JEJAK MAJAPAHIT: KOMPOSISI MUSIK PROGRAMA BERDASARKAN CERITA LEGENDA AIR MAJAPAHIT DI NEGERI EMA Frengky Maitimu1. Dewi Tika Lestari2 Mahasiswa Institut Agama Kristen Negeri Ambon Dosen Institut Agama Kristen Negeri Ambon E-mail korespondensi: frengkymaitimu@gmail. ABSTRACT The history of Air Majapahit is one of the events of the arrival of Princess Majapahit in Negeri Ema which has been told orally from generation to generation. The history of Majapahit Water can be proven true by the existence of Majapahit kingdom relics in the form of heirloom spears. Gamelan. Betel places and Majapahit springs which are still well preserved in Negeri Ema. Based on this phenomenon, it was then used as a nonmusical concept to work on a musical composition. The composition of Traces of Majapahit is a narrative program musical work which contains elements of the history of Air Majapahit, which was created in the form of varied music and using western instruments. The process of creating the musical composition Traces of Majapahit went through several stages, namely . exploration of literature regarding musical disciplines and observation of Majapahit water history. processing the relationship between musical elements and nonmusical concepts as a basis for the construction of musical compositions. cultivating musical elements into variations using the main theme development procedure from Leon SteinAos theory. presentation of the work in orchestra format. This work contains cultural value in the almost forgotten relationship between the Majapahit kingdom and Negeri Ema, so that through this work it is hoped that the history of Air Majapahit will be preserved. Keywords: History of Air Majapahit. Traces of Majapahit, narrative program music. ABSTRAK Sejarah Air Majapahit merupakan salah satu peristiwa kedatangan Putri Majapahit di Negeri Ema yang diceritakan turun-temurun secara lisan. Sejarah Air Majapahit dapat dibuktikan kebenarannya dengan adanya peninggalan kerajaan Majapahit berupa tombak pusaka. Gamelan, tempat Sirih dan mata air Majapahit yang masih terpelihara dengan baik di Negeri Ema. Berdasarkan fenomena tersebut, kemudian dijadikan sebagai konsep non-musikal untuk menggarap sebuah karya komposisi musik. Karya komposisi Jejak Majapahit merupakan karya musik program naratif yang didalamnya mengandung unsur sejarah Air Majapahit, yang digarap dalam bentuk musik variasi dan menggunakan instrumen barat. Proses garapan karya komposisi musik Jejak Majapahit melewati beberapa tahapan, yakni . eksplorasi literatur mengenai disiplin ilmu musik dan observasi serajah air Majapahit. pengolahan relasi unsur musik dengan konsep non-musikal sebagai landasan konstruksi komposisi musik. penggarapan unsur-unsur musik ke dalam bentuk variasi menggunakan prosedur pengembangan tema pokok dari teori Leon Stein. penyajian karya dalam format Karya ini mengandung nilai budaya dalam keterkaitan hubungan antara kerajaan Majapahit dan Negeri Ema yang hampir terlupakan, sehingga lewat karya ini sejarah Air Majapahit diharapkan tetap terpelihara. Kata kunci: Sejarah Air Majapahit. Jejak Majapahit, musik program naratif. Volume 16 No. 2 Desember 2023 Frengky Maitimu dan Dewi Tika Lestari: Jejak Majapahit: Komposisi Musik Programa Berdasarkan Cerita Legenda. PENDAHULUAN Jamalus menyebut jika musik adalah bentuk suatu hasil karya seni dalam bentuk lagu atau komposisi suara yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penciptanya melalui unsur-unsur irama melodi, harmoni, bentuk dan struktur lagu dan ekspresi sebagai satu kesatuan (Jamalus, 1988:1-. Komposisi Musik absolut merupakan musik murni yang tidak berhubungan dengan ide-ide dari luar, melainkan hanya berisi dengan unsur-unsur di dalam komposisi musik seperti ritme, instrumen/alat musik, birama, melodi, harmoni, motif, tema, variasi, improvisasi, tempo, frase, dinamika, timbre serta tangga nada (Hasibuan, 2019, p. Sehingga musik absolut dapat didefinisikan sebagai karya musik yang dibuat sesuai dengan kreativitas komposer dalam menyusun nada dan akord serta teknik-teknik komposisi dalam mengembangkan sebuah motif. Musik absolut tidak tidak menggambarkan sebuah kisah atau Berbeda dengan musik absolut, maka musik programa mengandung unsur ekstra musikal yang menjadi konsep untuk menyusun sebuah komposisi musik dengan tetap mengacu pada teknik-teknik komposisi. Sehingga musik programa