JURNAL ILMIAH M-PROGRESS Vol. Nomor 2 Juni 2025 p-ISSN 2088-0421. e-ISSN 2654-461X DOI: 10. 35968/m-pu Jurnal Ilmiah M Progress. Vol. No. 2 Juni 2025 https://journal. id/index. php/ilmiahm-progress/index ANALISIS KESIAPSIAGAAN DAN PROSEDUR DARURAT MANAJEMEN BANDARA PADA KECELAKAAN JEJU AIR 7C2216 DI BANDARA MUAN KORSEL Agus Purwo WicaksonoA. I Gusti Ngurah Willy HermawanA*. Novita DamayantiA 1,2,3 Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma. Jakarta. Indonesia. aguspurwodr@gmail. com, 2willy. hermawan75@gmail. com, 3novita@unsurya. *Korespondensi Penulis Abstrak Penelitan bertujuan untuk mengevaluasi kesiapan manajemen Bandara Internasional Muan Korea Selatan dalam merancang dan menerapkan ERP mengidentifikasi kelemahan koordinasi dan implementasi SMS dalam insiden Jeju Air Penerbangan 7C2216. Metodologi pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik purposive sampling dan analisis data model Miles dan Huberman, bertujuan menggali secara mendalam respons manajemen kebandarudaraan Bandara Internasional Muan terhadap kecelakaan Jeju Air 7C2216 melalui analisis terhadap ERP, koordinasi stakeholder, dan implementasi SMS. Hasil penelitian menunjukkan. ERP di Bandara Internasional Muan belum berjalan efektif, ditandai lemahnya pelatihan, koordinasi, infrastruktur pendukung, dan penggunaan teknologi dalam merespons insiden darurat. Kedua, koordinasi antar-stakeholder dalam penanganan krisis kecelakaan Jeju Air 7C2216 di Bandara Muan tidak berjalan efektif akibat tidak adanya struktur komando terpadu, minimnya pelatihan bersama, dan buruknya integrasi komunikasi lintas instansi. Ketiga, implementasi SMS di Bandara Internasional Muan belum dijalankan secara menyeluruh, lemahnya manajemen risiko satwa liar, koordinasi darurat, dan budaya pelaporan Hasil penelitian menunjukkan lemahnya implementasi sistem manajemen darurat dan keselamatan secara menyeluruh, terutama aspek koordinasi, pelatihan, serta integrasi budaya keselamatan di Bandara Internasional Muan. Kata kunci: Emergency Response Plan (ERP). Safety Management System (SMS). Kesiapsiagaan Koordinasi. Keselamatan Penerbangan. Abstract The research aims to evaluate the readiness of the management at Muan International Airport in South Korea to design and implement an Emergency Response Plan (ERP) and to identify weaknesses in coordination and the implementation of the Safety Management System (SMS) in the incident involving Jeju Air Flight 7C2216. The methodology employs a qualitative descriptive approach with purposive sampling techniques and data analysis based on the Miles and Huberman model, aiming to deeply explore the responses of Muan International Airport management to the Jeju Air 7C2216 accident through an analysis of the ERP, stakeholder coordination, and SMS The results indicate that, first, the ERP at Muan International Airport has not been effectively implemented, characterized by weak training, coordination, supporting infrastructure, and the use of technology in responding to emergency incidents. Second, the coordination among stakeholders in handling the crisis of the Jeju Air 7C2216 accident at Muan Airport has not been effective due to the absence of an integrated command structure, minimal joint training, and poor inter-agency communication integration. Third, the implementation of SMS at Muan International Airport has not been comprehensively executed, with weaknesses in wildlife risk management, emergency coordination, and safety reporting culture. The findings show the weak implementation of emergency management and safety systems overall, particularly in the aspects of coordination, training, and the integration of safety culture at Muan International Airport. Keywords: Emergency Response Plan (ERP). Safety Management System (SMS). Preparedness. Coordination. Aviation Safety. 388 Manajemen FEB Ae Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma JURNAL ILMIAH M-PROGRESS Vol. Nomor 2 Juni 2025 LATAR BELAKANG keselamatan penerbangan dan manajemen Keselamatan adalah jantung dari setiap Insiden belly landing yang operasi penerbangan. Di tengah kompleksitas diduga disebabkan oleh bird strike tersebut dan potensi risiko yang melekat pada industri menyoroti respons yang lambat dari tim ini, kesiapsiagaan dan prosedur darurat darurat bandara dan kurang optimalnya bandara internasional memegang peranan prosedur evakuasi. Dalam konteks ini, penting Mereka memastikan kelancaran dan untuk mengevaluasi sejauh mana kesiapan keamanan seluruh aktivitas, menjadikannya manajemen bandara dalam merancang dan menerapkan Emergency Response Plan (ERP) Dampak secara menyeluruh. Menurut Young dan siagaan dan tidak memiliki prosedur darurat. Wells . ERP merupakan elemen menurut Young dan Wells . , sistem strategis dalam perencanaan bandara yang mencakup struktur organisasi tanggap darurat, prosedur evakuasi, serta latihan