PSIKOLOGIAGAMA DALAM PERKEMBANGANPSIKOLOGI PADA UMUMNYA SekarAyu Aryani Abstract Psychologyand Religion are two essencialcomponentsin Religions Psychology. In its long history,the psychologyhasbeendominated by pulling eachother betweensupportersof both components,psycholog and religious scholars,to bring an emphasison their own discipline. Thii paper tries to analysethe possibilityof putting religiousmissionon it, for the disciplineis saidto be morepsychologicalthan religious. The analysis is based on its historicaldevelopmenthistory aswell as the hopesof the era, especiallythe hopes from the religion as a socialinstitution. The chance of the rise of ReligiousPsychologyin Religionpsychologywill be drawn in a position in which the schoolof statusquo facesthe schoolof counter culture. Here,the schoolofcounter cultureis not seenas a threat for mainstreamany more. it may evev fertilize and enrichethe major Ur"il. 6rJl ,*i:ll lJ4 J - L r! -r. -Lit !*jJS*, 'r-6 s-i . '$Jl tl,. iAl . dr 0L{- 6l_. pa:e La rJJl3 1 }jI. d>L_l urll ,-i* dF" i#JL peUAl ly. :r. Oi . url u,o$ dlUA cJSl. rtri, a:*tt ,Jc ,J l i-. ir-$l J'. -LjgJ3stdj3r uts^l d l=t iJtst srtJi iltill ,-. r ,ti ,v *Li ,IcJ . Ull Ot-jJl c,l L t"-,j-r OJt ! JJ osj- . ci \-,r' , t . r !*:!JS -,JJS! qK. JJr 3. e eLt l il#s u. l'Jl 0,- l. =jl Al-Jami'ah. No. 60/1997 Psiltologi Agatna status ,-iJFL OLsJL r cp-ll-'i ,s,r- gij!3a counter culture ,-iJ. LJ*3 y J Jlia ,rjj cf rfl. grll llijJ,. counter culture,-i=p3 quo orli g-,ft oJ o J L. j dt -!l "JAJ^ll L:. DISATU pihalq psikologi modern(Bara. banyakdikritik sebagai penuh kerancuan dan menemui jalan buntu dalam memahami hakikat manusia yang sebenarnya. Di pihak lain telah mendoronglahirnya aliran psikologi baru bahkan psikologi alternatifyangberbedabaik dalamcara pandang. ode of though. maupunmisi yang diembannya. Salah satu bentukterobosanlahir dari Aliran PsikologiHumanistik yang sering dimasukkan sebagaialiran besar. psikologi modern ketiga di samping Behaviorisme dan Psiko Analisis tapi dalam perkembanganselanjutnyatelah melahirkanaliranpsikologiyang meretas jalan baru untuk meneroboskebuntuanyaitu aliranpsikologi transpersonal. Bentuk lain dari reaksiterhadappsikofogimodernini datangdari kelompok ahli atau simpatisan agama yang mencobamenawarkankonsep-konseppsikologi "transformatif' yang berbingkai keagamaan. eligious framewor. Contohdari aliranpsikologi ini bisa kita tunjuk seperti psikologi Pastoral di kalanganummat Kristiani yang walaupunkemunteculannya sudah hampir setuaketiga alirandi atastapi perkembangan Psikosebagai akhir semakin memperjelaskeberadaannya logi alternatif. Di sampingitu haruskita sebutjuga di sini gagasan-gagasan yang muncul dari kalangankaum muslimin yang menawarkanapa yang merekasebut denganpsikologi Islami. Dalam perkembanganpsikologi yang telah digambarkandi atas, penulis ingin menyoroti posisi psikologi agamasebagaisebuahaliran psikologi yang kurang populer dan banyakdisalahpahami dibanding aliranaliran psikologi lainnya. Permasalahanpokok yang ingin penuliscoba pecahkandi sini adalah: Bagaimana sesungguhnyapsikologi agama itu. psikologikah atau psikologi dewasa Dimana posisi psikologi agamadalamperkembangan ini, sebagaialiran status