POLINOMIAL Jurnal Pendidikan Matematika Volume 5 Issue 1 . , pp. Online: https://ejournal. org/index. php/jp e-ISSN: 2830-0378 Sistem Kurikulum Amerika Serikat dalam Perspektif Pendidikan Abad 21 Tio Heriyana 1*. St. Budi Waluya 2. Mulyono 3 1,2,3 Universitas Negeri Semarang. Indonesia *Corresponding Author: heriyanatio@students. Submitted: 21 December 2025 | Revised: 22 February 2026 | Accepted: 24 February 2026 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sistem kurikulum Amerika Serikat dalam perspektif pendidikan abad ke-21 melalui pendekatan library research. Kajian ini menelaah secara mendalam prinsip-prinsip dasar, struktur, dinamika kebijakan, serta implementasi keterampilan abad ke-21 dalam sistem pendidikan Amerika Serikat. Hasil kajian menunjukkan bahwa sistem kurikulum Amerika Serikat bersifat desentralistik, fleksibel, dan berorientasi pada pengembangan kompetensi. Pemerintah federal berperan sebagai fasilitator kebijakan dan pendanaan, sementara negara bagian serta distrik sekolah memiliki otonomi penuh dalam merancang dan mengimplementasikan kurikulum sesuai konteks lokal. Reformasi kebijakan melalui No Child Left Behind Act (NCLB). Every Student Succeeds Act (ESSA), dan Digital Equity Act menandai pergeseran paradigma dari pendidikan berbasis tes menuju pendidikan berbasis kompetensi, teknologi, dan keadilan sosial. Kurikulum Amerika Serikat menekankan integrasi keterampilan abad ke-21 yang diantaranya critical thinking, creativity, communication, collaboration, serta pembelajaran berbasis proyek, teknologi digital, dan personalized learning. Temuan juga menunjukkan bahwa fleksibilitas sistem ini merupakan kekuatan sekaligus tantangan, karena menimbulkan kesenjangan mutu antarwilayah akibat perbedaan sumber daya lokal. Dalam konteks Indonesia, hasil kajian ini memberikan inspirasi bagi penguatan Kurikulum Merdeka dengan menekankan desentralisasi yang bertanggung jawab, inovasi berbasis kompetensi, dan pemerataan mutu pendidikan nasional. Secara konseptual, studi ini menegaskan bahwa kurikulum abad ke-21 harus dirancang sebagai ekosistem pembelajaran adaptif yang memadukan kebebasan lokal, inovasi pedagogis, dan tanggung jawab sosial. Kata Kunci: sistem kurikulum. Amerika Serikat, pendidikan abad ke-21, desentralisasi, kompetensi, library research. Abstract This study aims to analyze the United States curriculum system in the context of 21st-century education through a library research approach. This study examines in depth the basic principles, structure, policy dynamics, and implementation of 21st-century skills in the United States education system. The results show that the United States curriculum system is decentralized, flexible, and oriented toward competency development. The federal government acts as a policy and funding facilitator, while states and school districts have full autonomy in designing and implementing curricula according to the local Policy reforms through the No Child Left Behind Act (NCLB). Every Student Succeeds Act (ESSA), and Digital Equity Act mark a paradigm shift from test-based education to competency-based, technology-based, and socially equitable education. The U. curriculum emphasizes the integration of 21st-century skills, including critical thinking, creativity, communication, collaboration, as well as projectbased learning, digital technology, and personalized learning. The findings also show that the flexibility of this system is both a strength and a challenge, as it causes quality gaps between regions due to differences in local resources. In the Indonesian context, the results of this study provide inspiration for strengthening the Merdeka Curriculum by emphasizing responsible decentralization, competencybased innovation, and equitable national education quality. Conceptually, this study confirms that the 21st-century curriculum must be designed as an adaptive learning ecosystem that combines local freedom, pedagogical innovation, and social responsibility. Keywords: Curriculum system. United States, 