Journal of Elementary Education : Strategies. Innovations. Curriculum and Assessment Volume 2 . November 2025, pp. E-ISSN : 3047-9398. DOI: https://doi. org/10. 61580/jeesica. Open Access: https://journal. id/index. php/jeesica/index Penggunaan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Dalam Meningkatkan Kemampuan Bercerita Siswa Aditya Permana Rahman1*. Asep Nursobah2. Acim3 1,2,PGMI. STAI Putra Galuh Ciamis. Jawa Barat. Indonesia 3,Perbankan Syariah. STAI Putra Galuh Ciamis. Jawa Barat. Indonesia *Email: aditrahman958@gmail. INFO ARTIKEL ABSTRAK Article history Kemampuan bercerita merupakan salah satu kapabilitas esensial siswa yang dapat ditingkatkan melalui metode pembelajaran yang relevan. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki tujuan untuk mengoptimalkan kemampuan bercerita pada siswa kelas II MIS PUI Gereba dengan mengimplementasikan model Problem Based Learning (PBL). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang berlangsung selama empat siklus, studi ini mengukur efektivitas model PBL. Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan pada kemampuan bercerita siswa. Nilai rata-rata siswa yang pada siklus pertama adalah 62, berhasil meningkat hingga mencapai 85 pada siklus keempat. Tingkat keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran juga menunjukkan kenaikan drastis, dari 65% di siklus pertama menjadi 90% di siklus terakhir. Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa model PBL sangat efektif untuk meningkatkan kemampuan bercerita siswa di kelas II MIS PUI Gereba. Model ini terbukti berhasil karena memberikan ruang bagi siswa untuk melatih kemampuan berpikir kritis, mengeksplorasi ide, serta membangun narasi cerita yang lebih terstruktur dan menarik. Selain itu, kerja sama dalam kelompok PBL secara efektif meningkatkan pemahaman, kreativitas, dan rasa percaya diri siswa saat tampil di depan kelas. Storytelling ability is an essential student capability that can be enhanced through relevant learning methods. This research, therefore, aims to optimize the storytelling skills of second-grade students at MIS PUI Gereba by implementing the ProblemBased Learning (PBL) model. Using a quantitative approach with a four-cycle Classroom Action Research (CAR) design, the study measures the model's The results demonstrate a significant improvement in students' storytelling abilities. The average student score increased from 62 in the first cycle to 85 in the fourth cycle. Student engagement also rose dramatically, from 65% in the first cycle to 90% in the final cycle. Thus, it is concluded that the PBL model is highly effective in enhancing the storytelling skills of second-grade students at MIS PUI Gereba. The model proves successful by providing a platform for students to practice critical thinking, explore ideas, and construct more structured and engaging Furthermore, collaboration within PBL groups effectively boosts students' comprehension, creativity, and confidence when presenting their stories. Received: 7 Juni 2025 Revised: 17 Juni 2025 Accepted: 29 November 2025 Kata Kunci: problem based learning, kemampuan bercerita, sekolah Keywords: problem based learning, storytelling ability, elementary PENDAHULUAN Kurikulum yang berlaku saat ini menggaris bawahi urgensi penguasaan keterampilan berbahasa bagi siswa sekolah dasar, yang mencakup kemampuan berbicara (Albina et al. Sejalan dengan itu. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 21 Tahun 2016 mengenai Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah menegaskan bahwa materi pembelajaran Bahasa Indonesia harus meliputi empat aspek utama: menyimak, berbicara, membaca, dan menulis (Maelasari, 2. Salah satu sasaran utama dari pembelajaran ini adalah membentuk siswa yang mampu mengartikulasikan ide dan gagasan mereka secara lisan dengan terstruktur, jelas, dan efektif. Dalam konteks ini, kemampuan bercerita menjadi salah JEESICA Vol. November 2025 Aditya Permana Rahman. Asep Nursobah. Acim satu kompetensi berbahasa yang krusial untuk dikembangkan di jenjang pendidikan dasar. Keterampilan ini tidak hanya terbatas pada aspek verbal, melainkan juga melibatkan kemampuan berpikir secara logis, menyusun ide, dan menyampaikan pesan dengan alur yang koheren (Marwah, 2. Akan tetapi, kondisi faktual di lapangan, khususnya di MIS PUI Gereba, menunjukkan bahwa kapabilitas berbicara siswa belum mencapai level yang diharapkan. Banyak siswa yang masih menghadapi kendala dalam menyampaikan gagasan lisan secara sistematis dan jelas. Sebagian siswa menunjukkan kecemasan saat harus berbicara di depan umum, kesulitan dalam menyusun kalimat yang logis, dan belum mampu mengembangkan alur