JEms Emasains Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume 13 Nomor 1 Bulan Maret Tahun 2024 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI : 10. 59672/emasains. Pemberian Scaffolding dalam Pemecahan Masalah Kontekstual pada Topik Trigonometri Berdasarkan Tahapan Kastolan Ni Putu Riska Utaria. Kadek Adi Wibawab. I Made Wenac a,b,c Universitas Mahasaraswati. Denpasar. Indonesia *email: adiwibawa@unmas. Tanggal Diterima: 17-3-2024 Tanggal revisi: 27-3-2024 Tanggal Terbit: 30-3-2024 Abstrak. Matematika merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang banyak memberikan kontribusi dalam menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, masih banyak ditemukan kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika salah satunya pada soal trigonometri kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya kesalahan dan apa penyebab siswa melakukan kesalahan dalam menyelesaikan masalah kontekstual pada materi Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI MIPA SMA PGRI 4 Denpasar dengan jumlah 28 siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan tes, wawancara, dan dokumentasi. Kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan masalah kontekstual pada soal trigonometri adalah kesalahan konseptual dilakukan sebanyak 39,34%, kesalahan prosedural sebanyak 24,6%, kesalahan teknikal sebanyak 36,06%. Penyebab kesalahan yang dilakukan siswa adalah terlalu terburu-buru dalam menyelesaikan soal yang diberikan, kurang teliti dalam menghitung, tidak fokus dalam mengerjakan soal yang diberikan, kurang teliti dalam memasukkan data pada soal, kurang memanfaatkan waktu dengan baik saat mengerjakan soal, ketidakpahaman siswa dalam mengerjakan soal, tidak memeriksa kembali pekerjaannya sebelum Untuk kesalahan konseptual, kecendrungan bentuk scaffolding yang diberikan yaitu explaining dan reviewing. Untuk kesalahan prosedural, kecendrungan bentuk scaffolding yang diberikan yaitu explaining, reviewing, resctucturing dan developing conseptual thinking. Untuk kesalahan teknikal, kecendrungan bentuk scaffolding yang diberikan yaitu explaining, reviewing, dan resctucturing Kata Kunci: Analisis Kesalahan. Kastolan. Trigonometri Kontekstual. Scaffolding. PENDAHULUAN Soedjadi . alam Fadilah & Bernard, 2. mengemukakan bahwa matematika merupakan pembelajaran yang sangat penting bagi siswa guna meningkatkan kemampuan berpikir, melatih dalam berpikir kritis, logis dan kreatif. Pada awalnya, matematika hanya digunakan dalam dunia perdagangan seperti saat proses jual beli, digunakan dalam pengukuran tanah serta dalam pencatatan waktu. Seiring berjalannya waktu dan perkembangan jaman, matematika mengalami banyak perkembangan seperti pada bidang aritmatika, geometri, serta Hingga saat ini, matematika digunakan di seluruh dunia dalam berbagai bidang seperti ilmu kedokteran, teknik, ekonomi dan masih banyak lagi. Matematika merupakan ilmu yang banyak memberi kontribusi dalam meningkatkan kemampuan berpikir siswa pada penyelesaian masalah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari (Rahmugiz & Merliza, 2020. Retnodari. Elbas & Loviana, 2. Oleh karena itu, matematika merupakan ilmu yang tidak pernah lepas dari permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam menyelesaikan masalah . roblem solvin. proses berpikir siswa lebih kompleks jika dibandingkan dengan hanya menyelesaikan soal biasa atau soal latihan. Copyright A2024 by Author. Published by Prodi Pendidikan Matematika dan Prodi Pendidikan Biologi Universitas PGRI Mahadewa Indonesia JEms Emasains Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume 13 Nomor 1 Bulan Maret Tahun 2024 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI : 10. 