quoatau counterculture? Al-l ami'ah. No. SekarAya Aryani Psikologi Agama Selayang Pandang Psikologi agama yang seringdipandangsebagaistudi psikologis terhadapagama(Dister, 1982:. adalahsebuahdisiplin ilmu yang meneliti pengalamandan prilaku agama(Clar. Sesuaidengannamanya"psikologi" maka agamayang dimaksuddalam "psikologi agama" adalahagama dalam pengertian manusianyaalias manusia beragama. Dus, obyek materialnya manusia beragamadan obyek formalnyaadalahpengalaman dan prilaku keagamaanyang semuanyaterpantuldalam apayang disebut kehidupanagama(Drijarkara, 1978:I . Psikolog lain mengartikanpsikologi agamasebagaidialog antara psikologi dan agama. Sebagaimanalayaknya sebuahdialog kadangbersahabat kadangsalingmenyalahkan. Tetapi bagaimanapun hal ini tetap diperlukan paling tidak untuk mengetahuisejauhmana agamamenghambat atau mendukungkehidupanmanusia. Atau dengan kata lain sejauhmana agama berfungsi dalam kehidupanmanusia. Oleh karenaitu bagi Crapps. Psikologi Agama sebagai cabang ilmu memusatkanperhatianpadatiga bidang: . Bentuk institusionalyang diambil agama. Arti personalyang diberikan orang pada bentuk-bentukitu. Hubungan antara faktor keagamaandan seluruhstruklur kepribadianmanusia(Crapps,1993: I . Lain lagi Allport, sebagai seorang psikolog kepribadianyang psikologi agama beraliran Humanistilg ia lebih menekankan padamasalahkepribadianagamamanusianya(Allport, 1. Walaupun masihbanyakpsikologlain yang memakaiistilah yang secara redaksional berbeda seperti pengaruh agamaterhadapkehidupan (Daradjat,1985:. atau relasiintensionalantaramanusiaberagamadengan Tuhannya (Dister, 1982:. dan masihbanyaklagi istilah lainnya,tetapi intinya semua bisa dipertemukandalam obyek material manusia beragamadan obyek formalnya pengalamandan perilaku agama. Bila melihat definisi di atas,bisa dikatakanbahwapsikologi agama adalah termasuk aliran psikologi yang mengakui adanya realitas spiritual padamanusiadi sampingrealitasfisik dan psikis. Lebih jauh lagi realitas spiritual di sini bahkan sudah diberi bentuk yang lebih konkrit yaitu agama. Dan bila kita lihat siapasebenamyayang adadi belakang psikologi agama? Dari penelitian terhadapkarya-karyapsikologi agama terbul. bahwa psikolog-psikologyang berkaryamelakukanpenelitian di dalamnya cenderungmerupakanpsikolog-psikologyang lebih religius ketimbang yang tidak punya konsernterhadapmasalah-masalah (Beir-Hallahmi, 1977"381-. Hal ini didukung lagi oleh bukti bahwa Al-lami'ah,No. 60/1997 PsikologiAgama tidak semua psikologdapatmengakuiadanyapsikologi agama(Brandon, 1970:. Karena untuk dapatmengakuiadanyapsikologiagamapsikolog harus mengakuiadanyapengalamankeagamaan yang benar-benarsejati, berbeda dan bisa dipisahkandari pengalamanlain sertapunya struktur tersendiri(Wach,1966:. Persyaratantentang pengakuanterhadap pengalamanagamaini bisa dianggap menguntungkandan berdampakpositif terhadap obyek yang dikaji, karenasebuahpenelitianagamayang berhasiltidak mungkin dapat dilakukan oleh individu-individu yang tidak mengetahuiperasaan keagamaan(Heiler, 1932,Otto,1. Ahli-ahli tersebutmenyetujuipendapat Feeninsdorf karena bila tidak demikian, beresiko tersesat dan kehilangan arah dalam kompleksitasmateri yang dikaji, salahmengira terhadap