Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 Original Article Factors Analysis Factors Related To The Stadium Of Chronic Kidney Failure Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Stadium Gagal Ginjal Kronik Ricki Gustiawan1. Achmad Farich2. Nova Muhani 3 Program Studi Magister Kesehatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati *Corresponding Author: Ricki Gustiawan Program Studi Magister Kesehatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universiitas Malahayati Email: riky23669@gmail. Keyword: Chronic Kidney Failure. Hemodialysis. History Kata Kunci: Gagal Ginjal Kronik. Hemodialisa. Riwayat A The Author. 2025 Abstract Chronic Kidney Failure (CKD) is a condition in which there is a decrease in kidney function due to chronic and irreversible damage to the kidney parenchyma. The prevalence of CKF in the world in 2017 was 9. 1% or around 70 million cases. Data from RSPBA as of December 31, 2023 was 2. 5% . Factors that play a role in the occurrence of CKF include a history of diabetes mellitus, hypertension, drug use, smoking, alcohol consumption, consumption of supplement drinks, and consumption of herbal medicine. The study aims to analyze factors related to the stage of CKF. The type of quantitative research with a cross-sectional approach. The population was 177 patients and a sample of 123 hemodialysis patients using a purposive sampling technique. The research period was March-July 2024. The data consisted of 2 collections, namely primary data obtained by questionnaires and interviews, then secondary data by observing medical records. Data analysis used for univariate analysis of frequency distribution, bivariate analysis using the chi square test. The results of the study showed that most of the 74% of patients with severe CKD had a history of diabetes mellitus . 2%), hypertension . 5%), use of drugs . 5%), smoking . 5%), alcohol consumption . 7%), consumption of supplement drinks . 2%), and consumption of herbal medicine . 8%). The results of the bivariate test showed that there was a relationship between a history of diabetes mellitus, hypertension, consumption of supplement drinks, and consumption of herbal medicine with CKD . <0. and there was no relationship between a history of drug use, smoking, alcohol consumption . >0. It is expected that the hospital will strive to communicate and provide ongoing encouragement to patients, providing information related to risk factors for kidney failure so that behavior in preventing complications of kidney failure Abstrak Article Info: Received : October 3, 2024 Revised : March 6, 2025 Accepted : March 12, 2025 Cendekia Medika: Jurnal STIKes AlMaAoarif Baturaja e-ISSN : 2620-5424 p-ISSN : 2503-1392 This is an Open Access article distributed under the terms of the Creative Commons AttributionNonCommercial 4. 0 International License. Gagal Ginjal Kronis (GGK) adalah keadaan dimana terdapat penurunan fungsi ginjal karena kerusakan parenkim ginjal yang bersifat kronik dan irreversible. Prevalensi GGK di dunia tahun 2017 sebesar 9,1% atau sekitar 70 juta kasus. Data dari RSPBA per tanggal 31 Desember 2023 sebesar 2. 5% . Faktor yang berperan terjadinya GGK seperti riwayat diabetes mellitus, hipertensi, penggunaan obat-obatan, merokok, konsumsi alkohol, konsumsi minuman suplemen, dan konsumsi jamu atau herbal. Penelitian bertujuan menganalisis faktor yang berhubungan dengan stadium GGK. Jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi berjumlah 177 pasien dan sampel 123 pasien hemodialisa dengan menggunakan teknik purposive sampling. Waktu penelitian Maret-Juli 2024. Data terdiri dari 2 pengumpulan yaitu data primer diperoleh dengan kuesioner dan wawancara kemudian data sekunder dengan mengobservasi rekam Analisa data yang digunakan untuk analisa univariat distribusi frekuensi, analisa bivariat menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar 74% penderita GGK berat, memiliki riwayat diabetes mellitus . ,2%), hipertensi . ,5%), penggunaan obat-obatan . ,5%), merokok . ,5%), konsumsi alkohol . ,7%), konsumsi minuman suplemen . ,2%), dan konsumsi jamu atau herbal . ,8%). Hasil uji bivariat menunjukkan ada hubungan riwayat diabetes mellitus, hipertensi, konsumsi minuman suplemen, dan konsumsi jamu atau herbal dengan GGK . <0,. dan tidak ada hubungan riwayat penggunaan obat-obatan, merokok, konsumsi alkohol . >0,. Diharapkan pihak rumah sakit berupaya untuk berkomunikasi dan memberikan dorongan yang bekelanjutan kepada pasien, pemberian informasi terkait faktor risiko gagal ginjal sehingga tumbuhnya prilaku dalam pencegahan komplikasi gagal ginjal https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 PENDAHULUAN Gagal Ginjal Kronis (GGK) merupakan suatu keadaan dimana terdapat penurunan fungsi ginjal karena adanya kerusakan parenkim ginjal yang bersifat kronik dan Seseorang menderita GGK jika terjadi kelainan dan kerusakan pada ginjal selama 3 bulan atau lebih yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal sebesar 78-85% atau laju filtrasi glomerulusnya (LFG) kurang dari 60 ml/min/1,73m2 dengan atau tanpa kelainan pada ginjal. Penurunan LFG akan terus berlanjut hingga pada akhirnya terjadi disfungsi organ pada saat laju filtrasi glomerulus menurun hingga kurang dari 15 ml/min/1,73 m2 yang dikenal sebagai End-Stage Renal Disease (ESRD) atau penyakit ginjal tahap akhir, sehingga membutuhkan penanganan lebih lanjut pencangkokan ginjal sebagai terapi pengganti ginjal . Prevalensi GGK di dunia pada tahun 2017 sebesar 9,1% atau sekitar 70 juta kasus. Sejak berdasarkan hasil analisis sistematis terkait beban global penyakit (Global Burden Diseas. terdapat peningkatan prevalensi GGK sebesar 29,3%. Kematian akibat GGK mengalami peningkatan sebesar 41,5% dan kematian penyakit kardiovaskular akibat gangguan fungsi ginjal sebesar 4,6%. Hal ini menjadikan GGK sebagai penyebab kematian ke-12 di dunia . World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa terdapat jumlah pasien dengan GGK telah meningkat selama setahun terakhir di kejadian GGK terjadi lebih dari 500 juta orang dan yang harus menjalani hidup dengan bergantung pada terapi hemodialisa sebanyak 1,5 juta GGK ini termasuk 12 penyebab kematian umum di dunia, terhitung 1,1 juta kematian akibat GGK yang telah meningkat sebanyak 31,7% sejak tahun 2010 hingga 2015 . Prevalensi GGK di Indonesia terus mengalami peningkatan sehingga menjadi Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. prevalensi penyakit GGK berlandaskan hasil diagnosis dokter pada penduduk usia Ou15 tahun di Indonesia. Peningkatan prevalensi penyakit GGK didapatkan sebesar 0,18%, dimana hasil Riskesdas 2013 menunjukkan prevalensi sebesar 0,2% dan pada tahun 2018 sebesar 0,38% atau terdapat sekitar 713. 