontestual 1, no. : 25. David B. Perrin. Studying Christian Spirituality (New York: Taylor & Francis, 2. , 210. Jusuf Nikolas Anamofa. AuSTUDYING CHRISTIAN SPIRITUALITYAy 2, no. : 145Ae J T S 2025 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 14 NOMOR 1 Orang yang membawa berita baik disebut aggelos yang memiliki arti AuutusanAy. 6 Frasa kabar baik dari kata Yunani euangelion diterjemahkan di dalam bahasa Inggris Gospel, dari bahasa Inggris kuno yaitu god-spell yang diartikan sebagai Good News atau kabar baik. 7 Jadi injil merupakan kabar baik yang diberitakan kepada setiap umat manusia. Dengan hal itu dapat memperkenalkan Yesus sebagai Juruselamat, sehingga setiap umat manusia yang tidak percaya dapat menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan mendapatkan keselamatan. Seorang perintis tidak terpisah dari kata misioner karena hakikatnya seorang perintis keberadaannya ada untuk orang-orang yang belum mengenal keselamatan atau kabar baik. 8 Seorang perintis harus memiliki misi karena misi untuk memenangkan jiwa adalah isi hati Allah sendiri. Untuk melihat begitu besar kepedulian Allah terhadap misi bisa dilihat dari istilah AumengutusAy dan AumengirimAy dalam Lukas 10:1-2 (LAI). Kata mengutus yang pertama dipakai dalam Lukas 10:1 dalam Bahasa Yunani adalah AuapostelloAy. Dari kata inilah berasal kata AuapostleAy. Yang artinya rasul. AuapostelloAy berarti diutus baik-baik dengan hormat dan otoritas. Dengan cara inilah Allah mau agar orang percaya membagikan kabar keselamatan kepada dunia. 9 Jadi dengan cara itu banyak jiwa diselamatkan melalui pemberitaan injil. Kelompok sel, atau yang lebih dikenal dengan istilah "komsel", adalah sebuah komunitas orang percaya dari gereja lokal yang berkumpul untuk bersekutu, saling mendukung dalam doa, mempelajari Firman Tuhan, dengan tujuan untuk tumbuh bersama dan membagikan kabar baik Injil. Dalam bahasa Inggris, istilah "komsel" sering kali disebut sebagai "group". 10 Yang dalam bahasa Indonesia, mempunyai arti: kelompok. golongan, atau golongan-golongan yang membagi-bagi atas kelompok-kelompok. Dalam Keluaran 18:21-22. Musa membagi-bagi bangsa Israel menjadi kelompokkelompok kecil, untuk memungkinkan setiap orang menerima perhatian yang lebih baik. 11 Kata komsel dalam bahasa Yunani dipakai kata proskarterountez12 yang artinya adalah: bertekun. bertahan di dalam. berhubungan karib. dan melayani secara pribadi. Artinya bahwa kelompok sel merupakan tempat di mana orang dapat membangun hubungan yang karib satu dengan yang lain dan dapat mempraktikkan pelayanan secara pribadi, sebab mereka ada dalam kelompok yang kecil, dengan jumlah orang yang Kaitannya dengan perintisan gereja adalah bahwa melalui kelompok sel, kita dapat membangun hubungan yang erat dengan jemaat dan bahkan meningkatkan pertumbuhan rohani di dalam komunitas kecil tersebut. Dalam konteks kehidupan gereja, kelompok sel merupakan sebuah tren yang Marulak Pasaribu. Eksposisi Injil Sinoptik. Gandum Mas. (Malang, 2. , 13. David Eko Setiawan. AuAoDampak Injil Bagi Transformasi Spiritual Dan Sosial,AoAy BIAAo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual 2, no. : 83Ae93. Ranto G. Simamora. Misi Kemanusiaan Dan Globalisasi (Bandung: Ink Media, 2. , xvii. Bagus Surjantoro. Hati Misi (Yogyakarta: Penerbit ANDI, 2. , 2. John M. Echols dan Hassan Shadily. Kamus Inggris-Indonesia (Jakarta: PT. Gramedia, 1. , 281. Dkk Steven Baker. Buku Pegangan Pemimpin Kelompok Sel (Jakarta: Perkantas, 2. , 14. Fritz Rienecker. A Linguistic Key to The Greek New Testament (Michigan: Zondervan Publishing