adalah karya musik yang mengandung cerita atau gambar sebagai konsep atau sumber untuk membuat karya musik (McDermatt, 2013, p. Apapun jenis musiknya maka semua itu diciptakan melalui suatu proses kreatif Istilah komposisi berasal dari kata composse yang adalah kata kerja dengan arti menyusun atau mengarang, sementara komposisi berarti susunan karangan yang merupakan kata benda (Sukerta, 2011, . Komposisi dalam pengertiannya mencakup dua hal, yaitu proses . egiatan menyusun karya musi. dan hasil . arya musi. Dalam proses tersebut, seorang komposer akan mencari ide ekstra musikal dan atau ide musikal yang akan menjadi konsep untuk membuat karya musik dengan memperhatikan bentuk musik, melodi, ritme, harmoni dan lainya secara detail. Secara prinsip, ide untuk karya komposisi musik dapat berasal dari apa saja. Salah satunya ide musik dapat diambil dari kisah-kisah tertentu seperti cerita dari masyarakat Maluku tentang Air Majapahit di Negeri Ema. Cerita sejarah Air Majapahit di Negeri Ema merupakan kisah tutur yang diceritakan turun-temurun. Sejarah ini memuat kisah perjalanan misi Putri Majapahit bersama rombongannya yang diutus oleh Kerajaan Majapahit saat masa kehancuran yang dialami pada abad ke-14. Dalam perjalanan misi itu. Putri yang diketahui bernama Nyi Mas Kenang Eko Soetarmi bersama dayang-dayangnya diutus untuk menjadikan kepulauan Maluku menjadi bagian kerajaan Majapahit. Melalui perjalanan yang panjang dari Jawa, mereka akhirnya tiba di pulau Ambon, tepatnya di Negeri Ema. Setelah tiba di Negeri Ema, mereka menyampaikan pesan dan tujuan untuk bersekutu dengan kerajaan Majapahit kepada Kapitan milik Negeri Ema yang dikenal sakti di kepulauan Maluku. Namun permintaan dan pesan yang disampaikan itu ditolak oleh Kapitan, karena menurutnya Auwilayah kami adalah kekuasaan kamiAy. Kegagalan misi putri dari Majapahit tersebut menjadikannya malu dan enggan pulang ke Jawa. Untuk itu ia memilih bersemedi di negeri Ema dan seketika menghilang di lokasi yang sekarang dikenal sebagai Air Majapahit (Yossy Maitimu, 2. Kisah tentang Air Majapahit tersebut, ditangkap menjadi ide yang menarik bagi komposer untuk digarap sebagai sebuah karya komposisi musik. Karya komposisi musik ini selanjutnya diberi judul AuJejak MajapahitAy. Konsep musik programa dipilih untuk memadukan unsur musikal dan ekstra musikal. Artinya, garapan komposisi musik disajikan berdasarkan pada alur cerita tentang Sejarah Air Majapahit di Negeri Ema. Karya komposisi AuJejak MajapahitAy digarap dalam format sajian orkestra yang Volume 16 No. 2 Desember 2023 terdapat beragam instrumen dari String Family, woodwind, brass section, piano, harpa dan perkusi (Banoe, 2. Karya komposisi AuJejak MajapahitAy ini menggunakan bentuk musik variasi (Variation For. yang adalah bentuk bebas, dengan pengertian mengulang sebuah lagu induk atau mempertahankan unsur tertentu dan menambah atau menggantikan unsur yang lain dalam menyusun atau membuat suatu karya komposisi musik (SJ K. -E. , 2004, . Narasi tentang perjalanan Putri Majapahit dapat dijadikan suatu komposisi musik dengan perpaduan unsur-unsur musik yang berupa melodi, ritme, harmoni, tangga nada Mayorminor dan arransemen. Melalui tulisan ini maka dapat digali tentang: . Bagaimana menyusun konsep dan proses penggarapan karya komposisi Jejak Majapahit? TINJAUAN PUSTAKA Scott Jarrett, 2008. Music Composition For Dummies. Indiana: Wiley Publishing. Inc. Buku ini menjelaskan tentang bagaimana membuat sebuah komposisi mulai dari ritme, melodi hingga orkestrasi dan aransemen, sehingga buku ini dapat digunakan sebagai dasar dalam penggarapan karya komposisi. Dieter Mark, 1994. Ilmu Melodi. Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi. Buku ini menjelaskan tentang penggunaan melodi yang baik, beserta contoh melodi yang terdapat dalam karya komposisi musik dari zaman ke zaman. Sehingga buku ini dapat digunakan sebagai acuan dalam membuat komposisi AuJejak MajapahitAy. Stefan Kostka & Dorothy Payne, 1995. Tonal Harmony. New York: McGraw-Hill. Buku ini memuat konsep harmoni, triad, akord passing akord, passing not dan lain-lain, sehingga dapat menjadi acuan dalam menggarap karya komposisi AuJejak MajapahitAy dalam konsep Gustav Strube, 1712. The Theory and Use Of Chords. Philadelphia: Oliver Ditson Company. Buku ini menjelaskan tentang tangga nada, interval, triad, modal, penggunaan akor, inversi akor