Redaktur PUTIH Jurnal Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah Ijin terbit Sk. Mudir MaAohad Aly No. 18/May-PAF/II/2018/SK Reviewers Abdul Kadir Riyadi Husein Aziz Mukhammad Zamzami Chafid Wahyudi Muhammad Kudhori Abdul Mukti Bisri Muhammad Faiq Editor-in-Chief Mochamad Abduloh Managing Editors Ainul Yaqin Editorial Board Imam Bashori Fathur Rozi Ahmad Syathori Mustaqim Nashiruddin Fathul Harits Abdul Hadi Abdullah Imam Nuddin Alamat Penyunting dan Surat Menyurat: Jl. Kedinding Lor 99 Surabaya P-ISSN: 2598-7607 E-ISSN: 2622-223X Diterbitkan: MAAoHAD ALY PONDOK PESANTREN ASSALAFI AL FITHRAH Surabaya Daftar Isi C Daftar Isi C LARANGAN PERAYAAN TAHUN BARU MASEHI DI KOTA BANDA ACEH: REGULASI. IMPLEMENTASI. DAN RESPON MASYARAKAT Muhammad Inayat. Ahmad Fauzi . C PSYCHOPSYCHIC PRACTICE OF SHALAWAT AL-HUSAINIYAH AT JAMA'AH AL-KHIDMAH Ahmad Faizal Basri . C PEMIKIRAN TEOLOGI ISLAM NUSANTARA: ANALISIS HERMENEUTIKA TERHADAP PEMIKIRAN KH. ALI MAKSUM DALAM KITAB HUJJAH AHLISUNNAH WAL JAMAAH Ibnu Farhan . C NEO-URBAN SUFISME DI KALANGAN REMAJA (Studi Kasus Terhadap Gerakan Sosial-Spiritual Ukhsafi Copler Community di Surabay. Ahmad Syatori . C ANALISIS KETERKAITAN MANUSIA DAN AGAMA DALAM KEHIDUPAN SOSIAL Mauly Lovika Anjani. Syaira Ananda. Siti Nur Annisa Yuizati Lubis. Pratiwi Soleha. Mhd. Fakhur Rozi . C MAKANAN HALAL PERSPEKTIF TAFSIR ISHARI IBNU AJIBAH Ziyad Hasan. Fakih Abdul Azis . Putih: Jurnal Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah Ae ISSN: 2598-7607 (P). 2622-223X (E) Vol. No. II (September 2. , 65-81. NEO-URBAN SUFISME DI KALANGAN REMAJA (Studi Kasus Terhadap Gerakan Sosial-Spiritual Ukhsafi Copler Community di Surabay. Ahmad Syatori Institut Al-Fithrah. Surabaya. Indonesia syatori72@gmail. Abstract The emergence of various expressions of religious activities that have grown in the midst of urban life can be interpreted as a form of increased religiosity in the new model movement. When viewed from the perspective of the current phenomenon of urban Sufism, it is clear that there are majelis dzikir . rayer gathering. developing in every corner of the city. These gatherings are activities organised by a group of young people and teenagers popularly known as the Ukhsafi Copler Community (UCC). The purpose of this study is to explore and reveal the socio-spiritual phenomena in the important role of UCC activities in relation to the problems of Neo-Urban Sufism among young people and teenagers in the city of Surabaya. The research method used in this study is qualitative research with a phenomenological approach, which is the science of the development of human consciousness and self-awareness. The technique used to determine the informants in this study was purposive, whereby the researcher selected various subjects based on specific reasons. This study found negative symptoms, attitudes and behaviours among young people and teenagers, including criminal acts and juvenile delinquency. The formulation of the problem regarding the origins and definition, characteristics of the UUC and its various activities was an important part of this study. The socio-spiritual movement in the activities carried out by the Ukhsafi Copler Community can have a very positive and significant impact, which is noted in the conclusions of this study. Keywords: Ukhsafi Copler Community (UCC). Neo-Urban Sufism. Teenagers Abstrak Munculnya berbagai macam ekspresi kegiatan keagamaan yang tumbuh di tengah-tengah kehidupan masyarakat perkotaan dapat dimaknai sebagai bentuk peningkatan religuitas gerakan model baru . ew model movemen. Jika dilihat dari sisi Fenomena urban sufisme saat ini maka nampak sekali adanya syiar-syiar majelis dzikir yang berkembang di setiap sudut perkotaan. Majelis-majelis tersebut merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh sekelompok perkumpulan anak-anak muda dan remaja yang populer dengan sebutan Ukhsafi Copler Community (UCC). Adapun tujuan dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mencoba mengeksplorasi dan mengungkap gejala sosial-spiritual dalam peranan penting kegiatan UCC terhadap problematika Neo-Urban Sufisme anak-anak muda dan remaja di kota Surabaya. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, yakni ilmu tentang perkembangan kesadaran dan pengenalan diri manusia. Adapun tehnik penentuan informan dalam penelitian ini menggunakan tehnik purposive, di mana peneliti memilih berbagai subjek berdasarkan alasan. Dari Putih: Jurnal Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah, published by MaAohad Aly Al Fithrah Surabaya. Takhassus. Tasawwuf wa Thoriqotuhu. Ahmad Syatori Neo-Urban Sufisme Di Kalangan Remaja A. penelitian ini ditemukan adanya suatu gejala, sikap dan perilaku negatif di lingkungan pergaulan anak-anak muda dan remaja, baik perbuatan kriminal maupun kenakalan remaja. Terkait rumusan masalah tentang asal-usul dan pengertian, karakteristik UUC dan berbagai kegiatannya menjadi bagian penting dalam penelitian ini. Pergerakan sosial-spiritual dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Ukhsafi Copler Community dapat memberikan dampak pengaruh yang sangat positif dan signifikan menjadi suatu catatan kesimpulan dalam penelitian ini. Kata kunci: Ukhsafi Copler Community (UCC). Neo Urban Sufisme. Anak Remaja. Pendahuluan Neo-urban sufisme di kalangan remaja merupakan fenomena baru, dimana kaum muda di perkotaan melakukan integrasi praktik-praktik sufisme tradisional dengan pola gaya hidup modern. Studi kasus terhadap kelompok perkumpulan Ukhsafi Copler Community di Surabaya menunjukkan bagaimana komunitas ini melakukan gerakan sosial-spiritual dan mengembangkannya, memadukan ajaran tasawuf dengan aktivitas keseharian remaja perkotaan. Melalui kegiatan-kegiatan majlis dzikir dan pengajian, kajian spiritual dan aksi sosial, komunitas ini berhasil menarik perhatian anak-anak muda dan kalangan remaja yang ingin menemukan kedalaman spiritual di tengah dinamika kehidupan urban. 