elemen-elemen yang kurangsignifikan sebagaimasalah-masalah besar dan utama. Contohnyamerekamungkinberlakutidak kritis dalam memakai ukuran-ukuranyang tidak sesuaidenganpengalamankeagamaan. Dia beralasanbahwamaknafenomenakeagamaansecaraluas adalah subyektif sehingga orang harus mendekatinyapertama-tamaatasdasar sendiri(Wulff, 1985:. Alasan tersebut tidak begitu sajaditerima oleh para kritisi yang " objekif-minded'. Bagi merekapendirian . yang ideal adalah pendirianseorangskeptik atau agnostik,baik religiusmaupunateisdipan-' dang punya kemungkinan untuk memaksakankarakler perspeklifnya sendiri ke dalamrisetnya(Wulff 1985:. Sebelum kita bicara lebih jauh tentang masalahpendirian . atau bahkan carapandang. odeof though. ini, adabaiknya kita kembali dulu pada orang-orangyag beradadi balik khasanahkarya psikologi agamaini. Terhadappendapatdi atasyang mengatakanbahwapeneliti psikologi agamaaliaspsikolog-psikologagamaadalahorang-orang yang punya komitmen agama, nampaknyatidak sepenuhnyabenar. Karena sebagaimanadalam psikologi pada umumnya, psikologi agamapun punya berbagaialiran. Aliran-alirantertentulebih-lebihaliran "Freudian", nampaknya perlu dikecualikan, karena "psikologi agama"merekalebih pantas untuk disebutpsikopatologi-agama (Allport, 1953:v. Psikologi menilai agama secara negatif yang secarapersonaldan dengan suara keras menolak bentuk-bentukserta ekspresikeagaman tradisional seperti misalnyaLeuba,Watsondan Skinner(Wulfl 1985:. juga tak bisa dimasukkanke dalamdaftar di atas. Terkecualibila yang dimaksud Beit-hallahmidi atasadalahpsikolog-psikologyang bukan hanya AI-| ami'ah. No. 60/1997 SekarAyu Aryani meneliti pengalamanagama sebagaisuaturealitasyang ada dalam kehidupai manusia tetapi sekaligusmengakuinyasebagairealitasyang sejati beruparesponterhadapRealitasMutlak (Tuha. Cara Pandang,Metode dan Konsep yang dihasilkan Dalam semua usaha ilmiah tidak bisa dihindarkan dari adanya unsur-unsur apriori, demikian kata GunnarMyrdal. Bentuk unsur-unsur apriori tersebut antaralain berupaasumsi-asumsi dasaratau pahamidiologis yang mendasarisuatuteori. Dalam praktik sebuahpenelitianilmiah juga pilihan keunsur-unsur tersebutpadagilirannya akanmempengaruhi rangka konseptualyang digunakanuntuk mengorganisirfakta-fakta menjadi konsep atau teori. Karena fakta-fakta itu saja tidak dapatmengorganisir dirinya sendiri menjadikonsepatauteori hanya karenadiamati. Bahkan apa yang dinamakan fakta-faktailmiah pun hanyaakantampak jika dilihat dengankerangkagagilsanatauteori tertentuyang tentunyadipilih secara subyektif dan tidak tampakjika nremakaikerangkagagasan atau teori yang lain (Myrdal, 1988:7-. Dalam konteks psikologi agama hal senadadi atas tidak terkecualikan, seperti dikatakanSpilka bahwadata tidak pernahbicara sendiri, dan butuh interpretasi,dan interpretasini didasarkan. atas ide-ide yang sudah dibangun . oleh peneliti yang berpikir secaramendalamdan kreatif. Pepatahlama mengatakanbahwa melihat adalah mempercayai,dalam kenyataanmenjadimempercayaiadalah Apa yang kita percayaidan kita teoritisasikanmengatakanpada kita sepertiapakahmaknadata tersebut(Spilka,1985:. Psikologi agama yang keberadaannyadi latar belakangioleh kelahiran perbandingan agamadi Eropapadaabad-19yang