PENDIDIKAN: JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol. No. April 2025 Hal. e-ISSN: 2774-7921 Pemanfaatan Wayang dari Bahan Kardus Bekas Sebagai Media Pembelajaran Di SDN Mekarsari Ali Baharsyah1*. Amanda Galih Pratama2. Alfiatus Zahroh3. Selvi Febriyanti4. Sarno Hanipudin5 1,2,3,4 Program Studi Pendidikan Agama Islam. Institut Agama Islam KH Sufyan Tsauri Majenang Dosen Pembimbing Lapangan *Email: baharsyah923@gmail. ABSTRACT This service is motivated by the understanding of the importance of character building and creativity for children in loving local culture, especially the art of wayang kulit, whose existence is increasingly forgotten by the current generation. The onslaught of the current era, the characters that appear on television, social media are often not in accordance with the period of their character formation and are not in accordance with the culture that has been formed by their predecessors, especially Javanese Therefore, this service is important to be carried out with the aim of introducing characters in wayang and instilling creativity and a sense of love for their own culture. The hope with this service is that children understand and are able to emulate the characters of the figures in wayang. This activity was carried out at SDN 02 Mekarsari and SDN 03 Mekarsari. Cipari District. Cilacap Regency, with a target of 20 students. Based on the evaluation results, the service received a positive response and achieved satisfactory results, with indicators that students were able to follow the activities until the end and dared to make physical contact holding the wayang and were able to make wayang from cardboard in order to develop children's motor skills. Keywords: character education for early childhood through ABSTRAK Pengabdian ini dilatarbelakangi oleh pemahaman pentingnya penanaman karakter dan kreatifitas bagi anak dalam mencintai budaya lokal khususnya budaya seni wayang kulit yang mana eksistensinya semakin terlupakan oleh generasi saat ini. AoGempuran era zaman saat iniAo, karakter-karakter yang muncul ditelevisi, media sosial seringkali tidak sesuai dengan masa pembentukan karakter mereka dan tidak sesuai dengan kebudayaan yang telah terbentuk oleh para pendahulu khususnya budaya jawa. Oleh karena itu, pengabdian ini menjadi penting untuk dilaksanakan dengan tujuan mengenalkan karakter-karakter dalam pewayangan dan menanamkan kreatifitas serta rasa cinta terhadap kebudayaanya sendiri. Harapan dengan pengabdian ini adalah anak-anak mengerti dan mampu meneladani karakter tokoh dalam pewayangan. Kegiatan ini dilaksanakan di SDN 02 Mekarsari dan SDN 03 Mekarsari. Kecamatan Cipari. Kabupaten Cilacap, dengan target peserta dengan jumlah 20 peserta didik. Berdasarkan hasil evaluasi, pengabdian mendapatkan respon positif dan mencapai hasil yang memuaskan, dengan indikator peserta didik mampu mengikuti kegiatan sampai akhir dan berani untuk melakukan kontak fisik memegang wayang dan mampu membuat wayang dari kardus guna menumbuhkan motorik anak Kata Kunci: pendidikan karakter, anak-anak, kreatifitas, wayang Jumat Pendidikan: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 April 2025 PENDAHULUAN Sekolah dasar pada dasarnya merupakan lembaga pendidikan enam tahun bagi anak-anak usia 612 tahun Suharjo . Dalam Undang- undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menyatakan bahwa jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah jenis pendidikan formal untuk peserta didik usia 7 sampai 18 tahun dan merupakan persyaratan dasar bagi pendidikan yang lebih Jika usia anak pada saat masuk sekolah, merujuk