Jurnal AbdiMU : Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 1 No. 2 | November 2021 : 39-47 DOI: 10. e-ISSN: 2797-3468 https://jurnal. id/index. php/abdimu/index Pemanfaatan Tanah Subur Melalui Pendampingan Budidaya Sayuran Secara Organik Lia Apriatin1. Lia Kamelia2 1Manajemen Fakutas Ekonomi dan Bisnis Islam. UIN SGD Bandung. Indonesia 2Fakultas Sains dan teknologi. UIN SGD Bandung. Indonesia kamelia@uinsgd. Received : NovAo 2021 Revised : NovAo 2021 Accepted : DecAo 2021 Published :DecAo 2021 ABSTRACT Cisauheun is a beautiful environment where the majority of the population works as farmers. The vast agricultural area and fertile soil make many farmers use their land to grow rice, but in Cisauheun cultivation to grow vegetables is still low, this is due to low knowledge and skills in cultivating vegetables. Therefore, community empowerment this time is one of the focuses with the implementation of an empowerment program through vegetable cultivation training in the Cisauheun environment. The method used in this activity is in the form of planting training with the help of organic fertilizer. We aim to improve the knowledge and skills of the cisauheun community in cultivating vegetables well while helping to provide opportunities for the community to make the vegetables they grow as additional income for their families. In the process of implementing the training as well as direct practice, the training on vegetable cultivation went smoothly and there were not many obstacles. The results we got from the cultivation of these vegetables were the planting of seeds of garlic, shallots, sausin, kale and chilies in an empty land called "greeunhose cisauheun" . The vegetable plants will later be maintained by a group of housewives who collaborate with mosque youth. Keyword: community engagement. ABSTRAK Cisauheun merupakan lingkungan asri yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai Kawasan pertaniannya yang luas dan tanahnya yang subur, membuat banyak petani yang memanfaatkan lahannya untuk menanam padi, namun di cisauheun budidaya untuk menanam sayuran masih rendah, hal itu disababkan rendahnya pengetahuan dan keterampilan dalam membudidayakan sayuran. Maka dari itu pemberdayaan masyarakat kali ini salah satunya difokuskan dengan dilaksanakannya program pemberdayaan melalui pelatihan budidaya sayuran di Lingkungan Cisauheun. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini berbentuk pelatihan menanam dengan bantuan pupuk organik. Penulis memiliki tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat Cisauheun dalam membudidayakan sayuran dengan baik sekaligus membantu memberi peluang kepada masyarakat untuk menjadikan sayuran yang ditanamnya sebagai penghasilan tambahan untuk keluarga mereka. Dalam proses pelaksanaan pelatihan sekaligus praktek langsungnya, pelatihan budidaya sayuran berjalan dengan lancar dan tidak ada banyak kendala. Hasil yang penulis dapat dari budidaya sayuran tersebut yaitu tertanamnya benih bawah putih, bawang merah, sausin, kangkung dan cabai di lahan kosong bernama Jurnal AbdiMU : Pengabdian Kepada Masyarakat e-ISSN: 2797-3468 AuGreeunhose CisauheunAy. Tanaman sayuran tersebut nantinya akan dipelihara oleh kelompok Ibu Rumah Tangga yang berkolaborasi dengan remaja masjid. Kata Kunci : greenhouse. PENDAHULUAN Lingkungan Kelurahan Situbatu merupakan salah satu desa/kelurahan dengan luas wilayah 498 Ha, yang ada di kecamatan Banjar. Kota Banjar. Jawa Barat. Dengan jumlah penduduk 4358 jiwa terdiri dari 2201 jiwa berjenis kelamin laki-laki dan 2157 jiwa berjenis kelamin perempuan yang tersebar di 3 lingkungan, yaitu lingkungan Awiluar. Lingkungan Cisauheun dan lingkungan Bojong. Penduduk dikelurahan Situbatu khususnya Lingkungan Cisauheun sebagian besar bekerja di sektor pertanian dan buruh tani karena berada di lingkungan yang subur. Definisi Kesuburan tanah merupakan kondisi suatu