21st-century education, decentralization, competencies, library research. This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright A 2026 by Author | 374 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 374-384, Tio Heriyana. St. Budi Waluya. Mulyono PENDAHULUAN Perkembangan globalisasi dan digitalisasi telah mengubah lanskap pembelajaran serta dunia kerja secara fundamental. Dalam konteks tersebut, integrasi keterampilan abad ke-21 menjadi kebutuhan yang mendesak bagi sistem pendidikan modern. Keterampilan seperti berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, dan literasi digital menjadi kompetensi esensial bagi peserta didik untuk mampu beradaptasi dan berhasil dalam dunia yang terus berubah . an Laar et al. , 2. Tantangan utama pendidikan saat ini adalah bagaimana mengintegrasikan keterampilan tersebut ke dalam kurikulum dan proses pembelajaran agar relevan dengan tuntutan masyarakat masa depan. Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) menjadi strategi penting untuk mempersonalisasi pembelajaran dan mengevaluasi perkembangan kompetensi abad ke-21 (Gonzylez-Salamanca et al. , 2. Guru memiliki peran krusial dalam mengembangkan keterampilan tersebut. Oleh karena itu, program pendidikan dan pelatihan guru harus beradaptasi agar selaras dengan kebutuhan masyarakat global yang berbasis digital (Gisbert Cervera & Caena, 2. Misalnya, pendidikan pemrograman di sekolah-sekolah KAe12 terbukti mendukung pengembangan pemikiran kritis, kreativitas, dan literasi teknologi (Hu, 2. Dengan demikian, penguatan kapasitas guru dan pembaruan kurikulum menjadi dua aspek yang saling berkaitan untuk mewujudkan pendidikan yang berorientasi abad ke-21. Kurikulum merupakan elemen sentral dalam membekali siswa untuk menghadapi perubahan sosial, teknologi, dan ekonomi global. Lebih dari sekadar perangkat pembelajaran, kurikulum berfungsi sebagai sistem yang mencerminkan filosofi pendidikan dan arah kebijakan suatu bangsa. Kitcher . menekankan pentingnya kurikulum yang seimbang untuk menumbuhkan kemandirian, kesejahteraan, serta kewarganegaraan demokratis. Pandangan serupa dikemukakan oleh Pacheco . , yang menegaskan perlunya kurikulum yang memperhatikan keberagaman perspektif dan nilai-nilai kemanusiaan agar peserta didik siap menghadapi isu global secara etis dan reflektif. Dalam perspektif kebijakan, kurikulum dipengaruhi oleh filosofi pendidikan, arah nasional, dan otonomi lokal (Davis, 2023. Kennedy & Robinson, 2023. Evans, 2. Tantangan antara perumusan kebijakan dan implementasi lapangan juga muncul di berbagai negara, seperti yang ditemukan Habowski & Leite . di Brasil. Namun, negara-negara maju seperti Amerika Serikat berhasil menunjukkan karakteristik sistem kurikulum yang lebih fleksibel, desentralistik, dan inovatif, memungkinkan adaptasi terhadap kebutuhan pendidikan lokal dan global. Sistem kurikulum Amerika Serikat menonjol karena kemampuannya beradaptasi dengan tuntutan abad ke-21 melalui integrasi teknologi, personalisasi pembelajaran, dan pendekatan berbasis kompetensi (Thornhill-Miller et al. , 2023. Lim & Kwon, 2. Desentralisasi menjadi ciri khas utama sistem ini, di mana pengembangan kurikulum dilakukan di tingkat negara bagian berdasarkan kerangka kerja nasional seperti Common Core State Standards (Keskinkly Yumuak, 2. Kebijakan federal seperti Every Student Succeeds Act (ESSA) turut memperkuat otonomi negara bagian untuk menyesuaikan kebijakan sesuai konteks lokal (Dahal, 2. Selain desentralisasi, fleksibilitas menjadi kekuatan utama sistem kurikulum Amerika Serikat. Pendekatan seperti flexible scheduling (Snyder et al. , 2. dan personalized learning (Idowu, 2. memungkinkan peserta didik menyesuaikan ritme belajar dengan potensi dan Penerapan kurikulum interdisipliner juga memperkaya pengalaman belajar dengan Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 375 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 374-384, Tio Heriyana. St. Budi Waluya. Mulyono mengaitkan konsep akademik pada konteks dunia nyata (Mat Daud et al. , 