berkala yang menyebabkan dampak insiden yang tidak wajib dilakukan oleh semua pemangku . kepentingan bandara dalam mengantisipasi mengindikasikan bahwa tanpa manajemen berbagai jenis insiden darurat. Persoalan lain krisis yang terintegrasi, operasional bandara yang mencuat adalah lemahnya koordinasi akan menghadapi kekacauan respons dan antar stakeholder saat penanganan krisis. minimnya koordinasi dalam menghadapi Proses komunikasi dan pembagian tanggung situasi abnormal. Graham . menegaskan jawab antara otoritas bandara, maskapai bahwa ketiadaan kerangka manajerial yang penerbangan, pengatur lalu lintas udara, serta kuat untuk mitigasi risiko dan tanggap darurat unit penyelamat lokal terlihat kurang sinkron. akan secara fatal mengikis perlindungan Graham . menyatakan bahwa dalam penumpang, awak, dan aset, serta merusak reputasi dan kepercayaan publik. Meskipun kesiapsiagaan dan prosedur darurat telah koordinasi antarlembaga yang berbasis pada menjadi perhatian utama dalam manajemen prinsip interoperabilitas, integrasi sistem informasi, dan skenario kolaboratif yang diuji kecelakaan pesawat terbang masih tidak dapat secara berkala. Di samping itu, kecelakaan ini terhindarkan, termasuk kecelakaan tragis yang juga mengindikasikan kurangnya efektivitas menimpa Jeju Air Penerbangan 7C2216. implementasi Safety Management System Kazda Kecelakaan Caves Jeju Air Penerbangan (SMS) di Bandara Internasional Muan, 7C2216 pada 29 Desember 2024 di Bandara sehingga dapat memperbesar dampak dari Internasional Muan. Korea Selatan menjadi insiden yang seharusnya bisa diminimalisir jika sistem berjalan sesuai standar. Sistem ini, 389 Manajemen FEB Ae Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma JURNAL ILMIAH M-PROGRESS Vol. Nomor 2 Juni 2025 sesuai dengan rekomendasi ICAO, tidak darurat terjadi, baik berupa kecelakaan hanya bersifat reaktif melainkan proaktif pesawat, bencana alam, kebakaran, atau dalam mengidentifikasi potensi bahaya serta menekankan bahwa ERP yang efektif harus Stolzer dkk. menjelaskan memenuhi sejumlah kriteria utama, antara lain bahwa SMS mencakup empat pilar utama, kejelasan struktur komando, pelibatan seluruh yaitu kebijakan keselamatan, pengelolaan unit terkait dalam simulasi darurat, dan risiko, jaminan keselamatan, dan promosi berdasarkan evaluasi insiden sebelumnya. terintegrasi dalam operasi bandara sehari-hari. ERP yang efektif mencakup lima komponen Kurangnya efektivitas SMS dapat berdasarkan utama yaitu identifikasi risiko, rencana persoalan tersebut, penelitian ini menjadi komunikasi, tanggung jawab unit, sumber daya, dan prosedur pelatihan serta simulasi Wells Kesiapan infrastruktur merupakan penanganan darurat oleh manajemen Bandara salah satu aspek yang tidak dapat dilepaskan Internasional Muan dalam konteks kecelakaan dari efektivitas ERP, termasuk penempatan Jeju Air 7C2216. Hal ini tidak hanya kendaraan penyelamat dan akses jalur cepat ke lokasi potensial kecelakaan. bandara bertanggung jawab menyusun ERP Young dan pengaturan jalur evakuasi, titik kumpul, pusat komando . mergency operations cente. , dan koordinasi kelembagaan, dan penerapan SMS keterlibatan institusi eksternal seperti rumah secara optimal di lingkungan bandar udara sakit, pemadam kebakaran, dan otoritas penerbangan sipil. Karat. 7:92-. Manajemen menambahkan bahwa kesiapsiagaan dalam KERANGKA TEORI Teori Kesiapan Manajemen Bandara dalam Emergency Response Plan (ERP) Menurut Young dan Wells . 1:452Ae . , kesiapan manajemen bandara dalam situasi darurat sangat ditentukan oleh kualitas dan ketepatan implementasi ERP. ERP merupakan dokumen perencanaan strategis yang dirancang untuk mengorganisir sumber daya, memandu pengambilan keputusan, dan mengarahkan tindakan respons saat keadaan ERP perencanaan tertulis, tetapi juga mencakup kesiapan mental, fisik, dan operasional dari seluruh petugas yang terlibat. ERP modern harus bersifat adaptif dan berbasis skenario multihazard, termasuk kerusakan struktural pesawat atau kegagalan pintu darurat. Karat menyoroti pentingnya pelatihan berulang, uji coba simulasi nyata . ull-scale drill. , dan 390 Manajemen FEB Ae Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma JURNAL ILMIAH M-PROGRESS Vol. Nomor 2 Juni 2025 memastikan bahwa semua prosedur yang telah disepakati bersama. Tidak adanya tertuang dalam ERP benar-benar dapat mekanisme koordinasi yang jelas dapat dijalankan di lapangan saat krisis terjadi. menyebabkan redundansi, kesalahan respons. Selain atau bahkan konflik otoritas di lapangan. Oleh karena itu, setiap bandara harus memiliki struktur koordinasi krisis yang sudah diuji kecelakaan yang melibatkan bahan berbahaya melalui latihan bersama . oint drill. secara atau kondisi cuaca ekstrem. Oleh karena itu, berkala untuk memastikan semua pihak ERP yang baik bukan hanya berfungsi sebagai memahami peran dan tanggung jawabnya panduan, tetapi menjadi sistem manajemen dalam kondisi abnormal. Menurut Graham. Decision Support System (DSS) sangat Dalam konteks ini, kesiapan bandara bukan semata pada keberadaan skenario dan menyarankan keputusan berbasis dokumen ERP, tetapi sejauh mana rencana data real-time selama krisis berlangsung. Demikian juga Kazda dan Caves . 