cerita yang baik. Keterbatasan dalam pemahaman materi juga menjadi hambatan dalam pengembangan kemampuan berbicara mereka. Seperti yang dikemukakan oleh Maelasari, . , keterampilan berbicara sejatinya merupakan perpaduan antara kemampuan menyampaikan pesan dan kemampuan berpikir kritis serta mengorganisasi ide secara runtut. Fenomena ini menegaskan perlunya sebuah strategi pembelajaran yang efektif untuk mengasah keterampilan berbicara Untuk menjawab tantangan tersebut, model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) diajukan untuk meningkatkan kemampuan berbicara di kelas II MIS PUI Gereba. PBL adalah sebuah pendekatan yang menuntut partisipasi aktif siswa dalam menyelesaikan masalahmasalah kontekstual yang terkait dengan materi ajar. Melalui model ini, diharapkan siswa tidak hanya mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis, tetapi juga keterampilan berkomunikasi, terutama dalam konteks bercerita. Menurut Kurniawati & Nawir . PBL dapat secara efektif merangsang siswa untuk berpikir lebih mendalam dan terlibat aktif selama Oleh karena itu, implementasi model ini di kelas II MIS PUI Gereba diharapkan dapat menjadi solusi untuk meningkatkan kemampuan bercerita siswa. Sebelum implementasi model, sebuah observasi awal dilakukan untuk memetakan kemampuan dasar siswa dalam Data awal yang disajikan pada Tabel 1 menunjukkan sebaran kemampuan bercerita siswa kelas II sebelum intervensi PBL diterapkan. Tabel 1. Kemampuan Bercerita Siswa Kelas II Sebelum Penerapan PBL Kategori Nilai Jumlah Siswa Persentase (%) Ou 80 (Sangat Bai. 60-79 (Bai. 40-59 (Cuku. O 39 (Kuran. Sumber: Data Observasi Kelas II MIS PUI Gereba, 2025 Berdasarkan data pada tabel tersebut, terlihat bahwa mayoritas siswa terkonsentrasi pada kategori "Baik" dan "Cukup", namun terdapat 20% siswa yang masih berada di kategori "Kurang". Data ini mengindikasikan bahwa kemampuan bercerita siswa secara keseluruhan memerlukan peningkatan, khususnya bagi kelompok siswa dengan nilai rendah. Model Problem Based Learning (PBL) dipilih sebagai pendekatan solutif karena model ini tidak hanya mendorong keterlibatan aktif siswa, tetapi juga secara spesifik mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan berkomunikasi yang menjadi fondasi dari keterampilan bercerita. Dengan PBL, siswa diberi kesempatan untuk menganalisis masalah secara mandiri dan bersama-sama, yang kemudian dilanjutkan dengan menyampaikan solusi secara verbal. Proses ini relevan E-ISSN: 3047-9398 JEESICA Vol. November 2025 Aditya Permana Rahman. Asep Nursobah. Acim dengan peningkatan kemampuan bercerita karena siswa dituntut untuk mengorganisasikan dan menyampaikan ide-ide mereka secara runtut dan jelas. Menurut (Dheasari, 2. PBL secara efektif membantu siswa meningkatkan keterampilan berbicara karena mereka dilibatkan secara aktif dalam pemecahan masalah yang nyata. Oleh karena itu, model ini diharapkan mampu memberikan dampak positif dalam meningkatkan keterampilan bercerita siswa kelas II MIS PUI Gereba. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penerapan PBL dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan komunikasi lisan siswa. Penelitian pertama dari Aini et al. , dengan judul: AuPeningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Dengan Menggunakan Model Problem Based Learning (PBL) Pada Siswa Kelas IV MI Al-FalahAy menemukan bahwa siswa yang belajar menggunakan PBL menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan berfikir kritis termasuk pada keterampilan bercerita. Hal ini disebabkan oleh karakteristik PBL yang menuntut siswa untuk menyampaikan hasil pemikiran mereka kepada kelompok, sehingga memperkuat kemampuan berbicara dan bercerita mereka. Penelitian kedua dari Rakhmawati, . dengan judul: AuPengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dan Pemecahan Masalah pada Mata Pelajaran Administrasi UmumAy. Hasil penelitian menunjukakan bahwa siswa yang belajar menggunakan Problem Based Learning (PBL) memiliki kemampuan berfikir kritis untuk menyampaikan cerita atau gagasan dengan lebih terstruktur, karena mereka harus menjelaskan kepada teman sekelompok mereka mengenai solusi yang telah mereka temukan. Adapun penelitian dari Nurlaila & Mubarok . , dengan judul: AuImplementasi Metode Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam Meningkatkan Kemampuan Bercerita Pada Siswa Kelas IV MIS Nurul AoAmal CiamisAy. Hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan PBL di tingkat sekolah dasar, mampu meningkatkan kemampuan bercerita siswa. Namun penerapan metode ini khususnya di kelas rendah, sering kali menjadi tantangan. Siswa di kelas rendah sering kali memiliki keterbatasan dalam hal kemampuan berpikir abstrak dan berkomunikasi, sehingga diperlukan strategi pembelajaran yang tepat agar mereka dapat mengembangkan kemampuan bercerita dengan optimal. Berdasarkan hasil penelusuran literatur, terdapat beberapa persamaan dengan penelitian yang telah dilakukan terkait dengan penerapan model pembelajaran PBL dalam meningkatkan kemampuan bercerita siswa. Namun, terdapat perbedaan dengan penelitian-penelitian tersebut yang masih terbatas pada penerapan PBL di sekolah dengan kondisi siswa dan mata pelajaran yang berbeda-beda. Oleh karena itu, penelitian ini akan menerapkan model pembelajaran PBL pada siswa sekolah dasar dengan fokus pada peningkatan kemampuan bercerita. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai efektivitas PBL dalam meningkatkan kemampuan bercerita siswa kelas II, khususnya dalam konteks pembelajaran berbasis masalah. Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu: AuBagaimana penggunaan model Problem Based Learning (PBL) dalam meningkatkan kemampuan bercerita siswa kelas II di MIS PUI Gereba?Ay. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penerapan model Problem Based Learning (PBL) dalam meningkatkan kemampuan bercerita siswa kelas II di MIS PUI Gereba. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada guru dan sekolah mengenai efektivitas model E-ISSN: 3047-9398 JEESICA Vol. November 2025 Aditya Permana Rahman. Asep Nursobah. Acim PBL dalam meningkatkan kemampuan bercerita siswa, serta memberikan wawasan mengenai strategi pembelajaran yang dapat diterapkan untuk mengembangkan keterampilan berbicara dan bercerita pada siswa di sekolah dasar. II. KAJIAN PUSTAKA Model Problem Based Learning (PBL) PBL adalah sebuah pendekatan pembelajaran yang dirancang untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kemampuan memecahkan masalah melalui penyelesaian masalah yang kompleks dan tidak terstruktur (Asyafah, 2. PBL sebagai model pembelajaran yang menempatkan siswa dalam situasi di mana mereka dihadapkan pada masalah dunia nyata yang tidak terstruktur sebagai titik awal dari proses belajar (Salsabila & Muqowim, 2. PBL adalah pendekatan pembelajaran konstruktivis di mana siswa belajar melalui keterlibatan aktif dalam pemecahan dan penyelesaian masalah yang autentik (Sarnoto. PBL merupakan metode yang mengintegrasikan pemecahan masalah dengan Siswa terdorong untuk menemukan solusi terhadap masalah tersebut melalui penyelidikan, eksperimen, dan diskusi kelompok (Rohana, 2. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat dielaborasi bahwa PBL sebagai model pembelajaran yang menempatkan siswa dalam situasi di mana mereka dihadapkan pada masalah dunia nyata yang tidak terstruktur sebagai titik awal dari proses belajar. PBL merupakan metode yang mengintegrasikan pemecahan masalah dengan pembelajaran. Siswa terdorong untuk menemukan solusi terhadap masalah tersebut melalui penyelidikan, eksperimen, dan diskusi kelompok. Dalam model pembelajaran PBL, siswa bertanggung jawab atas pembelajarannya sendiri, dan guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa dalam memahami konsep atau materi yang diperlukan untuk memecahkan masalah yang Model pembelajaran PBL sebagai pendekatan pembelajaran konstruktivis di mana siswa belajar melalui keterlibatan aktif dalam pemecahan dan penyelesaian masalah yang autentik (Asyafah, 2019. Salsabila & Muqowim, 2024. Sarnoto, 2024. Rohana, 2. Adapun untuk langkah-langkahnya sebagai berikut: Orientasi terhadap masalah Guru memperkenalkan permasalahan nyata yang relevan dan dekat dengan kehidupan Permasalahan ini bersifat terbuka . pen-ende. dan memancing rasa ingin tahu Dalam konteks pembelajaran bercerita, siswa dapat diperkenalkan pada sebuah cerita yang belum lengkap atau peristiwa yang membutuhkan interpretasi dan penjelasan secara lisan. Mengorganisasi siswa untuk belajar Siswa dibagi ke dalam kelompok kecil. Guru menjelaskan tugas dan peran siswa dalam kelompok, serta membantu mereka memahami tujuan pembelajaran. Pada tahap ini, siswa mulai berdiskusi tentang bagaimana cara menyelesaikan masalah dan menyusun rencana penyelidikan. Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok Siswa mengumpulkan informasi melalui membaca, berdiskusi, dan melakukan eksplorasi terhadap sumber belajar yang relevan. Dalam konteks ini, siswa bisa membaca cerita pendek, mengamati gambar seri, atau mewawancarai teman tentang pengalaman mereka yang bisa dikembangkan menjadi narasi lisan. E-ISSN: 3047-9398 JEESICA Vol. November 2025 Aditya Permana Rahman. Asep Nursobah. Acim Mengembangkan dan menyajikan hasil karya Setelah penyelidikan selesai, siswa menyusun hasil belajar mereka dan menyampaikannya dalam bentuk cerita lisan. Mereka diminta untuk menyusun cerita berdasarkan data atau informasi yang telah dikumpulkan dan menyampaikannya secara runtut dan logis kepada kelompok atau di depan kelas. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah Guru bersama siswa melakukan refleksi terhadap proses dan hasil pembelajaran. Siswa mengevaluasi bagaimana mereka menyampaikan cerita, bagaimana alur logika cerita yang mereka buat, serta kemampuan mereka dalam berkomunikasi. Evaluasi ini bersifat formatif dan bertujuan untuk penguatan belajar. Memberikan umpan balik dan penilaian Guru memberikan umpan balik secara konstruktif terhadap kinerja siswa, baik dalam aspek proses berpikir maupun kemampuan bercerita yang ditampilkan. Penilaian tidak hanya mencakup hasil akhir, tetapi juga partisipasi, logika berpikir, dan keterampilan menyampaikan cerita. Pada konteks penelitian ini, metode Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif siswa dalam bekerja, memotivasi motivasi internal untuk belajar, serta mengembangkan hubungan interpersonal dalam kerja kelompok. Dengan penerapan PBL, pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa diajak untuk memecahkan masalah nyata, sehingga mereka menerapkan pengetahuan yang sudah dimiliki atau berusaha mencari pengetahuan baru yang diperlukan. Proses pemecahan masalah ini membantu siswa mengembangkan pengetahuan baru, meningkatkan rasa tanggung jawab atas pembelajaran yang mereka jalani, serta mendorong evaluasi mandiri terhadap hasil dan proses belajar. Dalam penelitian ini, siswa akan dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil sesuai dengan struktur pembelajaran PBL, di mana mereka berkolaborasi dalam memecahkan masalah yang disajikan dalam bentuk cerita atau skenario. Melalui kerja kelompok, siswa terlibat aktif dalam diskusi dan penyusunan cerita secara bersama-sama, yang diharapkan dapat secara signifikan meningkatkan kemampuan bercerita mereka. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning sebagai model yang dinilai memiliki berbagai kelebihan yaitu dapat membuat pendidikan di sekolah menjadi lebih relevan dengan kehidupan, khususnya dengan dunia kerja, dapat membiasakan para mahasiswa menghadapi dan memecahkan masalah secara terampil, yang selanjutnya dapat mereka gunakan pada saat menghadapi masalah yang sesungguhnya di masyarakat kelak, dapat merangsang pengembangan kemampuan berpikir secara kreatif dan menyeluruh, karena dalam proses pembelajarannya, para mahasiswa banyak melakukan proses mental dengan menyoroti permasalahan dari berbagai aspek. Kemampuan Bercerita Kemampuan bercerita adalah keterampilan dasar yang dikembangkan melalui interaksi sosial dan budaya (Marwah, 2. Dalam pandangannya, bercerita merupakan sarana penting bagi anak-anak untuk memahami dunia di sekitar mereka dan menghubungkan pengalaman hidup mereka dengan struktur naratif. Kemampuan bercerita bukan hanya soal menyampaikan peristiwa secara kronologis, tetapi juga cara seorang individu menyusun makna dari peristiwa tersebut dan menyampaikannya secara efektif kepada orang lain (Dheasari, 2. Menurut E-ISSN: 3047-9398 JEESICA Vol. November 2025 Aditya Permana Rahman. Asep Nursobah. Acim Heath, bercerita adalah aktivitas sosial yang memungkinkan anak-anak memahami nilai-nilai budaya dan moral yang melekat dalam cerita, serta mengembangkan kemampuan berkomunikasi yang efektif (Kemampuan bercerita adalah keterampilan dasar yang dikembangkan melalui interaksi sosial dan budaya (Muthohharoh et al. , 2. Dalam pandangannya, bercerita merupakan sarana penting bagi anak-anak untuk memahami dunia di sekitar mereka dan menghubungkan pengalaman hidup mereka dengan struktur naratif. Kemampuan bercerita bukan hanya soal menyampaikan peristiwa secara kronologis, tetapi juga cara seorang individu menyusun makna dari peristiwa tersebut dan menyampaikannya secara efektif kepada orang lain. Indikator kemampuan bercerita yang digunakan dalam penelitian ini . Mengidentifikasi struktur cerita, . Menggunakan unsur kebahasaan yang tepat, . Menyusun cerita berdasarkan urutan logis, dan . Menyimpulkan isi cerita dengan tepat (Marwah, 2. Berdasarkan pendapat di atas dapat dielaborasi bahwa kemampuan bercerita adalah salah satu bentuk utama dari representasi pemikiran manusia. Bercerita adalah aktivitas sosial yang menggunakan narasi sebagai cara utama untuk mengorganisasikan pengalaman dan membangun pemahaman tentang dunia. Dalam konteks pendidikan, kemampuan bercerita membantu siswa mengembangkan struktur berpikir yang logis dan koheren, yang sangat penting dalam memahami konsep-konsep akademik dan sosial. Bercerita juga memungkinkan individu untuk mengeksplorasi identitas diri dan peran