ORIGINAL ARTICLE - AACENDIKIA: Journal of Nursing AACENDIKIA: Journal of Nursing. Volume 4 . Juli 2025, p. https://doi. org/10. 59183/aacendikiajon. Impact of Basic Life Support Education on Knowledge Among Youth Red Cross Members at SMAN 12 Bekasi City, 2024 Intan Medi Ety1*. Arabta Malem Peraten Pelawi2. Ernauli Meliyana2 Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan. STIKES Medistra Indonesia. Jl Cut Mutia. Kota Bekasi Program Studi Ilmu Keperawatan. STIKES Medistra Indonesia. Jl Cut Mutia. Kota Bekasi *Correspondence: Intan Medi Ety. Address: Jl Cut Mutia. Kota Bekasi. Indonesia. Email: imedieti@gmail. Received: 1 Mei 2025 U Revised: 20 Juni 2025 U Accepted: 3 Juli 2025 ABSTRACT One of the leading causes of death in IndonesiaAisuch as cardiac arrestAirequires rapid intervention through Basic Life Support (BLS). Cardiac arrest can occur at any time and may be fatal if not addressed immediately. BLS is a fundamental skill that everyone should possess, as it plays a critical role in increasing the chances of survival in life-threatening situations. Many cardiac arrest cases happen outside of medical settings, known as Out-of-Hospital Cardiac Arrest (OHCA). This study aimed to assess the effect of BLS education on the knowledge of Youth Red Cross (PMR) members at SMAN 12 Bekasi City, considering the observed lack of BLS knowledge among members. A quantitative method with a pre-experimental design was applied, using a one-group pre-test post-test approach. The study involved all 59 PMR members through total sampling. Data analysis using a paired sample t-test showed a significant difference between pre-test and post-test scores, with a p-value of 000 < 0. 05, indicating that the null hypothesis was rejected. The findings confirm that BLS education had a significant positive effect on the participantsAo knowledge levels. The study concluded that there was a notable increase in BLS knowledge among PMR members after the educational intervention. ABSTRAK Salah satu penyebab utama kematian di Indonesia yang memerlukan penanganan cepat melalui Bantuan Hidup Dasar (BHD) seperti henti jantung, dapat terjadi kapan saja dan berpotensi mengancam nyawa jika tidak ditangani segera. Bantuan Hidup Dasar (BHD) merupakan pengetahuan dasar pertama yang harus dimiliki semua orang sebelum melakukan penyelamatan pada nyawa seseorang yang sangat penting untuk meningkatkan kelangsungan hidup korban. Sebagian kejadian yang mengakibatkan henti jantung adalah kejadian yang terjadi di luar lingkungan tenaga medis atau biasa dikenal dengan Out Of Hospital Cardiac Arrest (OHCA). Studi kasus ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh edukasi BHD terhadap pengetahuan anggota palang merah remaja (PMR) di SMAN 12 Kota Bekasi, mengingat banyaknya anggota yang belum menguasai materi BHD. Metode pada studi kasus yang digunakan adalah kuantitatif dengan jenis penelitian preeksperimental design dengan pendekatan one grup Pre-Test Post-Test design. Populasi dalam studi ini adalah seluruh anggota PMR di SMAN 12 Kota Bekasi berjumlah 59 anggota. Teknik pengambilan data dengan menggunakan total Didapatkan hasil dengan tingkat signifikan 95% atau nilai 5% . diperoleh p value . < nilai . sehingga dapat disimpulkan dari hasil tersebut H0 ditolak. Oleh karena itu peneliatan ini menunjukan adanya pengaruh edukasi bantuan hidup dasar terhadap pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan edukasi pada anggota PMR Di SMAN 12 Kota Bekasi tahun 2024. Berdasarkan hasil yang sudah diteliti didapatkan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan subyek dari sebelumnya. Keywords: BLS education. youth red cross. knowledge improvement. cardiac arrest Pendahuluan Pre-hospital stage, hospital stage dan rehabilitation stage merupakan rangkaian tindakan Tindakan kegawatdaruratan dalam pre-hospital stage salah satunya adalah Bantuan Hidup Dasar (BHD). Bantuan Hidup Dasar (BHD) ialah pengetahuan dasar pertama yang harus dimiliki semua orang sebelum melakukan penyelamatan pada nyawa BHD 47 | E-ISSN: 2963-6434 mengidentifikasi denyut nadi dan pernapasan korban, dilanjutkan dengan tindakan Resusitasi Jantung Paru (RJP) sampai bantuan medis Seperti yang disebutkan oleh AHA tahun BHD keberlangsungan hidup pasien OHCA sampai 45% (Nirmalasari dan Winarti, 2. Musniati tahun 2022 mengatakan BHD bisa diartikan sebagai upaya untuk menjaga hidup seseorang yang berada dalam risiko kehilangan nyawa. A 2025 AACENDIAKIA: Journal of Nursing. This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution 4. 0 International License . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. 0/). Intan Medi Ety et al. AACENDIKIA: Journal of Nursing Pentingnya penanganan yang cepat adalah untuk mencegah potensi risiko terhadap kelangsungan Tetapi kegawatdaruratan dapat terjadi pada siapa saja, kapan saja juga dimana saja bahkan jumlah keadaan darurat di Indonesia terus meninggi dari tahun ke tahun dengan rata-rata 000 (Takaendengan et al. , 2016 dalam Juniartha & Saputra, 2. Kegawatdaruratan ialah tindakan medis yang diperlukan oleh seseorang yang sedang mengalami peristiwa gawat darurat yang harus segera ditangani agar tidak membahayakan nyawa korban atau menyebabkan kecacatan bahkan kematian. Salah satu kegawatdaruratan yang paling sering terjadi adalah henti jantung. Henti jantung (Cardiac Arres. adalah suatu kejadian ketika organ jantung gagal mencapai curah jantung yang adekuat, dikarenakan terjadinya asystole . idak ada detak pada jantun. atau disritmia . ark et al. , 2020 dalam Kistan & Najman, 2. American Heart Association (AHA) mengatakan bahwa ada 2 juta orang meninggal dunia yang disebabkan oleh henti jantung. Henti jantung bisa disebabkan karena banyak hal. tahun 2020 World Health Organization (WHO) menyatakan cedera yang tidak disengaja masih menduduki penyebab utama kematian dan kecacatan pada remaja. Dengan nilai 72% dari total kematian pada remaja berusia 10-24 tahun dengan salah satu penyebab utama, yakni kecelakaan kendaraan bermotor . Disability Adjusted Life Years (DALY) menunjukan bahwa jumlah kematian dikarenakan cedera diperkirakan akan terjadi peningkatan dari 5,1 juta menjadi 8,4 juta . ,2% dari seluruh kematia. pada tahun 2020, serta sudah (Widiastuti & Adiputra, 2. Sebagian kejadian yang mengakibatkan henti jantung adalah kejadian yang terjadi di luar lingkungan tenaga medis atau biasa dikenal denganmOut Of Hospital Cardiac Arrest (OHCA). Emelia J tahun 2019 menyebutkan bahwa pelayanan gawat darurat di seluruh dunia sudah mengkaji salah satu masalah kesehatan utama di masyarakat, contohnya di Amerika tingkat kematian mencapai 7,5% dan 10,8% di Denmark (Chen et al. , 2. Kerusakan otak sangat dapat terjadi jika henti jantung tidak ditangani dalam 4-6 menit dan bila dalam 10 menit otak tidak mendapatkan pasokan oksigen, korban akan mengalami kematian yang irreversible (Shinta Arini Ayu et , 2. Maka sangat penting bagi individu atau kelompok yang menemukan korban henti jantung untuk memberikan bantuan dengan cepat. Namun jika penolong tidak memahami metode yang benar dalam memberikan pertolongan pertama, hal ini dapat berakibat fatal bagi korban, dan sering kali mendapatkan pertolongan pertama (Nur et al. dalam Watung, . Pendidikan adalah sebuah proses belajar yang disusun dengan rapi dan dinamis. Tujuannya adalah untuk mengubah perilaku dengan meningkatkan keterampilan, pengetahuan dan Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dameria dan Isabella tahun 2019 bahwa meningkatnya pengetahuan dan sikap siswa SMA pada program partisipasi dan manajemen BLS, serta penelitian dari Alfaridzi & Suparti tahun 2023 bahwa adanya pengaruh pemberian edukasi BHD berupa RJP dengan media E-booklet terhadap tingkat pengetahuan siswa PMR. Pendidikan kesehatan merupakan bagian