2 Neo-urban sufisme ini memberikan alternatif baru bagi mereka untuk memahami dan mendalami spiritualitas keagamaan tanpa harus meninggalkan peradaban hidup modern yang terus berkembang, sehingga praktik ajaran sufisme sangat relevan dan cocok sekali dengan konteks zaman seperti saat sekarang ini. Dalam penelitian Andarwati, mengemukakan sebuah perbandingan antara praktik tasawuf di perkotaan dan pedesaan untuk menjelaskan konteks urban sufisme. Menurut penelitian Mubtadin di desa Sufila dan rekan-rekan Andarwati, urban sufisme memiliki peran penting dalam penanganan stres yang timbul akibat hiruk-pikuk kehidupan pada masyarakat perkotaan, sedangkan tasawuf pedesaan berpotensi dalam memperkokoh aspek keagamaan dalam masyarakat. 4 Seirama dengan pola ini, penelitian-penelitian tentang tasawuf di luar Indonesia juga mengikutinya. Bethany Walker dalam penelitiannya mengenai praktik sedekah publik di abad ke-19, menunjukkan adanya peran 1 Tholhatul Choir. Ahwan Fanani, dan Abdul Basith Junaidi. Islam dalam Berbagai Pembacaan Kontemporer (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. , 55 2 Patricia Crone. Medieval Islamic Political Thought . Odinburgh: Edinburgh University Press, 2. , 16. 3 Marshall G. Hodgson. The Expansion of Islam in the Middle Periods (Chicago: University of Chicago Press, 1. , 98. 4 Lilis Andarwati. AuSufisme Perkotaan dan Pedesaan di Era Modernisasi dan SekularisasiAy. Universum: Jurnal KeIslaman dan Kebudayaan 10, no. , 48. Jurnal Putih. Vol 10. No. 2, 2025 Ahmad Syatori Neo-Urban Sufisme Di Kalangan Remaja A. penting yan dimainkan oleh tasawuf pedesaan di Transyordania dalam memberikan dorongan terhadap perubahan sosial dan ekonomi. Fenomena Neo Urban Sufisme dapat dijumpai dari penyelenggaraan majelis-majlis dzikir yang ada di wilayah urban. Majelis dzikir merupakan pertemuan yang sengaja diadakan untuk mendekatkan diri dan mengingat Allah Swt. Dalam al-QurAoan maupun hadits, tidak memberikan batasan tertentu mengenai bacaan-bacaan yang harus dilantunkan dalam berdzikir. Dzikir dapat berupa istighfar, tasbih, tahmid, takbir, membaca ayat suci Al-QurAoan dan lain semacamya. Hal ini menegaskan bahwa dzikir dapat direalisasikan dengan bentuk bacaan-bacaan apapun, yang selagi hal tersebut dapat mendekatkan diri kepada Allah Swt. sebagaimana sholawat ataupun istighasah. Bagi kelompok atau masyarakat tertentu, adanya amalan dzikir dan istighosah ini bertujuan untuk memberi dorongan pada manusia menuju jalan kebaikan, sehingga mereka dapat menggapai kedekatan dengan Allah, sekaligus mendorong mereka untuk membangun keharmonisan antar sesama dengan hubungan yang lebih baik. Di Surabaya yang termasuk dari bagian perkotaan, ada suatu perkumpulan yang menamakan dirinya dengan sebutan AuUkhsafi Copler Community (UCC)Ay. Perkumpulan ini seringkali dijumpai pada penylenggaraan kegiatan istighasah dan manakiban, dan mayoritas anggota perkumpulan ini adalah kalangan anak-anak muda dan remaja yang sebelumnya mereka memiliki riwayat hidup dalam pergaulan bebas dan kenakalan remaja, seperti minumminuman keras, berjudi, tindak premanisme dan perilaku perbuatan-perbuatan negatif lainnya. Penelitian ini lebih lanjut akan mengelaborasi tentang Neo-urban sufisme di kalangan anak muda dan remaja dengan menggunakan studi kasus Ukhsafi Copler Community di Surabaya yang diprakarsai oleh Gus Muhammad Ain el-Yaqin el-Ishaqy, yang kerap dipanggil dengan Gus Faiq dan adiknya Gus Muhammad Nur el-Yaqin el Ishaqy, yang kerap dipanggil dengan Gus Nico. Keduanya adalah putra dari KH. Ahmad Asrori al-Ishaqy yang merupakan Mursyid Tarekat Qodiriyah waNaqsyabandiyah sekaligus sebagai penggagas organisasi perkumpulan Jamaah al-Khidmah. Jika Gus Faiq lebih fokus dan perhatian pada kelompok perkumpulan alumni Ukhsafi, berbeda halnya dengan Gus Nico . Di mana dakwah yang dijadikan objek sasaran adalah perkumpulan kalangan anak-anak muda dan remaja Ukhsafi Copler Community (UCC) yang memiliki kebiasaan dan trend 5 Bethany Walker. AuRural Sufism as Channels of Charity in Nineteenth-Century JordanAy, dalam Interpreting Welfare and Relief in the Middle East, ed. Nefissa Naguib and Inger Marie Okkenhaug (Oxford: Brill, 2. , 34. 6 Muhammad Yusuf. Makbulnya Zikir dan Doa (Jakarta: Bhuana Ilmu Populer, 2. , 21. 7 Wulandari. Nadiya Safitri, dan Tasmuji. AuUrban Sufisme di Surabaya: Studi Fenomenologis Peran dan Kontribusi Kelompok Copler Community di SurabayaAy. Journal of Ushuluddin and Islamic Thought 1, no. https://doi. org/10. 15642/juit. Jurnal Putih. Vol 10. No. 2, 2025 Ahmad Syatori Neo-Urban Sufisme Di Kalangan Remaja A. gaya hidup hedonistik yang cenderung mencari kesenangan dan kebebasan hidup. Tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk mencoba mengeksplorasi dan mengungkap berbagai gejala sosial-spiritual dalam peranan penting Ukhsafi Copler Community terhadap problematika anak-anak muda dan remaja di kota Surabaya Jawa Timur. Metode Penelitian Jenis dari penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Yang dimaksud dengan pendekatan fenomenologi tersebut adalah ilmu yang mengkaji perkembangan kesadaran dan pengenalan diri manusia. Pendekatan ini berfokus pada pengalaman subyektif manusia sebagai dasar pemahaman. 