sosial mereka. Dengan mengorganisasikan pengalaman mereka dalam bentuk narasi, siswa dapat menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah mereka miliki sebelumnya, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna (Marwah, 2022. Dheasari, 2020. Muthohharoh et al. Pada konteks penelitian saat ini, bahwa kemampuan bercerita sebagai hasil dari perkembangan sosial dan kognitif yang dipengaruhi oleh interaksi dengan orang lain. Proses bercerita juga mencerminkan perkembangan zona perkembangan proksimal, di mana anakanak belajar dari interaksi dengan orang dewasa dan teman sebaya, sehingga keterampilan bercerita mereka semakin kompleks seiring bertambahnya pengalaman dan bimbingan dari lingkungan social. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan bercerita adalah keterampilan dasar yang dikembangkan melalui interaksi sosial dan budaya dan bukan hanya soal menyampaikan peristiwa secara kronologis, tetapi juga cara seorang individu menyusun makna dari peristiwa tersebut dan menyampaikannya secara efektif kepada orang lain. Kemampuan bercerita adalah aktivitas sosial yang memungkinkan anak-anak memahami nilainilai budaya dan moral yang melekat dalam cerita, serta mengembangkan kemampuan berkomunikasi yang efektif yakni kemampuan bercerita sebagai keterampilan dasar yang dikembangkan melalui interaksi sosial dan budaya. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan mengacu pada model Kurt Lewin. Penelitian ini melibatkan kolaborasi antara peneliti dan guru kelas untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam pembelajaran, dengan E-ISSN: 3047-9398 JEESICA Vol. November 2025 Aditya Permana Rahman. Asep Nursobah. Acim tujuan memperbaiki proses pembelajaran dan meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini dilaksanakan dalam empat siklus, yang masing-masing terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Dalam pelaksanaannya, peneliti berperan sebagai perancang tindakan, fasilitator, dan pengamat, yang bertugas menyusun perangkat pembelajaran berbasis Problem Based Learning (PBL), merancang skenario pembelajaran, serta mengembangkan instrumen observasi dan penilaian kemampuan bercerita siswa. Peneliti juga melakukan observasi langsung terhadap aktivitas siswa dan proses pembelajaran untuk mendokumentasikan data yang diperlukan. Sementara itu, guru kelas berperan sebagai pelaksana utama dalam kegiatan pembelajaran, yang bertugas mengelola kelas, memandu diskusi kelompok, memberikan arahan kepada siswa, serta membimbing mereka dalam menyusun dan menyampaikan cerita secara lisan. Setelah pembelajaran selesai, peneliti dan guru kelas melakukan refleksi bersama untuk mengevaluasi efektivitas tindakan yang telah dilakukan dan merumuskan perbaikan untuk siklus berikutnya. Kolaborasi ini memastikan bahwa proses pembelajaran berjalan secara kontekstual, terarah, dan berdampak nyata terhadap peningkatan kemampuan bercerita siswa. Desain PTK dipilih karena memungkinkan peneliti untuk langsung terlibat dalam upaya perbaikan proses belajar mengajar, khususnya dalam meningkatkan kemampuan bercerita siswa kelas II di MIS PUI Gereba. Dengan metode ini, setiap siklus memberikan kesempatan untuk mengevaluasi proses pembelajaran dan melakukan penyesuaian tindakan pada siklus berikutnya (Kurniawati & Nawir, 2. Populasi dan Sampel Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik total sampling, yaitu pengambilan seluruh anggota populasi sebagai sampel. Teknik ini dipilih karena jumlah siswa kelas II MIS PUI Gereba relatif sedikit sehingga memungkinkan seluruh siswa dijadikan Total sampling sering disamakan dengan sampling jenuh, namun istilah sampling jenuh biasanya digunakan dalam penelitian kuantitatif yang menguji hubungan antar variabel dengan populasi kecil. Sedangkan total sampling lebih umum digunakan dalam penelitian deskriptif atau tindakan kelas. Dengan demikian, total sampling merupakan teknik yang tepat untuk penelitian ini karena seluruh populasi dijadikan sampel tanpa seleksi. Teknik Pengumpulan Data Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui tes pilihan ganda tentang kemampuan Tes ini diberikan pada setiap akhir siklus untuk mengukur perkembangan kemampuan bercerita siswa setelah penerapan model PBL. Tes ini mencakup beberapa aspek, seperti penyusunan alur cerita, penggunaan kosakata yang tepat, dan kemampuan menyampaikan cerita dengan intonasi yang baik. Penilaian kemampuan menyampaikan cerita dengan intonasi yang baik dilakukan dengan mengamati beberapa aspek penting. Pertama, variasi nada suara yang digunakan siswa untuk menekankan bagian-bagian penting dalam cerita serta menunjukkan emosi tokoh harus jelas dan sesuai. Selain