Page 496 of 8 Literature Review: Determinan Penyebab Penyakit Scabies pada Santri di Pondok Pesantren Literature Review: Determinants of Scabies Disease Among Students in Islamic Boarding Schools Pebriyani Dwi Rakhmawati1*. Azkiya Nur Izzati1. Aryasatya Putra Hutama1. Alya Ratna Palupi1. Dwi Sarwani Sri Rejeki1,2. Siwi Pramatama Mars Wijiyanti1,2 Department of Public Health. Faculty of Health Sciences. Jenderal Soedirman University. Purwokerto. Indonesia Research Centre of Rural Health. Institute for Research and Community Service. Jenderal Soedirman University. Indonesia Korespondensi penulis : pebriyanidr@gmail. ABSTRACT High scabies prevalence in the consumer environment has shifted focus on improving public health, especially with santri groups living in crowded and limited areas. The situation is further affected by the lack of information access, hygiene facilities, and common living patterns that promote the spread of disease. The study aims to thoroughly review the results of different articles of studies relating to the factors that cause the increased prevalence of scabies in boarding huts through literature review. Selected articles from the Google scholar. Researchgate, and Pubmed with specific inclusions of critical, produce 10 relevant articles for descriptive qualitative analysis. Survei results indicate a consistent pattern of living conditions in boarding schools with increased risk of transmission. A deep understanding of this context is essential to strategize efficient and sustainable prevention strategies through focused health promotion approaches and increased consumer environmental infrastructure. It is hoped that these measures will reduce the prevalence of disease and improve the quality of life of the whole santri. Keywords : scabies. boarding school ABSTRAK Tingginya prevalensi scabies di lingkungan pesantren menjadi fokus utama dalam meningkatkan tingkat kesehatan masyarakat, terutama pada kelompok santri yang tinggal di area yang padat dan terbatas. Situasi ini semakin buruk akibat minimnya akses informasi, sarana kebersihan, serta pola hidup bersama yang memudahkan penyebaran Penelitian ini bertujuan untuk mereview secara mendalam beragam hasil artikel yang berhubungan dengan faktor-faktor yang menyebabkan tingginya prevalensi skabies di pondok pesantren melalui tinjauan literatur. Artikel dipilih dari basis data Google Scholar. ResearchGate, dan PubMed dengan kriteria inklusi tertentu, menghasilkan 10 artikel yang relevan untuk direview secara kualitatif deskriptif. Hasil survei mengindikasikan adanya pola yang konsisten antara situasi hidup di pesantren dengan meningkatnya risiko penularan skabies. Pemahaman yang mendalam mengenai konteks ini penting untuk menyusun strategi pencegahan yang efisien dan berkelanjutan melalui pendekatan promosi kesehatan yang terfokus serta peningkatan infrastruktur lingkungan Langkah ini diharapkan mampu mengurangi laju penularan penyakit dan meningkatkan kualitas hidup seluruh santri secara keseluruhan. Kata Kunci : scabies. faktor penyebab. pondok pesantren Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. October 2025, hal 496-503 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Literatur Review : Determinan Penyebab Penyakit ScabiesA (Pebriyani Dwi Rakhmawati, dk. PENDAHULUAN Scabies penyakit dengan gangguan kulit menular yang timbul akibat infeksi dari gigitan tungau Sarcoptes scabiei var. (Sharaf, 2. Penyakit ini memiliki gejala utama berupa rasa gatal yang intens, khususnya pada malam hari, dan lesi kulit seperti papula, vesikel, atau burrows (Nurhidayat et al. , 2. Kondisi tersebut akibat tungau yang masuk ke dalam kulit dan bertelur sehingga memicu reaksi tubuh