integral dari berbagai upaya kesehatan . romosi, pencegahan, pengobatan, rehabilitas. yang bertujuan untuk mendorong perilaku hidup yang sehat (Fauzi et al. , 2. Konsep pendidikan kesehatan ini bisa dilaksanakn oleh siapa saja, dimana saja bahkan kapan saja. Hal ini lebih baik diberikan sejak usia muda guna terciptanya generasi muda yang kompeten demi mengetahui, pertolongan pre-hospital yaitu BHD. Sekolah Menengah Atas (SMA) adalah masa di mana seseorang mengalami pertumbuhan fisik, perkembangan psikologis serta memiliki kemampuan belajar yang cepat dan mudah. Pelajar SMA telah mencapai tingkat kematangan https://aacendikiajournal. com/ojs/index. php/Journal-of-Nursing | 48 Intan Medi Ety et al. yang cukup untuk diberikan pendidikan kesehatan tentang BHD untuk situasi kegawatdaruratan. Tetapi pengetahuan pelajar SMA tentang BHD masih sangat kurang karena separuh dari mereka mengatakan tidak tahu apa itu BHD. Salah satu organisasi di lingkungan sekolah ialah salah satunya Palang Merah Indonesia (PMR) (Alfaridzi & Suparti, 2. PMR merupakan organisasi sekolah yang sangat penting untuk kesehatan masyarakat di sekolah, karena itu PMR harus lebih memiliki keahlian yang terlatih dalam penanganan prehospital (Marsaid, 2. Hasil dari pengamatan yang dilakukan di SMAN 12 Kota Bekasi didapatkan 2 anggota mengetahui materi dasar BHD, 2 anggota mengetahui sebagian materi dasar BHD, dan sisanya yaitu 6 anggota belum mengetahui materi dasar BHD. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh edukasi BHD terhadap pengetahuan anggota palang merah remaja (PMR) di SMAN 12 Kota Bekasi, mengingat banyaknya anggota yang belum menguasai materi BHD. Metode Studi ini berjenis kuantitatif dan ditulis dengan menggunakan metode pre-eksperimental design dengan pendekatan studi kasus one group Pre-test design. Teknik pengambilan data pada studi kasus ini menggunakan non-probability sampling dengan total sampling. Subjek yang diambil adalah seluruh anggota Palang Merah Remaja (PMR) di SMAN 12 Kota Bekasi sebanyak 59 orang. Pengumpulan data dilakukan pada tanggal 2 November 2024 menggunakan kuesioner Pre-test dan Post-Test berupa Google Form. Instrument yang digunakan pada studi kasus ini yaitu berupa kuesioner pengetahuan Bantuan Hidup Dasar 49 | E-ISSN: 2963-6434 (BHD) yang disusun peneliti sesuai teori-teori yang sudah ditelaah serta dirangkum oleh penelti, kuesioner memakai skala guttman yang valid yaitu sebanyak 16 butir pertanyaan tentang pengetahuan BHD. Studi kasus ini dilaksanakan dalam 1 kali pertemuan dengan memberikan lembar kuesioner pengetahuan tentang BHD untuk menilai skor Pretest. Setelah itu dilakukan intervensi yaitu pemaparan materi meliputi definisi, tujuan, indikasi, tindakan, algoritma, dan video tentang BHD yang dilaksanakan selama 15 menit. Setelah itu mengulas kembali materi yang sudah disampaikan dengan melakukan sesi tanya jawab. Selanjutnya memberikan lembar kuesioner pengetahuan tentang BHD untuk menilai skor Posttest. Pengambilan data yang diterapkan dalam studi kasus ini dilakukan setelah mendapatkan persetujuan dari subyek studi yang berupa lembar persetujuan . nformed consen. sebagai bukti bersedia menjadi subyek. Persetujuan diberikan setelah pemberian penjelasan tentang tujuan dan manfaat intervensi kepada subyek studi. Prinsip yang diterapkan yaitu menghargai kebebasan . espect to autonom. , keadilan . romotion of justic. , bermanfaat . nsuring benefienc. , keamanan responden . nsuring malefienc. , dan kerahasiaan . onfidentiality concep. yang juga dijaga dalam studi kasus ini dengan tidak menuliskan identitas subyek studi dalam publikasi. Hasil Tabel 1, berdasarkan usia, didapat hasil dari 59 responden bahwa sebagian besar responden di penelitian ini ialah berusia 17-18 tahun yaitu 23 responden . 