Jurnal Manajemen Dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol. 8 No 2. April 2024 E-ISSN: 2865-6583 P-ISSN: 2868-6298 Pengaruh Komunikasi Interpersonal. Motivasi dan Sikap Terhadap Pelaksanaan Patient Safety di Rawat Inap Rumah Sakit Tingkat IV 02. 04 Bandar Lampung Chinanti EndrianiA. Alih Germas KodyatA. Ahdun TrigonoA Universitas Respati Indonesia chinanti0386@gmail. ABSTRAK Latar belakang: Fasilitas Pelayanan Kesehatan wajib menerapkan standar keselamatan pasien. Standar keselamatan pasien dilaksanakan melalui identifikasi dan pengelolaan risiko, analisis dan pelaporan, serta pemecahan masalah dalam mencegah dan menangani kejadian yang membahayakan keselamatan pasien. Ada beberapa kejadian seperti tempat tidur pasien tidak ada pagar, kran air bocor yang menyebabkan lantai licin, tempat tidur bayi yang baru lahir berdebu, dan obat di troli emergensi kosong. Integrasi yang efektif dari komunikasi interpersonal, motivasi, dan sikap dapat memperkuat implementasi patient safety dalam lingkungan pelayanan kesehatan khususnya di rawat inap. Penelitian ini bertujuan menganalisis seberapa besar pengaruh Komunikasi Interpersonal. Motivasi, dan Sikap terhadap pelaksanaan Patient Safety. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, metode survei dan teknik korelasi, metode analisis data yang digunakan adalah dengan uji regresi linier berganda, populasi pada penelitian ini adalah perawat yang secara langsung terlibat dalam upaya memberikan pelayanan pada pasien dengan jumlah sampel 42 orang. Hasil: Hasil penelitian ini adalah variabel komunikasi interpersonal berpengaruh negative dan tidak signifikan terhadap penerapan Patient Safety di Rawat Inap. Selanjutnya variable motivasi berpengaruh negative dan tidak signifikan terhadap penerapan Patient Safety di Rawat Inap. Untuk variable sikap ada pengaruh positif dan signifikan terhadap penerapan Patient Safety di Rawat Inap. Variabel komunikasi interpersonal, motivasi dan sikap berpengaruh secara simultan terhadap Patient Safety di Rawat Inap. Saran: Disarankan kepada pihak Rumah Sakit terus meningkatkan pelayanan patient safety di ruang rawat inap agar terhindar dari insiden keselamatan pasien serta dilakukannya monitoring dan evaluasi secara berkala. Kata kunci: Komunikasi Interpersonal. Motivasi. Sikap. Patient Safety ABSTRACT Background: Healthcare facilities are required to implement patient safety standards. Patient safety standards are implemented through risk identification and management, analysis and reporting, and problem solving in preventing and handling events that endanger patient safety. There have been several incidents such as no fence on the patient's bed, a leaking water faucet that caused the floor to slippery, a newborn's bed dusty, and medication on an empty emergency trolley. Effective integration of interpersonal communication, motivation, and attitude can strengthen the implementation of patient safety in the health care environment, especially in inpatient settings. This study aims to analyze how much influence Interpersonal Communication. Motivation, and Attitude have on the implementation of Patient Safety. Method: This study used quantitative approaches, survey methods and correlation techniques, the data analysis method used was a multiple linear regression test, the population in this study was nurses who were directly involved in efforts to provide services to patients with a sample of 42 people. Results: The results of this study are interpersonal communication variables have a negative and insignificant effect on the application of Patient Safety in Inpatient Care. Furthermore, the motivation variable has a negative and insignificant effect on the application of Patient Safety in Inpatient Care