Jurnal Kesehatan Perintis 12 . 2025: 71-79 Contents list available at JKP website Jurnal Kesehatan Perintis Journal homepage: https://jurnal. id/index. php/JKP Self-Efficacy Perawat dan Pelaksanaan Triage: Faktor Penentunya di Instalasi Gawat Darurat Aldo Yuliano Mas Putra1*. Yenita Gusti2. Lisa Mustika Sari1 . Fakultas Ilmu Kesehatan. Univeristas Perintis Indonesia. Sumatera Barat. Indonesia . RSUD Prof. Dr. Ali Hanafiah SM. Sumatera Barat. Indonesia Article Information : Received 30 May 2025 . Accepted 29 June 2025. Published 30 June 2025 *Corresponding author: aldoyuliano@ymail. ABSTRAK Pelayanan gawat darurat memiliki lingkup penanganan pasien dalam kondisi penyakit atau cedera serius dan tidak terduga, sehingga harus mengacu pada konsep triage dimana pasien akan dilayani berdasarkan tingkat kegawat daruratannya. Oleh sebab itu self-efficacy perawat sangat menentukan kepercayaan diri perawat terhadap kemampuan yang dimiliki sehingga keyakinan ini yang akan menentukan kualitas kinerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi self efficacy perawat dalam melaksanakan Desain penelitian deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional. Penelitian telah dilaksanakan di IGD RSUD Prof. Ali Hanafiah SM, pada bulan Januari 2023. Populasi adalah seluruh perawat di IGD RSUD Prof. Ali Hanafiah SM yang berjumlah 33 orang. Data di kumpulkan dengan menggunakan kuesioner self efficacy dan diolah serta dianalisa menggunakan uji chi-square. Analisa univariat didapatkan 84,8 % responden memiliki pendidikan Diploma i Keperawatan, . ,8 %) Responden memiliki masa kerja > 5 tahun, . ,4 %) mampu melaksanakan triage di IGD dan 51. 5 % memiliki efficacy rendah. Hasil bivariat didapatkan ada hubungan kemampuan dengan self efficacy perawat . = 0,046 dan OR = 6,. , dan tidak ada hubungan pendidikan . = 1,. dan masa kerja . = 0,. dengan self efficacy perawat. Disimpulkan bahwa faktor yang berhubungan dengan self efficacy perawat adalah kemampuan. Disarankan pada pihak rumah sakit agar dapat memfasilitasi perawat untuk mengikuti pelatihan sehubungan dengan pelayanan di IGD dan juga meningkatkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, untuk lebih meningkatkan kemampuan dan self efficacy mereka dalam melakukan triage. Kata kunci : kemampuan, masa kerja, pendidikan, self efficacy, triage A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 12 . 2025: 71-79 ABSTRACT Emergency services cover the management of patients with serious and unexpected illnesses or injuries, which must be guided by the concept of triage, where patients are treated according to the level of urgency. Therefore, nursesAo self-efficacy plays a crucial role in determining their confidence in their abilities, which in turn influences the quality of performance. This study aimed to identify the factors that influence nursesAo self-efficacy in performing triage. The research design was descriptive analytic with a cross-sectional approach. The study was conducted in the Emergency Department of RSUD Prof. Ali Hanafiah SM in January The population consisted of all nurses in the Emergency Department, totaling 33 Data were collected using a self-efficacy questionnaire and analyzed with chisquare tests. Univariate analysis showed that 84. 8% of respondents held a Diploma i in Nursing, 81. 8% had more than five years of work experience, 60. 4% were able to perform triage in the Emergency Department, and 51. 5% had low self-efficacy. Bivariate analysis revealed a significant relationship between triage performance ability and nursesAo self-efficacy . = 0. OR = 6. , while no significant relationship was found between education . = . or length of service . = 0. and self-efficacy. It can be concluded that the factor associated with nursesAo self-efficacy is their triage performance ability. It is recommended that the hospital facilitate nurses to participate in training related to emergency services and to pursue higher education levels, in order to further enhance their ability and self-efficacy in performing triage. Keyword : Ability, length of service, education, self-efficacy, triage PENDAHULUAN Pelayanan gawat darurat