House, 1. , 267. J T S 2025 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 14 NOMOR 1 menunjukkan penggunaan metode komsel yang dapat menghasilkan pertumbuhan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, komsel memiliki peran yang sangat penting bagi gereja perintis. Pemuridan dianggap sebagai tugas yang telah diberikan oleh Yesus kepada gereja. Melalui pemuridan, keberlanjutan iman dan penghayatan ajaran-ajaran Yesus dapat terjaga. Gallaty menggambarkan pemuridan sebagai suatu tindakan yang disengaja untuk melengkapi orang percaya dengan Firman Allah melalui hubungan yang bertanggung jawab, yang didorong oleh kuasa Roh Kudus, sehingga menghasilkan pengikut Kristus yang setia. 13 Sedangkan Harrington mengatakan bahwa pemuridan menolong orang untuk percaya dan mengikut Yesus, percaya meliputi seluruh pengajaran Alkitab yang memanggil kita untuk bersandar pada kasih karunia, janji-janji dan kuasa Allah, mengikut mencakup semua pengajaran Alkitab yang menghendaki kita menanggapi Allah dengan ketaatan, kesetiaan, dan menjauhi dosa. 14 Dari uraian singkat ini, terlihat bahwa pemuridan merupakan inti dari tugas gereja. Pemuridan bukan sekadar program, tetapi sebuah tindakan yang disengaja untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh Allah. Ini adalah tanggung jawab seluruh gereja. Oleh karena itu, penting sekali untuk terus melakukan pemuridan yang terus berkembang sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab agar dapat mendukung pertumbuhan dan perintisan gereja dengan efektif. Sumber daya manusia merupakan cara memberdayakan jemaat sebagai suatu kekuatan yang luar biasa yang bisa digali dan dikembangkan bagi pertumbuhan gereja baik itu secara kualitas maupun secara kuantitas. 15 Pertumbuhan gereja adalah sebuah penginjilan dengan tujuan mencari untuk memuridkan segala bangsa. Pertumbuhan gereja bersumber dari Allah. Pertumbuhan gereja adalah kehendak Allah (Kis. 2:40-. Pertumbuhan ini menyangkut kuantitas dan kualitas dari murid-murid yang dihasilkan. 16 Sedangkan menurut Jenson dan Stevan, kualitas dan kompleksitas organisasi sebuah gereja lokal bertumbuh seimbang. 17 Berdasarkan beberapa pengertian diatas, penulis menyimpulkan bahwa pertumbuhan gereja adalah adanya perubahan yang mengarah kepada keadaan gereja yang sehat secara fungsi dan sehat secara organisasi dengan bergantung kepada Allah yang menghasilkan kualitas dan kuantitas dalam sebuah gereja. Berkaitan dengan hal diatas faktor-faktor yang mampengaruhi keberhasilan usaha diantaranya yaitu: kualitas doa atau spiritual, kegiatan yang dilakukan di dalam perintisan tersebut baik itu komsel dan pemuridan, dan kualitas sdm, penguasaan organisasi, struktur organisasi, dan sistem manajemen. Hal inilah yang akan mempengaruhi seberapa besar tingkat kemajuan suatu gereja perintis. Fokus utama Robby Gallaty. Rediscovering Discipleship (Jawa Timur: Literatur Perkantas, 2. , 128. Absalom Harrington. Discipleship That Fits (Yogyakarta: Katalis, 2. , 74. Yusak Sigit Prabowo Joko Sembodo. AuImplementasi Manajemen Sumber Daya Manusia Berdasarkan Kitab Nehemia Pasal 1-13 Di Kalangan Gembala Sidang,Ay Jurnal Teologi Berita Hidup 3, no. : 330. Harianto GP. Mission For City (Bandung: Agiamedia, 2. , 13. Ron Jenson and Jim Stevens. Dinamika Pertumbuhan Gereja (Malang: Gandum Mas, 2. J T S 2025 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 14 NOMOR 1 penelitian ini adalah untuk menemukan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan gereja di GBT KAO Gajahmada Semarang. Pertumbuhan gereja dapat dicapai melalui beberapa