Kritik terhadap Penguasa: Kajian Tematik Hadis dalam Bingkai Demokrasi dan Keadilan Sosial Sudirman M1. Abdul Rahman Sakka2. St. Aisyah Kara3 Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar1, 2, 3 Email: sudirmansanrego78@gmail. P-ISSN : 2745-7796 E-ISSN : 2809-7459 Abstrak. Kritik terhadap penguasa merupakan bagian penting dalam tradisi Islam yang berakar pada prinsip amar maAoruf nahi munkar. Hadis-hadis Nabi SAW secara eksplisit menekankan kewajiban umat untuk menegur penguasa yang zalim, bahkan menyebutnya sebagai bentuk jihad terbaik. Artikel ini membahas kritik terhadap penguasa melalui metode kajian tematik hadis . , dengan menghimpun dan menganalisis hadis-hadis yang relevan, serta mengaitkannya dengan konsep demokrasi dan keadilan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Islam tidak melarang rakyat untuk mengkritik penguasa, tetapi justru mendorongnya sebagai wujud tanggung jawab moral. Kritik dipandang sebagai instrumen menjaga keadilan, mencegah penyalahgunaan kekuasaan, serta memastikan terwujudnya kemaslahatan umat. Namun demikian, hadis-hadis Nabi juga menekankan pentingnya etika dalam menyampaikan kritik, yaitu dilakukan dengan hikmah, menghindari fitnah, serta menjaga stabilitas sosial. Dalam bingkai modern, nilai-nilai hadis tentang kritik terhadap penguasa sangat relevan dengan prinsip demokrasi yang menekankan partisipasi rakyat dan mekanisme kontrol kekuasaan, serta dengan gagasan keadilan sosial yang menjadi tujuan utama syariat Islam. Dengan demikian, kritik terhadap penguasa dalam Islam dapat dipahami sebagai bagian dari jihad moral yang selaras dengan prinsip demokrasi partisipatoris dan cita-cita keadilan sosial. Kata Kunci: Kritik. Penguasa. Hadis Tematik. Demokrasi. Keadilan Sosial. http://jurnal. id/index. php/aujpsi DOI : https://doi. org/10. PENDAHULUAN Kekuasaan dalam perspektif Islam dipandang sebagai amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Al-QurAoan menegaskan bahwa keadilan merupakan tujuan utama dari kekuasaan: AuSesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan . enyuruh kam. apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Ay (QS. al-NisAAo: . Amanah kekuasaan bukan sekadar kedudukan duniawi, melainkan tanggung jawab moral dan spiritual yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Namun, sejarah menunjukkan bahwa kekuasaan kerap disalahgunakan. Banyak penguasa dalam sejarah Islam maupun dunia modern yang menjalankan kekuasaannya secara zalim, otoriter, dan tidak berpihak pada rakyat. Fenomena inilah yang menuntut hadirnya mekanisme kontrol terhadap Dalam Islam, mekanisme tersebut diwujudkan melalui amar maAoruf nahi munkar mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran yang tidak hanya Al-MAward. Al-AukAm al-SulAniyyah, (Beirut: Dar al-Kutub al-AoIlmiyyah, 1. , h. Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam. Vol. No. 2, pp. 250-257, 2025 | 250 Kritik terhadap Penguasa: Kajian Tematik Hadis dalam Bingkai Demokrasi dan Keadilan Sosial Sudirman M. Abdul Rahman Sakka. St. Aisyah Kara berlaku pada level individu, tetapi juga pada ranah sosial-politik. Hadis Nabi SAW memberikan dasar yang kuat mengenai kewajiban rakyat untuk mengingatkan penguasa. Rasulullah bersabda: AuSebaik-baik jihad adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang Ay (HR. Abu Dawud, al-Tirmidz. Hadis ini menunjukkan bahwa kritik terhadap penguasa merupakan jihad moral yang bernilai tinggi. Dengan kata lain. Islam memandang kritik bukan sekadar hak, tetapi juga kewajiban untuk menjaga keadilan dan kemaslahatan umat. Dalam konteks Indonesia dan negaranegara demokratis lainnya, kritik terhadap penguasa memiliki makna yang sangat Demokrasi menekankan pentingnya partisipasi rakyat dalam mengawasi jalannya penyalahgunaan kekuasaan. Prinsip ini sejalan dengan ajaran Islam tentang syura . dan amar maAoruf nahi munkar. Dengan demikian, ada titik temu yang jelas antara nilai Islam dan prinsip demokrasi, yaitu pentingnya kontrol terhadap kekuasaan untuk menjaga keadilan sosial. SulAniyya. dan Ibn Taimiyyah . l-SiyAsah al-SyarAoiyya. , serta pemikiran kontemporer seperti Yusuf al-Qaradawi. Khaled Abou El Fadl, dan Robert A. Dahl. Analisis dilakukan dengan metode deskriptif-analitis. Hadis-hadis terkumpul diklasifikasikan ke dalam tematema pokok: . kewajiban amar maAoruf nahi munkar terhadap penguasa, . keutamaan jihad menghadapi penguasa zalim, dan . etika dalam mengkritik penguasa. Setiap hadis dianalisis dari segi sanad dan matan untuk menilai validitasnya, kemudian ditafsirkan dalam konteks sosial-politik modern dengan menggunakan pendekatan maqAid al-sharAoah, khususnya prinsip keadilan (Aoad. dan kemaslahatan . Untuk menjaga objektivitas, penelitian ini menggunakan triangulasi sumber, yaitu membandingkan riwayat hadis dari berbagai kitab, pandangan ulama klasik, dan interpretasi pemikir kontemporer. Dengan cara ini, diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif tentang posisi kritik terhadap penguasa dalam Islam dan relevansinya dengan demokrasi serta keadilan sosial masa METODE Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berbasis kajian kepustakaan . ibrary researc. dengan pendekatan tematik hadis . Data primer diperoleh dari kitab-kitab hadis standar seperti auu al-BukhAr, auu Muslim. Sunan Abu Dawud. JAmiAo al-Tirmidzi, dan Musnad Ahmad. Hadis-hadis penguasa, amar maAoruf nahi munkar, serta jihad melawan penguasa zalim dihimpun secara tematik. Data sekunder berasal dari literatur tafsir, syarah hadis, karya ulama klasik seperti al-MAward . l-AukAm al- HASIL DAN PEMBAHASAN Hadis-hadis tentang Kritik terhadap Penguasa Hadis Jihad dengan Mengkritik Penguasa Zalim Teks Hadis: Aa Ee A sAs a a A As a Eea A Aa Ee A Aa A Aa a Ee a a a a e aa a c A Artinya:AuSebaik-baik menyampaikan kalimat kebenaran di hadapan penguasa yang zalim. Ay Yusuf al-Qaradawi, al-auwah al-IslAmiyyah baina al-Juhd wa al-Tatarruf, (Kairo: Dar al-Syuruq, 1. Abu Dawud. Sunan Abu Dawud, no. alTirmidzi. JAmiAo al-Tirmidzi, no. Takhrij: Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan . , al-Tirmidzi dalam JAmiAo . , dan Ibn Majah dalam Sunan . Alur Sanad . iwayat Abu Dawu. Abu Dawud meriwayatkan dari AoAmr bin AoAsim al-KilAb Ie dari HammAd bin Abu Dawud. Sunan Abu Dawud, no. alTirmidzi. JAmiAo al-Tirmidzi, no. Ibn Majah. Sunan Ibn Majah, no. Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam. Vol. No. 2, pp. 250-257, 2025 | 251 Kritik terhadap Penguasa: Kajian Tematik Hadis dalam Bingkai Demokrasi dan Keadilan Sosial Sudirman M. Abdul Rahman Sakka. St. Aisyah Kara Salamah Ie dari QatAdah Ie dari Abu alpaling aman untuk menjaga maslahat AoAliyah Ie dari Abu SaAoid al-Khudr . ahabat Nab. Eo Al-Nawawi menambahkan bahwa Kredibilitas Perawi: hadis ini menunjukkan keutamaan besar bagi ulama atau tokoh Eo AoAmr bin AoAsim al-KilAb: tsiqah, menurut al-AoIjli dan al-Dzahabi. menyampaikan kritik secara langsung Eo HammAd bin Salamah: tsiqah, hafizh, hanya ada sedikit catatan kepada penguasa, meskipun dengan karena kadang meriwayatkan dari risiko kehilangan nyawa. hafalan di akhir hidupnya. Eo Yusuf al-Qaradawi dalam Fiqh alDaulah menyebut hadis ini sebagai Eo QatAdah bin DiAoAmah al-Sads: tsiqah, hafizh, tetapi dikenal dasar legitimasi bagi aktivisme politik sebagai mudallis. Islam. Menurutnya, kritik terhadap Eo Abu al-AoAliyah (RafiAo bin Mihra. tsiqah, faqih. intelektual yang wajib dilakukan oleh umat demi mencegah kerusakan Eo Abu SaAoid al-Khudr: sahabat Nabi, sangat masyhur. Status Hadis: Sanad hadis ini hasan Hadis ini dapat diterapkan dalam menurut al-Tirmidzi, sedangkan al-Albani konteks modern melalui: menilainya sahih karena perawinya tsiqah sosial-politik: rakyat. Eo Aktivisme meskipun QatAdah dikenal mudallis, tetapi ulama, akademisi, dan jurnalis dalam riwayat ini ia meriwayatkan dengan lafaz Aoan yang masih diperdebatkan. kebijakan pemerintah yang zalim. Hadis ini mendapat perhatian luas dari misalnya terkait korupsi, pelanggaran para ulama klasik dan kontemporer. HAM, atau eksploitasi sumber daya Eo Al-Mubarakfuri dalam Tuhfat alalam. Auwadz menjelaskan bahwa hadis ini Eo Media massa dan media sosial: menegaskan jihad dengan lisan lebih menjadi sarana penyampaian Aukalimat utama daripada jihad dengan pedang kebenaranAy secara luas. Namun, bila dilakukan untuk menegakkan penyampaian kritik harus berbasis kebenaran di hadapan penguasa yang data dan bertanggung jawab, agar tidak berubah menjadi fitnah atau Eo Ibn Hajar al-AoAsqalani dalam Fatu alujaran kebencian. BAr menegaskan bahwa makna jihad Hadis dalam hadis ini adalah melawan menyampaikan kebenaran bukan sekadar kezaliman penguasa dengan cara yang pilihan, melainkan jihad yang paling utama. Dalam sistem demokrasi, kritik publik adalah mekanisme konstitusional untuk melawan Al-Dzahabi. MzAn al-IAotidAl. Juz 3 (Beirut: Dar altirani. Tantangan modern terletak pada Kutub al-AoIlmiyyah, 1. , h. Ibn Hajar al-AoAsqalani. Tahdzb al-Tahdzb. Juz 3 (Beirut: Dar al-Fikr, 1. , h. Al-AoIjli. TArkh al-ThiqAt, (Beirut: Dar al-Kutub alAoIlmiyyah, 1. , h. Ibn SaAod, al-abaqAt al-KubrA. Juz 7 (Beirut: Dar Sader, 1. , h. Al-Albani, auu Sunan al-Tirmidzi, (Riyadh: Maktabah al-MaAoarif, 2. , h. Al-Mubarakfuri. Tuhfat