Jurnal Keperawatan Majampangi. Volume 1. Nomor 1. Juni 2026, pp. ISSN x (Onlin. ISSN x (Prin. doi: DOI HERE Asuhan Keperawatan Pada An . E Dengan Gangguan Perkembangan Motorik Halus Menggunting Pola Di Tk Pembina Pertiwi Kabupaten Mamuju 1,2,3 Wisda Asdar1 A . Supratti2 . Andi Nasir3A Jurusan Keperawatan. Poltekkes Kemenkes Mamuju, wisdasdarr@gmail. ARTICLE INFO Article history Submitted : 2025-09-23 Revised : 2026-06-19 Accepted : 2026-06-26 Keywords: Nursing care. Fine Motor Disorders. ABSTRACT Background: Early childhood is a period of rapid growth and a sensitive stage. therefore, motor development, especially fine motor skills, is crucial. Suboptimal development may lead to negative impacts such as academic difficulties . riting, drawing, using learning tool. as well as delays in independence . uttoning clothes, tying shoes, eating independentl. Objective: This study aims to implement nursing care for children with fine motor developmental disorders at TK Pembina Pertiwi. Mamuju Regency. Method: The research design used a case study approach in which the researcher selected one kindergarten student at TK Pembina Pertiwi. Mamuju Regency, aged 72 months, with fine motor developmental disorders. Results: After the assessment was conducted, a nursing diagnosis of growth and development disorder was established in An. During the first to the fourteenth day. An. E showed improvement in abilities. On the first to the third day, the child held scissors using both hands. From the fifth to the fourteenth day, the child was able to hold scissors with one hand. Thus, the childAos fine motor skills improved from the "poor" category to "adequate. " Conclusion: Nursing care provided to An. E with fine motor developmental disorder for 14 days demonstrated a gradual improvement in abilities from the first to the fourteenth day. Suggestion: This scientific paper is expected to serve as a reference for future researchers, as a source of knowledge to enrich pediatric nursing teaching materials, and as guidance for schools and parents of children with fine motor developmental disorders, particularly in scissor-cutting skills. Keywords: Nursing Care. Fine Motor Disorders Kata Kunci: Aasuhan Keperawatan. Gangguan Motorik Halus. This is an open access article under the CC BY-SA ABSTRAK Latar Belakang : Anak usia dini berada pada masa pertumbuhan pesat dan periode sensitif, sehingga perkembangan motorik, khususnya motorik halus, sangat penting. Perkembangan yang kurang optimal dapat menimbulkan dampak negatif, seperti kesulitan akademik . enulis, menggambar, menggunakan alat belaja. serta keterlambatan kemandirian . engancing baju, mengikat sepatu, makan sendir. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk melaksanakan asuhan keperawatan pada anak dengan gangguan perkembangan motorik halus di TK Pembina Pertiwi Kabupaten Mamuju. Metode : Desain penelitian ini menggunakan metode studi kasus dimana penulis mengambil satu siswa TK Pembina Pertiwi Kabupaten Mamuju yang berusia 72 bulan, dengan gangguan perkembangan motorik halus. Hasil : Setelah di lakukan pengkajian di dapatkan diagnosis keperawatan gangguan tumbuh kembang pada Asuhan Keperawatan Pada An . E Dengan. Volume 1. Nomor 1. Juni 2026 ARTICLE INFO nC Corresponding Author: ABSTRACT An. Selama hari pertama hingga hari keempat belas. An. menunjukkan adanya peningkatan kemampuan. Pada hari pertama hingga hari ketiga anak memegang gunting menggunakan kedua Selanjutnya, pada hari kelima hingga hari keempat belas, anak sudah dapat memegang gunting dengan satu tangan. Dengan demikian, terjadi peningkatan kemampuan motorik halus anak dari kategori kurang menjadi cukup. Kesimpulan