59672/emasains. Dalam menyelesaikan persoalan matematika tidak hanya dengan sekedar menghafal rumus, melainkan diperlukan pemahaman dalam menganalisis soal dan mengembangkan, mengaplikasikan, serta menggunakan rumus-rumus yang ada dengan tepat. Tujuan dari mempelajari matematika sendiri yaitu salah satunya adalah untuk melatih kemampuan berpikir serta bernalar dalam memecahkan masalah. Untuk mengembangkan nalar siswa dalam pemecahan masalah dapat dilakukan dengan pengenalan permasalahan kontekstual kepada siswa untuk dipecahkan. Menurut Aisyah . masalah kontekstual dapat diartikan sebagai situasi dimana masalah tersebut merupakan pengalaman nyata bagi siswa. Namun, dalam dunia pendidikan saat ini banyak siswa yang menganggap masalah kontekstual merupakan soal yang tergolong sulit karena siswa harus mampu memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud pada soal sebelum siswa mendapat cara pemecahannya. Hal tersebut selaras dengan hasil penelitian Fadilah & Bernard . dimana kesalahan terbanyak siswa dilakukan pada tahap memahami masalah dikarenakan siswa kurang terbiasa dalam memecahkan permasalahan matematika Siswa cenderung kesulitan menjawab soal ketika permasalahan yang dimaksudkan berbeda dengan contoh soal yang diberikan oleh guru. Masalah kontekstual banyak ditemukan pada pembelajaran matematika materi trigonometri yang penggunaannya banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Trigonometri adalah salah satu cabang dari ilmu matematika yang mengkaji masalah sudut dan relasi yang ada dalam suatu sudut. Beberapa penelitian yang telah dilakukan berkaitan dengan menganalisis kesalahan siswa, antara lain penelitian yang dilakukan oleh Hakim. Ramlah & Adirakasiwi . mengenai Analisis Kesalahan Siswa SMP dalam Menyelesaikan Soal Pemahaman Konsep Berdasarkan Tahapan Kastolan. Berdasarkan hasil yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa siswa masih mengalami kesalahan dalam menyelesaikan soal pemahaman konsep. Kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa adalah kesalahan konseptual, kesalahan prosedural, kesalahan teknik. Penyebab kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal pemahaman konsep yaitu siswa tidak memahami maksud dari soal, siswa terbisa dengan konsep penyebutan bangun datar yang salah, siswa tidak paham dalam menyebutkan contoh dari bangun datar, siswa kurang pahamanan dalam konsep bangun, siswa tidak sesuai langkah-langkahnya dalam menyelesaikan soal, siswa kurang berlatih dalam mengerjakan soal, siswa kurang teliti dalam menjawab soal, siswa tidak mengecek kembali hasil pekerjaannya. Adapun penelitian lain yang juga dilakukan oleh Lutfia dan Zanthy . mengenai Analisis Kesalahan Menurut Tahapan Kastolan dan Pemberian Scaffolding dalam Menyelesaikan Soal Sistem Persamaan Linear Dua Variabel. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa terdapat 9,4% siswa yang melakukan kesalahan konseptual, 27,2% yang melakukan kesalahan prosedural, dan 22,8% yang mengalami kesalahan teknik. Scaffolding yang dapat diberikan adalah explaining, reviewing, restructuring, dan developing conceptual thinking. Berdasarkan uraian tersebut, maka peneliti penting untuk melakukan penelitian dengan judul AuPemberian Scaffolding dalam Pemecahan Masalah Kontekstual Pada Topik Trigonometri Berdasarkan Tahapan KastolanAy. Berdasarkan latar belakang diatas, maka permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. Apa saja jenis-jenis dan penyebab kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan masalah kontekstual pada materi trigonometri berdasarkan tahapan Kastolan di SMA PGRI 4 Denpasar? Copyright A2024 by Author. Published by Prodi Pendidikan Matematika dan Prodi Pendidikan Biologi Universitas PGRI Mahadewa Indonesia JEms Emasains Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume 13 Nomor 1 Bulan Maret Tahun 2024 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI : 10. 59672/emasains. Bagaimana penerapan scaffolding dalam menyelesaikan masalah kontekstual pada materi Trigonometri? Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya kesalahan dan penyebab kesalahan yang dilakukan oleh siswa serta penerapan scaffolding dalam menyelesaikan masalah kontekstual pada materi trigonometri berdasarkan tahapan Kastolan di SMA PGRI 4 Denpasar. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode kualitatif. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI MIPA SMA PGRI 4 Denpasar dengan jumlah 28 orang. Subjek penelitian dipilih dengan menggunakan nonprobality sampling dengan teknik purposive sampling sehingga dipilih sebanyak 6 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik tes dan wawancara. Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes bentuk soal uraian matematika dengan materi trigonometri kontekstual sebanyak 2 soal. Uji instrumen yang digunakan adalah uji validitas dan uji reliabilitas. Pada uji validitas digunakan uji validitas isi formula Gregory dan uji reliabilitas menggunakan rumus Alpha Cronbach. Uji validitas isi formula Gregory dilakukan dengan pakar. Berdasarkan hasil uji validitas isi formula Gregory menunjukkan dari 4 butir soal, keempatnya dinyatakan relevan oleh validator I dan validator II sehingga keempat soal tersebut dapat digunakan. Hasil perhitungan validitas isi formula Gregory adalah 0,88 pada soal nomor 1 dan 4, hasil 1 pada soal nomor 2 dan 3. Berdasarkan hasil uji validitas butir soal yang dilakukan di kelas XI IPS SMA PGRI 4 Denpasar menunjukkan bahwa ke 4 soal tersebut dinyatakan valid. Hasil uji reliabilitas menunjukkan bahwa dari soal yang valid tersebut didapat hasil perhitungan tes sebesar 0,735 . erajat reliabilitas tingg. Pedoman wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara semi terstruktur. Pedoman wawancara semi terstruktur merupakan jenis wawancara yang lebih mendalam, terbuka, luas dan pelaksanaannya lebih bebas apabila dibandingkan dengan wawancara terstruktur. Tujuan dari wawancara semi terstruktur dalam penelitian ini adalah untuk memberikan scaffolding kepada siswa. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis jenis-jenis kesalahan, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Analisis jenis-jenis kesalahan yang dilakukan pada penelitian ini berdasarkan 3 tahapan kastolan yaitu kesalahan konseptual, kesalahan prosedural, dan kesalahan teknikal. Tahap reduksi data dalam penelitian ini adalah mengoreksi jawaban siswa lalu memilih subjek penelitian dengan menggunakan nonprobality sampling dengan teknik purposive sampling yaitu dengan mengurutkan skor subjek penelitian berdasarkan nilai tertinggi hingga nilai terendah, kemudian dibagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok tinggi, kelompok sedang, dan klompok rendah yang selanjutnya dipilih 2 subjek yang mendapatkan nilai terendah dari masing-masing kelompok sehingga mendapatkan 6 subjek penelitian. Hasil jawaban subjek kemudian dianalisis lalu dituliskan pada catatan yang selanjutnya dijadikan bahan untuk wawancara, hasil wawancara yang telah dilakukan dengan subjek penelitian disusun menggunakan bahasa yang baik sehingga menjadi data yang siap untuk digunakan. Saat pelaksanaan wawancara juga dilakukan pemberian scaffolding kepada keenam subjek penelitian berupa explaining, reviewing, resctucturing, dan developing conseptual thinking. Penyajian data dalam penelitian ini dilakukan dengan menyajikan hasil pekerjaan subjek sebagai subjek penelitian dan menyajikan hasil wawancara Copyright A2024 by Author. Published by Prodi Pendidikan Matematika dan Prodi Pendidikan Biologi Universitas PGRI Mahadewa Indonesia JEms Emasains Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume 13 Nomor 1 Bulan Maret Tahun 2024 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI : 10. 59672/emasains. serta pemberian scaffolding kemudian dianalisis untuk mengetahui kesalahan dan penyebab kesalahan yang dilakukan sehingga mampu menjawab permasalahan dalam penelitian ini. Penarikan kesimpulan diperoleh dari membandingkan hasil jawaban siswa dengana hasil wawancara terhadap keenam subjek penelitian sehingga dapat diketahui kesalahan dan penyebab kesalahan yang dilakukan subjek serta penerapan scaffolding dalam menyelesaikan permasalahan kontekstual pada materi trigonometri. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, berikut dipaparkan hasil perhitungan perentase kesalahan yang dialami siswa dalam menyelesaikan masalah kontekstual pada materi trigonometri berdasarkan hasil tes yang ditinjau dari masing-masing kesalahan menurut tahapan Kastolan sebagai berikut. Tabel 1. Persentase Kesalahan Siswa Pada Setiap Jenis Kesalahan Banyak siswa yang mengalami kesalahan Nomor Soal Konseptual Prosedural Teknikal Jumlah Persentase 39,34% 24,6% 36,06% Dalam pengambilan subjek, peneliti memilih 2 subjek dengan nilai terendah dari masingmasing kelompok. Selanjutnya pada masing-masing dipilih 2 siswa dari kelompok tinggi yaitu subjek 28 (S. dan subjek 23 (S. , 2 siswa dari kelompok sedang yaitu subjek 2 (S. dan subjek 12 (S. , dan 2 siswa diambil dari kelompok rendah yaitu subjek 20 (S. dan subjek 20 (S. Dari hasil jawaban yang dikerjakan subjek, dapat diketahui kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa dalam mengerjakan soal cerita matematika pada materi pokok bahasan trigonometri kontekstual. Jenis kesalahan yang dilakukan subjek yaitu sebagai berikut. Tabel 2. Jenis Kesalahan Subjek Penelitian Subjek S28 S23 S12 Nomor Soal Mengalami kesalahan Mengalami kesalahan Mengalami kesalahan Mengalami kesalahan teknikal Mengalami kesalahan Mengalami kesalahan Mengalami kesalahan Mengalami kesalahan konseptual dan kesalahan Copyright A2024 by Author. Published by Prodi Pendidikan Matematika dan Prodi Pendidikan Biologi Universitas PGRI Mahadewa Indonesia JEms Emasains Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume 13 Nomor 1 Bulan Maret Tahun 2024 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI : 10. 59672/emasains. S10 S20 Mengalami kesalahan konseptual dan kesalahan Mengalami kesalahan konseptual dan kesalahan Mengalami kesalahan teknikal Mengalami kesalahan prosedural dan kesalahan Adapun hasil tes dan wawancara terhadap subjek diuraikan sebagai berikut. Analisis Kesalahan dan Pemberian Scaffolding pada kesalahan konseptual kepada Subjek Penelitian 28 (S. Gambar 1. Jawaban S28 S28 S28 S28 S28 S28 : AuCoba dibacakan kembali soal no. 2!Ay : AuBaik kak. Ay (S28 membaca kembali soal no. : AuApa saja yang diketahui dan ditanyakan pada soal tersebut?Ay : AuYang diketahui itu tinggi gedung yaitu 27Oo3 m, jarak antara mobil dan gedung Yang ditanyakan itu berapa derajat sudut yang terbentuk. Ay : AuCoba ceritakan kembali permasalahan yang ada pada soal tersebut!Ay : AuBerarti mencari berapa drajat sudut yang dapat terbentuk dari gedung setinggi 27Oo3 m ke mobil yang jaraknya 81mAy : AuBisakah kamu menggambarkan bagaimana posisinya?Ay (Explainin. : AuBaik kak. Ay (S28 menggambarkan apa yang diketahui pada soal no. : AuMengapa kamu bisa menuliskan seperti ini?Ay : AuKarena mencari besar sudut yang terbentuk dari gedung setinggi 27Oo3 m ke mobil yang jaraknya 81 m, sehingga saya menggunakan rumus tangen yaitu depan sudut 27Oo3 Oo3 dibagi samping sudut. Hasilnya tan yuE = 81 = 3 . Besar sudutnya jadi 30A. Ay : AuMenurutmu apakah jawabanmu sudah lengkap?Ay (Reviewin. S28 : AuSaya kurang di bagian diketahui dan di bagian akhir tidak saya isi kesimpulan jawaban kak. Ay : AuKenapa tidak kamu tuliskan?Ay S28 : AuSaya lupa kak. Ay Copyright A2024 by Author. P by Prodi : AuApakah kamudanmemeriksa kembali jawaban setelah mengerjakan soal?Ay Published Pendidikan Matematika Prodi Pendidikan: Biologi Universitas Mahadewa Indonesia S28 AuTidak kak,PGRI waktunya sudah habis. Berarti kesalahan saya sama dengan no. JEms Emasains Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume 13 Nomor 1 Bulan Maret Tahun 2024 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI : 10. 