Academy of Education Journal Vol. No. Januari 2024. Page: 448-455 ISSN: 1907-2341 (Prin. ISSN: 2685-4031 (Onlin. Pandangan Terhadap Pendidikan Seksual Pada Remaja: Literature Review Suramtoa,1. Budhi Bawonob,2. Partono Nyana Suryanadic,3 abc STIAB Smaratungga. Kaligentongi. Boyolali. Indonesia *Email Corresponding: heryanto@gmail. INFO ARTIKEL Sejarah Artikel: Diterima: 10 Oktober 2023 Direvisi: 15 November 2023 Disetujui: 25 Desember 2023 Tersedia Daring: 1 Januari 2024 Kata Kunci: Pendidikan Seks 1 Persepsi 2 Remaja 3 Keywords: Sex Education 1 Perseption 2 Teenagers 3 ABSTRAK Pendidikan seks memiliki signifikansi yang besar bagi remaja sejak usia dini, mengingat kerentanan mereka terhadap pengetahuan yang tidak akurat tentang seks. Tujuan disertasi ini mencakup dua aspek utama, yaitu . eksplorasi persepsi remaja terhadap pendidikan seks dan . identifikasi sumber-sumber yang mereka andalkan untuk memperoleh informasi seksual. Selain itu, pendidikan seks memainkan peran kunci dalam memberikan pemahaman kepada remaja tentang perilaku seksual berisiko, memungkinkan mereka untuk menghindari praktik-praktik Penelitian ini menggunakan metodologi tinjauan literatur untuk menyelidiki berbagai informasi terkait pendidikan seks remaja. Pertama, pemahaman terhadap persepsi remaja terhadap pendidikan seks dianggap esensial dan bermanfaat untuk mengatasi tantangan perkembangan selama fase transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Masa remaja menandai periode perubahan signifikan dalam aspek biologis, kognitif, dan sosio-emosional, menjadikan pendidikan seks sebagai sarana yang efektif untuk mendukung mereka. Kedua, mayoritas remaja cenderung mencari informasi seksual dari media massa, termasuk surat kabar, majalah, buku, televisi, dan gadget, bersama teman sebaya. Media massa, bersama dengan interaksi sosial di antara teman sebaya, menjadi sumber utama pengetahuan seksual bagi remaja, melampaui pendidikan yang diterima dari keluarga atau sekolah. ABSTRACT Sex education holds significant importance for teenagers from an early age due to their vulnerability to misinformation about sex. This dissertation aims to . explore teenagers' perceptions of sex education and . identify the sources they rely on for obtaining information about sex. Furthermore, sex education plays a crucial role in enlightening teenagers about various harmful sexual behaviors, enabling them to steer clear of such practices. The research employs a literature review methodology to unearth diverse information on adolescent sex education. Firstly, understanding adolescents' perception of sex education is deemed essential and advantageous in addressing their developmental challenges during this transitional phase from childhood to Adolescence entails significant biological, cognitive, and socioemotional changes, making sex education a pertinent tool to assist them. Secondly, teenagers predominantly turn to mass media, encompassing print media like newspapers, magazines, and books, as well as electronic media such as television and gadgets, for their sexual education. The mass media, along with peers, serves as the primary source of sexual information and knowledge for teenagers, as opposed to receiving such education from family or school A2024. Suramto. Budhi Bawono. Partono Nyana Suryanadi This is an open access article under CC BY-SA license Suranto et. al (Pandangan Terhadap Pendidikan Seksual Pada. Academy of Education Journal Vol. No. Januari 2024. Page: 448-455 ISSN: 1907-2341 (Prin. ISSN: 2685-4031 (Onlin. Pendahuluan Seiring dengan kemajuan zaman, terutama