Jurnal Semeru Vol. No. Mei 2025 E-ISSN : 3047-6518 Halaman : 222 - 230 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PENGEMBANGAN UMKM BERBASIS LINGKUNGAN DI KELURAHAN BULAK BANTENG. SURABAYA Indi Nuroini. Enny Istanti. Universitas Bhayangkara Surabaya e-mail: . ennyistanti@ubhara. ABSTRACT Community empowerment is an important key to sustainable development, especially in urban-coastal areas that face economic and environmental challenges. This study aims to analyze community empowerment strategies through the development of environment-based MSMEs in Bulak Banteng Village. Surabaya. Using a descriptive qualitative approach with in-depth interview techniques, participatory observation, and Focus Group Discussion (FGD), this study explores changes in the perception and practice of MSME actors towards environmental issues. The results show that the direct involvement of the community in the empowerment process is able to increase awareness of sustainable business practices and encourage the adoption of environmentally friendly business principles, although still on a small scale. This research contributes to strengthening the theory of community empowerment and green entrepreneurship, as well as offering an effective collaborative approach to the development of MSMEs at the local level. These findings recommend the integration of environmental training and business assistance as a sustainable community empowerment strategy in the future. Keywords: Community empowerment, environmental MSMEs, participatory, urban-coastal, green ABSTRAK Pemberdayaan masyarakat menjadi kunci penting dalam pembangunan berkelanjutan, terutama di kawasan urban-pesisir yang menghadapi tantangan ekonomi dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan UMKM berbasis lingkungan di Kelurahan Bulak Banteng. Surabaya. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan Focus Group Discussion (FGD), penelitian ini mengeksplorasi perubahan persepsi dan praktik pelaku UMKM terhadap isu lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan langsung masyarakat dalam proses pemberdayaan mampu meningkatkan kesadaran terhadap praktik usaha berkelanjutan dan mendorong adopsi prinsip bisnis ramah lingkungan, meski masih dalam skala kecil. Penelitian ini berkontribusi dalam penguatan teori pemberdayaan komunitas dan green entrepreneurship, serta menawarkan pendekatan kolaboratif yang efektif untuk pengembangan UMKM di tingkat lokal. Temuan ini merekomendasikan integrasi pelatihan lingkungan dan pendampingan usaha sebagai strategi pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan di masa mendatang. Kata kunci: Pemberdayaan masyarakat. UMKM lingkungan, partisipatif, urban-pesisir, green PENDAHULUAN Jurnal Semeru: https://ejournal. id/semeru https://doi. org/10. 55499/semeru. Jurnal Semeru Vol. No. Mei 2025 E-ISSN : 3047-6518 Halaman : 222 - 230 Pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu strategi penting dalam pembangunan berkelanjutan, terutama di kawasan urban pesisir yang rentan terhadap tekanan sosial-ekonomi dan Kelurahan Bulak Banteng, yang terletak di Kecamatan Kenjeran. Surabaya, merupakan wilayah pesisir dengan potensi ekonomi lokal yang signifikan, namun masih menghadapi tantangan dalam pengembangan Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) serta pelestarian lingkungan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surabaya menunjukkan bahwa pada tahun 2024, jumlah penduduk di Kecamatan Bulak mencapai 158. 554 jiwa, dengan persebaran 31. 