memiliki lingkup penanganan pasien dalam kondisi penyakit atau cedera serius dan tidak Sistem pelayanan gawat darurat yang efektif merupakan indikator penting mutu layanan kesehatan di rumah sakit. Pelayanan keperawatan gawat darurat tidak dapat dilepaskan dari prinsip asuhan komprehensif perawat dan pentingnya peran perawat dalam kondisi gawat darurat. Perawat harus memiliki kemampuan, keterampilan, teknik serta ilmu pengetahuan yang tinggi dalam memberikan pertolongan (Kemenkes, 2. Di Indonesia, data menunjukkan bahwa jumlah kunjungan pasien ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) mencapai 11. ,1%) dari total kunjungan rumah sakit. Dari jumlah tersebut, 12% berasal dari rujukan dengan cakupan 1. 033 rumah sakit umum dari total 1. 319 rumah sakit (Kemenkes, 2. Jumlah yang signifikan ini kemudian memerlukan perhatian yang cukup besar dengan pelayanan pasien gawat darurat . Tren ini juga terlihat pada RSUD Prof. Ali Hanafiah SM Batusangkar, di mana terjadi peningkatan jumlah kunjungan dari tahun ke tahun17. kunjungan pada tahun 2021, 18. 731 pada tahun 2022 dan sebanyak 21. 488 kunjungan pda tahun 2023 (Rekam medik RSUD Prof. DR. A Hanafiah SM Batusangkar, 2. Pelayanan IGD mengacu pada konsep triage dimana pasien akan dilayani berdasarkan tingkat kegawat daruratannya. Secepat apapun pasien datang ke IGD, namun masih ada kondisi pasien lain yang IGD memprioritaskan pasien yang kondisinya lebih gawat daripada pasien yang datang dahulu tersebut. Hal ini terkadang akan membuat pasien lain merasa adanya ketidak adilan pada pelayanan IGD tersebut (Carolina et al. , 2. Sesuai dengan penelitian (Gustia & Manurung, 2. , bahwa hanya 82,4 % responden yang A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 12 . 2025: 71-79 berhasil dalam pelaksanaan triage. Hal ini penanganan pasien yang dalam keadaan gawat darurat (Gustia & Manurung, 2. Menurut Permenkes No. 4 Tahun 2018 pasal 7 . , triage merupakan pemeriksaan awal cepat terhadap pasien di IGD kegawatdaruratan dan menentukan prioritas pertolongan pertama. Namun, penelitian di RSUD Prof. Ali Hanafiah SM Batusangkar melaporkan bahwa masih terdapat 6,7% ketidaktepatan dalam pelaksanaan triage (Amri. Manjas, & Hardisman, 2. Hal ini menunjukkan bahwa perawat IGD masih menghadapi tantangan dalam konsistensi penerapan triage sesuai standar. Efikasi diri merupakan kemampuan seseorang melakukan penilaian diri sendiri terhadap kompetensi yang dimilikinya untuk berhasil dalam menyelesaikan tugas-tugas tertentu, dimana semua potensi kognitif, sosial, emosional, dan perilaku harus dikelola untuk mencapai tujuan tertentu (Erlina, 2. Tingkatan self-efficacy dapat menentukan seberapa besar kepercayaan perawat terhadap kemampuan yang dimiliki sehingga keyakinan ini yang akan menentukan kualitas kinerja. Perawat yang memiliki tingkat self-efficacy tinggi akan meningkatkan sikap peduli dan perhatian saat memberikan asuhan keperawatan kepada pasien sehingga tingkat kepuasan pasien akan meningkat (Putri & Febriani. Beberapa penelitian mengaitkan selfefficacy dengan faktor demografi dan pengalaman kerja. Robbins dan Judge seseorang bekerja, maka keterampilan dan Perawat yang mempunyai pengalaman kerja lebih lama dalam pemberian pelayanan keperawatan lebih pengalaman kerja yang lebih lama akan semakin baik kualitas/kinerjanya dalam asuhan keperawatan. Hal ini didukung oleh penelitian (Nugroho & Kosasih, 2. , bahwa terdapat hubungan lama kerja dengan self efikasi perawat penelitian (Nugroho & Kosasih, 2021 . Meylani Drama et al. , 2. Studi pendahuluan di IGD RSUD Prof. Ali Hanafiah SM Batusangkar menunjukkan terdapat 33 perawat dengan pendidikan D3AeS1, sebagian besar telah mengikuti pelatihan BTCLS dan PPGD, serta rata-rata masa kerja 7Ae10 tahun meski masih ada yang kurang dari 5 tahun. Observasi menemukan penumpukan pasien triage meskipun pelayanan mengikuti SOP, karena petugas harus memilah pasien berdasarkan tingkat kegawatan . erah, kuning, hija. Dari 10 perawat yang diwawancarai, empat menyatakan sering merasa tidak yakin dalam menyelesaikan tugas, terutama saat menghadapi pasien yang ingin dilayani cepat tanpa mengikuti alur triage. Kondisi