JIGE 4 . JURNAL ILMIAH GLOBAL EDUCATION id/index. php/jige DINAMIKA LEKSIKON KE-PARE-AN SAWAH DALAM GUYUB TUTUR SUNDA: KAJIAN EKOLINGUISTIK Lien Darlina1*. Wahyuning Dyah2 Politeknik Negeri Bali History Article Article history: Received Mei 18, 2023 Approved Mei 27, 2023 Keywords: Ecolinguistic. Sundanese Speech. The Dynamics Of Bitter Gourd Fields ABSTRACT This paper examines the dynamics of lexicons Aobitter gourd fieldsAo in Sundanese speech focusing on two problems. How is the language form of lexicon Aobitter gourd fieldsAo in Sundanese speech? and . How is the dynamics of lexicon Aobitter gourd fieldsAo in Sundanese speech? This study applies ecolinguistic theory, and is a descriptive study with qualitative and quantitative There are two types of data: primary and secondary The primary data source is Sundanese speakers who live in Sumedang regency, and as a sample of study, key informants are those above 55 years old and teenagers among 15- 18 years old, and the secondary data are documents related to this study. Data were collected through observation, interview, questionnaire and The result shows that lexicon Aobitter gourd fieldsAo in Sundanese speech of Sumedang regency is grouped based on entities reality of keparean sawah . itter gourd field. There are 149 lexicon which are classified into 74 nouns, 74 verbs, and 1 The dynamics of bitter gourd fields in Sundanese speech, there are 78 lexicons still surviving, while 71 others are less It happens due to the influence of many factors and shifts in peopleAo knowledge and beliefs. ABSTRAK Tulisan ini mengkaji dinamika leksikon-leksikon ke-pare-an sawah dalam guyub tutur Sunda yang terpusat pada dua masalah, yaitu . Bagaimanakah bentuk kebahasaan leksikon-leksikon kepare-an sawah dalam guyub tutur Sunda, dan . Bagaimanakah dinamika leksikon-leksikon ke-pare-an sawah dalam guyub tutur Sunda. Teori utama yang digunakan adalah teori ekolinguistik. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Jenis data berupa data primer dan sekunder. Sumber data primer penutur bahasa Sunda yang menempati wilayah kabupaten Sumedang yang dijadikan Darlina At Al. / Jurnal Ilmiah Global Education 1 . sampel yaitu informan kunci yang berumur di atas 55 tahun dan responden remaja usia 15 Ae 18 tahun, serta data sekunder berupa dokumen yang berhubungan dengan penelitian ini. Teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, angket dan Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk kebahasaan leksikon-leksikon ke-pare-an sawah dalam guyub tutur Sunda di kabupaten Sumedang dikelompokkan berdasarkan realitas entitas ke-parean sawah berjumlah 149 leksikon dan ditemukan ada 74 leksikon kata benda . , 74 leksikon kata kerja . dan, 1 leksikon kata sifat . Dinamika leksikon-leksikon keparean sawah dalam guyub tutur Sunda di kabupaten Sumedang dari jumlah 149 leksikon, yang masih bertahan baik 78 leksikon, dan yang hampir punah ada 71 leksikon. Hal tersebut terjadi karena pengaruh berbagai faktor dan pergeseran cara pandang masyarakat terhadap pengetahuan dan kepercaryaan masyarakat. A 2023 Jurnal Ilmiah Global Education *Corresponding author email: darlina@pnb. PENDAHULUAN Sejumlah kelompok etnik di Indonesia memiliki cara yang khas untuk mengungkapkan konsep kehidupan dalam bahasanya. Keunikan cara pengungkapan bahasa daerah tersebut mencerminkan keragaman realitas dan budaya yang melatarbelakanginya. Namun, seiring perkembangan zaman ancaman kepunahan bahasa-bahasa daerah telah menjadi persoalan internasional, bahkan diramalkan dalam jangka waktu seabad lagi, 50% dari 6. 700 bahasa di bumi ini akan punah (Mbete, 2. Oleh karena itu, sudah sepatutnya bahasa daerah mendapat perhatian yang intensif dari berbagai kalangan. Bahasa Sunda merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Sunda itu sendiri, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam upacara-upacara adat. Bahasa yang berhubungan dengan lingkungan dapat hilang atau musnah apabila ekologi sebagai ruang keberadaannya yang menunjangnya musnah. Sebaliknya, apabila lingkungan . terjaga dengan baik, maka leksikon yang berhubungan dengan lingkungan tersebut akan terekam, terlihat, dan tergambar dengan jelas dalam bahasa. Artinya, harus ada keseimbangan antara lingkungan dan masyarakat yang ada di Penggunaan bahasa juga tergantung pada kekayaan leksikon yang sesuai dengan lingkungan. Sesuai dengan perkembangan zaman, perubahan perilaku dan kepercayaan serta dengan berkurangnya lahan pertanian, perubahan sistem pertanian serta dengan perkembangan teknologi lainnya serta perkembangan cara pikir dan kepercayaan mengubah prilaku masyarakat Sunda (Darpan, 2013:. Pergeseran adat istiadat bertani pada masyarakat Sunda dan penggunaan bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari guyub tutur Sunda oleh generasi muda berpengaruh besar. Hal ini terasakan dengan jelas dengan jarang digunakannya leksikon bahasa Sunda khususnya leksikon-leksikon pertanian, dibandingkan dengan pemakaian istilah pertanian dalam bahasa Indonesia. Hal ini dikhawatirkan akan mengikis, bahkan memusnahkan ekoleksikon bahasa Sunda, khususnya leksikon-leksikon