8 Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah Neo-Urban Sufisme di kalangan remaja dari kelompok perkumpulan Ukhsafi Copler Community. Pendekatan ini untuk membantu menghubungkan nilai-nilai sufistik dalam konteks kehidupan perkotaan yang dinamis. Penggunaan metode kualitatif dalam penelitian Neo-Urban Sufisme di kalangan remaja ini bertujuan agar dapat memahami berbagai makna dasar untuk bertindak. Makna subjektif pelaku ini akan dapat di pahami oleh sang aktor itu sendiri. 10 Aktor pelaku dalam konteks ini adalah kelompok Ukhsafi Copler Community. Sedangkan teknis dalam menentukan informan, ialah menggunakan teknik purposive. Teknik ini merupakan cara peneliti yang memilih berbagai subjek secara cenderung dengan berdasarkan alasan tertentu. Teknik ini memberikan kerutan dalam memilih informan yang relevan dengan tujuan penelitian. Informan yang dianggap relevan dalam proses penelitian ini secara langsung terhadap pihakpihak terkait secara struktural yakni Pengurus Ukhsafi Copler Community (UCC). Dalam hal ini, pengumpulan informasi dilakukan melalui observasi dan wawancara secara mendalam, serta diolah, yang kemudian dianalisis dengan teori yang sama. Setelah itu, melakuka penjelasan dan penafsiran terhadap data yang telah diverifikasi. Ini dilakukan secara sistematis berdasarkan kategori masingmasing, agar nantinya dapat dimasukkan ke tahap kesimpulan. 8 Lexy J. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2. , 10. 9 Azyumardi Azra. Islam Substantif (Bandung: Mizan, 2. , 48. 10 Burhan Bungin. Penelitian Kualitatif: Komunikasi. Ekonomi. Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya (Jakarta: Kencana, 2. , 35 11 Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: Alfabeta, 2. , 218. 12 Lexy J. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2. ,132. Jurnal Putih. Vol 10. No. 2, 2025 Ahmad Syatori Neo-Urban Sufisme Di Kalangan Remaja A. Sumber data yang penulis gunakan terdiri dari sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan informan, sementara sumber data sekunder meliputi arsip, dokumen, buku, dan jurnal yang mendukung topik penelitian. 13 Sumber data primer maupun sekunder dalam penelitian Neo-Urban Sufisme Terhadap Remaja ini dilakukan secara langsung kepada sumber informan yang relevan dengan fakta dan data yang ada. Dari penggunaan dua jenis sumber data tersebut di atas salah satunya akan berperan sebagai fungsi titik fokus data, yang kemudian pada akhirnya dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok sebagaimana Pertama, sumber data primer. Dalam konteks ini, yang dikehendaki dengan Ausumber data primerAy adalah sumber data yang secara langsung dapat dipergunakan di tempat/lokasi penelitian. Dalam hal ini, peneliti dalam mengumpulkan data yang diperlukan menggunakan wawancara secara langsung terhadap pihak-pihak yang bersangkutan. Sumber data primer adalah data yang diperoleh langsung dari narasumber atau objek penelitian. Dalam penelitian ini, data primer dikumpulkan melalui wawancara langsung dengan pihak-pihak yang terkait dengan fokus penelitian. Metode wawancara digunakan untuk menggali informasi mendalam secara langsung, memungkinkan peneliti memperoleh gambaran nyata dari situasi yang diteliti. Metode ini sering digunakan dalam penelitian sosial untuk mendapatkan data langsung dari responden. Kedua, sumber sekunder. Sumber data sekunder sendiri adalah sumber informasi yang biasanya dijadikan sebagai arsip. Semacam ini menunjukkan bahwa sumber sekunder memberikan informasi yang dapat berperan sebagai pembackup terhadap data primer. Dalam arti lain, sumber sekunder juga berarti sebagai sumber data yang dapat menghasilkan informasi tambahan, atau membuahkan suatu data yang dapat memperkuat data dasar yang ada setelah digabungkan antara Peneliti memperoleh adanya sumber data sekunder ini melalui bantuan dokumentais, jurnal-jurnal, maupun buku-buku, di mana sumber-sumber data tersebut memiliki hubungan yang berkaitan dengan topik yang sedang diangkat oleh peneliti pada kajian dalam karya ini. Kemudian, penelitian ini berupaya mengangkatnya ke suatu gambaran atau permukaan karakter mengenai situasi dan kondisi dari objek yang peneliti kaji. Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh dari arsip, dokumen, buku, jurnal, atau sumber tertulis lainnya yang relevan dengan topik penelitian. Data ini 13 Moh. Nazir. Metode Penelitian (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1. ,186-187. 14 Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif. Kualitatif dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2. , 73. Jurnal Putih. Vol 10. No. 2, 2025 Ahmad Syatori Neo-Urban Sufisme Di Kalangan Remaja A. biasanya digunakan untuk melengkapi atau memperkuat data primer yang telah diperoleh Berdasarkan data, jenis penelitian yang digunakan di sini ialah field reseacrh atau penelitian lapangan, dengan kata lain, jenis penelitian yang juga dikenal dengan sebutan studi kasus yang fokus penelitiannya terhadap area kecil tetapi mendalam. Wawancara dilakukan secara terstruktur maupun tidak terstruktur untuk menggali informasi dari responden. 