pada definisi pendidikan dasar dalam undangundang tersebut, berarti pengertian sekolah dasar dapat dikatakan sebagai institusi pendidikan yang menyelenggarakan proses pendidikan dasar selama masa enam tahun yang ditunjukan bagi anak usia 7-12 . urniawan, 2. Selain itu, penanaman karakter memberikan anak-anak alasan untuk memahami mengapa nilainilai ini penting. Mereka belajar bahwa kejujuran membantu membangun kepercayaan, kerjasama membuat kita lebih kuat, dan empati menghubungkan kita dengan orang lain secara lebih dalam. Ini bukan hanya tentang apa yang mereka lakukan, tetapi juga tentang mengapa mereka melakukannya. Pendidikan karakter adalah usaha sadar dan terencana untuk membentuk watak atau kepribadian seseorang berdasarkan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Nilai-nilai tersebut bersumber dari: Agama. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama. Oleh karena itu kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaannya. Secara politis kehidupan kenegaraan pun didasari oleh nilai-nilai yang berasal dariagama. Atas dasar pertimbangan itu, maka nilainilai pendidikan karakter harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari . urniawan, 2. Dengan adanya pembelajaran melalui media wayang dan pembuatan kreasi wayang dari bahan kardus, nilai-nilai moral dan kreatifitas bisa tertanam pada karakter anak di jenjang sekolah dasar. Oleh sebab itu, pentingnya untuk menghidupkan kembali kebudayaan jawa dalam tujuannya yaitu pendidikan berbasis karakter lewat pewayangan. Sama halnya penerapannya dengan media-media pembelajaran lain yang penerapannya syarat akan pembentukan karakter anak. Sehingga akan lebih memudahkan seorang guru atau pendidik terutama sebagai alternatif pengembangan pembelajaran. Dalam hal ini, barang bekas benda tak terpakai salah satunya seperti kardus dimanfaatkan sebagai media edukasi dalam menunjang pembelajaran khususnya di jenjang sekolah dasar. SDN 02 Mekarsari dan SDN 03 Mekarsari Kecamatan Cipari Kabupaten Cilacap, merupakan sasaran utama untuk melaksanakan pembelajaran dan pembuatan media wayang. Yang mana dari kedua sekolah tersebut memberi apresiasi terhadap pembelajaran dan pembuatan media wayang kardus. Karena hal tersebut sangat menarik bagi peserta didik, menumbuhkan semangat belajar dan membentuk karakter peserta didik dengan baik. Pada akhir kegiatan diharapkan para siswa dapat mampu dengan baik mengikuti dan memahami proses pembuatan media wayang dari awal sampai akhir. Pengabdian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengenalkan karakter pewayangan menumbuhkan menanamkan cinta dengan tradisi dan budaya dari masing-masing individu peserta didik. Hasil penelitian dengan menggunakan media wayang kardus untuk pembelajaran bercerita menunjukkan sebuah keberhasilan dalam peningkatan kemampuan bercerita, karena peserta didik banyak yang lebih semangat ketika menggunakan media wayang kardus, peserta didik merasa tertarik mengikuti pembelajaran dan tidak malu-malu serta grogi lagi dalam bercerita maju ke depan kelas. (Muthuhharoh dkk, 2. Terdapat beberapa kajian yang menyebutkan karakter anak itu sangat efektif (Sarno, muanasah 2. dan peserta didik sangat antusias dan sangat menyukai dengan adanya pembelajaran dan pembuatan media wayang dari kardus. Sehingga karakter peserta didik terbentuk sesuai dengan normanorma yang ada di lingkungan sekitar. METODE Pengabdian ini dilaksanakan dengan tiga tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi Jumat Pendidikan: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 April 2025 kegiatan pengabdian ini dilaksanakan pada