pertanian. Salah satu faktor yang menjadi penyebabnya adalah orang tua tidak memakai istilah-istilah pertanian yang berbahasa Sunda kepada anaknya (Anderson, 2. Dalam perspektif ekolinguistik, bahasa dan komunitas penuturnya dipandang sebagai organisme yang hidup secara bersistem dalam suatu kehidupan bersama organisme-organisme lainnya (Mbete, 2009:. Selanjutnya. Rahardjo . mengatakan bahwa waktu dan usaha manusialah yang menentukan kelestarian sebuah bahasa daerah. Apapun yang digunakan oleh generasi tua hanya sematasemata untuk mempertahankan bahasa daerahnya agar tetap lestari dari ancaman kepunahan. Berdasarkan latar belakang seperti tersebut di atas ada dua permasalahan yang akan dikaji dalam tulisan ini, dan dapat dirumusan sebagai berikut: Bagaimanakah bentuk kebahasaan leksikon-leksikon ke-pare-an sawah dalam guyub tutur Sunda? Dinamika Leksikon Ke-Pare-An Sawah Dalam Guyub Tutur Sunda: Kajian Ekolinguistik - 1085 Darlina At Al. / Jurnal Ilmiah Global Education 1 . Bagaimanakah dinamika leksikon-leksikon ke-pare-an sawah dalam guyub tutur Sunda? Manfaat teoritis tulisan ini diharapkan bermanfaat bagi pengembangan kajian bidang ilmu linguistik, khususnya perspektif ekolinguistik bidang leksikon ke-pare-an sawah dalam guyub tutur Sunda. Hal ini terkait dengan teori ekolinguistik dan perubahan bahasa, sehingga hasil kajian ini diharapkan dapat menambah data dan informasi tentang leksikon-leksikon ke-pare-an sawah dalam guyub tutur Sunda. Selain hal tersebut manfaat teoritis lainnya, diharapkan dapat mengetahui kebertahanan dinamika leksikon ke-pare-an sawah yang menggambarkan pola pikir guyub tutur Sunda dengan realitas lingkungan sosial budaya ke-pare-an sawah. Teori utama yang digunakan dalam mengkaji bahasa lingkungan dinamika leksikon ke-pare-an sawah dalam guyub tutur Sunda adalah teori ekolinguistik. Seperti yang diajukan oleh Fill & Myhaysler . bahwa ada tiga parameter penting yang juga saling terkait, yakni . satuan lingkungan . , . adanya interaksi . , dan interelasi . , . kesalingtergantungan di antara semua yang ada, dan . adanya keberagaman . Interaktivitas . yaitu interaksi antara guyub tutur dengan lingkungan yang terus menerus dilakukan, memengaruhi pengetahuan dan pengalaman guyub tutur yang ada di lingkungan Interaksi dan interelasi itu membentuk pola pikir, pola hidup, dan pengetahuan kebahasaan khususnya pengetahuan leksikon yang merupakan hasil interaksi antar keduanya. Interaktivitas yang dilakukan memunculkan kebergantungan antar guyub tutur dan lingkungannya. Meskipun demikian, kemungkinan perubahan selalu ada seperti perubahan cara hidup, cara pikir dan cara berkomunikasi (Bundsgaard and Steffensen, 2000:. Dalam kaitannya dengan lingkungan kebahasaan. Bang & Door . alam Bundsgaard dan Steffensen, 2000:. menjelaskan lingkungan kebahasaan dengan Model Dimensi Logis, sebagai berikut. Gambar 2. 1 Model Dimensi Logis Bang & Door Keterangan gambar: : Pembuat Teks : Konsumen/ Pengguna Teks : Subjek : Objek yang dirujuk Topos : Ruang tempat dan waktu Ii : Dialog Model dialog di atas memaparkan bahwa empat konstituen. S1. S2. S3, dan O terjadi dalam dalam topos . uang, tempat, dan wakt. Hal tersebut terjadi dengan latar belakang tiga dimensi praksis sosial, yakni dimensi biologis, dimensi sosiologis, dan dimensi ideologis. S1 merupakan pembuat teks, yakni penulis atau penutur. S2 merupakan konsumen teks, pembaca atau mitra tutur. S3 merupakan subjek konstituen sosiokultural yang diwujudkan atau tidak berada dalam situasi dialog. O merupakan objek yang dirujuk dalam komunikasi (Bang dan Door, 1993:3. Bundsgaard, 2000:. Ketiga dimensi yang tergambar di atas saling berhubungan satu sama lain. Dimensi ideologis terkait dengan mental individu, mental kolektif, kognitif, sistem ideologis, dan sistem psikis. Di sisi lain, dimensi sosiologis terkait dengan cara manusia mengatur hubungannya satu sama lain. Dimensi biologis berhubungan dengan kolektivitas biologis manusia yang hidup berdampingan dengan spesies lainnya . ewan, tumbuhan, tanah, laut, dan sebagainy. (Lindy dan Bundsgaard, ed. , 2000: . Fenomena bahasa berjalan secara berkesinambungan dan saling terkait. Bahasa merupakan objek dari tiga dimensi tersebut (Lindy dan Bundsgaard . ), 2000: . Hubungan antara masalah penelitian dan teori yang digunakan untuk menjawab permasalahan pada penelitian ini dapat di digambarkan sebagai berikut: Darlina At Al. / Jurnal Ilmiah Global Education 1 . No. Tabel 1 Hubungan antara Masalah Penelitian dan Teori Masalah Penelitian Teori Bentuk kebahasaan leksikon-leksikon ke-pare-an sawah dalam Dimensi Logis (Bang dan Dyyr, 1. guyub tutur Sunda. Dinamika leksikon-leksikon guyub tutur Sunda. ke-pare-an sawah dalam METODE PENELITIAN AuDinamika Leksikon-leksikon Ke-pare-an Sawah Dalam Guyub Tutur Sunda: Kajian EkolinguistikAy ini merupakan penelitian yang tergolong penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif sederhana dengan tujuan untuk mendapatkan fakta dan informasi tentang kekayaan ideol-sosio-biologis guyub tutur Sunda. Pendekatan ini dipilih untuk mendapatkan fenomena dinamika dan bentuk-leksikon, tuturan-tuturan, dan pengetahuan