dan harmoni beserta contoh-contoh yang dapat berguna untuk menjadi pedoman dalam penggarapan karya komposisi ini. Muhammad AL Mujabuddawat, 2018. Jejak Kedatangan Utusan Majapahit Di Pulau Ambon. Ambon: Balai Arkeologi Maluku. Indonesia. Jurnal ini merupakan jurnal yang menulis tentang eksistensi kerajaan Majapahit di kota Ambon yang didalamnya termuat sejarah Air Majapahit di Negeri Ema. Sehingga jurnal ini dapat digunakan sebagai tinjauan pustaka dalam garapan karya komposisi musik Jejak Majapahit. Perang Pattimura: Penyerbuan Benteng Duurstede. Karya Igor Leonard Sopamena. Karya tersebut diciptakan pada tahun 2014 yang didalamnya terkandung unsur non-musikal berupa narasi peristiwa perlawanan masyarakat Maluku yang dipimpin oleh Kapitan Pattimura terhadap VOC pada abad ke-19, sehingga karya ini tergolong dalam karya musik program berbentuk naratif. Karya ini dibuat dengan struktur free form dan disusun dalam empat bagian yang masing-masing dari bagian menceritakan tentang kedatangan pasukan Pattimura menuju benteng Duurstede, persiapan penyerangan, penyerbuan yang pada akhirnya dimenangkan oleh pasukan Pattimura. Igor menggambarkan setiap peristiwa yang terjadi dengan jelas menggunakan leitmotif pada setiap objek dalam konsep non-musikalnya. TOAMI: Representasi Hatolisa dan Baileo Kedalam Musik Program Untuk Ansambel, karya Petra Manuhua. Komposisi musik Program: Naratif, komposisi Toami mengisahkan semangat para Upu latu dan Kapitan dalam menentukan pusat Negeri Allang agar dapat memberikan rasa aman bagi masyarakat pada tahun 1490-1530. Komposisi ini memiliki tiga bagian yang mampu menggambarkan secara keseluruhan peristiwa yang terjadi saat itu dan memiliki bentuk bebas Volume 16 No. 2 Desember 2023 Frengky Maitimu dan Dewi Tika Lestari: Jejak Majapahit: Komposisi Musik Programa Berdasarkan Cerita Legenda. ree for. Menggunakan lebih dari satu bentuk tangga nada, yakni: tetratonik, pentatonic heptatinik serta menggunakan lebih dari satu metric, yaitu 3/8, 5/8, 7/8 dan 9/8. Dalam garapan karya komposisi Jejak Majapahit, composer menggunakan kedua karya tersebut sebagai acuan karena memiliki kesamaan penggunaan bentuk musik program: Naratif dengan menggunakan cerita sejarah Air Majapahit sebagai ide non-musikal. METODE Metode adalah prosedur atau proses untuk pencapaian suatu objek tertentu sebagai Metode Penciptaan seni adalah prosedur dimana seluruh system artistic yang dioperasikan seniman pencipta dalam berkarya dan yang dihasilkannya sesuia dengan aturan yang ditentukan oleh seniman pencipta sendiri (Sunarto, 2020, p. Sehingga dapat disimpulkan bahwa metode penciptaan seni merupakan serangkaian proses yang ditetapkan untuk menjadi dasar dalam penggarapan karya komposisi musik. Dengan demikian, dalam penggarapan karya komposisi Jejak Majapahit meliputi beberapa tahapan, yaitu: Tahap obsrvasi dan wawancara dilakukan oleh penulis untuk medapatkan informasi tentang kisah perjalanan Putri Majapahit yang tertuang dalam Sejarah Air Majapahit di Negeri Ema yang diceritakan turuntemurun secara lisan maupun tulisan, sehingga dapat menemukan ide/gagasan untuk penyusunan konsep penciptaan. Observasi dilakukan melalui buku sejarah Air Majapahit dan wawancara dilakukan dengan Bapak Yossi Maitimu. Bapak Kaya Maitimu dan Bapak Ipus Maitimu. Tahap Ide/Gagasan merupakan tahap awal yang menjadi cikalbakal terbentuknya sebuah karya Komposisi musik dan merupakan bahan dasar sebagai inspirasi dalam menyusun konsep penggarapan Setelah tahap observasi dan wawancara dilakukan, penulis menemukan ide untuk menggarap karya komposisi musik berdasarkan suasana perjalanan Putri Majapahit hingga sampai ke Negeri Ema yang diberi judul AuJejak MajapahitAy. Eksplorasi atau Eksperimen merupakan suatu kegiatan pencarian atau pengolahan atau penggarapan sesuatu dalam penyusunan komposisi baru (Sukerta. Metode Penyusunan Karya Musik, 2. Pada tahap ini penulis menetukan dan mengembangkan tema yang digarap berdasarkan ide pada tahap awal dalam proses penggarapan karya komposisi Berdasarkan tema, penulis menggabungkan unsur musikal dalam bentuk suasana seperti suasana sedih, megah, tegang dan mistis. Tahap implementasi adalah tahap dimana composer menerapkan rancangan atau konsep berdasarkan tahap sebelumnya, sehingga untuk mengisyaratkan adanya bentuk yang konkrit dari sebuah komposisi musik, komposer membuat draft komposisi musik yang