tanggal 07 Agustus 2024 di SDN 03 Mekarsari dan pada tanggal 08 Agustus 2024 di SDN 02 Mekarsari Kecamatan Cipari Kabupaten Cilacap. Kami melaksanakn kegiatan pengabdian ini dengan melakukan persiapan dan perencanaan dengan matang. Dalam tahap persiapan dari jauh-jauh hari menyiapkan bahan. Salah satunya untuk meminta arahan kepada Kyai Zaenal Abidin yang mumpuni terhadap pelaksanaan pembelajaran dan pembuatan media wayang kardus. Setelah tahap pelaksanaan selesai, dilakukan evaluasi untuk mengevaluasi sejauh mana implementasi kegiatan pengabdian telah berjalan dan sejauh mana capaiannya telah tercapai. Dan pendampingan cara membuat media edukasi wayang dari kardus bekas. HASIL DAN PEMBAHASAN Tentunya dengan cara kita lestarikan, kita kenalkan, salah satunya dengan melalui atmosfer Dalam pendidikan bisa kita bawa wayang kulit dengan melalui pembelajaran menggunakan media wayang kardus bekas, dengan adamya pembelajaran seperti ini dan pembuatan wayang dari kardus ini menjadi salah satu jalan untuk membangkitkan budaya lokal di tengah-tangah zaman yang canggih dan moderen ini. Tidak hanya membangkitkan budaya lokal saja akan tetapi bisa menumbuhkan karakter peserta didik dengan melalui metode penganajaran menggunakan wayang dan pembuatan wayang dari bahan kardus ini, dengan cara kita kenalkan sifat-sifat atau karakter yang dimiliki oleh tokoh wayang. Tahap pertama yang dilakukan ialah persiapan dengan melakukan observasi dan melihat situasi di sekolah Gambar. Observasi di sekolah Tahap ini bertujuan untuk mengetahui situasi lingkungan dan karakter peserta didik, bahwa SDN 02 Mekarsari terletak di sebelah timur Balai Desa Mekarsari yang letaknya sangat strategis dan nyaman karakter peserta didiknya semangat dengan kedatangan kami di sekolah. Kendatipun seperti yang kami temukan di lapangan bahwa observasi ini ternyata mendapatkan respon positif. Kegiatan selanjutnya yaitu menentukan dan membuat media termasuk mempersiapkan bahan dan alat yang kami gunakan dalam pembuatan dari kardus. Wayang yang kami gunakan adalah wayang Semar untuk pembelajaran sedangkan untuk pembuatan wayang dari kardus adalah wayang Kayon. Werkudara, dan Abimanyu. Jumat Pendidikan: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 April 2025 Gambar untuk pembuatan wayang dari kardus Kami memilihTokoh wayang Werkudara karena memiliki yang pertama adalah sifat pemberani dan patuh terhadap kedua orang tua. Sedang Tokoh Abimanyu memiliki sifat setia terhadap negara. Melalui tokoh tersebut bertujuan untuk menanamkan karakter kepada peserta didik. Sedangkan dalam tahap pelaksanaan menggunakan metode cerita. Dengan metode bercerita supaya anak-anak menjadi tertarik dan mengena. Tahap Pelaksanaan Pembelajaran lewat Wayang di SDN 03 Mekarsari Kecamatan Cipari Kabupaten Cilacap. Kami membagi kegiatan pelaksanaan menjadi 3 sesi, yaitu pengenalan, bercerita dan evaluasi. Pada sesi pengenalan, ialah kami mengenalkan tokoh Semar diantaranya karakter dan falsafahnya beserta pitutur-pituturnya di setiap pagelaran wayang. Dan sengaja kami memperagakan seperti mana di dalam pentas pewayangan dalam logat Jawa. Dari tokoh Semar anak-anak mulai mengenal dari salah satu tokoh wayang yaitu Semar dan mulai belajar dari karakter wayang ini. Karakter Semar adalah salah satu tokoh yang disegani dihormati dan disepuhi karena pitutur-pituturnya yang bijaksana dan merakyat hingga dapat merangkul sampai lapisan rakyat jelata. Gambar. Meceritakan, mengenalkan tokoh wayang pada peserta didik Pada sesi ceramah, tim pengabdi mendeskripsikan kepada peserta didik nilai-nilai karakter apa saja yang dimiliki oleh sosok