lingkungan khususnya lingkungan ke-pare-an sawah yang nyata dan masih digunakan dan sumber data alamiah sebagai perwujudan kehidupan sosio-kultural-ekologis guyub tutur Sunda. Lokasi Penelitian ini dilakukan di daerah Kabupaten Sumedang. Jawa Barat. Adapun jenis data terdiri atas data verbal primer dan data sekunder. Data primer bersumber dari hasil wawancara dengan informan inti, pengamatan langsung, dan terlibat langsung dengan guyub tutur Sunda, dan data dari angket penduduk yang berumur anatar 15-18 tahun. Data berupa data tulis hasil wawancara dengan para informan dan hasil penyebaran dan pengumpulan kembali instrumen dari responden yang dijadikan sampel pada kecamatan-kecamatan di kabupaten Sumedang yang mempunyai sebaran sawah tentang kepare-an secara tradisional serta data dari dokumen-dokumen yang berhubungan dengan penelitian ini. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah penutur bahasa Sunda yang menempati wilayah kabupaten Sumedang yang dijadikan sampel. Penentuan Informan kunci tertulis dari informan, yaitu berupa instrumen tidak terstruktur dari para informan yang berusia di atas umur 55 tahun sebanyak 10 Data lainnya adalah instrumen berupa kuisioner untuk responden komunitas tutur Sunda remaja usia 15 Ae 18 tahun sebanyak 100 orang, hal tersebut penulis tentukan unuk mengetahui pengetahuan dan pemahaman akan dinamika leksikon-leksikon ke-pare-an sawah oleh para remaja dan untuk mengetahui leksikon-leksikon ke-pare-an yang masih bertahan dan yang menyusut. Instrumen penelitian ini adalah . daftar pertanyaan tidak terstruktur yang digunakan untuk mengumpulkan data melalui wawancara dengan informan kunci yang dijadikan sampel. Untuk mengetahui tingkat pergeseran dan kebertahanan leksikon ke-pare-an sawah dalam guyub tutur Sunda sebagaimana dimaksud di atas adalah dengan menghitung persentase dengan rumus secara sederhana sebagai berikut: yce ycu100% = Ea ycu Keterangan: : jumlah jawaban : jumlah responden : hasil (%) Dari hasil perhitungan persentase tersebut dideskripsikan sesuai penjelasan berikut ini: Tabel 2 Kriteria Nilai Pengetahuan Leksikon Ke-pare-an Sawah (Sudjiono, 2. No. Skor (%) Predikat Sangat baik Baik Cukup baik Kurang Sangat kurang Setelah peneliti menghitung persentase kosakata per individu, kemudian menganalisis dan menyimpulkan hasil tentang kebertahanan dan yang menyusutnya dinamika leksikon-leksikon ke-pare-an sawah dalam guyub tutur Sunda sesuai kegiatan ke-pare-an tersebut. Dinamika Leksikon Ke-Pare-An Sawah Dalam Guyub Tutur Sunda: Kajian Ekolinguistik - 1087 Darlina At Al. / Jurnal Ilmiah Global Education 1 . HASIL DAN PEMBAHASAN Bentuk Kebahasaan Leksikon-Leksikon Ke-Pare-an Sawah dalam Guyub Tutur Sunda Bahasa tidak sebatas sebagai alat komunikasi (Mbete, 2. Bahasa mengandung visi budaya, merekam, memelihara, dan mewariskan konsep-konsep kolektif, nilai-nilai historis, filosofis, sosio-budaya, dan ekologis dari suatu masyarakat. Secara sosio-kultural, bahasa adalah komponen kebudayaan yang ada secara nyata dan secara langsung dapat membedakan antara komunitas etnik yang satu dengan komunitas etnik yang lain. Ekoleksikon ke-pare-an sawah adalah seperangkat istilah dalam lingkungan ke-pare-an yang mencerminkan karakter guyub tuturnya, karakter lingkungan alam, dan lingkungan sosial-budaya. Ekoleksikon ke-pare-an sawah menggambarkan kekayaan unsur-unsur yang terdapat dalam lingkungan kepare-an yang mengungkapkan makna kegiatan, proses. keadaan, atau benda yang khas dalam hal ke-parean sawah. Guyub tutur Sunda di Kabupaten Sumedang merupakan contoh sebuah guyub kebahasaan, mereka menyepakati aspek-aspek kebahasaan sunda. Pemaparan bentuk kebahasaan leksikon-leksikon kepare-an sawah dan ekowacana ke-pare-an penting dilakukan karena keberagaman bahasa lingkungan kepare-an sawah sebagai hasil interaksi, interrelasi, interkoneksi, dan interaktivitas guyub tutur Sunda. Berdasarkan data yang diperoleh dari lapangan, yaitu berupa data dari informan inti dan angket yang berisi jawaban dari responden, diperiksa dan diklasifikasikan dan dimasukan ke dalam tabel berdasarkan kategori verba, nomina, adjectiva, dianalisis dan diseskrpsikan. Pengelompokan bentuk kebahasaan leksikon-leksikon ke-pare-an sawah dalam guyub tutur Sunda pada tulisan ini disajikan berdasarkan urutan kegiatan ke-pare-an, dari mulai pra tanam pare AopadiAo sampai dengan kepada kegiatan pasca panen pare AopadiAo yang keseluruhannya ada 14 tahap, sebagai berikut: Leksikon Nama Jenis Pare Leksikon nama jenis pare AopadiAo dalam guyub tutur Sunda ada 11 leksikon, sebagai berikut: No. Leksikon Tabel 3 Leksikon Nama Jenis Pare Makna Pare Pare bodas Kategori Adj Padi Jenis padi kalau sudah menjadi beras, berasnya berwarna Pare beureum Jenis padi kalau sudah menjadi beras, berasnya berwarna Pare Ketan Jenis padi bersifat seperti ketan (Kamus Sund. / beras apabila ditanak lengkat-lengket (KBBI) Data di atas memiliki kolom realitas entitas, yang berarti bentuk kebahasaan leksikon nama jenis pare AopadiAo dalam guyub tutur Sunda yang ditanam di sawah terdiri dari 11 leksikon, yang semua leksikonnya berkategori kata benda . Secara linguistik, sebuah