kasar berupa aspek bentuk, pengolahan nada, instrument musik, dan aspek non-musikal. Tahap Pembentukan/Forming merupakan suatu gagasan atau ide yang nampak dalam pengolahan atau susunan semua unsur musik dalam sebuah komposisi . elodi, irama, harmoni dan dinamik. Ide tersebut dapat mempersatukan nada-nada musik serta bagian-bagian komposisi yang dibunyikan masing-masing sebagai kerangka (SJ K. , 2011, . Umumnya bentuk terdiri dari bentuk tertutup dan bentuk Bentuk tertutup adalah bentukbentuk lagu yang terdiri dari kalimat-kalimat yang membuat kesan bulat. Contohnya seperti bentuk lagu satu bagian, dua bagian dan tiga bagian (SJ K. , 2011, pp. bentuk terbuka adalah bentuk-bentuk lagu yang dapat diperpanjang seprti bentuk variasi, bentuk rondo, bentuk suita, bentuk sonata (SJ K. , 2011, 38-. Bentuk musik yang dipakai dalam penggarapan karya komposisi Jejak Majapahit adalah bentuk variasi sehingga terdapat variasi ritme, melodi dan harmoni. Volume 16 No. 2 Desember 2023 PEMBAHASAN Proses Penciptaan Proses penggarapan karya komposisi Jejak Majapahit dilakukan melalui empat tahap, yaitu tahap eksplorasi, tahap eksperimentasi, tahap aplikasi dan tahap penyajian. Tahap Eksplorasi merupakan Tahap awal dalam menggarap karya komposisi Jejak Majapahit yang berdasarkan pada unsur nonmusikal yakni cerita legenda Air Majapahit, maka dilakukan pencarian informasi dari tulisan ilmiah dan lewat proses wawancara yang dilakukan di Negeri Ema untuk memperoleh data akurat mengenai cerita legenda Air Majapahit. Pada proses wawancara, ditemukanlah cerita tersebut dari tiga orang narasumber yang terpercaya dan mengetahui cerita legenda Air Majapahit yang didalamnya menceritakan tentang perjalanan Putri Majapahit bersama Informasi-informasi ini juga diperkuat dengan adanya situs peninggalan Putri Majapahit dan keberadaan Mata Air Majapahit yang merupakan tempat sang putri meletakan Setelah menemukan data-data dan informasi tentang cerita tersebut, penulis mulai berimajinasi dan memperkirakan bentuk dan konstruksi musik yang akan digarap dengan mengeksplor teori-teori dan referensi tentang musik dari buku-buku teori musik yang sangat berperan penting dalam penggarapan karya komposisi Jejak Majapahit. Buku-buku teori musik tersebut adalah sebagai berikut: Buku komposisi musik (Music Composition For Dummie. Buku tentang melodi (Ilmu Melod. Buku Harmoni (The Theory and Use Of Chords. Tonal Harmon. Buku tentang bentuk musik (Structure and Styl. Buku tentang Orkestrasi (The Study of Orchestratio. Dengan demikian dalam proses eksplorasi, komposer mencoba menanggapi objek non-musikal dalam hal sejarah Air Majapahit dengan berpikir, berimajinasi, merasakan dan pada akhirnya dapat merespon melalui suasana musikal yang ingin diwujudkan berupa karya musik. Selain itu peninjauan terhadap karya-karya komposisi yang serupa juga menjadi hal yang penting untuk menjadi referensi dalam penggarapan karya komposisi Jejak Majapahit. Karya-karya tersebut adalah AuTomiAy karya Petra Manuhua dan AuPerang PatimuraAy karya Igor Leonard Sopamena. Tahap Eksperimentasi merupakan bagian dari proses pengolahan unsur musikal dan non-musikal yang menjadi konsep dasar dalam penggarapan karya komposisi Jejak Majapahit yang menggambarkan suasana dalam perjalanan Putri Majapahit. Dalam proses eksperimen, komposer mencoba mewujudkan hasil imajinasi dalam sebuah konsep berupa rancangan awal yang memungkinkan adanya relasi antara unsur musikal dan non-musikal, sehingga unsur non-musikal tesebut dapat diterjemahkan dalam bahasa musikal menggunakan elemen-elemen musikal berupa: tangga nada, ritme, harmoni, bentuk musik, warna suara dan tekstur. Untuk menghubungkan unsur musikal dan non-musikal, berikut adalah beberapa tahapan yang dilakukan yaitu: Menyusun konsep non-musikal. Menentukan suasana. Menentukan unsur musikal dan menghubungkan unsur musikal dan nonmusikal. Tahap aplikasi merupakan tahapan dalam menggabungkan unsur musikal dari tiap bagian dan sub bagian yang disusun dan dibatasi pada bentuk music yang digunakan. Karya Jejak Majapahit merupakan garapan karya komposisi musik dalam bentuk variasi, sehingga konsep musikal tiap bagian dan sub bagian di garap menggunakan prosedur pengolahan bentuk variasi meliputi: Penggunaan harmoni yang sama dengan melodi yang berbeda. Penggunaan melodi yang sama namun harmoni yang berbeda. Penggunaan ornamen pada Modifikasi figur