Jurnal Farmasi & Sains Indonesia. April 2018 p-ISSN 2621-9360 e-ISSN 2686-3529 Vol. 1 No. OPTIMASI FORMULA KOMBINASI GEL MADU DAN LIDAH BUAYA (Aloe Ver. PADA PENYEMBUHAN LUKA GANGREN DIABETIK Dwi Hadi Setya Palupi. Ririn Suharsanti Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Yayasan Pharmasi Semarang palupi@ymail. ABSTRAK Luka gangren adalah komplikasi serius pada diabetes mellitus yang berpotensi menimbulkan kematian. Madu dan Lidah buaya (Aloe ver. adalah bahan alam yang masing-masing telah terbukti memiliki aktivitas dalam penyembuhan luka Riset ini bertujuan untuk mendapatkan formula polyherbal topikal madu dan lidah buaya yang terbaik sebagai sediaan topikal untuk terapi luka gangren diabetik. Formulasi gel kombinasi madu dan lidah buaya menggunakan carbophol 934, propilenglikol dan TEA dalam berbagai perbandingan. Evaluasi sediaan krim yang meliputi uji organoleptis, uji homogenitas fisik, uji pH, uji daya lekat, uji daya sebar, dan uji viskositas. Pengujian efektivitas sediaan dilakukan terhadap penyembuhan luka gangren diabetik pada mencit jantan galur swiss webster. Penentuan formula optimum gel dengan metode simplex lattice design menggunakan software Design Expert, yang diverifikasi secara statistik dengan uji T berpasangan taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan Formula optimum sediaan gel kombinasi lidah buaya 4,8% dan madu 15,2% menghasilkan sediaan yang baik dalam hal karakteristik fisik, dengan efektivitas penyembuhan luka gangren diabetik lebih maksimal. Kata kunci: Gel poliherbal, madu, lidah buaya, luka gangren diabetik, simplex lattice design PENDAHULUAN Diabetes melitus dengan durasi yang lama dan kontrol metabolik yang buruk, mikrovaskuler . Mikroangiopati terdiri dari perubahan yang merugikan baik pada struktur maupun penelitian klinis terdahulu, pasien diabetes, mengalami kelainan histologis terutama pada arteriol dan kapiler kaki (Sharma dan Rayman, 2. Cacat pada mikrosirkulasi, yang sering disertai dengan neuropati perifer dan penyakit arteri perifer, masalah kaki diabetes. Trombosis dan insensitivitas kaki pada penderita diabetes berakibat pada kematian jaringan dan seringkali memicu terjadinya gangren. Adanya masalah vaskuler di perifer pada akan menyebabkan Kompleksitas permasalahan kaki diabetes, mulai dari risiko terjadi amputasi sampai kematian karena gangren diabetes memerlukan terapi yang tepat. Penggunaan herbal medicine dalam pengobatan luka sudah banyak digunakan, termasuk gangren diabetik, eliminasi menghilangkan trombus darah, serta meningkatkan penyembuhan luka (Wang Jue. Penelitian Viswanathan . membuktikan bahwa aplikasi harian krim poliherbal . ombinasi beberapa tanama. dapat mengurangi ukuran luka secara signifikan dalam waktu sekitar satu bulan setengah, dan tidak memberikan efek samping. Krim poliherbal diperkirakan memiliki efektifitas dalam mengobati gangren diabetik bersamaan dengan terapi diabetes standar. Madu dan lidah buaya (Aloe ver. , merupakan bahan-bahan alam yang telah penyembuhan luka. Berbagai penelitian ilmiah membuktikan bahwa kandungan fiskal dan kimiawi dalam madu, seperti kadar keasaman dan pengaruh osmotik, berperan besar membunuh kuman-kuman dan anti inflamasinya dapat mengurangi nyeri serta meningkatkan sirkulasi yang berpengaruh pada proses penyembuhan (Bogdanov dkk. , 2. Kandungan vitamin A dan E, serta zat aktif manosa. Acetylated mannose . dalam lidah buaya dapat dimanfaatkan untuk Jurnal Farmasi & Sains Indonesia. April 2018 p-ISSN 2621-9360 e-ISSN 2686-3529 penyembuhan luka. Acemannan terbukti meningkatkan respon imun Th1 sebagai pertahanan terhadap patogen intraseluler seperti virus, bakteri maupun parasit (Habeeb dkk. , 2. dan dapat memicu Keratinocyte