Keywords: Interpersonal Communication. Motivation. Attitude. Patient Safety Jurnal Manajemen Dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol. 8 No 2. April 2024 PENDAHULUAN Keselamatan pasien merupakan bagian dari keselamatan rumah sakit . ospital safet. , yang didalamnya termasuk keselamatan peralatan medis dan bangunan rumah sakit . quipment and building safet. , keselamatan lingkungan rumah sakit . nvironment safet. , keselamatan bisnis rumah sakit . ospital business safet. dan keselamatan perseorangan dalam rumah sakit . ersonal safet. Keselamatan pasien merupakan prioritas utama dari para pembuat kebijakan dunia kesehatan, termasuk penyedia jasa pelayanan dan jajaran manajernya (DiCucci, 2. Komunikasi merupakan salah satu faktor penentu dalam pelaksanaan patient safety. Komunikasi Interpersonal yang efektif antar anggota tim kesehatan, seperti dokter, perawat, dan tenaga medis lainnya, sangat penting dalam konteks patient Kesalahpahaman komunikasi dapat menyebabkan kesalahan diagnosa, pemberian obat yang salah, atau tindakan medis yang tidak sesuai. Komunikasi Interpersonal juga mencakup interaksi dengan pasien. Keterlibatan pasien dalam pengambilan keputusan dan pemahaman yang baik antara pasien dan tim kesehatan dapat meningkatkan kesadaran terhadap langkah-langkah keselamatan yang harus diambil. Menurut (Riyadi, 2. pada kasus yang terjadi di Rumah Sakit seringnya ada keluhan yang dirasakan oleh pasien dikarenakan ada kekeliruan dalam mendiagnosa penyakit sehingga menimbulkan tuntutan hukum. Hal ini terjadi bermula dari adanya hambatan dalam komunikasi dokter dengan pasien. Menurut penelitian yang dilakukan oleh American Society of Internal Medicine, bahwa komunikasi yang baik terjadi di antara dokter dan pasien bisa menurunkan angka keluhan dan tuntutan hukum terhadap dokter. Hubungan optimal antara fasilitas kesehatan dengan pasien adalah kepercayaan. Hubungan komunikasi efektif kepada pasien. Riset mengindikasikan ketika para ahli medis mendengarkan keluhan pasien, pasien bersedia mematuhi petugas, kepuasan pasien meningkat, dan dokter tidak mudah berurusan dengan urusan hukum E-ISSN: 2865-6583 P-ISSN: 2868-6298 malpraktik (Davis et al. dalam Mulyana 2. Komunikasi Dokter Ae Pasien merupakan tulang punggung perawatan kesehatan dan menunjukkan pengaruh terhadap kepuasan pasien dan kesehatan (Eckler et al. dalam Mulyana 2. Seorang dokter seharusnya diharapkan bisa mendengarkan dengan baik, dan memperhatikan keluhan dari pasien serta tidak menunjukan sikap yang terburu-buru. Dokter dapat menyediakan waktu yang cukup ke pasien untuk menjalin komunikasi yang baik dengan pasien. Jika dokter melakukan pemeriksaan terlihat terburuburu, dan tampak enggan untuk berkomunikasi, disini dapat dipastikan pasien akan segan untuk berkomunikasi langsung ke dokter dan pasien merasakan timbul rasa ketidakpuasan terhadap layanan dari dokter. Motivasi anggota tim kesehatan merupakan salah satu faktor penting dalam pelaksanaan Patient Safety selain dari komunikasi Interpersonal. Semangat untuk memberikan pelayanan terbaik dan tekad untuk mengurangi risiko kesalahan dapat meningkatkan kewaspadaan dan kehati-hatian selama perawatan Motivasi juga dapat mempengaruhi partisipasi dalam pelatihan patient safety. Tim yang termotivasi pengetahuan dan keterampilan terbaru yang diperlukan untuk menjaga keselamatan pasien. Sikap merupakan salah satu faktor penentu pelaksanaan patient safety selain dari Komunikasi Interpersonal dan motivasi. Sikap yang positif terhadap patient safety menciptakan lingkungan kerja yang mendukung implementasi protokol keselamatan. Sikap yang mendorong pembelajaran dari kesalahan dan keterbukaan terhadap umpan balik dapat membentuk budaya keselamatan. Sikap juga dapat mempengaruhi respons terhadap perubahan protokol atau prosedur keselamatan. Sikap yang terbuka terhadap perubahan dan inovasi dapat meningkatkan adaptasi terhadap praktik-praktik terkini yang dapat meningkatkan keselamatan pasien. Rumah Sakit Tingkat IV 02. 