bersamaanjuga dengan kelahiran disiplin ilmu yang pada mulanya tidak berhubungan dengan agama: yaitu psikologi Dalam, yang munculdalam ilmu kedokteran sebagai pencarian sistematik pertama terhadapsatu teori tentang penyakit mental,sertapsialam bawah sadaruntuk tujuan penyembuhan kofisiologi, yang munculdari fisiologi sebagaisatu usahauntuk menggantikan tambatan teori abadi yang bersifat filosofis dengan pengukuran yang konkrit dan eksperimentasi. Meskipunkaryadan pendekatanperintetapi dua latar belakang. ini tis-perintis telah memulai disiplin ilmu ini dengandua orientasiyang bertentangan secara fondamental yang padaakhirnyamenghasilkankeseluruhanspek- Al-Jami'ah. N o. 60/1997 PsikologiAgama trum pendekatan yang mewarnai psikologi agama dewasa ini (Eliade, 1987:58-. Dua leluhur yang dimaksud Eliade di atas sudah barangtentu studi agama dan psikologi. baik "PsikologiDalam" maupunpsikofisiodengandua metodologi. Hal ini diperkuatdenganselaludihubungkannya pendekatanini diDua logi yang berbeda singgungjuga oleh Clark dalam karyanya The Psychologyof Religion. Introduction to Religious Experience and Behavior. Tetapi Clark agaksedikit berbedadenganEliadedalamhal sikapdan mengkompromikankeduapennya untuk berusahamempertemukan dekatanini dalampenelitian Clark sadar betul akankontribusiAmerika khususnyaaliran Empirisme Amerika utara dalamaliranPsikologiAgama. Dalam hal ini ia sejalan dengan Brandon (Brandon, 1970:. sehinggaketika ia berbicara metode Empirismeselaluia kaitkandenganaliranpsikologi Behaviorisme sebagai penganut fanatik metodetersebut. MenurutnyaPsikologiAgama yangpadabataslertentu menggunakanmeadalah satuIlmu pengetahuan tode ilmiah. Diakuinya bahwapsikologiagamatak akandapatmelepaskan samasekalipandangan. intuisi sertapenggunaansubyektifisme meski hal ini dikecamoleh kelompokBehaviorisdoktriner. Sekalipun demikian ia yakin bagi Behaviorisyang berjiwa lebih bebasmerekatidak hanya mengakui adanya aksesdalammenelitipsikhe. melalui subyektivisme tetapi juga berusaha kerasmenemukanmetodeilmiah untuk meneliti kesadaransubyektifbahkandari sebuahkasusindividual sekalibatin manupun. Menurutnya PsikologiAgamaharusmeneliti kesadaran sia dan tidak boleh kendurdalammencaricaraatau metodeilmiah dalam Di samping itu psikolog Agama juga harus menyambut baik semangat filosof yang punya kebiasaanmemandangjiwa tidak hanya secara menyeluruhtapi juga dalamhubungannyadenganseluruhkehidupan. Dalam waklu yang samapsikologagamapunharusmenolakteka-teki dan kesimpulanspekulatifdalamrangkamenegakkanorientasiilmiahnya yang mendasar,bagaimanapunsulitnya hal tersebut dilakukan. Karena itulah spekulasidan diskusitak terhindarkandalamsebagianbesartulisan dan karya-karyapsikologi agama. Karena diskusi dan spekulasibarat adukan semenyang diletakkan di antarabatu tratayang dapatkita temukan, keseluruhansemendan'batubata itulah yang menciptakanbangunan psikologi agamayang kita bangun(Clarlq1958:. Al-lami'ah,No, 60/1997 SekarAyu Aryani Ia memang tidak bersikapdikhotomisdalammemandangmetoda spektilatif dan empirik, karenabaginya hal tersebutbisa salingmenunjang. Ditambah lagi oleh keyakinannyabahwa pengalamankeagamaan tidak hanyasatuwarna,tetapi paling tidak ada 3 . kategoriyang satu sama lainnyapunya