leksikon memiliki bentuk dan kategori serta memiliki makna leksikal atau literal. Secara morfologis, leksikon pare AopadiAo termasuk kategori nomina dan merupakan bentuk dasar. Kalau ditinjau dari segi semantis, leksikon pare termasuk nomina bernyawa atau secara ekologis-biologis tergolong biotik. Leksikon Upacara Ritual Ke-pare-an Sawah Data yang didapat tentang leksikon upacara ritual ke-pare-an sawah dalam guyub tutur Sunda ada 7 leksikon, disajikan pada tabel sebagai berikut. No. Leksikon Nyawen Ngalaksa Tabel 4 Leksikon Upacara Ritual ke-pare-an Sawah Makna Kategori Adj Upacara ritual sebagai tanda akan memulai menuai padi. Upacara ritual pengangkutan padi dari sawah dengan kesenian 3 Mapag Sari Upacara ritual menyong-song kehadiran Dewi Sri/Padi dari sawah yang akan disimpan di lumbung/ leuit. Berdasarkan tabel 4 di atas leksikon upacara ritual ke-pare-an sawah dalam guyub tutur Sunda berjumlah 7 leksikon, yang kesemua leksikonnya berkategori kata kerja . Leksikon Waktu yang Berhubungan Dengan Ke-Pare-an Sawah Dari data yang didapat tentang leksikon-leksikon waktu dan jenis waktu yang berhubungan dengan upacara ritual ke-pare-an sawah dalam guyub tutur Sunda, disajikan pada tabel sebagai berikut. Dinamika Leksikon Ke-Pare-An Sawah Dalam Guyub Tutur Sunda: Kajian Ekolinguistik - 1088 Darlina At Al. / Jurnal Ilmiah Global Education 1 . Tabel 5 Leksikon Waktu yang Berhubungan Dengan Upacara Ritual Ke-pare-an Sawah Leksikon Makna Kategori V N Ad Dawuh Waktu Larangan Bulan-bulan yang tabu untuk memanen atau menanam sesuatu Bulan Poe Panaasan Hari tabu untuk mulai penanam-an atau mulai panen karena hari tersebut merupa-kan hari ke empat atau kelima kelahiran orang yang bersang-kutan Berdasarkan tabel 5 leksikon waktu yang berhubungan dengan upacara ritual ke-pare-an sawah dalam guyub tutur Sunda berjumlah 4 leksikon, kesemuanya termasuk dari kata benda . Leksikon Alat dan Perangkat Upacara Ritual Ke-pare-an Sawah Dari data yang didapat tentang leksikon alat dan perangkat upacara ritual ke-pare-an sawah dalam guyub tutur Sunda, disajikan pada tabel sebagai berikut. No. Tabel 6 Leksikon Alat dan Perangkat Upacara Ritual Ke-pare-an Sawah Kategori No. Leksikon Makna Adj Alat ramal untuk mencari, hari, tanggal, dawuh yang baik untuk bertani, panen, dsb. Terbuat dari papan kayu (Berukuran 10 x 25 Tabel data tersebut di atas memiliki kolom realitas entitas, yang berarti bentuk kebahasaan leksikon upacara ritual ke-pare-an sawah dalam guyub tutur Sunda sebelum perubahan lingkungan terjadi. Berdasarkan tabel tersebut leksikon alat dan perangkat upacara ritual ke-pare-an sawah dalam guyub tutur Sunda berjumlah 7 leksikon, yang kesemuanya termasuk ke dalam kategori kata benda . Leksikon Nama-nama Sawah Lahan yang biasanya digunakan untuk menanam pare AopadiAo dalam guyub tutur Sunda adalah sawah, berikut adalah leksikon nama-nama sawah dalam guyub tutur Sunda. Kolenjer Tabel 7 Leksikon Nama-nama Sawah No. Leksikon Makna Kategori Adj Sawah Sawah Sawah tadah Sawah yang ditanam hanya pada waktu musim hujan. Tabel data di atas memiliki kolom realitas entitas, yang berarti leksikon itu adalah leksikon yang ada dilingkungan tersebut sebelum perubahan lingkungan terjadi. Berdasarkan tabel 7 di atas leksikon namanama sawah dalam guyub tutur Sunda ada 5 leksikon, yang kesemuanya termasuk kata benda . Verba Proses Pembenihan Pare Sawah Proses pembenihan pare AopadiAo sawah direalisasikan dalam tahap . memilih pare untuk benih, . pembuatan tempat persemaian pare, . menyemai buliran pare petingan, . hingga benih pare siap Berikut ini adalah leksikon proses pembenihan pare sawah dalam guyub tutur Sunda. Tabel 8 Verba Proses Pembenihan Pare Sawah No. Leksikon Makna Kategori Adj Meting Pare Memilih padi untuk dijadikan padi pingitan Nyieun Membuat persemaian padi Pabinihan Tebar Menaburkan buliran-buliran padi petingan untuk benih Tabel data di atas memiliki kolom realitas entitas, yang berarti leksikon itu adalah leksikon yang ada dilingkungan tersebut sebelum perubahan lingkungan terjadi. Berdasarkan tabel 8 di atas verba proses pembenihan pare sawah dalam guyub tutur Sunda ada 5. Leksikon Pratanam Ke-pare-an Sawah Dinamika Leksikon Ke-Pare-An Sawah Dalam Guyub Tutur Sunda: Kajian Ekolinguistik - 1089 Darlina At Al. / Jurnal Ilmiah Global Education 1 . Tahap pratanam ke-pare-an sawah adalah tahap persiapan sebelum pare AopadiAo ditandur AoditanamAo di Setiap kegiatan, keadaan, atau benda yang berkaitan dengan pratanam ke-pare-an sawah direalisasikan dalam leksikon-leksikon dalam guyub tutur Sunda. Berikut ini adalah leksikon ke-pare-an sawah pada tahap pratanam. Tabel 9 Leksikon Pratanam Ke-pare-an Sawah No. Leksikon Makna Pabinihan Binih pare Kategori N Adj Tempat persemaian padi Benih padi yang sudah disemai siap ditanam, tumbuh berumur 20 s. 25 hari Sabeungkeut Seikat benih padi . katan rata-rata sebesar tanga. Sabentel Satu ikat besar benih padi terdiri dari 5 ikatan yang sebesar Tabel data di atas memiliki kolom realitas entitas, yang berarti leksikon itu adalah leksikon yang ada dilingkungan tersebut sebelum perubahan lingkungan terjadi. Berdasarkan tabel 9 