berupa rasa gatal dan ruam yang parah (Jumadewi et al. , 2. Scabies menjadi prevalensi lebih dari 200 juta setiap tahunnya, terutama di wilayah tropis dan subtropis (Sharaf, 2. Di Indonesia, penyakit ini kerap dijumpai di lingkungan dengan kepadatan hunian tinggi seperti pondok pesantren, dengan prevalensi mencapai 4,6Ae12,95% (Dimas BoraAoa et , 2. Sebagai dengan model asrama, pondok pesantren menerapkan sistem kehidupan komunitas yang memungkinkan terjadinya interaksi fisik antarindividu secara intensif, baik melalui aktivitas ibadah, tidur bersama pemanfaatan fasilitas bersama seperti kamar mandi, pakaian, dan peralatan Gaya hidup seperti ini dapat meningkatkan kemungkinan penyebaran penyakit kulit menular seperti scabies, terutama jika tidak dilengkapi dengan perilaku hidup bersih dan sehat serta sistem sanitasi lingkungan yang baik. Santri yang tinggal dalam setting tertutup dan memiliki akses informasi yang terbatas akibat larangan penggunaan alat hambatan dalam memperoleh pendidikan kesehatan (Nurhidayat et al. , 2. Sebaliknya, kebijakan pengasuhan yang tidak begitu responsif terhadap masalah kesehatan kulit dan rendahnya kesadaran mengenai pentingnya kebersihan pribadi dianggap berperan dalam tingginya prevalensi scabies (Dimas BoraAoa et al. Dampak penyakit scabies tidak hanya mencakup aspek fisik saja, melainkan juga dapat menyebabkan gangguan psikososial seperti masalah tidur, penurunan kualitas hidup, serta mempengaruhi psikologi santri (Sharaf. Oleh karena itu, penting untuk mempengaruhi terjadinya scabies di lingkungan pondok. Literature review ini disusun dengan tujuan untuk mereview beberapa artikel mengenai berbagai faktor yang memengaruhi tingginya kasus scabies di kalangan santri sebagai upaya mendasar dalam merumuskan langkah pencegahan dan pengendalian yang efektif dan berkelanjutan. METODE Artikel ini ditulis menggunakan metode literature review atau tinjauan literatur yang bertujuan untuk mereview berbagai artikel ilmiah mengenai faktor penyebab dan risiko penularan scabies. Literature review ini membahas tentang scabies pada manusia, khususnya pada santri di pondok pesantren. Artikel ilmiah yang relevan dan terpercaya, seperti jurnal internasional dan jurnal nasional terakreditasi ditelusuri melalui database Researchgate. Google Scholar, dan PubMed. Kata kunci yang digunakan yaitu AuscabiesAy. Aufaktor penyebabAy. Aupondok pesantrenAy. Kriteria inklusi dari artikel yang akan dipilih yaitu akses terbuka . pen acces. , artikel lengkap . ull-tex. , berbahasa Indonesia/Inggris, artikel rentang waktu 2015-2025, dan membahas scabies di pesantren serta faktor penyebabnya. Adapun kriteria eksklusinya jika artikel yang ditemukan bertentangan dengan kata kunci yang digunakan, contohnya membahas scabies pada hewan. Pencarian menggunakan kata kunci 010 artikel di Google Scholar, 114 di PubMed, dan 1500 di ResearchGate. Setelah berdasarkan rentang tahun 2015-2025, tersisa 919 artikel di Google Scholar, 86 di PubMed, dan 500 di ResearchGate. Penyaringan berdasarkan kriteria inklusi . rtikel Indonesia/Inggris, membahas scabies di pesantren dan faktor penyebabny. menghasilkan 75 artikel dari Google Scholar, 12 dari PubMed, dan 28 dari ResearchGate. Dari total 115 artikel tersebut, diperoleh 10 artikel terpilih yang relevan dan berkualitas untuk direview dalam literature review ini. Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. October 2025, hal 496-503 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Literatur Review : Determinan Penyebab Penyakit ScabiesA (Pebriyani Dwi Rakhmawati, dk. Metode tinjauan literatur dilakukan dengan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan langkah pertama menentukan topik, lalu membaca dan memahami isi artikel, mengidentifikasi faktor-faktor penyebab seperti faktor lingkungan . epadatan hunian, sanitasi, kelembapan udara, ventilasi kamar, sirkulasi udar. , faktor perilaku . enis kelamin, personal hygiene, perilaku, pengetahua. , dan tahap terakhir menyatukan hasil review dan menulis hasil tinjauannya. Gambar 1. Diagram Prisma Literature Review HASIL Setelah melakukan penelusuran dan Google Scholar. Researchgate, dan PubMed, ditemukan sebanyak 10 publikasi yang memenuhi kriteria sesuai kata kunci yang determinan penyebab penyakit scabies pada santri pondok pesantren. Hasil dari setiap jurnal yang didapat telah disajikan dalam Tabel 1. Tabel 1. Literature Review Determinan Penyebab Penyakit Scabies pada Santri di Pondok Pesantren Judul Metode Hasil Analisis Faktor- faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Skabies pada Santri di Pondok Pesantren Miftahul Amin (Nurhidayat et al. , 2. Kualitatif Faktor yang buruk, saling meminjam handuk dan kebiasaan mandi yang kurang dari 2 kali dalam sehari, serta ventilasi kamar yang kurang meningkatkan penularan skabies. Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. October 2025, hal 496-503 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Literatur Review : Determinan Penyebab Penyakit ScabiesA (Pebriyani Dwi Rakhmawati, dk. Hubungan Faktor Lingkungan Fisik dan Personal Hygiene dengan Kejadian Skabies di Pondok Pesantren (Sulistiarini et al. , 2. Kuantitatif desain cross Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kejadian Skabies di Pondok Pesantren Darul Falah Kota Batam (Isramilda et al. , 2. Kuantitatif desain cross Scabies infection among boarding school students in Medan. Indonesia: Epidemiology. Risk Factors, and Recommended Prevention (Yulfi et al. , 2. Kuantitatif desain cross Prevalence and risk factors of scabies among children living in Madrasahs (Islamic religious boarding school. of Bangladesh: a cross-sectional study (Hasan et al. , 2. Kuantitatif desain cross Analisis Pengetahuan Santriwati Terhadap Kejadian Scabies di Pondok Pesantren Tungkop Kecamatan Indrajaya Kabupaten Pidie (Rahmi et al. Determinan Personal Hygiene dan Sanitasi Dasar dengan Penyakit Kulit (Scabie. di Pondok Pesantren Modern AlKautsar Pekanbaru Tahun 2022 (Rasyid et al. , 2. Hubungan PHBS dengan Kejadian Scabies di Pondok Pesantren Ngangkruk Desa Bandungsari Ngaringan Kabupaten Grobogan (Nurlaily & Priyantiningsih, 2. Analisis Faktor Resiko Terhadap Munculnya Penyakit Skabies pada Santri di Pondok Pesantren Al Badar DDI Bilalang Parepare (Syamsul et , 2. Kualitatif Kuantitatif desain cross Kuantitatif desain cross Kuantitatif desain cross Faktor frekuensi mandi kurang dari dua kali dalam sehari, saling meminjam alat pribadi, kepadatan kamar, kejadian skabies. Faktor personal hygiene yang buruk, tingkat pengetahuan yang kurang, dan sanitasi berhubungan dengan kejadian skabies di pondok pesantren. Kebiasaan berbagi tempat tidur atau linen, berbagi pakaian antar santri, kondisi kamar yang tidak sehat, dan santri dengan jenis kelamin laki-laki yang lebih muda meningkatkan risiko skabies. Faktor yang menyebabkan tingginya kejadian skabies meliputi berjenis kelamin lakilaki, berada pada rentang usia remaja awal, hunian yang kurangnya kebersihan diri. Faktor buruk terkait skabies dan cara pencegahannya mendukung tingginya kejadian skabies. Faktor kebersihan kulit pribadi yang buruk, pengetahuan rendah, pengelolaan sampah buruk, dan kurangnya air bersih berhubungan dengan kejadian skabies. Perilaku hidup bersih dan kejadian skabies. Saling kurang dari 2 kali dalam sehari, pakaian kotor yang dicampur dengan santri lain, dan kebersihan lingkungan kurang mendukung transmisi kejadian skabies. Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. October 2025, hal 496-503 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Literatur Review : Determinan Penyebab Penyakit ScabiesA (Pebriyani Dwi Rakhmawati, dk. The Relationship between Healthy Life Behaviour (Knowledge. Attitude, and Practic. with the Occurrence of Scabies in IMMIM Putra Islamic Boarding School Makassar (Sri Mulyawati et al. PEMBAHASAN Berdasarkan scabies pada santri di pondok pesantren. Secara keseluruhan, faktor-faktor yang lingkungan, dan juga lingkungan fisik. Berikut penulis jabarkan beberapa faktor yang memengaruhi penyakit scabies pada santri di pondok pesantren. Jenis Kelamin Jenis kelamin laki-laki menjadi faktor yang lebih berisiko dan lebih banyak terjangkit karena laki-laki lebih banyak beraktivitas dan kurang memperhatikan kebersihan dirinya sendiri dibandingan perempuan, sehingga berpengaruh dalam kejadian scabies dan menjadi tempat berkembang biaknya tungau penyebab Selain itu, laki-laki lebih berpotensi terkena penyakit scabies dikarenakan kebiasaan mereka dalam menempati satu kamar dengan jumlah hunian lebih dari batas maksimal seharusnya (Mauliza et al. , 2022. Fitri Widiyanti, 2. Sikap Sikap seseorang yang negatif dalam berperilaku sehari hari menjadi faktor seseorang terkena penyakit scabies. Hal ini disebabkan karena sikap merupakan cerminan dari kebiasaan seseorang dalam berperilaku sehari-hari. Ketika seseorang memiliki sikap yang kurang baik terutama terkait kebersihan diri dan lingkungan, maka risiko terkena skabies meningkat. Sikap yang negatif ini juga dipengaruhi mempengaruhi sikap seseorang dalam mengambil keputusan dalam mencegah penyakit (Nurhidayat et al. , 2. Hal ini didukung oleh hasil kajian penelitian di Kuantitatif desain cross Faktor kurang, kebersihan diri yang tidak baik, saling meminjam handuk dan tidak menjemur handuk setelah digunakan kejadian skabies. salah satu pesantren, bahwa tidak semua santri memiliki sikap baik selalu memiliki sikap dalam pencegahan skabies (Samino et al. , 2. Kondisi ini membuktikan bahwa perlunya pendidikan hidup bersih Perilaku Perilaku yang buruk menjadi faktor yang penyakit scabies. Perilaku mencerminkan pola hidup sehari-hari, jika seseorang memiliki perilaku buruk dengan tidak menjaga kebersihan maka risiko tertular dan terjangkit scabies menjadi semakin tinggi (Panji Marga, 2. Perilaku mencakup mandi kurang dari 2 kali sehari, saling meminjam handuk, berbagi tempat tidur dan lain sebagainya (Jumadewi et al. , 2. Hal-hal tersebut meningkatkan kemungkinan seseorang terkena scabies. Akan tetapi, perilaku Personal Hygiene Seseorang hygiene yang buruk seperti jarang mandi, tidak mencuci tangan, kebiasaan berbagi tempat tidur, tidak menjaga kebersihan sebagainya menjadi faktor penyebab seseorang terinfeksi skabies (Maharani & Sukendra, 2023. Indriani et al. , 2. Kondisi-kondisi tersebut memudahkan tungau penyebab scabies. Hal ini juga bertahan hidup pada benda-benda yang digunakan bersama. Pada analisis kajian di salah satu pesantren, ditemukan bahwa santri dengan personal hygiene yang buruk memiliki peluang 3x berisiko terkena scabies (Muhsina et al. , 2. Oleh karena itu, menjaga kebersihan diri Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. October 2025, hal 496-503 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Literatur Review : Determinan Penyebab Penyakit ScabiesA (Pebriyani Dwi Rakhmawati, dk. menjadi hal yang penting dalam mencegah diri terkena penyakit scabies. Pengetahuan Rendahnya pengetahuan mengenai cara penularan, gejala, dan langkah pencegahan menjadi faktor yang menyebabkan seseorang lebih mudah terinfeksi penyakit scabies. Pengetahuan yang kurang membuat