59672/emasains. S28 S28 : AuKenapa tidak kamu tuliskan?Ay : AuSaya lupa kak. Ay : AuApakah kamu memeriksa kembali jawaban setelah mengerjakan soal?Ay : AuTidak kak, karena kebetulan waktunya sudah habis. Dan sekarang saya tau letak kesalahannya kak. Terima kasih kak. Ay Scaffolding yang dilakukan oleh peneliti adalah explaining . eminta subjek membaca ulang soal, meminta subjek menyebutkan apa saja yang diketahui dan ditanyakan pada soa. dan reviewing . emberikan pertanyaan arahan agar subjek dapat menemukan letak kesalahan yang dilakukan, meminta subjek memperbaiki jawabanny. Perubahan yang terjadi yaitu: Tabel 3. Pemberian scaffolding kepada S28 Sebelum Scaffolding Setelah Scaffolding Analisis Kesalahan dan Pemberian Scaffolding pada kesalahan prosedural dan kesalahan teknikal kepada Subjek Penelitian 20 (S. Gambar 2. Jawaban S23 : AuCoba dibacakan kembali soal no. 2!Ay : AuBaik kak. Ay (S20 membaca kembali soal no. : AuApa saja yang diketahui dan ditanyakan pada soal tersebut?Ay : AuUntuk tinggi gedungnya 27Oo3 m dan jarak mobil 81 m. Yang ditayakan itu sudut yang terbentuk. Ay : AuBisakah kamu menggambarkan bagaimana posisinya?Ay (Explainin. S20 : AuBisa kak. Ay (S20 menggambarkan apa yang diketahui pada soal no. : AuCoba kamu perhatikan hasil jawabanmu, apakah ada yang keliru?Ay (Reviewin. S20 : AuSepertinya tidak kak. Ay : AuCoba kamu perhatikan pada bagian ini, apa rumus untuk mencari tan yu?Ay (Developing Conseptual Thinkin. S20 : AuSisi depan dibagi sisi miring kak?Ay : AuKamu yakin?Ay (Reviewin. S20 : AuSisi depan dibagi sisi samping kak?Ay Copyright A2024 by Author. P by Prodi : AuMengapa Published Pendidikan Matematika dan bisa menuliskan seperti ini?Ay S20 S20 Prodi Pendidikan Biologi Universitas PGRI Mahadewa Indonesia JEms Emasains Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume 13 Nomor 1 Bulan Maret Tahun 2024 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI : 10. 59672/emasains. S20 S20 : AuSisi depan dibagi sisi samping kak?Ay : AuMengapa kamu bisa menuliskan seperti ini?Ay : AuSaya tidak ingat rumusnya kak. Ay 27Oo3 3Oo3 : AuCoba kamu perhatikan kembali pada bagian tan yu = 81 = 3 . Apakah ada yang keliru?Ay (Resctruckturin. S20 : AuMungkin harusnya 3 Oo3 kak?Ay : AuJadi berapa derajat nilai sudutnya?Ay (Resctruckturin. S20 : AuycNycaycu 3 Oo3 itu 30A kak?Ay : AuIya benar, mengapa kamu bisa menuliskan seperti ini?Ay (Reviewin. S20 : AuSaya sedikit bingung dalam memilih rumusnya kak. Ay : AuApakah kamu memeriksa kembali jawaban setelah mengerjakan soal?Ay S20 : AuTidak kak. Ay Scaffolding yang dilakukan oleh peneliti adalah explaining . eminta subjek membaca ulang soal, meminta subjek menyebutkan apa saja yang diketahui dan ditanyakan pada soa. , reviewing . emberikan pertanyaan arahan agar subjek dapat menemukan letak kesalahan yang dilakukan, meminta subjek memperbaiki jawabanny. , resctruckturing . engajukan pertanyaan arahan untuk membantu subjek agar dapat menjawab dengan bena. dan developing conseptual thinking . eminta subjek untuk mengingat kembali materi trigonometr. Perubahan yang terjadi yaitu: Tabel 4. Pemberian scaffolding kepada S20 Sebelum Scaffolding Setelah Scaffolding Analisis Kesalahan dan Pemberian Scaffolding pada kesalahan teknikal kepada Subjek Penelitian 10 (S. Gambar 3. Jawaban S10 Copyright A2024 by Author. Published by Prodi Pendidikan Matematika dan Prodi Pendidikan Biologi Universitas PGRI Mahadewa Indonesia JEms Emasains Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume 13 Nomor 1 Bulan Maret Tahun 2024 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI : 10. 59672/emasains. S10 S10 S10 S10 S10 : AuCoba dibacakan kembali soal no. 2!Ay : AuBaik kak. Ay (S10 membaca kembali soal no. : AuApa saja yang diketahui dan ditanyakan pada soal tersebut?Ay : AuTinggi gedungnya itu 27Oo3 m dan jarak gedung dari mobil 81 m. Yang ditayakan sudut yang terbentuk. Ay : AuBisakah kamu menggambarkan bagaimana posisinya?Ay (Explainin. : AuBisa kak. Ay (S10 menggambarkan apa yang diketahui pada soal no. : AuCoba kamu perhatikan hasil jawabanmu, apakah ada yang keliru?Ay (Reviewin. : AuTidak kak. Ay : AuKamu yakin?Ay (Reviewin. : AuYakin kak. Ay 27Oo3 3Oo3 : AuCoba kamu perhatikan pada bagian tan yu = 81 = 3 . Apakah ada yang keliru?Ay (Resctruckturin. S10 : AuSaya salah hitung kak, harusnya 3 Oo3. Ay : AuJadi berapa derajat nilai sudutnya?Ay (Resctruckturin. S10 : AuycNycaycu 3 Oo3 itu 30A kak?Ay : AuBenar, mengapa kamu bisa menuliskan seperti ini?Ay (Reviewin. S10 : AuSaya kurang hati-hati dalam menjawab kak. Ay : AuApakah kamu memeriksa kembali jawaban setelah mengerjakan