Vol. Nomor 1. Juni 2024 SHR : Svasta Harena Raflesia E-ISSN: 2962-2603 HUBUNGAN STATUS GIZI DAN KONSUMSI VITAMIN A DENGAN KEJADIAN ISPA PADA BALITA DI WILAYAH PUSKESMAS BETUNGAN KOTA BENGKULU THE RELATIONSHIP OF NUTRIONAL STATUS AND VITAMIN A CONSUMPTION WITH THE INCIDANCE OF RTIs IN CHILDREN AT PUSKESMAS BETUNGAN BENGKULU CITY Leony Mayang. Jumiyati. , dan Arie Krisnasary. Jurusan Gizi. Poltekkes Kemenkes Bengkulu. Jl. Indragiri Pd. Harapan No. Padang Harapan,Kec. Gading Cemp. Kota Bengkulu, 38225 E-mail: yatijumi70@yahoo. ABSTRACT ARIS is an acute respiratory infection lasting 14 days. The respiratory tract in question is the organ from the nose to the pulmonary alveoli and their adnexal organs. Apart from nutritional status, vitamin A is no less important for the immune system. This study was to determine the relationship between nutritional status, vitamin A consumption and the incidence of ARIS in children under five at Betungan Health Center,Bengkulu City, in 2022. This research was conducted with a cross sectional approach, namely research on several populations that were observed at the same time, to determine the nutritional status of children under five with ARIS disease. The results showed that most of the children . 6%) had normal nutritional status. Vitamin A consumption is mostly . 9%) less when compared to the Nutritional Adequacy Ratio. Most . %) of children under five were affected by ARIS. Statistical test results obtained p value = 0. 093 between nutritional status and the incidence of ARIS. It can be concluded that there is no relationship between nutritional status and the incidence of ARIS. While the results of statistical tests between vitamin A consumption and the incidence of ARI obtained p value = 0. 000, it can be concluded that there is arelationship between vitamin A consumption and the incidence of ARIS in children under five. Keywords: Nutrients Status. Vitamin A Consumption. ARIS Incidence ABSTRAK ISPA merupakan Infeksi Saluran Pernafasan Akut yang Berlangsung 14 hari. Saluran Nafas yang dimaksud adalah Organ mulai dari Hidung sampai Alveoli paru beserta Organ adneksanya. Selain dari status gizi, vitamin A juga tidak kalah pentingnya terhadap sistem imunitas. Penelitian ini untuk mengetahui hubungan status gizi, konsumsi vitamin A dengan kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Betungan. Kota Bengkulu, pada tahun Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan Cross Sectional yaitu penelitian pada beberapa populasi yang diamati pada waktu yang sama, untuk mengetahui status gizi balita yang terkena penyakit ISPA. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar . 6%) balita yang memiliki status gizi normal. Konsumsi Vitamin A sebagian besar . 9%) kurang bila dibandingkan dengan Angka Kecukupan Gizi. Sebagian besar . %) balita terkena ISPA. Hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,093 antara status gizi dengan kejadian ISPA. Dapat disimpulkan tidak adanya hubungan antara status gizi dengan kejadian ISPA. Sedangkan hasil uji statistik antara konsumsi vitamin A dengan kejadian ISPA diperoleh nilai p = 0,000, maka dapat disimpulkan adanya hubungan antara konsumsi vitamin A dengan Kejadian ISPA pada balita. Kata Kunci: Status Gizi. Konsumsi Vitamin A. Kejadian ISPA Mayang. Leoni | 40 SHR : Svasta Harena Raflesia Vol. Nomor 1. Juni 2024 E-ISSN: 2962-2603 PENDAHULUAN ISPA merupakan Infeksi Saluran Pernafasan Akut yang Berlangsung 14 hari. Saluran Nafas yang dimaksud adalah Organ mulai dari Hidung sampai Alveoli paru beserta Organ adneksanya, sinus, ruang telinga, dan pleura. WHO menuturkan. ISPA merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas penyakit menular di dunia. Angka mortalitas ISPA mencapai 4,25 juta setiap tahun di dunia dengan empat dari 15 juta perkiraan kematian pada anak berusia di bawah 5 