5:296Ae diimplementasikan secara efektif oleh semua unit operasional bandara. Teori Koordinasi Antar Stakeholder dalam Penanganan Krisis Graham, . 8:175Ae. fungsional lintas institusi sebagai elemen menyampaikan bahwa efektivitas penanganan manajemen darurat. Koordinasi yang baik krisis di lingkungan bandar udara sangat memerlukan dokumentasi yang transparan, prosedur lintas unit yang selaras, dan pusat antarlembaga atau stakeholder yang terlibat. Bandara sebagai simpul transportasi udara mengintegrasikan informasi secara real-time. tidak beroperasi secara mandiri, melainkan Dalam praktiknya, hal ini diwujudkan melalui berada dalam ekosistem kompleks yang pembentukan Emergency Control Centers (ECC) dan penunjukan incident commanders penerbangan, otoritas penerbangan sipil, yang memiliki otoritas jelas dalam mengambil layanan darurat . emadam kebakaran, medi. , keputusan di lokasi kejadian. Evaluasi berkala kepolisian, dan bahkan pemerintah daerah. terhadap sistem koordinasi harus dilakukan Dalam melalui audit internal dan tinjauan setelah mengidentifikasi hambatan atau kesenjangan mengaktifkan sistem komunikasi yang cepat, koordinatif yang muncul. Dengan demikian, akurat, dan berbasis protokol standar yang penanganan krisis di bandara tidak hanya . ost-incident 391 Manajemen FEB Ae Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma JURNAL ILMIAH M-PROGRESS Vol. Nomor 2 Juni 2025 bergantung pada kecepatan respons, tetapi . 9:302Ae. memandang bahwa juga pada seberapa matang dan terstruktur SMS tidak hanya penting dalam konteks koordinasi antara seluruh stakeholder yang operasional penerbangan reguler, tetapi juga dalam merespons insiden darurat seperti Teori Implementasi Sistem Manajemen Keselamatan (SMS) kecelakaan atau ancaman keamanan. menekankan bahwa integrasi antara sistem Menurut Stolzer dkk. 6:128Ae. , manajemen keselamatan dengan protokol implementasi Safety Management System keamanan bandara sangat penting untuk (SMS) di bandara merupakan kerangka kerja sistematis yang bertujuan untuk mengelola terhadap berbagai jenis ancaman, baik yang bersifat teknis maupun non-teknis. Salah satu proaktif dan berbasis data. SMS terdiri atas tantangan terbesar dalam implementasi SMS keselamatan . afety polic. , manajemen risiko berbagai unit bandaraAiseperti manajemen . isk managemen. , jaminan keselamatan operasi, keamanan, pemeliharaan fasilitas, . afety assuranc. , dan promosi keselamatan . afety promotio. Program Wildlife Hazard persepsi yang sama terhadap risiko dan Management harus terintegrasi dalam Sistem Oleh karena itu, pelatihan Manajemen Keselamatan (Safety terpadu dan penguatan jalur komunikasi Management System/SMS) internal menjadi bagian tak terpisahkan dari Implementasi SMS yang efektif harus dimulai penerapan SMS. Dalam konteks insiden dari komitmen manajemen puncak bandara seperti kecelakaan pesawat, kegagalan atau kelemahan dalam penerapan SMS bisa keselamatan formal, serta diikuti dengan berimplikasi langsung terhadap keterlambatan penyusunan sistem pelaporan bahaya, proses respons, kurangnya mitigasi bahaya, dan investigasi insiden, dan analisis tren data lemahnya evaluasi terhadap kejadian-kejadian Mereka menekankan pentingnya keselamatan sebelumnya. daruratAiagar budaya keselamatan . afety cultur. yang kuat di seluruh organisasi bandara agar tidak terjadi METODOLOGI PENELITIAN underreporting dan agar respons terhadap Penelitian ini menggunakan pendekatan insiden dapat dilakukan secara sistematis dan deskriptif kualitatif untuk memahami secara tidak reaktif. Sistem ini juga harus dilengkapi mendalam respons manajemen kebandarudaraan dengan proses audit dan evaluasi berkala Bandara kecelakaan Jeju Air 7C2216. Fokus utama efektivitasnya dalam mencegah kecelakaan penelitian ini adalah pada kesiapsiagaan atau kejadian berbahaya. Lebih lanjut Sweet, melalui Emergency Response Plan (ERP). Internasional Muan 392 Manajemen FEB Ae Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma JURNAL ILMIAH M-PROGRESS Vol. Nomor 2 Juni 2025 koordinasi antar pemangku kepentingan saat . , insiden terjadi akibat bird strike yang krisis, dan implementasi sistem manajemen menyebabkan kegagalan roda pendaratan dan (Safety Management memaksa pilot melakukan belly landing di System/SMS). Pendekatan landasan pacu. Dengan korban jiwa yang relevan untuk mengkaji fenomena kompleks begitu banyak, respons darurat yang lambat dan kontekstual, dengan menekankan pada dinamika proses dan perspektif antaraktor sistematis menunjukkan adanya kelemahan (Moleong, 2017:6Ae. Data diperoleh melalui dokumen, artikel, berita, observasi, serta menghadapi kondisi darurat (Ben, 2. Fakta ini mengindikasikan bahwa dokumen keselamatan penerbangan dan manajemen ERP yang ada mungkin belum dijalankan Objek secara optimal atau belum sepenuhnya penelitian ini adalah manajemen bandara pada disesuaikan dengan potensi bahaya lokal aspek ERP, koordinasi krisis, dan integrasi seperti serangan burung. Dengan demikian SMS. Sampel dipilih secara purposive dari dapat dikatakan bahwa Manajemen Bandara informasi yang relevan dengan fokus insiden, tidak memenuhi kesiapan dalam situasi berdasarkan kriteria yang dijelaskan oleh darurat sebagaimana disampaikan oleh Young Sugiyono . 