783 orang. Hasil tersebut juga menunjukkan adanya peningkatan penyakit GGK seiring dengan meningkatnya usia. Prevalensi ini lebih besar terdapat pada laki-laki . ,42%) . ,35%) menunjukkan hasil yang sama besar pada perkotaan dan perdesaan, yakni masingmasing memiliki prevalensi 0,38% . Dinas Kesehatan (Dinke. Provinsi Lampung mengestimasi penderita GGK di Provinsi Lampung tahun 2023 mencapai 842 orang. Sedangkan berdasarkan laporan Surveilans Terpadu Penyakit (STP) Puskesmas Tahun 2021 didapatkan GGK 157 kasus. Terdiri dari lakilaki 4. 633 kasus, dan perempuan 5. Tahun 2022 terdapat sebanyak 587 kasus, terdiri dari laki-laki 4. kasus, dan perempuan 5. 141 kasus . Berdasarkan data dari Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung per tanggal 31 Desember 2023, prevalensi GGK di rumah sakit tersebut pada tahun 2023 adalah sebesar 2. 5% . Angka ini mengalami peningkatan dari tahun 2021 sebanyak 2. 0% . , tahun 2022 sebanyak 2. 3% . Angka ini diperoleh dari hasil pemeriksaan skrining GGK yang dilakukan oleh rumah Prevalensi GGK di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung ini lebih rendah dibandingkan dengan prevalensi GGK secara nasional yang mencapai 10,8% pada tahun 2022. Hal ini https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 menunjukkan bahwa upaya pencegahan dan pengendalian GGK di rumah sakit tersebut sudah berjalan dengan baik . Dari data tersebut dapat dilihat adanya kecenderungan terjadi peningkatan kasus GGK hal ini yang memubat peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai GGK di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung. Faktor risiko peningkatan progresivitas GGK terdiri dari dua kategori, yaitu yang dapat dimodifikasi termasuk faktor risiko biomedik dan tidak dapat dimodifikasi. Hipertensi, diabetes mellitus,proteinuria, obat-obatan, kadar asam urat, konsumsi jamu merupakan faktor risiko yang dapat dimodifikasi, sedangkan usia, jenis kelamin, ras, genetik, dan kehilangan massa ginjal menjadi faktor yang tidak dapat dimodifikasi . Salah satu faktor risiko GGK adalah diabetes melitus yang berkomplikasi menjadi nefropati diabetik. Nefropati diabetik atau penyakit ginjal diabetik, adalah suatu komplikasi penyakit diabetes melitus yang tidak terkendali dengan baik. Hampir 20-30 persen penderita diabetes melitus akan mengalami nefropati diabetic yang selanjutnya menjadi GGK . Hasil penelitian Putri Seli . diperoleh hasil ada hubungan diabetes mellitus dengan kejadian penyakit ginjal kronik . value=0. Sama halnya juga penelitian Gabriellyn . dimana Terdapat hubungan antara diabetes dengan kejadian GGK (OR=12,. Salah satu dampak jangka panjang dari tekanan darah tinggi adalah ketika pembuluh darah yang menyuplai ginjal terkena dampaknya dapat mengakibatkan kerusakan ginjal secara bertahap. Semakin lama menderita hipertensi maka semakin tinggi risiko untuk mengalami kejadian GGK (Beavers, 2. Hasil penelitian Putri Seli . diperoleh hasil ada hubungan hipertensi dengan kejadian penyakit GGK . -value=0. Sama penelitian Gabriellyn . dimana Terdapat hubungan antara hiperteni dengan kejadian GGK (OR= 21. Merokok merupakan faktor risiko terhadap penyakit GGK. Dalam satu batang rokok terserap rata-rata satu miligram nikotin. Selanjutnya nikotin mengalami proses metabolisme yang sebagian besar terjadi di hati dan di ginjal. Nikotin pada ginjal akan menyebabkan peningkatan kerja ginjal melebihi kapasitas normal sehingga apabila terjadi akumulasi nikotin dalam waktu yang lama dapat menyebabkan gangguan/kerusakan pada ginjal. Hasil penelitian yang dilakukan menyatakan bahwa secara klinik merokok mempunyai peluang atau risiko mengalami kejadian penyakit ginjal kronis 1,4 kali lebih besar dari pasien yang tidak memiliki riwayat merokok . Menurut Aisyah . bahwa semakin cepat seseorang memulai aktivitas merokok pada permulaan hari, mengalami penyakit ginjal kronis. Menurut penelitian Maula tahun 2017. , pada jangka pendek, konsumsi alkohol berlebihan dapat menyebabkan mabuk dan Pada jangka panjang, alkohol dapat merusak sebagian besar sistem dalam tubuh. Penggunaan alkohol kronis dan berat berdampak pada semua organ dan sistem tubuh termasuk ginjal. Hasil penelitian Humaira . pada pasien PGK didapatkan hasil ada hubungan yang signifikan antara konsumsi alkohol dengan kejadian penyakit ginjal kronis . value=0. Minuman berenergi dapat menyebabkan penyakit ginjal kronis, psikostimulan . afein dan amfetami. salah satu yang terbukti dapat mempengaruhi fungsi kerja ginjal . Hasil penelitian yang di lakukan minuman berenergi mempunyai peluang atau risiko mengalami penyakit ginjal https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 kronis 1 kali lebih besar dari pasien yang tidak mengkonsumsi minuman berenergi . Penggunaan obat-obatan dalam jangka waktu tertentu dapat memicu terjadinya penyakit ginjal, baik itu penyakit ginjal akut maupun penyakit ginjal kronik. Jika dalam kerusakan nefron maka akan terjadi penumpukan toksik atau racun di dalam Semakin banyak toksik didalam tubuh maka akan semakin meningkatkan kerja ginjal, maka akan meningkatkan pula risiko terjadinya gangguan ginjal kronik (Steven, 2. Hasil penelitian Putri Seli . diperoleh hasil ada hubungan penggunaan