aspek penting, seperti kekuatan doa yang sungguh-sungguh dan berpuasa, persekutuan komsel yang membangun hubungan karib dan mempraktikkan pelayanan pribadi, pemberitaan Injil yang efektif dan dipimpin oleh Roh Kudus, pelaksanaan pemuridan yang berpusat pada Alkitab, serta manajemen sumber daya manusia yang efektif dengan kepemimpinan yang Alkitabiah dan pengajaran yang benar. Semua aspek ini saling terkait dan dapat membantu gereja tumbuh dalam kualitas dan kuantitas, serta membentuk karakter jemaat yang sesuai dengan ajaran Alkitab. METODOLOGI Fokus utama penelitian ini adalah untuk menemukan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan gereja di GBT KAO Gajahmada Semarang. Metode kualitatif digunakan untuk mengumpulkan informasi dan menghasilkan penemuan yang tidak dapat dicapai dengan menggunakan prosedur-prosedur statistik. Adapun pertanyaan wawancara sebagai berikut: Faktor Pertama, kekuatan dalam Doa. Bagaimana pengaruh doa dalam diri anda pribadi? Apakah ada korelasi antara doa dengan keberhasilan perintisan gereja di gereja ini? Bagaimanakah peran doa dalam menunjang perintisan gereja GBT KAO Gajahmada? Faktor kedua, persekutuan komsel. Bagaimana pandangan anda tentang komsel di gereja ini? Apakah hubungan persekutuan komsel dengan keberhasilan perintisan gereja ini? Seberapa kuat peran komsel dalam menunjang perintisan gereja ini? Faktor ketiga, pemberitaan Injil. Apakah anda sudah pernah memberitakan Injil? Apa alasan anda memberitakan Injil? Apa pandangan anda tentang pemberitaan Injil yang dilakukan gereja ini? Apa hubungan pemberitaan injil dengan keberhasilan perintisan gereja ini? Seberapa kuat peranan penginjilan dalam mensukseskan perintisan gereja ini? Faktor keempat, pelaksanaan pemuridan. Apa yang anda ketahui tentang pemuridan di gereja ini? Apakah hubungan pemuridan dengan perintisan di gereja ini? Seberapa kuat peranan pemuridan dalam mensukseskan perintisan di gereja ini? Faktor kelima, pertumbuhan Gereja. Seberapa besar pertumbuhan gereja saat ini? Apa yang menghambat pertumbuhan gereja saat ini? Dari faktor-faktor: doa, komsel, penginjilan dan pemuridan, manakah yang menurut anda menjadi dua faktor dominan dalam keberhasilan perintisan gereja di GBT KAO Gajahmada. PEMBAHASAN Kekuatan dalam Doa Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan, mayoritas responden menyatakan bahwa doa memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam membangun kekuatan rohani dan hubungan yang intim dengan Tuhan. Doa bukan sekadar rutinitas spiritual, melainkan menjadi sarana komunikasi J T S 2025 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 14 NOMOR 1 personal yang memperkuat iman dan kepekaan terhadap pimpinan Roh Kudus. Dalam konteks pelayanan, terutama dalam perintisan gereja, doa dianggap sebagai fondasi utama yang tidak dapat Responden menilai bahwa melalui doa, mereka memperoleh hikmat, keberanian, dan keteguhan hati dalam menghadapi tantangan pelayanan. Selain itu, doa juga diyakini mampu membuka jalan dan menyentuh hati orang-orang yang menjadi target pelayanan. Oleh karena itu, banyak pelayan Tuhan menjadikan doa sebagai titik awal dalam setiap proses pengambilan keputusan strategis. Bahkan, beberapa menyatakan bahwa tanpa kehidupan doa yang kuat, perintisan gereja akan kehilangan arah dan daya spiritualnya. Maka, dapat disimpulkan bahwa doa bukan hanya pelengkap, melainkan pondasi utama dalam membangun gereja yang sehat secara rohani. Persekutuan Komsel Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar responden menyatakan bahwa komunitas sel . menjadi