pada harmoni. Penggunaan figur melodi yang diperoleh dari Penggunaan figur ritme yang diperoleh dari Perubahan modus. Perubahan tanda Volume 16 No. 2 Desember 2023 Frengky Maitimu dan Dewi Tika Lestari: Jejak Majapahit: Komposisi Musik Programa Berdasarkan Cerita Legenda. Perubahan sukat/meter. Eksploitasi dinamika dan kontras dinamika. Perlakuan Imitasi. Canon. Contrary motion . erak Penggunaan kontrapung. Penggunaan augmentasi pada tema awal. Penggunaan diminusi pada tema awal. Perubahan timber atau warna bunyi. Pengolahan dengan mengambil materi dari variasi sebelumnya, bukan dari tema awal. Penggunaan karakter tertentu seperti . altz, minuet, marc. Penggunaan struktur yang sama dengan struktur tema. Pelebaran dalam hal bentuk dengan menggunakan teknik: pengulangan Frase atau seksi, penggunaan codetta, serta penggunaan elemen baru dalam sebuah struktur variasi. (Stein, 1979, pp. Tahap Penyajian Karya komposisi Jejak Majapahit menggunakan format instrumen musik barat yang terdiri dari violin, viola, cello, contrabass, trumpet, trombone, tuba, french horn, flute, oboe, harp, piano, glockspiel. Vibraphone, cymbals, timpani, bass drum, sehingga dapat mendukung unsur musikal dalam menginterpretasikan berbagai suasana pada konsep non musikal. Penggunaan intrumen barat dalam karya ini bertujuan untuk menggambarkan suasana pada tiap bagian karena karakter bunyi, sehingga bunyi yang dihasilkan lebih relevan dan dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan dalam penggarapan karya komposisi ini. Analisis Karya Analisis karya komposisi musik Jejak Majapahit berfokus pada estetika bunyi dan indikasi penggunaan instrument terhadap unsur non-musikal. Dengan demikian, analisis ini mengandung deskripsi karya Jejak Majapahit pada tiap bagian dan variasi. Berikut adalah analisis karya komposisi musik Jejak Majapahit yang diuraikan dalam tiga bagian dan Sembilan Bagian I Bagian pertama menggambarkan keberadaan Kerajaan Majapahit yang didalamnya termuat introduction, tema pokok dan dua variasi yang menggambarkan keruntuhan Kerajaan Majapahit dan penyebaran pasukan Kerajaan Majapahit. Bagian introduction dimulai dari bar 1 sampai bar 11 yang dimainkan oleh string section, vibraphone, perkusi dan timpani dalam G minor, sukat 4/4 dengan tempo 62 Bpm. Terdapat permainan melodi oleh vibraphone yang mengidentifikasikan Kerajaan Majapahit dalam pendekatan budaya musik jawa melalui tangga nada pelog. Tema pokok disusun sepanjang 8 bar dengan melodi dasar yang dibawakan oleh flute yang mengindikasikan figur Putri Majapahit secara khusus. Dengan progresi akor yang dibawakan oleh viola, cello, contrabass dan piano sebagai iringan. Melodi pada bagian ini dapat dicontohkan pada potongan kalimat lagu dalam figure kesatu berikut. Gambar 1. Notasi 1 Melodi tema dari karya Jejak Majapahit Variasi keruntuhan Kerajaan Majapahit sehingga garapan pada variasi ini komposer menggunakan suasana sedih. Melodi variasi dari melodi tema dibawakan oleh violin yang mewakili perasaan sedih yang dirasakan oleh Kerajaan Majapahit secara umum. Terdapat melodi hiasan yang dibawakan oleh trombone merupakan interpretasi dari suara tangisan sehingga dapat menggambarkan suasana sedih tersebut. Tentang variasi pertama ini dapat dilihat contohnya dalam figur musik ke dua dan tiga. Volume 16 No. 2 Desember 2023 Gambar 2. Notasi 2 Melodi variasi I pada bar 19-27. Gambar 3. Notasi 3 Melodi hiasan pada bar 20-24. Variasi pertama digarap sepanjang 18 bar dimulai dari bar 20 sampai bar 37. Instrumen yang digunakan pada variasi ini terdiri dari String section, brass section, flute, oboe, timpani, cymbals, bass drum, piano dan harp. Sementara pada bagian variasi kedua mengisahkan penyebaran pasukan Kerajaan Majapahit ke seluruh wilayah Nusantara untuk berkoalisi dengan wilayah lainnya dengan tujuan meminta bantuan untuk membangun Kerajaan Majapahit lagi. Dalam garapannya komposer menggunakan suasana megah dan bersemangat yang bertujuan untuk menggambarkan semangat dan harapan sebuah Kerajaan yang besar sebelumnya, untuk kembali membangun Kerajaannya yang telah Variasi kedua digarap sepanjang 27 bar dengan menggunakan tangga nada pentatonik pelog yang mengindentifikasikan Kerajaan Majapahit lewat pendekatan budaya musik Jawa yang lekat dengan tangga nada tersebut. Pada awal variasi ini brass section membawakan melodi sebagai representasi dari perintah dari raja