6:123Ae. Analisis data dan Wells . , bahwa kesiapan manajemen mengacu pada model Miles dan Huberman . , melalui tiga tahap: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. implementasi ERP. Laporan Ben P. Validitas diuji melalui triangulasi sumber dan dari HSENations dan Dean dan Mercer dari Hasil diharapkan memberi kontribusi BBC . menunjukkan bahwa tidak ada konseptual dan praktis bagi peningkatan peringatan awal atau sistem penanganan cepat kapasitas manajemen kebandarudaraan dalam di lokasi kejadian, serta beberapa petugas menghadapi kondisi darurat. pemadam kebakaran dan medis membutuhkan lokasi badan pesawat. Hal ini menunjukkan Kesiapan Manajemen Bandara dalam Emergency Response Plan (ERP) Kecelakaan Jeju Air 7C2216 pada 29 Desember 2024 telah membuka diskursus luas waktu lebih dari 8 menit untuk mencapai HASIL DAN PEMBAHASAN kebandarudaraan, khususnya implementasi ERP di Bandara Internasional Muan Korea Selatan. Berdasarkan laporan awal ARAIB seharusnya merupakan bagian vital dari ERP. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ERP tidak berjalan secara efektif, sebagaimana yang disampaikan Young dan Wells . , bahwa ERP yang efektif mencakup lima komponen utama yaitu identifikasi risiko, 393 Manajemen FEB Ae Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma JURNAL ILMIAH M-PROGRESS Vol. Nomor 2 Juni 2025 rencana komunikasi, tanggung jawab unit, sumber daya, dan prosedur pelatihan serta evakuasi hingga 12 menit akibat tidak semua simulasi berkala. Investigasi awal ARAIB pintu darurat dapat dibuka akibat posisi yang dilaporkan Editor Aviation Accidents pesawat yang miring. Ketidaksiapan awak . tidak menemukan adanya rekaman darurat yang tidak standar menunjukkan dilakukan dalam enam bulan sebelum insiden. bahwa skenario tanggap darurat dalam ERP Ketidaksiapan operasional ini memperkuat tidak cukup fleksibel untuk menangani situasi dugaan bahwa pelatihan ERP di Bandara non-konvensional. Padahal. Karat . Muan belum dilaksanakan secara reguler, atau menegaskan bahwa ERP modern harus tidak melibatkan seluruh stakeholder yang relevan, termasuk pihak maskapai dan unit multihazard, termasuk kerusakan struktural pengendali lalu lintas udara. Hal ini sesuai pesawat atau kegagalan pintu darurat. Dalam yang disampaikan Karat . bahwa konteks peran teknologi, menurut Reuters keberhasilan ERP sangat tergantung pada . tidak ditemukan bukti penggunaan kejelasan rantai komando dan frekuensi sistem komunikasi darurat otomatis atau latihan simulasi insiden darurat. Lebih jauh, laporan dari The Korea Times . mengarahkan proses evakuasi penumpang. menyebutkan bahwa keberadaan dinding Padahal, memperparah dampak insiden karena badan distribusi perintah tanggap darurat telah pesawat tergelincir ke sisi pengaman yang direkomendasikan dalam berbagai standar tidak dirancang untuk pendaratan darurat. Ini ICAO. Dalam hal ini. Bandara Muan menunjukkan bahwa meskipun ERP mungkin tampaknya belum mengadopsi teknologi telah disusun secara prosedural, aspek desain pendukung ERP secara maksimal, yang fisik lingkungan bandara sebagai bagian dari mencerminkan kelemahan dalam manajemen kesiapsiagaan darurat belum sepenuhnya modern berbasis digital dan sistem integrasi Hal Hal disampaikan Young dan Wells . bahwa disampaikan Karat . bahwa ERP kesiapan infrastruktur merupakan salah satu modern harus bersifat adaptif dan berbasis aspek yang tidak dapat dilepaskan dari skenario multihazard, termasuk kerusakan struktural pesawat atau kegagalan pintu kendaraan penyelamat dan akses jalur cepat ke Lebih lanjut, berdasarkan keterangan lokasi potensial kecelakaan. Pengumpulan dari People. dan BBC News informasi Waldron . dari FlightGlobal . , banyak staf bandara dan petugas dan Reuters . juga mengungkap bahwa ERP, 394 Manajemen FEB Ae Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma JURNAL ILMIAH M-PROGRESS Vol. Nomor 2 Juni 2025 penanganan bahan bakar yang tumpah dan Karat . bahwa kesiapan bandara bukan risiko kebakaran akibat belly landing. Hal ini semata pada keberadaan dokumen ERP, tetapi membuktikan adanya kesenjangan dalam sejauh mana rencana tersebut terinternalisasi pelatihan spesifik ERP untuk jenis kecelakaan dan mampu diimplementasikan secara efektif Menurut Young dan Wells . , oleh semua unit operasional bandara. Dari pelatihan ERP tidak boleh bersifat umum, tetapi harus dilengkapi modul skenario disimpulkan bahwa Bandara Internasional spesifik termasuk kegagalan roda pendaratan. Muan menunjukkan kelemahan signifikan kebakaran kabin, hingga crash akibat faktor dalam aspek kesiapan manajemen darurat. lingkungan seperti bird strike. Demikian juga Baik yang disorot Karat . 