sarana yang efektif dalam membantu pertumbuhan rohani mereka di dalam Tuhan. Komsel tidak hanya menjadi tempat persekutuan, tetapi juga wadah pembinaan iman yang memungkinkan jemaat bertumbuh melalui pengajaran, doa bersama, dan saling memperhatikan dalam kasih Kristus. Oleh karena itu, pengelolaan komsel perlu diupayakan agar dapat berjalan secara konsisten dan terstruktur, sehingga seluruh jemaat dapat mengikuti program-program yang telah Pelaksanaan komsel yang lancar dan terorganisir akan meningkatkan partisipasi aktif jemaat dan mendorong terciptanya komunitas yang saling mendukung secara spiritual. Selain itu, komsel diharapkan tidak hanya berfokus pada internalisasi nilai-nilai rohani, tetapi juga menjadi kekuatan besar dalam penginjilan dan pemuridan. Melalui komsel, gereja dapat menjangkau jiwa-jiwa baru dengan lebih efektif dan personal. Strategi penginjilan berbasis komsel terbukti mampu memperluas dampak pelayanan secara signifikan. Dengan demikian, komsel menjadi bagian integral dari strategi gereja dalam pertumbuhan rohani dan misi penginjilan yang berkelanjutan. Pemberitaan Injil Berdasarkan hasil wawancara diperoleh pemahaman bahwa pemberitaan Injil merupakan mandat utama yang diberikan oleh Yesus Kristus kepada setiap umat percaya, sebagaimana tertulis dalam Matius 28:19-20, yang dikenal sebagai Amanat Agung. Amanat ini tidak hanya menjadi tugas para pemimpin gereja, tetapi merupakan panggilan bagi seluruh jemaat untuk memberitakan kabar keselamatan kepada semua bangsa. Dalam konteks kehidupan gereja masa kini, penginjilan tidak hanya dipahami sebagai aktivitas misi, tetapi lebih jauh menjadi gaya hidup yang secara konsisten dihidupi oleh setiap orang percaya. Persekutuan Komunitas Sel . menjadi sarana yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai penginjilan ini melalui pembinaan rohani yang berkelanjutan dan bersifat Di dalam pertemuan komsel, setiap anggota dilatih untuk memiliki kepekaan misi serta kemampuan memberitakan Injil secara relevan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, gereja juga J T S 2025 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 14 NOMOR 1 mengambil inisiatif strategis dengan membuka pos-pos pelayanan di berbagai daerah terpencil maupun wilayah strategis yang belum terjangkau oleh Injil. Program ini bertujuan untuk memperluas jangkauan pemberitaan Injil sekaligus memperkuat kehadiran gereja di tengah masyarakat. Pelayanan di pos-pos ini mencerminkan keterlibatan gereja secara langsung dalam penggenapan Amanat Agung dengan pendekatan kontekstual dan berorientasi pada penyelamatan jiwa. Dengan demikian, penginjilan tidak hanya menjadi aktivitas sesaat, melainkan bagian integral dari kehidupan gereja dan umat percaya yang hidup dalam ketaatan kepada Kristus. Pelaksanaan Pemuridan Pemuridan merupakan inti dari pertumbuhan rohani jemaat dan menjadi elemen fundamental dalam pengembangan gereja yang sehat. Berdasarkan hasil wawancara, responden menjelaskan bahwa pelaksanaan pemuridan telah berjalan dengan baik melalui program MMK (Menjadi Murid Kristu. , yang dirancang untuk membentuk karakter Kristus dalam kehidupan setiap peserta. Program ini bukan hanya bersifat teoritik, melainkan juga aplikatif, dengan penekanan pada pembinaan rohani yang konsisten dan relasional. Pelaksanaan MMK terbukti mendorong pertumbuhan iman pribadi sekaligus memperkuat keterlibatan jemaat dalam pelayanan gereja. Dalam konteks yang lebih luas, pemuridan yang efektif melalui program ini juga berdampak signifikan terhadap proses perintisan gereja. Hal ini terjadi