leksikon pratanam kepare-an sawah dalam guyub tutur Sunda ada 30 leksikon, teridiri dari 12 leksikon kata benda . , dan 18 leksikon kata kerja . Leksikon Peralatan Pratanam Ke-pare-an Sawah Berikut leksikon peralatan pratanam ke-pare-an sawah menggambarkan kekayaan unsur-unsur yang terdapat dalam lingkungan ke-pare-an yang mengungkapkan makna kegiatan, proses. keadaan, atau benda yang khas dalam hal ke-pare-an sawah. Tabel 10 Leksikon Peralatan Pratanam Ke-pare-an Sawah No. Leksikon Parang Makna Kategori Adj Alat semacam sabit diperuntukkan membersihkan tumbuhan pengganggu tanaman Pasangan Alat untuk menyatukan sepasang sapi/kerbau Singkal Bagian dari bajak tempat mengenakan lanjam gunanya untuk bajakan kasar Lanjam Mata bajak terbuat dari besi Babantal Alat bagian dari bajak tempat menempelkan lanjam Bubuntut Alat dari kayu sebagai pegangan singkal Cacadan Alat dari kayu enau dipakai untuk menarik bajak pada sapi/kerbau Sawed Tali yang dipakai pada leher sapi/kerbau Konali Tali yang disambungkan antara pasangan dengan cacadan Berdasarkan tabel 10 leksikon peralatan pratanam ke-pare-an sawah dalam guyub tutur Sunda berjumlah 15 leksikon, yang kesemuanya merupakan kata benda . Verba Proses Penanaman Pare AopadiAo Sawah Proses penanaman pare sawah dalam guyub tutur Sunda, dari mulai nyaatan sawah Aomengeringkan sawahAo, naplak Aomembuat garis-garis tanda untuk menanam padi dengan alat taplakAo, sampai kepada tandur Aomenanam benih padiAo dan nyaian Aomengairi sawah yang sudah di tanami benih padiAo semuanya merupakan realitas entitas yang berada pada lingkungan ke-pare-an sawah. Tabel 11 Verba Proses Penanaman Pare Sawah No. Leksikon Nyaatan Naplak Tandur Mundur Nyocol Nyaian Makna Dikatakan untuk air, dalam hal ini mengeringkan sawah Membuat garis-garis tanda untuk menanam padi dengan alat taplak Menanam padi di sawah Posisi penanaman padi dengan cara mundur Menanamkan benih padise banyak 3 atau 4 batang dengan menggunakan gemuk Aopupuk luluhanAo Mengairi Kategori Adj Dinamika Leksikon Ke-Pare-An Sawah Dalam Guyub Tutur Sunda: Kajian Ekolinguistik - 1090 Darlina At Al. / Jurnal Ilmiah Global Education 1 . Tabel data di atas memiliki kolom realitas entitas, yang berarti leksikon itu adalah leksikon yang ada dilingkungan tersebut sebelum perubahan lingkungan terjadi. Berdasarkan tabel 11 verba proses penanaman pare sawah dalam guyub tutur Sunda ada 6 leksikon verba. Leksikon Perkembangan dan Pemeliharaan Pare Sawah Tahap perkembangan pare sawah dan pemeliharaannya setelah ditanam, direalisasikan pada leksikon-leksikon yang saling berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya. Tabel 12 Leksikon Perkembangan dan Pemeliharaan Pare Sawah No. Leksikon Lilir Renekeh Rambeteun Ngalandak Ngarambet Gemuk Ngagemuk Ngawur Gede pare Gumunda Reuneuh Celetu Paparakoan Makna Benih padi yang ditanam/ ditandur telah tumbuh daunnya Benih padi yang ditanam/ ditandur pohonnya mulai bercabang Keadaan padi yang berumur kira-kira 1 bulan dan harus dibersihkan dari rumput dan sejenisnya yang mengganggu tanaman padi Membersih-kan rumput dan gulma yang mengganggu tanaman padi dengan memakai alat lalandakan Membersih-kan rumput dan gulma yang mengganggu tanaman padi dengan tangan Pupuk baik pupuk kandang maupun urea Memberikan pupuk baik pupuk kandang maupun urea Memberikan pupuk urea dengan jalan diawurkan Tanaman padi yang sudah tumbuh hijau kira-kira berumur 1,5 bulan dari mlai penanaman Tanaman padi yang menghijau mau mulai reuneuh Batang padi yang mulai mengembang dengan bunga padi Kategori Adj Beberapa pohon padi yang baru ke luar bunga padinya Dari satu petak sawah belum merata dan baru beberapa gerobol yang mulai berbunga 14 Beukah Pohon padi yang sudah merata berbunga 15 Ringsang Bunga padi 16 Beuneur hejo Bulir padi yang sudah berisi tapi belum padat dan masih hijau 17 Enay Padi menguning 18 Pare asak Padi yang sudah padat menguning siap unuk dipanen 19 Panen Pemungutan hasil sawah/padi 20 Dibuat Menuai padi 21 Gacar Menuai padi di sawah keluarga 22 Derep Menuai padi di sawah orang lain (Jadi buruh menuai pad. Tabel data di atas memiliki kolom realitas entitas, yang berarti leksikon itu adalah leksikon yang ada dilingkungan tersebut sebelum perubahan lingkungan terjadi. Berdasarkan tabel 12 leksikon perkembangan dan pemeliharaan pare sawah dalam guyub tutur Sunda berjumlah 22 leksikon, terdiri dari 3 leksikon kata benda . , dan 19 leksikon kata kerja . Leksikon Hama Pare Sawah Pada proses ke-pare-an sawah supaya menghasilkan pare yang baik dalam guyub tutur Sunda melakukan berbagai langkah, dari mulai pemilihan benih, cara pengolahan tanah hingga pemeliharaan pertumbuhan pare. Setiap kegiatan, proses, keadaan atau benda yang berkaitan dengan lingkungan ke-parean direalisasikan pada leksikon-leksiokon. Berikut ini adalah leksikon-leksikon hama pare sawah. Tabel 13 Leksikon Hama Pare Sawah No. Leksikon Hama bodas Pucuk-pucuk padi memutih disebabkan kurangnya unsur-unsur Hama Beurit Kerusakan padi yang disebabkan oleh tikus Makna Kategori Adj Dinamika Leksikon Ke-Pare-An Sawah Dalam Guyub Tutur Sunda: Kajian Ekolinguistik - 1091 Darlina At Al. / Jurnal Ilmiah Global Education 1 . Hama Pucuk-pucuk padi memerah yang disebabkan kurangnya unsur Beureum unsur hara 4 Hama Hama padi berupa binatang anjing tanah/gaang menyerang batang Gaang padi waktu masih kecil mengakibatkan pohon padi mati 5 Hama Hama padi sejenis ulat padi yang menyerang padi berbunga 6 Hama Walangsangit menyerang padi pada mau berbunga, sehingga bulir Kungkang padi menjadi hampa. 