semar dan menjelaskan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Karakter tokoh wayang Semar adalah salah satu tokoh yang sangat dihormati dan dicintai dalam seni wayang kulit dan wayang wong Jawa. Ia memiliki beberapa ciri khas dan makna simbolis dalam budaya Jawa, yaitu: Kebijaksanaan. Semar sering digambarkan sebagai tokoh yang paling bijaksana dalam cerita wayang, ia memiliki pengetahuan yang dalam, dan panduannya sering dicari oleh tokoh- tokoh lain termasuk para pahlawan. Kebijaksanaannya mewakili pentingnya akal budi dan kemampuan Jumat Pendidikan: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 April 2025 membuat keputusan yang tepat. Humor. Semar dikenal karena kecerdasan dan humornya, ia menggunakan humor untuk meringankan situasi tegang dan membawa kebahagiaan kepada penonton. Ciri ini mencerminkan apresiasi budaya Jawa terhadap humor sebagai cara untuk menghadapi tantangan dalam hidup. Kesederhanaan. Semar biasanya digambarkan sebagai tokoh yang sederhana, mengenakan pakaian yang lusuh, dan seringkali tanpa alas kaki. Kesederhanaan ini mencerminkan pembebasan dari materialisme dan penekanan pada kualitas batin daripada penampilan luar. Kebaikan dan Kasih Sayang. Semar adalah simbol kebaikan dan kasih saying, ia sangat peduli terhadap orang lain dan sering terlihat membantu mereka yang membutuhkan. Ini menggambarkan pentingnya empati dan peduli terhadap sesama dalam budaya Jawa. Makna Spiritual. Semar juga dianggap sebagai tokoh spiritual, mewakili hubungan antara dunia fisik dan spiritual. Ia mencerminkan gagasan tentang pencerahan spiritual dan pencarian kesadaran yang lebih tinggi. Persatuan dan Harmoni: Dalam beberapa tafsiran. Semar dianggap sebagai kekuatan penyatuan. membantu meredakan konflik dan membawa harmoni dalam cerita. Hal ini mencerminkan nilai budaya Jawa untuk menjaga perdamaian dan persatuan dalam masyarakat. Secara keseluruhan. Semar adalah tokoh multifaset dalam seni wayang Jawa, yang mencakup kebijaksanaan, humor, kerendahan hati, kebaikan, spiritualitas, dan pentingnya persatuan. Karakternya berfungsi sebagai panduan budaya dan moral bagi penonton, menyampaikan pelajaran berharga dalam hidup dan menekankan pentingnya kualitas batin dalamperjalanan hidup seseorang. Tahap yang terakhir pada pembelajaran menggunakan media wayang yaitu evaluasi pada tahap ini kami lakukan dengan menanyakan kembali materi yang diajarkan bertujuan untuk mengetahui seberapa mengenanya materi yang disampaikan kami, dan mengulas kembali bersama supaya lebih mudah untuk diingat dan membantu peserta didik yang belum memahami, dan tidak lupa kami mengajak kepada peserta didik untuk bersholawat bersama dengan tujuan untuk menumbuhan cinta kepada nabi Muhammad SAW, karna beliau sebagai figur utama dalam kehidupan. Sesi selanjutnya yaitu pembuatan wayang dari bahan kardus yang dilaksanakn di SDN 02 Mekarsari pada tanggal 8 agustus 2024, sebelum melaksanakn pembuatan kreasi pembuatan wayang dari kardus ini kami sudah memberitahu kepada peserta didk untuk membawa bahan dan alat yang akan digunakan untuk pembuatan wayang, lalu hari selajutnya sdari kami kjuga mempersiapkan bahan dan gambar yang akan digunakan untuk pembuatan kreasi wayang. Pada tahap pelaksanaan kami membawa gambar wayang yang tertera di atas, lalu para peserta didk mewarnainya dengan tujuan untuk melatih kecerdasan art pada anak dan melatih motorik anak. Gambar. Peserta didik mewarnai gambar wayang Setelah para peserta didk mewarnai, lalu menempalkan pada kardus yang telah dibawa dari rumah masaing- masng, perlu diketahui kami membagi peseta didk kedalam beberapa klompok