al-Auwadz bi Sharu JAmiAo al-Tirmidhi. Juz 6 (Beirut: Dar al-Kutub alAoIlmiyyah, 1. , h. Yusuf al-Qaradawi. Fiqh al-Daulah fi al-IslAm, (Kairo: Dar al-Syuruq, 1. , h. Al-Nawawi. Syaru auu Muslim. Juz 2 (Beirut: Dar Ihya al-Turats, 1. , h. Ibn Taymiyyah, al-SiyAsah al-SyarAoiyyah fi IlAu alRAAo wa al-RaAoiyyah, (Kairo: Maktabah al-Sunnah, 1. , h. Al-Mubarakfuri. Tuhfat al-Auwadz bi Sharu JAmiAo al-Tirmidhi. Juz 6 (Beirut: Dar al-Kutub alAoIlmiyyah, 1. , h. Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam. Vol. No. 2, pp. 250-257, 2025 | 252 Kritik terhadap Penguasa: Kajian Tematik Hadis dalam Bingkai Demokrasi dan Keadilan Sosial Sudirman M. Abdul Rahman Sakka. St. Aisyah Kara menjaga keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan stabilitas sosial. Hadis ini dipandang sebagai landasan umum dalam mekanisme kontrol sosial dalam Islam. Hadis Amar MaAoruf Nahi Munkar Eo Al-Nawawi dalam Syaru auu Teks Hadis: Muslim menyatakan bahwa hadis AEA a Ee aaO a Eea Ee a Eea s eeac Esa aa a A ini mencakup semua bentuk Artinya: AuBarang siapa di antara kemungkaran, termasuk kezaliman Tingkatan amar maAoruf kemungkaran, hendaklah ia kemampuan individu, sehingga Ay kritik lisan terhadap penguasa Takhrij: Diriwayatkan oleh Muslim menjadi salah satu implementasi dalam auu-nya . Kitab alpaling nyata. mAn. Taymiyyah Eo Ibn Alur Sanad . iwayat Musli. bahwa amar maAoruf nahi munkar Muslim meriwayatkan dari Yahya bin adalah kewajiban kolektif umat. Yahya Ie dari WakAo bin Jarrah Ie dari al-AAomash (SulaimAn bin MihrA. Eo AuAgama dan kekuasaan adalah Ie dari Abu WAAoil (Shaqq bin dua saudara kembar. Agama tanpa Salama. Ie dari Abdullah bin kekuasaan akan lemah, dan MasAod . ahabat Nab. kekuasaan tanpa agama akan Eo Kredibilitas Perawi: Eo Yahya bin Yahya al-Tamm: Quraish Shihab dalam Wawasan altsiqah, faqih, perawi utama QurAoan menyebut hadis ini paralel dengan Muslim. QS. Ali AoImrAn ayat 104 tentang pentingnya Eo WakAo bin Jarrah: tsiqah, hafizh, kelompok yang menyeru kepada kebaikan. termasuk guru Imam Ahmad. Dalam konteks modern, ia menegaskan Eo Al-AAomash: tsiqah, namun dikenal bahwa kritik sosial adalah wujud nyata amar sebagai mudallis. maAoruf nahi munkar. Eo Abu WAAoil: tsiqah, termasuk tabiin Hadis ini mengajarkan hierarki aksi: indakan nyat. , lisan . Eo Ibn MasAod: sahabat Nabi, faqih, advokasi, medi. , dan hati . enolak secara Dalam konteks modern, ketiganya Status Hadis: Hadis ini mutawatir bisa Tindakan maknawi, diriwayatkan oleh banyak jalur dilakukan melalui lembaga hukum, kritik selain Ibn MasAod, antara lain Abu SaAoid al- dengan lisan dilakukan melalui media. Khudr dan Hudhaifah bin al-Yaman. Karena sementara sikap hati menjadi basis moral diriwayatkan Muslim dalam auu, statusnya perlawanan terhadap kezaliman. Hadis Etika Menasihati Penguasa Teks Hadis: Muslim ibn al-ajjAj, auu Muslim, no. Kitab al-mAn. Ibn Hajar. Tahdzb al-Tahdzb. Juz 11, h. Al-Dzahabi. Siyar AAolam al-NubalAAo. Juz 9 (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1. , h. Al-Mizzi. Tahdzb al-KamAl. Juz 12 (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1. , h. Ibn Hajar. Taqrb al-Tahdzb, (Kairo: Dar al-Hadith, 1. , h. Al-Nawawi. Syarh Sahih Muslim. Juz 2 (Beirut: Dar Ihya al-Turats, 1. , h. Al-Nawawi. Syaru auu Muslim. Juz 2, h. Ibn Taymiyyah, al-SiyAsah al-SyarAoiyyah fi IlAu alRAAo wa al-RaAoiyyah, (Kairo: Maktabah al-Sunnah, 1. , h. Quraish Shihab. Wawasan al-QurAoan: Tafsir MaudhuAoi atas Pelbagai Persoalan Umat, (Bandung: Mizan, 1. , h. Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam. Vol. No. 2, pp. 250-257, 2025 | 253 Kritik terhadap Penguasa: Kajian Tematik Hadis dalam Bingkai Demokrasi dan Keadilan Sosial Sudirman M. Abdul Rahman Sakka. St. Aisyah Kara Aa Ee A a a a O a a Ee a a aa eaO A A A Aa Ee as a Eeaa a A As e Eea A Aa A AaEa Artinya: AuBarang siapa memiliki nasihat untuk penguasa, hendaklah ia menasihatinya secara pribadi, tidak secara terang-terangan. Ay Takhrij: Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad . dari IyAs bin Ghanm. Alur Sanad . iwayat Ahma. Ahmad meriwayatkan dari Aswad bin AoAmir Ie dari SyuAobah Ie dari AoAim bin Bahdalah Ie dari IyAs bin Ghanm al-AshAoar . ahabat Nab. Kredibilitas Perawi: Eo Aswad bin AoAmir al-ShahhAm: tsiqah menurut al-NasAAo, meski sebagian menilai shaduq. Eo SyuAobah bin al-HajjAj: tsiqah, amr al-muAominn fi al-hadth. Eo AoAim bin Bahdalah (Abu al-Najd al-K. : shaduq, kadang salah Eo IyAs bin Ghanm: sahabat Nabi. Status Hadis: Al-Albani menilainya hasan li ghairih karena didukung oleh riwayat lain dengan makna serupa. Hadis ini sering dijadikan dasar etika dalam mengkritik penguasa. Eo Ibn Rajab al-anbal menjelaskan bahwa hadis ini menekankan adab dalam menyampaikan kritik, yakni dengan cara tertutup agar tidak menimbulkan fitnah di masyarakat. Namun ia juga mengingatkan bahwa jika penguasa melakukan kezaliman publik, kritik terbuka kemaslahatan umum. Ahmad ibn Hanbal. Musnad Ahmad, no. Al-NasAAo, al-DuAoafAAo wa al-Matrkn, (Beirut: Dar al-MaAorifah, 1. , h. Al-Dzahabi. Siyar AAolam al-NubalAAo. Juz 7, h. Ibn Hajar. Taqrb al-Tahdzb, h. Al-Albani, auu al-JAmiAo al-aghr, no. Ibn Rajab al-anbal. JAmiAo al-AoUlm wa al-ikam, (Beirut: Dar al-MaAorifah, 2. , h. Eo Al-Khaththabi dalam MaAoAlim al- Sunan menegaskan bahwa hadis ini tidak berarti melarang kritik publik sepenuhnya. Yang dilarang adalah mempermalukan penguasa dengan cara yang merusak tatanan Mulia. Eo Musdah Muslim Indonesia, berpendapat bahwa hadis ini harus dibaca secara kontekstual. Menurutnya, kritik di era modern dapat dilakukan secara terbuka melalui media dan forum demokratis, asalkan tetap berlandaskan data dan etika, bukan fitnah atau ujaran Eo Khaled Abou El Fadl dalam Islam and the Challenge of Democracy menilai hadis ini menekankan keseimbangan antara kritik dan Demokrasi modern, katanya, memberikan mekanisme formal untuk menyalurkan kritik kekacauan, sejalan dengan spirit hadis ini. Hadis ini menekankan etika dalam menyampaikan kritik. Kritik yang bersifat privat menjaga kehormatan penguasa dan mencegah fitnah. Namun, dalam konteks modern, jika penguasa menutup ruang dialog