7 Hama Hama belalang menyerang pohon padi waktu masih kecil Simeut mengakibatkan padi mati 8 Hama Hama burung, terutama burung pipit Berdasarkan tabel 13 leksikon hama pare sawah dalam guyub Sunda terdiri ada 9 leksikon, kesemuanya termasuk kata kerja . Leksikon Penanggulangan Hama Pare Sawah dan Alat yang Digunakan Penanggulangan hama pare dan peralatan yang digunakan dalam guyub tutur Sunda direalisasikan pada leksikon-leksiokon sebagai berikut. Tabel 14 Leksikon Penanggulangan Hama Pare Sawah dan Alat yang Digunakan Kategori No. Leksikon Makna V N Adj 1 Semprotan Alat penyemprot hama dengan jalan disemprotkan. 2 Nyemprot Mengerjakan pembasmian hama padi dengan cara disemprot. 3 Daun Daun tumbuhan dinamakan kotraria, daun tersebut digunakan untuk membasmi hama padi terutama hama walangsangit. 4 Insektisida Obat kimia untuk mengatasi penyakit padi 5 Tunggu pare Menunggui padi dari hama burung 6 Bebegig Orang-orangan untuk menakuti hama burung Berdasarkan tabel 14 Leksikon Penanggulangan Hama Pare Sawah dan Alat yang digunakan guyub Sunda ada 8 leksikon, terdiri dari kata benda . 6 leksikon dan kata kerja . 2 leksikon. Leksikon Pasca Panen Pare Sawah Tahap pascapanen pare sawah dari mulai merontokan pare, sampai pare tersimpan di leuit Aolumbung pareAo adalah kegiatan, proses, keadaan atau benda yang berkaitan dengan lingkungan ke-pare-an pada pasca panen pare sawah, direalisasikan pada leksikon-leksiokon ke-pare-an dalam guyub tutur Sunda yang saling Berikut ini adalah leksikon pasca panen pare sawah. Tabel 15 Leksikon Pasca Panen Pare Sawah No. Leksikon Ngirik Ngegebot Makna Kategori Adj Merontokan padi bertangkai dengan cara menginjak-injakan kaki Merontokan padi jeraminya dipegang dan dipukulpukul-kan ke kay di atas giribig 3 Moe Menjemur 4 Gedeng Seikat padi. Sageugeus = Sagedeng Berdasarkan tabel 4. 13 leksikon pasca panen pare sawah dalam guyub tutur Sunda ada 14 leksikon. Terdiri dari 5 leksikon kata benda . , 8 leksikon kata kerja . , dan 1 leksikon kata sifat (Aj. Leksikon Peralatan Panen dan Pascapanen Leksikon peralatan panen dan pascapanen menggambarkan kekayaan unsur-unsur yang terdapat dalam lingkungan ke-peralatan yang mengungkapkan makna peralatan panen dan pascapanen dalam hal ke-pare-an. Berikut leksikon peralatan panen dan pasca panen dalam guyub tutur Sunda. Tabel 16 Leksikon Peralatan Panen dan Pasca Panen No. Leksikon Dudukuy Etem Makna Topi dari bambu Ani-ani Kategori Adj Dinamika Leksikon Ke-Pare-An Sawah Dalam Guyub Tutur Sunda: Kajian Ekolinguistik - 1092 Darlina At Al. / Jurnal Ilmiah Global Education 1 . Arit Giribig Sabit Alat untuk menjemur atau merontokkan padi, terbuat dari anyaman bambu bentuknya segi empat ukuran sekitar 1,5 m x 3 5 Rancatan Pemikul 6 Leuit Lumbung padi Tabel data di atas memiliki kolom realitas entitas, yang berarti leksikon itu adalah leksikon yang ada dilingkungan tersebut sebelum perubahan lingkungan terjadi. Berdasarkan leksikon peralatan panen dan pascapanen dalam guyub tutur Sunda berjumlah 6 leksikon, yang kesemuanya merupakan kata benda . Dinamika Leksikon-Leksikon Ke-Pare-An Sawah Dalam Guyub Tututur Sunda di Kabupaten Sumedang Dinamika leksikon ke-pare-an sawah dalam guyub tutur Sunda adalah perkembangan . , pergeseran, pemertahanan, dan kebertahanan bahasa . ecara khusus pada tataran leksikon ke-pare-an sawa. yang disebabkan oleh perubahan lingkungan alam dan sosial tempat guyub tutur bahasa itu berada, yaitu di Kabupaten Sumedang. Pergeseran dan pemertahanan bahasa adalah akibat dari pilihan bahasa secara kolektif yang dilakukan oleh suatu atau beberapa guyub tutur suatu bahasa. Fasold . mengemukakan bahwa ketika sebuah guyub tutur mulai memilih bahasa baru dalam sebuah domain yang dulunya memakai bahasa yang lama, itu menandakan bahwa sebuah pergeseran bahasa sedang Untuk mengetahui Dinamika leksikon-leksikon ke-pare-an sawah dalam guyub tutur Sunda di Kabupaten Sumedang, berikut data yang diolah berdasarkan urutan kegiatan ke-pare-an sawah dari pratanam hingga pra-panen. Dinamika Leksikon Nama Jenis Padi Sawah Berdasarkan data yang diolah dinamika leksikon nama jenis pare sawah dalam guyub tutur Sunda yang masih bertahan sangat baik ada 9 leksikon, yaitu Pare. Pare bodas. Pare beureum . Pare ketan. Pare ketan bodas. Pare bangsal. Ketan hideung. Pare beuneur , dan Pare hapa. % s. 100%). Sedangkan nama jenis pare sawah yang sangat kurang diketahui dalam guyub tutur Sunda ada 2 leksikon, yaitu leksikon Pare petingan, dan Pare geugeusan. Dengan melihat hasil analisis leksikon-leksikon Pare. Pare bodas. Pare beureum. Pare ketan. Pare ketan bodas. Pare bangsal. Pare ketan hideung. Pare beuneur dan Pare hapa masih digunakan dengan baik dalam guyub tutur Sunda di Kabupaten Sumedang. Hanya dua leksikon