karakleristiktersendiridan membutuhkanmetode yang berbedapula. Hal tersebutbiasaia sebutdengankategori,primary, secondary atau tertiary. Meskipun fokus penelitian tetap padap'imary religious experience,tetapi menurut definisinya ia mencakuppengalaman batin dan ekpresilahiriah. Sebagianmetodecocokuntuk meneliti pengalaman dan sebagianlainnya cocokuntuk ekspresinya. Dengandemikian secarakeseluruhankita harusberlakuadil bagi ke-duanya(Clarlq 58:. Seluruh metodepenelitianyang ia kemukakan,padaintinya dapat yaitu pendekatanidiografik dan dikelompokkanke dalamdua pendekatan. Pengalamankegamaantipe primary cenderungmenggunakan metode pendekatan idiografik sementara Secondarydan Tertiarymenggunakanmetodenomothetik(Clark, 1958:. Dua pendekatandi atasdiakui psikologlain sepertiSpilka sebagai pendekatan yang digunakan dalam aliran-aliranbesar. ain strea. psikologi, yang biasanyadikaitkan denganklaim pilihan antaralaporansubyekti f . ubyek i vi t. atau pengukuranobyektif ( obyekti vi t. Pendekatan idiografik menekankanpada individualitas dan arti reflektif dan intuitif yang memfokuspadauraianyang bersifatdeskriptifdan kualitatif. Secara historis, idiografik dulu dihubungkandenganpikologi fenomenologisdan Kebalikannya adalah pendekatannomothetikyang menekankan pada metodologi metodologi obyektif, ukuranukuranyang relistatemenstatistik matematik. Pendekatabel dan bisajadi menggunakan terma-terma empirik dan posi-tifistik. an ini bisanyadikaitkan dengan Spilka juga melaporkanusaha-usaha persesuaianantara kedua pendekatanini yang dianggapnyamasihdalam Tapi usahaini tetap dicoproses dan kadanghasilnyabelummemuaskan. ba dan hasilnya seperti usulan Hanford . tentang solusi . merupakan campuran kekuatan kekuatan dari kedua posisi ini dengan menggunakansurvey dan studi kasussekaligus. Malony . menawarkan konsepN=l metodologi,yang diberi namastudi eksperimentalseksama terhadap individu. Tageson . denganfenomenologifungsional matematisdi antaravariyang mencobamembangunhubungan-hubungan abel-veriabelobyektif. Ide yang agakbersifatfenomenologiobyektif ini Al-Jami'ah. No. 60/1997 PsikologiAgama tampaknya mirip dengan "Behaviorismesubyekrif' dari Miller. Galanter dan Pribham . (Spilka, 1985:. Wulff membahasmasalahdi atas dengan istilah yang lain lagi. Menurutnya walaupun literatur-literatur psikologi agamaAmerika. Jerman, dan Prancissampaisekarangini punyaciri tersendiri,namundalam perkembanganmetodologi punya keparalelan. Keparalelanyang dimaksud adalah adanya dua trend metodologiyang fondamentalyang disebutnya dengan: deskriptif dan eksplanatif. Trend deskriptif menekankananalisis fenomenologisimpatetik yang pada umurnnyadilakukan untuk membantupendidikanagamadan pelayanan Pastoral. Sedang trend eksplanatifberusahamengungkaphubungan-hubungankausal yang dapat dipertanggung jawabkan terhadap pengalaman perilaku keagamaanyang bagi sebagianorang paling tidak masih merasa keberatan. Dapat dipahamipendekatandeskriptif lebih disukai oleh peneliti-penelitiyang memiliki komitmenatau loyalitasterhadap agamanya sedangyang eksplanatifterutama dikembangkanoleh "orang-orangluar" (Wulffi 1985:. Walaupun dua pendekatantersebuthampiruniversaladanyatapi juga punyapengaruhyang tidak tampaknya