174 jiwa di Kelurahan Bulak Banteng (BPS Kecamatan Bulak, 2. Mayoritas penduduk di kawasan ini memiliki tingkat pendidikan menengah ke bawah, yang berdampak pada keterbatasan akses terhadap informasi dan teknologi dalam pengembangan UMKM. (Sishadiyati & Wahed, 2. UMKM di Kelurahan Bulak Banteng didominasi oleh sektor kuliner dan pengolahan hasil laut, mengingat kedekatannya dengan kawasan pesisir. Namun, banyak pelaku UMKM yang masih menggunakan metode produksi dan pemasaran tradisional, sehingga kurang mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Selain itu, kesadaran akan pentingnya praktik bisnis yang ramah lingkungan masih rendah, yang dapat berdampak negatif terhadap kelestarian lingkungan setempat. Program Lingkungan MAPAN (Mitra heAlth Provider AjiNomot. yang diluncurkan oleh PT Ajinomoto Indonesia di Kelurahan Bulak Banteng merupakan salah satu inisiatif untuk mengintegrasikan aspek kesehatan, lingkungan, dan pengembangan ekonomi melalui pemberdayaan UMKM kuliner (Liputan6. com, 2. Program ini mencakup pelatihan tentang pentingnya menjaga kesehatan keluarga, pengelolaan lingkungan, dan peningkatan kapasitas UMKM dalam produksi makanan sehat dan higienis. (Https://w. Ajinomoto. Co. Id/Index. Php/Id/Artikel/Tingkatkan-Harapan-Hidup-Sehat-Dan-KurangiDampak-Lingkungan-Ajinomoto-Luncurkan-Program-Lingkungan-Mapan-Di-Surabaya?) (Https://Jatimnow. Com/Baca-60937-Bulak-Banteng-Surabaya-Ditunjuk-Jadi-Agen-Mapan-Apa-Itu?) Meskipun program MAPAN telah memberikan kontribusi positif, masih terdapat kesenjangan dalam hal adopsi teknologi, akses permodalan, dan pemasaran produk UMKM. Menurut data dari Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur, pada tahun 2023 jumlah UMKM di Jawa Timur mencapai 9,86 juta unit, namun banyak di antaranya yang belum memiliki legalitas usaha dan akses ke pasar digital (Desa Produktif, 2. Hal ini menunjukkan perlunya strategi pemberdayaan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan. https://w. id/2024/02/data-perkembangan-umkm-di-jawa-timur Tren global menunjukkan bahwa konsumen semakin peduli terhadap produk yang dihasilkan secara berkelanjutan dan ramah lingkungan. UMKM yang mampu mengadopsi praktik bisnis hijau memiliki keunggulan kompetitif dan peluang untuk memasuki pasar yang lebih luas (Sekilas Market. Oleh karena itu, penting bagi UMKM di Kelurahan Bulak Banteng untuk mengintegrasikan aspek keberlanjutan dalam operasional mereka. https://sekilasmarket. com/2024/05/17/green-business-trenumkm-ramah-lingkungan-di-indonesia Dalam konteks ini, pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan UMKM berbasis lingkungan menjadi strategi yang relevan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Pendekatan ini sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG. , khususnya tujuan ke-8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, serta tujuan ke-12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan UMKM berbasis lingkungan di Kelurahan Bulak Banteng. Surabaya. Fokus utama adalah pada identifikasi potensi dan tantangan yang dihadapi oleh pelaku UMKM, evaluasi efektivitas program pemberdayaan yang telah dilaksanakan, serta perumusan rekomendasi strategi yang dapat meningkatkan kapasitas UMKM dalam menerapkan praktik bisnis berkelanjutan. Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan model pemberdayaan masyarakat yang integratif, menggabungkan aspek ekonomi, sosial, dan Secara praktis, hasil penelitian ini dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah, lembaga Jurnal Semeru: https://ejournal. id/semeru https://doi. org/10. 