16 Dalam penelitian ini, wawancara difokuskan pada teknik komunikasi verbal yang melibatkan tanya jawab antara peneliti dan Teknik ini dirancang secara sistematis untuk mencapai tujuan penelitian. Wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini ialah bersifat terstruktur dan mendalam. Selain itu, juga menggunakan teknik wawancara tidak terstruktur, yang merupakan wawancara yang lebih cenderung luwes dengan susunan kata ataupun pernyataan, yang dalam hal ini setiap pertanyaan yang hendak diajukan dapat dimodifikasi dan dirubah sesuai kondisi dan situasi ketika melakukan wawancara. Wawancara juga memerlukan keterampilan responden dalam merumuskan pikiran dan perasaan mereka secara jelas. Sedangkan, metode dalam menganalisis data ini dilakukan setelah data tersebut telah terkumpulkan secara lengkap dan memuaskan dari data-data penelitian yang ada di lapangan. Cara ini digunakan untuk memproses semua data yang terkumpul tersebut, hingga pada taraf di mana kebenaran data-data tersebut dapat disimpulkan, sekaligus dapat memberikan jawaban terhadap persoalan yang sedang angkat oleh peneliti. Artinya, setelah semua data terkumpul dengan lengkap, kemudian diproses secara sistematis untuk mendapatkan kesimpulan yang dapat menjawab pertanyaan penelitian. Hasil dan Pembahasan Dari hasil pembahasan dan analisis data, peneliti mendapati bahwa perkumpulan Ukhsafi Copler Community dengan mayoritas anggota yang didominasi oleh kalangan remaja dan anak muda, memiliki peran penting dan tujuan dalam menggiring mereka kembali menuju fitrah Hal ini secara teknisnya dilakukan melalui berbagai kegiatan religius yang diikuti bersama, seperti manaqib, majelis zikir, dan maulid. Selain itu, ada juga kegiatan yang non-religius menyertainya, semisal kamping ceria dan nongkrong bersama, sebagai citra neo-urban sufisme yang 15 Nasution. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif (Bandung: Tarsito, 2. , 52. 16 R. Bogdan dan SK. Biklen. Penelitian Kualitatif untuk Pendidikan (Jakarta: Indeks, 1. , 67. 17 Lexy J. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2. , 186. 18 Lexy J. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitaktif (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2. , 248. Jurnal Putih. Vol 10. No. 2, 2025 Ahmad Syatori Neo-Urban Sufisme Di Kalangan Remaja A. termuat dalam perkumpalan anak muda tersebut. Secara signifikan, partisipasi dalam kegiatankegiatan ini membuahkan sebuah perubahan positif ke dalam karakter dan perilaku para anggota Copler Community ini, yang kemudian menjadikan mereka lebih aktif dalam mengikuti kegiatankegiatan spiritual dan sosial. Bahkan, mereka pun menjadi lebih peduli terhadap sesama manusia dan Akhir-akhir ini, urban sufisme mulai dipahami sebuah pencarian solusi dalam kehidupan keagamaan, yang dalam hal ini seirama dengan kemunculan kelompok Ukhsafi Copler Community yang semakin marak dan viral menjadi sebuah narasi dan cerita menarik yang layak untuk diteliti lebih jauh dan mendalam. Pembahasan mengenai penelitian ini secara garis besar akan dipilah menjadi dua bagian utama, yaitu: problematika Sufisme pada kalangan remaja dan bagaimana aktivitas kegiatan serta peran Ukhsafi Copler Community (UCC) di Surabaya dapat memberikan pengaruh sekaligus dipengaruhi oleh perspektif Neo-Urban Sufisme. Neo-Urban Sufisme adalah fenomena yang menghubungkan spiritualitas sufisme dengan dinamika kehidupan modern di Dalam konteks ini. Ukhsafi Copler Community (UCC) menjadi representasi adaptasi sufisme di kalangan anak muda di Surabaya. UCC tidak hanya menyediakan ruang diskusi, tetapi juga menjadi wadah transformasi nilai-nilai sufisme dalam kehidupan sehari-hari. Fenomena ini mirip dengan apa yang dijelaskan oleh Nurcholish Madjid terkait relevansi sufisme dalam kehidupan Dengan demikian, maka penelitian ini akan berupaya untuk menunjukkan pemahaman yang lebih luas dan mendalam tentang bagaimana sufisme dapat berkembang dan beradaptasi dalam konteks perkotaan pada komunitas perkumpulan anak-anak muda dan remaja. Selain itu, peran apa yang sedang dimainkan oleh Ukhsafi Copler Community (UCC) dalam menanggapi dinamika kehidupan perkotaan di Surabaya. Maka lebih lanjut penulis akan mengkajinya dalam pembahasan Asal-Usul Ukhsafi Copler Community Lahirnya Ukhsafi Copler Community berawal dari suatu perkumpulan biasa hingga menjadi perkumpulan yang luar biasa, terbentuk oleh situasi dan kondisi secara alami yang memunculkan adanya kelompok perkumpulan anak-anak muda dan remaja hingga membentuk suatu komunitas yang disebut dengan Ukhsafi Copler Community (UCC). Bermula dari sebuah perkumpulan informal anak-anak muda dan remaja di Surabaya. Melalui interaksi yang intens, kelompok ini 19 Nurcholish Madjid. Islam. Doktrin dan Peradaban (Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1. , 126. Jurnal Putih. Vol 10. No. 2, 2025 Ahmad Syatori Neo-Urban Sufisme Di Kalangan Remaja A. kemudian tumbuh dan berkembang menjadi sebuah komunitas baru yang fokus pada praktik kegiatan kegiatan sosial-spiritual berbasis sufisme. Dalam perkembangannya. UCC tidak hanya menjadi wadah perbincangan diskusi, tetapi juga menginisiasi terhadap suatu kegiatan sosial yang berdampak pada komunitas sekitar. Terbentuknya komunitas seperti UCC ini mencerminkan pola serupa yang dijelaskan oleh Alwi Shihab tentang munculnya gerakan sufisme baru di perkotaan. Dalam dunia Akademik, para Akademisi termasuk mahasiswa banyak sekali yang tertarik untuk melakukan penelitian terhadap fenomena perkumpulan komunitas ini, baik dari kalangan internal pondok pesantren maupun eksternal luar pesantren. Akan tetapi tidak sedikit pula dari hasil penelitian tersebut belum mengungkap secara utuh dan menyeluruh terhadap fakta dan data secara Sehingga hal ini menjadi motivasi dan dorongan penulis untuk melakukan verifikasi dan