Journal Genta Mulia Volume 15. Number 2, 2025 pp. P-ISSN 2301-6671 E-ISSN: 2580-6416 Open Access: https://ejournal. id/index. php/gm ANALISIS KEARIFAN LOKAL DI SEKOLAH DALAM MEMBENTUK SIKAP MULTIKULTURAL SISWA SEKOLAH DASAR Syahla Habibah*1. Mahmud Yunus2. Fitri Novianti Baihaqi3. Azahra Dila4 1234 Universitas Negeri Jakarta. Indonesia * Corresponding Author: syahla_1107622054@mhs. Abstrak Pendidikan multikultural sangat penting dalam membangun sikap toleran dan harmonis di tengah keberagaman budaya Indonesia. Penelitian ini mengkaji integrasi nilai-nilai kearifan lokal dalam pendidikan multikultural di sekolah dasar dan pengaruhnya terhadap sikap multikultural siswa. Dengan metode kualitatif deskriptif melalui wawancara dan observasi, penelitian ini menemukan bahwa penerapan nilai-nilai kearifan lokal seperti gotong royong dan toleransi dapat menumbuhkan karakter positif siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan multikultural berbasis kearifan lokal efektif dalam membentuk sikap multikultural yang kuat dan relevan untuk pendidikan di Indonesia. Temuan ini menyarankan pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal dalam kurikulum sekolah untuk membangun masyarakat yang harmonis dan berkarakter kuat. Kata Kunci: Local Wisdom. Multicultural. Attitudes Siswa. Sekolah Dasar Abstract Multicultural education is crucial for fostering tolerance and harmony amidst Indonesia's cultural This study examines the integration of local wisdom values in multicultural education in elementary schools and its impact on students' multicultural attitudes. Using a qualitative descriptive method with interviews and observations, the research finds that incorporating local wisdom values such as gotong royong and tolerance cultivates positive character traits in students. The findings suggest that multicultural education based on local wisdom is effective in shaping strong multicultural attitudes and is relevant for education in Indonesia. This study highlights the importance of integrating local wisdom values into school curricula to build a harmonious and character-driven society. Keyword: Local Wisdom. Multicultural. Student Attitudes. Elementary School PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara kepulauan yang kaya akan keberagaman budaya, bahasa, agama, dan suku bangsa. Data dari Badan Pusat Statistik mencatat bahwa terdapat lebih dari 300 suku bangsa yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Keberagaman ini menjadi kekayaan bangsa yang patut dibanggakan, namun di sisi lain juga dapat menimbulkan potensi konflik sosial apabila tidak dikelola dengan baik. Perbedaan yang ada bisa menimbulkan kesalahpahaman, prasangka, bahkan diskriminasi jika masyarakat tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang pentingnya toleransi dan hidup berdampingan dalam perbedaan. Oleh karena itu, diperlukan suatu pendekatan yang mampu menanamkan nilai-nilai toleransi, saling menghargai serta kebersamaan dalam keberagaman, salah satunya melalui pendidikan multikultural. Dalam hal ini, pendidikan multikultural hadir sebagai salah satu solusi untuk mengatasi ketegangan akibat perbedaan. Menurut Agustian . pendidikan multikultural lahir sebagai respons terhadap praktik ketidakadilan yang terjadi karena perbedaan latar belakang seseorang, baik dari segi budaya, agama, maupun etnisitas. Pendidikan ini menekankan Syahla Habibah1. Analisis Kearifan LokalAJurnal Genta Mulia . pentingnya kesetaraan, keadilan, dan penghargaan terhadap keberagaman (Suneki. Hadi, & Yunus, 2022. Melalui pendidikan multikultural, peserta didik dibentuk menjadi individu yang terbuka terhadap perbedaan, mampu berpikir kritis, serta memiliki sikap toleran dalam berinteraksi sosial (Yunus, et. al, 2. Judith M. Green, seorang tokoh terkemuka dalam ranah filsafat pendidikan, menggarisbawahi urgensi prinsip inklusivitas dan keadilan sebagai pilar fundamental dalam praktik pendidikan multikultural. Dalam pandangannya (Green, 1. , pendidikan multikultural seharusnya mengakomodasi keterlibatan aktif dari seluruh entitas budaya yang ada dalam masyarakat, sehingga tidak terjadi dominasi kelompok tertentu dalam proses pendidikan (Suneki. Yunus, & Haryono, 2. Hal ini menuntut adanya rekonstruksi kurikulum yang merepresentasikan keragaman identitas budaya secara adil dan proporsional, serta penciptaan ekosistem pembelajaran yang menyambut perbedaan secara Lebih lanjut. Green menegaskan pentingnya pengembangan kesadaran kritis terhadap struktur sosial yang sarat akan ketimpangan kekuasaan dan privilese, sehingga peserta didik mampu memahami dan menghadapi relasi sosial yang tidak selalu setara dalam konteks masyarakat yang plural. Melengkapi pandangan Green yang menekankan aspek filosofis pendidikan multikultural. James A. Banks . menawarkan kerangka implementatif melalui lima dimensi utama yang perlu diperhatikan agar pendidikan multikultural dapat dijalankan secara sistematis di sekolah. Kelima dimensi tersebut mencakup: integrasi isi, proses konstruksi pengetahuan, pengurangan prasangka, pedagogi yang setara, serta pemberdayaan kultur sekolah dan struktur sosial. Pendekatan ini memungkinkan institusi pendidikan untuk tidak hanya mengakui keberagaman secara simbolis, tetapi juga menginternalisasikannya dalam kebijakan, kurikulum, dan praktik pembelajaran sehari-hari (Hayat, et. al, 2. Jika pendidikan multikultural diterapkan secara konsisten dan menyeluruh, pendekatan ini seharusnya dapat mendorong terciptanya kehidupan masyarakat yang lebih harmonis dan bebas dari prasangka negatif terhadap perbedaan (Haryono. Suneki, & Yunus. Meskipun demikian, berbagai konflik dan ketegangan sosial yang masih sering terjadi di Indonesia menunjukkan bahwa pendidikan multikultural belum sepenuhnya terinternalisasi dengan baik dalam sistem pendidikan, khususnya pada jenjang pendidikan Padahal, masa sekolah dasar merupakan tahap awal pembentukan karakter anak yang disebut sebagai Auperiode emasAy. Pendidikan multikultural sendiri merupakan suatu proses penanaman cara hidup yang menghargai perbedaan secara tulus dan penuh toleransi dalam konteks masyarakat majemuk. Diharapkan, dengan penerapan pendidikan multikultural yang tepat, peserta didik mampu mengembangkan kelenturan mental dalam menghadapi konflik-konflik yang berkaitan dengan isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), sehingga persatuan nasional tetap terjaga dan potensi disintegrasi dapat dicegah. Dalam konteks sekolah dasar, pembiasaan sejak dini untuk tidak membeda-bedakan teman, menghargai pendapat orang lain, membangun empati, serta menumbuhkan sikap respect for others merupakan langkah konkret dalam menanamkan nilai-nilai kesetaraan dan keadilan sosial (Latifah, 2. Lebih lanjut. Latifah . menekankan bahwa terdapat empat aspek penting yang harus diperhatikan dalam pembelajaran multikultural di tingkat sekolah dasar. Pertama, penanaman nilai-nilai pendidikan multikultural harus dimulai sejak dini, bahkan sejak siswa duduk di kelas satu. Kedua, integrasi nilai-nilai multikultural ke dalam berbagai mata pelajaran merupakan cara efektif untuk menumbuhkan sikap positif dalam setiap proses Ketiga, pendekatan dan strategi yang bervariasi diperlukan agar peserta didik lebih mudah memahami esensi pendidikan multikultural. Keempat, peran guru sangat sentral sebagai agen utama dalam keberhasilan pendidikan multikultural, mengingat anak-anak cenderung meneladani perilaku guru yang mereka amati sehari-hari di lingkungan sekolah. Salah satu pendekatan yang dapat mendukung implementasi pendidikan multikultural di sekolah dasar adalah melalui integrasi nilai-nilai kearifan lokal . ocal P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 191 Syahla Habibah1. Analisis Kearifan LokalAJurnal Genta Mulia . dalam pembelajaran. Kearifan lokal merujuk pada nilai-nilai luhur yang berkembang dalam suatu masyarakat dan diwariskan secara turun-temurun, seperti nilai gotong