Growth Factor (KGF) sehingga sangat berperan dalam memicu proses reepitelisasi serta menghambat (Jettanacheawchankit dkk. , 2. Peningkatan penggunaan polyherbal topikal dalam merupakan pertimbangan yang kuat dilakukannya optimasi formula dalam sediaan gel. Tujuan umum penggunaan obat pada terapi dermatologi adalah untuk menghasilkan efek terapetik pada tempattempat spesifik di jaringan epidermis. Gel mempunyai sifat yang menyejukkan, melembabkan, mudah penggunaannya, mudah berpenetrasi pada kulit sehingga pengobatan luka gangren diabetes. METODE PENELITIAN Penelitian ini terbagi menjadi 2 tahapan yaitu, pembuatan dan optimasi sediaan gel Vol. 1 No. serta uji farmakologi poliherbal topikal. Penelitian eksperimental murni di laboratorium yang juga menggunakan hewan percobaan mencit jantan galur swiss usia 2-3 bulan. Alat Alat-alat gelas, pH meter (HANNA Instruments pH . , kaca pembesar, alat uji daya sebar, alat uji daya lekat. Viskosimeter Brookfield. alat ukur gula darah, sonde oral tikus, restrainer, jangka sorong, alat bedah. Spektrofotometer UVVis Bahan Bahan utama yang digunakan adalah madu dan lidah buaya yang dibuat menjadi serbuk dengan proses frezee drying . engan penambahan dekstrin 15%). Tanaman lidah buaya (Aloe ver. diperoleh dari daerah Gunung Pati, sedangkan madu yang digunakan ini merupakan madu hutan, yang didapatkan dari daerah Jombang. Bahan untuk formulasi sediaan krim meliputi carbophol 934, propilenglikol. TEA, nipagin, dan air. Komposisi formula gel dapt dilihat pada tabel 1 Tabel 1. Formula Gel Kombinasi Madu dan Lidah Buaya (Aloe ver. KOMPOSISI FORMULA FORMULA FORMULA FORMULA FORMULA FORMULA Aloe vera Madu Carbophol Propilenglikol TEA Nipagin Aquadest 1,5 % 0,3 % ad 100 g 1,5 % 0,3 % ad 100 g 1,5 % 0,3 % ad 100 g 1,5 % 0,3 % ad 100 g 1,5 % 0,3 % ad 100 g Pembuatan Serbuk Lidah Buaya Lidah buaya yang sudah dikumpulkan, disortasi basah selanjutnya dikupas sampai tersisa daging buah yang berupa Lidah buaya yang telah dikupas langsung dicuci dengan air mengalir. Gel lidah buaya dihaluskan dengan blender kemudian ditimbang sejumlah tertentu dan ditambah dengan dekstrin sebanyak 15%. Gel lidah buaya dicampur dengan dekstrin ditempatkan dalam loyang-loyang untuk dilakukan frezee drying. Skrining Fitokimia Skrining fitokimia dilakukan terhadap serbuk lidah buaya, meliputi uji reaksi warna dan pengendapan serta penegasan dengan KLT untuk beberapa golongan senyawa, diantaranya: flavonoid, saponin, antrakuinon, glikosida, phlobatannin, dan Pembuatan Gel Carbophol dikembangkan dengan air panas selama Jurnal Farmasi & Sains Indonesia. April 2018 p-ISSN 2621-9360 e-ISSN 2686-3529 15 menit. Setelah Carbophol mengembang dimasukan Propilenglikol dan TEA, aduk hingga homogen. Ditambahkan Nipagin, aduk hingga homogen. Ditambahkan serbuk lidah buaya, madu dan aquadest sedikit-sedikit, aduk hingga homogen. Dilakukan evaluasi sediaan yang meliputi uji organoleptis, uji daya sebar, uji daya lekat, uji pH dan viskositas. Evaluasi Sediaan Organoleptis Sediaan gel diamati secara visual Uji organoleptis meliputi bentuk, bau, dan Daya Lekat Sediaan gel 0,5 g diletakkan di atas objek glass. Ditutup dengan objek glass yang lain, dan ditekan dengan beban 50 g selama 5 menit. Objek glass dikaitkan di antara statif dan diberi beban. Diukur waktu daya lekat sediaan (Indrayudha, 2010 : . Daya Sebar Kaca penutup ditimbang, kemudian sebanyak 0,5 g sediaan gel diletakkan di tengah kaca. Ditutup dengan kaca yang sudah ditimbang, dibiarkan 1 menit. Ditambahkan beban 50 g, dibiarkan 1 menit, diukur kembali diameter sediaan Dilakukan penambahan beban hingga sediaan gel tidak mampu untuk menyebar Dibuat hubungan grafik antara beban terhadap luas sediaan gel yang