bertujuan untuk menumbukaan rasa saling bekerja sama dan mempermudah dalam pelaksanaan pembuatan kreasi wayang kardus. Lalu peserta didik memotong gambar pada gardus sesui dengan pola gambarnya, setelah Jumat Pendidikan: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 April 2025 terpotong selanjutnya memasangkan gapit wayang yang terbuat dari bambu yang telah disiapkan dan tahap terakhir memasangkan kengan-lengan wayang yang terpotong, selesai dan jadilah wayang kardus. Gambar. Hasil pembuatan wayang berbahan kardus Jadilah wayang kardus dengan tokoh werkudara/bima, abimayu, dan wayang kayon biasa dikenal wayang gunumgan, dari ketiga wayang tersebut memiliki karakter dan filosofi yang berbeda diantaranya, pertama wayang kayon yang menggambarkan kehidupan manusia didunia sampai akhirat, kedua wayang werkudara yang memiliki sifat yang gagah dan berani akan tetapi yang paling memotivasi dari werkudara ialah ketakdimannya, kepatuhanya kepada kedua orang tua, yang ketiga yaitu tokoh wayang Abimanyu yang aman abimanyu memilikinsifat berani, cerdas dan bijaksana, tokoh abimanyu ini sangat pandai mengatur strategi perang yang pada akhirnya tokoh ini meninggak di medan perang karna dia bisa menembus strategi musuh tetapi tidak bisa keluar dari setrategi tersebut sehingga tewaslah abimanyu di keroyok beribu-ribu prajurit musuh. Dari ketiga tokoh tersebut bisa untuk mengedukasi pada peserta didik menceritakan dan menjelaskan hikmah-hikmah yang terdapat pada cerita wayang, untuk sebuah pembelajaran dan pembentukan karakter pada peserta didik di sekolah, dengan adanya kreasi seperti ini semoga bisa memotivasi peserta didik pada zaman sekarang dan menumbuhkan cinta pada tradisi dan budaya lokal, memiliki nilai-nilai yang sangat luar biasa dan sadar betapa hebatnya para nenek moyang kita semua sehingga bisa menemuakan dan ciptakan budaya yang bernilai tinggi, mau siapa lagi kalau bukan kita yang melestarikannya. SIMPULAN Kegiatan pengabdian ini telah dilaksanakan sesuai rencana dan kebutuhan, yaitu pembelajaran melalui media dan cerita wayang dan pembuatan kreasi edukasi wayang dari kardus. Berdasarkan hasil diskusi dengan guru, mereka menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat positif bagi pembelajaran dan keterampilan peserta didik. Peserta didik juga antusias mengikuti kegiatan ini dari awal hingga selesainya acara. Dengan adanya pembelajaran dengan media wayang bisa menjadi sebuah inisiasi mempermudah dalam menyampaikan materi dan menangkap materi pembelajaran dengan baik sekaligus menumbuhkan karakter peserta didik yang bermoral dan bernilai, adanya pembuatan media edukasi wayang kardus bisa menumbuhkan kreatifitas dan kecerdasan art pada peserta didik, dan guna menumbuhkan kecintaan kepada kebudayaan lokalnya sendiri yaitu wayang kulit yang sangat bernilai tinggi sehingga tetap lestari sampai kapanpun. DAFTAR RUJUKAN Kurniawan,. AuTri Pusat Pendidikan Sebagai Sarana Pendidikan Karakter Anak Sekola Dasar,Ay Journal Pedagogia, vol. No. Muthuhharoh dkk, . Ay Pengaruh Penggunaan Media Wayang Kardus terhadap Kemampuan Bercerita Peserta Didikdi Sekolah Dasar,Ay Jurnalbasicedu Vol. No. Hal3196 Ae 3202. Jumat Pendidikan: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 April 2025 Mukhlisin, . AuWayang Sebagai Media Pendidikan Karakter (Perspektif Dalang Purwadi Purwacarita ),Ay Attaqwa J. Ilmu Pendidik. Islam, vol. 17, no. 2, hal. 132Ae139,[Onlin. Available: https://blasemarang. id/journal/index. php/analisa/article/view/115/70 Hanipudin. Muanasah, . AuPenanaman Karakter Bagi Anak Usia Dini Melalui CeritaWayang,Ay Abdimasku. Vol. No. 1, hal.