obat-obatan dengan kejadian penyakit ginjal kronik . -value=0. Konsumsi obat-obat tradisional atau jamu dengan dosis atau jumlah yang tidak sesuai dapat menyebabkan defek fungsi tubulus ginjal, hipertensi, penyakit GGK, nekrosis papiler ginjal, utolitiasis dan kanker urotelial . Penelitian terhadap kebiasaan mengkonsumsi obat herbal atau jamu menunjukan data bahwa 12 kali beresiko untuk mengalami kejadian GGK . Terapi GGK yang mahal menjadi beban bagi pasien, keluarga, dan negara. Upaya pencegahan, peningkatan cakupan BPJS Kesehatan, dan pengembangan terapi yang lebih murah dan efektif serta peningkatan akses terhadap terapi yang terjangkau sangat dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan ini. Kesadaran pasien akan pentingnya meningkatkan komplikasi gagal ginjal Tenaga kesehatan masyarakat juga dapat berperan dalam meningkatkan pengetahuan pasien ataupun masyarakat mengenai kesehatan ginjal, faktor-faktor yang mempengaruhi gagal ginjal, serta tindakan preventif terhadap gagal ginjal sehingga derajat kesehatan masyarakat dapat meningkat dan kejadian gagal ginjal pun rendah. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor - faktor yang berhubungan dengan stadium gagal ginjal kronik pada pasien di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, dengan desain penelitian cross Penelitian bertujuan faktor faktor yang berhubungan dengan stadium gagal ginjal kronik pada pasien di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung tahun 2024. Penelitian telah dilakukan bulan Maret-Juli 2024 di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung. Pengambilan Sampel menggunakan teknik sampling yaitu purposive sampling yang berjumlah 123 Kriteria inkulis yaitu pasien rumah sakit Pertamina Bintang Amin yang mengalami gagal ginjal kronik, pasien yang tercatat di poli urologi dan pasien yang sedang menjalani hemodialisa, mampu berkomunikasi dengan baik dan kriteria ekslusi ialah tidak bersedia menjadi responden, tidak memiliki data rekam medis yang lengkap. Analisis data dengan secara univariat . istribusii frekuens. , analisa bivariat . ji chi squar. dengan P Value < . HASIL PENELITIAN Analisa Univariat Tabel 1. Distribusi Frekuensi Dependen dan Independen Pada Responden di RS. Pertamina Bintang Amin, n= 123 No. Gagal Ginjal Kronik GGK Berat GGK Ringan https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 No. No. No. No. No. No. Riwayat DM Memiliki Riwayat Tidak Memiliki Riwayat Riwayat Hipertensi Memiliki Riwayat Tidak Memiliki Riwayat Riwayat Penggunaan Obat-Obatan Memiliki Riwayat Tidak Memiliki Riwayat Riwayat Merokok Memiliki Riwayat Tidak Memiliki Riwayat Riwayat Konsumsi Alkohol Memiliki Riwayat Tidak Memiliki Riwayat Riwayat Konsumsi Minuman Suplemen Memiliki Riwayat Tidak Memiliki Riwayat Riwayat Jamu/Herbal Memiliki Riwayat Tidak Memiliki Riwayat Berdasarkan tabel di atas didapatkan bahwa sebagian besar gagal ginjal kronik responden . %) gagal ginjal kronik berat, . ,2%) memiliki riwayat DM, . ,5%) memiliki riwayat hipertensi, . ,5%) memiliki riwayat penggunaan obat-obatan, . ,5%) memiliki riwayat merokok . ,7%) memiliki riwayat konsumsi alkohol, . ,2%) memiliki riwayat konsumsi minuman suplemen, . ,8%) memiliki riwayat konsumsi jamu atau herbal dari 123 Analisa Bivariat Tabel 2 Analisis faktor dengan stadium gagal ginjal kronik di RS. Pertamina Bintang Amin, n= 123 Variabel Gagal Ginjal Kronik GGK Berat GGK Ringan Riwayat DM . /%) Memiliki Riwayat 64/86,5 Tidak Memiliki Riwayat 27/55,1 Riwayat Hipertensi. /%) Memiliki Riwayat 72/86,7 Tidak Memiliki Riwayat 19/47,5 Riwayat Pengunaan Obat. /%) Memiliki Riwayat 68/77,3 Tidak Memiliki Riwayat 23/65,7 Riwayat Merokok. /%) Memiliki Riwayat 68/77,3 Tidak Memiliki Riwayat 23/65,7 Riwayat Konsumsi Alkohol. /%) Memiliki Riwayat 61/74,4 Tidak Memiliki Riwayat 30/73,2 Riwayat Konsumsi Suplemen . /%) Memiliki Riwayat 75/78,9 Pvalue 95 % CI 10/13,5 22/44,9 0,000 5,215 . ,18012,. 11/13,3 21/52,5 0,000 7,234 . ,97817,. 20/22,7 12/34,3 0,275 20/22,7 12/34,3 0,275 21/25,6 11/26,8 1,000 20/21,1 https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / 0,039 2,813 6,. ,148- Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 Tidak Memiliki Riwayat 16/57,1 Riwayat Konsumsi Jamu / Herbal . /%) Memiliki Riwayat 73/79,3 Tidak Memiliki Riwayat 18/58,1 Berdasarkan tabel di atas menunjukkan dari 74 responden yang memiliki riwayat DM didapatkan gagal ginjal kronik 64 . ,5%) berat dan 49 responden yang tidak memiliki riwayat DM didapatkan gagal ginjal kronik 27 . ,1%) berat. Nilai p value sebesar 0,000. Bila p value < . , artinya ada hubungan yang bermakna antara riwayat DM dengan gagal ginjal kronik di RS. Pertamina Bintang Amin dengan nilai OR . artinya responden yang mempunyai faktor memiliki riwayat DM mempunyai risiko untuk gagal ginjal kronik berat sebanyak 5,215 kali dibandingkan responden yang tidak memiliki riwayat DM. Dari 83 responden didapatkan gagal ginjal kronik 72 . ,7%) berat dan 40 responden yang tidak memiliki riwayat hipertensi didapatkan gagal ginjal kronik 21 . ,5%) ringan. Nilai p value sebesar 0,000. artinya ada hubungan yang bermakna antara riwayat hipertensi dengan gagal ginjal kronik di RS. Pertamina Bintang Amin dengan nilai OR . mempunyai faktor memiliki riwayat hipertensi mempunyai risiko untuk gagal ginjal kronik berat sebanyak 7,234 kali dibandingkan responden yang tidak memiliki riwayat hipertensi. Dari 88 pengunaan obat-obatan didapatkan gagal ginjal kronik 68 . ,3%) berat dan 35 responden yang tidak memiliki riwayat pengunaan obat-obatan didapatkan gagal ginjal kronik 23 . ,7%) berat. Nilai p value sebesar 0,275. Bila p value < . , artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara riwayat pengunaan obat-obatan dengan gagal ginjal kronik di RS. Pertamina 12/42,9 19/20,7 13/41,9 0,036 2,775 ,158- Bintang Amin. Dari 88 responden yang memiliki riwayat pengunaan merokok didapatkan gagal ginjal kronik 68 . ,3%) berat dan 35 responden yang tidak memiliki riwayat merokok