saja yang sangat kurang dikethui, yaitu leksikon Pare petingan, dan Pare geugeusan. Hal tersebut sesuai dengan keterangan responden inti, bahwa pergeseran teknologi pertanian berpengaruh terhadap jenis pare yang ditanam, jaman sekarang petani sudah tidak menyediakan padi petingan, benih padi banyak didapat dari hasil membeli, demikian juga jenis pare geugeusan sudah jarang ditanam. Dinamika Leksikon Upacara Ritual ke-pare-an Sawah Berdasarkan data yang diolah dinamika leksikon upacara ritual ke-pare-an sawah dalam guyub tutur Sunda di kabupaten Sumedang sangat kurang diketahui atau hampir punah yaitu leksikon Nyawen. Mapag Sari. Upacara Ampih Pare. Ngarumat Bumi. Ngaruat Lembur. Upacara Ngalungsurkeun Pare. Upacara Ngalaksa. Dengan melihat hasil analisis dari hasil pengolahan data leksikon-leksikon upacara ritual ke-pare-an sawah sangat kurang diketahui lingkungan keseharian guyub tutur Sunda yang ada di kabupaten Sumedang. Hal tersebut sejalan dengan apa disampaikan oleh responden inti, bahwa leksikon-leksikon upacara ritual ke-pare-an sawah dalam guyub tutur Sunda dipengaruhi oleh berbagai hal, salah satunya adalah dengan perkembangan teknologi yang kurang terkendali, gaya hidup guyub tutur, budaya dan kepercayaan masyarakat. Dinamika Leksikon Waktu yang Berhubungan Dengan Ke-Pare-an Sawah Pengetahuan dan pemahaman responden tentang waktu yang berhubungan dengan upacara ritual kepare-an sawah yaitu leksikon Dawuh. Larangan Bulan. Poe Panaasan. Poe Pangapesan Kolot, sangat kurang atau hamper punah, yaitu 4% - 20%. Hal tersebut sejalan dengan apa disampaikan oleh responden inti, bahwa leksikon-leksikon tersebut dipengaruhi oleh berbagai hal, salah satunya adalah dengan perkembangan teknologi yang kurang terkendali, gaya hidup guyub tutur, budaya dan kepercayaan masyarakat. Dinamika Leksikon Alat dan Perangkat Upacara Ritual Ke-pare-an Sawah Pengetahuan dan pemahaman responden tentang dinamika leksikon alat dan perangkat upacara ritual ke-pare-an sawah sangat kurang/hamper punah dalam guyub tutur Sunda di kabupaten Sumedang, yaitu leksikon-leksikon Kolenjer. Panyawen. Upet. Pupuhunan. Rengkong. Tarawangsa. Bangreng. Dinamika Leksikon Nama-nama Sawah Dinamika Leksikon Ke-Pare-An Sawah Dalam Guyub Tutur Sunda: Kajian Ekolinguistik - 1093 Darlina At Al. / Jurnal Ilmiah Global Education 1 . Pengetahuan dan pemahaman responden tentang dinamika nama - nama sawah dan yang berhubungan dengan sawah dalam guyub tutur Sunda masih baik yaitu leksikon Sawah. Sawah tadah hujan. Dinamika Verba Proses Pembenihan Pare Sawah Pengetahuan dan pemahaman responden tentang dinamika verba proses pembenihan padi sawah dalam guyub tutur Sunda yang masih bertahan baik ada 4 leksikon, yaitu Nyieun Pabinihan. Tebar. Babut. Meungkeut, sedangkan dinamika verba proses pembenihan padi sawah hanya satu lesikon, yaitu meting pare. Dinamika Leksikon Pratanam Ke-pare-an Sawah Pengetahuan dan pemahaman responden tentang dinamika leksikon pratanam ke-pare-an sawah dalam guyub tutur Sunda yang masih bertahan baik ada 16, yaitu Pabinihan. Binih pare. Sabeungkeut. Ngababad/Nyacar. Nyawah. Walungan/wahangan. Solokan/Susukan. Ngocoran. Sunggapan. Galengan. Mopok. Ngawuluku/Nyambut. Nyingkal. Macul. Maculan. Ngararata sedangkan dinamika leksikon pratanam ke-parean sawah sangat kurang diketahui oleh guyub tutur Sunda ada 14 leksikon, yaitu Sabentel. Ngabaladah. Huluwotan. Kakalen. Geder. Namping. Pecat sawed. Ngagaru. Kia. Kia-kia. Her. Pamideur. Mideur. Ngangler. Menurut informan inti hal tersebut dikarenakan banyak kegiatan-kegiatan yang bersangkutan sudah jarang ada pada lingkungan guyub tutur Sunda. Leksikon Peralatan Pratanam Ke-pare-an Sawah Pengetahuan dan pemahaman responden tentang dinamika leksikon peralatan ke-pare-an sawah dalam guyub tutur Sunda yang masih bertahan baik ada 6 leksikon, yaitu Parang. Singkal. Garu. Sapi. Munding. Pacul, sedangkan dinamika leksikon peralatan ke-pare-an sawah yang sangat kurang diketahui oleh guyub tutur Sunda ada 9 leksikon, yaitu Pasangan. Lanjam. Babantal. Bubuntut. Cacadan. Sawed. Konali. Garok. Taplak. Dinamika Verba Proses Penanaman Pare Sawah Pengetahuan dan pemahaman responden tentang dinamika tentang Nyaatan. Tandur. Mundur. Nyaian sangat baik yaitu 95%-100% menyatakan sangat tahu kenal dan referensinya masih banyak, sedangkan Naplak baik yaitu 65% menyatakan kenal dan sedikit tahu, dan sisanya menyatakan sedikit tahu referensinya sudah hilang. Sedangkan pemahaman responden tentang leksikon Sacocol sangat kurang, yaitu 30% menyatakan tahu, sedikit tahu, kenal, dan referensinya sudah hilang, sedangkan 70% menyatakan tidak tahu sama sekali. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan dinamika verba proses penanaman pare sawah dalam guyub tutur Sunda yang masih bertahan baik ada 5 leksikon, yaitu Nyaatan. Naplak. Tandur. Mundur. Nyaian. Dinamika Leksikon Perkembangan dan Pemeliharaan Pare Sawah Pengetahuan dan pemahaman responden tentang dinamika leksikon perkembangan dan pemeliharaan pare sawah dalam guyub tutur Sunda yang masih bertahan baik ada 13 leksikon, yaitu Rambeteun. Ngalandak. Ngarambet. Gemuk. Ngagemuk. Ngawur. Gede pare. Reuneuh. Beukah. Beuneur hejo. Pare asak. Panen. Dibuat. sedangkan dinamika leksikon perkembangan dan pemeliharaan pare sawah sangat kurang diketahui dalam guyub tutur Sunda, yaitu ada 9 leksikon, yaitu Lilir. Renekeh. Gumunda. Celetu. Paparakoan. Ringsang. Enay. Gacar. Derep. Menurut wawancara dengan informan inti, bahwa leksikonleksikon perkembangan dan pemeliharaan pare sawah zaman sekarang kurang diketahuinya dalam guyub tutur Sunda karena orang tua tidak mewariskannya kepada generasi muda. Dinamika Leksikon Hama Pare Sawah Pengetahuan dan pemahaman responden tentang dinamika leksikon hama pare sawah dalam guyub tutur Sunda yang masih bertahan baik, ada 5 leksikon, yaitu Hama Beurit. Hama Gaang. Hama Kungkang. Hama Simeut. Hama manuk. sedangkan dinamika leksikon hama pare sawah sangat kurang diketahui dalam guyub tutur Sunda ada 4 leksikon yaitu Hama bodas. Hama Beureum. Hama lembing. Mentek . Leksikon Penanggulangan Hama Pare Sawah dan Alat yang Digunakan Pengetahuan dan pemahaman responden tentang dinamika leksikon penanggulangan hama pare sawah dan alat yang digunakan yang masih bertahan baik ada 7, yaitu Semprotan. Nyemprot. Insektisida. Tunggu pare. Bebegig. Kokoprak. Gemuk kandang. sedangkan dinamika leksikon penanggulangan hama pare sawah dan alat yang sangat kurang diketahui dalam guyub tutur Sunda ada 1 leksikon, yaitu Daun kotraria. Dinamika Leksikon Pasca Panen Pare Sawah Pengetahuan dan pemahaman responden tentang dinamika leksikon pasca panen pare sawah dalam guyub tutur Sunda. yang masih bertahan baik ada 7 leksikon, yaitu Ngirik. Ngegebot. Moe. Meungkeut. Garing. Ngangkut. Ngunjal. sedangkan dinamika leksikon pasca panen padi sawah sangat kurang diketahui dalam guyub tutur Sunda ada 7 leksikon, yaitu Mangkek. Samadea. Geugeus. Sageugeus. Ngageugeus. Gedeng. Saeundan. Dinamika Leksikon Peralatan Panen dan Pasca Panen Dinamika Leksikon Ke-Pare-An Sawah Dalam Guyub Tutur Sunda: Kajian Ekolinguistik - 1094 Darlina At Al. / Jurnal Ilmiah Global Education 1 . Pengetahuan dan pemahaman responden tentang dinamika leksikon peralatan panen dan pasca panen dalam guyub tutur Sunda yang masih bertahan baik ada 4 leksikon, yaitu Dudukuy. Arit. Giribig. Rancatan, sedangkan dinamika leksikon peralatan panen dan pasca panen sangat kurang diketahui dalam guyub tutur Sunda ada 2 leksikon, yaitu leksikon Etem. Leuit. KESIMPULAN Dari bahasan dinamika leksikon-leksikon ke-pare-an sawah dalam guyub tutur Sunda: kajian ekolinguitis dapat disimpulkan sebagai berikut. Bentuk kebahasaan leksikon-leksikon ke-pare-an sawah dalam guyub tutur Sunda dikelompokkan berdasarkan realitas entitas ke-parean sawah dengan jumlah 149 leksikon. Dari 149 leksikon ditemukan . 74 leksikon kata benda . 74 leksikon berupa kata kerja . 1 leksikon kata sifat . Bentuk kebahasaan leksikon-leksikon ke-parean sawah secara morfologi ada yang berbentuk kata dasar, kata dasar terikat, kata turunan, dan kata majemuk. Secara semantik ada yang berfungsi dan bermakna ideologis . ontoh: pengharapan padi sawah tumbuh dengan baik, pengharapan bebas hama penyakit, pengharapan berlimpahnya hasil pene. , dan berfungsi dan bermakna sosiologis . ontoh: keselarasan hubungan antara manusia dengan Tuhan Yang Mahaesa, keselarasan hubungan antara manusia dengan ala. Dinamika leksikon-leksikon ke-pare-an sawah dalam guyub tutur Sunda di Kabupaten Sumedang berdasarkan realitas entitas dari 149 leksikon, yang masih bertahan baik ada 78 leksikon, sebagian dicontohkan sebagai berikut. pare, pare bodas, pare beureum, pare ketan, sawah, sawah tadah hujan, tebar, babut, binih pare, sunggapan, galengan, mopok, ngawuluku/nyambut, nyingkal , macul, maculan, ngalandak, ngarambet, gemuk, ngagemuk, ngawur, gede pare, reuneuh, beukah, beuneur hejo, nyemprot, bebegig, pacul, lalandakan, dudukuy, giribig, rancatan. Adapun leksikon-leksikon yang hampir punah dan sangat kurang dalam pengetahuan dalam guyub tutur Sunda . %-25%) ada 71 leksikon, sebagian dicontohkan sebagai berikut. pare petingan, pare geugeusan, nyawen, ngalaksa, mapag sari, upacara ampih pare, ngarumat bumi, upacara ngalungsurkeun pare, kolenjer , panyawen, upet, pupuhunan, rengkong, tarawangsa, bebecek, bebedahan, sawah bera, meting pare, namping, pecat sawed, kia, kia-kia, her, pamideur, mideur, ngangler, lilir, renekeh, gumunda, celetu, paparakoan, ringsang, enay, gacar, derep, mangkek, samadea, ngageugeus, gedeng, saeundan, lanjam, babantal, bubuntut, cacadan, sawed, konali, taplak, etem, leuit. Berdasarkan fakta tersebut dapat dirampatkan bahwa telah terjadi pergeseran bahasa ke-pare-an dalam guyub tutur Sunda, khususnya pada generasi muda. Hal tersebut dipengaruhi oleh berbagai hal, di antaranya perkembangan teknologi pertanian yang kurang berpihak terhadap keseimbangan lingkungan, dan kurangnya pewarisan pengetahuan lokal dan kearifan ekologi dari generasi tua kepada generasi Selain itu pengaruh bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yang mewadahi pengetahuan dan teknologi baru turut mempengaruhi lingkungan ke-pare-an dan pergeseran leksikon-leksikon bahasa Sunda, di samping perubahan lingkungan kesawahan. DAFTAR PUSTAKA