menyebar (Indrayudha, 2010 : . Uji pH Alat pH meter dikalibrasi. Diamati pH sediaan gel dengan pH meter. Alat pH meter dimasukkan ke dalam sediaan gel. Dilihat angka pada alat pH meter menunjukkan nilai pH pada sediaan gel (Indrayudha, 2010 : . Viskositas Dipilih spindel yang digunakan, kemudian pasangkan pada viskosimeter Dimasukkan gel kedalam cup atau wadah, atur ketinggian sampai spindel tercelup sempurna. Diatur rpm yang digunakan, kemudian lihat angka yang muncul pada viskosimeter brookfield. Vol. 1 No. Uji Farmakologi Poliherbal Topikal Seluruh mencit diadaptasikan selama 7 hari selanjutnya dibagi secara acak menjadi 6 kelompok masing-masing 5 Seluruh mencit diukur kadar gula darah puasa sebagai kadar gula darah awal, dilanjutkan dengan induksi diabetes melitus menggunakan aloksan dosis 150 mg/kgBB secara intra peritonial sebanyak tiga kali berturut-turut dengan jeda 3 hari untuk setiap penyuntikan. Tiga hari setelah induksi kadar gula darah mencit diukur untuk memastikan kondisi diabetes melitus sudah terjadi . ari ke-. dan kemudian dilakukan pencukuran bulu di area Hari ke-1 dilakukan penyayatan pada kulit punggung sepanjang 1-1,5 cm sebelumnya telah dianestesi dengan etil Sehari setelah penyayatan semua kelompok diberi pengobatan dengan gel sesuai pengelompokan. Kelompok kontrol negatif diberikan basis gel, kelompok perlakuan diberikan gel kombinasi lidah buaya dan madu sediaan gel formula 1-5. Pemberian pengobatan diberikan 2 kali sehari sebanyak 100 mg selama 6 hari. Hari sampai ke-7 pemeriksaan makroskopis dan pada hari ke-7 dilakukan pemeriksaan mikroskopis. Pengamatan makroskopis adalah dengan mengukur panjang/luas luka dengan jangka sorong. Analisa Data Data evaluasi sediaan yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan soft ware design expert dengan parameter optimasi karakteristik fisik meliputi daya lekat, daya sebar, pH, dan viskositas, serta panjang luka yang merupakan parameter dari efektivitas penyembuhan luka gangren Formula optimum yang diperoleh selanjutnya diverifikasi dengan melakukan pengujian ulang terhadap karakteristik fisik maupun efektivitas pengobatan luka. Data hasil pengujian kemudian dibandingkan dengan kontrol basis menggunakan uji T HASIL DAN PEMBAHASAN Jurnal Farmasi & Sains Indonesia. April 2018 p-ISSN 2621-9360 e-ISSN 2686-3529 Lidah buaya dibuat sebagai serbuk dengan metode Liofilisasi atau Freeze Drying terhadap daging buah lidah buaya, dimaksudkan untuk menjaga zat-zat yang Penambahan dekstrin sebagai pengisi bertujuan membantu proses pengeringan lidah buaya. Rendemen serbuk kering gel lidah buaya yang diperoleh sebesar 7,92 Hasil pengujian fitokimia terhadap serbuk lidah buaya seperti dilihat pada Tabel 2, menunjukkan adanya kandungan senyawa flavonoid, saponin, alkaloid, karbohidrat, glikosida, dan antrakuinon. Formula gel dibuat mengandung kombinasi serbuk lidah buaya, madu dalam berbagai perbandingan konsentrasi dan basis gel (Tabel . Pemilihan basis dilakukan dengan memperhatikan tujuan yang diharapkan untuk perbaikan luka Tingginya sensitifitas luka bakar iritasi dari luar atau bahan-bahan yang melekat pada luka menjadikan viskositas atau kekentalan gel sangat penting untuk Basis utama yang digunakan pada sediaan gel kali ini adalah carbophol 934 sebagai basis gel hidrofilik dengan stabilitas tinggi. Propilenglikol dalam mempunyai kemampuan menarik air dan Vol. 1 No. berpenetrasi pada kulit serta meningkatkan Trietanolamin (TEA) dalam sediaan gel kemampuan menstabilkan pH . eutralizing agen. untuk mengoptimalkan viskositas Karakterisasi fisik formulasi gel dapat dilihat pada tabel 3 dan 4 serta gambar 1. Secara organoleptis, tampak bahwa besaran konsentrasi serbuk lidah buaya maupun madu