0%). Berdasarkan jenis kelamin, didapatkan jenis kelamin terbanyak ialah . %). Intan Medi Ety et al. AACENDIKIA: Journal of Nursing Tabel 1. Karateristik berdasarkan usia dan jenis kelamin responden anggota PMR di SMAN 12 Kota Bekasi Tahun 2024 . Variabel Kategori Usia Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Tabel 2. Distribusi frekuensi berdasarkan pengetahuan dan perilaku pencegahan luka diabetik pada penderita diabetes mellitus . Tabel 2. Distribusi frekuensi berdasarkan pengetahuan anggota PMR tentang bantuan hidup dasar sebelum diberikan Edukasi Pada PMR Di SMAN 12 Kota Bekasi Tahun 2024 . Tingkat Pengetahuan Mean Cukup Baik Berdasarkan pada tabel 2, menunjukan bahwa hasil penelitian terkait tingkat pengetahuan anggota PMR tentang Bantuan Hidup Dasar sebelum diberikan Edukasi Pada PMR Di SMAN 12 Kota Bekasi Tahun 2024, sebagian besar responden mempunyai tingkat pengetahuan cukup yakni 58 responden . 3%), dan didapatkan mean sebesar 1,02. Tabel 3. Distribusi frekuensi berdasarkan pengetahuan anggota PMR tentang bantuan hidup dasar setelah diberikan Edukasi Pada PMR Di SMAN 12 Kota Bekasi Tahun 2024 . Tingkat Pengetahuan Mean Cukup Baik Pada tabel 3, menunjukan bahwa hasil penelitian terkait tingkat pengetahuan anggota PMR tentang Bantuan Hidup Dasar sesudah diberikan Edukasi Pada PMR Di SMAN 12 Kota Bekasi Tahun 2024, sebagian besar responden mempunyai tingkat pengetahuan baik yakni 58 responden . 3%), dan didapatkan mean sebesar 1,98. Tabel 4. Pengaruh edukasi bantuan hidup dasar terhadap pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan edukasi pada anggota PMR di SMAN 12 Kota Bekasi Tahun 2024 Tingkat Pengetahuan Mean Std. Deviation P-Value Pre-test Post-Test Berdasarkan tabel 4, hasil analisis bivariat dengan uji Paired Sample T-test diperoleh Pengaruh Edukasi Bantuan Hidup Dasar Terhadap Pengetahuan sebelum dan sesudah diberi Edukasi dengan jumlah sampel 59 responden . Thitung -25. Ttabel 2. standar deviasi sebesar 2. 687 didapatkan nilai pvalue 0,000 . value<0,. Disimpulkan H0 https://aacendikiajournal. com/ojs/index. php/Journal-of-Nursing | 50 Intan Medi Ety et al. ditolak maknanya terdapat perbedaan tingkat pengetahuan yang signifikan antar sebelum serta sesudah pemberian Edukasi Bantuan Hidup Dasar. Dengan demikian, menunjukan adanya Pengaruh Edukasi Bantuan Hidup Dasar Terhadap Pengetahuan sebelum serta sesudah diberikan Edukasi Pada anggota PMR Di SMAN 12 Kota Bekasi Tahun 2024. Pembahasan Pengetahuan Anggota PMR Tentang Bantuan Hidup Dasar Sebelum Diberikan Edukasi Pada PMR Di SMAN 12 Kota Bekasi Tahun 2024 Hasil analisis menunjukan bahwa sebelum diberikan intervensi edukasi BHD, mayoritas responden berpengetahuan cukup sedangkan sesudah diberikan intervensi edukasi BHD memperlihatkan mayoritas responden memiliki pengetahuan baik. Sebanding dengan penelitian Fatmawati et al. , . dimana sebelum diberikan intervensi pengetahuan responden terhadap BHD masih dalam ketegori kurang, yakni definisi BHD . ,8%), teori danger . ,7%), teori meminta bantuan . all for hel. ,6%), teknik kompresi . ,4%), beserta teori Ausaat yang tepat guna menghentikan BHDAy . ,8%). Kurangnya dikarenakan bermacam faktor, salah satunya ialah minimnya interaksi yang efektif dengan pihak penyelenggara promosi kesehatan. Siswa/siswi yang kurang informasi atau belum pernah diberi pendidikan kesehatan mengenai BHD ialah salah satu faktor yang berpengaruh pada pengetahuan Sejalan dengan penelitian Muzaki . yaitu seseorang yang belum pernah menerima materi BHD, maka mereka kurang mengetahui pengetahuan mengenai BHD. Kurangnya pengetahuan responden terbukti ketika peneliti mengajukan pertanyaan mengenai pengertian bantuan hidup dasar, di mana sebagian besar responden belum mengetahuinya dan memberikan jawaban yang salah. Ini dikarenakan 51 | E-ISSN: 2963-6434 kurangnya informasi yang diterima dan kurangnya pembelajaran mengenai BHD. Diikuti oleh penelitian Susilo et al. , . menyatakan kurangnya pengetahuan disebabkan karena minimnya rasa