HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN PENERAPAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PADA MAHASISWA KEPANITERAAN DI RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT SARASWATI DENPASAR Yudha Rahina1. I Nyoman Panji Triadnya Palgunadi2. Ni Luh Sudiasih3 Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat. Pendidikan Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Mahasaraswati Denpasar Email: luhsudiasih3113@gmail. ABSTRAK Pendahuluan: Keselamatan kerja merupakan suatu program yang bertujuan untuk mencegah kemungkinan timbulnya kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Pekerjaan di bidang kesehatan, termasuk dokter gigi dan mahasiswa kepaniteraan, memiliki risiko tinggi terpapar penyakit dan kecelakaan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan antara tingkat pengetahuan dengan penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K. pada mahasiswa kepaniteraan di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Saraswati Denpasar. Metode: Metode penelitian korelasional digunakan dengan pengumpulan data melalui Subyek penelitian ditentukan dengan menggunakan rumus slovin dan metode purposive sampling yaitu para mahasiswa kepaniteraan di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Saraswati Denpasar yang aktif dalam menangani pasien, berjumlah 76 mahasiswa. Data dianalisis dengan menggunakan uji spearman rank. Hasil Penelitian: Hasil penelitian ini menunjukkan sebanyak 76,6% dari 55 responden mahasiswa kepaniteraan memiliki pengetahuan yang baik tentang keselamatan dan kesehatan kerja, dan sebanyak 72,3% responden memiliki penerapan yang baik terhadap keselamatan dan kesehatan kerja. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan adanya hubungan positif antara tingkat pengetahuan dan penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (P<0,. Semakin baik pengetahuan yang dimiliki oleh mahasiswa kepaniteraan, semakin baik pula penerapan keselamatan dan kesehatan kerja yang dilakukan. Kata kunci: kesehatan kerja, mahasiswa kepaniteraan, penerapan keselamatan, tingkat PENDAHULUAN Keselamatan kerja merupakan suatu program yang bertujuan untuk mencegah segala kemungkinan timbulnya kecelakaan maupun penyakit akibat kerja. Setiap pekerjaan tentu memiliki potensi bahaya masing-masing. Potensi tersebut dapat muncul pada saat seseorang melakukan pekerjaan. Selain kecelakaan kerja, pekerja juga memiliki risiko tinggi untuk terinfeksi penyakit menular maupun tidak menular. Tenaga kesehatan merupakan suatu pekerjaan yang memiliki risiko tinggi untuk terpapar penyakit akibat kerja maupun kecelakaan kerja. Secara global kasus kecelakaan kerja pada petugas kesehatan akibat tertusuk jarum suntik di rumah sakit dapat diperkirakan mencapai 32,444,5% setiap tahunnya serta ditambah penyakit akibat jarum suntik terkontaminasi cairan dan darah diantaranya adalah Hepatitis B. Hepatitis C. HIV/AIDS, dan lain-lain. Sementara itu, penelitian yang dilakukan terhadap 130 orang dokter gigi yang terlibat dalam praktik klinis menunjukkan angka yang cukup tinggi mencapai 95% memiliki risiko kerja selama praktik. Mahasiswa kepaniteraan kedokteran gigi maupun dokter gigi merupakan suatu pekerjaan yang tak lepas dari penyakit akibat kerja maupun kecelakaan kerja. Mahasiswa kepaniteraan seharusnya memiliki pengetahuan yang memadai mengenai pelaksanaan dan penerapan keselamatan dan kesehatan kerja. Hal ini merupakan hal yang sangat penting untuk meminimalisir risiko kecelakaan kerja, mengingat para mahasiswa kepaniteraan merupakan dokter muda yang belum memiliki banyak pengalaman dalam menangani pasien. Pengetahuan dasar yang harus dimiliki oleh mahasiswa kepaniteraan diantaranya, mengetahui jenis potensi bahaya di tempat kerja, mengetahui penyakit akibat kerja, mengetahui pertolongan pertama pada