klarifikasi lebih lanjut terhadap penelitian-penelitian sebelumnya agar tidak menimbulkan suatu kerancuan yang berkelanjutan, baik dari sisi fakta maupun data yang sebenarnya, khususnya pada bagian penelusuran sejarah asal-usul munculnya Ukhsafi Copler Community secara historis. Dapat dimaklumi dan penting untuk diketahui, bahwa segala bentuk informasi yang diperoleh dan diterima kemungkinan besar hanya sebatas informasi umum dan analisis pribadi peneliti. Sehingga data yang diperoleh dan dikumpulkan belum sepenuhnya valid secara utuh. Karena itu perlu untuk dilakukan versifikasi ulang dalam penelitian ini. Berangkat dan berawal dari persoalan yang ada, penulis berusaha mencoba untuk melakukan penelitian baru sekaligus untuk meluruskan dan mengidentifikasi permasalahan lebih detail terhadap penelitian-penelitian sebelumnya. Sebagai contoh di antara data-data yang tertulis dalam penelitian sebelumnya lebih fokus menitik beratkan pada fenomena munculnya perkumpulan Copler Community saja, padahal kemunculannya tidak lepas dari perkumpulan Ukhsafi yang lebih dahulu muncul menjadi cikal bakal munculnya Copler Community. Dimana awal mula yang menjadi embrio perkumpulan anak-anak muda dan remaja adalah lulusan atau mutakhorijin alumni Pondok pesantren Al Fithrah. Mereka berinisiasi untuk membentuk ikatan alumni lulusan Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah dengan berbagai nama sesuai daerahnya masing-masing. Muncul di antaranya 20 Alwi Shihab. Membendung Arus: Respon Gerakan Muhammadiyah terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia (Bandung: Mizan, 1. , 212 21 Hasil Tabayun dan diskursus bersama pengurus Ukhsafi Copler Community (UCC) dalam perbincangan alumni Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah sebagai pelaku sejarah yang terlibat langsung dalam terbentuknya perkumpulan kelompok UCC Jurnal Putih. Vol 10. No. 2, 2025 Ahmad Syatori Neo-Urban Sufisme Di Kalangan Remaja A. IKASAS (Ikatan Santri Al Fithrah Surabaya. IKSAM (Ikatan Santri Al Fithrah Madur. ASSAFINAH (Asosiasi Santri Al Fithrah Jawa Tenga. dan lain sebagainya. Munculnya bentuk nama-nama perkumpulan yang diinisiasi oleh para alumni pondok pesantren Assalafi Al Fithrah ini cenderung dengan mengatasnamakan daerah masing-masing, yang secara panatisme akan menimbulkan persoalan baru yang harus segera diantisipasi sedini mungkin agar tidak terjadi perpecahan di antara alumni pada masa yang akan datang, sekaligus agar menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan secara integral. Maka sampailah isu ini ke keluarga Ndalem, dalam hal ini Gus Faiq merespon perihal tersebut secara arif dan bijaksana sekaligus membina mereka dalam wadah ikatan persaudaraan santri Al Fithrah dengan nama Ukhsafi (Ukhuwwah Santri Al Fithra. Surabaya. Dari proses jalannya peristiwa ini selanjutnya semua nama-nama perkumpulan alumni tersebut di atas dilebur menjadi satu kesatuan dalam ikatan persaudaraan santri Al Fithrah (Ukhsaf. , baik dari kalangan santri alumni maupun santri kalong yang sekolah diniyah di Pondok Pesantren secara PP . ulang-perg. di waktu malam. Inilah bagian penting yang dirasa belum dieksplorasi secara uutuhdan detail dalam penelitian-penelitian sebelumnya. Sehingga menurut penulis perlu diungkap dan disempurnakan lagi sebagai penelitian baru dalam Neo Urban Sufisme di kalangan anak muda dan remaja Ukhsafi Copler Community (UCC) di Surabaya. Pada saat yang sama, perkumpulan Ukhsafi ini dalam kesehariannya juga biasa berkumpul dan bergaul dengan kalangan anak-anak muda dan remaja dari kumpulan kelompok Copler Community di bawah binaan Gus Nico . dik kandung dari Gus Fai. Sehingga kemudian kedua kelompok perkumpulan ini dengan sendirinya dapat menyatu menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam jaringan komunitas Ukhsafi Copler Community (UCC). Maka, dengan bergabung dan bersatunya dua entitas kelompok tersebut perkumpulan ini semakin tumbuh dan berkembang luas di tengah-tengah masyarakat khususnya perkotaan. Seiring dengan perkembangan waktu, ruang dan gerak perkumpulan ini juga semakin intens dalam melakukan interaksi sosial dengan masyarakat luas, bukan Surabaya, akan tetapi merambah luas ke sejumlah kota lainnya di seluruh daerah dan wilayah provinsi Jawa Timur. Jawa Tengah dan Jawa Barat. Madura hingga manca negara seperti Singapura dan Malaysia. 22 M. Abdullah. Wawancara langsung dengan informan sebagai bagian dari salah satu Mutakhorijin lulusan Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Selasa 22 Oktober 2024 bertepatan dengan memperingati Hari Santri Nasional, di Kantor Sekretariat MaAohad Aly-MaAohad JamiAoah Al Fithrah Surabaya. Jurnal Putih. Vol 10. No. 2, 2025 Ahmad Syatori Neo-Urban Sufisme Di Kalangan Remaja A. Arti Neo-Urban Sufisme Ukhsafi Copler Community Makna "Neo" pada Neo-urban sufisme merujuk pada pembaharuan atau penyesuaian praktik-praktik ajaran sufisme agar relevan dengan konteks kehidupan modern, khususnya di lingkungan perkotaan. Sufisme yang secara tradisional berakar pada praktik kontemplatif dan asketis, dalam bentuk "neo" ini diadaptasi untuk menjawab kebutuhan spiritual generasi muda yang hidup di tengah dinamika urbanisasi dan teknologi. 