tahun pada setiap tahunnya dan sebanyak dua pertiga dari kematian tersebut terjadi pada bayi (Sunarni, dkk, 2. Menurut Depkes RI . faktor - faktor yang mempengaruhi ISPA pada balita adalah status gizi dan kekurangan Vitamin A. Di Negara berkembang, sekitar 24% infeksi saluran nafas kebanyakan disebabkan oleh faktor-faktor yang berhubungan dengan lingkungan seperti polusi udara dalam ruang maupun di luar ruangan. Penyakit infeksi dengan keadaan gizi kurang memiliki hubungan timbal balik dan sebab akibat. Penyakit infeksi dapat memperburuk status gizi dan seseorang dengan status gizi yang buruk menjadilebih rentan terhadap infeksi. (Febriyanto, dkk, 2. Selain dari status gizi, vitamin A juga tidak kalah pentingnya terhadap sistem imunitas. Kekurangan vitamin A merupakan masalah kesehatan yang nyata pada balita. Selain untuk mencegah kebutaan, vitamin A berpengaruh pada fungsi kekebalan tubuh. Anak-anak yang menderita xerophtalmia mengalami risiko yang lebih tinggi terhadap penyakit infeksi saluran pernafasan dari pada yang tidak menderita xerophtalmia. (Yunita etal. , 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan observasional dengan rancangan cross sectional karena semua variabel . ariabel independen dan variabel depende. diukur pada waktu yang sama. Dalam penelitian variabel diukur bersamaan yaitu variabel status gizi dan konsumsi vitamin A dengan variabel tingkat kejadian ISPA pada balita di wilayah Puskesmas Betungan Kota Bengkulu. Analisis univariat digunakan untuk melihat distribusi frekuensi dari variabel independen . tatus gizi dan konsumsi vitamin A) dan variabel dependen . ejadian ISPA). Analisis bivariat digunakan untuk melihat hubungan antara Mayang. Leoni | 41 SHR : Svasta Harena Raflesia Vol. Nomor 1. Juni 2024 E-ISSN: 2962-2603 variabel bebas independen . tatus gizi dan konsumsi vitamin A) dan variabel dependen . ejadian ISPA) menggunakan uji chi square. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Gambaran status gizi pada balita di wilayah Puskesmas Betungan Kota Bengkulu No Status Gizi BB tidak normal BB normal Total Berdasarkan tabel 1 dapat disimpulkan bahwa hampir seluruh balita memiliki status gizi berat badan normal . ,6 %). Tabel 2. Gambaran konsumsi Vitamin A pada balita yang terinfeksi penyakit ISPA di wilayah Puskesmas Betungan. Kota Bengkulu No Konsumsi Vitamin A Konsumsi Vitamin A Kurang Konsumsi Vitamin A Cukup Total Berdasarkan tabel 2 dapat disimpulkan bahwa dari sebagian besar balita . ,9 %) kurang mengkonsumsi vitamin A. Tabel 3. Gambaran penyakit ISPA pada balita di wilayah Puskesmas Betungan Kota Bengkulu No Penyakit ISPA Tidak ISPA ISPA Total Berdasarkan tabel 3 dapat disimpulkan bahwa sebagian besar balita 69 % terinfeksi penyakit ISPA. Tabel 4. Hubungan Status Gizi dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah Puksesmas Betungan Kota Bengkulu ISPA Total Status Gizi Bukan ISPA ISPA BB tidak normal BB normal Total Mayang. Leoni | 42 SHR : Svasta Harena Raflesia Vol. Nomor 1. Juni 2024 E-ISSN: 2962-2603 Hasil analisa hubungan antara status gizi dengan kejadian ISPA pada balita diperoleh bahwa ada sebanyak 40 . %) balita dengan barat badan normal. Sedangkan untuk berat badan tidak normal, tidak ada balita yang terinfeksi ISPA. Dari hasil uji status gizi dan kejadian ISPA dengan hasil (P Value = 0,093 > 0,. menunjukkan tidak ada hubungan antara status gizi dengan kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Betungan Kota Bengkulu tahun 2022. Tabel 5. Hubungan vitamin A dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah Puskesmas Betungan Kota Bengkulu ISPA Total Konsumsi Bukan ISPA ISPA Vitamin A Kurang Cukup Total Hasil analisa hubungan antara Konsumsi Vitamin A dengan kejadian ISPA pada balita diperoleh bahwa ada sebanyak 40 . %) balita dengan konsumsi vitamin A yang Sedangkan untuk konsumsi vitamin A yang