kecelakaan, disinfeksi dan sterilisasi, serta mengetahui tata cara penggunaan alat pemadam kebakaran jika seandainya terjadi Tak terbatas hanya dengan memiliki pengetahuan saja, namun para mahasiswa kepaniteraan harus mendapatkan pelatihan guna mewujudkan implementasi program K3 di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Saraswati Denpasar. Ini sejalan dengan Permenkes Nomor 52 Tahun 2018 Pasal 9 yaitu, dalam rangka meningkatkan pemahaman, kemampuan dan keterampilan tentang pelaksanaan K3 di fasilitas pelayanan Kesehatan (Fasyanke. , dilakukan pelatihan atau peningkatan kompetensi di bidang keselamatan dan kesehatan kerja bagi sumber daya manusia di fasyankes. 2 Pelaksanaan rencana K3 harus memiliki sumber daya manusia di bidang K3, sarana dan prasarana, serta anggaran yang Berdasarkan hasil riset melalui wawancara oleh penulis dengan mahasiswa kepaniteraan, beberapa dari mereka mengakui bahwa sudah mengalami gangguan otot, nyeri sendi, tertusuk jarum, terkena percikan cairan yang berasal dari rongga mulut pasien serta pernah terjadi kecelakaan akibat kerja pada saat menangani pasien di RSGM. Dari datadata yang telah disebutkan juga menunjukkan bahwa kasus kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja masih terbilang cukup tinggi di kalangan tenaga kesehatan, khususnya dokter gigi maupun mahasiswa kepaniteraan dokter gigi. Setelah benar-benar memahami tentang pentingnya pelaksanaan program K3 di kalangan tenaga kesehatan khususnya dokter gigi maupun mahasiswa kepaniteraan, penulis tertarik untuk melakukan sebuah penelitian dengan mengangkat judul AyHubungan tingkat pengetahuan dengan penerapan keselamatan dan kesehatan kerja pada mahasiswa kepaniteraan di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Saraswati DenpasarAy. METODE Penelitian ini merupakan penelitian korelasional dengan metode kuantitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan menyebarkan kuesioner yang dibuat dan dipersiapkan terlebih dahulu oleh peneliti, kemudian dianalisis dengan menggunakan statistik untuk menjawab pertanyaan atau hipotesis penelitian yang sifatnya spesifik dan untuk melakukan prediksi bahwa suatu variabel tertentu mempengaruhi variabel yang lain. Populasi terjangkau yang digunakan dalam penelitian ini adalah mahasiswa kepaniteraan di RSGM Saraswati Denpasar yang berjumlah 248 Rumus yang digunakan untuk menentukan besar sampel adalah rumus Slovin, yaitu sebagai berikut: ycA ycu=1 ycA . ! Teknik penarikan sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan menggunakan metode Purposive Sampling. Penentuan sampel ini berdasarkan kriteria, yaitu mahasiswa kepaniteraan yang masih aktif dalam menangani pasien di RSGM Saraswati Denpasar. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini untuk mengetahui adanya hubungan antara pengetahuan dengan penerapan keselamatan dan kesehatan kerja pada mahasiswa kepaniteraan di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Saraswati Denpasar, adalah uji Spearman Rank dengan bantuan SPSS. Kuesioner dalam penelitian ini dibuat sendiri oleh peneliti. Oleh karena itu harus dilakukan pengujian untuk mengetahui apakah kuesioner tersebut sudah valid dan reliabel. Uji instrumen dilakukan dengan uji validitas dan uji reliabilitas. HASIL Responden pada penelitian ini merupakan mahasiswa kepaniteraan yang masih aktif menangani pasien di RSGM Saraswati Denpasar berjumlah sebanyak 76 orang. Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin. No Karakteristik Responden Frekuensi Presentase UMUR 21 Ae 25 Tahun TOTAL JENIS KELAMIN Laki-laki Perempuan TOTAL Tabel 1. menjelaskan bahwa rentang umur mahasiswa kepaniteraan di RSGM Saraswati Denpasar dari 21-25 tahun dengan mayoritas mahasiswa berusia 23 tahun sebanyak 34 orang . ,7%) dan paling sedikit 25 tahun sebanyak 1 orang . ,3%). Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin lebih dominan berjenis kelamin perempuan yakni sebanyak 50 orang . , 8%) dan jenis kelamin laki-laki sebanyak 26 orang . ,2%). Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan K3. Pengetahuan Responden Frekuensi Persentase Baik 72,3% Sedang 18,4% Buruk 9,2% TOTAL Bedasarkan hasil jawaban dari sebanyak 76 responden didapatkan hasil terdapat 55 orang . ,3%) berpengetahuan baik, sedangkan 14 orang . ,4%) berpengetahuan sedang, dan 7 orang . ,3%) memiliki pengetahuan buruk. Tabel 3. Distribusi Responden Berdasarkan Penerapan K3. Penerapan Responden Frekuensi Persentase 1 Baik 76,6% Sedang Buruk 11,7% 11,7% TOTAL Berdasarkan distribusi jawaban responden terhadap penerapan standar K3 menunjukkan bahwa sebanyak 58 orang . ,6%) memiliki penerapan K3 dengan kategori baik, sedangkan 9 orang . ,7%) memiliki penerapan dengan kategori sedang, dan 9 orang memiliki penerapan dengan kategori buruk . ,7%). Tabel 4. Hasil Uji Reliabilitas. Kuesioner Koef. Reliabilitas Pengetahuan K3 (X) 0,743 Proteksi Diri (Y. Sterilisasi dan Disinfeksi (Y. Pengendalian Risiko K3 (Y. Posisi Kerja Ergonomis (Y. N Of Items 15 0,674 0,813 0,955 0,795 Berdasarkan hasil analisis pada tabel di atas, diperoleh hasil nilai koefisien reliabilitas pada masing-masing kuesioner lebih besar daripada koefisien alpha 0,600. Dengan demikian, kuesioner yang digunakan dalam penelitian sudah reliabel. Tabel 5. Hasil Uji Rank Spearman. SpearmanAos rho Y Correlation Coefficient Sig. -taile. Berdasarkan tabel di atas, diperoleh pertama, p-value untuk sebesar 0,000, lebih kecil daripada 0,05. Ini artinya terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan K3 dengan penerapan K3. Selain itu, correlation coefficient sebesar 0,438 dan positif, menunjukkan hubungan yang cukup dan searah. Dengan demikian apabila pengetahuan K3 baik maka akan berdampak pada penerapan K3 juga akan baik. DISKUSI Dari jawaban responden pada kuesioner yang disebarkan, terdapat total 7 orang responden yang memiliki pengetahuan K3 dengan kategori buruk. Rendahnya pengetahuan responden terhadap pengetahuan K3 dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya kurangnya edukasi maupun pendidikan tentang K3, kurangnya sumber informasi mengenai K3, serta kurangnya minat responden dengan K3 tersebut sehingga menyebabkan pengetahuan dari sejumlah responden dapat dikategorikan dalam kategori Sementara itu, dari jawaban responden terhadap kuesioner variabel penerapan standar K3, diantaranya proteksi diri atau dalam konteks ini yang dimaksud adalah pemakaian APD, sterilisasi dan disinfeksi, pengendalian risiko K3, serta posisi kerja yang ergonomis terdapat sebanyak 9 orang responden memiliki penerapan K3 yang termasuk dalam kategori buruk. Dari sejumlah responden yang memiliki penerapan K3 buruk tersebut merupakan responden yang memiliki pengetahuan yang buruk pula. Dari hasil jawaban responden terkait dengan pengetahuan dan penerapan K3, terdapat sebanyak 55 responden yang memiliki pengetahuan baik dan 58 yang memiliki penerapan dalam kategori baik. Hal ini menandakan bahwa sebanyak 3 orang responden memiliki penerapan K3 yang termasuk dalam kategori baik, namun cenderung memiliki pengetahuan yang kurang. Peneliti berasumsi bahwa pengetahuan yang baik seringkali tidak diikuti dengan penerapannya dilapangan, sebaliknya terkadang penerapan yang baik tak selalu diikuti dengan pengetahuan yang memadai pula. Faktor utama yang berperan penting dalam menunjang pengetahuan K3 adalah adanya pendidikan dan pelatihan yang secara berkelanjutan diberikan kepada mahasiswa kepaniteraan yang akan memasuki tahap klinik. Faktor lain yang juga berperan penting dalam pembentukan perilaku K3 yang baik yaitu tersedianya fasilitas yang mendukung yang telah sesuai dengan standar yang ada. 3 Berdasarkan hasil uji