royong, tenggang rasa, toleransi, dan kepedulian terhadap sesama (Septemiarti & Dasyah, 2. Nilai-nilai tersebut tidak hanya mencerminkan identitas budaya lokal, tetapi juga selaras dengan prinsip-prinsip pendidikan multikultural. Untuk memahami lebih dalam mengenai konsep kearifan lokal, beberapa pakar memberikan definisi yang saling melengkapi. Kearifan lokal merupakan bagian dari kekayaan budaya yang lahir dari kebiasaan dan cara hidup masyarakat di suatu wilayah. Suaib menyatakan bahwa kearifan lokal mencakup norma-norma, nilai budaya, dan berbagai pemikiran yang berkembang dalam masyarakat serta turut mempengaruhi pengambilan kebijakan (Suaib, 2. Sementara itu. Keraf . menjelaskan bahwa kearifan lokal meliputi seluruh bentuk pengetahuan dan nilai-nilai budaya yang diperoleh dari pengalaman hidup masyarakat dan berperan dalam mengatur tatanan sosial (Keraf, 2. Berdasarkan pandangan kedua tokoh tersebut, kearifan lokal dapat dimaknai sebagai kumpulan pengetahuan dan nilai budaya yang tumbuh dari pengalaman masyarakat, diwariskan antar generasi, dan berfungsi menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan lingkungannya. Memperluas sudut pandang tersebut, bahwa kearifan lokal bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga memiliki peran strategis dalam memperkuat identitas budaya dan sosial suatu komunitas. Kearifan lokal berfungsi sebagai simbol jati diri masyarakat, mempererat hubungan sosial antar anggota komunitas, serta menjadi landasan pembangunan yang tumbuh dari inisiatif masyarakat itu sendiri . ottom-u. Selain itu, kearifan lokal juga menumbuhkan rasa persatuan dalam kelompok masyarakat dan membantu individu maupun kelompok dalam membentuk serta mengubah pola pikir dan hubungan sosial secara lebih harmonis (Lubis, 2024:. Berdasarkan definisi dan fungsi yang telah diuraikan, kearifan lokal sangat relevan untuk diintegrasikan ke dalam dunia pendidikan, terutama di sekolah dasar. Nilai-nilai yang terkandung dalam kearifan lokal dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran yang kontekstual dan dekat dengan kehidupan peserta didik. Dengan mengintegrasikan kearifan lokal dalam proses belajar mengajar membantu peserta didik memahami nilai-nilai budaya dan tradisi mereka sendiri, sekaligus mengembangkan sikap menghargai dan melestarikan warisan budaya. Dengan cara ini, pendidikan tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan umum, tapi juga membentuk karakter yang berakar pada identitas dan kearifan daerah masing-masing. Selain itu, penerapan kearifan lokal dalam pendidikan dapat mendorong peserta didik untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan masyarakatnya, sehingga tercipta pembelajaran yang bermakna dan kontekstual. Oleh karena itu, sekolah memiliki peran strategis dalam memperkenalkan dan menanamkan nilai-nilai kearifan lokal kepada peserta didik. Dengan mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam proses pembelajaran, peserta didik tidak hanya memahami keberagaman budaya di sekitar mereka, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai sosial yang penting untuk kehidupan bersama. Praktik kearifan lokal seperti gotong royong, musyawarah, serta saling menghormati dapat diterapkan dalam kegiatan keseharian di sekolah sebagai bentuk konkret pendidikan karakter yang berwawasan multikultural (Fahrozy et al. , 2. Hal ini sejalan dengan temuan penelitian yang dilakukan oleh Margaretha Lidya Sumarni. Siprianus Jewarut. Silvester. Felisitas Viktoria Melati, dan Kusnanto . , yang menunjukkan bahwa integrasi nilai budaya lokal dalam pembelajaran telah dilakukan oleh guru melalui berbagai strategi, seperti penyisipan materi budaya lokal ke dalam pelajaran dan pemberian contoh konkret selama proses belajar mengajar. Selain itu, penguatan nilai-nilai tersebut juga dilakukan melalui tugas proyek yang memungkinkan peserta didik mendapatkan pengalaman langsung dengan budaya lokal mereka. Hasil dari integrasi ini dirasakan secara