Majaphit kepada pasukannya untuk menyebar ke seluruh Nusantara. Garapan dalam bagian ini sebagaimana tercermin pada figure notasi ke-4 sebagai berikut. Gambar 4. Notasi 4 Melodi opening variasi II pada bar 39-43 Instrument yang digunakan dalam variasi ini terdiri dari string section, brass section, perkusi, flute, oboe, piano dan harp yang mengindikasikan keseluruhan pasukan Kerajaan Majapahit yang menyebar ke seluruh wilayah Nusantara. Bagian II Bagian kedua dari karya komposisi musik Jejak Majapahit mengisahkan perjalanan putri Majapahit yang merupakan salah satu kelompok darisekian banyak pasukan kerajaan Majapahit yang menyebar. Pada bagian ini terdapat tiga variasi yang mengisahkan perjalanan putri tersebut ketika mengarungi lautan, dan menapak pegunungan serta jurang yang terjal. Variasi ketiga digarap sepanjang 20 bar yang mengisahkan perjalanan Putri melewati lautan dan menggunakan sukat 6/8. Sukat 6/8 digunakan dalam variasi ini dengan pertimbangan bahwa sukat tersebut mampu mengidentifikasikan suasana lautan yang cendrung bergelombang. Melodi dalam variasi ini dibawakan oleh horn yang mengindikasikan seorang kesatria yang memandu perjalanan Gambaran dalam variasi ini dapat dilihat dalam figure notasi ke-5 sebagai berikut. Gambar 5. Notasi Melodi variasi i pada bar 68-75 Volume 16 No. 2 Desember 2023 Frengky Maitimu dan Dewi Tika Lestari: Jejak Majapahit: Komposisi Musik Programa Berdasarkan Cerita Legenda. Dalam perjalanan mereka tentu ada kekhawatiran akan keselamatan mereka melewati jalur laut. Dengan demikian, dalam garapan variasi ini komposer menggunakan permainan ritme oleh perkusi yang diharapkan mampu menggambarkan suasana tersebut. Instrumen yang digunakan dalam variasi ini terdiri dari string section, brass section, perkusi, flute dan harpa. Pada variasi keempat mengisahkan perjalanan Putri dan rombongannya melewati Variasi ini digarap sepanjang 18 bar dan menggunakan suasana tegang yang menggambarkan perjalanan putri yang penuh dengan ketakutan dan kewaspadaan dari ancaman serangan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar. Dalam garapan variasi ini, komposer mencoba menggambarkan perasaan putri lewat teknik ostinato yang dimainkan oleh viola dan teknik arpeggio yang dimaikan oleh piano pada bagian awal variasi IV. Melodi pada variasi ini bawakan oleh brass section, kemudian permainan ritme oleh perkusi sehingga diharapkan dapat menggambarkan suasana tersebut dalam variasi ini. Bentuk melodinya dapat digambarkan pada figure ke-6 Gambar 6. Notasi Melodi Variasi IV Pada Bar 88-94. Pada bar 96 terdapat tanda diam 4 ketuk secara serentak oleh seluruh instrumen. Sehingga pada bar tersebut dimaksudkan sebagai tempat dimana putri dan rombongannya beristirahat sejenak. Instrumen yang digunakan dalam variasi ini terdiri dari string section, brass section, perkusi, piano harpa, flute dan oboe. Variasi kelima mengisahkan perjalanan putri yang dilanjutkan melewati jurang yang terjal. Karena, pada bagian bukit terdapat benteng Negeri Ema yang dijaga oleh orang-orang sakti di Negeri Ema. Variasi ini digarap sepanjang 22 bar dan didominasi permainan ritme yang menggambarkan suasana tegang dan penuh ketakutan yang dirasakan oleh rombongan putri Majapahit. Melodi pada variasi ini dibawakan oleh horn sebagai representasi dari sosok kesatria yang mencoba mengendalikan keadaan dan suasana yang tegang dan penuh ketakutan Instrumen yang digunakan dalam variasi ini terdiri dari string section, horn, trombone, tuba, perkusidan piano. Gambaran musiknya terlihat pada figure ke-7 sebagaimana Gambar 7. Melodi Variasi V Bar 116-125. Bagian i Bagian ketiga pada karya komposisi musik Jejak Majapahit mengisahkan perundingan yang merupakan tujuan dari perjalanan putri Majapahit. Bagian ini terdiri dari empat variasi yang mengisahkan pertemuan putri dan Malesi Soalisa. Pertemuan putri dan Kapitan Negeri Ema, permintaan putri yang tidak disetujui oleh Kapitan, dan putri yang menghilang secara misterius yang digambarkan dalam beberapa suasana yakni suasana tenang dan damai, suasana tegang, suasana sedih dan terpukul serta suasana mistis. Variasi pertemuan antara putri Majapahit dan Malesi Soalisa yang dalam garapannya, komposer menggunakan suasana tenang dan damai untuk menggambarkan kisah tersebut. Variasi ini digarap sepanjang 19 bar. Melodi pada variasi ini dibawakan secara berbalasan oleh horn yang