tanah yang mempunyai kemampuan untuk menyediakan unsur hara essensial untuk tanaman tanpa memberi efek racun dari hara yang ada . Begitupun menurut Brady yang mengatakan bahwa kesuburan tanah merupakan kemampuan suatu tanah untuk menyediakan unsur hara essensial dengan jumlah dan proporsi yang seimbang untuk pertumbuhan. Sebagaimana yang dikatakan juga oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kementrian Pertanian, 2014, bahwa Tanah dapat dikatakan subur apabila tanaman yang ditanam di atasnya bisa tumbuh dan berkembang secara baik dan produksinya tinggi setiap tahun. Jadi kesuburan tanah adalah istilah yang menunjukkan tingkat subur atau tidaknya tanah untuk pertanian atau menanaman tumbuhan baik buah ataupun sayuran . sehingga sangat wajar ketika mayoritas penduduk Lingkungan Cisauheun bekerja sebagai petani . Salah satu permasalahan yang diketahui dari hasil diskusi pada saat dilakukan survei awal di kelurahan situbatu khususnya Lingkungan Cisauheun yaitu rendahnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam membudidayakan sayuran padahal tanahnya begitu subur dan dapat menjadi peluang yang sangat bagus untuk menambah penghasilan masyarakat ketika tanahnya ditumbuhi oleh sayur-sayuran. Lingkungan Cisauheun yang merupakan salah satu wilayah di kelurahan situbatu adalah tempat yang kaya akan tanahnya yang subur, sehingga layaknya tanah surga, apapun yang ditanam pasti akan tumbuh dengan baik. Mayoritas penduduk Lingkungan Cisauheun yang bekerja sebagai petani menunjukan bahwa tanah yang subuh menjadi berkah dan tonggak kehidupan masyarakat disana. Dengan modal tanah yang subur, hal ini dapat memberi peluang yang banyak untuk memajukan ekonomi masyarakat, mereka bisa menanam berbagai tanaman dan dapat menjual ke pasaran sehingga bisa menghasilkan uang dari berbagai tanaman yang ditanamnya, baik padi, buah ataupun sayuran. Namun setelah ditelusuri, hal yang disayangkan dari Lingkungan Cisauheun adalah minimnya masyarakat yang melakukan budidaya sayuran. Padahal sayuran merupakan kebutuhan pangan pokok kedua setelah padi yang sering dikonsumsi dan sering juga dibeli dipasaran oleh masyarakat. Seperti yang Jurnal AbdiMU : Pengabdian Kepada Masyarakat e-ISSN: 2797-3468 kita ketahui bersama juga bahwa sayur merupakan bahan pangan yang sangat memberi manfaat bagi tubuh. Tarutama untuk mendukung kebutuhan akan Vitamin merupakan kelompok senyawa organik yang tidak termasuk dalam golongan protein, karbohidrat maupun lemak. (Moch, agus Krisno Budiyono. Melihat salah satu permasalahan Lingkungan Cisauheun mengenai rendahnya pengetahuan dan keterampilan dalam membudidayakan sayuran, serta banyaknya Ibu Rumah Tangga dan kelompok usia muda yang masih sekolah, maka penulis melalui kegiatan pemberdayaan ini akhirnya memfokuskan salah satu program khusus di Lingkungan Cisauheun agar dapat membantu memberi pelatihan berikut praktek budidaya sayuran khususnya kepada Ibu Rumah Tangga dan kelompok remaja masjid yang masih sekolah sehingga nantinya ada kegiatan positif yang bisa dilakukan selain menjadi Ibu Rumah Tangga dan anak sekolah, yaitu membudidayakan sayuran di lingkungannya dengan baik sesuai bekal yang sudah didapat dari pelatihan budidaya sayuran yang diselenggarakan oleh kelompok KKN. Dan nanti hasil dari sayuran yang ditanamnya dapat dijual sehingga dapat menjadi penghasilan tambahan untuk keluarganya. Keuntungan dari budidaya sayuran adalah masyarakat dapat mengkonsumsi hasil sayuran yang telah ditanamnya tanpa harus beli ke tukang sayur sehingga menghemat pengeluaran rumah tangganya, dan mereka juga dapat menghasilkan uang ketika sayurannya dijual ke orang lain ataupun kepasar . Sayuran yang akan dibudidayakan yaitu berupa kangkung, sausin, bawang merah, bawang putih dan cabai yang merupakan sayuran yang banyak dicari oleh Ibu Rumah Tangga khususnya yang berada di masyarakat Lingkungan Cisauheun, juga merupakan