23 "Neo" menunjukkan adanya elemen modernisasi yang menyatukan nilai-nilai spiritual tasawuf dengan tantangan dan gaya hidup perkotaan, tanpa menghilangkan inti ajaran sufisme tentang pencarian kedekatan dengan Tuhan dan pengembangan diri secara batiniah. Ini adalah bentuk sufisme yang lebih inklusif dan terbuka, yang memberikan ruang bagi ekspresi spiritualitas di era globalisasi, tanpa meninggalkan akar ajaran utamanya. Dalam proses pelaksanaan penelitian, berbagai informasi yang disampaikan oleh beberapa narasumber memberikan penjelasan-penjelasan secara lengkap dan detail dapat menjadi bahan kajian dan referensi dalam penelitian ini. Peneliti dalam hal ini mencatat bahwa kesabaran dan ketekunan yang tinggi tentu sangat diperlukan dalam menumbuhkan konsistensi dalam mengikuti berbagai kegiatan, terlebih lagi dalam berpartisipasi ke dalam majelis dzikir. Semacam ini juga sangat diperlukan bagi para guru dalam mengajarkan murid-muridnya. Demikian sejalan dengan karakteristik perkumpulan Ukhsafi Copler Community yang telah dijelaskan di atas. Hal serupa dijelaskan oleh Alwi Shihab, bahwa kunci keberhasilan sufisme modern terletak pada pendekatan inklusif yang dapat diterima oleh generasi muda, terutama mereka yang minim pendidikan agama. Mengajak anak-anak muda dan remaja untuk bergabung dalam majelis dzikir bersama para guru memang tidak mudah dan penuh tantangan, terutama jika mereka memiliki latar belakang pendidikan agama yang minim dan terbatas. Namun dengan cara pendekatan hikmah lebih bisa diterima dengan baik. Hikmah sebagai pendekatan telah dijelaskan dalam konteks dakwah oleh Harun Nasution, yang menekankan pentingnya penyesuaian metode dakwah dengan konteks Ukhsafi Copler Community merupakan kelompok perkumpulan jamaah yang kegiatannya berupa dakwah majelis dzikir dan maulidurrasul Saw. Kegiatan ini tidak hanya sebagai sarana 23 H. Ahmad. Sufisme Dalam Larangan (Jakarta: Pustaka Islam, 2. 24 WM. Abdul Hadi. Tasawuf Yang Hidup (Yogyakarta: Bentang Pustaka, 2. , 67-69. 25 A. Shihab. Islam Inklusif: Menuju Dialog Teologi (Bandung: Mizan, 1. , 89-91. 26 H. Nasution. Pembaharuan Dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1. , 56-58. Jurnal Putih. Vol 10. No. 2, 2025 Ahmad Syatori Neo-Urban Sufisme Di Kalangan Remaja A. mendekatkan diri kepada Allah SWT tetapi juga sebagai media pemantapan identitas spiritual di tengah masyarakat perkotaan. 27 Kegiatan majlis ini sebagai bentuk praktik spiritual yang memiliki tujuan untuk menggapai kedekatan diri kepada Allah Swt. sebagaimana yang telah ditradisikan oleh para sufi. Tentunya, di dalam perkumpulan ini secara otomatis mengikuti ajaran tarekat yang dipimpin oleh seorang mursyid yakni. KH. Ahmad Asrori al Ishaqi yaitu Tarekat Qadiriyah waNaqshabandiyah. KH. Asrori dulu dibaiat oleh ayahnya sendiri (KH. Muhammad Usman Al Ishaq. Tarekat Qadiriyah wa-Naqshabandiyah yang diperkenalkan oleh KH. Muhammad Utsman al-Ishaqi . 1984 M) berpusat di Pondok Pesantren Darul Ubudiyah Raudhatul MutaAoalimin. Jatipurwo Surabaya. KH. Muhammad Utsman membaiat kepada putranya. KH. Achmad Asrori AlIshaqi pada hari Senin Pon, tanggal 17 Ramadan 1398 H atau 21 Agustus 1978 M. Pembaiatan itu dilaksanakan di Gresik, bertepatan dengan haul Kiai Romly Tamim . uru Kiai Utsma. , yang kemudian diiringi dengan berziarah ke makam KH. Muhammad Romly Tamim. Tindakan ini merupakan semacam laporan dari KH. Muhammad Utsman kepada gurunya mengenai penunjukan KH. Achmad Asrori sebagai penerus mursyid tarekat melalui dirinya. Historis ini menjelaskan perihal pengangkatan KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqi dalam melanjutkan kemursyidan Tarekat Qadiriyah wa-Naqshabandiyah dari ayahnya. KH. Muhammad Utsman Al-Ishaqi. Catatan tentang perjalanan sejarah tarekat ini menunjukkan adanya suatu kesinambungan tradisi spiritual dengan melakukan pendekatan yang kontekstual pada generasi penerus. Dalam perkembangannya Ukhsafi Copler Community dijuluki sebagai AuOase DuniaAy, ini menunjukkan bahwa pertumbuhan kelompok perkumpulan UCC berkembang sangat cepat dan Sebagaimana organisasi lain. Ukhsafi Copler Community juga memiliki visi dan misi yang jelas dalam dakwahnya. Bahkan, tidak ada yang membedakan antara visi dan misi dakwah yang dilakukan oleh mereka dengan organisasi dakwah lainnya, yakni memberikan penekanan terhadap pentingnya amar makruf nahi mungkar serta kesadaran anak muda terhadap agama dan ketaatan kepada Allah Swt. sebagaimana dijelaskan oleh Azyumardi Azra dalam konteks Islam Nusantara yang progresif dan inklusif. 27 A. Zamhari. AuDinamika Majelis Dzikir di Era ModernAy (Surabaya: UIN Press, 2. , 12-15. 28 Ikrimah. Sejarah Perkembangan Islam (Jakarta: Pustaka Ilmu, 2. , 50. Mujib. Biografi KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqi (Surabaya: Darul Ulum, 1. , 47-50. 30 A. Azra. Islam Nusantara: Dinamika dan Tantangan (Jakarta: Gramedia, 2. , 102-105. Jurnal Putih. Vol 10. No. 2, 2025 Ahmad Syatori Neo-Urban Sufisme Di Kalangan Remaja A. Organisasi ini memiliki misi yang senantiasa mendampingi dan mengajak anak-anak muda dan remaja dalam ikut serta berpartisipasi pada pelaksanaan majelis-majelis dzikir sesuai dengan keahliannya masing-masing. Semisal, ada yang bertugas sebagai penjaga parkir, sebagai juru memasak, dekorasi dan lain sebagainya. Secara garis besar, organisasi ini menggiring kaum muda untuk kembali menuju fitrahnya manusia. Dalam organisasi ini, kebersamaan dalam saling tolongmenolong di antara sesama anggota maupun non-anggota telah menjadi sebuah praktek yang mentradisi untuk dilakukan. Ajaran sang guru yang berupa sikap ramah, simpati dan empati telah tertanamkan dan menjadi suatu keteladanan bagi para pengikut organisasi ini. Dari aspek visi dan misi, yang ditekankan oleh organisasi ini tidak hanya tentang sikap baik kepada Allah dan Rasul-Nya, para guru dan orang tua, namun juga kepada