2024. Lestari et al. Inovasi pembelajaran seperti microschools, microlearning, dan pembelajaran berbasis permainan menunjukkan bagaimana sistem pendidikan AS terus berkembang untuk mengembangkan kreativitas, kolaborasi, dan literasi digital (Guimaryes et al. , 2. Namun demikian, sistem kurikulum yang adaptif juga menghadapi tantangan. Kebutuhan akan sumber daya teknologi, pelatihan guru, serta kesenjangan antarwilayah menjadi isu yang masih perlu diatasi (Kirby, 2024. Guimaryes et al. , 2. Selain itu, lokalisasi kurikulum dalam konteks global berpotensi menyederhanakan konten dan mengabaikan sistem pengetahuan non-Barat, sehingga kolaborasi dengan komunitas lokal menjadi penting untuk memastikan relevansi pendidikan (Shahin et al. , 2. Indonesia memiliki tantangan yang serupa dalam konteks implementasi kurikulum. Selama beberapa dekade, kurikulum nasional cenderung bersifat sentralistik dan kurang fleksibel dalam menyesuaikan kebutuhan daerah (Efriandi et al. , 2020. Zein et al. , 2. Upaya reformasi melalui Kurikulum Merdeka merupakan langkah menuju desentralisasi pendidikan dengan memberikan ruang adaptasi lokal (Qolbi & Susiawati, 2025. Azmi et al. Prinsip ini sejalan dengan semangat kurikulum Amerika Serikat yang menekankan fleksibilitas dan otonomi sekolah. Kajian literatur menunjukkan bahwa kurikulum Amerika Serikat telah bertransformasi menuju pendidikan yang berorientasi masa depan . uture-oriented educatio. , menekankan personalized learning, integrasi teknologi, dan penilaian berbasis performa (OECD, 2023. NCTM, 2022. US Department of Education, 2. Paradigma ini mendorong pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, menumbuhkan kreativitas, dan membangun keterampilan berpikir tingkat tinggi (Jannah & Setiawan, 2. Namun, sebagian besar penelitian terdahulu masih menitikberatkan pada aspek struktural atau kebijakan, bukan pada keterkaitan sistem kurikulum dengan pengembangan 21st century competencies (Al Thehli, 2. Dengan demikian, diperlukan analisis literatur yang menelaah secara konseptual hubungan antara sistem kurikulum Amerika Serikat dan paradigma pendidikan abad ke-21. Kajian ini penting untuk menggali prinsip-prinsip fleksibilitas, desentralisasi, dan inovasi yang dapat menjadi inspirasi bagi reformasi kurikulum di Indonesia (Iswadi et al. , 2. Artikel ini bertujuan menyajikan sintesis konseptual baru mengenai bagaimana sistem kurikulum Amerika Serikat mencerminkan nilai-nilai pendidikan abad ke-21 serta relevansinya bagi pengembangan kebijakan dan praktik kurikulum di Indonesia. METODE Jenis penelitian yang dipakai adalah penelitian kualitatif yang menekankan pada penelitian kepustakaan . ibrary researc. yaitu penelitian yang memanfaatkan sumber perpustakaan untuk memperoleh data penelitiannya. Riset pustaka membetasi kegiatannya hanya berfokus pada bahan-bahan koleksi perpustakaan saja tanpa memerlukan riset Jenis penelitian ini dipilih kerena penelitian banyak memerlukan sumber data berupa literatur, artikel, buku daan dari website pendukung lainnya yang dijadikan pegengan utama berupa sistem pendidikan di Amerika Serikat untuk merujuk kepada karya-karya yang terpecaya dan relevan dengan kajian penelitian. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan content analisys yaitu penelitian yang tertulis dalam buku-buku sumber dan media Kemudian dari data yang dikumpulkan lalu diinterpretasikan dalam tulisan untuk Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 376 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 374-384, Tio Heriyana. St. Budi Waluya. Mulyono selanjutnya data dianalisis dengan metode deskriptif. Melalui metode ini peneliti melakukan menggambarkan sistem pendidikan di negara Amerika Serikat. HASIL PENELITIAN Struktur dan Prinsip Dasar Sistem Kurikulum Amerika Serikat Sistem kurikulum Amerika Serikat memiliki karakteristik desentralistik dan fleksibel, mencerminkan prinsip local control dan educational freedom. Pemerintah federal tidak menetapkan kurikulum tunggal, melainkan memberikan kewenangan luas kepada negara