INSTITUT FILSAFAT DAN TEKNOLOGI KREATIF LEDALERO PROGRAM STUDI ILMU FILSAFAT JURNAL FILSAFAT LEDALOGOS https://journal.iftkledalero.ac.id/index.php/JLOG Kisah Nabi Yunus dari Perspektif Teori Psikoanalisis Sigmund Freud Gregorius Barbarigo Djawa Gae Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero, Maumere, Indonesia (email: rigodjawa@gmail.com) ABSTRAK Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis kisah Nabi Yunus Article history: Received: 13 May 2025 dalam Kitab Suci melalui pendekatan psikoanalisis Sigmund Revised: 16 June 2025 Freud. Penulisan ini menggunakan metode kualitatif melalui Accepted: 16 June 2025 Available online: 01 July 2025 studi pustaka, yang memungkinkan penafsiran yang mendalam terhadap struktur naratif dan dinamika psikologis dalam teks. Kata Kunci: Fokus analisis diarahkan pada tiga struktur kepribadian: id, Yunus; id; ego; superego; konflik batin ego, dan superego, yang memengaruhi respons psikologis Keywords: Yunus terhadap panggilan ilahi, pelariannya, pengalaman Jonah; id; ego; superego; inner conflict dalam perut ikan, dan kemarahannya terhadap belas kasih Tuhan. Hasil kajian menunjukkan bahwa konflik antara dorongan naluriah, realitas, dan nilai moral menciptakan dinamika batin yang kompleks dalam diri Yunus. Selain sebagai perjalanan spiritual, kisah ini juga mencerminkan transformasi psikologis yang relevan bagi pembaca dalam memahami konflik kejiwaan dan nilai etis. Pendekatan ini memberikan kontribusi baru dalam kajian sastra religius, khususnya dalam memahami kedalaman psikologis dan naratif tokoh-tokoh dalam teks suci. ARTICLE INFO ABSTRACT This article aims to analyze the story of the Prophet Jonah in the Scripture through the lens of Sigmund Freud’s psychoanalytic theory. It employs a qualitative method using library research, which allows for an in-depth interpretation of the narrative structure and psychological dynamics within the text. The analysis focuses on the three structures of personality: id, ego, and superego, wich influence Jonah’s psychological responses to the divine calling, his act of fleeing, his experience in the belly of the fish, and his anger toward God’s compassion. This study shows that the conflict between instinctual drives, reality, and moral values generates a complex inner dynamic within Jonah. Beyond a spiritual journey, the story also reflects a psychological transformation that remains relevant for readers in understanding mental conflict and ethical values. This approach offers a new contribution to religious literary studies, particularly in exploring the psychological depth and narrative construction of the characters in sacred texts. PENDAHULUAN Karya sastra merupakan kreativitas manusia melalui bahasa, yang memaparkan pengalaman, emosi, dan refleksi terhadap realitas sosial. Dengan imajinasi dan kreativitas, sastra menciptakan gambaran yang mendalam tentang kehidupan manusia. Dalam berbagai genre seperti puisi, prosa, dan drama, sastra menawarkan perspektif yang mendalam dan sering kali kompleks tentang kondisi manusia dan dunia di sekelilingnya (Salwa et.al, 2025). 53 | Ledalogos Jurnal Filsafat Ledalogos Vol. 1, No. 1, Mei 2025 Sastra tidak terbatas pada karya fiksi semata, tetapi juga dapat ditemukan dalam teks-teks religius, termasuk Kitab Suci yang memuat berbagai bentuk sastra, seperti dongeng, legenda, dan puisi, guna menyampaikan ajaran atau nilai-nilai spiritual. Salah satu kitab dalam Kitab Suci Kristen yang memiliki unsur naratif yang khas adalah Kitab Yunus yang merupakan bagian dari kitab kedua belas nabi atau nabi-nabi kecil dalam Perjanjian Lama (Iskandar, 2019). Kitab ini mengisahkan perjalanan spiritual Nabi Yunus, yang menghadapi konflik batin dalam menjalankan tugas kenabiannya (Nainggolan, 2024). Selain memiliki nilai teologis dan moral, Kitab Yunus juga dapat dikaji sebagai teks sastra yang menampilkan dinamika psikologis tokoh utamanya. Dalam hal ini, pendekatan psikologi sastra menjadi relevan untuk memahami unsur kejiwaan yang terkandung dalam narasi tersebut. Teori psikoanalisis Sigmund Freud menjadi salah satu pendekatan yang hingga kini masih digunakan dalam berbagai studi interdisipliner, termasuk dalam analisis sastra. Sastra bukan sekadar teks, tetapi juga mencerminkan kepribadian tokoh, latar belakang pengarang, serta pengalaman batin yang dapat ditelaah lebih dalam. Freud bahkan menghubungkan sastra dengan alam bawah sadar dan dunia mimpi, yang menunjukkan bagaimana konflik batin manusia dapat tercermin dalam karya sastra (Minderop, 2016: 16.). Misalnya, Isna Fakthur Rohmah, Yenny Lusiana Sari, dan Maulintia Fajriati mengkaji kepribadian tokoh utama dalam novel Marrying Mr. Perfect menggunakan konsep id, ego, dan superego untuk menganalisis kepribadian tokoh utama dalam kajian novel tersebut (Rohmah et al, 2023). Fahdila Restiana Putri dan Liana Afza Farzana juga menerapkan psikoanalisis Sigmund Freud dalam menganalisis tokoh Sukat dalam Novel Hari Terakhir di Rumah Bordil karya Bode Riswandi (Putri & Farzana, 2025). Selain itu, Rika Endri Astuti, Yant Mujiyanto, dan Muhammad Rohmandi menunjukkan relevansi pendekatan ini dalam pembelajaran sastra melalui analisis novel Entrok karya Okky Madasari (Astuti, Mujiyanto, & Rohmadi, 2016). Pendekatan psikoanalisis juga diterapkan dalam kajian teks-teks religius. Quratul Aini, dalam artikelnya, menganalisis struktur kepribadian Nabi Yunus dalam Al-Qur’an dengan menggunakan pendekatan Freud (Aini, 2021). Sementara itu, Hanik Mahliatussikah mengkaji kisah Nabi Yusuf dalam Al-Qur’an melalui perspektif psikologi sastra (Mahliatussikah, 2016). Kajian-kajian ini menunjukkan bahwa pendekatan psikoanalisis dapat menjadi metode yang efektif dalam memahami tokoh dan dinamika psikologis dalam teks-teks religius. Diskusi tentang kisah nabi Yunus dari perspektif teori psikoanalisis Sigmund Freud dalam artikel ini memiliki beberapa perbedaan dengan kajian sebelumnya. Fokus penelitian ini adalah Kitab Yunus dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Kitab