sesama manusia, sebagaimana yang telah diprinsipkan dengan AyHablun Minallah dan Hablun MinannasAy. Bagi umat Islam terutama generasi kaum muda, sikap ini tentunya menjadi penting untuk ditanamkan. Visi dan misi dalam organisasi ini memiliki inti yang merujuk pada pernyataan AuKhayr al-nas AnfaAouhum LinnasAy. Artinya, ialah sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat terhadap manusia selainnya. Sebagaimana organisasi yang lain. Ukhsafi Copler Community dibangun dengan struktur yang terorganisir, namun modelnya mirip dengan semacam keluarga. Pasalnya, organisasi ini di setiap wilayahnya memiliki satu ketua atau kepala. Menariknya, pendekatan yang digunakan oleh Ukhsafi Copler Community ini sekaligus yang membedakannya dengan organisasi lain ialah pendekatan yang mengacuh pada nilai-nilai dan pendidikan dari pondok Al-Fithrah itu sendiri, yaitu pondok yang didirikan oleh KH. Achmad Asrori. Sebutan lain seringkali disematkan untuk organisasi ini ialah sebagai AukakakAy. Sebab karakteristiknya yang mementingkan kepedulian dan pemberian arahan kepada para anggotanya yang lebih junior, yang tak lain merupakan anggota Ukhsafi Copler Community itu sendiri. Semua anggota yang telah bergabung ke dalam komunitas tersebut sangat ditekankan adanya dedikasi dan kedisiplinan dalam rangka meningkatkan kapabilitas dan kualitas di Setelah bergabung dalam organisasi ini, mereka mengalami perubahan menjadi individu yang memiliki energi positif, aktif dalam setiap kegiatan-kegiatan majelis dzikir, manakib, maulid dan lain lain. Karakteristik Ukhsafi Copler Community dan Jamaah Orong-Orong Awal sebelum didirikannya Jamaah al-Khidmah oleh KH. Ahmad Asrori Al Ishaqy dikenal dengan perkumpulan Rock n Roll, yang kemudian bertransformasi menjadi sebutan Jamaah OrongOrong. Ini dikarenakan sejatinya mereka sedang mencari cahaya kebenaran dalam meninggalkan dan Jurnal Putih. Vol 10. No. 2, 2025 Ahmad Syatori Neo-Urban Sufisme Di Kalangan Remaja A. menjauhi sikap perilaku yang negatif. Setelah itu, berubah lagi menjadi Al Khidmah, dan hingga saat ini dikenal dengan Jamaah al-Khidmah, yang artinya menjadi pelayan bagi umat, para guru, orang tua dan para sepuh pendahulu semua. Sementara itu perkumpulan Ukhsafi Copler Community (UCC) yang dibentuk oleh Gus Faiq dan Gus Nico, putra ke 3 dan ke 4 dari KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy (Pendiri Jamaah Al Khidma. juga memiliki karakteristik yang hampir mirip dengan kelompok perkumpulan Jamaah Orong-Orong dalam hal proses pencarian jati diri mereka untuk menjadi pribadi-pribadi yang baik dari sebelumnya. Di mana para pengikutnya merupakan anak-anak muda dan remaja yang memiliki kebiasaan negatif. Namun setelah mereka masuk dan bergabung dengan perkumpulan Ukhsafi Copler Community lambat laun mereka mengalami perubahan-perubahan yang positif, baik dalam hal hubungan pergaulan sosial dengan masyarakat maupun dalam hubungannya dengan kegiatan-kegiatan ritual keagamaan . ajelis dziki. yang diselenggarakan oleh Ukhsafi Copler Community. Sehingga pada waktunya, seiring dengan perkembangan masa dan usia mereka ini akan menjadi bagian dari kader kader generasi penerus Jamaah al-Khidmah. Dari dua karakter perkumpulan ini dapat diambil suatu persamaan yang menjadi benang merah di antara keduanya, sekaligus menghubungkan keduanya dalam perkumpulan inti yaitu Jamaah Al Khidmah. Berdirinya perkumpulan Ukhsafi Copler Community tidak lepas dari sosok Gus Faiq dan Gus Nico sebagai pencetus kelompok perkumpulan ini. Sebelum keduanya menjadi pigur utama bagi perkumpulan ini, mereka berdua pernah mengenyam pendidikan formal di SMP Alkhairiyah Surabaya. 32 Gus Nico sempat nyantri di Pondok Pesantren Al-Islahiyyah Kemayan Kediri di bawah bimbingan Kiai Najib Zamzami, meskipun hanya beberapa bulan saja. Sementara Gus Faiq sempat nyantri di tempatnya Habib Umar bin Hamid al-Jilani (Maka. Ketika menginjak usia dewasa. Gus Nico juga pernah ditawari untuk belajar ke Makah, akan tetapi ayah beliau tidak mengizinkannya, karena tahu ia memiliki keistimewaan tersendiri. Organisasi ini memiliki misi yang senantiasa mendampingi dan mengajak anak-anak muda dan remaja dalam ikut serta berpartisipasi pada pelaksanaan majelis-majelis dzikir sesuai dengan keahlian bidangnya masing-masing. Dalam sejarahnya, komunitas ini lahir di lingkungan Pondok Pesantren Assalafi Al-Fithrah jln. Kedinding Lor 99 Surabaya, yaitu sekitar pada tahun 2007 M. Awalnya hanya diikuti oleh beberapa anak saja, kemudian terus berkembang dengan pesat hingga 31 M. Taufiqur Rahman. AuStrategi Dakwah Copler Community pada Anak-Anak Muda di Wilayah Kecamatan Waru Kabupaten SidoarjoAy (Skripsi. UIN Sunan Ampel. Surabaya, 2. 32 Agus Farid. Wawancara. Surabaya, 25 Juni 2023. Jurnal Putih. Vol 10. No. 2, 2025 Ahmad Syatori Neo-Urban Sufisme Di Kalangan Remaja A. Sebutan AuCoplerAy memiliki beragam makna yang terkandung, termasuk Aukomunitas podo telerAy, yang mencerminkan keadaan seseorang yang mabuk akibat dzikir. Di antara aktivitas yang dilakukan komunitas ini adalah istighatsah, manaqib, maulid dan lainnya yang sering dilakukan hhingga selesai larut malam. Gus Nico mampu mengubah pola pikir anak-anak muda dan remaja yang awalnya cenderung berprilaku negatif menjadi positif, dengan senantiasa memberikan arahan dan nimbingan dalam kegiatan-kegiatan yang sangat memberikan manfaat bagi mereka, juga efeknya berdampak positif pada masyarakat luas khususnya kota Surabaya. Sehingga perkumpulan Ukhsafi Copler Community semakin dikenal luas di tengah-tengah