tanaman yang bakal tumbuh subur nantinya, tutur kata dari ibu astri yang merupakan ibu RT di Lingkungan Cisauheun. Salah satu faktor utama dalam meningkatkan produksi tanaman sayuran adalah dengan memberikan pupuk, baik pupuk kimia ataupun pupuk organik. Pupuk organik sendiri merupakan hasil fermentasi dari bahan-bahan organik berupa sisa tanaman, ternak yang diproses sehingga berubah menjadi bentuk padat ataupun cair yang dapat memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah . Selain itu, pupuk berguna untuk menunjang pertumbuhan tanaman dan menekan kehilangan hasil yang diakibatkan oleh serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) serta dapat menjagakualitas hasil pertanian . Namun sayangnya, limbah rumah tangga maupun limbah pertanian, kotoran ternak sampai saat ini belum dimanfaatkan oleh masyarakat, hal ini terjadi karena rendahnya pengetahuan masyarakat. Padahal limbah rumah tangga yang sebagian besar adalah sampah organik bisa dijadikan sebagai bahan untuk menghasilkan pupuk organik . Sehingga tim pengabdi mencoba membudidayakan sayuran dengan memanfaatkan pupuk organik yang berasal dari kotoran ternak kamping dan sapi. Berangkat dari permasalahan dan potensi yang dimiliki oleh Lingkungan Cisauheun, maka penulis memutuskan untuk membuat program pelatihan sekaligus praktek langsung budidaya sayuran. Sasaran yang penulis tuju yaitu Ibu Rumah Tangga dan anak remaja mesjid Lingkungan Cisauheun. Saat itu hal yang Jurnal AbdiMU : Pengabdian Kepada Masyarakat e-ISSN: 2797-3468 pertama kali dilakukan yaitu sosialisasi kepada Ibu Rumah Tangga dan masyarakat cisauheun mengenai program kerja yang akan dilaksanakan di lingkungan tersebut, disini penulis menjelaskan apa saja materi yang ingin disampaikan untuk bekal budidaya sayuran dan sedikit penulis jelaskan mengenai sestem pertanian organik. Pertanian organik merupakan pertanian yang berkelanjutan karena ikut melestarikan lingkungan dan memberikan keuntungan pada pembangunan Hal ini merupakan sistem terbaik menurut penulis yang bisa dilakukan dalam budidaya sayuran nanti . METODE Dalam melaksanakan kegiatan pengabdian ini, tim pengabdi menggunakan metode langsung yang terbagi dalam 4 tahap sesuai yang sudah diarahkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UIN Sunan Gunung Djati Bandung berupa 4 tahapan siklus . , yaitu: Tahap pertama berupa sosialisasi awal, rembug warga (Soswal & RW) dan refleksi social, di tahap ini penulis mengajak tokoh masyarakat diluar pemerintah untuk berkumpul dan berdiskusi santai sambil mengidentifikasi berbagai masalah, kebutuhan, potensial dan harapan masyarakat untuk Lingkungan Cisauheun agar lebih baik dan makmur lagi. Tahap kedua yaitu pemetaan sosial dan pengorganisasian masyarakat, ditahap ini penulis memilih organisasi sehat dan aktif yang akan dijadikan motor penggerak pemberdayaan masyarakat, di tahap ini penulis memilih remaja mesjid untuk dijadikan motor penggerak karena merupakan organisasi yang aktif dilingkungan tersebut, dan tempat budidaya sayuran ini juga dekat sekali dengan mesjid DKM Lingkungan Cisauheun. Setelah dipilih, barulah penulis dan remaja mesjid melakukan pemetaan hasil dari refleksi sosial. Gambar 1. Tahapan Siklus KKN-DR Sisdamas Selanjutnya tahap ketiga yaitu tahap perencanaan program, ditahap ini penulis berdiskusi untuk menyusun program kerja dari hasil diskusi bersama tokoh masyarakat dan menetapkan prioritas sesuai kesepakatan dengan masyarata, dan diambillah salah satu program kerjanya yaitu pelatihan budidaya sayuran untuk mesyarakat cisauheun yang akan dilakukan oleh Ibu Rumah Tangga dan anak Jurnal AbdiMU : Pengabdian Kepada Masyarakat e-ISSN: 2797-3468 remaja masjid di Lingkungan Cisauheun, lalu setelah itu penulis sosialisasikan program penulis ke masyarakat. Tahap keempat yaitu tahap pelaksanaan program dan monitoring evaluasi, ditahap ini penulis melaksanakan program yang sudah