merepresentasi sosok Malesi Soalisa dengan pendekatan budaya yakni unsur musik berupa tangga nada pentatonis yang terindikasi dalam nyanyian Suhat di Negeri Ema dan ritme tifa yang dimainkan oleh bass drum. Kemudian flute Volume 16 No. 2 Desember 2023 sebagai representasi dari sosok Putri Majapahit dengan pendekatan budaya musik jawa berupa tangga nada pelog dan permainan melodi gamelan yang dimainkan oleh vibraphone, karena memiliki karakter bunyi yang hampir Figur ke-8 berikut menggambarkan penggarapan pada bagian variasi keenam. Melodi pada variasi ini dibawakan oleh horn yang merupakan pengembangan tema pokok dengan ritme yang terindikasi dari gaya bicara masyarakat Negeri Ema, sehingga dapat merepresentasikan sosok Kapitan Negeri Ema yang sedang berdialog dengan putri Majapahit yang direpresentasikan oleh instrumen flute yang membawakan melodi dengan pengembangan dalam hal pembesaran nilai Sehingga adanya kontras melodi antara horn dan flute agar terdengar adanya dialog antara Kapitan dan putri yang berasal dari dua budaya yang berbeda. Secara musikal bagian ini dapat dicontohkan dalam figure ke-10 berikut Gambar 8. Melodi Variasi VI Bar 128-136 Oleh Instrumen Horn dan Flute. Melodi pada variasi ini dibuat berbalasbalasan sehingga terdengar seperti adanya dialog antara horn dan flute sebagai gambaran pertemuan Putri Majapahit dan Malesi Soalisa. Suasana tenang dan damai digunakan dalam variasi ini dikarenakan pada pertemuan tersebut berlangsung dengan baik tanpa ada pertentangan antara putri Majapahit dan Malesi Soalisa. Instrument yang digunakan dalam garapan variasi keenam terdiri dari flute, horn, timpani, bass drum, cymbals, vibraphone, piano, harpa, viola, cello dan contrabass. Variasi ketujuh mengisahkan pertemuan putri Majapahit dan Kapitan Negeri Ema. Variasi ini digarap sepanjang 34 bar dan menggunakan suasana tegang sebagai gambaran pertemuan Bagian awal variasi ini, instrumen tuba merepresentasikan bunyi tahuri yang dibunyikan saat adanya pertemuan yang penting menurut adat di Negeri Ema. Figur ke-9 menggambarkan garap musik pada bagian ini. Gambar 9. Notasi Single Note Bar 146-152 oleh Instrument Tuba. Gambar 10. Notasi Melodi Variasi Bar Ke 151-159 Pada bar 168 melodi mengalami pengembangan ke tangga nada mayor sebagai representasi dari penolakan Kapitan Negeri Ema dan ingin tetap mempertahankan wilayah Peran dari perkusi dalam memainkan ritme dalam tempo cepat dan akor yang dibawakan oleh viola dan cello menggunakan teknik ostinato dan staccato, sehingga suasana tegang dapat digambarkan dalam variasi ini dengan baik. Instrumen yang digunakan dalam variasi ini terdiri dari string section, brass section, perkusi, flute, oboe, piano dan harpa. Variasi kedelapan mengisahkan kesedihan putri Majapahit dikerenakan permintaannya ditolak oleh Kapitan Negeri Ema. Variasi ini digarap sepanjang 25 bar menggunakan tangga nada dorian pada nada dasar G. Melodi pada variasi ini dibawakan oleh oboe yang merepresentasikan kehampaan hati Putri Majapahit yang merasa gagal dalam menjalankan misinya, kemudian flute yang membawakan melodi tema pokok dalam tangga nada dorian sebagai representasi dari Volume 16 No. 2 Desember 2023 Frengky Maitimu dan Dewi Tika Lestari: Jejak Majapahit: Komposisi Musik Programa Berdasarkan Cerita Legenda. kesedihan hati putri Majapahit yang mengingat kembali peristiwa keruntuhan Kerajaannya. Tangga nada dorian digunakan dalam variasi ini bertujuan untuk merepresentasikan kegagalan misi putri Majapahit untuk bersekutu dengan Kapitan Negeri Ema. Susana pada bagian ini seperti terlihat dalam contoh melodi figure 11. bunyi-bunyi menggambarkan suasana mistis pada variasi Akhir dari variasi ini menggunakan kadens setengah yang berarti progresi akor I ke akor V yang mengandung sebuah pertanyaan kemana putri menghilang. Bagian ini dapat dicontohkan dalam figure ke-12 berikut. Gambar 11. Notasi Melodi Variasi Vi Bar ke 189-196 Pada bar 197, horn membawakan melodi variasi pada bagian frase antiseden sebagai representasi dari rasa iba Malesi Soalisa kepada putri Majapahit. Kemudian pada bar 200 melodi variasi pada frase konsekuen dibawakan oleh flute dan horn secara bersamaan sebagai representasi dari rasa terima kasih putri Majapahit kepada Malesi Soalisa atas Intrumen yang digunakan pada variasi ini terdiri dari string section, brass section, flute, oboe, perkusi, piano, harpa. Variasi kesembilan