ini menimbulkan ketidakpuasan pasien, beban kerja, dan rendahnya keyakinan diri perawat, terutama pada mereka dengan pendidikan lebih rendah dan masa kerja baru Penelitian Amar menitikberatkan pada faktor psikologis seperti verbal persuasion dan evaluasi fisiologis yang terhadap self-efficacy perawat dalam triage, sedangkan pengalaman pribadi tidak Sementara itu, penelitian Yang et pembelajaran berbasis simulasi yang emergensi sekaligus self-efficacy perawat. Berbeda dengan kedua penelitian tersebut, penelitian ini menganalisis faktor demografis . endidikan dan lama kerj. serta kemampuan pelaksanaan triage sebagai prediktor self-efficacy perawat di IGD. Selain itu, belum ada penelitian spesifik di Sumatera Barat, terutama di RSUD Prof. Ali Hanafiah SM Batusangkar, yang Tujuan A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 12 . 2025: 71-79 penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi self efficacy perawat dalam melaksanakan triage di IGD RSUD Prof. Ali Hanafiah SM sehingga dapat menjadi acuan untuk meningkatkan Self Efficacy Perawat. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik. Pendekatan yang dipakai adalah cross sectional . Penelitian ini dilakukan kepada 33 orang Perawat IGD RSUD RSUD Prof. Ali Hanafiah SM. Pengambilan data dilakukan secara Total Sampling. Kuesioner tentang kemampuan perawat dalam pelaksanaan triase, berdasarkan pada SOP triage yang terdapat di rumah Kuesioner menggunakan skala Guttman, dengan alternatif jawaban dilakukan dan tidak dilakukan. Kuesioner self efficacy responden menggunakan kuesioner General Self Efficacy (GSE) yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kuesioner terdiri pilihan jawaban menggunakan 4 poin skala Likert dengan rentang nilai 1-4. Pada pernyataan responden diberikan skor sebagai berikut: Sangat tidak setuju . , tidak setuju . , setuju . , sangat setuju . Interpretasi ditentukan dengan nilai rata-rata yaitu bila skor lebih rendah dari rata-rata maka dinyatakan efikasi diri rendah, sedangkan bila skor lebih tinggi atau sama dengan ratarata dinyatakan efikasi diri tinggi (Duggleby et al. , 2. Kuesioner GSE telah ditemukan reliabel dengan Cronbach Alpha 0,843 pada populasi Indonesia (Widowati & Raushanfikri. Analisis menggunakan uji Chi-Square untuk melihat hubungan antara Tingkat Pendidikan. Lama Kerja dan Kemampuan dengan Self Efficacy Perawat dalam melakukan Triage. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian pada 33 orang responden pada tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pendidikan Diploma i Keperawatan yakni sebesar . ,8%). Lama kerja sebagaian besar > 5 Tahun . ,8%), responden yang memapu melakukan traige sebesar . ,6%) dan memiliki Self Effikasi rendah sebesar . ,5 %). Tabel 1. Pendidikan. Lama Kerja. Kemampuan melaksanakan Triage dan Self Efficacy Perawat . Variabel Pendidikan Diploma Ners Lama Kerja Baru Lama Kemampuan melaksanakan triage Mampu Tidak Mampu Self Efficacy Tinggi Rendah Dari tabel 2 dapat diketahui bahwa diantara 13 responden yang kurang mampu dalam melaksanakan triage, terdapat 10 responden . ,9 %) memiliki self efficacy Dan diantara 20 responden yang mampu dalam melaksanakan triage, hanya terdapat 7 responden . ,0 %) yang memiliki self efficacy rendah. Hasil uji statistic chi-square diperoleh nilai p = 0,046 . < 0,. artinya ada hubungan kemampuan dengan self efficacy perawat dalam melaksanakan triage di IGD RSUD Prof. Ali Hanafiah SM Batusangkar. Analisis lanjut diperoleh nilai Odds Ratio (OR) 6,190, dapat diartikan bahwa responden yang kurang mampu dalam melaksanakan triage berpeluang 6 kali untuk memiliki self efficacy rendah dibandingkan responden yang mampu Sedangkan Pendidikan dan Lama Kerja tidak ada hubungan dengan Self Efficacy Perawat dalam melaksanakan Triase di IGD RSUD Prof. Ali Hanafiah SM Batusangkar. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Nugroho & Kosasi . bahwa A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 12 . 