7:92-. tentang infrastruktur, teknologi, hingga komunikasi pentingnya pelatihan berulang, uji coba krisis. ERP yang diterapkan belum memenuhi simulasi nyata . ull-scale drill. , dan audit internal sebagai metode untuk memastikan bahwa semua prosedur yang tertuang dalam Insiden ini menjadi cerminan ERP benar-benar dapat dijalankan di lapangan penting bahwa dokumen ERP tidak cukup saat krisis terjadi. Kritik juga datang dari hanya disusun, tetapi juga harus dijalankan, masyarakat sipil dan media yang menilai disosialisasikan secara menyeluruh kepada informasi jelas kepada keluarga korban dan media selama dua jam pertama setelah kejadian (South China Morning Post, 2. seluruh unsur bandara. Koordinasi Antar Penanganan Krisis Stakeholder Dalam ERP yang dikembangkan Karat Penanganan krisis dalam kecelakaan . 7:106-. , keterbukaan informasi dan penerbangan Jeju Air 7C2216 di Bandara komunikasi publik yang efektif merupakan Internasional Muan mengungkap sejumlah salah satu pilar utama manajemen insiden, kelemahan mendasar dalam koordinasi antar- terutama untuk meredakan kepanikan dan stakeholder kebandarudaraan. Berdasarkan membangun kepercayaan publik pasca-krisis. laporan ARAIB . , peristiwa ini diawali Lemahnya pengelolaan komunikasi krisis ini oleh dugaan bird strike yang menyebabkan memperburuk citra bandara dan maskapai, sekaligus memperkuat asumsi bahwa ERP berujung pada pendaratan darurat dengan belum diinternalisasi sebagai bagian dari perut pesawat . elly landin. Situasi ini budaya kerja. Dengan demikian, meskipun menuntut respon cepat dari berbagai pihak, sudah ada ERP, namun manajemen bandara memang terlihat kurang siap menghadapi musibah, hal ini sebagaimana yang sampaikan penerbangan, dan unit layanan darurat lokal. 395 Manajemen FEB Ae Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma JURNAL ILMIAH M-PROGRESS Vol. Nomor 2 Juni 2025 Namun, investigasi menunjukkan bahwa Emergency Management System (IEMS) komunikasi awal dan koordinasi operasional secara menyeluruh. Koordinasi antara otoritas antar instansi tidak berjalan optimal. Dengan bandara dan petugas darurat eksternal, seperti demikian dapat dikatakan bahwa kualitas pemadam kebakaran kota dan rumah sakit koordinasi tidak berjalan efektif, sebagaimana rujukan, juga minim pengintegrasian data dan sistem pelaporan cepat. Hal ini berdampak efektivitas penanganan krisis di lingkungan pada penundaan penanganan medis terhadap bandar udara sangat bergantung pada kualitas beberapa penumpang yang mengalami cedera koordinasi antarlembaga atau stakeholder sedang hingga berat. Dengan demikian maka yang terlibat. The Korea Times . dapat dikatakan bahwa koordinasi tidak Muan, dijalankan secara terintegrasi. Hal ini sesuai keterlambatan dalam pengaktifan Emergency dengan yang disampaikan Kazda dan Caves Operations Center (EOC) serta keterbatasan . informasi awal kepada unit penyelamat memperlambat waktu evakuasi. Selain itu, menghindari kekacauan pada fase awal personel dari pemadam kebakaran bandara Koordinasi yang baik memerlukan tidak mendapatkan informasi teknis memadai dokumentasi yang transparan, prosedur lintas mengenai kondisi pesawat dan risiko bahan unit yang selaras, dan pusat kendali darurat bakar pasca-belly landing. Hal ini dapat yang mampu mengintegrasikan informasi dikatakan bahwa sistem komunikasi tidak secara real-time. Selanjutnya Dean dan terstruktur dengan matang dan struktur Mercer dari BBC News . dan Darrelle komando tidak jelas. Kondisi ini tidak sesuai dengan yang disampaikan Kazda dan Caves mengungkap bahwa beberapa instansi tidak . bahwa penanganan krisis di bandara mendapat briefing situasional yang sama, tidak hanya bergantung pada kecepatan sehingga muncul duplikasi tugas maupun respons, tetapi juga pada seberapa matang dan tumpang tindih tanggung jawab. Sebagai contoh, dua unit pemadam kebakaran berbeda stakeholder yang terlibat. Demikian juga yang mengakses titik pendaratan dengan jalur berbeda tanpa koordinasi, menghambat akses koordinasi dalam manajemen krisis di bandara kendaraan evakuasi medis. Sedangkan The memerlukan struktur komando yang jelas dan Guardian . melaporkan ketiadaan sistem sistem komunikasi lintas instansi yang telah interoperabilitas antara perangkat komunikasi diuji dalam simulasi berkala. Dean dan masing-masing instansi memperburuk situasi Mercer dari BBC News . melaporkan di lapangan. Dengan demikian dapat diketahui bahwa dalam konteks Bandara Muan, dinilai bahwa koordinasi tidak berjalan