nyata, baik oleh guru maupun siswa, di antaranya adalah meningkatnya P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 192 Syahla Habibah1. Analisis Kearifan LokalAJurnal Genta Mulia . pengetahuan siswa terhadap budaya lokal, terbentuknya karakter positif seperti kerja sama, gotong royong, dan toleransi, serta semakin kuatnya hubungan antar siswa yang berasal dari latar belakang suku, agama, dan ras yang berbeda. Temuan ini memperkuat argumen bahwa pendekatan berbasis kearifan lokal efektif dalam membangun sikap multikultural dan memperkuat pendidikan karakter di sekolah dasar. Berdasarkan uraian diatas, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana nilai-nilai kearifan lokal yang diimplementasikan dalam lingkungan sekolah dasar dapat membentuk multicultural attitudes siswa. Penelitian ini menjadi penting dan relevan untuk dilakukan mengingat kondisi masyarakat Indonesia yang sangat plural, serta kebutuhan mendesak untuk membangun generasi yang memiliki karakter toleran, inklusif, dan mampu hidup harmonis dalam keberagaman. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk menggali dan mendeskripsikan secara mendalam penerapan nilai-nilai kearifan lokal . ocal wisdo. di lingkungan sekolah dasar serta kontribusinya terhadap pembentukan sikap multikultural siswa. Penelitian dilaksanakan di SDN Petojo Utara 09, yang berlokasi di Kecamatan Gambir. Jakarta Pusat, pada hari Jumat, 09 Mei 2024. Subjek dalam penelitian ini meliputi guru, siswa, dan orang tua yang terlibat aktif dalam kegiatan sekolah, sedangkan objek penelitiannya adalah penerapan nilai-nilai kearifan lokal serta pengaruhnya terhadap sikap multikultural siswa. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan guru untuk mengetahui pemahaman mereka terkait nilai budaya dan bagaimana penerapannya dalam proses pembelajaran. Analisis data dilakukan secara kualitatif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, mengacu pada model analisis interaktif dari Miles dan Huberman . Tiga unsur utama dalam analisis data kualitatif wajib dimuat karena saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan yang utuh. Ketiganya perlu terus dibandingkan secara berkelanjutan untuk membantu peneliti dalam merumuskan kesimpulan sebagai hasil akhir dari proses penelitian. Proses ini dilakukan secara berkelanjutan sejak data dikumpulkan hingga diperoleh pemaknaan terhadap penerapan nilai budaya lokal dan pengaruhnya terhadap pembentukan sikap multikultural siswa. HASIL DAN PEMBAHASAN Pendidikan multikultural memiliki dampak yang meluas, tidak hanya terbatas pada hasil belajar siswa, tetapi juga mempengaruhi seluruh pihak yang terlibat dalam lingkungan Pengaruh ini mencakup pembentukan cara pandang, nilai, dan sikap dalam menyikapi keragaman sosial dan budaya di lingkungan akademik (Sela-Shayovitz & Finkelstein, 2. Dalam pendidikan dasar, pendekatan multikultural berfungsi sebagai sarana untuk menanamkan nilai-nilai kebersamaan di tengah perbedaan. Melalui pembelajaran yang menyertakan unsur budaya dari berbagai kelompok, siswa diajak untuk mengenal keberagaman sebagai realitas yang perlu dihargai. Proses ini tidak hanya memperkaya pengetahuan siswa, tetapi juga membentuk kepekaan sosial yang penting dalam kehidupan Oleh karena itu, pendidikan multikultural menjadi landasan strategis dalam menciptakan generasi yang toleran dan siap hidup dalam masyarakat yang pluralistik. Hal ini diperkuat oleh hasil wawancara dengan guru yang menyebutkan bahwa pemahaman terhadap nilai-nilai budaya daerah cukup kuat, terutama dalam peran mereka sebagai pendidik informal di rumah maupun formal di sekolah. Guru juga memposisikan dirinya sebagai orang tua di rumah, menyadari pentingnya memperkenalkan budaya sejak dini agar anak-anak tidak melupakan akar budayanya. Hal ini dilakukan melalui penggunaan bahasa daerah secara bertahap di rumah, memperkenalkan adat istiadat, serta membiasakan anak P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 193 