55499/semeru. Jurnal Semeru Vol. No. Mei 2025 E-ISSN : 3047-6518 Halaman : 222 - 230 swadaya masyarakat, dan sektor swasta dalam merancang program pemberdayaan UMKM yang efektif dan berkelanjutan. Dengan demikian, pengembangan UMKM berbasis lingkungan di Kelurahan Bulak Banteng tidak hanya berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga pada pelestarian lingkungan dan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal. TEORI 1 Konsep Pemberdayaan Masyarakat Pemberdayaan masyarakat merupakan pendekatan pembangunan yang mengutamakan partisipasi aktif warga dalam proses pengambilan keputusan, perencanaan, dan pengelolaan sumber daya. Menurut Albuquerque et al. , . , pemberdayaan adalah Auproses yang memungkinkan masyarakat miskin untuk memiliki kekuasaan atas kehidupan mereka. Ay Sementara Rabiah et al. , . menekankan bahwa pemberdayaan berbasis komunitas melibatkan transformasi struktur sosial yang menindas menjadi sistem yang inklusif dan partisipatif. Prinsip dasar pemberdayaan mencakup partisipasi, di mana masyarakat menjadi pelaku utama. kemandirian, yakni masyarakat mampu mengelola dan mengembangkan potensi lokal secara serta inklusivitas, yang memastikan seluruh elemen masyarakat memiliki ruang yang setara dalam pembangunan. Tahapan pemberdayaan meliputi identifikasi masalah, perencanaan berbasis kebutuhan lokal, pelaksanaan program kolaboratif, serta evaluasi partisipatif (Adiatma et al. , 2. Dalam pelaksanaannya, aktor lokal seperti perangkat desa, tokoh masyarakat, dan organisasi sosial . ermasuk BUMDes dan LSM) memegang peran strategis sebagai fasilitator transformasi sosial. Studi oleh Buya et al. , . menunjukkan bahwa konflik internal BUMDes seringkali menjadi hambatan dalam pemberdayaan, sehingga penting adanya kelembagaan yang kuat dan akuntabel. 2 UMKM dalam Pembangunan Ekonomi Lokal UMKM, menurut UU No. 20 Tahun 2008, adalah entitas usaha produktif milik perseorangan atau badan usaha yang tidak tergolong anak perusahaan atau cabang perusahaan dari usaha menengah atau besar. UMKM memainkan peran strategis dalam pembangunan ekonomi lokal, terutama sebagai penyerap tenaga kerja, penyedia barang/jasa berbasis lokal, dan penggerak ekonomi desa. (Putri, 2. Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memiliki potensi besar untuk memengaruhi perekonomian Indonesia. Dengan kata lain, mereka memiliki kemampuan untuk menumbuhkan lapangan kerja, memastikan bahwa semua orang memiliki kesempatan yang sama, meningkatkan pendapatan, dan mendorong tercapainya stabilitas nasional(Enny Istanti et al, 2. Namun, tantangan klasik yang dihadapi UMKM antara lain akses terbatas terhadap modal, pemasaran yang lemah, keterbatasan adopsi teknologi, serta hambatan legalitas dan regulasi. Strategi penguatan UMKM sebaiknya berbasis pada potensi lokalitas dan keunikan wilayah, termasuk melalui digitalisasi produk, pelatihan berkelanjutan, serta pengembangan branding lokal (Wijaya, 2. Pasca pandemi COVID-19. UMKM berperan signifikan dalam pemulihan ekonomi, terutama karena fleksibilitasnya dalam merespons perubahan pasar. Studi oleh Puspitorini & Risman, . mencatat bahwa adaptasi digital dan diversifikasi usaha menjadi kunci daya tahan UMKM selama krisis. 3 Bisnis Berbasis Lingkungan (Green Busines. Green business atau bisnis berbasis lingkungan adalah model usaha yang mengintegrasikan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam seluruh rantai nilai bisnis. Green economy sendiri didefinisikan sebagai sistem ekonomi yang rendah emisi karbon, efisien sumber daya, dan inklusif secara sosial (Astri et al. , 2. Prinsip usaha ramah lingkungan dalam konteks UMKM mencakup efisiensi energi, pemilahan limbah, penggunaan bahan baku lokal yang lestari, serta desain kemasan ramah lingkungan. Manfaat Jurnal Semeru: https://ejournal. id/semeru https://doi. org/10. 55499/semeru. Jurnal Semeru Vol. No. Mei 2025 E-ISSN : 3047-6518 Halaman : 222 - 230 pendekatan ini tidak hanya dirasakan secara ekologis, tetapi juga secara ekonomi, karena mampu meningkatkan citra merek, loyalitas konsumen, dan efisiensi biaya jangka panjang (Nugraha, 2. Contoh praktik green business UMKM dapat ditemukan di wilayah pesisir seperti Jawa Tengah, di mana usaha kerang hijau diintegrasikan dengan pendekatan ekonomi biru (Putri, 2. UMKM tersebut mengelola limbah produksi secara komunal dan memanfaatkan sisa produksi untuk bahan kerajinan. 