soal?Ay (Reviewin. S10 : AuTidak kak. Ay Scaffolding yang dilakukan oleh peneliti adalah explaining . eminta subjek membaca ulang soal, meminta subjek menyebutkan apa saja yang diketahui dan ditanyakan pada soa. , reviewing . emberikan pertanyaan arahan agar subjek dapat menemukan letak kesalahan yang dilakukan, meminta subjek memperbaiki jawabanny. dan resctruckturing . engajukan pertanyaan arahan untuk membantu subjek agar dapat menjawab dengan bena. Perubahan yang terjadi yaitu: Tabel 5. Pemberian scaffolding kepada S10 Sebelum Scaffolding Setelah Scaffolding Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian diatas, adapun pembahasan dari hasil analisis tersebut yaitu sebagai berikut. Jenis Kesalahan dan Penyebab Kesalahan Berdasarkan analisis hasil jawaban subjek dan hasil wawancara diperoleh data mengenai letak dan jenis kesalahan yang dilakukan subjek pada setiap butir soal yang diberikan, yaitu sebagai berikut: Kesalahan Konseptual Copyright A2024 by Author. Published by Prodi Pendidikan Matematika dan Prodi Pendidikan Biologi Universitas PGRI Mahadewa Indonesia JEms Emasains Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume 13 Nomor 1 Bulan Maret Tahun 2024 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI : 10. 59672/emasains. Berdasarkan uraian analisis yang telah dilakukan sebelumnya terlihat bahwa dari kelompok tinggi, sedang dan rendah melakukan kesalahan konseptual pada butir soal yang diberikan. Adapun kesalahan konseptual yang dilakukan adalah: Subjek tidak menuliskan apa yang diketahui, ditanyakan dan tidak menuliskan kesimpulan pada jawaban akhir. Salah dalam menentukan apa yang diketahui dan ditanyakan dalam soal. Dari dua jenis kesalahan tersebut, sejalan dengan yang dikatakan Cahyanti . , bahwa kesalahan yang paling sering dilakukan adalah siswa tidak menuliskan apa yang diketahui dan ditanyakan dalam soal. Berdasarkan indikator tahapan Kastolan seharusnya siswa mampu menuliskan apa yang diketahui dan ditanyakan dari masalah yang diajukan dengan jelas serta mampu memilih konsep yang seharusnya digunakan dengan benar. Dengan tidak menuliskan apa yang diketahui dan ditanyakan dari soal pada lembar jawaban, siswa dapat dianggap belum menangkap infomasi yang terkandung dalam soal. Tingkat kesalahan yang dilakukan siswa pada jenis kesalahan kontekstual yang diperoleh dari hasil perhitungan persentase tingkat kesalahan adalah sebesar 39,34%. Kesalahan Prosedural Berdasarkan uraian analisis yang telah dilakukan sebelumnya terlihat bahwa dari kelompok tinggi, sedang dan rendah melakukan kesalahan prosedural pada butir soal yang diberikan. Adapun kesalahan prosedural yang dilakukan adalah: Subjek melakukan langkah-langkah untuk menyelesaikan perhitungan tapi tidak . Subjek tidak menggunakan rumus yang tepat. Berdasarkan hasil wawancara, subjek melakukan langkah-langkah untuk menyelesaikan perhitungan tapi tidak runtut dikarenakan tidak fokus dalam mengerjakan soal yang diberikan. Ketidakpahaman siswa dalam mengerjakan soal juga cenderung menjadi faktor lain sehingga terjadinya kealahan prosedural. Tingkat kesalahan yang dilakukan siswa pada jenis kesalahan prosedural yang diperoleh dari hasil perhitungan persentase tingkat kesalahan adalah sebesar 24,6%. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan Sari . bahwa kesalahan terkecil terjadi pada kesalahan Kesalahan Teknikal Berdasarkan uraian analisis yang telah dilakukan sebelumnya terlihat bahwa dari kelompok tinggi, sedang dan rendah melakukan kesalahan teknikal pada butir soal yang Adapun kesalahan teknikal yang dilakukan adalah: Subjek keliru dalam menghitung. Subjek keliru dalam membaca data yang diberikan. Subjek tidak mengecek kembali hasil pekerjaannya. Dari ketiga jenis kesalahan tersebut, sejalan dengan yang dikatakan Hakim . , bahwa siswa seringkali mengalami kesalahan dalam menghitung nilai dari suatu Faktor yang menjadi penyebab terjadinya kesalahan tersbut yaitu siswa tidak memahami maksud dari soal, siswa kurang teliti dalam menjawab soal dan siswa tidak mengecek kembali hasil pekerjaannya dikarenakan siswa terburu-buru dengan waktu yang diberikan. Tingkat kesalahan yang dilakukan siswa pada jenis kesalahan Copyright A2024 by Author. Published by Prodi Pendidikan Matematika dan Prodi Pendidikan Biologi Universitas PGRI Mahadewa Indonesia JEms Emasains Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume 13 Nomor 1 Bulan Maret Tahun 2024 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI : 10. 