karena murid-murid Kristus yang telah dibina menjadi agen penginjilan dan pembentukan komunitas iman yang baru. Dengan demikian, pemuridan tidak hanya menghasilkan pribadi yang matang secara rohani, tetapi juga memperluas pengaruh gereja di tengah masyarakat. Hubungan erat antara pemuridan dan perintisan gereja menunjukkan bahwa pembinaan murid yang terarah akan menciptakan fondasi yang kokoh bagi ekspansi pelayanan gerejawi. Pertumbuhan Gereja berdasarkan hasil wawancara, responden menyampaikan bahwa pertumbuhan gereja sempat mengalami penurunan signifikan selama masa pandemi COVID-19, terutama disebabkan oleh pembatasan aktivitas sosial dan peralihan ibadah secara daring. Namun, saat ini gereja mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan dengan adanya peningkatan kuantitas jemaat yang kembali aktif beribadah secara langsung. Responden mengindikasikan bahwa kegiatan seperti doa bersama, komunitas sel . , pemberitaan Injil, dan proses pemuridan memiliki peran penting dalam membangkitkan kembali semangat kerohanian jemaat. Meski demikian, pertumbuhan gereja menghadapi tantangan baru, yaitu perubahan gaya hidup masyarakat modern yang cenderung mengabaikan aspek rohani demi kenyamanan pribadi, termasuk preferensi terhadap ibadah online. Kenyamanan ini membuat sebagian jemaat enggan kembali ke persekutuan tatap muka, sehingga melemahkan dimensi komunitas gerejawi. Data ini menggarisbawahi pentingnya strategi yang relevan untuk menjawab tantangan tersebut, terutama dalam memperkuat nilai-nilai spiritual di tengah arus J T S 2025 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 14 NOMOR 1 Responden memandang bahwa pemuridan dan pemberitaan Injil tetap menjadi kunci utama dalam pertumbuhan gereja yang sehat dan berkelanjutan. Oleh karena itu, gereja perlu merancang pendekatan yang kreatif dan kontekstual dalam membangun kehidupan rohani jemaat. Tantangan ini bukan hanya teknis, tetapi juga bersifat teologis dan pastoral, sehingga membutuhkan respons yang Upaya penguatan persekutuan dan pembinaan iman menjadi esensial dalam menghadapi dinamika pasca-pandemi. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan gereja yang sehat dan berkelanjutan sangat bergantung pada kekuatan doa, keberfungsian komunitas sel . , keberanian dalam pemberitaan Injil, dan pelaksanaan pemuridan yang efektif. Doa menjadi fondasi rohani yang memperkuat relasi dengan Tuhan dan memberikan hikmat dalam pengambilan keputusan pelayanan. Komsel terbukti efektif dalam membina iman jemaat serta menjangkau jiwa baru melalui pendekatan relasional dan partisipatif. Pemberitaan Injil yang dimaknai sebagai gaya hidup turut memperluas dampak pelayanan gereja hingga ke wilayah-wilayah strategis dan terpencil. Sementara itu, pemuridan melalui program MMK menghasilkan jemaat yang matang dan mampu menjadi agen transformasi spiritual di tengah masyarakat. Meskipun gereja sempat mengalami kemunduran selama pandemi COVID-19, saat ini terdapat tanda-tanda pemulihan yang signifikan. Namun, tantangan baru muncul seiring perubahan gaya hidup modern yang lebih memilih kenyamanan ibadah daring dan cenderung mengabaikan kehidupan rohani. Penelitian ini menunjukkan novelty berupa keterpaduan antara empat elemen intiAidoa, komsel, penginjilan, dan pemuridanAisebagai strategi terpadu dalam menghadapi dinamika pasca-pandemi dan memperkuat pertumbuhan gereja. Temuan ini memberikan kontribusi baru dalam kajian teologi praktis, khususnya dalam konteks pembangunan gereja yang responsif terhadap tantangan zaman dan relevan secara kontekstual. DAFTAR PUSTAKA