didapatkan gagal ginjal kronik 23 . ,7%) berat. Nilai p value sebesar 0,275 artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara riwayat merokok dengan gagal ginjal kronik di RS. Pertamina Bintang Amin. Berdasarkan tabel di atas menunjukkan dari 82 responden yang memiliki riwayat konsumsi alkohol didapatkan gagal ginjal kronik 61 . ,4%) berat dan 41 responden yang tidak memiliki riwayat konsumsi alkohol didapatkan gagal ginjal kronik 30 . ,2%). Nilai p value sebesar 1,000 artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara riwayat konsumsi alkohol dengan gagal ginjal kronik di RS. Pertamina Bintang Amin. Dari 95 responden yang memiliki riwayat konsumsi minuman suplemen didapatkan gagal ginjal kronik 75 . ,9%) berat dan 28 responden yang tidak memiliki riwayat konsumsi minuman suplemen didapatkan gagal ginjal kronik 16 . ,1%) Nilai p value sebesar 0,039 artinya ada hubungan yang bermakna antara riwayat konsumsi minuman suplemen dengan gagal ginjal kronik di RS. Pertamina Bintang Amin dengan nilai OR . artinya responden yang mempunyai faktor memiliki riwayat konsumsi minuman 2,813 kali dibandingkan responden yang tidak memiliki riwayat konsumsi minuman Dari 92 responden yang memiliki riwayat konsumsi jamu/herbal didapatkan gagal ginjal kronik 73 . ,3%) berat dan 31 responden yang tidak memiliki riwayat konsumsi jamu/herbal https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 didapatkan gagal ginjal kronik 18 . ,1%) Nilai p value sebesar 0,036 artinya ada hubungan yang bermakna antara riwayat konsumsi jamu/herbal dengan gagal ginjal kronik di RS. Pertamina Bintang Amin dengan nilai OR . artinya responden yang mempunyai faktor memiliki riwayat konsumsi jamu/herbal mempunyai risiko untuk gagal ginjal kronik berat sebanyak 2,775 kali dibandingkan responden yang tidak memiliki riwayat konsumsi jamu/herbal. PEMBAHASAN GAGAL GINJAL KRONIK Berdasarkan penelitian didapatkan bahwa sebagian besar gagal ginjal kronik responden . %) gagal ginjal kronik berat, . %) gagal ginjal kronik ringan dari 123 Penyakit gagal ginjal teriminal atau penyakit renal tahap akhir End Stage Renal Disease (ESRD) merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan reversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan uremia . etensi urea dan sampah nitrogen lain dalam dara. Gagal ginjal kronik adalah penurunan faal ginjal yang menahun mengarah pada kerusakan jaringan ginjal yang tidak reversible dan progresif. Adapun gagal ginjal terminal (GGT) adalah fase terakhir dari GGK dengan faal ginjal sudah sangat buruk . Menurut Eknoyan et al. Laju Filtrasi Glomerulus < 15 disebut dengan gagal ginjal terminal atau ERSD peningkatan bun, anemia, hipokalsemia, hiponatremia, peningkatan asam urat, protein uria, pruritus, edema, hipertensi, peningkatan kreatinin, penurunan sensasi rasa, asidosis metabolik, mudah mengalami perdarahan, hiperkalemia . Banyak faktor yang menjadi penyebab munculnya penyakit ginjal kronik. Faktor penyebab penyakit ginjal kronik terdapat faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang dapat mempengaruhi antara lain riwayat penyakit hipertensi, riwayat penyakit diabetes mellitus, penyakit . , erythematosus dan glomerulonephritis. Faktor eksternal sebagai faktor risiko terjadinya penyakit ginjal kronik antara lain mengkonsumsi minuman bersoda . inuman dengan pemanis jagung fruktosa mengkonsumsi obat anti inlflamasi non steroid (NSAID), dan suplemen berenergi atau minuman berenergi . Pasien yang terdiagnosa penyakit ginjal kronik, ketika fungsi ginjal terus menurun pasien akan menjalani terapi hemodialisis, berdasarkan analisa artikel penelitian ketahanan atau lama hidup pasien berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Adhiatama dkk . pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisis setelah inisiasi pertama rata-rata ketahanan hidup secara umum selama 67,84 bulan atau A 5 tahun, dengan frekueni hemodialisis O 2 kali tiap minggu, pada rentang usia 46-65 tahun, frekuensi HD Ou3 kali dan ketahanan hidup pasien dengan riwayat hipertensi dan Diabetes Mellitus lebih rendah. Penelitian serupa yang dilakukan oleh . dalam jendela 2 tahun dari 2094 responden, 286 . ,7%) kematian dalam 2 tahun setelah inisiasi ESRD, 142 . ,7%) 1 tahun , dan 77 . ,7%) 6 bulan. Penelitian Adhitama dkk . menunjukkan sebagian besar responden menderita gagal ginjal kronik sebanyak 36 orang . ,1%) sedangkan yang menderita gagal ginjal terminal sebanyak 22 orang . ,9%) yaitu lebih banyak pasien hemodialisa yang gagal ginjal kronik. Menurut analisa peneliti, kejadian gagal ginjal pada pasien di Rumah Sakit https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 Pertamina Bintang Amin kurang baik didapatkan sebagian besar pasien . %) gagal ginjal kronik berat. Hal ini dikarenakan penelitian ini didominasi oleh responden yang memiliki riwayat penyakit seperti hipertensi atau DM yang merupakan riwayat penyakit penyumbang terbesar terjadinya gagal ginjal kronik ditambah pola hidup yang kurang sehat ditambah lagi pasien tidak mau melakukan pengobatan secara rutin jika gagal ginjalnya tidak memburuk pasien tidak kondisinya mulai memburuk dan sudah gawat rata-rata pasien langsung datang ke menyebabkan banyak pasien menjadi gagal ginjal berat saat sudah dilakukan RIWAYAT DM Berdasarkan penelitian menunjukkan dari 74 responden yang memiliki riwayat DM didapatkan gagal ginjal kronik 64 . ,5%) berat dan 10 . ,5%) ringan dan 49 responden yang tidak memiliki riwayat DM didapatkan gagal ginjal kronik 27 . ,1%) berat dan 22 . ,9%) ringan. Berdasarkan hasil uji statistik dengan chi-square didapatkan nilai p value sebesar 0,000. Bila p value < . , sehingga dapat diartikan bahwa ada hubungan yang bermakna antara riwayat DM dengan gagal ginjal kronik di RS. Pertamina Bintang Amin dengan nilai OR . artinya responden yang mempunyai faktor memiliki riwayat DM mempunyai risiko untuk gagal ginjal kronik berat sebanyak 5,215 kali dibandingkan responden. Salah satu akibat dari komplikasi