bagian, distrik, dan bahkan sekolah untuk mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan masing-masing (Keskinkly Yumuak. Dahal. Pendekatan ini memungkinkan variasi dalam standar, metode, dan evaluasi pembelajaran. Negara bagian seperti California menerapkan Common Core State Standards (CCSS), sementara Texas menggunakan Texas Essential Knowledge and Skills (TEKS). Kerangka dasar sistem ini menekankan tanggung jawab bersama antara pemerintah federal, negara bagian, dan lokal. Pemerintah federal berperan dalam pendanaan dan kebijakan kesetaraan (Title I. Every Student Succeeds Ac. , sementara pemerintah negara bagian bertanggung jawab atas standar akademik dan sertifikasi guru, dan distrik lokal menangani manajemen operasional sekolah (OECD, 2. Dengan model ini, sistem pendidikan AS memiliki otonomi tinggi dan terbuka terhadap inovasi pembelajaran di setiap Dinamika Reformasi Kurikulum di Amerika Serikat Perkembangan kurikulum Amerika Serikat sejak awal abad ke-21 menunjukkan transisi dari sistem testing-based menuju sistem learning-based. Terdapat tiga fase reformasi utama: Fase Akuntabilitas . 1Ae2. : kebijakan No Child Left Behind Act (NCLB) memperkenalkan sistem evaluasi nasional berbasis tes untuk memastikan akuntabilitas Meskipun bertujuan meningkatkan standar, kebijakan ini dinilai membatasi kreativitas guru karena fokus pada skor ujian (Ravitch, 2. Fase Desentralisasi Adaptif . 5Ae2. : Every Student Succeeds Act (ESSA) menggantikan NCLB dengan memberi otonomi kepada negara bagian untuk menentukan standar dan evaluasi pendidikan mereka. Reformasi ini menandai perubahan paradigma menuju model pendidikan yang lebih kontekstual dan berorientasi pada kebutuhan lokal (Dahal, 2. Fase Transformasi Digital . 0Aesekaran. : pandemi COVID-19 mempercepat integrasi teknologi dan memunculkan kebijakan Digital Equity Act . untuk mengatasi kesenjangan akses digital. Selain itu, pendekatan Culturally Responsive Education (CRE) dan Social Emotional Learning (SEL) menjadi perhatian utama untuk memperkuat keberagaman dan kesejahteraan peserta didik (OECD, 2. Integrasi Keterampilan Abad ke-21 dalam Kurikulum Kurikulum AS secara eksplisit mengintegrasikan keterampilan abad ke-21 . yaitu Critical Thinking. Creativity. Communication, dan Collaboration dimana dalam semua jenjang pendidikan (Thornhill-Miller et al. , 2. Penerapannya tercermin dalam: A Common Core State Standards (CCSS) yang menekankan pemecahan masalah dan penalaran matematis. Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 377 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 374-384, Tio Heriyana. St. Budi Waluya. Mulyono Next Generation Science Standards (NGSS) yang menggabungkan disciplinary core ideas dengan engineering practices dan crosscutting concepts. A Competency-Based Education (CBE) yang memfokuskan pembelajaran pada penguasaan keterampilan daripada usia atau tingkat kelas (Idowu, 2. Selain itu, teknologi digital dimanfaatkan untuk mendorong personalized learning, di mana siswa belajar sesuai minat dan kecepatan mereka sendiri (Lim & Kwon, 2. Pembelajaran berbasis proyek, microlearning, dan game-based learning juga digunakan secara luas di berbagai distrik sekolah (Guimaryes et al. , 2. Struktur Manajemen. Pendanaan, dan Akuntabilitas Sistem pendidikan AS dikelola melalui model multi-level governance. Sekitar 45% pendanaan sekolah berasal dari pajak properti lokal, menyebabkan perbedaan signifikan antara daerah kaya dan miskin (Darling-Hammond, 2. Pemerintah federal hanya berkontribusi sekitar 8Ae10% dari total anggaran pendidikan melalui program bantuan khusus seperti Title I dan IDEA. Untuk menjaga mutu, setiap negara bagian melakukan asesmen tahunan sesuai pedoman federal melalui lembaga National Assessment of Educational Progress (NAEP). Evaluasi ini menilai literasi, numerasi, dan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Namun, sistem evaluasi berbasis tes ini sering dikritik karena kurang mencerminkan keterampilan abad ke-21 seperti kolaborasi dan kreativitas (OECD, 