4 Integrasi Pemberdayaan. UMKM, dan Keberlanjutan Lingkungan Pemberdayaan masyarakat yang terintegrasi dengan praktik bisnis hijau menjadi inti dari pembangunan berkelanjutan berbasis komunitas. Teori Community-Based Sustainable Development (CBSD) menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sumber daya lokal secara Pendekatan ini tidak hanya memberdayakan ekonomi tetapi juga melestarikan lingkungan (Asrum & Morkoyunlu, 2. Kerangka Triple Bottom Line (TBL)AiPeople. Planet. ProfitAimenjadi dasar dalam menilai keberhasilan UMKM berbasis lingkungan. Dimensi people mengacu pada dampak sosial dan pemberdayaan, planet pada kelestarian ekologi, dan profit pada keuntungan usaha. Studi kasus oleh Asrum & Morkoyunlu, . menunjukkan bahwa UMKM di industri kerang hijau berhasil mengintegrasikan ketiganya melalui kolaborasi dengan akademisi dan pemda. Dalam konteks Kelurahan Bulak Banteng. Surabaya, pendekatan ini sangat relevan mengingat posisinya sebagai kawasan pesisir yang rentan terhadap pencemaran dan kemiskinan. Pemberdayaan UMKM berbasis lingkungan di kawasan ini dapat dilakukan melalui pelatihan ecopreneurship, integrasi dengan pariwisata bahari, serta dukungan kelembagaan lokal seperti BUMKel. Sumber : Peneliti . Gambar 1 Diagram Alur Kerangka Pemikiran METODE Metode pengabdian masyarakat yang digunakan dalam kegiatan ini bersifat kualitatif deskriptif dengan pendekatan partisipatif. Pendekatan ini dipilih karena fokus utama kegiatan bukan hanya pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada keterlibatan aktif masyarakat, khususnya pelaku UMKM lokal, dalam proses identifikasi masalah, perencanaan solusi, dan pelaksanaan program. Kegiatan ini dirancang Jurnal Semeru: https://ejournal. id/semeru https://doi. org/10. 55499/semeru. Jurnal Semeru Vol. No. Mei 2025 E-ISSN : 3047-6518 Halaman : 222 - 230 sebagai program yang adaptif dan responsif terhadap kebutuhan komunitas, di mana masyarakat menjadi subjek aktif, bukan sekadar objek sasaran. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip Community-Based Participatory Action yang menekankan dialog dua arah dan kolaborasi lintas aktor dalam upaya pemberdayaan (Minkler. , & Wallerstein, 2. Sumber data yang digunakan berasal dari data primer dan sekunder. Data primer diperoleh langsung dari pelaku UMKM, kader lingkungan, dan perangkat kelurahan melalui wawancara semiterstruktur, observasi partisipatif, dan diskusi kelompok terfokus (FGD). Sementara data sekunder berupa dokumen profil kelurahan, laporan kegiatan, dan data statistik dari Dinas Koperasi dan UMKM Surabaya. Observasi dilakukan selama proses pelatihan dan pendampingan di lapangan, dengan mencatat perubahan sikap, partisipasi aktif, dan respons peserta terhadap materi yang disampaikan. Proses ini juga dilengkapi dengan dokumentasi foto dan rekaman wawancara sebagai bagian dari triangulasi data. Prosedur pelaksanaan pengabdian masyarakat dilaksanakan dalam lima tahapan utama: . Koordinasi awal dengan pihak kelurahan dan komunitas UMKM setempat, . Pemetaan masalah dan potensi melalui observasi dan wawancara, . Pelaksanaan pelatihan dan pendampingan, . Evaluasi awal hasil kegiatan, dan . Refleksi serta tindak lanjut. Tahap pelatihan mencakup dua sesi utama: pelatihan pengurangan limbah usaha dan praktik penggunaan bahan ramah lingkungan untuk kemasan Setiap kegiatan dilaksanakan secara dialogis dengan metode demonstrasi, praktik langsung, dan diskusi interaktif. Subjek kegiatan