dm adalah penyakit mikrovaskuler, diantaranya nefropati diabetika yang merupakan penyebab utama penyakit ginjal terminal. Berbagai teori tentang patogenesis nefropati seperti peningkatan produk glikosilasi dengan proses non-enzimatik AGEs (Advanced Glucosylation End Product. , peningkatan reaksi jalur poliol . olyol pathwa. , glukotoksisitas, dan protein kinase C memberikan kontribusi pada kerusakan Kelainan glomerulus disebabkan oleh denaturasi protein karena tingginya hipertensi intraglomerulus. Kelainan atau perubahan terjadi pada membran basalis glomerulus dengan proliferasi dari sel-sel Keadaan menyebabkan glomerulosklerosis dan berkurangnya aliran darah, sehingga terjadi perubahan-perubahan pada permeabilitas membran basalis glomerulus yang ditandai dengan timbulnya albuminuria . Menurut Dharma . , tingginya glukosa dapat menggangu struktur serta fungsi pembuluh darah. Penderita diabetes melitus memiliki kadar insulin yang rendah, sehingga mengakibatkan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang tidak normal maka pembuluh darah yang berada dalam organ ginjal akan mengecil dan Penyakit diabetes dengan komplikasi ginjal ini disebut nefropati diabetes. Nefropati diabetes merupakan gangguan fungsi ginjal akibat kebocoran selaput penyaring darah . Kadar gula darah yang tinggi secara perlahan akan merusak glomerulus. Ketika ginjal berfungsi dengan baik, maka nefron berfungsi menjaga kondisi protein di dalam tubuh. Kadar gula yang tinggi akan bereaksi dengan protein sehingga mengubah struktur dan fungsi sel, termasuk membran basal glomerulus. Akibatnya, penghalang protein menjadi rusak kemudian terjadi kebocoran protein ke urine. Salah satu fungsi ginjal yaitu mengeluarkan kotoran melalui urine serta menjaga kadar protein tubuh. Jika ginjal mengalami kerusakan, maka protein dikeluarkan melalui urine dan cairan limbah mengendap di dalam tubuh . Bukti penelitian terkemuka menemukan bahwa kontrol gula darah yang ketat https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 menurunkan risiko nefropati dan berbagai komplikasi lainnya, namun hubungan antara risiko nefropati dan hiperglikemia ditemukan tidak linier dengan ambang HbA1c Diabetes Control Complication Trial (DCCT) menyatakan bahwa kontrol gula darah yang ketat akan progresivitas nefropati diabetik menjadi gagal ginjal terminal. Hal ini sejalan dengan penelitian Sutopo . yang berjudul analisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian penyakit ginjal kronik didapatkan hasil ada hubungan antara riwayat penyakit Diabetes Mellitus dengan kejadian penyakit ginjal kronik (Chronic Kidney Diseas. =0,003. OR=10,333. CI=2,125-50,. Penelitian Dari 30 pasien . ,7%) yang mengalami diabetes melitus ada 24 pasien . ,7%) dengan gagal ginjal kronik dan 6 pasien . ,3%) yang mengalami gagal ginjal terminal. Dari 28 pasien . ,3%) yang tidak mengalami diabetes melitus ada 12 pasien . ,3%) dengan gagal ginjal kronik dan 16 pasien . ,7%) yang mengalami gagal ginjal terminal. Hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,004 . < 0,. hal ini menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara diabetes melitus dengan stadium gagal ginjal kronik. Hubungan nefropati obstruksi dengan kejadian gagal ginjal kronik. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian Putri Suci . hasil analisis univariat menunjukkan bahwa responden dengan kontrol gula darah tidak baik pada kelompok kasus adalah 7 orang ( 70%) sedangkan pada kelompok kontrol yaitu 27 orang ( 58,7 %). Sementara pada kelompok kasus terdapat 13 pasien yang tidak mengetahui riwayat kontrol gula darahnya. Pada analisis lebih lanjut tidak ditemukan hubungan antara kontrol gula darah dengan kejadian gagal ginjal p = 0,246. = 2,5 artinya pasien dengan kontrol gula darah tidak baik berisiko 2,5 kali terjadi gagal ginjal tahap akhir. Sesuai dengan hasil penelitian Zhou et al. 22 pada responden yang didiagnosa ESRD (End Stage Renal Dieas. dengan DM sebanyak 1267 . ,7%) dari 2094, sedangkan hipertensi hampir sepenuhnya ada di seluruh kelompok penelitian. Penelitian oleh (Rachmawati & Marfianti, 2. faktor risiko terjadinya penyakit ginjal kronik didapatkan hasil 81 pasien . %) menderita hipertensi, 34 pasien . ,6%) dengan DM, 17 pasien . ,3%) dengan penyakit tubulointerstitial, 6 pasien . ,8%) dengan penyakit ginjal polikistik, 4 pasien . ,5 %). Hasil yang serupa juga terdapat pada penelitian Indrayanti, dkk . hipertensi dan diabetes mellitus merupakan faktor risiko tertinggi pada hasil penelitiannya. Pada penelitian oleh (Aksoy & elimen, 2. Diabetes Mellitus, hipertensi dan penyakit ginjal polikistik merupakan faktor terbanyak dalam penentuan diagnosa ESRD . nd stage renal Menurut pendapat peneliti, 74 responden yang memiliki riwayat DM didapatkan gagal ginjal kronik 64 . ,5%) berat dan 10 . ,5%) ringan. Faktor utama penderita diabetes mengalami gagal ginjal adalah genetik dan kurang mengontrol kadar tekanan gula darah. Semakin sering mengontrol kadar gula darah kemungkinan terserang gagal ginjal akan berkurang. Sehingga keadaan ini dapat memperberat fungsi ginjal dalam penyaringan dan berakibat gagal ginjal. Namun ada yang tidak memiliki penyakit diabetes militus namun mendapat gagal ginjal kronik hal tersebut berkaitan dengan kebiasaan pola hidup, pola makan dan minum yang salah, dengan demikian responden tersebut mendapat gagal ginjal kronik tidak hanya dari penyakit diabetes millitus. RIWAYAT HIPERTENSI https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 Berdasarkan penelitian menunjukkan dari 83 responden yang memiliki riwayat hipertensi didapatkan gagal ginjal kronik 72 . ,7%) berat dan 11 . ,3%) ringan dan 40 responden yang tidak memiliki riwayat hipertensi didapatkan gagal ginjal kronik 19 . ,5%) berat dan 21 . ,5%) Berdasarkan hasil uji statistik dengan chi-square didapatkan nilai p value sebesar 0,000. Bila p value < . , sehingga dapat diartikan bahwa ada hubungan yang bermakna antara riwayat hipertensi dengan gagal ginjal kronik