59672/emasains. teknikal yang diperoleh dari hasil perhitingan persentase tingkat kesalahan adalah sebesar 36,06%. Scaffolding Terhadap Kesalahan Siswa Berdasarkan Tahapan Kastolan Berdasarkan analisis hasil pekerjaan siswa, peneliti melakukan wawancara dan memberikan scaffolding kepada 6 subjek yang telah terpilih yang bertujuan untuk membantu siswa yang mengalami kesalahan. Scaffolding yang diberikan kepada siswa berdasarkan kesalahan yang dilakukan siswa. Saat siswa melakukan kesalahan konseptual yaitu tidak menuliskan apa yang diketahui, ditanyakan dan tidak menuliskan kesimpulan pada jawaban akhir dan siswa salah dalam menentukan apa yang diketahui dan ditanyakan dalam soal dapat diberikan scaffolding berupa explaining . eminta subjek membaca ulang soal, meminta subjek menyebutkan apa saja yang diketahui dan ditanyakan pada soa. dan diberikan scaffolding berupa reviewing . emberikan pertanyaan arahan agar subjek dapat menemukan letak kesalahan yang dilakukan, meminta subjek memperbaiki Hal ini sejalan dengan pendapat Putri . , bahwa scaffolding yang diberikan ketika subjek tidak dapat menyebutkan apa saja yang diketahui dan ditanyakan pada soal adalah dengan memberikan scaffolding berupa explaining dan Selanjutnya, ketika siswa melakukan kesalahan prosedural berupa melakukan langkah-langkah untuk menyelesaikan perhitungan tapi tidak runtut serta tidak menggunakan rumus yang tepat dapat diberikan scaffolding berupa explaining . eminta subjek membaca ulang soal, meminta subjek menyebutkan apa saja yang diketahui dan ditanyakan pada soa. , reviewing . emberikan pertanyaan arahan agar subjek dapat menemukan letak kesalahan yang dilakukan, meminta subjek memperbaiki jawabanny. , resctruckturing . engajukan pertanyaan arahan untuk membantu subjek agar dapat menjawab dengan benar, meminta subjek memperbaiki jawabanny. dan developing conseptual thinking . eminta subjek untuk mengingat kembali materi Ketika siswa melakukan kesalahan teknikal berupa tidak menuliskan jawaban akhir, keliru dalam menghitung, keliru dalam membaca data yang diberikan, tidak mengecek kembali hasil pekerjaannya dapat diberikan scaffolding berupa explaining . eminta subjek membaca ulang soal, meminta subjek menyebutkan apa saja yang diketahui dan ditanyakan pada soa. , reviewing . emberikan pertanyaan arahan agar subjek dapat menemukan letak kesalahan yang dilakukan, meminta subjek memperbaiki jawabanny. , dan resctruckturing . engajukan pertanyaan arahan untuk membantu subjek agar dapat menjawab dengan benar, meminta subjek memperbaiki jawabanny. Ketika pelaksanaan wawancara dan pemberian scaffolding terhadap 6 subjek, 4 subjek memberikan respon sangat postitif dan 2 subjek memberikan respon positif. Copyright A2024 by Author. Published by Prodi Pendidikan Matematika dan Prodi Pendidikan Biologi Universitas PGRI Mahadewa Indonesia JEms Emasains Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume 13 Nomor 1 Bulan Maret Tahun 2024 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI : 10. 59672/emasains. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dan pembahasan mengenai jenis serta penyebab kesalahan yang dilakukan oleh subjek pada kelompok tinggi, sedang, dan rendah di kelas XI MIPA dalam menyelesaikan soal kontekstual matematika pada materi trigonometri dapat disimpulkan bahwa kesalahan yang dilakukan siswa kelas XI MIPA SMA PGRI 4 Denpasar dalam menyelesaikan soal kontekstual matematika pada materi trigonometri menggunakan tahapan Kastolan terdiri dari 3 kesalahan, yaitu kesalahan kontekstual, kesalahan prosedural, dan kesalahan teknikal. Kesalahan yang paling banyak dilakukan oleh siswa adalah pada kesalahan kontekstual sebanyak 39,34%, sedangkan kesalahan terkecil dilakukan pada kesalahan prosedural sebanyak 24,6%. Berdasarkan analisis kesalahan siswa dapat diketahui penyebab kesalahan yang dilakukan dalam menyelesaikan permasalahan kontekstual pada materi trigonometri. Adapun penyebab terjadinya kesalahan yang dilakukan subjek adalah sebagai berikut. subjek terlalu terburuburu dalam menyelesaikan soal yang diberikan, . subjek kurang teliti dalam menghitung, . subjek tidak fokus dalam mengerjakan soal yang diberikan, . subjek kurang teliti dalam memasukkan data pada soal, . subjek kurang memanfaatkan waktu dengan baik saat mengerjakan soal, . ketidakpahaman subjek dalam mengerjakan soal, . subjek tidak memeriksa kembali pekerjaannya sebelum dikumpulkan. Untuk kesalahan konseptual, kecendrungan bentuk scaffolding yang diberikan antara lain: Explaining . eminta subjek membaca ulang soal, meminta subjek menyebutkan apa saja yang diketahui dan ditanyakan pada soa. , . Reviewing . emberikan pertanyaan arahan agar subjek dapat menemukan letak kesalahan yang dilakukan, meminta subjek memperbaiki Untuk kesalahan prosedural, kecendrungan bentuk scaffolding yang diberikan antara lain: . Explaining . eminta subjek membaca ulang soal, meminta subjek menyebutkan apa saja yang diketahui dan ditanyakan pada soa. , . Reviewing . emberikan pertanyaan arahan agar subjek dapat menemukan letak kesalahan yang dilakukan, meminta subjek jawabanny. , . Resctucturing . engajukan pertanyaan arahan untuk membantu subjek agar dapat menjawab dengan benar, meminta subjek memperbaiki jawabanny. , . Developing Conseptual Thinking . eminta subjek untuk mengingat kembali materi trigonometr. Untuk kesalahan teknikal, kecendrungan bentuk scaffolding yang diberikan antara lain: . Explaining . eminta subjek membaca ulang soal, meminta subjek menyebutkan apa saja yang diketahui dan ditanyakan pada soa. , . Reviewing . emberikan pertanyaan arahan agar subjek dapat menemukan letak kesalahan yang dilakukan, meminta subjek jawabanny. , . Resctucturing . engajukan pertanyaan arahan untuk membantu subjek agar dapat menjawab dengan benar, meminta subjek memperbaiki jawabanny. Saran Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, saran untuk mengatasi kesalahan siswa dalam mengerjakan soal materi trigonometri kontekstual seperti yang dilakukan dalam penelitian ini, maka dikemukakan hal-hal sebagai berikut. Bagi siswa: . Siswa hendaknya mampu membiasakan diri untuk menuliskan penyelesaian secara sistematis dan terstruktur. Hal tersebut bertujuan untuk melatih serta membiasakan diri siswa lebih teliti dalam mengambil langkah atau proses menyelesaikan masalah. Siswa hendaknya dapat merubah kebiasaan Copyright A2024 by Author. Published by Prodi Pendidikan Matematika dan Prodi Pendidikan Biologi Universitas PGRI Mahadewa Indonesia JEms Emasains Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume 13 Nomor 1 Bulan Maret Tahun 2024 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI : 10. 59672/emasains. belajar mereka yang kurang baik seperti kurangnya ketelitian dalam menjawab soal dan efisiensi waktu dalam mengerjakan suatu soal terutama soal cerita. Siswa hendaknya lebih terbuka kepada guru ketika mengalami kesulitan dalam memahami mateAori yang disampaikan agar dapat dicari jalan keluarnya. Bagi guru: . Guru diharapkan dapat mengidentifikasi kesalahan-kesalahan yang dialami siswa dalam mengerjakan soal sehingga guru mampu memberikan arahan yang tepat serta metode untuk mengurangi kesalahan yang terjadi. Guru diharapkan dapat menggunakan tahapan Kastolan dalam menganalisis kesalahan siswa ketika mengerjakan soal cerita kontekstual tidak hanya pada pokok bahasan trigonometri, namun juga pada materi yang . Guru diharapkan dapat memberikan latihan soal cerita yang lebih bervariasi dari yang sederhana hingga yang kompleks. Bagi penelitian selanjutnya diharapkan mampu mengembangkan penelitian yang telah dilakukan dengan lebih baik. DAFTAR PUSTAKA