2025: 71-79 Tabel 2. Hubungan Pendidikan. Lama Kerja. Kemampuan melaksanakan triage dan Self Efficacy Perawat dalam melaksanakan triage . Self Efficacy Variabel Independen Pendidikan Diploma Sarjana Lama Kerja Baru Lama Kemampuan melaksanakan triage Tidak Mampu Mampu Rendah Tinggi Total P Value 1,000 0,398 0,046 tidak ada hubungan pendidikan dengan self efficacy perawat . = 0,. dan Nugroho juga melaporkan bahwa pengalaman praktis serta beban kerja dapat memengaruhi tingkat kepercayaan diri individu perawat, beberapa literatur dan teori kontemporer justru mendukung pandangan bahwa pengalaman dan pelatihan langsung . astery experienc. cenderung lebih self-efficacy Bandura dalam teori self-efficacy menekankan bahwa pengalaman langsung melalui praktik atau intervensi merupakan sumber utama membangun kepercayaan diri seseorang. Ini mencakup pengalaman menguasai tugas, observasi terhadap perilaku orang lain . icarious experienc. , dukungan positif . erbal persuasio. , dan kondisi emosi yang terkelola baik . Sebuah studi intervensi di Taiwan . experiential learningAisimulasi kasus gawat langsungAiterjadi peningkatan signifikan pada self-efficacy perawat (General SelfEfficacy Scal. setelah pelatihan: dari posttest (TCA) ke follow-up (TCC), p = 0,009 (Chien, -C. , et al, 2. Di konteks beban kerja, penelitian di lingkungan perawat pediatrik menemukan bahwa beban kerja tinggi berkorelasi negatif dengan self-efficacy . = Ae0,877, p < 0,. , sementara kompetensi inti perawat memiliki korelasi positif yang kuat dengan self-efficacy . = 0,825, p < 0,. El-(Sayed. , et al, 2. Ini mendukung penjelasan bahwa perawat sarjana yang masih baru . engalaman A4 tahu. mungkin merasakan tekanan dari beban kerja yang tinggi, sehingga selfefficacy mereka rendahAiwalaupun secara pendidikan mereka lebih tinggi. Sebuah studi cross-sectional di IGD tentang manajemen nyeri juga menemukan bahwa pengalaman kerja lebih dari 5 tahun signifikan meningkatkan self-efficacy . = 0,. dibanding yang berpengalaman 2Ae5 Selain itu, ikut workshop terkait nyeri juga meningkatkan self-efficacy dengan sangat signifikan . < 0,. (Salmani. , & Shoghi. A, . Berdasarkan hasil penelitian, tidak adanya hubungan pendidikan dengan self responden dengan pendidikan diploma tetapi self efficacy nya tinggi. Sebaliknya pendidikan sarjana yang memiliki self efficacy rendah. Hal ini dapat terjadi karena pendidikan yang rendah tidak membuat mereka ragu dalam bertindak karena sudah A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 12 . 2025: 71-79 terbiasa dan memiliki pengalaman dalam pelaksanaan triage. Sementara responden yang memiliki pendidikan tinggi namun self efficacynya rendah karena diantara mereka ada yang baru memiliki pengalaman 4 tahun, serta beban kerja yang banyak berpengaruh terhadap self efficacy. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian (Kasenda et al. , 2. tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan triage oleh perawat. Berdasarkan penelitian tersebut didapatkan tidak adanya hubungan lama kerja dengan pelaksanaan triage . = 1,. Kondisi yang sama terlihat pada hasil penelitian ini, di mana masa kerja tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat self-efficacy perawat. Beberapa responden dengan masa kerja lama justru memiliki self-efficacy rendah, sedangkan responden dengan masa kerja baru menunjukkan self-efficacy yang tinggi. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori Novice to Expert dari Benner yang kompetensi perawat tidak hanya ditentukan oleh lamanya bekerja, tetapi juga oleh kualitas pengalaman klinis yang dihadapi (Benner, 1. Dengan kata lain, durasi kerja saja tidak menjamin terbentuknya rasa percaya diri dalam melaksanakan triage apabila pengalaman klinis yang bermakna Penelitian mendukung hal ini, di mana experiential learning melalui simulasi darurat terbukti meningkatkan kompetensi emergensi dan self-efficacy perawat secara signifikan, meskipun peserta memiliki pengalaman kerja yang bervariasi (Yang et al. , 2. Demikian pula, intervensi berbasis mastery learning terbukti mampu meningkatkan selfefficacy perawat baru hingga berbulan-bulan setelah pelatihan (Kim & Lee, 2. Faktor lain yang berpengaruh adalah lingkungan kerja yang mendukung refleksi dan interaksi interpersonal. Studi di Australia menegaskan bahwa self-efficacy perawat berkembang melalui kombinasi