dirancang sebelumnya yaitu pertamanya penulis bekerjasama dengan RT dan Remaja masjid untuk membentuk tim pelaksana program, selanjutnya penulis melaksanakan program yang telah dirancang pelatihan sekaligus praktek langsung dalam budidaya sayuran di Lingkungan Cisauheun Kemudian kelompok KKN dan tim melakukan tugas monitoring dan evaluasi dengan mengecek kembali hasil pelaksanaan HASIL DAN PEMBAHASAN Pertemuan Awal dengan Ibu Rumah Tangga dan Anggota Remaja Masjid Lingkungan Cisauheun Didalam pertemuan ini penulis menjelaskan pentingnya mengkonsumsi sayuran, apa saja kandungan atau manfaat yang berada disayuran tersebut, lalu menjelaskan potensi tanah Lingkungan Cisauheun yang subur dan baik untuk budidaya sayuran, apa saja alat-alat dan bahan pendukung yang harus disiapkan serta mendiskusikan sayuran apa saja yang sebaiknya ditanam di Lingkungan Cisauheun. Lalu dapatlah hasil bahwa jenis sayuran yang akan ditanam yaitu kangkung, sausin, bawang merah, bawang putih dan cabai. Gambar 2. Pertemuan Awal Dengan Anggota IRT dan Remaja Masjid Persiapan dan Penyerahan Alat dan Bahan Pendukung Kegiatan Budidaya Pada tahap persiapan ini penulis melakukan kegiatan meliputi pengadaan benih-benih sayuran berupa kangkung, sausin, bawang merah, bawang putih dan cabai, benih-benih tersebut penulis beli di Kelompok Wanita Tani (KWT) Lingkungan Awiluar Kelurahan. Situbatu, lalu menyiapkan peralatan budidaya untuk persiapan tanam seperti cangkul, alat siraman, garpu tangan, dan sekop yang didapat dari pinjaman warga sekitar Lingkungan Cisauheun, lalu penulis siapkan juga pupuk organik dan media tanam berupa polybag dan styrofoam. Menurut (Idriana, et al, 2. , beberapa keunggulan sistem pertanian organik dibanding sistem pertanian lainnya antara lain, turut menjamin kelangsungan ekosistem pertanian, biaya produksi lebih hemat dengan harga jual Jurnal AbdiMU : Pengabdian Kepada Masyarakat e-ISSN: 2797-3468 yang lebih tinggi, produk lebih sehat, menjamin keberlanjutan, turut membangun kemandirian petani dan perspektif gender. Setelah penulis menjelaskan mengenail program kerja yang akan penulis laksanakan di Lingkungan Cisauheun, mereka sangat menyambut baik program ini serta bersedia turut andil untuk mengikuti pelatihan dan praktek langsung budidaya sayuran. Setelah itu tiga hari kemudian setelah sosialisasi, penulis mulai mempersiapkan benih. Peralatan dan media yang akan digunakan untuk menanam di lokasi atau lahan kosong yang sudah disediakan oleh RT Lingkungan Cisauheun. Gambar 3. Tempat Untuk Budidaya Sayuran Setelah itu benih sayuran, media tanam, pupuk dan peralatan tersebut diserahkan kelompok Ibu Rumah Tangga dan remaja masjid untuk selanjutnya dilakukan persiapan tanam pada lahan kosong yang sudah disiapkan oleh RT Lingkungan Cisauheun yang berada tapat dibelakang masjid Ar rahman. Pematerian Pelatihan Budidaya Sayuran dengan Bantuan Pupuk Organik Sebelum dilakukan penyuluhan, penulis terlebih dahulu memberikan daftar pertanyaan kepada kelompok Ibu Rumah Tangga dan anggota remaja mesjid untuk dilakukan penggalian informasi tentang pengetahuan budidaya sayuran, agar dapat mengetahui sejauh mana pengetahuan mereka tentang budidaya sayuran. Kegiatan selanjutnya yaitu penyampain materi budidaya sayuran yang dilakukan dengan metode penyuluhan dan diskusi. Beberapa hal penting yang disampaikan dalam pematerian tersebut yaitu berkenaan dengan teknik budidaya diantaranya yaitu kegiatan persiapan lahan, media tanam berupa tanah, kompos dan sekam bakar, jenis-jenis pupuk organik, teknik pembibitan, pindah tanam, terakhir yaitu pemupukan. Setelah pelaksanaan penyuluhan budidaya sayuran, anggota kelompok Ibu Rumah Tangga dan anggota remaja masjid akan mempraktekkan secara bersama pada lahan yang yang diberi nama Augreenhouse cisauheunAy yang telah disediakan. Selain itu penulis juga memperkenalkan jenis jenis pupuk organik kepada anggota antara lain pupuk