2. Implikasi Pendidikan Abad ke-21 dan Pembelajaran Holistik Kurikulum AS berfokus pada pengembangan pendidikan holistik yang melibatkan aspek intelektual, emosional, sosial, dan moral. Pendekatan ini mendorong keterlibatan aktif siswa dalam pemecahan masalah dunia nyata dan penguatan nilai kewarganegaraan (Pacheco. Kitcher, 2. Dalam konteks pembelajaran, model interdisciplinary learning dan STEAM (Science. Technology. Engineering. Arts, and Mathematic. menjadi pendekatan dominan dalam memperkuat keterampilan abad ke-21. PEMBAHASAN Desentralisasi dan Fleksibilitas: Fondasi Filosofis Sistem Kurikulum Amerika Serikat Desentralisasi pendidikan di Amerika Serikat berakar pada nilai-nilai demokrasi, kebebasan, dan pluralisme sosial. Filosofi ini menempatkan pendidikan sebagai hak publik yang harus mencerminkan keberagaman budaya dan kebutuhan lokal masyarakat (Labaree. Kennedy & Robinson, 2. Dalam konteks tersebut, desentralisasi bukan hanya mekanisme administratif, melainkan cerminan dari keyakinan bahwa proses belajar paling efektif ketika dirancang oleh komunitas yang memahami konteks sosial-budayanya. Sistem ini memberi ruang bagi sekolah dan distrik untuk mengadaptasi kurikulum sesuai potensi dan karakteristik daerah. Otonomi lokal memungkinkan pembelajaran kontekstual, misalnya penerapan project-based learning berbasis isu lingkungan di California, atau career and technical education (CTE) di negara bagian seperti Texas dan Michigan yang berorientasi pada keahlian vokasional. Namun, fleksibilitas ini juga membawa tantangan serius berupa fragmentasi kebijakan dan ketimpangan kualitas pendidikan antarwilayah. Pendanaan pendidikan yang bergantung pada pajak properti lokal memperlebar jurang antara sekolah di daerah kaya dan miskin Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 378 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 374-384, Tio Heriyana. St. Budi Waluya. Mulyono (Darling-Hammond, 2. Dengan demikian, desentralisasi di AS menghadirkan paradoks: ia memperkuat inovasi lokal, tetapi sekaligus mengancam pemerataan kualitas pendidikan Kondisi ini menunjukkan bahwa kebebasan pendidikan harus selalu diimbangi dengan sistem akuntabilitas publik dan redistribusi sumber daya yang adil, agar prinsip keadilan sosial tetap terjaga dalam sistem desentralistik. Transformasi Paradigma Kurikulum: Dari Penyeragaman Menuju Keberagaman dan Adaptivitas Perkembangan kurikulum di Amerika Serikat menunjukkan pergeseran paradigma dari model standard-based yang menekankan keseragaman menuju model competency-based yang menghargai keragaman cara belajar siswa. Reformasi kebijakan Every Student Succeeds Act (ESSA) menjadi tonggak penting dalam transisi ini, dengan mengembalikan kewenangan kurikulum dan asesmen kepada negara bagian. Perubahan tersebut menandai pergeseran fundamental: dari Aumengukur untuk mengontrolAy menuju Aumenilai untuk Ay Paradigma baru ini mencerminkan filosofi pendidikan progresif John Dewey . , yang menekankan bahwa tujuan pendidikan bukan sekadar transmisi pengetahuan, melainkan pembentukan individu yang mampu berpikir reflektif dan bertindak sosial. Dalam konteks abad ke-21, pandangan ini diwujudkan melalui kurikulum yang adaptif, kolaboratif, dan berbasis pengalaman . xperiential learnin. Transformasi tersebut juga memperlihatkan upaya untuk menyeimbangkan antara standar nasional dan otonomi lokal. Meskipun Common Core State Standards (CCSS) menjadi acuan nasional, setiap negara bagian memiliki kebebasan dalam interpretasi dan Fleksibilitas ini menjadikan sistem pendidikan AS lebih tangguh terhadap perubahan sosial dan teknologi, namun tetap memelihara identitas lokal dalam kerangka Integrasi Teknologi dan Digitalisasi: Menuju Pendidikan Adaptif dan Personal Abad ke-21 menuntut sistem pendidikan yang tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk literasi digital dan kemampuan adaptif terhadap teknologi baru. Dalam konteks ini. Amerika Serikat menjadi pelopor integrasi teknologi ke dalam sistem kurikulum. Konsep personalized learning (Idowu, 