atau menolak kritik, maka kritik terbuka menjadi pilihan yang sah. Demokrasi menyediakan mekanisme formal untuk menyalurkan kritik, seperti sidang parlemen, uji publik kebijakan, dan kebebasan pers. Implementasi di Era Modern Kritik terhadap penguasa dalam tradisi Islam berakar pada prinsip amar maAorf nahi Al-Khaththabi. MaAoAlim al-Sunan. Juz 4 (Beirut: Dar al-Fikr, 1. , h. Siti Musdah Mulia. Islam dan Inspirasi Kesetaraan Gender, (Jakarta: LKiS, 2. , h. Khaled Abou El Fadl. Islam and the Challenge of Democracy, (Princeton: Princeton University Press, 2. , h. Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam. Vol. No. 2, pp. 250-257, 2025 | 254 Kritik terhadap Penguasa: Kajian Tematik Hadis dalam Bingkai Demokrasi dan Keadilan Sosial Sudirman M. Abdul Rahman Sakka. St. Aisyah Kara munkar yang ditegaskan dalam banyak hadis Nabi. Di era modern, prinsip ini menemukan relevansi baru dalam bingkai demokrasi dan keadilan sosial. Demokrasi memberi ruang legal bagi rakyat untuk mengontrol jalannya Nabi menekankan kewajiban moral untuk menegur penguasa yang zalim. Dengan demikian, implementasi kritik terhadap penguasa dapat dipahami sebagai bentuk partisipasi politik yang berlandaskan pada ajaran agama dan sekaligus menguatkan prinsip demokrasi Implementasi kritik di era modern dapat dilihat melalui mekanisme demokratis seperti kebebasan berpendapat, demonstrasi damai, dan media independen. Prinsip ini sejalan dengan hadis Nabi yang menyebutkan bahwa Aujihad terbaik adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa zalimAy (HR. Abu Dawud, no. Kritik yang dilakukan dalam kerangka demokratis bukan hanya sah secara hukum, tetapi juga memiliki legitimasi religius sebagai bentuk jihad moral. Hal ini menunjukkan adanya titik temu antara norma Islam dan prinsip modern mengenai kontrol kekuasaan. Namun menekankan pentingnya etika dalam menyampaikan kritik. Nabi mengajarkan agar amar maAorf nahi munkar dilakukan dengan hikmah dan kelembutan (QS. al-Naul . Dalam era digital, hal ini berarti kritik terhadap penguasa tidak boleh berubah menjadi ujaran kebencian, fitnah, atau provokasi yang merusak tatanan sosial. Implementasi modern menuntut kritik disampaikan melalui cara-cara konstruktif, misalnya lewat forum publik, lembaga legislatif, atau media profesional yang mengedepankan akurasi dan tanggung jawab Kamali. Freedom. Equality and Justice in Islam. Cambridge: Islamic Texts Society Abu Dawud. Sunan Abi Dawud (Kitab alMalahim. Hadis no. Beirut: Dar al-Kutub alAoIlmiyyah Esposito. , & Voll. Islam and Dalam konteks keadilan sosial, kritik terhadap penguasa berfungsi sebagai instrumen kontrol untuk memastikan distribusi keadilan berjalan secara merata. Hadis Nabi tentang keadilan menegaskan bahwa pemimpin adalah raAoin . yang bertanggung jawab atas rakyatnya (HR. al-Bukhari, no. Muslim, no. Implementasi modern dari prinsip ini dapat dilihat dalam advokasi kebijakan publik, pemberantasan korupsi, dan perlindungan kelompok rentan. Kritik yang berlandaskan hadis dengan demikian bukan sekadar oposisi memperjuangkan kemaslahatan