kandang, pupuk hijau, dan kompos, namun pupuk yang penulis gunakan saat ini yaitu pupuk kandang dari kotoran sapi dan kambing. Jurnal AbdiMU : Pengabdian Kepada Masyarakat e-ISSN: 2797-3468 Gambar 4. Pematerian Pemupukan Praktek Budidaya Sayuran Pada tahap praktek ini, pertama yang dilakukan yaitu siapkan media tanam sebelum menanam tanaman di polybag, lalu mencampurkan tanah, pupuk dan sekam bakar dengan menggunakan perbandingan 2:1:1 dengan komposisi tanah lebih banyak, setelah itu barulah media tanam yang sudah di olah tersebut dimasukan ke polybag dan styrofoam. Gambar 5. Mencampurkan Tanah. Pupuk Dan Sekam Bakar Setelah media tanam dimasukan ke polybag, selanjutnya yaitu proses penanaman bahan tanam, bahan tanam yang digunakan berupa benih dan tanaman langsung yang sudah penulis siapkan, karena penulis menanam benih dan tumbuhan langsung, maka berbeda proses menanamnya, menanam menggunakan benih terlebih dahulu penulis melubangi media tanam dengan kedalaman yang pendek sekitar satu ruas jari, dan untuk menanam tanaman langsung penulis perlu melubangi sekitar satu jari telunjuk atau disesuaikan dengan panjangnya batang yang digunakan. Setelah bahan tanam di tanam, lalu penulis menyiram benih yang sudah ada didalam polybag dan styrofoam menggunakan air. Selain menggunakan alat polybag styrofoam, penulis juga menanam tanaman langsung sayuran di lahan tanah kososngnya langsung khususnya pada tanaman kangkung. Analisis secara kritis dan dikaitkan dengan literatur terkini yang relevan. Jurnal AbdiMU : Pengabdian Kepada Masyarakat e-ISSN: 2797-3468 Gambar 6. Kondisi greenhouse Cisauheun yang telah ditumbuhi sayuran Dalam proses pelaksanaan pelatihan sekaligus praktek langsungnya, kegiatan tersebut berjalan dengan lancar dan tidak ada banyak kendala yang penulis hadapi karena masyarakatnya yang ulet dan tekun ketika mendengar pematerian yang penulis berikan, materinya yang penulis tuangkan sesederhana dan seringan mungkin agar dapat dipahami oleh anggota Ibu Rumah Tanggan dan anggota remaja mesjid Lingkungan Cisauheun. Selain itu karena latar belakang mereka adalah sebagai seorang petani, sehingga sedikit tahu tentang bagaimana bercocok tanam. Hasil yang penulis dapat dari bercocok tanam tersebut ialah tertanamnya benih bawah putih, bawang merah, sausin, kangkung dan cabai di lahan kosong bernama Augreeunhose cisauheunAy. Tanaman sayuran tersebut nantinya akan dipelihara oleh kelompok Ibu Rumah Tangga yang berkolaborasi dengan remaja Hasil yang diperoleh apabila program ini dapat berlanjut adalah: Budidaya sayuran ini dapat dijadikan sebagai peluang usaha untuk menambah penghasilan keluarga dan meningkatkan ekonomi masyarakat Lingkungan Cisauheun. Dapat menghemat pengeluaran karena tidak perlu membeli sayuran ke pasar atau kewarung. Dapat memanfaatkan potensi dan peluang dari Lingkungan Cisauheun yang kaya akan tanahnya yang subur sekaligus mengurangi pengangguran. Memulai kebiayaan gaya hidup sehat dengan memakan sayuran terutama dikondisi virus covid-19 yang masih ada di indonesia. Keberhasilan dari program kerja yang penulis laksanakan terbukti dengan antusiasnya Ibu-Ibu Rumah Tangga dan anggota remaja masjid selama keberjalanan program, dan tumbuh suburnya benih sayuran yang sudah ditanam ketika penulis berkunjung seminggu kemudian setelah melakukan pelatihan dan budidaya sayuran tersebut. PENUTUP Kegiatan PKM ini merupakan kegiatan yang berbasis pada asset dan potensi yang sudah dimiliki oleh warga, sehingga penggerakan masyarakat dilakukan lebih mudah karena potensi dan asset yanga kan dipakai sudah ada. Pemanfaatan ruang kosong merupakan tujuan awal pendampingan pertanian organic bagi Jurnal AbdiMU : Pengabdian Kepada Masyarakat e-ISSN: 2797-3468 masyarakat yang ada di Desa Ciseuhan, tetapi kemudian banyak manfaat yang bisa diambil sebagai dampak pendam. nga tersebut baik secara ekonomi maupun kesadaran warga. DAFTAR PUSTAKA