04 Bandar Lampung merupakan Rumah Sakit yang berlokasi di Bandar Lampung yang melayani pasien umum dan pasien rujukan dari fasilitas kesehatan seperti puskesmas serta memiliki fasilitas rawat jalan. Jurnal Manajemen Dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol. 8 No 2. April 2024 laboratorium, medical check up. CT Scan dan lainnya. Rumah Sakit Tingkat IV 02. 0704 Lampung juga memiliki Rawat Inap. Rawat inap adalah suatu bentuk pelayanan kesehatan dimana pasien tinggal dan menerima perawatan di fasilitas kesehatan untuk periode waktu yang lebih lama, dibandingkan dengan kunjungan singkat atau pelayanan ambulatif. Fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan rawat inap biasanya adalah rumah sakit atau klinik yang dilengkapi dengan fasilitas dan personel medis yang Selama rawat inap, pasien dapat menerima berbagai jenis perawatan, seperti pemeriksaan medis, perawatan keperawatan, pengobatan, intervensi bedah, terapi fisik, dan pemantauan kondisi Rawat inap umumnya diperlukan untuk kasus-kasus penyakit atau kondisi medis yang terus-menerus, pemantauan kondisi yang ketat, atau intervensi medis yang lebih intensif. Layanan rawat inap mencakup berbagai jenis pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien selama mereka tinggal di fasilitas kesehatan, seperti rumah sakit untuk periode waktu yang lebih lama Layanan yang biasanya tersedia di rawat inap antara lain: pemeriksaan medis dan diagnostik, perawatan keperawatan, pengobatan, intervensi bedah, terapi fisik dan rehabilitas, pemantauan dan perawatan intensif, edukasi pasien dan dukungan psikososial dan lain-lain. Langkah pertama dalam memberikan layanan rawat inap yang berkualitas tinggi adalah dengan memastikan keselamatan pasien. Keselamatan pasien sendiri digambarkan dengan pengurangan bahaya cedera terkait perawatan kesehatan hingga batas minimum yang dapat diterima. Strategi keselamatan pasien rawat inap yang dilakukan adalah untuk menurunkan kejadian yang tidak diinginkan dalam setiap tindakan pelayanan rawat inap yang dilakukan oleh seluruh profesi Kesehatan. Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti bahwa saat ini pelaksanaan patient safety sudah diterapkan dengan cukup baik, namun ada beberapa kejadian seperti tempat tidur pasien tidak ada pagar, kran air bocor, menyebabkan lantai licin, tempat tidur bayi yang baru lahir berdebu, obat di troli emergensi kosong dan pasien merasa bengkak dan nyeri pada E-ISSN: 2865-6583 P-ISSN: 2868-6298 tangan yang dipasang di infus. Selanjutnya berdasarkan hasil wawancara saat ini pelaksanaan patient safety belum pernah dilakukan analisis terkit dengan pelaksanaan patient safety. Pelaksanaan patient safety bisa dilaksanakan dengan baik jika dipengaruhi oleh komunikasi Interpersonal yang baik, motivasi dan sikap yang baik. Komunikasi Interpersonal yang baik dapat meningkatkan motivasi tim dan membentuk sikap yang positif terhadap patient safety. Demikian pula, sikap yang positif dapat memotivasi anggota tim untuk berkomunikasi secara efektif dan menerapkan praktik keselamatan pasien dengan konsisten. Keseluruhan, integrasi yang efektif dari komunikasi Interpersonal, motivasi, dan sikap dapat memperkuat implementasi patient safety dalam lingkungan pelayanan kesehatan khususnya di rawat inap antar perawat. Berdasarkan rumusan masalah yang sudah dikemukakan, maka peneliti bermaksud untuk menganalisis tentang Pengaruh Komunikasi Interpersonal. Motivasi, dan Sikap Terhadap Pelaksanaan patient safety di Rawat Inap Rumah Sakit Tingkat IV 02. 