itu, kejelasan pengucapan menjadi faktor utama agar cerita mudah dipahami oleh pendengar. Intonasi yang diterapkan juga harus selaras dengan isi dan suasana cerita, misalnya menggunakan nada ceria untuk bagian yang bahagia dan nada serius untuk bagian yang sedih. Penekanan pada kata-kata tertentu melalui pengaturan tekanan suara membantu menyampaikan pesan dengan lebih Kecepatan dan ritme bicara yang tepat turut mendukung intonasi sehingga cerita terdengar natural dan menarik. Dengan demikian, penilaian intonasi mencakup keseluruhan E-ISSN: 3047-9398 JEESICA Vol. November 2025 Aditya Permana Rahman. Asep Nursobah. Acim pengaturan suara yang membuat penyampaian cerita menjadi hidup dan komunikatif. Selama pelaksanaan pembelajaran, peneliti melakukan observasi untuk mencatat proses pembelajaran dan partisipasi siswa dalam diskusi kelompok. Lembar observasi digunakan untuk mengamati interaksi antarsiswa, penggunaan bahasa, dan keterlibatan mereka dalam kegiatan bercerita. Teknik Analisis Data Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan kualitatif. Analisis deskriptif digunakan untuk mengukur peningkatan kemampuan bercerita siswa berdasarkan hasil tes yang dilakukan pada setiap siklus. Selain itu, analisis kualitatif dilakukan terhadap data observasi yang bertujuan untuk memahami bagaimana proses penerapan PBL berdampak terhadap partisipasi dan motivasi siswa dalam bercerita. Hasil analisis ini digunakan untuk melakukan refleksi pada akhir setiap siklus dan merencanakan perbaikan tindakan pada siklus berikutnya. IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Hasil penelitian ini bertujuan untuk menjawab rumusan masalah yaitu: AuBagaimana penggunaan model Problem Based Learning (PBL) dalam meningkatkan kemampuan bercerita siswa kelas II di MIS PUI Gereba?Ay. Selanjutnya berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa penerapan model Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan kemampuan bercerita siswa kelas II di MIS PUI Gereba. Peningkatan ini dapat dilihat dari perbedaan nilai rata-rata kemampuan bercerita siswa sebelum dan sesudah penerapan PBL pada masing-masing siklus Pelaksanaan penelitian ini mengikuti desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kurt Lewin yang dilakukan dalam empat siklus kepada siswa kelas II di MIS PUI Gereba. Setiap siklus terdiri dari empat tahapan utama, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Berikut adalah perincian langkah-langkah yang dilaksanakan: Tahap Awal (Pra-Siklu. Observasi Awal. Peneliti melakukan observasi dan tes awal untuk mengidentifikasi kemampuan bercerita siswa kelas II sebelum penerapan model PBL. Identifikasi Masalah. Hasilnya menunjukkan bahwa banyak siswa masih kesulitan menyampaikan cerita secara terstruktur, dengan nilai rata-rata awal sebesar 60. Sebanyak 20% siswa berada dalam kategori "Kurang". Data lebih rinci mengenai distribusi kemampuan bercerita siswa sebelum intervensi dapat dilihat pada Tabel 1 berikut: Tabel 2. Hasil observasi kemampuan bercerita siswa kelas II MIS PUI Gereba 2025 Kategori Nilai Jumlah Siswa Persentase (%) 1 Ou 80 (Sangat Bai. 60-79 (Bai. 40-59 (Cuku. O 39 (Kuran. Sumber: Hasil observasi kemampuan bercerita siswa kelas II MIS PUI Gereba, 2025. Siklus I E-ISSN: 3047-9398 JEESICA Vol. November 2025 Aditya Permana Rahman. Asep Nursobah. Acim Perencanaan. Guru bersama peneliti merancang rencana pembelajaran dengan menerapkan model Problem Based Learning (PBL), menyiapkan skenario masalah, dan menyusun lembar observasi serta tes untuk akhir siklus. Pelaksanaan. Model PBL diterapkan di kelas. Siswa dibagi ke dalam kelompokkelompok kecil untuk berdiskusi dan memecahkan masalah yang disajikan dalam bentuk cerita. Observasi. Peneliti melakukan pengamatan terhadap interaksi dan partisipasi siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Refleksi. Hasil tes akhir siklus I menunjukkan peningkatan nilai rata-rata menjadi 62, dengan keterlibatan siswa mencapai 65%. Analisis pada tahap ini menjadi dasar untuk melakukan perbaikan pada siklus berikutnya. Siklus II hingga IV Perencanaan Ulang. Berdasarkan refleksi dari siklus sebelumnya, peneliti dan guru melakukan penyesuaian pada tindakan untuk siklus berikutnya. Ini termasuk modifikasi pada skenario masalah atau bimbingan yang lebih intensif pada kelompok. Pelaksanaan dan Observasi Berkelanjutan. Tindakan perbaikan diimplementasikan pada setiap siklus. Proses observasi terus dilakukan untuk memantau perkembangan kemampuan bercerita dan partisipasi siswa. Tes kemampuan bercerita juga diberikan di setiap akhir siklus. Refleksi Akhir. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang konsisten di setiap Pada siklus kedua, nilai rata-rata siswa mencapai 80. Proses ini terus berlanjut hingga siklus keempat, di mana nilai rata-rata kemampuan bercerita siswa mencapai puncaknya di angka 85, dengan persentase keterlibatan siswa sebesar 90%. Peningkatan ini menunjukkan bahwa penerapan model PBL melalui tahapan PTK yang sistematis terbukti efektif. Data hasil tes kemampuan bercerita siswa disajikan dalam tabel berikut: Tabel 3. Data Hasil Tes Kemampuan Bercerita Siswa Siklus Rata-rata Standar Deviasi 1 Pra-siklus Siklus I Siklus II 4 Siklus i 5 Siklus IV Sumber: Data Penelitian Siswa Kelas II MIS PUI Gereba, 2025 Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa rata-rata kemampuan bercerita siswa mengalami peningkatan yang signifikan dari pra-siklus hingga siklus IV. Pada pra-siklus, rata-rata kemampuan siswa berada di angka 60 dengan standar deviasi 7. Setelah penerapan model Problem Based Learning (PBL), nilai rata-rata meningkat secara bertahap menjadi 70 pada siklus I, 80 pada siklus II, 83 pada siklus i, dan mencapai 85 pada siklus IV dengan standar deviasi yang semakin menurun, yaitu dari 7 menjadi 2. Penurunan standar deviasi ini menunjukkan hasil belajar yang semakin merata di antara siswa. Hal ini mengindikasikan bahwa penerapan model PBL berhasil meningkatkan kemampuan bercerita siswa secara efektif dan konsisten sepanjang proses penelitian. E-ISSN: 3047-9398 JEESICA Vol. November 2025 Aditya Permana Rahman. Asep Nursobah. Acim Rata-rata Rata-rata Pra-siklus Siklus I Siklus II Siklus i Siklus IV Gambar 1. Perbandingan Rata-rata Kemampuan Bercerita Siswa Berdasarkan tabel dan gambar di atas, terlihat bahwa model pembelajaran PBL memberikan dampak positif dalam meningkatkan kemampuan bercerita siswa. Selain itu, standar deviasi yang semakin kecil pada siklus II menunjukkan bahwa penerapan PBL tidak hanya meningkatkan kemampuan bercerita secara keseluruhan, tetapi juga membuat kemampuan tersebut lebih merata di antara siswa. Selain peningkatan hasil tes, data hasil observasi juga menunjukkan perubahan positif dalam proses pembelajaran. Selama pelaksanaan tindakan, peneliti menggunakan lembar observasi untuk mencatat partisipasi dan interaksi siswa dalam kegiatan kelompok PBL. Hasil observasi menunjukkan adanya peningkatan keterlibatan siswa secara signifikan dari siklus pertama hingga siklus terakhir. Pada siklus pertama, tingkat keterlibatan siswa dalam pembelajaran tercatat sebesar 65%, dan angka ini meningkat menjadi 90% pada siklus keempat. Siswa terlihat lebih aktif berdiskusi, berani berbagi ide, dan saling memberikan masukan saat menyusun cerita bersama dalam kelompok. Proses ini menunjukkan bahwa penerapan model PBL tidak hanya berdampak pada nilai, tetapi juga pada partisipasi aktif dan motivasi siswa dalam kegiatan bercerita. Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian melalui hasil tes dan observasi diperoleh hasil penerapan model Problem Based Learning (PBL) terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan bercerita siswa kelas II di MIS PUI Gereba. Hal ini terlihat dari peningkatan nilai rata-rata kemampuan bercerita siswa dari pra-siklus ke siklus II. Beberapa faktor yang mendukung peningkatan ini antara lain pendekatan pembelajaran berbasis masalah yang mendorong siswa untuk lebih aktif berpikir kritis, berkomunikasi, dan bekerja sama dalam kelompok. Hal ini sejalan dengan teori Merlin, . , bahwa penerapan PBL memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan bercerita mereka melalui proses pemecahan masalah yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Dalam proses ini, siswa tidak hanya dilatih untuk menyusun cerita dengan baik, tetapi juga mengasah kemampuan mereka dalam memahami, menyusun alur, serta menyampaikan cerita dengan cara yang menarik. PBL mendorong siswa untuk lebih kreatif dan reflektif dalam mengembangkan cerita mereka. Selain itu, keberhasilan PBL dalam meningkatkan kemampuan bercerita juga disebabkan oleh interaksi sosial yang terjadi selama proses pembelajaran. Sebagaimana diungkapkan E-ISSN: 3047-9398 JEESICA Vol. November 2025 Aditya Permana Rahman. Asep Nursobah. Acim Nurlaila & Mubarok . , bahwa melalui kerja kelompok, siswa dapat saling berbagi ide, memperbaiki kesalahan, dan memberikan masukan satu sama lain, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas cerita yang mereka buat dan presentasikan. Hal ini diperkuat oleh Nasution . , yang menyatakan bahwa PBL efektif dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan bercerita. Penelitian ini menunjukkan bahwa PBL memberikan dampak positif pada perkembangan keterampilan berbahasa siswa, khususnya dalam konteks penyampaian cerita. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yaitu dari Aini et al. , . bahwa siswa yang belajar menggunakan PBL menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan berfikir kritis termasuk pada keterampilan bercerita. Selanjutnya dari Rakhmawati, . bahwa siswa yang belajar menggunakan Problem Based Learning (PBL) memiliki kemampuan berfikir kritis untuk menyampaikan cerita atau gagasan dengan lebih terstruktur, karena mereka harus menjelaskan kepada teman sekelompok mereka mengenai solusi yang telah mereka temukan. Adapun penelitian dari Nurlaila & Mubarok . , bahwa penerapan PBL di tingkat sekolah dasar, mampu meningkatkan kemampuan bercerita siswa. Keterbaruan penelitian ini terletak pada penerapan spesifik model Problem-Based Learning (PBL) untuk meningkatkan kemampuan bercerita siswa kelas II. Meskipun penelitian sebelumnya telah mengonfirmasi bahwa PBL dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis yang menjadi dasar kemampuan bercerita, dan penelitian lain telah menunjukkan efektivitasnya dalam meningkatkan kemampuan bercerita di tingkat sekolah dasar secara umum, penelitian ini menjawab tantangan yang lebih spesifik. Penerapan PBL pada siswa kelas rendah sering kali menghadapi kendala karena keterbatasan kemampuan berpikir abstrak dan komunikasi Oleh karena itu, penelitian ini membedakan dirinya dari karya-karya sebelumnya dengan berfokus pada demografi yang lebih muda dan konteks sekolah yang berbeda, sehingga menawarkan wawasan baru tentang bagaimana PBL dapat diadaptasi secara efektif untuk meningkatkan kemampuan bercerita khusus untuk siswa kelas II. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi praktis mengenai efektivitas PBL untuk kelompok usia dan keterampilan khusus ini. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi praktis bagi para guru dalam merancang strategi pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kemampuan bercerita siswa. Penggunaan PBL tidak hanya meningkatkan kemampuan bercerita, tetapi juga memotivasi siswa untuk lebih terlibat dalam proses pembelajaran melalui pendekatan yang menantang dan relevan dengan dunia nyata. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan bercerita siswa kelas II di MIS PUI Gereba, yang terlihat dari peningkatan ratarata nilai kemampuan bercerita dari 60 pada pra-siklus menjadi 85 pada siklus IV, dengan penurunan standar deviasi dari 7 menjadi 2 yang menunjukkan hasil belajar yang semakin Penerapan PBL memberikan kesempatan bagi siswa untuk berpikir kritis, mengembangkan ide, serta menyusun dan menyampaikan cerita dengan lebih baik. Interaksi E-ISSN: 3047-9398 JEESICA Vol. November 2025 Aditya Permana Rahman. Asep Nursobah. Acim dalam kelompok PBL memperkuat pemahaman dan kreativitas siswa sekaligus meningkatkan rasa percaya diri mereka dalam menyampaikan cerita di depan kelas. Pendekatan kolaboratif ini memfasilitasi siswa saling berbagi ide dan memberikan umpan balik konstruktif, sementara pembelajaran berbasis masalah yang relevan dengan kehidupan sehari-hari membuat siswa lebih termotivasi dan aktif, sehingga suasana belajar menjadi lebih menyenangkan dan Saran Berdasarkan kesimpulan di atas, diajukan beberapa saran sebagai berikut: Bagi Guru Guru diharapkan dapat menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) secara lebih luas dalam pembelajaran kemampuan bercerita, dengan memperhatikan tahapan-tahapan yang telah terbukti efektif. Selanjutnya guru perlu memberikan bimbingan yang tepat saat siswa bekerja dalam kelompok untuk memastikan bahwa setiap siswa berkontribusi dan memperoleh manfaat dari proses pembelajaran berbasis masalah ini. Bagi Sekolah Sekolah diharapkan mendukung implementasi model PBL dengan menyediakan fasilitas pembelajaran yang memadai, seperti ruang kelas yang memungkinkan siswa bekerja dalam kelompok secara efektif. Sekolah perlu memberikan pelatihan kepada guru mengenai penerapan model pembelajaran inovatif seperti PBL, sehingga guru dapat mengoptimalkan pembelajaran dan meningkatkan kualitas pendidikan. Bagi Peneliti Selanjutnya Peneliti selanjutnya diharapkan dapat memperluas penelitian ini pada mata pelajaran lain yang juga membutuhkan kemampuan komunikasi dan berpikir kritis, seperti pelajaran bahasa Indonesia atau sains. Peneliti dapat menambahkan variabel lain, seperti pengaruh PBL terhadap motivasi belajar dan keaktifan siswa dalam pembelajaran, sehingga dapat memberikan wawasan yang lebih komprehensif mengenai efektivitas PBL. Peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan metode penelitian yang berbeda, seperti penelitian tindakan kelas (PTK), untuk melihat pengaruh PBL dalam jangka waktu yang lebih panjang dan dalam konteks yang berbeda. REFERENSI