cukup, tidak ada balita yang terinfeksi ISPA. Dari hasil uji vitamin A dengan kejadian ISPA dengan hasil (P Value = 0,000 < 0,. menunjukkan bahwaadanya hubungan antara konsumsi vitamin a dengan kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Betungan Kota Bengkulu tahun 2022. Hubungan Status Gizi dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah Puksesmas Betungan Kota Bengkulu Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa Hubungan Status Gizi dengan Kejadian ISPA pada Balita di wilayah Puskesmas Betungan Kota Bengkulu Tahun 2022 tidak terdapat hubungan yang bermakna antara Status Gizi dengan Kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Betungan Kota Bengkulu Tahun 2022. Menurut hasil penelitian yang sudah dilakukan, ditemukan balita yang berstatus gizi baik juga terkena ISPA yaitu sebanyak 44 balita. Hal ini disebabkan oleh faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya ISPA pada balita seperti pemberian ASI yang tidak sampai 2 tahun diberikan, pemberian vitamin A yang tidak teratur, polusi udara . ebiasaan merokok anggota keluarga di lingkungan balita tingga. , sosial ekonomi yang rendah, imunisasi yang tidak Mayang. Leoni | 43 SHR : Svasta Harena Raflesia Vol. Nomor 1. Juni 2024 E-ISSN: 2962-2603 lengkap, kepadatan tempat tinggal, ventilasi uda ra lingkungan rumah yang kurang (Yusridawati & Nurzanna Tanjung, 2. Status gizi yang baik dipengaruhi oleh jumlah asupan zat gizi yang dikonsumsi. Secara tidak langsung asupan gizi dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah karakteristik keluarga dan penghasilan orang tua, di mana dalam penelitian ini didapat mayoritas pekerjaan orang tua adalah buruh lepas yang tidak mempunyai penghasilan tetap sehingga mempengaruhi kondisi ekonomi menengah ke bawah, hal ini juga berdampak kepada status gizi balita yang mayoritas berada pada kategori status gizi Ibu sebagai orang yang mengasuh anak ikut berperan dalam proses tumbuh kembang anak melalui zat gizi makanan yang diberikan. (Hastuty et al. , 2. Kematian akibat ISPA, sebagian besar berasal dari jenis yang berkembang dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi seperti difteri, pertusis dan campak sehingga balita yang mempunyai status imunisasi yang lengkap bila menderita ISPA diharapkan perkembangan tidak akan menjadi lebih berat, serta kebiasaan merokok anggota keluarga di lingkungan balita tinggal juga berbahaya bagi balita . ahan-bahan yang terdapat dalam rokok seperti nikotin itu juga dapat memicu terjadinya ISPA). (Asih. Faktor Ae faktor risiko ISPA meliputi faktor genetik dalam keadaan umum seperti kesehatan, sosial, dan kondisi lingkungan, sehingga faktor ini tergantung pada orang tua yang menurunkan ketahanan tubuhnya pada anak. Selain itu dipengaruhi juga oleh pengetahuan orang tua di mana faktor pendidikan orang tua yang didapatkan dalam penelitian ini adalah mayoritas berpendidikan rendah, pendidikan yang rendah juga akan mempengaruhi pola asuh orang tua dalam mengolah makanan dan pemenuhan gizi balita, gizi yang baik akan berpengaruh terhadap daya tahan tubuh balita terhadap berbagai macam penyakit diantaranya adalah Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). (Widia. Hasil analisis data hubungan status gizi . erat badan menurut umu. terhadap kejadian ISPA pada penelitian sebelumnya, diketahui bahwa balita dengan status gizi kurang mengalami sakit ISPA sebanyak 13 . ,6%) dan yang tidak terkena ISPA sebanyak 3 . ,3%) orang responden, sedangkan pada balita dengan status gizi baik yang Mayang. Leoni | 44 SHR : Svasta Harena Raflesia Vol. Nomor 1. Juni 2024 E-ISSN: 2962-2603 terkena ISPA sebanyak 9 . ,9 %) dan yang tidak terkena ISPA sebanyak 45 . ,3%) orang balita. Dengan perhitungan menggunakan uji chi-square di peroleh P value 0,000 (P <0,. ISPA merupakan infeksi saluran pernafasan akut yang berlangsung