tradisi negaramasing-masing bisa dikesampingkan. Sepertiperintispsikologi agamaAmerika yang kental dengantradisi empirismenyacenderunglebih menonjoldalampenguasaan dan penggunaanmetode-metodeilmu sosialyang bertendensikuat ke arah riset kuantitatif. Analisisstatistik untuk menjelaskanreligiusitas merupakan fenomenayang umum. Bentukriset sepertiini bisa dilihat dalam Journal For scientific Study of Religion sebuahpublikasi yang disponsori oleh Sociaty for Scientific Study ofReligion, sebuahorganisasi yang didirikan tahun 1949oleh sekelopoksosiologdan psikolog. Demikian pula Jermandenganbudayanyayang cenderungrefektif teoritik punyapengaruhpadametodeyang dipilihnya. Uraian yang bersifat deskriptif tampak mewarnaipemikiranpsikolognyayang terkemuka. Mereka berangapanmetodaapasajakuranglebih valid bagi penelitian psikologi agamasepanjangpengalamankeagamaandapat dipandangatau dilihat secarabaik. Tujuan umum mereka adalah untuk "memahamai" . pengalamankeagamaan,bukan dengancara eksplanasikausal yang reduktif. tetapi dengan"menghidupkankembali"pengalamanterseyang but secaraempirik, untuk melihatsecaracerrnathubungan-hubungan memberi strukturdan koherensi bagaimanahal tersebutdihidupkanoleh individunya(Wulff, 1985:. Al-lami'ah,No. SekarAyu Aryani Sebelum menutup pembicaraan tetang metodeini harusdikemukakan bahwa perbedanmetodependekatanpadagilirannya berpengaruh juga pada teori atau konsepyang dihasilkannya. Eksplanatifcenderunglebih kuat kearahpsikologinyadan deskriptif ke arahstudi agamanya. Psikologi Agama dan Psikologi Berbingkai Keagamaan Seperti telah dikemukakandi muka,bahwapadaprinsipnyapsikologi agama adalah psikologi dan bukan agama. Hal tersebutsecaraeksplisit dikemukakan oleh Nico SyukurDister yang mengolahsecarabebas sebuah karya Anton Vergotte seorangpsikolog agamaBelgia yang cukup dikenal (Dister, 1982:. Di samping Dister masihbanyakpsikolog-psikolog lain yang mengatakanhal serupabaik eksplisit maupunsecaraimplisit. Oleh karena psikologi agama adalah psikologi maka kebenaran yang dikejarnya hanya sampaipada kebenaranpsikologisdan bukan metafisis ataupunteologis(Dister,1982:. Dengan ungkapanini jelas bahwa kita tidak dapatterlampaujauh menaruh banyak harapan untuk menjadikannya pembawamisi profetik tertentu . aca: Islam misalny. Dalam berbagaitext bookdan literatur psikologi agama bisa kita lihat bahwa apa yang dibahasnyasebagian besar masalah-masalah yang universaladapadasetiapagama. Sementara pilihan obyek pada tradisi agamatertentusepertiKristen misalnyasebagian besar dikarenakan"keterbatasan"dari peneliti. Dan hal ini pernah menjadi keprihatinan kritikus psikologi agamayang merasaprihatin karena masih banyaknya tradisi kegamaanlain yang tidak tereksplorasi (Wulff, 1985:. Walau demikian,kecualialiran psikologi Pastoral,uraiannya masih cukup deskriptif obyektif. Karena alasan inilah Thouless pernah mengungkapkandalam sebuah karyanyabahwapsikologi agama merupakan alat yang efektif untuk studi perbandinganagama(Thouless, 1972:. Akan tetapi sebagaimana terjadi padadisiplin ilmu yang lain bahwa selalu ada mainstream yang cenderungstatusQuo, dan diikuti pula oleh kemunculan aliran-aliran yang membawamisi khususyang berperan sebagai counterculture-nya. Demikianpula