pengalaman langsung, refleksi, serta dukungan tim kerja (Chernomas et al. , 2. Selain itu, pelatihan kecerdasan emosional juga self-efficacy, meningkatkan resiliensi, serta membantu perawat dalam mengelola stres kerja (Resmiati & Wijayanti, 2. Berdasarkan hasil penelitian, tidak adanya hubungan masa kerja dengan self efficacy karena banyaknya responden dengan masa kerja lama tetapi self efficacynya rendah. Sebaliknya responden dengan masa kerja baru, banyak yang memiliki self efficacy Hal ini dapat terjadi karena berdasarkan pengalaman responden dalam menghadapi pasien IGD bahwa responden tidak dapat mengatasi masalah jika ada orang yang tidak sependapat dengannya, ataupun responden yang sulit untuk mengemukakan pendapat dan bekerja sesuai dengan apa yang diinginkannya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa masa kerja tidak dapat dijadikan satusatunya tolok ukur tingkat self-efficacy bermakna, pelatihan berkelanjutan, serta memainkan peran yang lebih besar. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian (Kasenda et al. , 2. tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan triage oleh perawat. Berdasarkan penelitian tersebut didapatkan ada hubungan self efficacy dengan pelaksanaan triage . = 0,. Responden yang kurang mampu melaksanakan triage cenderung memiliki self-efficacy rendah, sedangkan responden yang memiliki memperlihatkan self-efficacy yang lebih Hal ini sejalan dengan teori selfefficacy Bandura yang menekankan bahwa pengalaman menguasai suatu keterampilan . astery experienc. merupakan faktor utama yang meningkatkan keyakinan diri individu dalam melaksanakan tugas (Bandura, 1. Dengan kata lain. A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 12 . 2025: 71-79 keterampilan teknis yang baik pada perawat dalam melakukan triage dapat memperkuat rasa percaya diri dan mengurangi keraguan dalam mengambil keputusan klinis. Temuan ini didukung oleh penelitian terbaru yang menunjukkan bahwa pelatihan triage berbasis simulasi dan pembelajaran pengalaman . xperiential learnin. mampu meningkatkan akurasi triage sekaligus meningkatkan self-efficacy perawat (Yang et , 2. Selain itu, penelitian di Korea juga menunjukkan bahwa intervensi hybrid simulation-based mastery learning secara signifikan memperbaiki kemampuan klinis perawat baru dan meningkatkan selfefficacy hingga beberapa bulan setelah pelatihan (Kim & Lee, 2. Faktor lingkungan kerja yang mendukung juga turut berpengaruh, di mana refleksi klinis dan kepercayaan diri perawat dalam mengambil keputusan triage di situasi darurat (Chernomas et al. , 2. Berdasarkan hasil penelitian, adanya hubungan kemampuan pelaksanaan triage dengan self efficacy responden karen responden yang kurang mampu melaksanakan triage cendrung memiliki self efficacy rendah. Sebaliknya responden yang mampu melaksanakan triage cendrung memiliki self efficacy tinggi. Hal ini dapat terjadi karena dengan kurangnya kemampuan yang dimiliki tersebut maka responden menjadi ragu dan tidak percaya diri dalam melakukan Namun dengan kemampuan yang baik, maka responden dapat percaya diri Kemampuan pelaksanaan triage yang baik bukan hanya meningkatkan kualitas pelayanan, tetapi juga memperkuat selfefficacy perawat sehingga lebih siap menghadapi kompleksitas pelayanan di IGD. KESIMPULAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel pendidikan dan lama kerja tidak memiliki hubungan yang signifikan self-efficacy melaksanakan triage di IGD RSUD Prof. Ali Hanafiah SM Batusangkar. Sebaliknya, kemampuan perawat dalam signifikan dengan self-efficacy, di mana perawat yang kurang mampu berpeluang enam kali lebih besar memiliki self-efficacy rendah dibandingkan perawat yang mampu melaksanakan triage dengan baik. Temuan ini mengindikasikan bahwa peningkatan self-efficacy kompetensi praktis, pengalaman bermakna, serta kualitas pelatihan yang diperoleh daripada jenjang pendidikan formal maupun lamanya masa kerja. Oleh karena itu, diperlukan intervensi berupa pelatihan mendukung refleksi dan kerja tim, sehingga perawat dapat meningkatkan kompetensi triage sekaligus memperkuat self-efficacy dalam menghadapi situasi gawat darurat di IGD. REFERENSI