dalam bidang teknologi dan informasi, manusia dari berbagai lapisan masyarakat dapat dengan mudah mengakses informasi dari berbagai sumber, baik domestik maupun internasional, sebagai dampak dari fenomena Pada khususnya, remaja yang terbiasa menggunakan perangkat gawai sejak usia dini mengalami pengaruh signifikan. Banyak orangtua yang memberikan smartphone kepada anak-anak mereka, tidak hanya sebagai alat pendukung pendidikan, tetapi juga sebagai sarana komunikasi, bahkan sebagai hiburan. Perubahan ini telah menciptakan transformasi dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat yang tak dapat dihindari. Fenomena globalisasi menciptakan kemajuan pesat di berbagai sektor, di mana smartphone dan manusia kini menjadi dua entitas yang tak terpisahkan. Segala jenis informasi dapat diakses dengan mudah melalui perangkat genggam, memberikan akses cepat kepada pengetahuan yang diinginkan. Remaja dapat dengan mudah mengakses informasi tentang seks, terutama melalui media sebagai sumber utama. Menurut Lestari. Dkk . Hubungan yang signifikan terlihat antara intensitas akses ke situs porno dan perilaku seksual yang tidak sehat pada masa remaja. Ketersediaan media yang mudah diakses menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari remaja dan berdampak pada perilaku seksual yang mereka tunjukkan. Sarwono . Selama masa remaja, manusia mengalami fase eksplorasi seksual yang memunculkan perkembangan hasrat seksual dan perasaan tertarik terhadap lawan jenis. Papathanasiou Dkk, . Seksualitas, sebagai bagian dari perkembangan fisik alami manusia, menjadi unsur integral bagi setiap individu. Perilaku seksual mendorong remaja untuk membentuk hubungan yang memberikan rasa aman secara emosional dan kepuasan tersendiri. Kekuatan ini mempengaruhi pikiran, emosi, kepekaan terhadap pilihan, serta kesehatan fisik dan mental Kenyataannya, remaja masih kurang pemahaman terhadap pendidikan seks, terutama terkait perilaku seksual yang sehat dalam konteks kesehatan reproduksi. Menurut Survei Kesehatan Reproduksi Remaja (SKRRI) tahun 2013 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan lainnya, persentase remaja wanita berusia 15 hingga 19 tahun yang belum menikah mencapai 0,9%, sedangkan untuk wanita berusia 20-24 tahun mencapai 2,6%. Adanya data ini menunjukkan bahwa pemahaman remaja terhadap isu seksual masih perlu perhatian serius. Data lebih lanjut dari survei Saripah & Nadhira . di Jawa Barat menunjukkan bahwa sebanyak 11,4% atau 162 responden dari 1423 orang menunjukkan perilaku seksual yang tidak Melihat fakta ini, layanan bimbingan dan konseling remaja menjadi sangat penting. National Child Traumatic Stress Network (NCTSN) pada tahun 2009 menegaskan bahwa hanya karena suatu tindakan dianggap tabu, bukan berarti tindakan tersebut harus diabaikan. Oleh karena itu, perlu diberikan pemahaman kepada remaja tentang batasan-batasan yang perlu mendapat perhatian khusus. Orang tua dapat berperan dalam memberikan pemahaman kepada remaja bahwa tertarik pada tubuh orang lain adalah hal yang wajar, namun ada beberapa bagian pribadi yang sebaiknya tetap dirahasiakan. Pentingnya pengetahuan dalam pendidikan seks terlihat dari fakta bahwa remaja dengan pengetahuan pendidikan seks yang kurang memiliki kemungkinan 103 kali lebih besar untuk terlibat dalam hubungan seksual berbahaya di luar pernikahan, dibandingkan dengan remaja yang memiliki pengetahuan pendidikan seks yang baik Fadhilah, . Faktor biologis yang bertanggung jawab untuk mengendalikan perkembangan seksual dari fertilisasi hingga melahirkan dan kesuburan reproduksi pascapubertas