dengan baik Graham Graham Bandara Integrated Channel News Asia 396 Manajemen FEB Ae Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma JURNAL ILMIAH M-PROGRESS Vol. Nomor 2 Juni 2025 Hal keterlambatan pengiriman bus evakuasi dan sebagaimana disampaikan Kazda dan Caves . runway saat mayday memerlukan dokumentasi yang transparan. Hal ini jelas tidak sesuai dengan prosedur lintas unit yang selaras, dan pusat Graham . menyatakan bahwa dalam situasi darurat, keberhasilan penanganan mengintegrasikan informasi secara real-time. sangat ditentukan oleh kemampuan seluruh Investigasi lebih lanjut oleh Reuters . dan FlightGlobal . menunjukkan bahwa komunikasi yang cepat, akurat, dan berbasis stakeholder telah menciptakan budaya silo Dari perspektif teknis. The Korea dalam manajemen krisis bandara Korea Herald . melaporkan bahwa data dari Selatan. Bandara Muan, sebagai bandara rekaman menara kontrol menunjukkan adanya regional dengan volume lalu lintas yang kesenjangan dalam alur komunikasi antara Air meningkat, tidak memiliki sistem komando Traffic Control terpadu yang dilatih secara rutin bersama penyelamat lapangan. ATC dinilai gagal maskapai dan lembaga penegak hukum. Hal ini kontras dengan praktik internasional yang kondisi teknis pesawat kepada ground support secara real-time, (ATC) dengan otoritas karena belum setahun sekali. Kondisi ini tidak sesuai dengan mengintegrasikan semua stakeholder. Hal ini yang disampaikan Graham . bahwa sangat disayangkan karena dalam kondisi bandara harus memiliki struktur darurat, kecepatan dan akurasi informasi koordinasi krisis yang sudah diuji melalui menjadi kunci keselamatan. Hal ini tidak latihan bersama . oint drill. secara berkala sesuai dengan yang disampaikan Kazda dan untuk memastikan semua pihak memahami Caves . bahwa koordinasi yang baik peran dan tanggung jawabnya dalam kondisi memerlukan dokumentasi yang transparan. The Guardian . melaporkan prosedur lintas unit yang selaras, dan pusat bahwa beberapa petugas darurat mengaku mengintegrasikan informasi secara real-time. mengenai titik pendaratan pesawat sebelum Ben. dari HSENations . menyebutkan bahwa prosedur evakuasi yang tidak seragam Ketidaksiapan lemahnya koordinasi awal. Salah satu contoh menunjukkan tidak adanya latihan koordinatif konkret ialah yang dilaporkan South China yang melibatkan awak kabin dan petugas Morning . logistik dan peta evakuasi menjadi bukti Post exercise dan full-scale drill setidaknya Sebagian 397 Manajemen FEB Ae Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma JURNAL ILMIAH M-PROGRESS Vol. Nomor 2 Juni 2025 bahkan mengaku baru dievakuasi setelah 20 memperkeruh situasi. Dalam struktur IEMS, menit pendaratan, waktu yang dianggap seharusnya terdapat Incident Commander (IC) terlalu lama dalam konteks bahaya kebakaran yang memiliki wewenang penuh untuk bahan bakar pasca-belly landing. Menurut mengkoordinasikan seluruh tindakan selama People. , hal ini menjadi indikator masa krisis. Kecelakaan Jeju Air 7C2216 di lemahnya integrasi prosedur maskapai dengan Bandara Internasional Muan mengungkap sistem tanggap darurat bandara. Kondisi ini kelemahan serius dalam sistem koordinasi dan penanganan krisis kebandarudaraan, termasuk Graham . bahwa setiap bandara harus memiliki struktur koordinasi krisis yang sudah ketidakterpaduan komunikasi antarinstansi, diuji melalui latihan bersama . oint drill. serta minimnya pelatihan bersama yang secara berkala untuk memastikan semua pihak mengakibatkan respons tidak terstruktur dan memahami peran dan tanggung jawabnya tidak efisien. Investigasi berbagai sumber dalam kondisi abnormal. Salah satu faktor komando terpadu, kurangnya interoperabilitas Kawoosa. , et al. , . adalah tidak teknologi, dan belum diterapkannya skema adanya skema tanggap darurat berbasis Integrated Emergency Management System teknologi terkini seperti Decision Support (IEMS) secara menyeluruh memperburuk System (DSS) yang terhubung lintas sektor. evakuasi dan penanganan korban. Temuan ini Absennya sistem ini di Bandara Muan menegaskan pentingnya struktur komando membuat proses pengambilan keputusan yang jelas, prosedur lintas unit yang selaras, serta sistem komunikasi real-time berbasis Hal ini tidak sesuai dengan Graham protokol standar yang telah diuji melalui . , bahwa DSS sangat membantu dalam latihan rutin untuk memastikan kesiapan semua stakeholder dalam menghadapi situasi menyarankan keputusan berbasis data real- darurat, sebagaimana ditekankan oleh Graham time selama krisis berlangsung. Di lapangan, . serta Kazda dan Caves . menurut The Guardian . terlihat adanya Implementasi Sistem Keselamatan (SMS) Manajemen Berdasarkan laporan awal ARAIB evakuasi, sehingga banyak prosedur berjalan . , tidak sesuai urutan prioritas. Hal ini tidak disebabkan oleh kemungkinan bird strike sesuai dengan yang disampaikan Kazda dan yang mengakibatkan kerusakan pada roda Caves . bahwa