umat dan menegakkan keadilan sosial. Akhirnya, implementasi kritik terhadap penguasa dalam bingkai hadis, demokrasi, dan keadilan sosial menegaskan bahwa Islam tidak hanya kompatibel dengan nilai-nilai modern, tetapi juga mampu memperkaya praktik demokrasi dengan dimensi moraltransendental. Kritik dipandang bukan sebagai ancaman bagi stabilitas, melainkan sebagai mekanisme pengawasan yang menjaga legitimasi kekuasaan. Dengan demikian, hadis-hadis Nabi tentang kritik terhadap penguasa tetap relevan di era modern sebagai pedoman moral, etika sosial, dan pijakan bagi demokrasi yang berkeadilan. KESIMPULAN Kajian tematik hadis mengenai kritik terhadap penguasa menunjukkan bahwa Islam memiliki fondasi normatif yang kokoh dalam mendukung praktik kontrol sosial atas Hadis-hadis Nabi SAWAibaik tentang jihad melawan penguasa zalim, amar maAoruf nahi munkar, maupun etika dalam menasihati penguasa memberikan legitimasi religius bahwa rakyat memiliki tanggung jawab moral untuk menegur, mengingatkan, dan bahkan mengkritik penguasa yang Kritik ini dipandang bukan Democracy. Oxford: Oxford University Press Al-Bukhari. auu al-BukhAr. Beirut: Dar Ibn Kathir. Muslim ibn al-Hajjaj . auu Muslim. Riyadh: Darussalam Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam. Vol. No. 2, pp. 250-257, 2025 | 255 Kritik terhadap Penguasa: Kajian Tematik Hadis dalam Bingkai Demokrasi dan Keadilan Sosial Sudirman M. Abdul Rahman Sakka. St. Aisyah Kara sebagai tindakan subversif, melainkan bagian dari jihad moral dan perwujudan amar maAoruf nahi munkar. Para ulama klasik menekankan aspek keutamaan moral dan adab dalam mengkritik penguasa, sementara pemikir kontemporer menyoroti relevansinya dalam konteks demokrasi dan keadilan sosial. Pandangan ini menunjukkan kesinambungan antara nilainilai Islam dengan mekanisme demokrasi berpendapat dan partisipasi rakyat. Implementasi hadis-hadis tersebut dalam konteks kekinian menegaskan tiga hal utama: Hadis jihad melawan penguasa zalim memberi dasar moral bagi aktivisme publik, media, dan advokasi politik dalam memperjuangkan kebenaran dan melawan penyalahgunaan kekuasaan. Hadis amar maAoruf nahi munkar memberikan legitimasi bagi kontrol rakyat, baik secara individu, kelembagaan, maupun melalui teknologi digital, sebagai bagian dari upaya menjaga keadilan sosial. Hadis etika menasihati penguasa mengajarkan keseimbangan antara kritik privat dan publik, yang dalam konteks mekanisme demokratis dan konstitusional. Secara umum, ketiga hadis ini mengajarkan bahwa Islam tidak hanya melegitimasi kritik terhadap penguasa, tetapi juga mengaturnya dengan etika dan tujuan Dalam bingkai demokrasi, hadishadis ini selaras dengan prinsip check and balance, sementara dalam kerangka maqAid al-sharAoah, ia menjadi instrumen penting untuk menegakkan keadilan sosial. Dengan demikian, kritik terhadap penguasa menurut perspektif hadis bukan sekadar pilihan, tetapi merupakan kewajiban moral umat Islam yang harus dijalankan secara bijak, konstruktif, dan berorientasi pada keadilan serta kesejahteraan rakyat. DAFTAR PUSTAKA