2. dan competency-based education (CBE) mendorong pendekatan pembelajaran yang menyesuaikan kecepatan, gaya, dan minat belajar siswa. Teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) digunakan untuk menyesuaikan jalur belajar individu melalui sistem adaptif dan data-driven feedback (Lim & Kwon, 2. Integrasi teknologi juga memperluas akses terhadap sumber belajar global melalui platform terbuka seperti Khan Academy. Coursera for Schools, dan Edmodo. Hal ini mendukung visi UNESCO tentang pendidikan terbuka . pen education resource. yang demokratis dan partisipatif. Namun, di balik keberhasilan tersebut, muncul tantangan baru berupa digital divide yaitu kesenjangan akses terhadap teknologi dan internet di kalangan siswa dari keluarga berpenghasilan rendah. Pemerintah federal melalui Digital Equity Act . berupaya menjembatani kesenjangan ini, tetapi efektivitasnya masih bergantung pada komitmen negara bagian dan pemerintah lokal. Dari perspektif pedagogis, pembelajaran digital menuntut transformasi kompetensi guru. Guru bukan lagi pusat informasi, melainkan fasilitator yang memandu proses berpikir kritis dan Dalam konteks ini, program pengembangan kompetensi guru di AS telah bergeser Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 379 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 374-384, Tio Heriyana. St. Budi Waluya. Mulyono ke arah teacher digital competence dan technology-enhanced pedagogy (Gisbert Cervera & Caena, 2. Implementasi Keterampilan Abad ke-21: Dari Kompetensi ke Karakter Kurikulum Amerika Serikat tidak hanya berfokus pada keterampilan kognitif, tetapi juga pada dimensi sosial dan emosional pembelajaran. Inisiatif Social and Emotional Learning (SEL) menempatkan empati, kolaborasi, dan tanggung jawab sosial sebagai kompetensi utama di samping 4Cs yaitu critical thinking, creativity, communication, collaboration (Thornhill-Miller et al. , 2. Pendekatan ini memperkuat gagasan holistic education (Pacheco, 2. yang memadukan kecerdasan intelektual, emosional, dan moral. Dalam praktiknya, banyak sekolah di AS menerapkan interdisciplinary projects dan community-based learning, di mana siswa mengidentifikasi masalah lokal dan merancang solusi berbasis riset. Misalnya, proyek energi terbarukan di Massachusetts atau pengelolaan sampah plastik di Seattle menjadi contoh bagaimana kurikulum mengintegrasikan kompetensi abad ke-21 dengan kesadaran ekologis dan kewarganegaraan global. Model ini juga mendorong penerapan STEAM education atau pendekatan lintas disiplin yang menggabungkan sains, teknologi, rekayasa, seni, dan matematika. STEAM tidak hanya meningkatkan literasi STEM, tetapi juga menumbuhkan kreativitas dan sensitivitas estetika yang relevan dengan tuntutan industri masa depan (WALIA, 2. Ketimpangan. Keberagaman, dan Tantangan Keadilan Sosial dalam Kurikulum Salah satu paradoks sistem pendidikan AS adalah keberhasilan dalam inovasi disertai ketimpangan dalam distribusi hasil pendidikan. Struktur pendanaan berbasis pajak lokal menciptakan educational inequality yang signifikan. Sekolah di wilayah makmur menikmati akses teknologi dan guru berkualifikasi tinggi, sementara sekolah di daerah miskin menghadapi keterbatasan fasilitas dasar (Darling-Hammond, 2. Kesenjangan ini mendorong munculnya pendekatan baru yaitu Culturally Responsive Pedagogy (CRP) dan Equity-Based Curriculum Design, yang bertujuan menyesuaikan konten pembelajaran dengan latar belakang sosial-budaya siswa (Shahin et al. , 2. Prinsip inklusivitas ini menegaskan bahwa pendidikan abad ke-21 tidak hanya menuntut penguasaan kompetensi digital dan intelektual, tetapi juga kemampuan sosial untuk hidup harmonis dalam masyarakat multikultural. Dengan demikian, keadilan sosial menjadi fondasi baru bagi kurikulum modern di AS. Kurikulum tidak lagi semata alat akademik, tetapi juga instrumen demokrasi sosial yang memfasilitasi partisipasi setara semua warga negara dalam kehidupan publik. Refleksi dan Implikasi bagi Indonesia Sistem kurikulum Amerika Serikat memberikan refleksi penting bagi