dari segi manajerial, kurangnya struktur pengambilan keputusan dengan bagian perutnya . elly landin. Hal ini Menurut Stolzer dkk. menunjukkan Jeju Air 7C2216 398 Manajemen FEB Ae Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma JURNAL ILMIAH M-PROGRESS Vol. Nomor 2 Juni 2025 Hazard kesiapan terhadap ancaman non-teroris seperti Management yang terintegrasi dalam Sistem bencana alam atau kecelakaan operasional. Manajemen Keselamatan (SMS) bandara. termasuk bird strike. Oleh karena itu. Padahal, sesuai ICAO Annex 14 dan prinsip pengabaian terhadap isu ekologi sekitar dalam SMS, deteksi dini dan pengendalian bandara serta kurangnya prosedur darurat ancaman seperti aktivitas burung merupakan yang sistematis menunjukkan bahwa struktur bagian fundamental dari manajemen risiko. SMS belum sepenuhnya mengakomodasi Kelemahan ini memperlihatkan pentingnya spektrum ancaman yang mungkin terjadi. sistem deteksi satwa liar berbasis data real- Kealpaan dalam memperhitungkan faktor time di area bandara. Selanjutnya Stolzer, dkk lingkungan memperlemah resiliensi sistem menyampaikan bahwa implementasi SMS di Investigasi lebih lanjut dari bandara merupakan kerangka kerja sistematis ARAIB . dan Aviation Accidents . yang bertujuan untuk mengelola risiko mengungkap bahwa prosedur komunikasi keselamatan melalui pendekatan proaktif dan darurat antara ATC, tim pemadam kebakaran, berbasis data. Analisis dari laporan Dean dan dan otoritas medis tidak berjalan optimal. Mercer dari BBC . dan Darrelle Ng dari menyebabkan keterlambatan evakuasi dan Channel News Asia . mengungkapkan ketidaksiapan peralatan penyelamatan di tidak adanya sistem peringatan dini atau Dalam SMS yang efektif, koordinasi langkah pencegahan efektif terhadap ancaman lintas fungsi seperti ini harus didukung oleh burung liar. Sistem surveillance bandara yang protokol komunikasi standar dan pelatihan simulasi krisis secara berkala. Ketidaksiapan Wildlife dokumentasi audit internal menunjukkan lemahnya safety assurance, suatu pilar utama koordinatif belum diuji dalam skenario nyata Ketidakteraturan atau latihan darurat. Hal ini tidak sesuai pengawasan ini berdampak langsung pada dengan Sweet . yang menekankan bahwa integrasi antara sistem manajemen SMS. disampaikan Stolzer dkk. bahwa bandara sangat penting untuk menciptakan implementasi SMS idealnya mencakup proses lingkungan yang tanggap terhadap berbagai continuous monitoring dan safety assurance. jenis ancaman, baik yang bersifat teknis Sistem ini juga harus dilengkapi dengan maupun non-teknis. Salah satu tantangan proses audit dan evaluasi berkala untuk terbesar dalam implementasi SMS adalah menjamin keberlanjutan dan efektivitasnya membangun koordinasi antara berbagai unit dalam mencegah kecelakaan atau kejadian bandara-seperti Sweet keamanan, pemeliharaan fasilitas, hingga layanan darurat-agar memiliki persepsi yang . 9:157-. SMS Hal ini tidak sesuai dengan yang Dalam 399 Manajemen FEB Ae Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma JURNAL ILMIAH M-PROGRESS Vol. Nomor 2 Juni 2025 sama terhadap risiko dan keselamatan. Dalam dari HSENations dan The Guardian . , konteks Jeju Air 7C2216, tidak adanya personel pemadam lambat dalam respons dan evaluasi internal yang menyeluruh setelah tidak semua mengikuti prosedur evakuasi kejadian serupa sebelumnya . ird strike Padahal, pelatihan dan pengujian mino. menunjukkan lemahnya komitmen berkala terhadap personel adalah komponen manajemen terhadap evaluasi dan perbaikan vital dalam safety promotion Ae salah satu pilar Rendahnya budaya pelaporan SMS. Minimnya pelatihan terstruktur dapat dan tindak lanjut memperparah potensi pengulangan insiden serupa. Hal ini tidak Hal ini tidak sesuai yang sesuai yang disampaikan Stolzer, dkk. , . disampaikan Sweet . bahwa pelatihan bahwa keberhasilan implementasi SMS sangat terpadu dan penguatan jalur komunikasi bergantung pada budaya keselamatan . afety internal menjadi bagian tak terpisahkan dari cultur. yang kuat dan keterlibatan aktif penerapan SMS. Dalam pandangan Sweet . , pengumpulan data ancaman dan Waldron . menyebut bahwa insiden harus dilengkapi dengan pelaporan FDR (Flight Data Recorde. dari pesawat Jeju sukarela . oluntary reporting syste. serta Air 7C2216 dikirim ke AS untuk penyelidikan insentif bagi staf untuk menyampaikan potensi risiko. Tidak adanya laporan ancaman investigasi lanjutan di Korea Selatan. Hal ini burung sebelum kejadian mengindikasikan menandakan bahwa mekanisme feedback loop bahwa sistem pelaporan ancaman di Muan dalam SMS tidak berjalan dengan efisien tidak berjalan aktif atau bahkan tidak tersedia karena data kecelakaan tidak langsung dapat lemahnya budaya komunikasi terbuka dalam Ketergantungan pada institusi luar negeri pengelolaan risiko keselamatan. Evaluasi memperlambat proses analisis dan koreksi terhadap kondisi fisik bandara juga menjadi Hal ini tidak sesuai yang bagian dari