04 Bandar Lampung. METODE PENELITIAN Penelitian Penelitian merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengangkat fakta, keadaan, variabel, dan fenomena yang terjadi selama penelitian berlangsung dan menyajikan apa adanya. Penelitian ini menggunakan desain studi korelasi yaitu hubungan antara dua variabel atau lebih. Penelitian ini menganalisis hubungan antara variabel bebas dengan variabel Desain pendekatan belah lintang . ross sectiona. , dimana variabel sebab dan variabel akibat . ariabel dependent dan independen. di ukur dalam waktu yang bersamaan dan sesaat atau data diperoleh saat ini juga. Untuk variabel implementasi patient safety Variabel implementasi patient safety didapat oleh peneliti dari hasil kuesioner yang dibagikan kepada para tenaga medis rawat inap Rumah Sakit Tingkat IV 02. 04 Bandar Lampung. Serta Data sekunder dalam penelitian ini didapat Jurnal Manajemen Dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol. 8 No 2. April 2024 Motivasi Valid Sangat Total Frequency Percent 0,48% Valid Percen 0,48% Komunikasi Interpersonal Valid Frequency Percent Valid Sangat Total oleh peneliti dari data yang telah dikumpulkan oleh pihak Rawat Inap Rumah Sakit Tingkat IV 02. Bandar Lampung seperti data dari bagian rawat inap. Analisis menggunakan Analisa Univariat. Bivariat, dan Multivariat. Dimana analisis univariat dilakukan pada variabel komunikasi interpersonal, motivasi, sikap dan implementasi patient safety pada rawat inap Rumah Sakit Tingkat IV 02. 04 Bandar Lampung. ANALISIS HASIL Analisis Univariat Distribusi Komunikasi Interpersonal Responden Tabel 1 Distribusi Komunikasi Interpersonal Responden Belrdasarkan tabel diatas dipelrolelh bahwa selbagian belsar relspondeln melnjawab sangat seltuljul selbanyak 205 jawaban delngan pelrselntasi 49%. E-ISSN: 2865-6583 P-ISSN: 2868-6298 melnjawab seltuljul selbanyak 182 jawaban delngan pelrselntasi 43% dan sisanya melnjawab tidak seltuljul selbanyak 33 jawaban delngan pelrselntasi 8%. Distribusi Motivasi Responden Tabel 2. Distribusi Motivasi Responden Distribusi Sikap Responden Tabel 3. Distribusi Sikap Responden SIKAP Valid Frequency Percent Percen Valid Sangat Total Belrdasarkan tabel diatas dipelrolelh bahwa selbagian belsar relspondeln melnjawab sangat seltuljul selbanyak 151 jawaban delngan pelrselntasi 44. melnjawab seltuljul selbanyak 138 jawaban delngan 07%, menjawa tidak setuju sebanyak 35 jawaban dengan presentasi 10,42% dan sisanya melnjawab tidak seltuljul selbanyak 12 jawaban delngan Distribusi Penerapan Patient Safety Tabel 4. Distribusi Patient Safety Responden Patient safety Valid Frequency Percent Percen Valid Sangat Total Belrdasarkan tabel diatas dipelrolelh bahwa selbagian belsar relspondeln melnjawab sangat seltuljul selbanyak 227 jawaban delngan pelrselntasi 45,04%. Jurnal Manajemen Dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol. 8 No 2. April 2024 melnjawab seltuljul selbanyak 206 jawaban delngan pelrselntasi 40,87%, menjawab tidak setuju sebanyak 59 dengan persentase 11,71% dan sisanya melnjawab sangat tidak seltuljul selbanyak 12 jawaban delngan pelrselntasi 12,38%. Analisis Bivariat Uji Normalitas Meltodel yang digulnakan ulntulk melngeltahuli sulatul dataitelrdistribulsi normali yaitul delngan melnggulnakan ulji Klomogorov-smirnov dan ulji shapiro-wilk. Tabel 5. Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardize d Residual Normal Parameters Mean Std. Deviation Most Extreme Differences Absolute Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Test distribution is Normal. Calculated from data. Lilliefors Significance Correction. Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai Asymp. Sig. -taile. normalitas kolmogorov smirnov sebesar 0,056. Hal ini melnulnjulkkan, nilai sig. > 0,05 yaitu 0,056 > 0,05 selhingga dapat ditarik kelsimpul an bahwa hasil ulji normalitas pelnel itian belrdistribulsi UJi Homogenitas Tabel 6. Uji Homogenitas E-ISSN: 2865-6583 P-ISSN: 2868-6298 Uji Regresi Linear Berganda (Uji Hipotesi. Hasil Uji F (Simulta. Kriteria pengambilan keputusan (Suyono, 2015: . (Nuryadi et al. , 2017: . Tabel 7. Uji Simultan ANOVAa Mea Sum of Squa Model Squares df re Sig. Regr 1132. 83 3 377. Resi 109. 450 38 2. Tota 1242. Dependent Variable: Patient Safety Predictors: (Constan. Sikap. Motivasi. Komunikasi Interpersonal Berdasarkan tabel anova, dapat diketahui nilai signifikan . sebesar, 0,000. Karena nilai sig. 0,000 < 0,05 maka dapat disimpulkan ada pengaruh Komunikasi Interpersonal. Motivasi dan Sikap terhadap patient safety. Hasil Uji t (Parsia. Tabel 8. Uji Parsial Belrdasarkan pada hasil oultpult ulji homogelnitas onel way anova dapat dikeltahuli nilai sig. 0,136. Hasil hitulng ini melnulnjulkkan nilai sig > 0,05 selhingga dapat disimpul kan bahwa skor yang didapatkan dari hasil pelngisian kulelsionelr melmpulnyai varian yang sama. Analisis Multivariat Jurnal Manajemen Dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol. 8 No 2. April 2024 Coefficientsa Model 1 (Cons Unstandardized Coefficients Std. Error Model Summary Stand Coeffi Beta Komu . Interp Motiv . Sikap E-ISSN: 2865-6583 P-ISSN: 2868-6298 Dependent Variable: Patient Safety Berdasarkan tabel coeffcients, dapat diketahui nilai signifikan . variable komunikasi Interpersonal sebesar, 0,093. Karena nilai sig. 0,093 > 0,05 maka dapat disimpulkan tidak ada pengaruh Motivasi terhadap patient safety. Berdasarkan tabel coeffcients, dapat diketahui nilai signifikan . variable motivasi sebesar, 0,072. Karena nilai sig. 0,072 > 0,05 maka dapat disimpulkan tidak ada pengaruh motivasi terhadap patient safety. Sedangkan berdasarkan tabel coeffcients, dapat diketahui nilai signifikan . variable sikap sebesar, 0,000. Karena nilai sig. 0,000 < 0,05 maka dapat disimpulkan ada pengaruh sikap terhadap patient Hasil Uji Koefisien Determinasi (R. Tabel 9. Uji Koefisien Determinasi Std. Error of Adjusted R Estimat Model R Square Square Predictors: (Constan. Sikap. Motivasi. Komunikasi Interpersonal Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai Adjusted R Square sebesar 0,905 atau 91%. Nilai koefisien determinasi tersebut menunjukkan bahwa variabel independen yang terdiri dari tingkat sikap, motivasi dan komunikasi interpersonal, mampu menjelaskan variabel patient safety perawat di ruangan rawat inap Rumah Sakit Tingkat IV 02. Bandar Lampung sebesar 91%, sedangkan sisanya yaitu 9% . Ae nilai adjusted R Squar. dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian ini. PEMBAHASAN Hubungan Komunikasi Interpersonal dengan pelaksanaan Patient Safety Berdasarkan hasil uji t untuk mencari pengaruh masing-masing menunjukkan bahwa nilai Sig. untuk pengaruh sikap terhadap penerapan program patient safety adalah sebesar 0,093 > 0,05 Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh komunikasi interpersonal terhadap penerapan Patient Safety di Rawat Inap Rumah Sakit Tingkat IV 02. 04 Bandar Lampung. Berdasarkan hasil uji Koefisien Determinasi menunjukkan bahwa nilai RA sebesar 0,780 artinya sebesar 78% variabel komunikasi interpersonal terhadap patient safety menerangkan penerapan patient safety. Sisanya sebesar 22% diterangkan oleh variabel lain. Hubungan Motivasi dengan pelaksanaan Patient Safety Berdasarkan hasil uji t untuk mencari pengaruh masing-masing menunjukkan bahwa Nilai Sig. untuk pengaruh motivasi terhadap penerapan program patient safety adalah sebesar 0,072 > 0,05 Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh Motivasi terhadap Patient Safety di Rawat Inap Rumah Sakit Jurnal Manajemen Dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol. 8 No 2. April 2024 Tingkat IV 02. 