adalah pendekatan biologis terhadap seksualitas. Pengaruhnya mencakup aspek gairah dan fungsi seksual Suranto et. al (Pandangan Terhadap Pendidikan Seksual Pada. Academy of Education Journal Vol. No. Januari 2024. Page: 448-455 ISSN: 1907-2341 (Prin. ISSN: 2685-4031 (Onlin. Dalam konteks studi pendidikan seks, pentingnya persepsi tidak dapat diabaikan. Persepsi berperan sebagai faktor penentu dalam membentuk pandangan dan sikap seseorang terhadap dunia, khususnya dalam konteks pendidikan seksual. Kemampuan untuk menafsirkan dan mengklasifikasikan objek, serta melacak sikap dan perilaku, semuanya dapat dihubungkan dengan peran sentral yang dimainkan oleh persepsi. Tujuan dasar pendidikan seks adalah untuk memberikan pengajaran mengenai seks kepada anak-anak, mencegah mereka terjerumus ke dalam hubungan yang tidak sehat, serta membekali mereka dengan pemahaman untuk menghindari dampak negatif yang mungkin timbul akibat perilaku seksual yang tidak benar. Hal ini sesuai dengan hasil identifikasi Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Amerika Serikat yang menunjukkan bahwa terdapat lebih dari 28 bukti yang mendukung keberhasilan program pendidikan seks dini, termasuk pencegahan kehamilan dini, pengurangan perilaku seksual pada usia muda, dan pengurangan perilaku seksual berbahaya lainnya Knowles, . Berdasarkan pernyataan ini, inovasi dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling untuk membantu remaja memahami masalah perilaku seksual yang benar di sekolah, rumah, dan lingkungannya diperlukan sebagai langkah awal dalam pendidikan seks remaja. Layanan ini memegang peranan penting dalam memperbaiki masalah perilaku seksual remaja, sehingga dapat mencegah mereka mencari informasi tentang perilaku seksual dari orang yang tidak bertanggung jawab atau sumber yang mencurigakan atau palsu. Keberlanjutan upaya ini dapat membantu remaja mengembangkan perilaku seksual yang sehat sejak dini. Metode Dalam penelitian ini, metode yang diterapkan adalah literature review, di mana peneliti secara kritis mengevaluasi gagasan-gagasan yang terdapat dalam literatur terkait topik tertentu. Fokus penelitian ini adalah mengeksplorasi persepsi remaja mengenai pendidikan seksual, menganalisis pemahaman mereka, dan mengidentifikasi sumber informasi yang mereka gunakan untuk memperoleh pengetahuan tentang pendidikan seksual. Alasan pemilihan remaja sebagai sampel penelitian adalah karena usia remaja merupakan periode dimana kebutuhan dan pemahaman mengenai hasrat seksual manusia mulai berkembang. Hal ini menjadi fokus penelitian untuk memahami sejauh mana pengetahuan mereka terhadap pendidikan seksual. Dalam penelitian ini, data yang digunakan berasal dari lima artikel jurnal online bereputasi yang telah dipublikasikan di internet. Proses pencarian jurnal dilakukan melalui database dengan kriteria kualitas sedang dan tinggi, dengan mengaplikasikan kata kunci seperti "pendidikan seksual," "persepsi," dan "remaja. " Sampel penelitian ini terdiri dari remaja dengan rentang usia 10-24 tahun. Hasil dan Pembahasan Dalam literature review ini, topik yang akan dibahas adalah persepsi remaja mengenai pendidikan seksual dan sumber informasi yang mereka dapat untuk memperoleh pengetahuan tentang pendidikan seksual. Ada lima artikel studi yang dianalisis, dan hasil seleksi artikel terkait persepsi remaja tentang pendidikan seksual disajikan dalam bentuk tabel rekapitulasi pada Tabel 1. Suranto et. al (Pandangan Terhadap Pendidikan Seksual Pada. Academy of Education Journal Vol. No. Januari 2024. Page: 448-455 ISSN: 1907-2341 (Prin. ISSN: 2685-4031 (Onlin. Tabel 1 rekapitulasi artikel review tentang persepsi remaja. Kode Artikel Responden 1 anak laki-laki dan 1 anak perempuan Sumber Adek 46 Mahasiswa Rekan kerja Siswa SMA Mendengarkan cerita tentang seks dari Siswa SMK Siswa SMA Persentase partisipasi dalam pendidikan berasal dari berbagai sumber, dengan kontribusi guru di sekolah sebesar 7%, orang tua sebesar 11,5%, media cetak mencapai 21,1%, sementara media mendominasi dengan 42,3%. Pengetahuan seks diperoleh melalui berbagai sumber seperti orang tua, guru, internet, teman sebaya, dan melalui membaca buku. Hasil Batasan pada dirinya diketahui oleh kedua anak tersebut. Nilai F = 1,4552 dari Gain score menunjukkan bahwa rata-rata mereka tidak pendidikan seksual dari dini. Tingkat persepsi terhadap pendidikan seksual dikategorikan sebagai cukup baik sebesar 67,02%. Pendidikan seks dianggap positif oleh Dari total 128 responden, sebanyak 113 orang . ,3%) pemahaman yang baik terkait pendidikan seks, sementara 15 orang . ,7%) memiliki pemahaman yang kurang dalam hal Dari tabel yang telah disajikan, dapat disimpulkan bahwa remaja memiliki persepsi positif terhadap pendidikan seksual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar remaja dianggap sudah cukup teredukasi dalam hal ini. Sumber informasi utama yang digunakan oleh responden meliputi keluarga, teman, guru, internet, dan media cetak. Suranto et. al (Pandangan Terhadap Pendidikan Seksual Pada. Academy of Education Journal Vol. No. Januari 2024. Page: 448-455 ISSN: 1907-2341 (Prin. ISSN: 2685-4031 (Onlin. Dari penelitian artikel A4, diketahui bahwa sumber informasi luar lingkungan, seperti media cetak dan media elektronik, menjadi sumber terbesar setelah orang tua dan guru dalam memberikan pendidikan seks kepada anak remaja. Temuan ini mengindikasikan kurangnya pembekalan dari orang tua terhadap anak remajanya dalam hal pendidikan seks. Salah satu faktor utama yang menjadi penyebabnya adalah kurangnya komunikasi, yang sering kali disebabkan oleh hambatan psikologis dan budaya. Banyak orang tua tidak mampu atau tidak mau mengomunikasikan isu-isu seksual dengan anak remajanya, terutama karena terbatasnya informasi dan pengetahuan yang mereka miliki tentang seks, serta pandangan bahwa seks adalah topik yang tabu untuk dibahas. Banyak orang tua masih berpendapat bahwa memberikan pendidikan seksual kepada anak remaja bukanlah suatu hal yang penting. Mereka meyakini bahwa anak yang sudah memasuki usia remaja akan memperoleh pemahaman tentang seksualitas secara alami. Selain itu, sebagian orang tua juga percaya bahwa pengetahuan seputar seks akan diajarkan di Pandangan seperti itu mendorong remaja untuk mencari informasi seksual dari sumber di luar keluarga dan lingkungan sekolah. Apabila remaja terus mengakses informasi seks tanpa pengawasan dan tanpa validasi informasi yang jelas, dapat menyebabkan terjadinya penyimpangan perilaku seksual pada mereka. Menurut penelitian Pratiwi & Basuki . , remaja di kota cenderung memiliki pemahaman yang lebih baik tentang HIV-AIDS dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang tinggal di desa. Hal ini disebabkan oleh kemudahan akses dan perolehan informasi yang lebih tinggi di lingkungan perkotaan. Temuan ini juga diperkuat oleh hasil penelitian Mauludiyah . , yang menyatakan bahwa partisipasi dalam masyarakat pedesaan menjadi sulit karena tingkat literasi teknologi, informasi, dan komunikasi yang rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja yang mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang tua mereka mengenai isu-isu seksualitas. Ririn Dkk, . Saat komunikasi