safety risk management. Reuters disampaikan Stolzer dkk. , . melaporkan bahwa dinding beton di implementasi SMS yang efektif harus dimulai dari komitmen manajemen puncak bandara kecelakaan karena menjadi penghalang bagi pesawat yang gagal berhenti secara sempurna. keselamatan formal, serta diikuti dengan Ini merupakan bukti bahwa asesmen risiko penyusunan sistem pelaporan bahaya, proses infrastruktur belum dilakukan dengan cermat investigasi insiden, dan analisis tren data Dalam kasus ini, prosedur Infrastruktur yang tidak didesain untuk pelatihan darurat kepada staf bandara juga mitigasi kecelakaan menjadi faktor pengganda Menurut laporan Ben . Hal ini tidak sesuai dengan yang Hal SMS. 400 Manajemen FEB Ae Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma JURNAL ILMIAH M-PROGRESS Vol. Nomor 2 Juni 2025 disampaikan Stolzer, dkk . bahwa SMS serupa, sebagaimana ditekankan oleh ICAO juga harus dilengkapi dengan proses audit dan dan para ahli seperti Stolzer dan Sweet. Ketidakhadiran performance indicators (SPI) yang terukur memiliki tolok ukur efektivitas keselamatan Kazda Caves . menekankan pentingnya SPI sebagai alat evaluasi terhadap sistem keselamatan berbasis Tanpa SPI, tindakan korektif tidak dapat disusun secara tepat dan terukur. Ketiadaan metrik kuantitatif membuat sistem keselamatan sulit dievaluasi secara objektif. Kecelakaan Jeju Air 7C2216 mengungkap kelemahan serius dalam implementasi Safety Management System (SMS) di Bandara Internasional Muan, terutama pada aspek manajemen risiko satwa liar, ketidaksiapan infrastruktur, minimnya pelatihan darurat, lemahnya budaya pelaporan, serta absennya indikator kinerja keselamatan (SPI) yang Ketidakefisienan koordinasi antarunit dan keterbatasan dalam investigasi internal juga menunjukkan bahwa prinsip-prinsip dasar SMS, seperti deteksi dini, safety assurance, dan continuous monitoring, belum dijalankan secara menyeluruh. Temuan ini manajemen puncak, sistem pelaporan aktif, dan penguatan budaya keselamatan sebagai fondasi sistemik dalam mencegah kecelakaan KESIMPULAN Kecelakaan Jeju Air 7C2216 Bandara Internasional Muan menyingkap manajemen darurat bandara, khususnya dalam implementasi Emergency Response Plan (ERP). Meskipun ERP kemungkinan telah disusun secara prosedural, pelaksanaannya di lapangan menunjukkan kelemahan pada aspek pelatihan terpadu. Minimnya ketidakjelasan rantai komando, keterlambatan evakuasi, serta tidak optimalnya komunikasi publik dan pemanfaatan sistem pendukung keputusan berbasis digital, menunjukkan bahwa ERP belum menjadi bagian yang terinternalisasi dalam budaya kerja bandara dan stakeholder terkait. Kecelakaan Jeju Air 7C2216 di Bandara Internasional Muan stakeholder dalam penanganan krisis masih jauh dari optimal. Keterlambatan aktivasi ketidaksamaan informasi antar instansi, dan absennya latihan terpadu secara berkala memperlihatkan lemahnya penerapan sistem Ketidakhadiran struktur komando yang tegas serta pemanfaatan teknologi pendukung krisis semakin memperparah kekacauan dalam 401 Manajemen FEB Ae Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma JURNAL ILMIAH M-PROGRESS Vol. Nomor 2 Juni 2025 respons awal. Kondisi ini memperjelas bahwa bergantung pada prosedur, tetapi juga pada Kajian terhadap penerapan Sistem Manajemen Keselamatan (SMS) di Bandara Internasional Muan menunjukkan bahwa pelatihan dan koordinasi darurat, serta tidak berfungsinya sistem pelaporan dan evaluasi performa telah berdampak signifikan pada kegagalan mitigasi kecelakaan Jeju Air 7C2216. SMS yang seharusnya menjadi sistem terintegrasi dan berorientasi pada pencegahan, dalam kasus ini justru belum mampu mendeteksi dan merespons ancaman Ini keberhasilan SMS sangat bergantung pada implementasi menyeluruh yang mencakup aspek teknis, kelembagaan, dan budaya keselamatan yang kuat di seluruh level HSENations. 30 Desember 2024. https://hsenations. com/jeju-air-flightcrash-in-south-korea-safety-gaps/South China Morning Post 5HSENations 5Rotary International 5. Diakses 13 Jun 2025 Darrelle Ng. "Bird strikes a common hazard, but aviation experts say thereAos more to Jeju Air crash". Channel News Asia. Singapura. 30 Desember 2024 Aviation Aviators 14CNA 14Global Nation 14arXiv 9Aviation Aviators 9CNA 9. Diakses 13 Jun Dean. dan Mercer. AuJeju Air: What we know about the South Korea plane crashAy. BBC News. London. Desember https://w. com/news/articles/ck gzprprlyeoBBC 1Wikipedia 1South China Morning Post 15CBS News 15ABC News 15. Diakses 13 Jun 2025 Editor Aviation Accidents. JEJU Air Ae Boeing B737-800 (HL8. Flight 7C2216. Aviation Accidents, 27 Januari 2025. Graham. AuManaging Airports: An International PerspectiveAy. Routledge Taylor & Francis Group. London, 2018. Janic. Air Transport System Analysis and Modelling. CRC Press. Karat. AuAirport Emergency Planning: A Comprehensive Guide. ASA Publications. Washington D. , 2017. DAFTAR PUSTAKA