Asuhan keperawatan yang diberikan kepada An. E dengan gangguan perkembangan motorik halus selama 14 hari menunjukkan adanya peningkatan kemampuan secara bertahap sejak hari pertama hingga hari keempat Saran : Karya tulis ilmiah ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi bagi peneliti selanjutnya dan sebagai sumber pengetahuan untuk memperkaya materi ajar keperawatan anak, serta dapat menjadi rujukan bagi sekolah maupun orang tua yang memiliki anak dengan gangguan perkembangan motorik halus, khususnya dalam keterampilan menggunting pola. Kata kunci : Asuhan Keperawatan. Gangguan Motorik Halus. Wisda Asdar Tlp. Email : wisdasdarr@gmail. PENDAHULUAN Anak prasekolah merupakan anak yang berada pada rentang usia 3 sampai 6 tahun. Periode ini sering disebut sebagai masa emas . olden ag. karena pada tahap ini sebagian besar perkembangan kognitif anak, yaitu sekitar 80%, telah berkembang. Oleh sebab itu, stimulasi yang optimal pada berbagai aspek perkembangan sangat diperlukan untuk menunjang kesiapan anak dalam mencapai tahapan perkembangan berikutnya. Pada masa prasekolah, perkembangan anak mencakup beberapa aspek penting, seperti motorik, personal sosial, dan bahasa. Perkembangan motorik sendiri terbagi menjadi dua bagian, yaitu motorik kasar dan motorik halus. Motorik kasar berhubungan dengan kemampuan menggerakkan otototot besar, misalnya berjalan, berlari, dan melompat. Sedangkan motorik halus berkaitan dengan penggunaan otot-otot kecil yang memerlukan koordinasi antara mata dan tangan, seperti menggambar, menulis, dan menggunting (Putri & Sulistyawati, 2. Motorik halus adalah kemampuan melakukan gerakan yang melibatkan bagian tubuh tertentu dengan menggunakan otot-otot kecil. Aktivitas ini tidak membutuhkan banyak tenaga, namun memerlukan koordinasi yang tepat antara mata dan tangan serta ketelitian yang Beberapa contoh kegiatan motorik halus antara lain makan dengan sendok, mengikat tali sepatu, mengancingkan pakaian, membuka dan menutup botol, menggunting, menjahit, menganyam, melipat, mewarnai, menggambar, dan aktivitas sejenis lainnya (Karmila, 2. Setiap anak memiliki tingkat kecerdasan motorik halus yang berbeda, baik dari segi kekuatan maupun ketepatan gerak. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh faktor bawaan serta stimulasi yang diterima anak. Lingkungan, terutama orang tua, berperan besar dalam http://jurnal. id/index. Asuhan Keperawatan Pada An . E Dengan. Volume 1. Nomor 1. Juni 2026 perkembangan motorik halus karena dapat meningkatkan atau bahkan menurunkan kemampuan anak, khususnya pada masa awal kehidupannya (Nofian, 2. Data dari World Health Organization pada tahun 2020 menunjukkan bahwa 35% anak usia 4Ae6 tahun mengalami gangguan pada perkembangan motorik halus (Hernita & Qorimah. Secara global, anak-anak juga dilaporkan mengalami beberapa masalah emosional dan perilaku, seperti gangguan kecemasan sebesar 9%, emosi yang tidak stabil sekitar 11Ae15%, serta gangguan perilaku sebesar 9Ae15%. Di Indonesia, sekitar 16% anak dilaporkan mengalami gangguan perkembangan yang mencakup perkembangan otak, pendengaran, dan kemampuan Selain itu, pada tahun 2010, prevalensi gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak di Indonesia mencapai 35,7%, sehingga kondisi tersebut termasuk dalam kategori masalah kesehatan masyarakat yang cukup tinggi berdasarkan standar WHO (ADITYA, n. Prevalensi data global menunjukkan prevalensi gangguan perkembangan motorik halus . emampuan menyusun balok, memakai pakaian, dan menggunakan pensi. pada anak prasekolah di Amerika Serikat sebesar 17,8% pada tahun 2017, di Indonesia pada tahun 2018 sebesar 7,51% (Riskesdas, 2. , di Provinsi Jawa Timur sebesar 24,5% (Nurun Nikmah et , 2023. RI, n. Data yang dirilis oleh UNICEF menunjukkan bahwa terdapat 1. 