ini memiliki konteks historis dan teologis yang berbeda dibandingkan dengan Al-Qur’an atau novel fiksi yang sebelumnya dikaji. Berbeda dengan penelitian Quratu Aini, yang hanya menyoroti aspek struktur kepribadian Yunus dalam Al-Qur’an, penelitian ini menelaah Kitab Yunus dalam konteks nasionalisme Yahudi pasca-pembuangan, yang memengaruhi sikap dan konflik batin Yunus terhadap bangsa Asyur. Selain itu, penelitian ini menawarkan pendekatan yang lebih sistematis dalam menganalisis konflik batin Nabi Yunus dengan menggunakan konsep id, ego, dan superego. Tiga tahapan utama yang diteliti dalam kajian ini meliputi pengingkaran terhadap panggilan Tuhan yang mencerminkan id yang menolak tugas berat, ketaatan 54 | Ledalogos Gregorius Barbagio Djawa Gae terhadap perutusan kedua yang menunjukkan ego mulai menyesuaikan diri, dan kemarahan Yunus terhadap belas kasih Tuhan yang menggambarkan superego yang bergumul dengan nilai moralnya. Pendekatan ini memberikan analisis yang lebih spesifik dibandingkan penelitian sebelumnya yang hanya menyoroti struktur kepribadian secara umum. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menginterpretasi Kitab Yunus dari perspektif psikologi sastra, tetapi juga menyoroti nilai teologis dan historis melalui pendekatan psikoanalisis Freud. Kajian ini diharapkan dapat memberikan perspektif baru dalam memahami teks religius sebagai bagian dari kajian sastra yang memiliki dimensi psikologis dan teologis yang kaya. PSIKOANALISIS SIGMUND FREUD SEBAGAI KERANGKA BACA SASTRA KITAB SUCI Psikologi mulai berkembang sebagai disiplin ilmu pada pertengahan abad ke-19 dengan penekanan pada analisis kesadaran melalui metode introspeksi. Pada masa itu, mayoritas ilmuwan menganggap kesadaran sebagai elemen utama dalam memahami pikiran manusia. Namun, Sigmund Freud mengajukan kritik terhadap pendekatan ini. Menurutnya, kesadaran hanyalah bagian kecil dari kehidupan mental. Freud menggunakan analogi gunung es. Kesadaran seperti pikiran yang kita miliki saat ini merupakan bagian kecil dari gunung es yang ada di atas permukaan air. Sementara ketidaksadaran yang berisikan ingatan masa kecil yang memengaruhi perilaku dewasa merupakan bagian terbesar yang dari gunung es yang ada di bawah permukaan air. Bagi Freud, aspek ketidaksadaran memiliki peran yang lebih signifikan dalam membentuk perilaku dan pikiran manusia (Semiun, 2006: 46). Freud mengembangkan gagasan ini menjadi sebuah aliran baru dalam psikologi yang kemudian dikenal sebagai psikoanalisis. Ia berpendapat bahwa pikiran bawah sadar menyimpan dorongan, keinginan, dan konflik yang ditekan, yang pada gilirannya memengaruhi seseorang secara tidak langsung. Psikoanalisis menekankan pentingnya mengungkap konflik batin yang tersembunyi untuk memahami dan mengatasi gangguan mental. Freud awalnya tertarik menjadi ilmuwan terkemuka daripada sekadar membuka praktik sebagai dokter. Ia dipengaruhi oleh ilmuwan ternama pada masanya seperti Hermann von Helmholtz dan Ernst Brucke, serta memperdalam pemahaman klinisnya bersama Jean-Martin Charcot di Paris yang menggunakan hipnotis untuk mengobati histeria. Ia kemudian bekerja sama dengan Joseph Breuer dan mengembangkan metode katarsis, yang menjadi cikal bakal teori psikoanalisis. Namun, karena katarsis terlalu bergantung pada intervensi langsung terapis, Freud kemudian menciptakan metode asosiasi bebas yang memungkinkan pasien berbicara secara bebas, sehingga konflik batin yang tersembunyi dapat muncul ke permukaan (Hall, 2019: 22). Melalui pengalaman klinis dan analisis terhadap mimpi, Freud menyadari bahwa mimpi merupakan jalan utama menuju ketidaksadaran. Ia menemukan bahwa simbolsimbol dalam mimpi sering menyamarkan keinginan yang ditekan. Dari sini, ia merumuskan teori kepribadian yang terdiri atas id, ego, dan superego, serta memperkenalkan mekanisme pertahanan sebagai cara ego mengelola konflik internal (Semiun, 2006: 25). Meskipun awalnya bekerja dalam isolasi dan banyak menuai kritik karena penekanannya pada seksualitas dan ketidaksadaran, psikoanalisis akhirnya diakui secara luas setelah Freud menerbitkan The Interpretation of Dreams 55 | Ledalogos Jurnal Filsafat Ledalogos Vol. 1, No. 1, Mei 2025 pada tahun 1900. Pemikirannya memengaruhi tokoh-tokoh seperti Carl Jung dan Alfred Adler, serta menjadi dasar bagi berkembangnya psikoterapi modern (Hall, 2019: 27). Psikoanalisis kemudian dikenal sebagai salah satu dari tiga mazhab utama dalam psikologi, bersama behaviorisme dan humanistik. Psikoanalisis yang dikembangkan Sigmund Freud memberikan kerangka penting dalam memahami dan menjelaskan dinamika kepribadian manusia melalui tiga struktur utama: id, ego, dan superego. Id merupakan bagian primitif dari kepribadian manusia yang bekerja berdasarkan prinsip kesenangan dan mendorong pemenuhan kebutuhan biologis seperti lapar, haus, atau kenyamanan, tanpa mempertimbangkan realitas atau norma sosial. Di dalamnya terdapat dua naluri utama, yaitu eros (naluri hidup) dan thanatos (naluri mati), yang memengaruhi perilaku secara alamiah (Fatih, 2019). Ego muncul saat individu mulai berinteraksi dengan dunia luar. Ia berfungsi sebagai mediator antara dorongan id dan tuntutan realitas, bekerja berdasarkan prinsip realitas, sehingga memungkinkan pemenuhan kebutuhan secara lebih rasional. Sementara itu, superego terbentuk dari hasil internalisasi nilai-nilai moral dan sosial yang dipelajari dari lingkungan, bertugas mengawasi dan menekan dorongan-dorongan id yang dianggap tidak pantas (Manu, 2021: 54-55). Ketiga struktur ini selalu berinteraksi dan sering kali menimbulkan konflik batin. Ketidakseimbangan antara struktur ini dapat memicu kecemasan. Untuk mengatasinya, ego menggunakan mekanisme pertahanan diri yang bertujuan untuk melindungi individu dari tekanan psikologis dan menjaga stabilitas internal. Freud juga menekankan peran alam bawah sadar dalam kehidupan manusia, di mana konflik dan keinginan yang tersembunyi dapat muncul melalui mimpi atau fantasi, atau simbol dalam karya seni. Dalam kajian