tidak berhasil, seringkali muncul perasaan superioritas, pengendalian yang berlebihan, penilaian dogmatis, dan kecenderungan untuk menyalahkan Windijarti, . Selain itu, respons yang negatif atau penolakan dari anak terhadap komunikasi yang tidak efektif juga dapat terjadi. Walaupun Guru sebagai fasilitator di sekolah memiliki peran penting dalam memberikan pengetahuan tentang pendidikan seksual, kenyataannya sekolah-sekolah di Indonesia belum menyediakan kurikulum khusus untuk mengajarkan hal tersebut kepada para siswa. Pembelajaran mengenai pendidikan seksual cenderung terbatas pada mata pelajaran seperti Biologi. Olahraga, dan Agama dengan intensitas yang minim. Sekolah memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan remaja, termasuk penyampaian nilai agama secara menyeluruh, bukan hanya pengetahuan ilmiah Fathujana, . Keterkaitan erat antara pengetahuan dan agama perlu ditekankan dalam konteks pendidikan seks, dengan guru memegang peran kunci dalam pelaksanaannya di sekolah Pound Dkk, . Pemikiran ini juga diperkuat oleh hasil penelitian Kumar Dkk. , yang menekankan bahwa pendidikan seks seharusnya menjadi bagian integral dari proses pembelajaran yang berkelanjutan mulai dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Sebagai pemberi pendidikan seksual, peran orang tua dan sekolah sangat penting untuk mencegah perilaku seksual yang tidak sehat pada remaja dan memperkuat rasa tanggung jawab mereka terhadap nilai-nilai, moral, dan agama. Oleh karena itu, kedua pihak tersebut memiliki peran krusial dalam membentuk pemahaman yang sehat terkait aspek-aspek tersebut pada tahap perkembangan remaja. Pemberian pendidikan seks kepada remaja memiliki tujuan utama untuk mencegah dan mengurangi kasus kekerasan seksual yang terjadi pada mereka. Melalui pendidikan seks, remaja dapat belajar mengenali perilaku yang seharusnya mereka pilih dalam situasi berbahaya Suranto et. al (Pandangan Terhadap Pendidikan Seksual Pada. Academy of Education Journal Vol. No. Januari 2024. Page: 448-455 ISSN: 1907-2341 (Prin. ISSN: 2685-4031 (Onlin. dalam konteks seksual. Pengajaran melibatkan pemahaman tentang cara mengenali organ individu, menghindari interaksi dengan orang yang mencurigakan, dan mencari bantuan saat berada dalam situasi berisiko. Pandangan Nasution menunjukkan bahwa kesadaran mengenai kesehatan reproduksi remaja masih rendah, dan hal ini memiliki dampak signifikan pada masyarakat secara keseluruhan Yarza Dkk, . Pentingnya pemahaman mengenai kesehatan reproduksi sebagai langkah pencegahan terhadap perilaku seksual yang tidak sehat menjadi lebih jelas, terutama dalam masa remaja yang penuh eksplorasi dengan berbagai Aktivitas positif yang dilakukan oleh remaja pada waktu luang menunjukkan kemampuan mereka dalam mengambil tanggung jawab terhadap perkembangan organ reproduksi Hasanah, . Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa persepsi remaja terhadap pendidikan seks cenderung positif. Remaja dalam rentang usia 10-24 tahun menunjukkan pemahaman yang baik mengenai organ reproduksi pada tubuh, memahami batasan-batasan pada diri sendiri, serta mengetahui cara melindungi diri. Sumber-sumber informasi utama berasal dari keluarga, terutama orang tua, guru, teman sebaya, media massa, dan media elektronik. Remaja dengan pandangan positif terhadap pendidikan seks biasanya memperoleh informasi yang akurat dan bertanggung jawab dari guru di sekolah, orang tua, dan buku pelajaran. Di sisi lain, remaja dengan persepsi negatif cenderung mendapatkan pengetahuan yang kurang tepat melalui internet dan teman sebaya. Daftar Pustaka