di RS. Pertamina Bintang Amin dengan nilai OR . mempunyai faktor memiliki riwayat hipertensi mempunyai risiko untuk gagal ginjal kronik berat sebanyak 7,234 kali dibandingkan responden yang tidak memiliki riwayat hipertensi. Hipertensi merupakan faktor risiko utama untuk terjadinya penyakit jantung, penyakit jantung kongestif, stroke, gangguan penglihatan dan penyakit ginjal. Secara klinik pasien dengan riwayat penyakit faktor risiko hipertensi mempunyai risiko mengalami penyakit ginjal kronik 3,2 kali lebih besar daripada pasien tanpa riwayat Peningkatan tekanan darah berhubungan dengan kejadian penyakit ginjal kronik. Hipertensi dapat memperberat kerusakan ginjal yaitu melalui peningkatan tekanan gangguan struktural dan gangguan fungsional pada glomerulus. Tekanan intravaskular yang tinggi dialirkan melalui arteri aferen ke dalam glomerulus, dimana arteri aferen mengalami konstriksi akibat Selain itu, hipertensi akan menyebabkan kerja jantung meningkat dan merusak pembuluh darah ginjal. Rusaknya pembuluh darah ginjal mengakibatkan gangguan filtrasi dan meningkatkan keparahan dari hipertensi. Perjalanan penyakit hipertensi sangat Penderita hipertensi mungkin bertahun-tahun. Masa menyelubungi perkembangan penyakit sampai terjadi kerusakan organ yang Hipertensi dapat menyebabkan terjadinya GGT melalui suatu proses yang mengakibatkan hilangnya sejumlah besar nefron fungsional yang progresif dan Penurunan jumlah nefron akan menyebabkan proses adaptif, yaitu meningkatnya aliran darah, penigkatan GFR (Glomerular Filtration Rat. dan peningkatan keluaran urin di dalam nefron yang masih bertahan. Proses ini melibatkan hipertrofi dan vasodilatasi nefron serta perubahan fungsional yang menurunkan tahanan vaskular dan reabsorbsi tubulus di dalam nefron yang masih bertahan. Dalam jangka waktu lama, lesi-lesi sklerotik yang terbentuk dari kerusakan nefron semakin banyak sehingga dapat menimbulkan obliterasi glomerulus, yang mengakibatkan penurunan fungsi ginjal lebih lanjut dan menimbulkan lingkaran setan yang berkembang secara lambat dan berakhir sebagai penyakit gagal ginjal terminal . Hal ini juga diperkuat dengan pernyataan Tessy . yang menyebutkan bahwa beratnya pengaruh hipertensi pada ginjal tergantung dari tingginya tekanan darah dan lamanya menderita hipertensi. Semakin tinggi tekanan darah dalam waktu yang lama maka semakin berat komplikasi yang ditimbulkan, terutama pada ginjal. Sesuai dengan hasil penelitian Zhou et al. pada responden yang didiagnosa ESRD (End Stage Renal Dieas. dengan DM sebanyak 1267 . ,7%) dari 2094, sedangkan hipertensi hampir sepenuhnya ada di seluruh kelompok penelitian. Penelitian oleh (Rachmawati & Marfianti, 2. faktor risiko terjadinya penyakit ginjal kronik didapatkan hasil 81 pasien . %) menderita hipertensi, 34 pasien . ,6%) dengan DM, 17 pasien . ,3%) dengan penyakit tubulointerstitial, 6 pasien . ,8%) dengan penyakit ginjal polikistik, 4 pasien . ,5 %). Hasil yang serupa juga terdapat pada penelitian Indrayanti, dkk https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 . hipertensi dan diabetes mellitus merupakan faktor risiko tertinggi pada hasil penelitiannya. Pada penelitian oleh Aksoy & elimen, . Diabetes Mellitus, hipertensi dan penyakit ginjal polikistik merupakan faktor terbanyak dalam penentuan diagnosa ESRD . nd stage renal diseas. Hal yang sama juga diungkapkan dalam berbagai penelitian, antara lain penelitian Adhitama Dari 43 pasien yang mengalami hipertensi ada 23 pasien . ,9%) dengan gagal ginjal kronik dan 20 pasien . ,9%) yang mengalami gagal ginjal terminal. Dari 15 pasien yang tidak mengalami hipertensi ada 13 pasien . ,1%) dengan gagal ginjal kronik dan 2 pasien . ,1%) yang mengalami gagal ginjal terminal. Hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,023 . < 0,. Hal ini menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara hipertensi dengan kejadian gagal ginjal kronik. Penelitian Unnikrishnan, et al, . dimana hasil uji regresi , p value < 0. 004 pada tekanan sistolik namun tidak ditemukan hubungan pada tekanan diastolik (OR = 1. 034, p = Penelitian prospektif mengenai risiko terjadinya gagal ginjal tahap akhir juga mengemukkan hubungan antara hipertensi dan kejadian gagal ginjal tahap akhir (Bhattacharya, 2. Sedikit berbeda dengan penelitian yang dilakukan Arsono. S . di Semarang menjelaskan faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian gagal ginjal tahap akhir adalah hipertensi diastolik (OR : 15,03 . CI 95% : 2,25-100,. Selain itu penelitian yang dilakukan Ravid, et al . juga mengemukakan hal yang sama bahwa peningkatan tekanan diastolik di atas ratarata 95 mmHg memiliki risiko terjadi gagal ginjal sebesar 9,81 kali lebih besar dari pada individu yang memiliki tekanan darah diastolik < 95mmHg. Menurut pendapat peneliti, hipertensi secara umum akan berpengaruh terhadap perfusi ke sistemik tubuh, hal ini yang mengakibatkan kerusakan pada organ- organ tubuh terutama ginjal. Hipertensi pada dasarnya merusak pembuluh darah, tingginya tekanan darah ini juga dapat membuat pembuluh darah dalam ginjal Hipertensi yang tidak terkontrol dapat merusak pembuluh darah dan nefron di dalam ginjal sehingganya terjadinya gagal ginjal. RIWAYAT PENGGUNAAN OBAT Berdasarkan penelitian menunjukkan dari 88 responden yang memiliki riwayat pengunaan obat-obatan didapatkan gagal ginjal kronik 68 . ,3%) berat dan 20 . ,7%) ringan dan 35 responden yang tidak memiliki riwayat pengunaan obatobatan didapatkan gagal ginjal kronik 23 . ,7%) berat dan 12 . ,3%) ringan. Berdasarkan hasil uji statistik dengan chisquare didapatkan nilai p value sebesar 0,275. Bila p value < . , sehingga dapat diartikan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara riwayat pengunaan obat-obatan dengan gagal ginjal kronik di RS. Pertamina Bintang Amin. Obat merupakan salah satu bahan tunggal atau campuran yang dipergunakan untuk bagian dalam dan luar tubuh guna untuk menyembuhkan namun memiliki efek samping yang dapat memicu munculnya