pada formula sediaan gel Bau dan tekstur gel kurang lebih sama pada semua formula. Hasil pengamatan homogenitas pada kelima formula memperlihatkan bahwa kelima sediaan homogen. Homogenitas sediaan sangat penting karena dengan sediaan yang homogen diharapkan mendapatkan terapi dengan dosis yang seragam, oleh karena zat aktif terdistribusi merata dalam Hasil pengukuran pH menunjukkan bahwa semua formulasi gel berada di rentang pH ideal sediaan topikal yaitu 4,5 Ae 6,5 yang merupakan pH kulit. Nilai pH ini pun bersifat acceptable untuk kulit yang mengalami luka dan stabil dalam Tabel 2. Hasil uji Hasil Uji Kualitatif Senyawa Aktif Serbuk Lidah Buaya (Aloe ver. JENIS UJI HASIL PERCOBAAN Senyawa flavonoid Senyawa saponin Senyawa tannin Senyawa alkaloid Senyawa kuinon Senyawa karbohodrat Senyawa glikosida Senyawa antrakuinon Senyawa steroid Senyawa triterpenoid Keterangan : ( ) menunjukkan adanya senyawa uji (-) menunjukkan tidak terdapat senyawa Tabel 3. Hasil Pengamatan Organoleptis dan Homogenitas Gel Lidah Buaya. Madu serta Kombinasinya FORMULA WARNA BAU TEKSTUR HOMOGENITAS Formula 1 coklat muda khas aloe lengket, agak kental Formula 2 coklat tua aloe sedikit lengket dan dan madu agak kental Formula 3 coklat tua aloe sedikit lengket, kental dan madu Formula 4 aloe tidak lengket, kental dan madu Jurnal Farmasi & Sains Indonesia. April 2018 p-ISSN 2621-9360 e-ISSN 2686-3529 Formula 5 Basis Vol. 1 No. khas madu sedikit lengket, kental tidak berbau lengket, agak kental Tabel 4. Hasil Pengujian Daya Lekat, pH, dan Viskositas Gel Lidah Buaya. Madu, serta Kombinasinya FORMULA DAYA LEKAT VISKOSITAS . Formula 1 1,27 A 0,16 4,81 A 0,11 1028 A 29,50 Formula 2 1,39 A 0,31 4,67 A 0,17 811 A 72,62 Formula 3 1,04 A 0,03 4,66 A 0,16 439,2 A 58,76 Formula 4 4,05 A 0,39 4,93 A 0,26 1084 A 69,50 Formula 5 2,26 A 0,17 5,34 A 0,13 1066 A 49,30 Basis 4,06 A 0,48 5,37 A 0,47 1112 A 44,38 Gambar 1. Kurva Hubungan Penambahan Berat Beban Terhadap Diameter Sebar Gel Lidah Buaya. Madu, serta Kombinasinya Hasil uji daya lekat menunjukkan bahwa kemampuan daya lekat gel berubah dengan penambahan serbuk lidah buaya dan madu. Daya lekat gel lebih kecil dibanding basis dan nilai ini sedikit jauh dari standar daya lekat sediaan topikal yang baik. Waktu lekat gel yang singkat akan memperkecil efek pengobatan karena adsorbsi obat pada kulit semakin kecil. Selain daya lekat, daya sebar juga acceptability sediaan topikal. Daya sebar yang baik menjamin pemerataan gel saat diaplikasikan pada kulit. Gel harus mampu tersebar dengan sedikit tekanan sehingga tidak memberikan rasa sakit saat Hasil pengukuran daya sebar sediaan gel kombinasi lidah buaya dan penambahan lidah buaya dan madu. Viskositas berkaitan langsung dengan konsistensi gel yang dibuat, dalam hal ini adalah konsistensi gel kombinasi lidah Berdasarkan pengukuran tampak bahwa nilai viskositas gel berubah dengan adanya penambahan serbuk lidah buaya maupun madu. Kombinasi lidah buaya dan madu pada formula 3 mempunyai viskositas yang paling kecil yaitu 439,2 poise. Kombinasi dengan persentase yang sama . %) ternyata memberikan konsistensi yang cenderung lebih tidak kental. Metode baku untuk pembentukan ganggren secara eksperimental sampai saat ini belum tersedia, dan dalam Jurnal Farmasi & Sains Indonesia. April 2018 p-ISSN 2621-9360 e-ISSN 2686-3529 Vol. 1 No. penelitian ini telah dilakukan orientasi pembentukan gangren. Hasil orientasi menginduksi mencit dengan aloksan dosis 120 mg/kgBB. secara berulang . kali dalam waktu yang berturut-turut, setiap 3 hari sekal. Setelah kadar gula darah mencit tinggi dan stabil kemudian disayat kulit pada bagian punggung untuk membuat luka. Kondisi luka diabetik untuk lebih mendekati luka gangren