pengabdian masyarakat adalah pelaku UMKM aktif yang berdomisili di Kelurahan Bulak Banteng. Kriteria pemilihannya meliputi: . memiliki usaha aktif minimal 1 tahun, . terbuka terhadap inovasi lingkungan, dan . bersedia mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Teknik pemilihan dilakukan secara purposive sampling agar peserta yang terlibat benar-benar relevan dengan tujuan kegiatan (Patton, 2. Total terdapat 10 pelaku UMKM yang terlibat aktif dalam wawancara dan pelatihan, yang berasal dari sektor makanan, kerajinan, dan daur ulang limbah rumah tangga. Tabel 1 Daftar UMKM Kelurahan Bulak Banteng Kegiatan Jenis Lama Legalitas Ramah Usaha Usaha Usaha Lingkungan Nama UMKM Dapur Laut Bu Siti Olahan hasil laut Sedekah Limbah Jaya Daur ulang Keripik Kenjeran Asli Keterlibatan Program Ada (NIB) Mengurangi Aktif Tidak Mengolah Aktif Makanan Ada (PIRT) Kemasan daur ulang Aktif Batik Pesisir Kenjeran Fashion batik lokal Ada (NIB) Menggunakan Aktif Warung Eco Rempah Minuman herbal lokal Tidak Penggunaan botol kaca ulang pakai Cukup aktif Griya Laut Souvenir Kerajinan Ada (NIB) Produk dari Aktif Jurnal Semeru: https://ejournal. id/semeru https://doi. org/10. 55499/semeru. Jurnal Semeru Vol. No. Mei 2025 E-ISSN : 3047-6518 Halaman : 222 - 230 Tidak Mulai beralih Kurang aktif Belum Kemasan daun pisang Aktif Pengelolaan Tidak Daur ulang Cukup aktif Olahan Ada (NIB PIRT) Mengurangi limbah beras Aktif Ikan Kering Kenjeran Pengolahan ikan asin EcoSnack Lestari Snack sehat Kompos Hijau Bersama Rengginang Kenjeran Lestari Sumber : Peneliti . Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik, yakni mengelompokkan data berdasarkan tema-tema utama seperti persepsi terhadap lingkungan, praktik usaha ramah lingkungan, dan peran komunitas. Setiap data dari wawancara. FGD, dan observasi dianalisis melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara induktif (Miles. Huberman, & Saldaya, 2. Hasil analisis disandingkan dengan literatur dan teori yang mendasari kegiatan pengabdian untuk memberikan pemaknaan yang lebih kuat terhadap hasil temuan. Metode pengabdian ini dinilai relevan karena selaras dengan tujuan kegiatan, yaitu meningkatkan kesadaran dan kapasitas pelaku UMKM dalam menerapkan praktik bisnis yang Selain dapat menghasilkan temuan empiris yang valid, pendekatan ini juga membangun hubungan sosial yang kuat antara tim pengabdi dan masyarakat. Melalui keterlibatan langsung dan aktif masyarakat, program ini tidak hanya memberikan solusi teknis, tetapi juga memberdayakan komunitas secara berkelanjutan. Ke depan, metode ini dapat dijadikan model untuk pengembangan program serupa di wilayah urban-pesisir lainnya. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian ini menghasilkan sejumlah temuan penting terkait kondisi UMKM dan proses pemberdayaan berbasis lingkungan di Kelurahan Bulak Banteng. Kecamatan Kenjeran. Surabaya. Berdasarkan wawancara mendalam, observasi lapangan, dan Focus Group Discussion (FGD) yang dilakukan terhadap pelaku UMKM, perangkat kelurahan, dan kader lingkungan, diperoleh gambaran bahwa mayoritas pelaku UMKM belum memiliki pemahaman yang kuat tentang pentingnya aspek lingkungan dalam kegiatan usaha. Namun, terdapat peningkatan kesadaran dan kemauan untuk berubah setelah dilakukan pelatihan dan pendampingan. Tabel 1. Perubahan Sikap dan Perilaku UMKM Setelah Kegiatan Pemberdayaan Aspek yang Diamati Sebelum Kegiatan (%) Setelah Kegiatan (%) Kesadaran tentang dampak limbah Penggunaan kemasan ramah lingkungan 10% Kesiapan menerapkan praktik hijau Minat kolaborasi antarpelaku UMKM Jurnal Semeru: https://ejournal. id/semeru https://doi. org/10. 