ingin tahu, kurangnya informasi, serta belum adanya pembelajaran mengenai BHD. Pengetahuan Anggota PMR Tentang Bantuan Hidup Dasar Sesudah Diberikan Edukasi Pada PMR Di SMAN 12 Kota Bekasi Tahun 2024 Berdasarkan data hasil penelitian, sesudah BHD memperlihatkan mayoritas responden memiliki kenaikan pengetahuan pada BHD dengan kategori Peneliti menggunakan One Group Pre-TestPost-Test Design untuk mendapatkan hasil dari variabel tingkat pengetahuan pada responden sebelum dan sesudah diberikan intervensi. PreTest diberikan sebelum diberikan intervensi, lalu peneliti memberikan intervensi, dan pengambilan Post-Test yang dilakukan sesaat setelah diberikan intervensi pada jam juga hari yang sama. Sejalan dengan penelitian Nurbaiti . yang mengambil Post-Test sesaat setelah responden diberikan intervensi pada jam dan hari yang sama. Finthariasari et al. , . menyatakan faktor yang berpengaruh pada keberhasilan edukasi kesehatan ataupun pelatihan salah satunya ialah pemilihan metode yang tepat. Pemilihan metode bergantung pada tujuan, kemampuan pengajar, besaran kelompok sasaran, waktu pengajaran juga fasilitas yang ada. Metode dimanfaatkan di penelitian ini yakni ceramah mengenai materi BHD dengan media power point. Perilaku kemampuan individu dalam menerima informasi melalui panca indera terhadap objek yang disampaikan selama penyuluhan juga berpengaruh pada hasil yang signifikan. Pengindraan dapat menghasilkan pengetahuan tersebut dipengaruhi intensitas perhatian persepsi pada objek dan sebagian besar pengetahuan Intan Medi Ety et al. AACENDIKIA: Journal of Nursing manusia didapatnya melalui mata dan telinga (Susilo et al. , 2. Pengaruh Edukasi Bantuan Hidup Dasar Terhadap Pengetahuan Sebelum Dan Sesudah Diberikan Edukasi Pada Anggota PMR Di SMAN 12 Kota Bekasi Tahun 2024 Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, menunjukan bahwa terdapat pengaruh edukasi tentang bantuan hidup dasar (BHD) terhadap pengetahuan anggota PMR di SMAN 12 Kota Bekasi. Hal ini membuktikan metode edukasi dengan ceramah menggunakan power point dapat memberikan informasi serta dapat diterima dan disrepon baik oleh responden. Sependapat dengan Susilo et al. , . , dimana adanya pengaruh edukasi kesehatan dengan metode edukasi ceramah terhadap tingkat pengetahuan BHD. Hasil yang diperoleh yakni terjadinya peningkatan pengetahuan setelah diberikan intervensi, dengan rata-rata pengetahuan sebelum . beserta setelah . Penelitian Dameria et al. , . kepada 44 sampel memperlihatkan terdapat perbedaan yang signifikan antara pengetahuan tentang BHD sebelum dan sesudah diberikan edukasi kesehatan dengan metode ceramah menggunakan power point pada siswa SMA. Dengan desain variasi serta gambar yang mendukung meningkatkan pula daya tarik juga pemahaman materi saat penyuluhan metode ceramah (Kristin et al. , 2. Penelitian ini menyebutkan proses belajar dengan indra ganda . andang serta denga. , disertai animasi bergerak, gambar, juga penjelasan poin-poin penting lebih menarik bahkan dimengerti juga menjadi berpendidikan tinggi maupun rendah, terutama bila total responden lebih dari 15 orang karena adanya kontak langsung antara peneliti beserta responden memungkinkan peneliti menjelaskan materi dengan penekanan di bagian yang penting. Kesimpulan Berdasarkan kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik anggota PMR di SMAN 12 Kota Bekasi menunjukkan bahwa usia terbanyak berada pada kategori 17Ae18 tahun dan mayoritas berjenis kelamin perempuan. Sebelum diberikan edukasi tentang Bantuan Hidup Dasar, sebagian besar anggota PMR memiliki tingkat pengetahuan dalam kategori Namun setelah diberikan edukasi, tingkat pengetahuan meningkat dan paling tinggi berada pada kategori baik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh edukasi Bantuan Hidup Dasar terhadap peningkatan pengetahuan anggota PMR sebelum dan sesudah intervensi edukatif tersebut. Referensi