sastra, psikoanalisis Freud digunakan untuk membaca karakter tokoh, dinamika konflik batin, serta simbolisme psikologis dalam cerita. Freud menyebut pendekatan ini sebagai patografi, yaitu analisis yang menghubungkan teks dengan kehidupan psikologis sang pengarang maupun tokohnya. Pendekatan ini telah diterapkan pada mitos dan karya sastra klasik seperti Oedipus Sang Raja, Sangkuriang, dan Lutung Kasarung, yang memuat tema-tema pelanggaran tabu dan konflik kejiwaan (Moesono, 2003: ix). Seiring perkembangan kajian interdisipliner, teori Freud juga diterapkan dalam seni dan budaya popular. Toeti Heraty, misalnya, menautkan psikoanalisis dengan estetika, sementara Okke K. S. Zaimar menunjukkan bagaimana mitos klasik memuat konflik psikologis yang dalam. Dalam ranah film, Apsanti Djokosujatno menunjukkan bagaimana hasrat tak sadar dan simbolisme diekspresikan melalui sinema, dan Mannake Budiman mengurai pesan simbol dalam iklan sebagai cermin hasrat masyarakat modern (Moesono, 2003: viii-ix). Melalui kerangka psikoanalisis ini, kisah Nabi Yunus dalam Kitab Suci dapat dibaca secara lebih mendalam. Pergulatan batin, pelarian, pengalaman dalam perut ikan, ketaatan Yunus, pertobatan Niniwe, serta kemarahannya dan pelajaran melalui pohon jarak membuka ruang interpretasi yang kaya tentang struktur kejiwaan dan spiritualitas manusia. Bagian berikut akan menguraikan bagaimana aspek-aspek 56 | Ledalogos Gregorius Barbagio Djawa Gae tersebut hadir dalam narasi Kitab Yunus, serta bagaimana konflik dan transformasi batin Yunus dapat dianalisis menggunakan pendekatan psikoanalisis Freud. ANALISIS PSIKOANALISIS TERHADAP KISAH NABI YUNUS Setiap individu memiliki kepribadian yang unik, yang terbentuk melalui proses perkembangan psikologis seiring pertumbuhan. Dalam teori psikoanalisis Sigmund Freud, kepribadian terdiri atas tiga struktur utama: id, ego, dan superego. Ketiga elemen ini saling berinteraksi dan memengaruhi dinamika perilaku manusia (Aditya et al., 2023). Dalam kisah Nabi Yunus, ketiganya dapat diidentifikasi melalui berbagai episode penting, mulai dari panggilan Tuhan, pelarian, doa dalam perut ikan, ketaatannya, pertobatan bangsa Niniwe, hingga kemarahannya serta pelajaran dari pohon jarak. Peristiwa-peristiwa ini menunjukkan adanya konflik batin yang melibatkan dorongan naluriah (id), penyesuaian dengan realitas (ego) serta kesadaran moral (superego). Yunus Dipanggil Tuhan, Pelariannya, dan Tindakan Tuhan (Yun 1:1-17) Kondisi Id Dalam teori psikoanalisis Freud, id merupakan aspek kepribadian yang beroperasi berdasarkan prinsip kesenangan dan dorongan naluriah, tanpa mempertimbangkan realitas maupun nilai-nilai moral. Id bekerja secara tidak sadar dan impulsif, mengarahkan individu untuk segera menghindari ketegangan dan mencari kepuasan (Ardiansyah & Sarinah, 2022). Pada awal kisah Nabi Yunus, khususnya ketika Tuhan memerintahkan Yunus untuk pergi ke Niniwe dan menyampaikan peringatan kepada penduduknya agar bertobat dari kejahatan mereka (Yun 1:2), Yunus justru mengambil keputusan yang bertentangan dengan perintah tersebut. Ia memilih untuk melarikan diri ke Tarsis, kota yang berada di arah yang berlawanan dengan Niniwe (Yun 1:3). Tindakan ini dapat diinterpretasikan dalam kerangka psikoanalisis sebagai bentuk penghindaran terhadap situasi yang dirasakan menekan atau berisiko. Jika dilihat melalui lensa id, keputusan Yunus tersebut mencerminkan dorongan untuk menghindari ketegangan batin atau penderitaan potensial yang mungkin timbul akibat menjalankan tugas profetiknya di tengah bangsa yang dikenal sebagai musuh Israel (Darmawati, 2020). Keputusan Yunus yang tampak spontan dan tanpa pertimbangan panjang dapat dipahami sebagai respons impulsif terhadap tekanan emosional. Dalam hal ini, id dapat memengaruhi tidak hanya tindakannya, tetapi juga cara berpikirnya, yakni dengan menganggap pelarian sebagai solusi cepat untuk menghindari situasi sulit. Akan tetapi, seperti yang dicatat dalam kisah, pelarian ini justru mengantarkannya ke dalam bahaya yang lebih besar, yakni badai besar di laut (Yun 1:4), yang secara simbolis dapat mencerminkan konflik batin yang belum terselesaikan. Meski demikian, penting untuk dicatat bahwa keputusan Yunus juga dapat dilihat sebagai respons manusiawi yang kompleks. Tidak menutup kemungkinan bahwa pertimbangan emosional, sosial, bahkan spiritual turut membentuk keputusannya. Oleh karena itu, analisis ini bersifat interpretatif dan tidak dimaksudkan untuk menghakimi sosok Nabi Yunus secara moral dan teologis, 57 | Ledalogos Jurnal Filsafat Ledalogos Vol. 1, No. 1, Mei 2025 melainkan sebagai upaya untuk memahami dinamika batin tokoh tersebut melalui perspektif psikoanalisis Freud. Kondisi Ego Dalam teori psikoanalisis Freud, ego berfungsi sebagai penengah antara dorongan naluriah dari id dan tuntutan moral dari superego. Ego bekerja berdasarkan prinsip realitas, yaitu berupaya memuaskan kebutuhan id dengan cara yang dapat diterima dan disesuaikan dengan kenyataan. Dalam kisah Yunus, dinamika ini tampak ketika ia mulai menghadapi konsekuensi dari pelariannya (Minderop, 2016: 22). Setelah Yunus melarikan diri dan menaiki kapal menuju Tarsis, Tuhan menurunkan badai besar yang hampir menghancurkan kapal tersebut (Yun 1:4). Sementara para awak kapal panik dan berusaha menyelamatkan diri dengan membuang muatan kapal, Yunus justru turun ke kapal yang paling bawah dan tertidur dengan nyenyak (Yun 1:5) (Kramer, 1981: 19). Dalam perspektif psikoanalisis, tidur dalam situasi krisis ini dapat dibaca sebagai bentuk penghindaran terhadap kenyataan yang penuh tekanan. Tindakan ini bisa ditafsirkan sebagai upaya ego untuk menunda atau menjauh dari realitas yang mengancam stabilitas batinnya. Pada saat itu, ego dalam diri Yunus berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, id mendorongnya untuk menghindari tugas kenabian, di sisi lain superego sebagai representasi nilai spiritual dan moral tetap memberikan tekanan batin. Dalam ketegangan ini, sikap pasif Yunus dapat dipahami sebagai