Syahla Habibah1. Analisis Kearifan LokalAJurnal Genta Mulia . mengenakan pakaian adat saat momen-momen nasional seperti peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus. Kebiasaan ini secara tidak langsung memperkuat identitas budaya anak dan memupuk penghargaan terhadap keberagaman yang ada di Indonesia. Di sekolah, guru berperan aktif dalam mengintegrasikan nilai-nilai budaya ke dalam kegiatan pembelajaran. Setiap hari Senin setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya dan lagu nasional, siswa diajak menyanyikan lagu daerah dari berbagai provinsi. Kebiasaan ini dilakukan secara bergiliran agar siswa mengenal beragam lagu daerah yang mencerminkan kekayaan budaya nusantara. Guru juga memperkenalkan kosakata dari berbagai bahasa daerah untuk menunjukkan makna yang berbeda dari satu kata di setiap daerah, misalnya kata "Atos" yang dalam bahasa Jawa berarti keras, sedangkan dalam bahasa Sunda berarti Visualisasi budaya juga dilakukan melalui media seperti poster, sehingga siswa dapat memahami budaya secara konkret. Sekolah memiliki lingkungan belajar yang multikultural, tercermin dari keberagaman asal siswa, antara lain dari Medan. Aceh. Ambon. Padang. Makassar. Jawa. Sunda. Betawi, dan Batak. Keberagaman ini menjadi potensi sekaligus tantangan. Sesekali terjadi ejekan antar siswa terkait perbedaan fisik atau budaya, seperti rambut keriting dari siswa asal Ambon yang dianggap unik. Namun, guru memiliki peran penting dalam mengarahkan persepsi siswa agar tidak menjadi ejekan yang bersifat diskriminatif. Guru memberikan pemahaman bahwa perbedaan tersebut adalah bagian dari kekayaan bangsa dan harus dihormati. Kegiatan sekolah yang melibatkan nilai-nilai budaya juga cukup beragam, mulai dari upacara, perayaan Hari Kartini. Maulid Nabi. Natal. Paskah, hingga Muharam dengan kegiatan santunan. Dalam kegiatan ini, siswa seringkali diajak mengenakan pakaian adat dari daerah masing-masing. Orang tua turut terlibat secara sukarela dalam mendukung kegiatan tersebut, baik dalam bentuk tenaga, saran, hingga bantuan konsumsi seperti membawa kue. Hal ini memperlihatkan adanya hubungan yang erat antara pihak sekolah dan wali murid dalam menciptakan pendidikan karakter yang berbasis budaya lokal. Namun demikian, beberapa tantangan muncul dalam proses pembelajaran budaya Tantangan tersebut antara lain adalah pergeseran sikap moral siswa yang dinilai kurang sopan dibanding generasi sebelumnya, penggunaan bahasa kasar yang terbawa dari lingkungan rumah, serta keterbatasan guru dalam menguasai berbagai bahasa daerah. Selain itu, minat siswa terhadap kegiatan tradisional seperti menari dinilai masih rendah karena variasi gerakan dan kurangnya keterlibatan guru dalam mengajarkannya. Untuk mengatasi hal ini, guru mulai memanfaatkan media digital seperti video YouTube guna menampilkan gambar atau tayangan budaya agar siswa dapat membayangkan objek budaya secara lebih Perubahan positif terlihat setelah siswa diberikan pembelajaran mengenai budaya Mereka menjadi lebih memahami perbedaan makna kata dalam berbagai bahasa daerah dan menunjukkan sikap saling menghargai, mengurangi ejekan yang sebelumnya kerap terjadi. Hal ini menjadi indikator bahwa pembelajaran nilai budaya dapat membentuk sikap multikultural pada siswa sejak dini. Sebagai bentuk penguatan, guru menyarankan agar pembelajaran budaya dilakukan melalui pembiasaan yang menyenangkan dan konsisten. Misalnya dengan mengenalkan minimal satu lagu daerah dari setiap provinsi selama tahun ajaran, serta menggunakan pakaian adat dalam acara sekolah sebagai bentuk nyata pengenalan budaya. Strategi ini terbukti efektif untuk menumbuhkan kecintaan siswa terhadap budaya bangsa serta membentuk sikap terbuka, toleran, dan menghargai perbedaan. Temuan peneliti dari hasil wawancara menunjukkan bahwa pembelajaran yang berbasis budaya lokal tidak hanya memperkuat identitas siswa, tetapi juga berkontribusi secara nyata dalam membentuk sikap multikultural. Ketika