sampai 14 (Lorensa et al. , 2. Penyakit ISPA pada balita dapat menimbulkan bermacam-macam tanda dan gejala seperti batuk, kesulitan bernafas, sakit tenggorokan, pilek, sakit telinga, dan demam. Balita dengan ISPA akan menyebakan penurunan nafsu makan sehingga asupan zat gizi ke dalam tubuh menjadi berkurang . Berdasarkan analisis dan interpretasi data hasil uji statistik Chi Square antara variabel status gizi balita dengan variabel kejadian ISPA diperoleh nilai p =0,000 . < P=0,05 artinya ada hubungan antara status gizi dan angka kejadian ISPA. (Lorensa et al. , 2. Hubungan vitamin A dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah Puskesmas Betungan. Kota Bengkulu Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa Hubungan konsumsi vitamin A dengan Kejadian ISPA pada Balita di wilayah Puskesmas Betungan Kota Bengkulu Tahun 2022 terdapat hubungan yang bermakna antara Konsumsi vitamin A dengan Kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Betungan Kota Bengkulu Tahun 2022. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara status gizi dan kejadian ISPA pada balita. Hal ini sesuai dengan teori yang ada yaitu vitamin A memiliki hubungan dengan sistem kekebalan tubuh. Hasil penelitian ini juga didukung oleh penelitian Sommer 1990 yang menyimpulkan bahwa anak - anak yang kekurangan vitamin A mengalami risiko lebih tinggi terken penyakit infeksi saluran pernafasan daripada yang tidak kekurangan vitamin A. (Rosanti. Konsumsi vitamin A yang kurang akan mengakibatkan rendahnya kadar serum retinol di dalam tubuh balita dan hal ini akan menurunkan daya tahan tubuh balita terhadap penyakit infeksi sehingga balita akan lebih mudah terkena penyakit infeksi. Rendahnya kadar serum retinol antara lain disebabkan oleh rendahnya asupan sumber energi, protein, dan vitamin A. Astuti. Kadar serum retinol yang rendah dan mengakibatkan daya tahan tubuh menurun dan memudahkan terkena penyakit ISPA, dalam hal ini ISPA non pneumonia. Dari penelitian tersebut menyatakan bahwa Mayang. Leoni | 45 SHR : Svasta Harena Raflesia Vol. Nomor 1. Juni 2024 E-ISSN: 2962-2603 terdapat hubungan yang bermakna antara pemberian vitamin A dengan kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut bagian Atas pada balita dimana balita yang tidak mendapatkan vitamin A mempunyai resiko lebih besar dibandingkan yang mendapatkan vitamin A. (Irma et al. , 2. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa anak balita yang lengkap pemberian kapsul vitamin A dapat mengurangi terjadinya penyakit pneumonia di Puskesmas Puuwatu Kota Kendari. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa variabel-variabel yang berpengaruh signifikan terhadap data risiko penyakit pneumonia pada balita di Provinsi Jawa Timur tahun 2012 adalah persentase berat bayi lahir rendah, dan persentase balita yang mendapatkan vitamin A. (Fatimah, dkk, 2. Vitamin A menjadi faktor penentu dalam proses diferensiasi sel, terutama sel goblet yang dapat mengeluarkan mukus. Mukus melindungi sel-sel epitel dari serbuan mikroorganisme dan partikel lain yang berbahaya. Kekurangan vitamin A menghalangi fungsi sel-sel kelenjar yang mengeluarkan mukus dan digantikan oleh sel epitel bersisik dan kering. (Nur Khoiriyah, dkk. KESIMPULAN Status gizi dengan kejadian ISPA pada balita sebanyak 40 . %) balita dengan barat badan normal. Tidak ada hubungan antara status gizi dengan kejadian ISPA pada Konsumsi Vitamin A diperoleh sebanyak 40 . %) balita dengan konsumsi vitamin A yang kurang. Sedangkan untuk hubungan antara konsumsi vitamin A dengan Kejadian ISPA menunjukkan bahwa adanya hubungan antara konsumsi vitamin A dengan kejadian ISPA pada balita. UCAPAN TERIMA KASIH Allah SWT karena atas berkah dan rahmatnya penelitian ini dapat diselesaikan dan kepada semua orang yang telah membantu yang tidak bisa disebutkan satu persatu. DAFTAR PUSTAKA