penyakit yang baru. Beberapa jenis obat-obatan diketahui dapat mengakibatkan penurunan faal ginjal atau kerusakan ginjal dengan berbagai Obat-obatan Nefrotoksisitas berhubungan dengan kadar obat yang tinggi dalam plasma (Arsono, 2. Penggunaan obat-obatan dalam jangka waktu tertentu dapat memicu terjadinya penyakit ginjal, baik itu penyakit ginjal akut maupun penyakit ginjal kronik. Beberapa obat yang dapat memicu penyakit ginjal diantaranya aminoglikosida, cisplatin dan https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 amphotericin B, pinisilin. NSAID. Inhibitor ACE, dan lain-lain . antara riwayat merokok dengan gagal ginjal kronik di RS. Pertamina Bintang Amin. Menurut pendapat peneliti, sesuai dengan fungsi ginjal yaitu menyaring atau membersihkan darah. Bagian ginjal yang menjalankan fungsi tersebut adalah nefron. Penggunaan obat-obatan secara berlebihan dapat meningkatkan kejadian kerusakan ginjal atau nefropati. Nefropati merupakan kerusakan nefron akibat penggunaan obatobatan yang bersifat nefrotoksik. Jika dalam tubuh seseorang telah mengalami kerusakan nefron maka akan terjadi penumpukan toksik atau racun di dalam Semakin banyak toksik didalam tubuh maka akan semakin meningkatkan kerja ginjal, maka akan meningkatkan pula risiko terjadinya gangguan ginjal kronik. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Kalengkongan . berdasarkan hasil uji Chi-Square diperoleh nilai p value 0,812 lebih besar dari p<0,05 . ,812 p> 0,. , maka H1 ditolak atau tidak ada hubungan antara perokok dan kejadian CKD. Nilai (OR=1,868. 95% CI=0,2722,. , menunjukkan bahwa perokok berisiko terhadap kejadian CKD . Penelitian Logani . menunjukkan bahwa 76% pasien gagal ginjal kronik di RS RSUP. Prof. Dr. Kandou Manado . Penelitian lain oleh Purwati hubungan signifikan konsumsi obat analgesik dengan kejadian gagal ginjal kronik p value 0,001 ( p value <0,. Penelitian tersebut juga sejalan dengan hasil penelitian Lillia . bahwa NSAID hubungan signifikan dengan gagal ginjal Orang yang sering menggunakan obat analgesik beresiko 3,5 kali mengalami gagal ginjal kronik. RIWAYAT MEROKOK Berdasarkan penelitian menunjukkan dari 88 responden yang memiliki riwayat pengunaan merokok didapatkan gagal ginjal kronik 68 . ,3%) berat dan 20 . ,7%) ringan dan 35 responden yang didapatkan gagal ginjal kronik 23 . ,7%) berat dan 12 . ,3%) ringan. Berdasarkan hasil uji statistik dengan chi-square didapatkan nilai p value sebesar 0,275. Bila p value < . , sehingga dapat diartikan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna Kerusakan ginjal akibat rokok terjadi hemodinamik dan non-hemodinamik. Pada mekanisme hemodinamik, nikotin rokok akan merangsang saraf simpatis aferen ginjal dan pelepasan vasopresin sehingga meningkatkan kerja jantung dan tekanan Adanya peningkatan tekanan darah akan mempengaruhi jumlah pelepasan angiotensin II. Angiotensin II dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal dengan mekanisme pressure-induced renal injury dan ischemia-induced renal injury. Mekanisme non-hemodinamik antara lain peningkatan clotting trombosit, gangguan glikosaminoglikan, kerusakan endotel dan tubulus akibat efek toksik, modulasi mekanisme imun, antidiuresis dimediasi vasopressin, proliferasi dan akumulasi matriks sel otot polos vaskular, sel endotel, dan sel mesangial, serta resistensi insulin Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Purwati . mengenai analisa faktor risiko penyebab gagal ginjal kronik di unit hemodialisa RS Dr. Moerwadi menunjukan data bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara riwayat merokok dengan kejadian gagal ginjal kronik. Wahyuni dalam penelitiannya menunjukan data uji Chi-square diperoleh nilai p value = 0,017 yang berarti terdapat hubungan antara merokok dengan gagal ginjal kronik. https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 Menurut pendapat peneliti, jumlah rokok dan lamanya merokok mempengaruhi besarnya risiko kejadian gagal ginjal kronik yang akan diderita seseorang, semakin banyak jumlah rokok yang dikonsumsi dan semakin lama merokok akan memperbesar risiko empat sampai sepuluh kali beresiko menderita gagal ginjal kronik. RIWAYAT KONSUMSI ALKOHOL Berdasarkan penelitian menunjukkan dari 82 responden yang memiliki riwayat konsumsi alkohol didapatkan gagal ginjal kronik 61 . ,4%) berat dan 21 . ,6%) ringan dan 41 responden yang tidak memiliki riwayat konsumsi alkohol didapatkan gagal ginjal kronik 30 . ,2%) berat dan 11 . ,8%) ringan. Berdasarkan hasil uji statistik dengan chi-square didapatkan nilai p value sebesar 1,000. Bila p value < . , sehingga dapat diartikan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara riwayat konsumsi alkohol dengan gagal ginjal kronik di RS. Pertamina Bintang Amin. Kebiasaan mengonsumsi alkohol . merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya kejadian gagal ginjal kronik karena memiliki sifat toksik terhadap tubuh baik secara langsung maupun tidak Mengonsumsi etanol sangat berbahaya karena reaksi kimia senyawa ini membentuk nefrotoksik kuat hingga menyebabkan gangguan fungsi dan kematian sel . pada sel tubulus . Hal ini sejalan dengan penelitian Kalekongan . responden dengan kebiasaan mengkonsumsi akohol, dari hasil uji analisis Bivariat nilai p value= 0,991 lebih besar darp 0,05 . ,991 >p,0,. , artinya tidak ada hubungan responden dengan kebiasaan mengkonsumsi alkohol dengan kejadian CKD. nilai (OR=0,993. CI=0,312-3,. artinya orang dengan kebiasaan mengkonsumsi alkohol berisiko terjadinya CKD. Menurut pendapat peneliti, semakin sering beralkohol, semakin orang tersebut berisiko mengalami gagal ginjal kronik. Hal menyebabkan efek toksik terhadap tubuh konsumsi alkohol belebihan adalah meningkatnya risiko penyakit ginjal dan fungsi hati dan hal tersebut membuat beban kerja ginjal lebih berat sehingga terjadinya gagal ginjal kronik. RIWAYAT SUPLEMEN KONSUMSI MINUMAN Berdasarkan penelitian menunjukkan dari 95 responden yang memiliki riwayat konsumsi minuman suplemen didapatkan