bentuk penundaan dalam menghadapi konflik. Ini tidak serta-merta menunjukkan bahwa ego Yunus lemah, tetapi bahwa ia menunjukkan keterbatasan dalam merespons tekanan situasi secara rasional. Ketika para awak kapal membangunkan Yunus dan meminta penjelasan (Yun 1:6), ia tidak menyangkal keterlibatannya dalam peristiwa tersebut. Bahkan, ia meminta para awak kapal untuk melemparkannya ke laut (Yun 1:12). Tindakan ini bisa diinterpretasikan sebagai usaha menghadapi kenyataan dan menerima tanggung jawab, meskipun melalui cara yang ekstrem. Jika dilihat dari sudut pandang psikoanalisis, keputusan ini mengandung ambivalensi antara bentuk pengorbanan yang lahir dari kesadaran moral dan bentuk pelarian terakhir dari konflik yang belum terselesaikan. Dengan demikian, kondisi ego Yunus pada tahap ini menunjukkan adanya dinamika yang kompleks. Ia mulai menghadapi kenyataan, namun belum sepenuhnya menengahi dorongan batin dan tekanan sosial secara utuh. Kondisi Superego Dalam teori psikoanalisis Freud, superego berfungsi sebagai pengatur moral yang mengontrol dorongan id dan membimbing ego agar bertindak sesuai dengan norma dan nilai-nilai yang dianut. Superego bekerja dengan menghasilkan rasa bersalah atau dorongan untuk memperbaiki kesalahan ketika terjadi pelanggaran terhadap nilai tersebut (Alwisol, 2006: 34). Dalam kisah Nabi Yunus, superego dapat mulai dikenali ketika ia mengakui bahwa badai terjadi karena dirinya dan menyatakan bahwa ia menyembah “Allah yang mempunyai langit, yang telah menjadikan lautan dan daratan” (Yun 1:9). Pernyataan ini mencerminkan adanya kesadaran moral bahwa tindakannya tidak 58 | Ledalogos Gregorius Barbagio Djawa Gae sesuai dengan kehendak Tuhan. Ini dapat ditafsirkan sebagai tanda mulai aktifnya superego, yang menekan batin Yunus melalui rasa bersalah. Namun, seharusnya mengambil tindakan aktif untuk memperbaiki keadaan, Yunus justru memilih menyerah dengan meminta awak kapal membuangnya ke laut (Yun 1:12). Tindakan ini dapat dipahami sebagai reaksi terhadap tekanan moral internal yang kuat. Superego menghasilkan rasa bersalah, namun belum sepenuhnya mendorong tindakan tanggung jawab yang konstruktif (Marbun, 2020). Dengan kata lain, superego mulai berfungsi, tetapi peran ego untuk menyalurkan dorongan tersebut ke dalam tindakan positif belum sepenuhnya efektif. Selain itu, badai yang terjadi dapat dimaknai sebagai peristiwa eksternal yang memicu refleksi dalam diri Yunus. Namun, dalam kerangka psikoanalisis, tekanan moral yang mendorong kesadaran dan pengakuan datang dari dalam dirinya, yakni dari kerja superego. Refleksi moral ini berkembang lebih jauh setelah Yunus berada dalam perut ikan dan menyampaikan doanya yang penuh penyesalan dan pertobatan (Yun 2). Pada tahap inilah superego tampak mulai berfungsi secara utuh, membimbingnya menuju penerimaan penuh atas tanggung jawab kenabian. Dengan demikian, superego dalam diri Yunus tampak berkembang secara bertahap, dari munculnya rasa bersalah hingga mendorongnya pada pertobatan dan kesiapan untuk menjalankan tugas profetik sesuai nilai-nilai moral dan spiritual yang ia anut (Marbun, 2020). Doa dalam Perut Ikan (Yun 1:17-2:10) Kondisi Id Saat Yunus berada dalam perut ikan, ia mengalami ketakutan yang mendalam dan merasa terisolasi dalam kegelapan, seolah berada di ambang kematian (Yun 2:2). Dalam teori Freud, id adalah bagian kepribadian manusia yang bekerja secara naluriah, didorong oleh keinginan untuk menghindari penderitaan dan mencari keselamatan. Id tidak mempertimbangkan logika atau nilai moral, melainkan merespons secara naluriah terhadap kebutuhan yang mendesak. Sebelumnya, id mendorong Yunus untuk melarikan diri dari tanggung jawabnya demi menghindari ketidaknyamanan dan risiko menghadap penduduk Niniwe. Namun, ketika ia dihadapkan pada situasi yang mengancam nyawanya, id justru berfungsi sebagai dorongan bertahan hidup (Manu, 2021: 53). Ketakutannya yang luar biasa memicu respons spontan berupa seruan kepada Tuhan, bukan sebagai hasil refleksi moral, melainkan sebagai reaksi impulsif terhadap ancaman yang dirasakan. Dalam situasi tersebut, dorongan id Yunus yang sebelumnya mendorongnya untuk menghindari ancaman melalui pelarian, bertransformasi menjadi dorongan naluriah untuk memperoleh perlindungan, yang terwujud dalam bentuk penyerahan diri secara spontan kepada otoritas transenden. Pengalaman Yunus dalam perut ikan juga mencerminkan bagaimana id dapat mendominasi ketika seseorang berada dalam situasi yang penuh tekanan. Saat tidak ada lagi jalan keluar, naluri bertahan hidup mengambil alih, mengesampingkan alasan atau perhitungan logis. Dalam kasus Yunus, id yang semula berorientasi pada pelarian kini memaksanya untuk mengakui ketidakberdayaannya. Ia tidak lagi berusaha 59 | Ledalogos Jurnal Filsafat Ledalogos Vol. 1, No. 1, Mei 2025 menghindar, melainkan mulai menyadari bahwa satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan menyerahkan dirinya kepada Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa id tidak hanya berperan dalam mengejar kesenangan, tetapi juga berfungsi sebagai mekanisme respons terhadap situasi ekstrem. Pada akhirnya, ketakutan yang muncul dari dorongan id menjadi titik balik dalam perjalanan psikologis Yunus. Awalnya, ia hanya ingin terbebas dari penderitaan, tetapi dalam prosesnya, ia mulai mengalami perubahan kesadaran yang akan mempengaruhi keputusan dan sikapnya ke depan. Kondisi Ego Saat Yunus berada dalam perut ikan, ia mulai mengalami perubahan cara berpikir. Jika sebelumnya ia mengikuti dorongan id, yang membuatnya lari dari tanggung jawab tanpa memikirkan konsekuensinya, kini ia dihadapkan pada realitas yang tidak bisa dihindari. Dalam teori Freud, ego berfungsi untuk menyesuaikan keinginan dengan kenyataan, mencari cara agar seseorang dapat bertahan dalam situasi sulit tanpa sepenuhnya mengabaikan dorongan dalam dirinya (Juraman, 2017). Dalam doanya, Yunus berkata: Dalam kesusahanku aku berseru kepada Tuhan, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku. Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh arus air, segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku (Yun 2:2-3). Doa ini menunjukkan bahwa Yunus tidak lagi sekadar melawan atau menghindar, tetapi mulai menerima kenyataan bahwa ia berada dalam situasi yang berat. Ego dalam dirinya mulai bekerja menyeimbangi dorongan impulsif yang sebelumnya mendominasi. Jika sebelumnya ia bertindak tanpa berpikir panjang dengan melarikan diri, kini ia mulai menyadari bahwa jalan keluar yang benar bukan dengan menghindar, tetapi dengan menghadapi apa yang sedang terjadi. Ego juga berperan dalam membantu Yunus memproses penderitaan. Dalam doanya, ia menggambarkan bagaimana ia hampir tenggelam, merasa terjebak, dan kehilangan harapan (Yun 2:4-6a). Pada titik ini, ia tidak lagi hanya ingin terbebas dari ketakutan, tetapi juga mulai merenungkan makna dari apa yang ia alami. Dalam psikologi, ego bekerja dengan menyesuaikan pikiran seseorang terhadap keadaan yang ada, sehingga seseorang tidak hanya bereaksi secara emosional, tetapi juga mulai memahami dan menerima situasi yang dihadapi. Ketika Yunus menyadari bahwa Tuhan masih memeliharanya, ia berkata bahwa nyawanya diangkat dari liang kubur (Yun 2:6b-7). Ini menunjukkan bahwa ego mulai membantu dirinya untuk beradaptasi dengan kenyataan. Ia tidak lagi berusaha melawan, tetapi belajar menerima dan mencari solusi. Puncaknya, Yunus menyatakan komitmennya untuk kembali kepada Tuhan dan menunaikan nazarnya (Yun 2:9). Ini adalah bukti bahwa ego telah berkembang, tidak lagi hanya bertahan dari krisis, tetapi juga mengarahkan Yunus pada keputusan yang lebih matang. Ia mulai memahami bahwa menghadapi tanggung jawab lebih baik daripada terus menghindar. Dengan demikian, ego Yunus menjadi titik keseimbangan antara keinginan untuk lari (id) dan 60 | Ledalogos Gregorius Barbagio Djawa Gae kesadaran akan tanggung jawab (superego). Ego membantunya keluar dari kepasifan dan membawa perubahan psikologis yang membuatnya lebih siap untuk menjalankan misinya. Kondisi Superego Superego mulai mengambil peran dominan dalam diri Yunus ketika ia mengalami kesadaran moral dan pertobatan. Jika sebelumnya ia bertindak impulsif dengan melarikan diri dari Tuhan dan kemudian menghadapi realitas dalam perut ikan, kini ia mulai menginternalisasikan nilai-nilai moral yang lebih tinggi, yang merupakan ciri utama dari superego (Alwisol, 2006: 19). Pada tahap ini, Yunus tidak lagi hanya menyesuaikan diri dengan situasi, tetapi mulai memahami apa yang benar secara moral dan mengambil keputusan berdasarkan kesadaran yang mendalam. Dalam Yunus 2:7, ia berkata: “Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada Tuhan, dan sampailah doaku kepada-Mu ke dalam bait-Mu yang kudus.” Pernyataan ini mencerminkan bagaimana superego bekerja melalui introjeksi, yaitu proses di mana seseorang mengadopsi nilai dan norma moral dari lingkungan sebagai pedoman dalam menentukan mana yang benar dan salah. Yunus tidak hanya menerima kenyataan bahwa ia harus kembali kepada Tuhan, tetapi juga menyadari bahwa kembali kepada Tuhan adalah pilihan moral yang benar dan bukan sekadar solusi atas penderitaan. Lebih lanjut, dalam Yunus 2:8, ia berkata: “Mereka yang berpegang teguh pada berhala kesia-siaan, merekalah yang meninggalkan Dia, yang mengasihi mereka dengan setia.” Ayat ini menunjukkan bahwa Yunus telah memasukkan standar moral dan spiritual ke dalam cara berpikirnya. Ia tidak lagi berfokus pada dirinya sendiri, tetapi mulai menilai tindakan manusia berdasarkan prinsip moral dan keagamaan. Ini menunjukkan bahwa superego dalam dirinya telah berkembang, tidak hanya dalam bentuk rasa bersalah atas kesalahannya di masa lalu, tetapi juga dalam bentuk pemahaman yang matang tentang nilai-nilai yang harus ia pegang dalam hidupnya. Puncaknya terlihat dalam Yunus 2:9, ketika Yunus berjanji untuk mempersembahkan korban syukur dan menunaikan nazarnya. Hal ini menunjukkan bagaimana superego mendorong ego untuk tidak lagi sekadar bertahan hidup, tetapi juga mengejar nilai-nilai yang lebih tinggi. Yunus kini memilih menaati Tuhan bukan karena keterpaksaan, tetapi karena ia menyadari bahwa itu adalah hal yang benar untuk dilakukan. Pernyataan “Keselamatan datang dari Tuhan” (Yun 2:9) semakin menegaskan bahwa Yunus telah menerima otoritas Tuhan sebagai standar moral tertinggi dalam hidupnya. Ia kini tidak hanya mengakui realitas, tetapi juga menghayati prinsip moral yang harus ia jalani. Dengan demikian, doa Yunus dalam perut ikan bukan hanya ungkapan penderitaan dan rasa syukur, tetapi juga bukti bahwa superego telah bekerja dalam dirinya, membentuknya menjadi pribadi yang lebih sadar akan moralitas dan tanggung jawabnya sebagai nabi. Ketaatan Yunus dan Pertobatan Niniwe (Yun 3:1-10) Kondisi Id Meskipun Yunus telah melaksanakan perintah Tuhan untuk menyampaikan perintah kepada Niniwe, reaksi emosionalnya setelah pertobatan kota tersebut 61 | Ledalogos Jurnal Filsafat Ledalogos Vol. 1, No. 1, Mei 2025 mengisyaratkan bahwa dorongan bawah sadar dalam dirinya belum sepenuhnya selaras dengan misi spiritual yang ia emban. Dorongan id, yang bekerja secara impulsif demi kepuasan sesaat, masih dapat dikenali dalam dinamika batinnya (Manu, 2021: 53). Dalam kisah Yunus 3:1-10, id dalam diri Yunus masih ada, meskipun kini berada dalam posisi yang lebih terkontrol dibandingkan sebelumnya. Jika sebelumnya id mendorong Yunus untuk melarikan diri dari tanggung jawabnya, kini dorongan itu masih tampak dalam bentuk ketidaksukaannya terhadap Niniwe dan keinginannya untuk melihat kota itu dihancurkan. Ketika Tuhan kembali memanggil Yunus dan memerintahkannya pergi ke Niniwe (Yun 3:1-2), ia tidak lagi melawan secara terang-terangan seperti di awal kisah. Namun, ketaatan ini lebih merupakan respons terhadap pengalaman traumatis di perut ikan daripada bukti perubahan hati yang mendalam (Hutagalung, 2021) . Id dalam diri Yunus masih tampak, tetapi secara halus. Ia menjalankan tugasnya secara minimalis, yang terwujud dalam pesan tentang kehancuran Niniwe dalam waktu yang relatif singkat (Yun 3:4). Tidak ada upaya untuk meyakinkan penduduk Niniwe agar bertobat atau menunjukkan belas kasih kepada mereka. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun secara eksternal ia menaati Tuhan, secara internal id masih menolak kehendak-Nya dan berharap agar Niniwe tetap mengalami hukuman. Keengganan Yunus ini semakin jelas jika melihat konteks hubungan antara Israel dan Niniwe. Sebagai bagian dari kerajaan Asyur, Niniwe merupakan musuh Israel, dan id Yunus masih dipenuhi kebencian serta keinginan untuk melihat mereka dihancurkan. Dalam situasi ini, id tidak lagi bekerja dalam bentuk tindakan impulsif seperti pelarian, tetapi lebih dalam bentuk penolakan emosional dan sikap pasifagresif terhadap tugasnya. Pada tahap ini, Yunus memang tidak lagi dikuasai sepenuhnya oleh dorongan id, tetapi keinginannya untuk melihat Niniwe binasa tetap ada dan memengaruhi bagaimana ia menjalankan tugasnya. Ini menunjukkan bahwa, meskipun ia telah belajar dari pengalaman sebelumnya, konflik batin antara id, ego, dan superego dalam dirinya masih berlangsung. Hal ini semakin terlihat dalam bab berikutnya, ketika Yunus secara terbuka menunjukkan kemarahannya kepada Tuhan setelah mengetahui bahwa Niniwe tidak dihancurkan. Kondisis Ego Dalam peristiwa Yunus 3:4, ketika ia menjalankan tugasnya dan menyampaikan pesan Tuhan kepada penduduk Niniwe: “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan”, dapat dilihat adanya pergeseran dalam dinamika kepribadiannya. Jika sebelumnya, ia bertindak atas dorongan id yang mendorong pelarian, maka pada titik ini mulai tampak peran ego yang mencoba menyesuaikan diri dengan kenyataan dan kehendak ilahi. Yunus tidak lagi melawan secara terbuka, tetapi memilih untuk menjalankan tugasnya, meskipun belum tentu disertai penerimaan batin yang sepenuhnya tulus. Ketaatan ini lebih bersifat fungsional daripada hasil transformasi. Ia melaksanakan perintah Tuhan bukan semata karena kesadaran moral atau spiritual yang matang, tetapi karena telah mengalami akibat langsung dari ketidaktaatannya sebelumnya. Pengalaman berada dalam perut ikan menjadi pengingat yang kuat akan konsekuensi dari penolakannya (Frendy, 2024: 6). 62 | Ledalogos Gregorius Barbagio Djawa Gae Karena itu, ego Yunus mencari jalan tengah dengan menjalankan tugasnya, tetapi masih dipengaruhi oleh dorongan id. Hal ini terlihat dari caranya menyampaikan pesan Tuhan kepada Niniwe. Pesan yang ia sampaikan sangat singkat, hanya menekankan hukuman tanpa ajakan untuk bertobat. Sikap ini menunjukkan bahwa meskipun ia telah menyesuaikan diri dengan realitas, emosinya belum sepenuhnya selaras dengan kehendak Tuhan. Ego Yunus bekerja dengan cara menaati Tuhan untuk menghindari hukuman, tetapi hatinya belum sepenuhnya menerima kasih Tuhan bagi bangsa Niniwe. Selain itu, sikap Yunus dalam menyampaikan pesan menunjukkan ketegangan antara id dan superego. Di satu sisi, ia masih mengharapkan kehancuran Niniwe, tetapi di sisi lain, ia merasa berkewajiban menjalankan tugas kenabiannya. Dalam praktiknya, ego Yunus tampak lebih dekat dengan id, terlihat dari pesannya yang hanya berisi ancaman tanpa menyebutkan belas kasihan atau keselamatan. Ia melaksanakan tugasnya sebatas kewajiban, tanpa empati terhadap penduduk Niniwe. Dengan demikian, ketaatan Yunus lebih merupakan hasil dari ego yang menyesuaikan diri dengan konsekuensi realitas, bukan perubahan hati yang mendalam. Ia telah belajar bahwa melawan Tuhan membawa konsekuensi berat, tetapi masih ada pertentangan antara keinginan dan kehendak Tuhan. Kondisi Superego Superego merupakan bagian dari kepribadian yang mewakili suara moral dan prinsip etis yang telah diinternalisasi. Ia mendorong individu untuk bertindak sesuai nilai-nilai yang dianut, bahkan jika bertentangan dengan keinginan pribadinya. Dalam konteks Kitab Yunus, superego Yunus terlihat dalam ketaatannya menjalankan tugas sebagai nabi, meskipun ia melakukannya tanpa sepenuh hati (Suprapto, 2018). Yunus 3:5-10 memperlihatkan bahwa setelah mendengar pemberitaan Yunus tentang penghakiman Allah, penduduk Niniwe segera bertobat dengan cepat dan menyeluruh. Pertobatan mereka bukan sekadar menerima firman-Nya, tetapi juga menunjukkan kepercayaan penuh kepada-Nya. Sebagai tanda pertobatan sejati, mereka mengumumkan puasa dan mengenakan kain kabung, sebuah simbol umum dari kesedihan, kerendahan hati, dan pelepasan dari hal-hal duniawi. Respons ini menunjukkan bahwa pesan Tuhan memiliki kekuatan yang sangat besar, meskipun disampaikan Yunus tanpa empati atau dorongan pribadi untuk menyelamatkan mereka (Endojowatiningsih, 2015) . Dalam hal ini, superego bekerja dalam bentuk ketundukan Yunus pada otoritas ilahi. Yunus tetap menyampaikan firman Tuhan sesuai perintah, bukan karena ia menyadari tanggung jawabnya sebagai nabi. Namun, konflik batin masih ada dalam dirinya. Ia masih menaati perintah Tuhan, tetapi hatinya belum sepenuhnya selaras dengan belas kasih-Nya. Yunus tidak menunjukkan sukacita atas pertobatan Niniwe, yang menandakan bahwa superego dalam dirinya masih berfungsi lebih sebagai tekanan eksternal. Pada akhirnya, superego Yunus belum sepenuhnya menang atas idnya, yang masih menyimpan keinginan untuk melihat Niniwe dihancurkan. Perjuangan antara id, ego, dan superego dalam diri Yunus akan mencapai puncaknya dalam Yunus 4, di mana ia akhirnya mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap belas kasih Tuhan. 