04 Bandar Lampung. Berdasarkan hasil uji Koefisien Determinasi menunjukkan bahwa nilai RA sebesar 0,769 artinya sebesar 76,9% variabel motivasi menerangkan penerapan program patient Sisanya sebesar 23,1% diterangkan oleh variabel lain. Hubungan Sikap dengan pelaksanaan Patient Safety Berdasarkan hasil uji t untuk mencari pengaruh masing-masing menunjukkan bahwa nilai Sig. untuk pengaruh sikap terhadap penerapan program patient safety adalah sebesar 0,000 < 0,05 Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh sikap terhadap penerapan Patient Safety di Rawat Inap Rumah Sakit Tingkat IV 04 Bandar Lampung. Berdasarkan hasil uji Koefisien Determinasi menunjukkan bahwa nilai RA sebesar 0,867 artinya sebesar 86,7% variabel sikap tentang patient safety menerangkan penerapan patient safety. Sisanya sebesar 13,3% diterangkan oleh variabel lain Hubungan Komunikasi Interpersonal. Motivasi, dan Sikap secara bersama dengan pelaksanaan Patient Safety Berdasarkan hasil perhitungan uji F diketahui nilai signifikansi untuk pengaruh X1. X2 dan X3 secara simultan terhadap Y adalah sebesar 0,000 > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh variabel X1. X2 dan X3 secara simultan terhadap Y. Berdasarkan tabel nilai uji R2 menunjukkan nilai RA sebesar 0,905 artinya sebesar 90,5% variable komunikasi interpersonal, motivasi dan sikap perawat menerangkan penerapan program patient safety. Sisanya sebesar 9,5 % diterangkan oleh variabel lain di luar model yang digunakan KESIMPULAN Tingkat Pemahaman dan penerapan patient safety di Rawat Inap Rumah Sakit Tingkat IV 02. Bandar Lampung sudah sangat baik, dimana sebesar 85, 91 % untuk tingkat pemahaman sedangkan untuk penerapan sebesar 91% sudah diterapkan dengan menunjukan bahwa variabel komunikasi interpersonal, motivasi dan sikap mampu menjelaskan variabel patient safety perawat di ruangan rawat inap Rumah Sakit E-ISSN: 2865-6583 P-ISSN: 2868-6298 Tingkat IV 02. 04 Bandar Lampung, hanya 9 % saja dari variabel lain. Pada variabel Komunikasi Interpersonal. Motivasi, dan Sikap secara simultan berpengaruh signifikan terhadap pelaksanaan patient safety di Rawat Inap Rumah Sakit Tingkat IV 02. 04 Bandar Lampung, yang artinya semakin tinggi nilai komunikasi interpersonal, motivasi dan sikap maka semakin disiplin perawat dalam melaksanakan prosedur patient safety. Pada variabel Komunikasi Interpersonal tidak pelaksanaan patient safety di Rawat Inap Rumah Sakit Tingkat IV 02. 04 Bandar Lampung. Pada variabel Motivasi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pelaksanaan patient safety di Rawat Inap Rumah Sakit Tingkat IV 02. Bandar Lampung. Pada variabel Sikap berpengaruh signifikan terhadap pelaksanaan patient safety di Rawat Inap Rumah Sakit Tingkat IV 02. 04 Bandar Lampung. Dimana pengaruhnya positif yang artinya semakin baik sikap perawat dalam melaksanakan prosedur keselamatan pasien maka akan semakin tinggi tingkat pelaksanaan keselamatan pasien. UCAPAN TERIMA KASIH Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala nikmat, rahmat dan hidayah yang diberikan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini sampai dengan selesai. Selama proses penulisan ini, penulis mendapatkan bantuan dan dorongan dari berbagai Penulis mengucapkan terima kasih kepada pembimbing akademik yang senantiasa memberikan petunjuk, arahan dan membantu dalam penyusunan sampai dengan selesai. Penulis juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada suami dan anakanakku, orang tua, saudara. Kepala Rumah Sakit Tingkat IV 02. 04 Bandar Lampung, dan temanteman sejawat Program studi Pasca Sarjana Magister Manajemen Administrasi Rumah Sakit URINDO. REFERENSI