dicapai dengan memberikan suspensi bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian secara klinis terhadap penderita diabetes mellitus yang mengalami gangren menunjukkan bahwa Staphylococcus aureus adalah bakteri yang umumnya menginfeksi luka yang dialami penderita diabetes melitus (Trivedi dkk. , 2. Tabel 5 memuat hasil pengukuran kadar gula darah mencit selama masa induksi. Proses pemulihan luka selama pemberian gel diamati dengan panjang luka. Gambar 2 memperlihatkan kurva hubungan antara panjang luka terhadap Pemulihan luka pada kondisi mencit diabetes melitus tanpa pengobatan adalah selama 14 hari, sedangkan pada kelompok dengan pengobatan gel lidah buaya, madu maupun kombinasinya terjadi lebih cepat. Pada hari ke-7, panjang luka untuk kelompok dengan pengobatan gel teruji lebih pendek dibandingkan kelompok Gel formula 5 yang berisi lidah buaya 20%, menunjukkan penyembuhan yang lebih baik dibandingkan formula Panjang Luka . Kontrol negatif Kontrol positif Normal Hari keGambar 2. Kurva Hubungan antara Panjang Luka dan Waktu Penyembuhan setelah Pemberian Topikal Gel Lidah Buaya. Madu, serta Kombinasinya Hasil pengujian fisik dan efektivitas penyembuhan luka gangren diabetik diolah menggunakan metode simplex lattice design menggunakan software Design Expert untuk untuk menghasilkan suatu persamaan sebagai hubungan interaksi antara kedua faktor seperti pada Tabel 6. Berdasar persamaan diketahui bahwa lidah buaya dan madu mempengaruhi secara positif pada nilai pH, daya lekat, dan daya sebar, sedangkan terhadap nilai viskositas berpengaruh negatif. Lidah buaya dan madu mempengaruhi secara positif terhadap efektivitas penyembuhan Secara pengolahan data dengan metode design konsentrasi formula optimum untuk lidah buaya sebesar 0,24 bagian . ,8%) dan madu 0,76 bagian . ,29%). Hasil ini ditetapkan sebgai formula optimum, meskipun jika dilihat dari desirability nya hanya 0,619. Verifikasi hasil dilakukan dengan membuat gel formula optimum, kemudian diuji karakteristik fisik maupun efektivitas terhadap penyembuhan luka gangren Pengujian dilakukan dengan pembanding kontrol negatif, yaitu gel yang Jurnal Farmasi & Sains Indonesia. April 2018 p-ISSN 2621-9360 e-ISSN 2686-3529 hanya berisi basis saja. Hasil pengujian dapat dilihat pada Tabel 7. Karakteristik fisik formula optimum memperlihatkan nilai berada di rentang standar sediaan topikal dan meningkatkan acceptability untuk kulit yang mengalami luka. Uji efektivitas penyembuhan luka diabetik formula optimum pada mencit menunjukkan bahwa Vol. 1 No. lama waktu penyembuhan luka oleh gel kombinasi lebih cepat secara bermakna dibandingkan dengan kontrol negatif. Hal tersebut berarti bahwa dengan formula optimum . idah buaya 4,8% dan madu 15,2%) ini menghasilkan efektivitas penyembuhan luka yang lebih maksimal. Tabel 6. Persamaan Hasil Pengolahan dengan Design Expert Kombinasi Lidah Buaya (Aloe Ver. dan Madu UJI PERSAMAAN Daya Lekat Daya Sebar Viskositas Efektivitas Penyembuhan Luka y = 4,81A 5,35B Ae 1,61AB y = 1,01A 2,86B 0,52AB y = 4,42A 3,29B 2,59AB y = -1,018A 1,158B Ae 1,62AB y = 0,44A 0,32 0,07AB Tabel 7. Hasil Uji T Karakteristik Fisik dan Efektivitas Penyembuhan Luka Gangren Diabetik Gel Kombinasi Lidah Buaya dan Madu Formula Optimum terhadap Kontrol HASIL VERIFIKASI PENGUJIAN FORMULA KONTROL OPTIMUM Organoleptis A Bentuk A Warna A Bau A Tekstur Homogenitas Daya Lekat Daya Sebar Viskositas Efektivitas Penyembuhan Luka Keterangan : (*) terdapat perbedaan KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan Formula optimum sediaan gel kombinasi lidah 4,8% 15,2% menghasilkan sediaan yang baik dalam hal karakteristik fisik, dengan efektivitas penyembuhan luka gangren diabetik lebih DAFTAR PUSTAKA