55499/semeru. Jurnal Semeru Vol. No. Mei 2025 E-ISSN : 3047-6518 Halaman : 222 - 230 Sumber : Peneliti . Data tersebut menunjukkan bahwa pelatihan dan pendekatan partisipatif mampu meningkatkan kesadaran pelaku UMKM secara signifikan terhadap isu lingkungan. Hal ini juga terlihat dalam observasi saat kegiatan simulasi pembuatan kemasan alternatif dari bahan alami, yang disambut antusias oleh Salah satu pelaku UMKM menyatakan bahwa metode ini tidak hanya mudah diterapkan, tetapi juga dapat menarik minat konsumen yang kini cenderung lebih peduli terhadap produk ramah Penelitian ini juga menemukan bahwa pendekatan partisipatif dalam proses pemberdayaan memberikan pengaruh yang besar terhadap keberhasilan program. Sebagian besar pelaku UMKM menyatakan bahwa mereka merasa dihargai karena dilibatkan sejak awal dalam proses diskusi, perencanaan, hingga evaluasi kegiatan. Pendekatan ini membangun rasa memiliki . ense of belongin. terhadap program yang dilaksanakan, sehingga mereka lebih antusias dalam mengimplementasikan hasil pelatihan ke dalam praktik usaha sehari-hari. Pembahasan Temuan utama dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan melalui pelatihan dan pendampingan berbasis lingkungan mampu meningkatkan kesadaran pelaku UMKM terhadap pentingnya praktik usaha berkelanjutan. Sebelum intervensi, sebagian besar pelaku UMKM di Kelurahan Bulak Banteng tidak memahami keterkaitan antara aktivitas usaha dan dampaknya terhadap lingkungan. Namun, setelah mengikuti kegiatan partisipatif seperti pelatihan pengurangan sampah plastik dan diskusi kelompok, terjadi perubahan signifikan dalam cara pandang mereka. Hal ini memperkuat teori Community Empowerment Perkins. , & Zimmerman, . yang menekankan bahwa peningkatan kontrol dan partisipasi aktif masyarakat dalam proses pembangunan akan memperkuat kapabilitas individu dan kolektif dalam mengelola perubahan sosial secara mandiri. Selaras dengan konsep green entrepreneurship, pelaku UMKM mulai menunjukkan inisiatif untuk mengurangi limbah usaha dan mengganti kemasan dengan bahan ramah lingkungan, meskipun skalanya masih terbatas. Hasil ini juga sejalan dengan temuan Saputra et al. , yang menunjukkan bahwa peningkatan kesadaran dan dukungan teknis secara simultan dapat mendorong pelaku usaha kecil untuk mengadopsi prinsip-prinsip bisnis hijau. Integrasi aspek lingkungan ke dalam kegiatan ekonomi lokal tidak hanya meningkatkan daya saing produk, tetapi juga memperkuat ketahanan sosial-ekonomi masyarakat desa dalam jangka panjang. Dengan kata lain, pemberdayaan berbasis lingkungan menciptakan sinergi antara kepentingan ekonomi dan pelestarian sumber daya alam. Kontribusi penelitian ini terletak pada pengembangan model intervensi berbasis komunitas yang memadukan aspek sosial, ekonomi, dan ekologis secara simultan. Pendekatan ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan pendapatan UMKM, tetapi juga pada pembangunan kesadaran kolektif tentang pentingnya pelestarian lingkungan sebagai bagian dari proses usaha. Pendekatan ini relevan untuk direplikasi di wilayah urban-pesisir lain yang menghadapi tantangan serupa. Selain itu, pendekatan partisipatif yang digunakan terbukti efektif membangun sense of belonging dan keberlanjutan program karena masyarakat tidak diposisikan sebagai objek, melainkan sebagai pelaku utama perubahan. Namun, terdapat beberapa faktor yang memengaruhi capaian hasil penelitian. Faktor yang mendukung adalah antusiasme masyarakat terhadap pelatihan praktis, dukungan dari perangkat kelurahan, dan keberadaan komunitas lokal seperti kader lingkungan yang menjadi agen perubahan. sisi lain, faktor penghambat yang ditemukan antara lain keterbatasan modal usaha untuk menerapkan perubahan secara menyeluruh, keterbatasan waktu pelaksanaan, serta rendahnya literasi digital sebagai sarana promosi produk berbasis lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan pengembangan UMKM berbasis lingkungan tidak hanya bergantung pada edukasi semata, tetapi juga perlu didukung oleh akses sumber daya dan kelembagaan yang memadai. Jurnal Semeru: https://ejournal. id/semeru https://doi. org/10. 