000 anak dengan gangguan motorik halus dan kasar akibat keterlambatan perkembangan (PRATIWI, 2. Survey yang dilakukan oleh negara Amerika Serikat pada tahun 2017 menunjukkan bahwa lebih dari 250 miliar anak usia dini mengalami gangguan perkembangan motorik halus sehingga tidak mampu bersaing dengan anak lain (Pura & Asnawati, 2. Menurut Riset Kesehatan Dasar . menunjukkan bahwa terdapat gangguan perkembangan motorik halus pada anak usia dini sebesar 7,5 (Kementerian Kesehatan RI, 2. Provinsi Jawa Timur memiliki angka prevalensi gangguan perkembangan motorik halus pada anak usia dini sebesar 24,5%. Dinas Kesehatan Bondowoso mencatat angka prevalensi gangguan perkembangan motori halus 136 anak (Sary et al. , 2. Data awal yang diperoleh penulis dari hasil pendataan pada anak dengan keterlambatan perkembangan motorik halus di TK Pembina Pertiwi Kabupaten Mamuju, dengan menggunakan metode Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) anak usia 72 bulan, yang berpedoman pada Buku Stimulasi. Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) pada kelas B6, dari total 22 anak di kelas tersebut terdapat 2 anak yang mengalami keterlambatan perkembangan motorik halus. Anak-anak tersebut memiliki keterlambatan khususnya dalam menggunting beberapa pola. Anak prasekolah merupakan anak yang berada pada usia 3 hingga 6 tahun. Pada rentang usia ini, anak biasanya mulai mengikuti pendidikan anak usia dini, seperti kelompok bermain bagi anak usia 3 tahun dan taman kanak-kanak untuk anak usia 4Ae6 tahun. Pada tahap perkembangan ini, anak diharapkan telah memiliki kemampuan dalam beberapa keterampilan yang berkaitan dengan motorik halus. Keterampilan tersebut antara lain menggunakan gunting meskipun belum sempurna, mengikat tali sepatu, mewarnai dengan lebih teratur, serta http://jurnal. id/index. Asuhan Keperawatan Pada An . E Dengan. Volume 1. Nomor 1. Juni 2026 melakukan aktivitas lain yang sesuai dengan tingkat perkembangan motoriknya. Dengan demikian, aktivitas yang diberikan kepada anak usia dini perlu dirancang untuk menstimulasi dan mengembangkan keterampilan motorik halus agar kemampuan anak dapat berkembang secara maksimal sesuai dengan tahapan usianya. Intervensi keperawatan pada studi kasus ini bertujuan agarmasalah tersebut teratasi (Adiningtiyas et al. , 2. Megiatan menggunting pola merupakan salah satu cara yang efektif untuk melatih koordinasi mata dan tangan. Kegiatan menggunting memiliki manfaat bagi anak usia dini (Karmila, 2. Aktivitas ini mengharuskan anak memiliki ketelitian, fokus, serta kemampuan motorik halus yang baik. Melalui kegiatan tersebut, anak belajar menggunakan alat secara tepat, mengendalikan gerakan tangan, dan mengikuti pola secara visual, sehingga koordinasi serta keterampilan motorik halus mereka dapat berkembang dengan lebih optimal (Fikriyah et al. Kimberly Wiggins dalam The Important Teaching Your Child How to Use Scissors menjelaskan bahwa memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar menggunting memiliki berbagai manfaat. Kegiatan ini dapat melatih kekuatan otot telapak tangan melalui gerakan membuka dan menutup tangan secara berulang. Otot tangan yang kuat akan membantu anak dalam melakukan aktivitas seperti menulis, menggambar, menggenggam, dan memegang Selain itu, aktivitas menggunting juga berperan dalam meningkatkan koordinasi mata dan tangan, karena anak perlu menyesuaikan pandangan dengan gerakan tangan saat menggunakan gunting, meskipun aktivitas ini cukup sulit untuk dilakukan (SAFITRI, 2. METODE Jenis Penelitian Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus untuk mengeksplorasi asuhan keperawatan pada anak dengan gangguan perkembangan motorik halus menggunting pola. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan asuhan keperawatan anak yang meliputi pengkajian, diagnosis keperawatan, perencanaan, implementasi, dan Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2025 di TK Pembina Pertiwi Kabupaten Mamuju. Kabupaten Mamuju. Kegiatan penelitian dilakukan secara bertahap yang meliputi tahap persiapan, pelaksanaan, pengumpulan data, analisis data, dan penyusunan laporan hasil Populasi dan Sampel Populasi penelitian ini adalah anak berusia 72 bulan, anak dengan gangguan perkembangan motorik halus seperti kesulitan dalam menggunakan gunting, siswa TK Pembina Pertiwi Kabupaten Mamuju Pengumpulan Data Pengumpulan data menurut (Annisaa Fitrah Umara. Kep. Ns. et al. , n. Anamnesis yaitu mengkaji masalah yang di alami oleh pasien yang akan menjadi subjek Pemeriksaan Head To Toe adalah tindakan keperawatan untuk mengkaji bagian http://jurnal. id/index. Asuhan Keperawatan Pada An . E Dengan. Volume 1. Nomor 1. Juni 2026 tubuh pasien baik secara lokal guna memperoleh informasi/data dari keadaan pasien secara komprehensif untuk menegakkan suatu diagnosis keperawatan maupun kedokteran. Tindakan obsevasi di lakukan minimal 3 hari, untuk memantau penerapan intervensi keperawatan yang telah di berikan kepada pasien. Tindakan observasi di lakukan dengan cara berkolaborasi dengan perawat di rumah sakit, keluarga pasien dan pasien. Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) adalah alat skrining yang digunakan untuk mendeteksi dini gangguan perkembangan pada anak usia 0 hingga 6 tahun. Tahap akhir yaitu melakukan pendokumentasian keperawatan dari hasil intervensi yang telah di terapkan kepada pasien. Pada tahap ini dapat di lihat apakah intervensi yang telah kita berikan kepada pasien efektif atau tidak. Pengolahan dan Analisis Data Analisis data yang dilakukan adalah dengan membandingkan informasi dari subyek penelitian yang diperoleh di lapangan dengan konsep teori asuhan keperawatan anak dengan keterlambatan perkembangan motorik halus. HASIL PENELITIAN Gambaran Studi Kasus Berdasarkan hasil studi kasus ditemukan bahwa klien bernama An. E berusia 72 bulan dengan perkembangan motorik halus. Data subjektif yang didapatkan yaitu : Ny. mengatakan Anak E masih kesulitan dalam menggunting. Ny. M mengatakan anak terkadang masih menggunakan dua tangan untuk memengang gunting. Ny. M mengatakan anaknya menggunting kertas tidak sesuai garis dan tidak rapi. Ny. M mengatakan dirinya dan suami jarang melatih anak menggunting karena kesibukan pekerjaan sehingga jarang melakukan stimulasi terhadap anaknya. Data objektif yang didapatkan yaitu, anak tampak kesulitan dalam memposisikan tangan secara tepat saat memegang gunting, anak tampak menggunakan kedua tangan saat melakukan aktivitas menggunting, anak tampak belum terampil dalam membuka dan menutup gunting secara berulang, anak tampak kesulitan menggunting mengikuti garis pola yang telah disediakan, anak tampak menggunting dengan cara terus-menerus tanpa jeda, yang menyebabkan kertas sesekali robek, anak tampak belum bisa mengoordinasikan tangan kanan . dan tangan kiri . emegang kerta. dengan baik. Hasil diganosis keperawatan dalam studi kasus ini di peroleh Gangguan tumbuh kembang berhubungan dengan defisiensi stimulus yang ditandai dengan Ny. M mengatakan Anak E Masih kesulitan dalam menggunting. Ny. M mengatakan anak terkadang masih menggunakan dua tangan untuk memengang gunting. Ny. M mengatakan anaknya menggunting kertas tidak sesuai garis dan tidak rapi. Ny. M mengatakan dirinya dan suami jarang melatih anak