reformasi pendidikan di Indonesia. Pertama, desentralisasi kurikulum sebagaimana diterapkan di AS dapat menjadi inspirasi untuk memperkuat otonomi sekolah dan daerah dalam mengembangkan Kurikulum Merdeka. Otonomi ini memungkinkan pendidikan lebih kontekstual dengan budaya dan kebutuhan lokal (Efriandi et al. , 2020. Qolbi & Susiawati. Kedua, pendekatan berbasis kompetensi dan teknologi di AS dapat memperkaya desain kurikulum Indonesia dengan menekankan learning outcomes yang konkret dan dapat diukur. Indonesia dapat mengadaptasi model personalized learning untuk mendukung diferensiasi pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan peserta didik. Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 380 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 374-384, Tio Heriyana. St. Budi Waluya. Mulyono Ketiga, pengalaman AS menegaskan pentingnya pemerataan sumber daya pendidikan. Desentralisasi harus diiringi sistem pengawasan nasional yang kuat agar otonomi tidak menimbulkan ketimpangan mutu antarwilayah. Dalam konteks ini, strategi national quality assurance dan capacity building bagi guru menjadi kunci keberhasilan desentralisasi di Indonesia. Keempat, nilai-nilai pendidikan holistik dan pembelajaran berbasis karakter dapat diintegrasikan dalam Kurikulum Merdeka melalui proyek lintas disiplin dan kegiatan berbasis Dengan begitu, pendidikan Indonesia tidak hanya membekali keterampilan akademik, tetapi juga memperkuat literasi sosial, digital, dan moral peserta didik. SIMPULAN DAN SARAN Kajian literatur ini menegaskan bahwa sistem kurikulum Amerika Serikat merupakan model pendidikan yang desentralistik, adaptif, dan progresif, berlandaskan filosofi educational freedom dan local control, dengan orientasi kuat pada pengembangan kompetensi abad ke21. Otonomi negara bagian dan distrik sekolah mendorong inovasi serta fleksibilitas pedagogis, meskipun berpotensi menimbulkan ketimpangan mutu akibat disparitas sumber daya, sementara pemerintah federal berperan sebagai fasilitator pemerataan kebijakan dan Transformasi melalui kebijakan seperti NCLB. ESSA, dan Digital Equity Act menunjukkan pergeseran dari penyeragaman menuju pendidikan berbasis kompetensi, teknologi, dan keadilan sosial, dengan penekanan pada 4Cs, integrasi teknologi digital, pembelajaran berbasis proyek, personalized learning, serta penguatan Social-Emotional Learning dan Culturally Responsive Pedagogy. Secara teoretis, kurikulum ini mencerminkan paradigma konstruktivistik dan humanistik yang memandang pembelajaran sebagai ekosistem adaptif untuk menumbuhkan kemandirian, kolaborasi, dan empati sosial. Bagi Indonesia, model ini menawarkan inspirasi dalam mengintegrasikan fleksibilitas dan otonomi lokal ke dalam Kurikulum Merdeka, dengan tetap menjaga arah nasional melalui mekanisme pemerataan mutu dan pengawasan yang kuat. Secara keseluruhan, disarankan agar reformasi kurikulum di Indonesia mengadopsi prinsip desentralisasi yang bertanggung jawab dengan tetap menjaga kesetaraan mutu nasional melalui pemerataan sumber daya, penguatan infrastruktur TIK, dan evaluasi berbasis kompetensi abad ke-21. Pendidik dan pengembang kurikulum perlu meningkatkan kompetensi digital serta menerapkan pembelajaran inovatif berbasis proyek, kolaborasi, dan pendekatan kontekstual yang memadukan kearifan lokal dengan tuntutan global, sekaligus menekankan pembentukan karakter dan kewarganegaraan global. Peneliti dan akademisi didorong melakukan studi lanjutan dan komparatif untuk mengkaji adaptasi model desentralisasi, digitalisasi, serta integrasi keterampilan abad ke-21 dalam Kurikulum Merdeka. Selain itu, pemerintah daerah dan satuan pendidikan perlu merancang pengembangan kurikulum berbasis data lokal serta memperkuat kemitraan dengan perguruan tinggi, industri, dan komunitas guna memastikan relevansi dan internalisasi kompetensi global dalam praktik Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 381 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 374-384, Tio Heriyana. St. Budi Waluya. Mulyono DAFTAR PUSTAKA