individu tidak mampu dalam mengambil tindakan untuk melindungi diri dan orang lain dari risiko penularan (Arifin Hidayat et al. , 2. Rendahnya pengetahuan ini juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang kurang peka terhadap kejadian scabies, sehingga tidak ada edukasi baik dari pihak pesantren maupun dari pihak luar dan peningkatan pengetahuan dalam Selain terbatasnya informasi dan edukasi dalam lingkup pesantren, berada di asrama juga membuat santri tidak memiliki media elektronik sehingga sulit mendapatkan informasi yang akurat mengenai penyakit kulit seperti scabies (Nurhidayat et al. , 2. Sanitasi Lingkungan Sanitasi lingkungan yang buruk dan pengelolaan sampah tidak memadai, saluran pembuangan air yang yang ketersediaan air bersih yang terbatas menjadi faktor penyebab terjadinya peningkatan risiko penularan penyakit scabies (Rasyid et al. , 2. Lingkungan kebersihannya menjadi tempat yang penyebab scabies dari satu individu ke individu lain. Semakin buruk kondisi sanitasi lingkungan, semakin tinggi juga kemungkinan terjadinya kontak tidak langsung melalui barang-barang yang terkontaminasi atau tempat tinggal yang kumuh dan lembap (Dimas BoraAoa et al. Oleh lingkungan seperti pengelolaan sampah, saluran limbah, dan kualitas air bersih memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian scabies. Lingkungan Fisik Lingkungan fisik yang buruk dan tidak memenuhi standar kesehatan, seperti kepadatan hunian yang tinggi, ukuran ventilasi yang kecil, tingkat kelembapan yang tinggi, dan sirkulasi udara yang buruk dapat menjadi faktor yang scabies (Sulistiarini et al. , 2. Kondisi kamar yang over crowded atau dihuni oleh terlalu banyak orang sedangkan ruangan kamar sempit, menyebabkan terjadinya kontak fisik yang intens sehingga mempermudah penyebaran tungau penyebab scabies. Selain itu, ventilasi kamar yang terlalu kecil dan tidak sepadan dengan kondisi ruangan dan juga kondisi penghuni nya membuat cahaya matahari dan udara yang masuk kedalam kamar menjadi terbatas. Hal ini menyebabkan, kamar menjadi lembap dan pengap. Kondisi tersebut menjadi lingkungan yang ideal bagi tungau berkembang biak dan menyebar. SIMPULAN Penyakit scabies menular dengan cepat melalui kontak langsung, terutama di lingkungan yang padat penduduk serta sanitasi lingkungan yang buruk. Beberapa faktor risiko yang memengaruhi santri di pondok pesantren mengalami penyakit perilaku . enis kelamin laki-laki, sikap berbagi ranjang dengan santri lain, bersamaan, personal hygiene buruk, lingkungan . anitasi lingkungan rendah, kepadatan hunian tinggi, kelembapan udara, ventilasi kamar, sirkulasi udara yang buru. Faktor-faktor tersebut berhubungan satu sama lain dalam kontribusinya pada kejadian scabies. Dengan adanya faktor perilaku . ersonal hygiene buru. dan faktor lingkungan . anitasi kepadatan hunian tingg. yang dapat meningkatkan kejadian scabies, maka pencegahan scabies ditekankan pada sanitasi lingkungan serta pengobatan bagi santri di pondok pesantren yang terkontak langsung untuk mencegah Oleh karena itu, diperlukan Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. October 2025, hal 496-503 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Literatur Review : Determinan Penyebab Penyakit ScabiesA (Pebriyani Dwi Rakhmawati, dk. kesehatan agar pencegahannya dapat dilakukan secara efektif dan menyeluruh. SARAN Temuan faktor risiko yang paling memengaruhi dari kejadian scabies di adalah personal hygiene yang buruk dan sanitasi lingkungan kurang baik. Oleh karena itu, diharapkan upaya pencegahan lebih menyasar pada peningkatan personal hygiene sebagai faktor perilaku, serta sanitasi lingkungan pondok pesantren sebagai faktor lingkungan. DAFTAR PUSTAKA