menggunting karena kesibukan pekerjaan sehingga jarang melakukan stimulasi terhadap anaknya, anak tampak kesulitan dalam memposisikan tangan secara tepat saat memegang gunting, anak tampak menggunakan kedua tangan saat melakukan aktivitas menggunting, anak tampak belum terampil dalam membuka dan menutup gunting secara berulang, anak tampak kesulitan menggunting mengikuti garis pola yang telah disediakan, anak tampak menggunting dengan cara terus-menerus tanpa jeda, yang menyebabkan kertas sesekali robek, http://jurnal. id/index. Asuhan Keperawatan Pada An . E Dengan. Volume 1. Nomor 1. Juni 2026 anak tampak belum bisa mengoordinasikan tangan kanan . dan tangan kiri . emegang kerta. dengan baik. Selain intervensi yang terdapat dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), penulis menambahkan satu intervensi tambahan berupa terapi menggunting pola. Intervensi ini diberikan berdasarkan kondisi dan kebutuhan klien An. E yang menunjukkan adanya gangguan pada aspek perkembangan, khususnya kemampuan motorik halus. Implementasi intervensi ini dilakukan selama 14 hari secara bertahap dan berkelanjutan untuk memberikan stimulasi optimal terhadap perkembangan motorik halus anak. Terapi menggunting pola dilakukan sebagai bentuk stimulasi untuk meningkatkan koordinasi mata dan tangan, konsentrasi, ketelitian, serta keterampilan motorik halus anak. Dalam pelaksanaannya, anak diberikan kertas dengan berbagai pola sederhana, seperti garis lurus, garis lengkung, zig-zag, dan bentuk geometris, kemudian anak diarahkan untuk menggunting mengikuti pola yang telah dibuat. Tingkat kesulitan pola disesuaikan secara bertahap sesuai kemampuan anak selama proses intervensi. Intervensi menggunting pola bertujuan untuk melatih kekuatan otot-otot kecil pada jari dan tangan, meningkatkan kemampuan memegang gunting dengan benar, serta membantu anak mengembangkan kontrol gerakan yang lebih baik. Selain itu, aktivitas ini juga dapat meningkatkan rasa percaya diri anak ketika berhasil menyelesaikan tugas yang diberikan. Adapun intervensi keperawatan yang dilakukan pada terapi menggunting pola meliputi: mengidentifikasi kemampuan awal anak dalam menggunakan gunting, menyiapkan alat dan bahan yang aman sesuai usia anak, memberikan contoh cara memegang dan menggunakan gunting dengan benar, mendampingi anak selama proses menggunting, memberikan motivasi dan penguatan positif atas usaha anak, serta mengevaluasi perkembangan kemampuan motorik halus anak setelah intervensi dilakukan. (T. PPNI, 2. PEMBAHASAN Asuhan keperawatan pada tinjauan kasus An. E dengan gangguan perkembangan motorik halus menggunting pola selama 14 hari mulai tanggal 11 Ae 24 juni 2025 di TK Pembina Pertiwi Kabupaten Mamuju. Dalam tinjauan kasus, ada perbedaan dan persamaan antara teori dengan studi kasus. Hasil pembahasan dapat diuraikan sebagai berikut: Pengkajian keperawatan Berdasarkan pengkajian pengkajian pada tanggal 11 Juni 2025 Ny. M mengatakan anak E Masih kesulitan dalam menggunting dan Ny. M mengatakan anak terkadang masih menggunakan dua tangan untuk memengang gunting. Berdasarkan Pengkajian yang dilakukan penulis memiliki kesamaan dengan teori bahwa anak usia 72 bulan dengan status perkembangan AumeragukanAy menurut hasil skrining KPSP, khususnya pada aspek motorik halus. Berdasarkan pengisian kuesioner dan observasi langsung, ditemukan 8 dari 10 KPSP dijawab "tidak", terutama pada tugas yang melibatkan koordinasi tangan dan keterampilan manipulatif, seperti menggunting mengikuti garis, mengancing baju, dan mengikat tali sepatu (RI, n. Hal ini menunjukkan adanya http://jurnal. id/index. Asuhan Keperawatan Pada An . E Dengan. Volume 1. Nomor 1. Juni 2026 