63 | Ledalogos Jurnal Filsafat Ledalogos Vol. 1, No. 1, Mei 2025 Kemarahan Yunus dan Pelajaran melalui Pohon Jarak (Yun 4:1-11) Kondisi Id Dalam pasal terakhir Kitab Yunus, id Yunus masih sangat dominan, ditunjukkan oleh reaksi emosionalnya yang kuat, keinginan egois, dan ketidakmampuannya menerima keputusan Allah. Yunus tidak bisa menerima bahwa Niniwe, kota yang menurutnya layak dihancurkan, justru mendapat belas kasih Tuhan (Craigie, 2018: 373). Dorongan id dalam dirinya bekerja secara impulsif, menginginkan keadilan berdasarkan perspektifnya sendiri, tanpa mempertimbangkan kebijakan dan kehendak Allah yang lebih luas. Yunus 4:1 menyatakan, “Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia.” Kemarahannya bukan hanya sekadar ketidakpuasan, tetapi bentuk penolakan emosi terhadap tindakan Allah yang bertentangan dengan keinginannya. Dalam doanya (Yun 4:2), ia bahkan menyatakan bahwa sejak awal ia sudah mengetahui bahwa Allah adalah Tuhan yang pengasih dan penyayang, panjang sabar, dan berlimpah kasih setia. Namun, id menghalanginya untuk menerima belas kasih Tuhan juga diberikan kepada bangsa lain, bukan hanya kepada Israel (Wainarisi, 2021). Puncak dominasi id dalam diri Yunus terlihat dalam Yunus 4:3 dan 4:8-9, ketika ia lebih memilih mati daripada harus menyaksikan Niniwe selamat. Sikap ini mencerminkan dorongan id yang bersifat tidak rasional, di mana keinginannya harus dipenuhi atau ia tidak ingin hidup sama sekali. Yunus tidak mempertimbangkan kehendak Tuhan, ia hanya berfokus pada perasaannya sendiri yang terluka karena harapannya tidak terpenuhi. Allah kemudian memberikan pelajaran melalui pohon jarak (Yun 4:6-11). Yunus merasa senang ketika pohon itu tumbuh dan memberinya keteduhan, tetapi langsung marah ketika pohon itu layu. Reaksinya terhadap pohon jarak menunjukkan bahwa id masih mendominasi dalam dirinya. Ia lebih peduli pada kenyamanan pribadinya daripada kehidupan ribuan orang di Niniwe. Kondisi Ego Ego berfungsi sebagai mediator antara id dan superego (Habsy et.al., 2023: 195). Ego seharusnya membantu Yunus menerima kenyataan dan menyesuaikan diri dengan situasi yang ada. Namun, dalam Yunus 4, egonya kewalahan menghadapi benturan antara keinginan pribadinya (id) dan nilai moral (superego). Yunus tidak langsung menolak keputusan Tuhan, tetapi ia juga tidak menerimanya dengan ikhlas. Oleh karena itu, ia memilih untuk mengungkapkan kemarahannya kepada Tuhan dan bahkan meminta kematian. “Jadi sekarang ya Tuhan, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati daripada hidup” (Yun 4:3). Meskipun Yunus telah mengalami banyak peristiwa yang menunjukkan kehendak Allah, egonya masih berjuang untuk menyesuaikan diri dengan realitas yang bertentangan dengan harapannya (Muryati, Pakpahan & Gultom, 2020). Hal ini semakin terlihat dalam Yunus 4:8-9: “Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: “Lebih baiklah aku mati dari pada hidup.” Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: 64 | Ledalogos Gregorius Barbagio Djawa Gae “Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?” Jawabanya: “Selayaknyanyalah aku marah sampai mati.” Respons Yunus menunjukkan ketidakmampuannya untuk mengatasi konflik internalnya. Ia sadar bahwa Tuhan penuh belas kasih, tetapi ego-nya tidak cukup kuat untuk menerima kenyataan ini tanpa perlawanan. Akibatnya, ia tetap marah dan memilih sikap ekstrem. Lebih baik mati daripada menghadapi realitas yang tidak sesuai dengan keinginannya. Ketidakmampuan Yunus untuk mengatur emosinya menunjukkan bahwa ego dalam dirinya masih belum berkembang secara optimal. Kondisi Superego Dalam teori psikoanalisis Freud, superego merupakan bagian dari kepribadian yang menginternalisasi norma moral dan nilai-nilai yang diajarkan oleh lingkungan. Dalam konteks Kitab Yunus, superego Yunus seharusnya mendorongnya untuk menyerap belas kasih Tuhan dan melihat Niniwe dari perspektif ilahi. Namun, dalam Yunus 4, superego Yunus tampak lemah karena ia lebih mengikuti emosinya (id) dibandingkan prinsip moral Tuhan (Alwisol, 2006: 19). Tuhan berusaha mengajarkan belas kasih kepada Yunus melalui peristiwa pohon jarak (Yun 4:6-11). Tuhan menumbuhkan pohon jarak untuk memberi Yunus perlindungan dari panas terik, tetapi kemudian mencabut perlindungan itu dengan membuat pohon tersebut layu. Melalui peristiwa ini, Tuhan ingin menunjukkan bahwa belas kasih-Nya tidak terbatas hanya pada Yunus atau bangsa Israel, tetapi juga kepada Niniwe. Ketika Yunus marah karena pohon jarak itu layu, Tuhan bertanya kepadanya, “Layakkah engkau marah?” (Yun 4:9). Pertanyaan ini bukan sekadar teguran, tetapi sebuah ajakan bagi Yunus untuk merenungkan moralitasnya dan memahami bahwa kasih Allah jauh lebih luas daripada batasan nasionalisme dan ego pribadinya (Sulistiawan, 2020). Dalam konteks ini, Tuhan bertindak sebagai otoritas moral tertinggi yang berusaha membentuk superego Yunus agar selaras dengan belas kasih dan pengampunan-Nya. Namun, superego Yunus masih belum cukup kuat untuk mengatasi dominasi id yang menginginkan keadilan. Yunus masih terjebak dalam kebenciannya terhadap Niniwe dan kesulitan menerima bahwa belas kasih Tuhan dapat diberikan kepada mereka. Kitab Yunus berakhir tanpa mencatat jawaban Yunus terhadap teguran Tuhan. Keheningan ini seolah menjadi undangan bagi pembaca untuk merenungkan sendiri apakah mereka lebih sering mengikuti dorongan id, tunduk pada realitas tanpa refleksi moral (ego), atau justru membuka hati untuk memahami kasih Tuhan yang lebih luas (superego). Dengan demikian, kisah ini bukan hanya tentang Yunus, tetapi juga tentang perjalanan setiap individu dalam memahami keadilan dan kasih Tuhan. PENUTUP Penelitian ini menunjukkan bahwa kisah Nabi Yunus mengandung dinamika kejiwaan yang kompleks, yang dapat dianalisis melalui pendekatan psikoanalisis Sigmund Freud. Ketegangan antara id, ego, dan superego, memperlihatkan konflik dan transformasi batin yang intens. Temuan ini memperkaya pemahaman pembaca terhadap teks religius sebagai sumber refleksi, serta menegaskan pentingnya 65 | Ledalogos Jurnal Filsafat Ledalogos Vol. 1, No. 1, Mei 2025 pendekatan interdisipliner antara psikologi dan teks suci yang mengandung unsur sastra, guna memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif. Akhir kisah Nabi Yunus yang terbuka mengajak pembaca untuk merefleksikan konflik batin dalam diri mereka sendiri. Kisah ini juga mengajarkan bahwa kasih Allah bersifat universal dan tidak terbatas pada satu kelompok atau bangsa tertentu, sebuah pesan yang relevan dalam konteks dunia yang penuh dengan konflik sosial dan diskriminasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan psikoanalisis terhadap teks Kitab Suci dapat membuka ruang tafsir baru yang bermakna. Ke depan, kajian serupa dapat dikembangkan menggunakan teori psikologi lainnya atau melalui pendekatan teologis untuk menggali lebih dalam nilai-nilai pengampunan, pertobatan, dan belas kasih Tuhan dalam konteks kehidupan manusia yang lebih luas. DAFTAR PUSTAKA Aditya, R., Nupusiah, U., Islam, M. P., Tinggi, S., Tarbiyah, I., Ulama, N., & Farabi Pangandaran, A. (2023). Paradigma Psikoanalisis dalam Perspektif Sigmund Freud. Journal Education and Government Wiyata, 1(3), pp. 171–177. Retrieved from https://journal.wiyatapublisher.or.id/index.php/e-gov Aini, Q. (2021). Struktur Kepribadian Nabi Yunus dalam Alquran (Pendekatan Psikoanalis Sigmund Freud). Jurnal Ilmiah Mahasiswa Raushan Fikr, 10(1), 35– 45. https://doi.org/10.24090/jimrf.v10i1.4636Alwisol. (2006). Psikologi Kepribadian. Malang: Universitas Muhammadiyah. Ardiansyah, Sarinah, dan J. (2022). Kajian Psikoanalisis Sigmund Freud. Jurnal Kependidikan, 7(1), pp. 25–31. Retrieved from http://ejournallppmunsa.ac.id/index.php/kependidikan/article/view/912/885 Astuti, R. E., Mujiyanto, Y., Rohmadi, M. (2016). Analisis Psikologi Sastra dan Nilai Pendidikan dalam Novel Entrok Karya Okky Madasari serta Relevansinya sebagai Materi Pembelajaran Sastra di Sekolah Menengah Atas. Penelitian Bahasa, Sastra Indonesia Dan Pengajarannya., 4(2), pp. 175–187. Retrieved from https://core.ac.uk/download/pdf/196255896.pdf Craigie, P. C. (2018). Dua Belas Nabi, Jilid 1. Terj. Donna Hattu dan Alvian Apriano Jakarta: BPK Gunung Mulia. Darmawati, S., S. (2020). Yunus: Miskin Visi dan Tidak Misioner? Sanctum Domine: Jurnal Teologi, 10(1). https://doi.org/10.46495/sdjt.v10i1.93 Endojowatiningsih, M. H. (2015). Dipanggil untuk Diutus. Missio Ecclesiae, 4(1), 47– 68. https://doi.org/10.52157/me.v4i1.48 Fatih, M. K. (2019). Epistemologi Psikoanalisa : Menggali Kepribadian Sosial dalam Perspektif Sigmund Freud. Madinah: Jurnal Studi Islam, 6(1), pp. 20–31. Habsy, B. A., Mufidha, N., Shelomita, C., Rahayu, I., & Muckorobin, M. I. (2023). Filsafat Dasar dalam Konseling Psikoanalisis : Studi Literatur. Indonesian Journal of Educational Counseling, 7(2), pp 189–199. https://doi.org/10.30653/001.202372.266 66 | Ledalogos Gregorius Barbagio Djawa Gae Hall, C. S. (2019). Psikologi Freud: Sebuah Bacaan Awal ( penerj. C. S. KM, ed.). Yogyakarta: IRciSoD. Hutagalung, S. (2021). Gangguan Stres Pascatrauma dan Panggilan Penginjilan: Sebuah Refleksi Teologis dan Psikologis dari Kitab Yunus. Jurnal Koinonia, 13(2), 120–133. https://doi.org/10.35974/koinonia.v13i2.2642 Iskandar, Y. (2019). Makna Teologis Respon Nabi Yunus terhadap Panggilan Tuhan. Teologi Berita Hidup, 2(1), pp. 28–35. Juraman, S. R. (2017). Naluri Kekuasaan dalam Sigmund Freud. Jurnal Studi Komunikasi (Indonesian Journal of Communications Studies), 1(3), 280–287. https://doi.org/10.25139/jsk.v1i3.367 Kramer, A. T. (1981). Tafsiran Alkitab Yunus. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Mahliatussikah, H. (2016). Analisis Kisah Nabi Yusuf dalam Al-Quran melalui Pendekatan Interdisipliner Psikologi Sastra. Arabi : Journal of Arabic Studies, 1(2), 75–89. https://doi.org/10.24865/ajas.v1i2.13 Manu, Maximus. (2021). Psikologi Perkembangan: Memahami Perkembangan Manusia. Maumere: Penerbit Ledalero. Marbun, T. (2020). Kajian Konsep Keselamatan dalam Kitab Yunus. Jurnal Luxnos, 6(2), pp. 235–253. https://doi.org/10.47304/jl.v6i2.31 Minderop, A. (2016). Psikologi Sastra: Karya Sastra, Metode, Teori dan Contoh Kasus. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor. Moesono, Anggadewi., ed. (2003). Psikoanalisis dan Sastra. Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, Universitas Indonesia. Muryati, Pakpahan G., dan Gultom, J. (2020). Sastra Satire Kitab Yunus: Analisis Naratif Prolog dan Epilog Kitab Yunus. SOTIRIA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani, 3(1), pp. 106–118. Nainggolan, J. (2024). Misi Tuhan terhadap Panggilan Nabi Yunus dalam Konteks Pendidikan Agama Kristen. Teologi dan Pendidikan Kristiani, 2(1), pp. 1–15. Putri, F. R., dan Farzana, L. A. (2025). Psikoanalisis Sigmund Freud terhadap Tokoh Sukat Novel Hari Terakhir di Rumah Bordil ( Sigmund Freud’s Psychoanalysis of the Character Sukat. Sastra Indonesia, 3(1), pp. 46–59. Rohmah, I. F., Fajriati, M., dan Lusianasari, Y. (2023). Psikoanalisis Sigmund Freud dalam Tokoh Utama Novel Marrying Mr. Perfect Karya Milea. Kala: Jurnal Ilmiah Sastra, 1(1), pp. 82–88. S, Frendy. (2024). Perintah Tuhan terhadap Yunus dan Implikasi kepada Mahasiswa Teologi-Konseling Kristen, dalam SENSASI (sensasi.org). Diakses dari https://www.sensasi.org/public/template/images/article/AR0620240194_AR TIKEL-SENSASI-FRENDY-S-UKRIM.pdf Salwa C., Maulana, L. S., Patriwi, Mita., Bahtiarudin, M., dan Julianto, I. R. (2025). Antropologi Sastra: Kebudayaan yang Terdokumentasi dalam Karya Sastra. Jurnal Pedastra, 2(1), pp. 30–41. https://doi.org/10.36709/pesastra.v2i1.87 67 | Ledalogos Jurnal Filsafat Ledalogos Vol. 1, No. 1, Mei 2025 Semiun, Y. (2006). Teori Kepribadian dan Terapi Psikoanalitik Freud. Yogyakarta: Kanisius. Sulistiawan, M. J. (2020). Makna ‘Ketetapan Tuhan’ dalam Kitab Yunus dan Implikasi dalam Pelayanan Kristiani. Sundermann: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan, 13(1), 26–32. https://doi.org/10.36588/sundermann.v13i1.32 Suprapto. (2018). Kepribadian Tokoh dalam Novel Jalan Tak Ada Ujung Karya Muchtar Lubis Kajian Psikoanalisis Sigmund Freud. Metafora, 5(1), pp. 54–69. Retrieved from http://scioteca.caf.com/bitstream/handle/123456789/1091/RED2017Eng8ene.pdf?sequence=12&isAllowed=y%0Ahttp://dx.doi.org/10.1016/j.regsciur beco.2008.06.005%0Ahttps://www.researchgate.net/publication/305320484_ SISTEM_PEMBETUNGAN_TERPUSAT_STRATEGI_MELESTARI Wainarisi, Y. O. R. (2021). Pedagogi Pohon (Jarak): Metode Pedagogi dalam Peristiwa Pohon Jarak Yunus 4. Jurnal Luxnos, 7(2), 237–248. https://doi.org/10.47304/jl.v7i2.154 68 | Ledalogos