masyarakat secara umum. Pasca terbentuknya Copler pada 23 Mei 2009. Gus Nico bersama Gus Faiq secara bertahap mengarahkan para anggotanya untuk mengikuti kegiatan-kegiatan spiritual. Perlahan tapi pasti, mereka memulainya dengan mengadakan acara konser musik dengan maksud dan tujuan agar dapat menarik minat anak-anak muda yang pada umumnya suka musik, kemudian secara bertahap memperkenalkan acara-acara praktik spiritual keagamaan seperti kegiatan-kegiatan majelis zikir dan Sehingga upaya ini dapat menciptakan suatu perkumpulan komunitas yang ramah lingkungan dan menjadi daya tarik tersendiri bagi kalangan anak muda lainnya untuk serta berpartisipasi dalam kegiatan positif. Kegiatan-Kegiatan Ukhsafi Copler Community Ukhsafi Copler Community sebagai perkumpulan keagamaan memiliki agenda kegiatan yang senantiasa diikuti oleh pengikut anggota aktif dan lainnya. Di mana komunitas ini sangat menekankan kedisiplinan dan dedikasi guna menggapai kualitas mental yang handal. Untuk anggota muda abangan, keikutsertaan diri dalam kegiatan masih bersifat ajakan atau anjuran sebagai bentuk pendekatan awal. Agenda utama yang menjadi prioritas dalam kegiatan Ukhsafi Copler Community berfokus pada acara-acara majelis zikir. Secara umum kegiatan Ukhsafi Copler Community dapat terbagi menjadi tiga skala kegiatan, yaitu kegiatan di setiap minggu ketiga . kala keci. , kegiatan di setiap tiga bulan sekali . kala sedan. , dan kegiatan yang bertepatan dengan hari jadi . kala besa. Pelaksanaan ketiga kegiatan di atas dilakukan secara periodik dan berkelanjutan. Terkadang, diselingi di dalamnya dengan kegiatan yang akrab disukai oleh kalangan anak muda masa kini, semisal nongkrong bersama yang tidak lepas dari maksud dan tujuan serta hikmah dibalik semuanya. 33 Tsania Fani Ikrimah. AuSejarah Perkembangan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di Pondok Pesantren Assalafi Al- Fithrah Kedinding Surabaya Tahun 1985-2018Ay (Skripsi. UIN Sunan Ampel. Surabaya, 2. , 50. Jurnal Putih. Vol 10. No. 2, 2025 Ahmad Syatori Neo-Urban Sufisme Di Kalangan Remaja A. Langkah ini dilakukan secara manusiawi untuk membimbing anggota anggota baru yang masih labil dan merasa jenuh dan bosan. Namun, hanya anggota tertentu yang ditunjuk secara langsung oleh Gus Nico yang bisa mengikuti kegiatan selingan semacam ini. Majelis zikir yang diadakan oleh Ukhsafi Copler Community di samping bertujuan sebagai pendekatan emosional sekaligus sebagai wadah pembinaan dan pembentukan mental-spiritual bagi para anggotanya. Kesimpulan Dari hasil analisis pembahasan yang telah penulis jabarkan di atas, secara garis besar penelitian ini dapat dibagi menjadi dua bagian utama, yaitu: problematika Sufisme pada kalangan remaja dan bagaimana aktivitas kegiatan serta peran Ukhsafi Copler Community (UCC) di kots Surabaya. Dan secara ringkas dapat disimpulkan menjadi empat kesimpulan, sebagaimana berikut: Pertama. Neo-Urban Sufisme adalah suatu fenomena yang menghubungkan antara spiritualitas sufisme dengan dinamika kehidupan modern di perkotaan. Dalam konteks ini, kelompok perkumpulan Ukhsafi Copler Community (UCC) menjadi representasi adaptasi sufisme di kalangan anak muda dan remaja di lingkungan kora Surabaya. UCC tidak hanya sebatas perkumpulan biasa, akan tetapi juga sekaligus sebagai wadah transformasi nilai-nilai sufisme bagi kehidupan anak muda dan remaja sehari-hari. Maka penelitian ini dapat memberikan pemahaman yang lebih luas dan mendalam tentang bagaimana sufisme dapat menyesuaikan diri terhadap konteks kehidupan perkotaan serta dapat merespons dinamika kehidupan modern yang terus berkembang. Kedua. Ukhsafi Copler Community terbentuk oleh situasi dan kondisi secara alami yang memunculkan adanya kelompok perkumpulan anak-anak muda dan remaja hingga membentuk menjadi komunitas yang disebut dengan Ukhsafi Copler Community (UCC). Bermula dari sebuah perkumpulan informal anak-anak muda dan remaja di Surabaya. Melalui interaksi yang intens, kelompok ini kemudian tumbuh dan berkembang menjadi sebuah komunitas baru yang fokus pada praktik kegiatan-kegiatan sosial-spiritual berbasis sufisme. Ketiga. Ukhsafi Copler Community (UCC) memiliki karakteristik yang mirip dengan kelompok perkumpulan Jamaah Orong-Orong dalam hal proses pencarian jati diri mereka untuk menjadi pribadi-pribadi yang baik dari sebelumnya. Di mana para pengikutnya merupakan anak-anak muda dan remaja yang memiliki kebiasaan negatif. Namun setelah mereka masuk dan bergabung dengan perkumpulan Ukhsafi Copler Community lambat laun mereka mengalami perubahanperubahan yang positif, baik dalam hal hubungan pergaulan sosial dengan masyarakat maupun dalam hubungannya dengan kegiatan kegiatan ritual keagamaan . ajelis dziki. yang diselenggarakan oleh Jurnal Putih. Vol 10. No. 2, 2025 Neo-Urban Sufisme Di Kalangan Remaja A. Ahmad Syatori Ukhsafi Copler Community. Sehingga pada waktunya, seiring dengan perkembangan masa dan usia mereka ini akan menjadi bagian dari kader-kader generasi penerus Jamaah al-Khidmah. Keempat. Ukhsafi Copler Community sebagai perkumpulan keagamaan memiliki agenda kegiatan yang senantiasa diikuti oleh pengikut anggota aktif dan lainnya. Di mana komunitas ini sangat menekankan kedisiplinan dan dedikasi guna menggapai kualitas mental yang handal. Untuk anggota muda abangan, keikutsertaan diri dalam kegiatan masih bersifat ajakan atau anjuran sebagai bentuk pendekatan awal. Agenda utama yang menjadi prioritas dalam kegiatan Ukhsafi Copler Community berfokus pada acara-acara majelis zikir. Daftar Pustaka