keterlambatan dalam keterampilan motorik halus yang seharusnya telah dikuasai anak usia Anak tampak kesulitan dalam mengoordinasikan gerakan tangan dominan dan tangan nondominan secara bersamaan. Misalnya, saat menggunting, anak tampak hanya menggunakan satu tangan dan tidak dapat memegang kertas dengan stabil. Diagnosis Keperawatan Pada tinjauan kasus An. E ditegakkan diagnosis keperawatan berdasarkan pengkajian, klasifikasi, dan analissi data dari tanda dan gejala yang ditemukan, baik data sujektif maupun Berdasarkan teori, diagnosis keperawatan yang biasanya muncul pada anak dengan perkembangan motorik halus (Putri & Sulistyawati, 2. Yaitu : Gangguan tumbuh kembang berhubungan dengan defisiensi stimulus. Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi. Adapun diagnosis keperawatan yang ada pada tinjauan kasus dan tinjauan teori yaitu Gangguan tumbuh kembang berhubungan dengan defisiensi stimulus yang ditandai dengan Ny. M mengatakan Anak E Masih kesulitan dalam menggunting. Ny. M mengatakan anak terkadang masih menggunakan dua tangan untuk memengang gunting. Ny. M mengatakan anaknya menggunting kertas tidak sesuai garis dan tidak rapi. Ny. M mengatakan dirinya dan suami jarang melatih anak menggunting karena kesibukan pekerjaan sehingga jarang melakukan stimulasi terhadap anaknya. Anak tampak kesulitan dalam memposisikan tangan secara tepat saat memegang gunting, anak tampak menggunakan kedua tangan saat melakukan aktivitas menggunting, anak tampak belum terampil dalam membuka dan menutup gunting secara berulang, anak tampak kesulitan menggunting mengikuti garis pola yang telah disediakan, anak tampak menggunting dengan cara terus-menerus tanpa jeda, yang menyebabkan kertas sesekali robek, anak tampak belum bisa mengoordinasikan tangan kanan . dan tangan kiri . emegang kerta. dengan baik. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Santun Setiawati dengan judul Au Studi Kasus : AuPeningkatan Status Perkembangan Anak Prasekolah Dengan Stimulasi PerkembanganAy yang menyebutkan gangguan tumbuh kembang sebagai masalah keperawatan yang muncul pada klien dengan perkembangan motorik halus (Setiawati et al. , 2. Intervensi Keperawatan Gangguan tumbuh kembang dengan intervensi keperawatan perawatan perkembangan hasil yang diharapkan Keterampilan/perilaku sesuai usia meningkat, respon sosial meningkat, kontak mata meningkat dengan rencana tindakan : Identifikasi pencapaian tugas perkembangan, pertahankan lingkungan yang mendukung perkembangan optimul, motivasi anak berinteraksi dengan anak lain, sediakan aktivitas yang memotivasi anak berinteraksi dengan anak lainnya, dukung anak mengekspresikan diri melalui penghargaan positif atau umpan balik atas usahanya, pertahankan kenyamanan anak bernganyi bersama anak lagu-lagu yang disukai, bacakan cerita atau dongeng, jelaskan orang tua dan/atau pengasah tentang milestone perkembangun anak dan pariluku anak, anjurkan orang tua berinteraksi dungun anaknya ajurkan anak katerampilan berinteraksi, selain itu melakukan satu intervensi tambahan mengajarkan anak terapi menggunting kertas dengan berbagai pola (PPNI, 2. http://jurnal. id/index. Asuhan Keperawatan Pada An . E Dengan. Volume 1. Nomor 1. Juni 2026 Implementasi Keperawatan Implementasi keperawatan yang dilakukan pada studi kasus An. E mengacu pada intervensi yang telah disusun oleh peneliti pada asuhan keperawatan dengan perkembangan motorik halus selama 14 hari. Implementasi keperawatan adalah tahap dalam proses keperawatan di mana perawat melaksanakan intervensi atau tindakan nyata yang telah direncanakan sebelumnya untuk mencapai hasil yang diinginkan (Fitriani et al. , 2. Adapun implementasi yang telah diberikan