55499/semeru. Jurnal Semeru Vol. No. Mei 2025 E-ISSN : 3047-6518 Halaman : 222 - 230 Penelitian ini juga menemukan bahwa transformasi sosial tidak terjadi secara instan, tetapi melalui proses bertahap dan terus-menerus. Oleh karena itu, keterlibatan jangka panjang dari berbagai pihakAitermasuk pemerintah daerah, akademisi, dan sektor swastaAimerupakan prasyarat penting dalam menciptakan ekosistem UMKM yang inklusif dan berkelanjutan. Salah satu rekomendasi yang muncul adalah perlunya pembentukan forum UMKM berbasis lingkungan yang berfungsi sebagai wadah belajar bersama dan berbagi praktik baik. Hal ini sesuai dengan pendekatan collective impact yang mendorong sinergi lintas sektor dalam menyelesaikan isu sosial kompleks (Kania & Kramer, 2. Adapun keterbatasan penelitian ini terletak pada jangka waktu pengumpulan data yang relatif singkat, serta jumlah responden yang terbatas sehingga hasilnya belum dapat digeneralisasi secara luas. Penelitian ini juga belum mengeksplorasi dimensi gender dan generasi dalam partisipasi UMKM berbasis Oleh karena itu, studi lanjutan dengan pendekatan longitudinal dan melibatkan lebih banyak variabel kontekstual sangat dianjurkan. Penelitian selanjutnya juga dapat mengintegrasikan pendekatan mixed-method untuk menangkap aspek kuantitatif dari perubahan perilaku usaha dan dampak ekonomi yang dihasilkan. KESIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan UMKM berbasis lingkungan di Kelurahan Bulak Banteng berhasil meningkatkan kesadaran pelaku usaha terhadap pentingnya praktik ramah lingkungan dan kolaborasi komunitas. Melalui pendekatan partisipatif, pelaku UMKM mulai mengadopsi praktik usaha yang lebih berkelanjutan, seperti pengurangan limbah dan penggunaan kemasan ramah lingkungan, meskipun masih bersifat awal dan Temuan ini memberikan pemahaman mendalam bahwa transformasi usaha mikro tidak cukup hanya dengan pelatihan teknis, melainkan perlu dilandasi oleh perubahan pola pikir yang dibangun dari keterlibatan langsung masyarakat. Secara teoretis, hasil penelitian ini memperkuat teori pemberdayaan komunitas dan konsep kewirausahaan hijau, serta menunjukkan efektivitas model berbasis kolaboratif dalam pengembangan ekonomi lokal. Implikasi penelitian ini mencakup kontribusi pada pembangunan sosial dan lingkungan berkelanjutan di kawasan urban-pesisir. Namun, keterbatasan jumlah informan dan waktu pelaksanaan menjadi kendala yang membuka peluang untuk studi lanjutan dengan cakupan yang lebih luas dan pendekatan yang lebih mendalam. Saran Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar program pemberdayaan UMKM di wilayah pesisir mengintegrasikan pelatihan lingkungan secara praktis dan berkelanjutan, serta difasilitasi melalui forum komunitas yang mendorong partisipasi aktif warga. Praktisi dan pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah dan sektor swasta, perlu memperkuat kolaborasi lintas sektor guna menyediakan akses terhadap pembiayaan, teknologi, dan pasar untuk produk UMKM berbasis lingkungan. Bagi akademisi, pendekatan partisipatif yang digunakan dapat dikembangkan lebih lanjut melalui metode triangulasi, studi longitudinal, atau eksplorasi aspek sosial-budaya yang lebih mendalam. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji pengaruh variabel tambahan seperti peran gender, generasi, atau literasi digital dalam keberhasilan UMKM berkelanjutan, guna memperkaya pemahaman dan inovasi dalam pengembangan komunitas ekonomi hijau. REFERENSI