mengisahkan putri Majapahit yang menghilang secara misterius dan digarap sepanjang 19 bar yang menggambarkan suasana mistis. Garapan pada variasi ini, komposer mencoba menghilangkan melodi tema pokok pada frase antiseden yang digunakan pada variasi ini, dibawakan oleh beberapa instrumen secara bergantian sebagai representasi dari sosok Putri Majapahit yang menghilang. Pada bar 210 melodi dalam satu ketukan dibawakan secara tutti sebagai representasi terkejutnya Malesi Soalisa terhadap hilangnya Putri Majapahit secara tiba-tiba. Untuk menggambarkan suasana mistis dengan baik ada beberapa teknik garapan yang digunakan yakni, permainan lower note pada piano yang ditekan bersamaan, teknik arpeggio dari akor diminish, melodi hiasan dari instrumen theremine, suara gamelan yang diinterpretasikan oleh vibraphone, sehingga Gambar 12. Notasi Kadens Setengah Pada Bar Bagian tersebut kemudian dilanjutkan dengan permainan dari instrument rain stick yang merupakan representasi dari bunyi Mata Air Majapahit sebagai tanda bahwa adanya Jejak Majapahit di Negeri Ema. Gambaran dari bentuk musikalnya sebagimana dalam figure 13 berikut. Gambar 13. Notasi Instrumen Rain Stick Dalam Bar SIMPULAN Berdasarkan penjabaran konsep, proses penciptaan dan hasil dari analisis karya komposisi musik Jejak Majapahit, maka dapat disimpulkan bahwa karya komposisi musik Jejak Majapahit adalah karya musik program naratif dalam bentuk musik variasi yang berdasar pada tema awal. Volume 16 No. 2 Desember 2023 Karya komposisi musik Jejak Majapahit digarap berdasarkan konsep non-musikal dari sejarah Air Majapahit di Negeri Ema yang terkandung nilai budaya yang ingin komposer Susunan konsep non-musikal berpadu pada kata Jejak yang menjadi simbol untuk mewakili gambaran perjalanan Putri Majapahit yang kemudian ditentukan suasana tiap-tiap bagian dan variasi. Garapan karya komposisi Jejak Majapahit merupakan hasil ekperimen komposer untuk menyatukan dua budaya berbeda yang dapat digambarkan lewat unsur musikal berupa tangga nada pentatonis pelog dan susunan tangga nada pentatonis yang terindikasi dalam nyanyian Suhat masyarakat Negeri Ema serta karakter ritmik yang diadaptasi dari gaya bicara masyarakat Negeri Ema (Loga. kedalam komposisi musik menggunakan instrumen Stein. Structure and style. New Jersey: Summy-Birchard Music. Strube. The Theory and Use of Chords. Philadelphia: Oliver Ditson Company. Sukerta. Metode Penyusunan Karya Musik. Solo: ISI Press Solo. Sunarto. Epistemologi Penciptaan Seni. Surakarta: ISI Press. Jurnal Mujabuddawat. Jejak Kedatangan Majapahit di Pulau Ambon. PURBAWIDYA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi. VII Hasibuan. , 2019. Jurnal: Melodious : Karya Musik Absolut. Universitas Tanjungpura Buku Raharja. , 2018. Jurnal: Penerapan Improvisasi Menggunakan Titi Laras Pelog Pada Gitar Elektrik. ISI Yogyakarta Abdullah. Metodologi Penelitian Kuantitatif. yogyakarta: Aswaja Pressindo. Widianto. Metode Penggarapan Musik Ilustrasi theSound of Crusader. Jurnal Seni Pertumjukan. Banoe. Kamus Musik. Kanisius. Skripsi. Tesis. Disertasi DAFTAR ACUAN Hasibuan. Karya Musik Absolut. Melodious, 2. Karp. Dictionary of Music. New York. McDermatt. Membuat Musik Biasa Menjadi Luar Biasa. Art Music Today. Mudjilah. Diktat: AuTeori Musik 1Ay. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. Hayuningrum. Tesis: Orisilalitas Suatu Karya Cipta. Semarang: Universitas Diponegoro. Manuhua. Tesis: Toami (Representasi Hatolisa dan Baileo Kedalam Musik Program Untuk Ansambe. Ambon: Institut Agama Kristen Negeri Ambon. Sopamena. Skripsi: Perang Pattimura: Penyerbuan Benteng Duurstede. Ambon: Institut Agama Kristen Negeri Ambon. SJ. -E. Ilmu Bentuk Musik. Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi. Volume 16 No. 2 Desember 2023 Frengky Maitimu dan Dewi Tika Lestari: Jejak Majapahit: Komposisi Musik Programa Berdasarkan Cerita Legenda. Situs . https://kbbi. id/jejak. Diambil pada 12 Juni 2023, dari https:/ /kbbi. id/: https://kbbi. KBBI. 3, juli . KBBI online. Diambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia: https://kbbi. id/ide Narasumber Bpk. Zakaria Erasmus Maitimu . Tua adat Negeri Ema (Pelatih nyanyian Suhat. Pemain totobuan. Bpk. Philipus Maitimu . Tua adat Negeri Ema (Kepala Soa Soalis. Bpk. Josefath Maitimu . Orang yang menyimpan barang-barang peninggalan Putri Majapahit. Volume 16 No. 2 Desember 2023