terjadi padapsikologi agama. Walaupun aliran-aliran ini sifatnya sebuah counterculture tetapi justru menambah subur dan berkembangnyakfiasanahilmu yang bersangkutan tak terkecualipsikologi agama. Untuk melihat sebuahcontoh kita bisa mengambiluraianBrandon tentang aliran-aliranpsikologi agamapadamasakontemporeryang terdiri Al-Jami'ah. No. PsikologiAgama dari 6 . aliran yang masing-masingmuncul denganpendekatannya yang khas. Salah satu dari 6 . aliran tersebutyaitu aliran psikologi Pastoral yang dijelaskannyasebagai aliran psikologi Agama bercorak Mental Hygiene yang berbingkai . rame work\ Kristen. Lebih jauh ia menjelaskanbahwa aliran ini tidak lagi deskriptif-analitikmelainkanlebih bersifatterapetik(Brandon,1970:. Penulis tidak akan berbicara terlalujauh tentangaliran ini . kan ditulis paper khusustentangaliranin. Yang ingin penulisfokuskansaat ini adalahpada hal kelaikan psikologi agamauntuk menumbuhkanpsikologi yang berbingkai keagamaan. Sepertidikatakan Bergin bahwa dewasa ini psikologi lebih khusus lagi psikoterapi cendemng beralih ke terapi bermuatan nilai . setelahterbukti gagalnyaterapi-terapi yang bebas nilai . alue-fre. (Bergin, 1994:. Dan menurutnyapula bahwa perkembanganini dibangun sebagaibagian programkerjayang sudahberjalan lama namun dirasa tak mencukupidalambidangpsikologi agama (Bergin, 1994:. Bila demikian halnya maka kalanganIslam pun seyogyanyaikut pula dalam pengembanganpsikologi agamayang berbingkaiIslami. Seperti dikatakan Koentowijoyo . bahwapadasekaranglahsaatnya dimana psikologi dunia menyediakandiri untuk tumbuhnyabermacam-macampsikologi. Psikologi eksistensialdan Humanistik . ranspersonatr-red'1 kiranya cukup memberi peluang untuk tumbuhnya psikologi Dan "bola" pun kini sudahbergulirdi kalanganpsikolog muslim. Setelah seruan yang cukup membangkitkansemangatdihembuskanoleh Malik Badri untuk memikirkan dan memulai langkah-langkahmenuju tanggapandari parapsikolog muslim psikologi Islam (Badri, 198l:135. pun cukup membesarkan Baik di Timur Tengahmaupundi Indonesia sendiri mulai muncultulisan dan karya-karyarintisanyang berisi gagasan menuju psikologi Islami yang dimaksud. Dari Timur Tengahbisa kita sebut psikolog Islami seperti Usman Najati. As-Syarkawidan lain-lain. Sedang di Indonesia bisa kita sebutIlanna JumhannaBastaman,Jamaluddin Ancok. DadangHawari. Fuat Nashari,Subandidan lainlain. Tetapi hta masih harus bersabar untuk lahirnya sebuahkarya psikologi Islami yang sistematikdengankualifikasi akademikyang memadai' Al-| ami'alq No. 60/1997 SekarAyw Aryani Kesimpulan. Dari uraiandi muka dapatpenulistarik kesimpulansebagaiberikut: Psikologi Agama adalahcabangpsikologi padaumumnya yang mengkhususkan penelitiannya pada bidang pengalamandan ekspresi keagamaan. Jadi dia adalahpsikologi bukan agama. Psikologi agama mainstreamkuranglebih samaposisinyadenganpsikologi modern sejauhteori-teori psikologi modem digunakandi dalamnya secara apa adanyatanpa penyesuaiandan kritik. Tetapi aliran tertentu yang muncul sebagai perkembanganlebih lanjut dari padanya seperti psikologi Pastoralbisa dimasukkankepadaaliran psikologi berbingkai agama yang berfungsi sebagaicounterculture terhadappsikologi agamadan psikologi mainstream. DAFTAR PUSTAKA