pada kasus An. E pada diagnosis gangguan tumbuh kembang yaitu : mengidentifikasi pencapaian tugas perkembangan anak, mempertahankan lingkungan yang mendukung perkembangan optimal, memotivasi anak berinteraksi dengan anak lain, menyediakan aktivitas yang memotivasi anak berinteraksi dengan anak lainnya, mendukung anak mengekspresikan diri melalui penghargaan positif atau umpan balik atas usahanya, mempertahankan kenyamanan anak, menyanyi bersama anak lagu-lagu yang disukai, serta melakukan satu intervensi tambahan yaitu mengajarkan anak terapi menggunting kertas dengan berbagai pola. Terapi menggunting beberapa pola adalah salah satu bentuk stimulasi perkembangan motorik halus anak, khususnya untuk melatih koordinasi tangan, keterampilan jari, dan kemampuan visual-motorik. Terapi ini melibatkan kegiatan menggunting kertas dengan berbagai bentuk pola, seperti garis lurus, zigzag, lengkung, atau bentuk sederhana lainnya . egitiga, lingkara. , sesuai dengan tingkat usia dan kemampuan anak. Adapun tujuan dari terapi tersebut ialah meningkatkan koordinasi tangan dan mata, melatih kekuatan otot tangan dan jari (Nurhayati et al. ,2. Evaluasi Keperawatan Pada tinjauan kasus An. E, peneliti melakukan evaluasi pada setiap diagnosis keperawatan yang meliputi : data subjektif (S), data objektif (O), analisa perencanaan (A). Peneliti melakukan evaluasi pada setiap diagnosis dengan hasil : Diagnosis gangguan tumbuh kembang berhubungan dengan defisiensi stimulus. Dalam asuhan keperawatan yang dilakukan masalah ini belum teratasi sepenuhnya, dengan hasil evaluasi yaitu : Guru anak mengatakan anak E sudah bisa memposisikan tangan secara tepat saat memegang gunting, guru mengatakan anak tampak mulai menggunting dengan menggunakan satu tangan, meskipun jari-jarinya masih kaku untuk membuka dan menutup gunting secara berulang, tampak anak E sudah mampu menggunting mengikuti garis pola, meskipun hasilnya belum terlalu rapi. Pemberian terapi menggunting yang dilakukan pada anak dihari pertama di dapatkan hasil : anak tampak kesulitan dalam memposisikan tangan secara tepat saat memegang gunting, tamapak menggunkan kedua tangan saat melakukan aktivitas menggunting, anak tampak belum terampil dalam membuka dan menutup gunting secara berulang, anak tampak kesulitan menggunting mengikuti garis pola, anak tampak menggunting dengan cara terus Ae menerus tanpa jeda, yang menyebabkan kertas sesekali robek, dan anak tampak belum bisa mengoordinasikan tangan kanan . dan tangan kiri . emegang kerta. dengan baik, berdasarkan perkembangan kondisi anak selama 14 hari, hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa anak mulai mampu memposisikan tangan secara tepat saat memegang gunting, anak tampak mulai menggunting dengan menggunakan satu tangan, meskipun jari-jarinya masih kaku untuk membuka dan menutup gunting secara berulang, tampak anak E sudah mampu menggunting mengikuti garis http://jurnal. id/index. Asuhan Keperawatan Pada An . E Dengan. Volume 1. Nomor 1. Juni 2026 pola, meskipun hasilnya belum terlalu rapi, hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dijelaskan, dapat diketahui bahwa aktivitas menggunting pola sederhana terbukti efektif dalam membantu meningkatkan kemampuan motorik halus anak (Halisa & Ulfah, 2. KESIMPULAN DAN SARAN Asuhan keperawatan yang diberikan kepada An. E dengan gangguan perkembangan motorik halus selama 14 hari menunjukkan adanya peningkatan kemampuan secara bertahap sejak hari pertama hingga hari keempat belas. Diharapkan dapat menjadi rujukan bagi sekolah maupun orang tua yang memiliki anak dengan gangguan perkembangan motorik halus, khususnya dalam keterampilan menggunting pola. DAFTAR PUSTAKA