gagal ginjal kronik 75 . ,9%) berat dan 20 . ,1%) ringan dan 28 responden yang tidak memiliki riwayat konsumsi minuman suplemen didapatkan gagal ginjal kronik 16 . ,1%) berat dan 12 . ,9%) ringan. Berdasarkan hasil uji statistik dengan chisquare didapatkan nilai p value sebesar 0,039. Bila p value < . , sehingga dapat diartikan bahwa ada hubungan yang bermakna antara riwayat konsumsi minuman suplemen dengan gagal ginjal kronik di RS. Pertamina Bintang Amin dengan nilai OR . artinya responden yang mempunyai faktor memiliki riwayat 2,813 dibandingkan responden yang tidak memiliki riwayat konsumsi minuman Suplemen kesehatan merupakan produk kesehatan yang mengndung zat yang bersifat nutrisi . itamin, mineral, dan asam amin. atau obat. Menurut Dharma . , minuman suplemen berkaitan dengan kebiasaan pola makan dan minum yang Masyarakat cenderung malas untuk mengkonsumsi makanan bergizi kemudian beralih ke suplemen sebagai penganti asupan vitamin. Suplemen merupakan vitamin sintetis hasil dari produk kimia yang tidak bebas dari zat karsinogenik. https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 Konsumsi minuman suplemen secara berlebihan dapat memperberat kerja ginjal. Minuman bersuplemen mengandung zat yang membahayakan bagi kesehatan, salah satunya adalah taurine. Taurine merupakan memberikan efek seperti glisin dalam menetralkan semua jenis toksin. Banyak konsumsi taurine pada suplemen dalam jumlah dan melebihi ambang batas yaitu sebanyak 50-100 mg ini membuat kerja ginjal semakin berat . Hal ini sejalan dengan penelitian Isroin . yang mendapatkan Hubungan antara aktifitas berat dengan frekwensi minum jamu signifikan nilai p=0,035. Menurut pendapat peneliti, semakin sering konsumsi minuman suplemen maka semakin tinggi stadium gagal ginjal kronik. Hal ini disebabkan karena suplemen mengandung beberapa zat kimia yang berbahaya seperti bahan pengawet, pewarna makanan, perasa dan pemanis Jika dikonsumsi maka glomerulus mereka akan mengalami kematian sel sehingga semakin sering konsumsi suplemen dapat menyebabkan kerusakan mempengaruhi stadium gagal ginjal semakin tinggi. RIWAYAT HERBAL KONSUMSI JAMU ATAU Berdasarkan penelitian menunjukkan dari 92 responden yang memiliki riwayat konsumsi jamu/herbal didapatkan gagal ginjal kronik 73 . ,3%) berat dan 19 . ,7%) ringan dan 31 responden yang jamu/herbal didapatkan gagal ginjal kronik 18 . ,1%) berat dan 13 . ,9%) ringan. Berdasarkan hasil uji statistik dengan chisquare didapatkan nilai p value sebesar 0,036. Bila p value < . , sehingga dapat diartikan bahwa ada hubungan yang bermakna antara riwayat konsumsi jamu/herbal dengan gagal ginjal kronik di RS. Pertamina Bintang Amin dengan nilai OR . artinya responden yang mempunyai faktor memiliki riwayat konsumsi jamu/herbal mempunyai risiko untuk gagal ginjal kronik berat sebanyak 2,775 kali dibandingkan responden yang jamu/herbal. Konsumsi obat-obatan herbal atau jamu sudah menjadi salah metode pengobatan yang sering digunakan Indonesia baik untuk terapi penyakit atau Jamu merupakan ramuan yang dibuat dari tanaman yang dikonsumsi dengan cara dibuat minuman. Ginjal menjadi tempat ekskresi untuk sebagian besar obat-obatan. Konsumsi obat-obat tradisional atau jamu dengan dosis atau jumlah yang tidak sesuai dapat menyebabkan defek fungsi tubulus ginjal, hipertensi, penyakit gagal ginjal kronk, nekrosis papiler ginjal, utolitiasis dan kanker urotelial. Konsumsi obatobatan herbal atau jamu sudah menjadi salah metode pengobatan yang sering digunakan masyarakat Indonesia baik untuk terapi penyakit atau menjaga kebugaran tubuh. Jamu merupakan ramuan yang dibuat dari tanaman yang dikonsumsi dengan cara dibuat minuman. Ginjal menjadi tempat ekskresi untuk sebagian besar obat-obatan. Konsumsi obat-obat tradisional atau jamu dengan dosis atau menyebabkan defek fungsi tubulus ginjal, hipertensi, penyakit gagal ginjal kronk, nekrosis papiler ginjal, utolitiasis dan kanker urotelial . Menurut pendapat peneliti, konsumsi obatobat tradisional atau jamu dengan dosis atau jumlah yang tidak sesuai dapat menyebabkan defek fungsi tubulus ginjal sehingganya hal tersebut dalam membuat beban kerja ginjal menjadi lebih sulit dan dapat meningkatkan gagal ginjal kronik ketahap yang lebih berat. https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 Peran kesehatan masyarakat berkomitmen untuk terus berperan aktif dalam mendukung kesehatan masyarakat dan melibatkan kader sebagai ujung tombak deteksi dini penyakit. Upaya ini semakin penting mengingat dampak komplikasi gagal ginjal dapat terjadinya menganggu produktivitas masyarakat dan menurunkan ketahanan hidup. hidup seperti makan yang dikonsumsi, olahraga dan menjalankan kepatuhan diet dengan baik dan kontrol rutin ke fasilitas pelayanan kesehatan. Sebagian besar 74% penderita GGK berat, memiliki riwayat diabetes mellitus . ,2%), hipertensi . ,5%), penggunaan obatobatan . ,5%), merokok . ,5%), konsumsi alkohol . ,7%), konsumsi minuman suplemen . ,2%), dan konsumsi jamu atau herbal . ,8%). Hasil menunjukkan ada hubungan riwayat diabetes mellitus, hipertensi, konsumsi minuman suplemen, dan konsumsi jamu atau herbal dengan GGK . <0,. dan tidak ada hubungan riwayat penggunaan obatobatan, merokok, konsumsi alkohol . >0,. KESIMPULAN SARAN Diharapkan berupaya untuk berkomunikasi bekelanjutan kepada pasien, dorongan tersebut berupa pemberian informasi terkait faktor risiko gagal ginjal maka dorongan akan menciptakan sebuah sikap positif sehingga tumbuhnya prilaku dalam pencegahan komplikasi gagal ginjal. Peran kesehatan masyarakat berkomitmen untuk terus berperan aktif dalam mendukung kesehatan masyarakat dan melibatkan kader sebagai ujung tombak deteksi dini Upaya ini semakin penting mengingat dampak komplikasi Hipertensi dan DM dapat terjadinya gagal ginjal kronik berat dan menganggu produktivitas Bagi penderita penyakit faktor yang mempengaruhi gagal ginjal seperti dengan riwayat hipertensi dan diabietes millitus hendaknya memperhatikan pola DAFTAR PUSTAKA