statistik data menggunakan Rank Spearman, didapatkan hasil bahwa adanya hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dengan penerapan K3 oleh mahasiswa kepaniteraan di RSGM Saraswati Denpasar. Ini artinya terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan K3 dengan penerapan K3. Hal ini dapat disebabkan oleh karena adanya keterkaitan satu sama lain antara pengetahuan dengan penerapan. Dapat dikatakan bila seseorang yang memiliki pengetahuan yang baik tentu akan memiliki penerapan yang baik pula. Pernyataan ini sejalan dengan correlation coefficient sebesar 0,438 dan positif, menunjukkan hubungan yang sedang dan searah. Dengan demikian apabila pengetahuan K3 baik maka variabel penerapan K3 juga akan meningkat. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan Sari 2016 yang menyatakan bahwa semakin tinggi pengetahuan seseorang maka akan sebaik pula perilaku seseorang dengan objek itu. 4 Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahayu 2015 yang manyatakan bahwa hasil penelitiannya memperoleh lebih dari 50% responden yang berpengetahuan baik serta menerapkan budaya K3 dengan baik jadi pengetahuan responden sangat mempengaruhi penerapan budaya K3. 5 Dapat diinterpretasikan bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan responden maka semakin baik pula penerapan budaya K3. Dan pengetahuan juga dapat dipengaruhi oleh pengalaman yang diperoleh dari pengalaman sendiri maupun orang lain. Pengalaman yang diperoleh dapat memperluas pengetahuan seseorang. Pengetahuan serta penerapan K3 pada mahasiswa kepaniteraan hendaknya harus terus ditingkatkan. Upaya yang dapat dilakukan agar pengetahuan K3 semakin meningkat adalah dengan memberikan pendidikan berupa sosialisasi maupun seminar tentang K3 serta pembinaan secara intensif kepada mahasiswa kepaniteraan dalam melaksanakan K3 saat menangani pasien. Dengan meningkatnya pengetahuan mahasiswa kepaniteraan mengenai K3 maka secara otomatis akan meningkatkan penerapan budaya K3 pada mahasiswa kepaniteraan di lingkungan RSGM Saraswati Denpasar. Hal tersebut akan sangat berpengaruh dalam mengurangi angka KAK maupun PAK pada mahasiswa kepaniteraan yang masih berstatus aktif dalam menangani pasien. Kesadaran akan pentingnya Keselamatan dan Kesehatan Kerja saat menangani pasien perlu ditanamkan pada mahasiswa kepaniteraan, karena merasa kurang nyaman atau terganggu yang mungkin ditimbulkan akibat menerapkan standar K3 menjadi salah satu alasan bagi mahasiswa kepaniteraan tidak melaksanakan standar K3 sebagaimana mestinya. Selain pembekalan ilmu pengetahuan dan pelatihan kepada mahasiswa kepaniteraan, kebijakan K3 Rumah Sakit komitmen manajemen dan kepemimpinan rumah sakit juga sangat dibutuhkan. Mahasiswa kepaniteraan yang memiliki pengetahuan yang memadai dan selalu patuh dalam menerapkan K3 akan memberikan dampak positif yakni berkurangnya jumlah tenaga medis yang dapat terpapar penyakit menular maupun tak Sebaliknya, mahasiswa yang berpengetahuan kurang dan tidak menerapkan standar K3 cenderung akan melakukan kesalahan saat menangani pasien serta cenderung lebih mudah terpapar penyakit karena tidak menerapkan K3 sesuai dengan standar dan peraturan yang ada. Pentingnya kebiasaan mahasiswa kepaniteraan dalam menerapkan K3 akan membawa dampak positif bagi mahasiswa itu sendiri maupun bagi pasien yang SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian di RSGM Saraswati Denpasar maka dapat ditarik simpulan bahwa terdapat hubungan tingkat pengetahuan dengan penerapan keselamatan dan kesehatan kerja pada mahasiswa kepaniteraan di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Saraswati Denpasar. Semakin baik pengetahuan maka semakin baik pula penerapan yang Sebagian besar responden memiliki pengetahuan K3 baik . ,3%) dan memiliki penerapan K3 dengan kategori baik . ,6%). DAFTAR PUSTAKA