siswa terbiasa mengenal, menghargai, dan berinteraksi dengan keragaman budaya di lingkungan sekolah, mereka lebih siap menjadi individu yang toleran dan terbuka terhadap perbedaan. Hal ini selaras dengan tujuan pendidikan multikultural. Tujuan utama dari pendidikan multikultural adalah membentuk P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 194 Syahla Habibah1. Analisis Kearifan LokalAJurnal Genta Mulia . peserta didik yang memiliki karakter kuat, seperti kepercayaan diri, kejujuran, rasa tanggung jawab, kedisiplinan, dan semangat kebangsaan. Selain membangun karakter, pendidikan ini juga berfungsi untuk menumbuhkan kesadaran akan keberagaman budaya, memperkaya isi kurikulum, serta membantu siswa dalam mengembangkan pemahaman positif terhadap dirinya sendiri dan orang lain . mmit, 2. Nilai-nilai dalam pendidikan multikultural dalam konteks pendidikan dasar menjadi landasan penting dalam membangun lingkungan belajar yang menghargai perbedaan. Dengan demikian, pendidikan multikultural yang terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran dan budaya sekolah dapat menjadi sarana efektif dalam membentuk karakter siswa. Melalui pembiasaan yang sederhana seperti menyanyikan lagu daerah, mengenakan pakaian adat, serta melibatkan orang tua dalam kegiatan budaya, nilai-nilai toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan dapat ditanamkan sejak dini. Nilai-nilai budaya lokal yang dikemas dalam konteks pembelajaran modern menjadi media utama untuk menciptakan generasi yang memiliki identitas kuat dan mampu hidup harmonis dalam masyarakat yang majemuk. SIMPULAN DAN SARAN Penerapan nilai-nilai kearifan lokal dalam pendidikan dasar terbukti memainkan peran penting dalam membentuk sikap multikultural pada siswa. Nilai-nilai seperti gotong royong, toleransi, saling menghargai, dan kepedulian sosial yang diintegrasikan dalam kegiatan belajar mengajar dapat menumbuhkan karakter positif sejak dini. Melalui pembiasaan yang sederhana namun bermaknaAiseperti menyanyikan lagu daerah, mengenakan pakaian adat, dan memperkenalkan kosakata dari berbagai bahasa daerahAi siswa tidak hanya mengenal keragaman budaya, tetapi juga belajar menghargainya sebagai bagian dari kehidupan bersama dalam masyarakat yang plural. Pembelajaran yang menyentuh aspek budaya lokal menjadikan pendidikan lebih kontekstual dan membumi, sekaligus memperkuat identitas siswa terhadap warisan budaya mereka sendiri. Ketika nilai-nilai lokal ini dipadukan dengan prinsip-prinsip pendidikan multikultural, tercipta lingkungan sekolah yang inklusif dan adil, yang pada akhirnya mendukung terbentuknya generasi yang terbuka, toleran, dan siap hidup berdampingan dalam keberagaman. Dengan demikian, integrasi kearifan lokal bukan hanya memperkaya isi pembelajaran, tetapi juga menjadi fondasi dalam membangun masyarakat yang harmonis dan berkarakter Ini menjadi bukti bahwa pendidikan yang mengakar pada budaya dapat menjadi solusi efektif dalam menghadapi tantangan sosial di tengah kemajemukan bangsa. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoritis maupun praktis. Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian ilmiah mengenai pendidikan multikultural berbasis kearifan lokal, khususnya dalam konteks pendidikan dasar di Indonesia. Penelitian ini juga dapat menjadi rujukan bagi pengembangan teori terkait pembentukan sikap multikultural melalui pendekatan berbasis budaya lokal. Secara praktis, penelitian ini bermanfaat bagi para pendidik dalam merancang pembelajaran yang relevan dengan nilai-nilai budaya lokal untuk menumbuhkan sikap toleran pada siswa. Bagi sekolah, temuan ini dapat digunakan sebagai dasar dalam menyusun program atau kebijakan berbasis budaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan harmonis. Selain itu, bagi pengambil kebijakan di bidang pendidikan, penelitian ini dapat menjadi masukan dalam merancang kurikulum atau kebijakan yang responsif terhadap keberagaman budaya Indonesia. DAFTAR PUSTAKA